Chapter 2: Kiss and Run
.
.
.
Baekhyun terbangun dari tidurnya. Separuh kesadarannya masih berada diluar sana namun pikirannya tetap mengulang di satu tempat yang sama. "Park Chanyeol..." Baekhyun tersenyum sendiri. Ia ingat betul kejadian memalukan beberapa hari lalu di pernikahan sahabatnya, Sehun. Kejadian yang membuatnya tak sengaja bertemu si pria tinggi itu.
Kaki Baekhyun turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi, menyelesaikan beberapa panggilan alam dan membersihkan dirinya. Hari ini ada kelas tambahan dari kelas senior dan dia yang masih junior wajib datang.
Karena katanya si pria tinggi Park Chanyeol akan mengajar di kelasnya.
Entah apa yang membuat Baekhyun belakangan ini terlihat seperti seorang gadis remaja labil yang baru merasakan rasanya jatuh cinta yang kerap kali sering tersenyum sendiri kalau mengingat wajah pria dambaannya.
Setelah selesai sarapan, Baekhyun langsung melesatkan sepeda berwarna kuningnya -yang walaupun sudah ada sejak ia masih SMP masih terlihat baru- menuju kampus.
"Baekhyun!" panggil seseorang membuat Baekhyun yang baru saja berjalan menjauhi parkiran sepeda menoleh sambil sedikit membenarkan baju dan rambutnya.
Baekhyun tersenyum tipis padanya. "Pagi, Xiu!"
Mereka berdua pun bercakap-cakap sambil berjalan ke kelas mereka yang terletak di lantai dua. "Tumben sekali kau tidak terlambat datang," tutur Xiumin, pria berpipi tembam di sebelahnya.
"Sepertinya kalian memang selalu mengecapku sebagai siswa yang paling suka datang terlambat, eoh?!" protes Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Xiumin pun hanya terkekeh.
"Memang kan? Lagian juga kau it– Ah, tunggu sebentar, Baek. Aku harus memberikan titipan Jongdae dulu. Bisa-bisa dia menghajarku kalau titipannya tidak kuberikan. Kau duluan saja ya, bye Baek!" Xiumin langsung menghilang dari pandangan Baekhyun.
Baekhyun kemudian menekan tombol lift yang akan membawanya naik ke kelasnya. Sesekali ia mengecek notifikasi ponselnya yang hanya ramai karena group-chat teman-teman lama sewaktu ia masih sekolah dulu. Tak perlu menunggu terlalu lama pintu lift pun terbuka dan Baekhyun masuk kedalam lift.
"T..tunggu!"
Seseorang berteriak dari ujung sana, membuat Baekhyun kaget dan reflek menekan satu tombol agar pintu tetap terbuka.
Ah. Ternyata dia.
"C..chanyeol?" batinnya.
Lelaki bernama Chanyeol itu masuk juga kedalam lift dengan dua buah buku tebal diapit di lengan bawah kanannya. Awalnya ia tak mengenal siapa pria yang lebih pendek darinya itu. Namun batinnya tiba-tiba mengingat kejadian di pernikahan kenalannya waktu itu. "Baek..hyun,"
Baekhyun reflek menoleh dengan wajah penuh tanyanya -sebenarnya sih wajah gugup. "Y..ya?"
Dan jangan lupakan debaran jantungnya yang mulai tak karuan itu.
"Ah, ternyata benar. Kau yang waktu itu," Chanyeol tersenyum gentle, membuat sebuah lesung pipit tipis nan manis muncul di sebelah pipinya. Demi Tuhan, Baekhyun merasa pasokan oksigennya di lift ini sudah mau habis.
Baekhyun hanya bisa tersenyum canggung dan karena rona merah yang mulai menghangatkan pipinya Baekhyun sedikit menunduk dan hanya bisa memainkan jarinya. Jujur, entah kenapa saat ini membuat Baekhyun malu sendiri.
TING.
Pintu lift langsung terbuka ketika layar diatas pintu lift menunjukkan angka dua. Chanyeol tampaknya sedang terburu-buru tapi ia tetap berjalan dengan santai.
Baekhyun dan Chanyeol berjalan beriringan bersama-sama. Sesekali tangan mereka bergesekkan, membuat Baekhyun harus lagi-lagi mengontrol pikiran dan detak jantungnya yang mulai kehilangan temponya.
"Eum, aku mau ke kantor guru dulu, Baek. Kau ke kelasmu duluan saja," Chanyeol menepuk pundak Baekhyun dan tersenyum lagi.
Aduh. Senyum itu...
"Y..ya, Chanyeol-ssi. Hati-hati," Hati-hati? Kau pikir dia sedang menyetir? Baekhyun berperang dengan pikiran bodohnya sendiri.
Chanyeol tiba-tiba terkekeh pelan. "Kenapa hati-hati? Kkk. Kau ini lucu ya,"
Baekhyun hanya bisa mengusap tengkuknya canggung. Padahal tak biasanya Baekhyun si heboh dan bawel bersikap begini.
"Sudah, ya. Aku duluan, Baek,"
Kaki Chanyeol melangkah ke arah yang lain yang ia hafal mati sebagai kantor guru, meninggalkan Baekhyun dengan rona merah yang membuat wajahnya panas dan jantung yang berdebar.
'Kau ini lucu, ya'
Lucu...
Bahkan suaramu terus terngiang di benakku... Ada apa ini?..
Kelas telah dimulai sejak dua puluh menit yang lalu dan batang hidung Chanyeol tak nampak-nampak juga. Saking bosannya, Baekhyun sampai menggigit-gigit ujung pulpennya hingga menimbulkan bunyi gemertak kecil. Katanya sih, Chanyeol dan senior yang sedang mengajar didepan kelas itu bertukar jam mengajar. Jadi Chanyeol baru akan mengajar setelah jam istirahat.
Baekhyun menghela nafasnya dan mencoba fokus dengan apa yang sedang dijelaskan sunbae-nya itu. Sayangnya pikirannya tidak bisa diajak kompromi saat ini. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, mencari kesibukan sendiri.
"Bahkan Sehun pun tertidur," batinnya sambil mengerucutkan bibirnya, padahal baru saja ia mau mengajak Sehun untuk mengobrol.
Jadi, Baekhyun memutuskan untuk ikutan tidur juga.
.
.
BLETAK!
Sebuah tepukan keras di kepalanya membuat Baekhyun tersadarkan dari tidur singkatnya. Dengan wajah baru bangun tidur yang ia yakin ia tampak sangat jelek sekarang itu Baekhyun langsung duduk dan menggosok-gosok matanya.
"Istirahat tinggal lima menit, loh," Sehun menopangkan dagunya dengan tangannya dan menatap Baekhyun jahil.
"KENAPA TIDAK MEMBANGUNKANKU, SIALAN?!" teriak Baekhyun panik. Ia langsung berlari ke kantin untuk menambah asupan kalsium ke tulangnya –jadwal minum susu agar bertambah tinggi, maksudnya.
Tepat setelah ia sampai di kantin, ia langsung membeli sekotak susu low fat-high calcium -ia mau tinggi tapi tak mau gemuk- favoritnya dan duduk di kursi terdekat sambil mengatur nafasnya. Ia persis seperti orang yang habis dikejar setan sekarang.
"Sialan kau, Sehun," desisnya pelan sekaligus meneguk susunya tak sabar.
"Apa disini kosong?" tanya seseorang membuat Baekhyun menoleh dan mengangguk kaku.
Dia lagi...
Chanyeol duduk di hadapan Baekhyun dan memberikan senyum paling manisnya pada Baekhyun yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Setelah ini aku akan mengajar di kelasmu. Apa kau tahu?" tanya Chanyeol sambil mengunyah roti blueberry yang sedang digenggamnya.
"Y..yeah, aku tahu kok. Tapi darimana kau tahu kalau aku murid kelas Animation-2B?"
Chanyeol mengendikkan bahunya lalu tersenyum jahil. "Siapa yang tidak tahu Byun Baekhyun si tukang terlambat dari kelas A-2B?" Ia terkekeh ketika melihat Baekhyun menatapnya sebal.
"Hanya bercanda, Baek. Wajahmu tak usah merengut begitu,"
Lelaki yang satunya menatap Chanyeol dari ujung matanya. "Diamlah,"
Si lelaki yang lebih tinggi menusuk-nusuk pipi Baekhyun jahil. "Jangan ngambek," Baekhyun berusaha menjauhi tangan Chanyeol dari wajahnya.
"Aku takkan berhenti sampai kau berhenti memajukan bibirmu begitu,"
Baekhyun memukul-mukul tangan Chanyeol, berusaha menyerang. Namun Chanyeol tak selemah itu. Baginya mungkin itu hanya sebuah elusan di tangannya. "Berhentilah, Chanyeol-ssiiiiiiii,"
Baekhyun pun menunjukkan jurus andalannya, puppy eyes. Dan entah kenapa Chanyeol berhenti menjahili Baekhyun dan terkekeh geli. Chanyeol jadi merasa sedang bermain dengan anak sekolah dasar sekarang. "Tak perlu pakai 'ssi' segala. Aku ini seumuran denganmu, tahu,"
Ternyata Baekhyun baru tahu kalau mereka seumuran dan Baekhyun tidak menyangka akan hal itu. Dari postur tinggi saja sudah terpaut jauh. Wajah Chanyeol –apalagi jawline-nya itu– sangat terlihat maskulin. Dadanya yang sangat bidang. Tunggu. Kenapa Baekhyun malah memikirkan dada bidangnya?!
Baekhyun menggeleng pelan, mengusir paksa pikiran-pikiran kotornya yang tiba-tiba muncul.
"Ada apa?" tanya Chanyeol bingung.
"A–ah, tidak apa-apa, kok! Hanya.. h..hanya.. eum– ya! Aku harus kembali ke kelas sekarang,"
Byun Baekhyun, kau persis seperti orang bodoh sekarang.
Chanyeol menatap Baekhyun seakan meminta alasan yang lebih logis. Bahkan pengajarnya saja jelas-jelas masih makan dengannya sekarang, Chanyeol tahu bukan itu alasannya.
"Aku duluan, Chanyeol-sunbaenim," Baru saja Baekhyun berdiri dan ingin berbalik, Chanyeol menahan tangannya dan menyerahkan sesuatu.
"Bersihkan dulu bekas susu di bibirmu. Kau ini benar-benar persis anak bocah sekolah dasar ya..."
Lelaki tinggi itu tersenyum dengan tampannya lalu beranjak pergi meninggalkan Baekhyun yang sedang mematung di tempatnya berdiri. Sapu tangan Chanyeol.
"H..hei, tunggu!" panggil Baekhyun. Niatnya ia ingin mengembalikan sapu tangan Chanyeol, namun sepertinya Chanyeol tak mendengarnya. Atau malah memang sengaja tak mau mendengarkan Baekhyun.
Baekhyun menatap sapu tangan di tangannya. Sapu tangan berwarna cokelat dengan ukiran huruf 'C' di salah satu sudutnya. Tanpa ia sadari, ia mengelap ujung bibirnya dengan sapu tangan beraroma khas Chanyeol.
Karena sibuk dengan kain persegi itu, Baekhyun tidak menyadari kalau murid lain disekelilingnya sudah naik ke kelas mereka masing-masing.
Dan Baekhyun terlambat masuk kelas Chanyeol.
"M..maaf aku terlambat masuk!" Baekhyun membungkukkan badannya sopan setelah diberi ijin masuk.
Chanyeol sedikit tersenyum, lalu mengembalikan perhatiannya lagi pada tulisan-tulisan di papan tulis. Tentu tetap menjaga imej cool-nya ketika sedang mengajar. "Santai saja, silakan duduk,"
Setelah menerima instruksi, Baekhyun berjalan menuju tempat duduknya. Sumpah, demi apapun, Baekhyun ingin menghajar Sehun dengan tangannya sendiri sekarang -bahkan kalau bisa dengan samurai yang dipajang Yixing didalam kamarnya. Bagaimana bisa ia tersenyum dengan begitu manisnya –ew– setelah mengerjai Baekhyun dan membuatnya berlari-lari seperti orang dikejar setan.
"Sialan kau," desis Baekhyun.
"Apa? Aku kenapa, ya?" tanya Sehun dengan muka sok polosnya.
Tarik nafas, buang. Tarik, buang.
Baekhyun merapikan poninya yang tadi sedikit berantakan. "Lupakan," Ia berusaha menyimak apa yang sedang Chanyeol jelaskan di depan sana. Lebih tepatnya, 'menyimak' Chanyeol dari ujung kepala hingga ujung kaki sampai ujung kepala lagi.
"Sepertinya seseorang sedang tertarik dengan si Park, hm?" goda Sehun sambil menaik-turunkan kedua alisnya jahil dan tersenyum iblis.
Baekhyun mendengus singkat. "Jangan mengada-ada,"
"Tak usah mengelak, matamu sudah menjelaskan semuanya,"
Si lelaki berkemeja hitam berlengan pendek motif polkadot putih kecil itu mendadak merona. Ia sedikit memiringkan posisi duduknya membelakangi Sehun yang sedang menatapnya jahil.
Jatuh cinta? Mana mungkin!
Tapi serius. Baekhyun seakan tersedot pesona seorang Park Chanyeol yang baru saja ia kenal waktu lalu. Pesonanya bahkan bisa membuat Baekhyun terus-terusan menelan hasil ekskresi mulutnya sendiri.
Kemeja hitam dengan lengan sengaja digulung sampai sikut, celana jeans berwarna gelap yang membungkus kedua kaki panjangnya, sepatu sneakers hitam pekat dengan garis merah di sisinya.
Oh. Gahd. Baekhyun butuh pasokan oksigen tambahan.
"Ada yang ingin bertanya?" tanya Chanyeol sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas yang lebar itu.
Mata berlensa coklat tua itu bertemu dengan Baekhyun. Chanyeol menaikkan alisnya seakan menanti pertanyaan Baekhyun. Sayangnya lelaki bermata sipit itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Byun Baekhyun? Ingin bertanya?"
Baekhyun mengatupkan mulutnya yang tadinya terbuka dan menggelengkan kepalanya kaku. "T..tidak, sunbae-nim," Chanyeol kemudian mengedarkan pandangannya lagi ke seisi kelas.
"Baiklah kalau begitu. Kurasa kalian sudah cukup mengerti. Pelajaran selesai, terima kasih,"
Hujan benar-benar turun dengan derasnya.
Baekhyun menghela nafas dengan kasar dan melipat tangannya di depan dadanya. Tadi pagi langit cukup cerah dan takkan ada yang menyangka sorenya akan turun hujan sederas ini. Tak heran dengan cuaca yang labil seperti ini banyak orang jatuh sakit.
Jam setengah empat sore.
Dan Baekhyun –mungkin– adalah orang terakhir yang berada di kampus.
Baekhyun pun duduk di tangga lobi kampus, menunggu hujan reda. Rencananya, kalau hujan sekiranya sudah mereda ia akan nekat menggowes sepedanya untuk pulang.
"Terjebak hujan juga?" Seseorang ikut duduk disebelahnya, menatap rintikan hujan deras itu.
"Yah, begitulah," Baekhyun meletakkan dagunya diatas lututnya, juga menatap ke arah rintikan hujan itu. Lalu kesunyian menyelimuti.
Tak perlu melirik lagi Baekhyun sudah dapat mengenali orang yang sedang duduk di sebelahnya itu dari suara bass-nya.
Baekhyun tiba-tiba merasakan sesuatu menimpa pundaknya.
"H..heiii,"
"Sebentar... Aku mengantuk," Chanyeol semakin menyandarkan kepalanya pada pundak Baekhyun.
Entah kenapa Baekhyun merasa tidak nyaman dengan debaran yang dihasilkan oleh organ di dada sebelah kirinya. Baekhyun menghirup nafas panjang berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya. Apakah yang Sehun katakan tadi itu benar? Apakah Baekhyun tertarik dengan Chanyeol? Baekhyun sepertinya perlu menginterogasi Sehun tentang ucapannya tadi itu.
"Ch..chanyeol-ah tidurlah di rumahmu," kata Baekhyun sambil menepuk-nepuk pipi Chanyeol pelan.
"Aku masih harus jalan kaki ke terminal kereta dan tadi malam aku baru tidur selama 3 jam," kata Chanyeol masih di posisi bersandar.
"Aku bisa mengantarkanmu kalau kau mau,"
Rintikkan hujan yang mulai mereda seakan mendukung ucapan Baekhyun. "Tak apa, lagipula hujan sudah mulai reda kok," Chanyeol menolak bantuan Baekhyun secara halus. Ia tak mau merepotkan Baekhyun yang rumahnya tak jauh dari sini walaupun ia sendiri juga mau terus bersama-sama dengan pria sipit itu.
"Kau bisa tidur di punggungku kalau kau mau. Aku ini kuat, kok!" kata Baekhyun sedikit memaksa. Sama juga dengan Baekhyun. Ia juga masih ingin berlama-lama dengan pria tinggi itu.
Chanyeol berfikir sejenak lalu menghela nafas singkat. " Baiklah kalau kau memaksa, aku tidak bisa berbuat apa-apa," Chanyeol beranjak berdiri, melihat itu Baekhyun spontan ikut berdiri.
Baekhyun terengah-engah mengayuh sepeda kesayangannya. Terlebih lagi dada bidang Chanyeol yang menyentuh punggung Baekhyun, kepalanya ia istirahatkan di pundak belakang Baekhyun, dan tangannya memeluk pinggang ramping Baekhyun dengan nyamannya. Itu benar-benar membuat konsentrasi Baekhyun terbagi menjadi dua, antara mengayuh sepeda dengan beban diatas rata-rata, dan detak jantungnya yang berdetak mulai tidak normal.
"Apa kau tak merasa kita terlihat cukup aneh?" tanya Chanyeol mengingat posisi mereka yang cukup absurd itu.
Baekhyun terkekeh diantara engahannya. "Hmmm.. Menurutku sih sedikit aneh. Siapa suruh badanmu setinggi itu,"
"Hei jangan bicarakan soal tinggi badan. Ini sudah gen keluargaku," ujar Chanyeol sambil mempererat pelukannya karena polisi tidur yang baru saja mereka lalui.
Mungkin saja Chanyeol bisa merasakan getaran yang dibuat jantung Baekhyun dari belakang sana. And he really did. Tapi Chanyeol berpikir mungkin itu karena Baekhyun sedang mengayuh sepeda dengan beban lebih.
Baekhyun merasa kasihan dengan jantungnya yang memompa dua -bukan- bahkan mungkin lima kali lipat dari biasanya dan salah satu penyebabnya adalah sentuhan Park Chanyeol. "Rumahmu dimana, Yeol?" tanya Baekhyun sedikit kepo sekaligus mengusir keheningan diantara mereka. Baekhyun tak suka keheningan yang canggung.
"Hm? Di Gyeonggi-do. Hanya tinggal naik kereta setengah jam langsung sampai," jawab Chanyeol.
Sesampainya mereka didepan stasiun kereta, Baekhyun memarkirkan sepedanya. Ia memutuskan untuk mengantar Chanyeol sampai ia masuk kedalam kereta dengan selamat barulah ia pulang. Chanyeol tidak keberatan ditemani lelaki manis seperti Baekhyun. Setidaknya ia punya teman mengobrol seraya menunggu keretanya datang.
"Baek," panggil Chanyeol memecah keheningan. Baekhyun pun menoleh dan menjawabnya dengan sebuah gumaman.
"Aku jadi ingin mengenalmu lebih. Maksudku, soal kebiasaan makanmu yang.. eum.. cukup beringas itu,"
Baekhyun sudah menduga pasti Chanyeol akan penasaran dengan kebiasaannya yang abnormal itu. Untung saja Chanyeol tak sejahat itu yang akan meninggalkan Baekhyun karena kebiasaannya. "Mau kuceritakan darimana?" tanya Baekhyun.
Chanyeol berpikir sejenak. "Dari awal saja,"
"Hmm.. Baiklah," Baekhyun agak mengangkat kepalanya, seakan-akan sedang berpikir darimana ia harus mulai. "Aku mulai begini sejak aku sekolah menengah atas. Lebih tepatnya ketika salah seorang guruku melangsungkan pernikahan. Lalu semua terjadi begitu saja," cerita Baekhyun sedikit kurang yakin.
"Lalu?"
"Hm.. Dan itu terus berlanjut sampai ketika fotoku yang sedang makan dengan jeleknya beredar di forum sekolah. Reputasiku sebagai Baekhyun si tampan mendadak turun," Chanyeol hampir saja meledakkan tawa kencangnya kalau ia tak sadar kalau ini adalah tempat umum. Jadi ia hanya tertawa tertahan.
Baekhyun mendengus. "Kau boleh saja tertawa sekarang. Tapi kenyataannya memang benar aku ini tampan ketika sekolah dulu,"
"Pfft- maaf. Silakan lanjutkan lagi,"
"Dan kemudian aku bertekad untuk tidak akan pergi ke pernikahan siapapun," lanjut Baekhyun. Chanyeol pun hanya dapat memanggutkan kepalanya setelah mendengar cerita masa lalu Baekhyun. "Lalu Sehun mengundangmu ke resepsi pernikahannya," Chanyeol melanjutkan sisa cerita Baekhyun.
Baekhyun mengangguk. "Yah, begitulah. Dia sahabatku sendiri, aku tak bisa menolak," kata Baekhyun.
Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Chanyeol. Sesuatu yang mungkin dapat membantu Baekhyun mendapatkan kehidupan normalnya kembali. "Hei. Mau kubantu menghilangkan habitmu itu?" tawarnya.
"A..apa?"
"Aku bisa membantumu untuk menjadi 'normal' lagi,"
Baekhyun kemudian membenarkan posisi duduknya. "Ti-tidak perlu repot-repot, kok! Aku juga sudah mulai terbiasa dengan keadaanku yang begini," tolak Baekhyun halus
Chanyeol mengacungkan telunjuknya tepat didepan wajah Baekhyun lalu menggoyang-goyangkannya ke kiri dan kanan. "Aku sukarela membantumu,"
"Rumahmu jauh, kau akan kerepotan nanti," kilah Baekhyun.
"Aku tulus membantumu, Baek,"
Itu tadi tawaran emas! Ini kesempatan besar untuk bertemu dengannya lagi, Byun Baekhyun bodoh! Terima saja!
"Ba..baiklah kalau kau merasa begitu..." Dan Baekhyun tak bisa menolak wajah penuh harap itu.
Senyuman Chanyeol mengembang seiring dengan angin yang berhembus karena kereta yang baru tiba didepan tempat duduk mereka. Puluhan orang berbondong-bondong melangkahkan kakinya memasuki kereta super cepat itu. Chanyeol juga semestinya bergabung dengan orang-orang itu karena kereta tak menunggu lama untuk rute selanjutnya. Tapi dia malah masih duduk disebelah pria imut itu.
"Bukankah seharusnya kau naik kereta yang ini?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol yang masih berseri dengan senyum yang Baekhyun anggap sangat lebar itu.
Chanyeol kemudian kembali dari dunia bawah sadarnya yang sedang merekam wajah Baekhyun secara detail. "Ah- iya, benar. Aku duluan kalau begitu. Sampai jumpa besok, Baekhyunnie,"
B..baekhyunnie?
Mereka berdua pun berdiri, lalu Chanyeol melambaikan tangannya yang kemudian diikuti oleh Baekhyun. Ia melangkah menjauh, mendekati kerumunan orang yang berdesakan masuk.
Entah apa yang sedang lelaki tinggi itu pikirkan, ia malah berlari kembali menghampiri Baekhyun yang sedang berdiri dengan wajah bingungnya. "E..eh? Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?"
Chanyeol menatap Baekhyun intens, tak menjawab pertanyaan Baekhyun. Tanpa ia sadari ia menarik tengkuk Baekhyun dan menghapus jarak diantara wajah mereka.
Yang dapat Baekhyun rasakan hanyalah sepasang benda kenyal menyapu bibir tipisnya. Lama. Lelaki yang lebih tinggi mengulum bibir bawah Baekhyun pelan, merasakan rasa manis yang dihasilkan bibir ranum Baekhyun.
Tak lama kemudian Chanyeol melepas tautannya, dan berlari berhamburan masuk kedalam kereta.
Pintu kereta pun tertutup. Angin berhembus lagi. Debu dan dedaunan berterbangan mengantar kereta yang sedang melaju itu pergi. Meninggalkan Baekhyun yang sedang berdiri mematung sambil memegang bibirnya.
"Ci..ciuman pertamaku,"
.
.
.
.
.
To Be Continued...
Chingchongs:
OKE. INI ABSURD ABIS.
ALUR KECEPETAN. CHAPTER PENDEK (bahkan ga sampe 3k hiks). FLUFF SCENE BELUM BISA DIMASUKKIN BANYAK2 (lack of inspiration /sobs/)
Terus terang saya agak kesulitan nulis paragraf panjang2 (author yang satu lagi lebih jago mendeskripsi) dan diksi saya masih kurang banget. i admit it. T_T tapi saya sedang belajar menambah kosakata kok~
saya usahakan chapter depan lebih bagus. semoga saja bisa update cepet dan bagus :")
Apa ada yang pnya ide untuk chapter depan? silakan PM saya saja, siapa tahu bisa dimasukkin ke chap tiga :3
Sebenernya saya pengen bikin baekhyun jadi cabe banget, cuma kayaknya agak sulit ha ha ha ha /cheesy laugh/
udahan ah.
REVIEW is highly expected.
.
Best regards,
exoblackpepper
