Stayawake123 : Aish… terimakasih reviewnya stay-san xD. Yosh, ini udah aimi lanjut… maaf agak lama~

AI D Mhov : Thanks for your review~ -_- ini baca juga lanjutanya ya?

Aoi Shiki : iya… terimakasih semangatnya shiki-san :D hoho… ini aimi udah lanjutin. Selamat membaca~

Fic of Delusion : yap! Haha… coba liat artinya di google transalate fic-san xD ohya, arigatou reviewnya. Jangan bosen2 ya ikutin fic absurd saya xD

mihawk607 : wah..wah.. suatu saat nanti mihawk-san juga akan jadi author yg lebih keren dan kece kok, aimi doain deh hehe… ;D bosen kalo Natsu kaya terus… kali2 jd kismin kek hehehe xD oke, ini udah di lanjut… terimakasih reviewnya dan jangan bosen2 bwt ikutin ceritanya ya~

Alicia : iyalah Alicia-san, bosen klo Natsu dapat peran kaya terus. Kan dia juga di anime aslinya bkn orang kaya wkwkwk xD terimakasih review dan semangatnya Alicia-san. Ini lanjutanya, semoga suka. Selamat membaca~

.

.

.

Aimi Dragneel & synstropezia

Present :

NOTRE AMOUR

Fairy Tail © Hiro Mashima

Rate : T, semi M

Genre : Drama, Romance.

Warning : AU-life, Gaje, Abal, Typos, OOC, dan segala keburukan lainya.

.

.

.

DLDR~

Enjoy your reading :) Chapter 1

.

.

.

Tid..Tid..

Suara klakson terdengar dari luar gerbang Heartfilia konzern. Para penjaga dengan sigap membukakan pintu tralis mewah itu dan mempersilakan masuk Ferrari F60 America kepunyaan putri besar, yang mana sang pemilik langsung memarkirkannya di halaman depan yang terbentang luas.

Gadis bersurai pirang keluar dari mobil seraya menyerahkan kuncinya pada salah satu pelayan disana.

"Selamat datang, Nona," sapa pelayan wanita paruh baya berambut cokelat sembari membungkuk hormat. Beberapa pelayan lainnya tampak berjejer rapi menyambut kedatangan sang putri.

Lucy hanya membalas dengan senyum singkat. Pelayan lain membukakan pintu untuknya.

"Darimana saja kau?" Bariton menginterupsi kasar. Nona besar yakni Lucy Heartfilia sedikit tersentak. Berhenti di daun pintu, keringat sebiji jagung seketika merembes keluar dari pori keningnya.

"Ayah?! Kau… belum berangkat?" Mundur ke belakang sebagai jawaban pertanyaan. Seribu kali sayang, dewi fortuna tidak muncul dalam jam kerjanya.

Salah satu alis yang di panggil 'ayah' itu terangkat tinggi. Menatap Lucy dengan pandangan mengintimidasi—minta penjelasan atau hukuman menanti untuk dijatuhkan.

Oh ayolah, pikirkan sesuatu! Aku bersumpah kali ini tidak akan dikurung lagi! Lucy gelagapan. Sepasang coklat madunya melirik kanan-kiri bergantian guna mencari alibi.

"Itu … kemarin aku habis dari rumah Levy-chan dan ketiduran disana. Jadi, maaf terlambat pulang."Kikuk dan pasaran, tentu saja alasan yang berbanding terbalik dengan fakta. Jude nampak menimbang-nimbang. Sorotnya sedikit melembut.

"Kembali ke kamarmu." "Kutarik perkataanku" tadi, sepertinya fortuna memihak pada Lucy—di saat tepat pula. Sang ayah terperangkap jaring dusta yang diam-diam ia tebar. Entah sejak kapan sang tuan putri ini menjadi pembohong ulung, patut di acungi jempol untuk ukuran aktris gadungan.

"Baik, ayah." Dirinya menjawab disertai anggukan. Terlihat sopan, lugu, dan beradab. Namun tak tahunya di belakang ia mendelik sebal, melihat raut sang ayah yang 'terlalu lelah berurusan', pikir Lucy.

Beranjak meniti tangga menuju ruang pribadi. Menjeblak pintu, kemudian bersandar ke permukaannya seraya menghela napas. Hari ini dia boleh selamat. Besok, seminggu atau sebulan ke depan belum tentu keberuntungan terjadi lagi. Di luar boleh jadi Jude—kepala Heartfilia memakai topeng. Terlalu banyak kemungkinan untuk ditebak maupun diduga.

"Fiuhh… Untung saja…" Sedikit lega rasanya. Sang ayah tak dapat mencium bekas alkohol pada baju yang semalam belum ia ganti. Jangan lupakan perihal kebohongan menginap di rumah sahabat karib. Lucy terkekeh kecil, 'Bodoh sekali!'.

Namun alangkah bodohnya lagi—lebih tepat disebut penyesalan, ia lupa meminta kontak lelaki kemarin, yang memberi inap gratis bahkan berceramah bak Pak Ustad di Masjid sebelah. Ah, benar. Perasaan itu lagi … membelai lembut rongga dada, tanpa sesak maupun perih bersemayam. Lucy sadar, rasa tersebut dinamakan 'nyaman?', mungkin.

Ia tersenyum kecil seraya meletakkan telapak tangan di dada kiri. Merasakan debaran jantung yang semula melambat menjadi berdebum—mengalunkan lagu lembut dengan melodi-melodi indah bagai wanita kasmaran. Lucy merasa berlebihan, mendadak puitis dan sedikit di luar karakter, tapi …

Caranya benar menggambarkan perasaan itu—nyaman, kemungkinan besar berbuah…. Cinta?

"Natsu…. Ka?" Nama itu tak boleh ia lupakan. 'Sang musim panas' yang sadar tak sadar membawa warna baru bagi kehampaannya.

###

Sementara di tempat yang atap depanya berplang 'Dyerar Mekanika'. Seorang pemuda berambut senada ikan salmon tengah berbaring terlentang di bawah mobil. Berbagai alat yang berhubungan dengan 'perbengkelan' berada di sekitar, agak tercecer namun tak sedikit pun menganggu pekerjaan. Ia tampak fokus memperbaiki mesin, hingga tiba-tiba suara familier mengusik konsentrasi.

"Oi, flamehead! Kau bawa kemana gadis cantik yang kemarin pingsan itu, huh? Pasti ke hotel, ya?" Suara baritone terdengar mendekat ke arahnya. Yang dipanggil meringsut hingga seluruh tubuh keluar dari bawah mobil. Disusul menepuk-nepuk kedua telapak tangan guna membersihkan debu yang menempel seraya bangkit.

"Sebelum bertanya, lebih baik bersihkan dulu otak mesum-mu itu,ice princess! Atau, perlu kupanggilkan cleaning service?" Balasnya lengkap dengan nada dan ekspresi santai. Tak ketinggalan sebelah bibir menyinggung ke atas, tanda mengejek.

Ctak!

Satu detik setelah ucapan si salam, perempatan siku-siku tercetak jelas di kening pria yang dijuluki 'ice princess' tersebut dirasa tak cocok untuk menggambarkan cowok tulen seperti dirinya, sedangkan rambut sang sahabat sekaligus rivalnya berwarna pink–menyeleneh, aneh pun menjijikan. Natsu-lah yang pantas menyandang predikat 'princess' tersebut. Andai saja tidak memiliki suara baritone, tubuhnya lebih ramping dan dadanya menggelembung seperti balon.

"Pfttt…" Hanya dengan membayangkanya membuat pemuda berambut donker itu mati-matian menahan tawa. Ternyata benar apa yang dikatakan Natsu, orang itu mesti di lap otaknya.

"Tuh kan? Otakmu memang perlu di pel"

"Sialan … Mau berkelahi, hah?!" Beralih maju ke depan. Tangannya meraih kasar kerah wearpack si pinky dan dicengkram erat-erat.

Senyum meremehkan terbentuk sempurna. Sengaja memprovokasi si raven yang termakan jebakan. "Siapa takut!?"

Emosi tersulut, keadaan semakin kalut.

"Oi… sudahlah! Kalian bukan anak SD lagi. Daripada bertengkar tak jelas lebih baik kerja yang benar! Jangan mengecewakan pelanggan atau kupotong gaji kalian!"

GULP!

Saliva di kerongkongan mereka telan paksa. Ancaman maut Kakek Makarov–pemilik tunggal bengkel terbukti ampuh menghentikan duo pengacau.

"Huh … baiklah, Kek." Kerah baju dilepaskan. Dengus kesal menyahut indra pendengaran—Makarov hanya menghela napas akan tingkah kekanak-kanakan para bawahanya. Siapa sangka, kalimat 'Potong gaji' bagi mereka ternyata lebih menyeramkan di banding auman seekor macan.

"Ohya, Natsu. Kemarilah, kakek ada perlu." Seru Makarov membentuk gestur memanggil. Mau tak mau perasaan kesalnya diabaikan. Sebocah apa pun dirinya pekerjaan tetaplah prioritas.

"Hm?" Natsu melemparkan pandangan bertanya. Kepalanya miring ke kanan isyarat penasaran, "Jarang-jarang kakek menyuruhku, apa ada tugas khusus yang special hanya untukku?" pikirnya heran.

"Antarkan ban mobil ini ke rumah yang ada di kertas itu." Lembar putih bertuliskan alamat jelas tercetak besar di sana. Natsu menganggukan kepala paham. Segera mengambil pesanan di pojok bengkel.

"Kau harus cepat. Pelanggan menunggu." Seharusnya diantarkan sepuluh menit lalu—kalau mereka tidak memulai pertandingan babak sekian yang membuang waktu.

"Baiklah. Aku berangkat dulu!"

'Sebaiknya ambil Jalan Tulip. Di sana agak lenggang, aku bisa cepat sampai. Kakek akan bangga dan gajiku dinaikkan! Lalu julukan flamehead pun akan berganti jadi super hero, hahaha …'

Mengalungkan sebuah ban motor di bahu. Natsu melesat dengan motor butut-nya menyongsong jalan di depan mata.

###

"Arghh … lama sekali! Aku bisa terlambat kalau begini caranya!" Setengah jam terbuang sia-sia. Jude memijit pelipis guna meredam pening. Sebagai boss perusahaan besar, tepat waktu merupakan harga mati. Menjadi teladan bagi para pegawai juga wajib dijunjung tinggi.

"Jika Anda ingin lebih cepat, kita bisa memotong lewat Jalan Tulip, Tuan." Usul sang sopir.

"Apa?!" Intonasi suaranya naik satu oktaf. Siapa pun tahu akses tersebut, cepat namun kurang aman dilalui, terutama malam hari dikarenakan penjahat kelas teri sampai kakap berkeliaran.

"Saya hanya menyarankan saja, Tuan. Anda boleh menolaknya." Sedikit bergidik ngeri. Bayangan PHK seketika berputar-putar di otak sopir pribadi ini. Dua tahun mengenal perwatakan sang boss bukanlah hal yang sulit. Dapat di tarik kesimpulan, bahwa sedikit saja ia salah bicara maka tamatlah riwatnya.

Jude menghembus nafas kasar, "Hah … baiklah!"

"Walaupun kawasan di sana kumuh dan surganya para gelandangan" lanjut Jude dalam batin.

Speedometer berada di angka 90 km/jam. Pekerja berstatus sopir itu mengebut demi menunaikan perintah Sang Tuan. Namun ketika belok kanan, mobilnya bertabrakan dengan seorang pemuda yang mengendarai vespa butut.

CKIIITTT… BRAKKKK!

Refleksnya telat sehingga baku hantam antara kendaraan roda dua dan empat tersebut mustahil terelakkan.

"APA-APAAN INI?!" Pintu dibanting keras. Jude keluar, geram bukan kepalang melihat goresan melintang di badan mobil. Dia mempersiapkan uraian caci maki di ujung lidah. Sementara sang korban pengendara motor mengaduh kesakitan di tepi jalan.

"HEI, KAU BISA MERUSAK MOBILKU! JIKA TIDAK BISA MENYETIR LEBIH BAIK JANGAN BERKENDARA!—"

"Lihat ini! LIHAT! MOBIL SAYA LECET KARENA ULAHMU! Kau tahu merek-nya apa? MERCEDES BENZ E-GUART. MEMANG KAU BISA BELI?!" bentakan sarat emosi terlontar dari mulut Jude seraya menunjuk-nunjuk bemper mobil yang sedikit tergores dan pemuda itu secara bergantian.

"Maaf, Pak. Saya buru-buru dan tidak sengaja. Biar saya ganti biaya kerusakannya." Sang pemuda manggut-manggut meminta pengampunan, walau sepenuhnya kesalahan bukan milik dia sendiri.

Dari ujung kepala sampai ujung kaki, Jude lekat meneliti seakan hendak menelanjangi sang pelaku.

"Ganti rugi? Orang sepertimu mana bisa?!, Membayar kerusakan mobilku yang mahal ini?! Bekerja sepuluh tahun pun mustahil cukup, walau dipotong biaya makan dan gaji kecilmu! Saya akan lapor polisi."

"Saya mohon jangan laporkan ke polisi. Tenang saja, Pak. Kerusakan mobil anda pasti saya gan–!"

"—Tuan. Lima belas menit lagi." Perkataan sang sopir menginterupsi dan memotong ucapan si pemuda.

Jude menoleh kepada sang sopir, tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangkat keputusan "… Baiklah. Kali ini saja aku berbelas kasihan. Tcih, dasar gelandangan! Ayo pergi."

Mesin mobil kembali dinyalakan. Asap knalpot mengentuti si pemuda berambut spike salam yang batuk-batuk. Hitam debu berbekas di wajahnya memberi kesan acak adul—tapi siapa peduli?, dia mesti bergegas atau pelanggan akan mengirim komplain.

Vespa butut di dirikan lagi perlahan. Helm batok yang semula terbang nyasar diambil balik. Motor siap dipacu kembali ke tempat tujuan.

"BWLEE! Dasar pak tua, kudoakan semoga rambutmu cepat putih! Memang sehebat apa mobil mewahmu itu? Si Jagur vespaku lebih estetis dan berkelas dibanding Mer….Mur…. mercendismu itu!"

"Pakai di sebutkan merek dan tipe-nya segala. Aku tidak dibayar untuk mendengar seminar mobilmu!" bibirnya terus menggerutu sembari menarik gas.

DRROTDOTDOTDOT….DRROT…DOT..DOT…

Walau bunyinya agak tersendat dan kurang merdu—selain disebabkan umur, mesin dan penampilan yang serba tua, tabrakan itu menyumbang dampak besar pada kecepatan laju motor. Seharusnya, sih, normal-normal saja seperti waktu keberangkatan, namun sekarang? Tiap berapa menit si jagur mesti diberi sedikit tendangan, macam kuda betina terserang PMS!

.

Syukurlah motornya mau bersusah payah. Kini dia tiba di blok D yang tertera di alamatnya. Berdiri menghadap pintu krem yang sedikit luntur.

TOK … TOK … TOK….

"Permisi. Saya Natsu dari Bengkel 'Dreyar Mekanika' hendak mengirim pesanan. Ada orang di dalam?!"

CKLEK!

Sesosok wanita berambut hitam panjang membuka pintu. Senyuman ramah merekah menyambut Natsu—mempersilakan masuk yang ia turuti tanpa pikir panjang. Ban diletakkan sesuai instruksi, dekat rak buku setinggi lima kaki berjajar macam-macam wacana. Tugas selesai, grins khas itu menghias paras tampan yang semula masam, supaya kesan ramah semakin terlihat sebelum hendak pamit—

"Omong-omong ada yang salah denganmu." Terhenti di lawang pintu. Natsu menoleh sejenak dengan hujan tanda tanya.

"Maksud Anda?"

"Jangan formal-formal. Panggil aku Sayla, oke?" Nada manja ikut andil di sela-sela kalimat. Natsu menaikkan sebelah alis—heran bercampur curiga kalau-kalau pelanggan mesum terselubung.

"Errr …kenapa mendadak?"

"Sebelum kujawab, luka di siku-mu tampak parah." Seakan mengerti maksudnya, Natsu mengangkat lengan hati-hati. Dan baru ia sadari ungu dan merah bercampur menimbulkan kesan ngeri.

"Tidak sakit, kok. Saya pamit dulu, Sayla-san."

"Benar tidak apa-apa? Bisa infeksi, lho~"

"Terima kasih, tapi sungguh bukan masalah besar. Saya mohon pamit."

Ah, ternyata, dia merasa bersalah menuduh yang aneh-aneh. Toh, wanita bernama Sayla itu orang baik—walau Natsu terlalu lelah memikirkannya lama-lama. Banyak masalah untuk diselesaikan; segera balik, melapor, berkutat dengan mesin mobil, memperbaiki vespa butut sahabat semati, mana punya waktu untuk lari ke hal lain.

"Sampai jumpa, Cowok manis." Perihal memanggil nama itu sekadar iseng belaka. Sayla menyukai cowok yang menarik perhatiannya, kepincut dari pandangan pertama, dan dia adalah Natsu.

"Kapan-kapan aku harus membalasnya."

###

Pukul tiga tepat. Natsu diperbolehkan pulang satu jam lebih awal usai digantikan junior lain—tentunya setelah luka di lengan terlihat oleh sang boss. Walau bagaimanapun, si kakek buntet itu perhatian juga pada pegawainya. Sementara vespa butut dalam proses perbaikan. Sekarang ia bersungut-sungut terpikirkan pak tua tadi. Kenapa harus bertanggung jawab kalau ia juga dirugikan? Dua kali berturut-turut pula. Pertama kata si ice princess alias Gray, mesin motor rusak parah. Kedua, luka yang awalnya bagai digigit semut berevolusi menjadi serasa diterkam harimau.

Apa dewi fortuna lelah berkunjung ke hidupnya?

"Sial memang. Sebaiknya aku izin dulu di bar malam ini, dan beristirahat di rum–"

Onyx menyipit, menemukan karamel di tengah hiruk-pikuk jalanan. Natsu mengenal rupa seteduh rembulan itu—yang kemarin mabuk di bar, mengejek dia Pak Ustad bermetamorfosis jadi bartender, menginap semalaman di rumahnya dan mereka berkenalan. Entah ini keberuntungan atau kesialan ketiga, semua mendadak aneh, mengejutkan pun membingungkan.

"Luce? Itu kamu?"

"Na-Natsu?! Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Lucy menghampirinya. Mereka bersitatap. Pertemuan itu lebih normal dibanding kemarin, saat efek alkohol menguasai si blonde membuat dia bertingkah konyol.

"Mau pulang ke rumah. Kau sendiri?"

"Sedikit jalan-jalan, penat di rumah terus. Ohya, Penampilanmu acak-acakan sekali, ada apa? Sikumu juga terluka. Kuobati, ya?" Tangan Natsu ditarik lembut—menyebabkannya sedikit meringis tanpa keinginan melawan.

"Woahh.. Telapak tangannya halus …" Seyum kagum terukir dalam hati Natsu.

Sejak kapan hal sekecil itu ia perhatikan? Luka separah ini justru diabaikan seakan hanya goresan kecil. Lucy pun mengajak dia ke minimarket terdekat. Segulung perban dan obat merah dibayar tunai. Kini mereka duduk di bangku taman menghadap keramaian lalu lintas petang hari. Di hujani pancaran lampu jalan yang tingginya menyamai tiang listrik.

"Jangan banyak bergerak!" perintah si gadis pirang.

"I-ittai! Pelan-pelan, Luce. Ini luka bukan roti anggur!" Masih sempat-sempatnya bercanda, entah apa yang dipikirkan cowok nyentrik ini.

"Selesai. Lukamu nyaris infeksi, tahu!"

"E-eh, benarkah? Untung kau mengobatinya. Terima kasih banyak, Luce! Aku berhutang budi."

"Sebagai bayarannya aku minta nomor kontakmu, setuju?"

"Hahaha … boleh saja! Nomor handphone-ku … tapi, untuk apa kau memintanya?" Yang tadi saja belum terjawab—ketika di rumah Sayla, salah seorang pelanggan. Natsu merasa para wanita aneh hari itu.

"Te-terserah aku, 'kan?!" Semburnya memukul bahu Natsu. Sang empu malah tertawa renyah—mengacak gemas helai pirang itu.

"Wajahmu saat merah lucu. Benar juga, karena kita berteman tidak apa-apa jika kau meminta kontakku! Bagaimana kalau dirayakan setiap tahunnya?"

"A-apa-apaan? Kita berteman bukan pacaran, bodoh!" kembali, tinjuan manja di arahkan ke lengan kokoh Natsu.

"Ayolah, kumohon! Ya, ya, ya?" Apa pula itu? memelas bak bocah ingusan.

Lucy pikir, ternyata bukan hanya tampilan saja yang unyu, cara bicaranya saat merajuk juga unyu. "Baiklah. Kemarin itu tanggal tiga puluh satu Juli. Ingat baik-baik." Salahkan ekspresi memelas Natsu yang memanggil rasa simpati dan sugesti. Lucy mana enak hati menolak—terlebih kawan salamnya nampak antusias.

"Yosh! Kapan-kapan kita harus jalan-jalan, ok? Makan, menonton film-film baru di bioskop atau apa pun."

"H'ai. Terserah kau saja."

.

Dan boleh jadi sore menjelang malam itu terasa menyenangkan, mereka tertawa, bercanda—walau angin yang dingin menerpa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Namun seseorang bersembunyi di balik bayang. Netra itu memicing bak serigala kelaparan. Intens memperhatikan muda-mudi yang tampak seumuran tersebut.

Bersambung…

A/N : hohoho…^3^ bagaimana? bagaimana minna, chapter ini? hehe… aimi mau berterimakasih sekali pada synstropezia-san selaku mitra dan editor saya di fic ini.

Yosh! Minna, sangat di tunggu sekali review dari kalian untuk kemajuan fic ini kedepanya (?)

Douzo~