Painful
Kamichama Karin © Koge-Donbo
Pairing: KarinKazune, KarinJin (dan beberapa pairing tambahan).
Genre: Romance, hurt/comfort,Angst.
Rated: T
Warning: OOC, Typo(s), GaJe.
Summary:
Tuhan memang menyimpan banyak misteri, termasuk alasan takdir maupun cinta. Namun, kenapa aku harus merasakan rasa sakit tentang hal itu?. Dari sebuah ingatan yang menyakitkan dan perasaan yang terbagi 2, apa Tuhan sedang mempermainkanku saat ini?.
-Ralat atas chapter 1:
"Kenapa kau datang kesini, Michi?" tanya Kazune heran melihat kedatangan Michiru yang tiba-tiba itu. Sepertinya ia tidak memberi tahu Michiru bahwa dia disini. 'mungkin Hinata,' gumam Kazune dalam hati. (harusnya Himeka)
'Mungkin Hinata, tapi suaranya lembut tidak serak dan berat seperti itu!' pikir Kazune, lagipula dia pasti sibuk berkencan bersama Michiru jadi sangat tidak mungkin ia kesini. (kesalahan seperti diatas).
. .Gomen. .
Happy Reading!
Chapter 2
Penyangkalan
Karin mengatupkan bibirnya perlahan, dengan pasti ia menampakkan senyum penuh arti miliknya menatap Kazune dengan tatapan yang datar.
"Kau gila! Ingatan adalah sebuah kunci kebahagiaan untuk hidup, tapi kau lebih memilih melupakannya. Apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" dengus Kazune menaikkan sebelah alisnya seakan mengatakan bahwa pilihan yang dipilih Karin merupakan hal paling konyol di dunia ini.
"Aku sadar sekali, bahkan bila kau berkata untuk membunuhku apa bila aku tidak ingin mengingat apapun. .aku tidak akan mau K-a-z-u-n-e, aku harap kau mencatat perkataanku itu!" Karin tersenyum manis sambil menekan setiap huruf dalam nama Kazune, mendengar itu Kazune hanya dapat berteriak dalam hati 'Dia benar-benar sudah sangat terlampau gila!'.
[][][][][][]
"Ada apa?" tanya seorang perempuan manis yang khawatir dengan orang di sebelahnya, matanya terlihat redup dan sayu seakan dapat merasakan perasaan sedih yang dirasakan orang itu.
"Tidak ada, aku hanya merasa ada yang janggal," dengan berat Kazune tersenyum tipis menandakan bahwa dia tidak apa-apa, ia tidak ingin perempuan itu berpikir yang bukan-bukan.
"Aku tahu. . Ka-zune tidak akan cerita," dengan ringannya tanpa rasa terluka akibat kebohongan Kazune Himeka tersenyum, ia tidak bisa memaksa untuk Kazune bercerita kepadanya. Toh, walau Himeka mau Kazune tetap akan bungkam.
"Hnm, terima kasih atas pengertianmu."
Suasana tiba-tiba menjadi hening, helaan napas hanya menjadi pengisi kekosongan ini. Rasanya janggal bila Kazune maupun Himeka berbicara sesantai ini padahal biasanya mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan hanya bertemu waktu pagi dan sore.
"Ano. . bagaimana keadaan perempuan yang tengah kritis itu? a-ku dengar dari Michi-kun ke-adaannya memburuk," dengan ragu-ragu Himeka bertanya tentang keadaan perempuan yang dirawat Kazune beberapa hari ini, ia belum pernah bertemu dengan orangnya dan hal itu membuatnya penasaran.
"Dia sudah sadar, keadaannya mulai mem-"
"Benarkah? A-aku sangat senang mendengarnya, err. .aku ingin menjenguknya Kazune," entah datang darimana Himeka langsung histeris senang, suaranya yang lembut hilang ditelan suara keras karena rasa senangnya.
"Itu. . Himeka a-"
"Apakah ia orang yang baik?"
"emh. . sebe-"
"Apa ia suka berteman dengan orang yang seperti aku, Kazune?"
"Dia sepertinya su-"
"Aku ingin se-"
"Himeka! Bisakah kau mendengar perkataanku sebentar saja, kenapa kau punya sikap seperti Michiru?" dengan frustasinya Kazune berteriak kepada Himeka, hal tersebut sangat jarang sekali ia lakukan. Michiru benar-benar memiliki dampak yang buruk bagi Himeka.
"A-ano. . aku minta maaf Kazune, aku terlalu ber-semangat," dengan muka memerah menahan malu Himeka kembali kedirinya yang semula, ia ingin sekali bertemu dengan orang itu!.
[][][][][][]
Hujan turun lebatnya ditemani dengan suara petir di luar sana menimbulkan bunyi gemuruh dan suara air yang keras membuat Karin ingin tertawa lebar 'bahkan, hujanpun bisa membuat aku semakin buruk. . ia memang benar-benar perusak suasana'.
Sesekali ia melihat jam putih kecil di sebelahnya dengan enggan, Karin tidak bisa tidur atau lebih tepatnya tidak ingin tidur. Semuanya terjadi karena mimpi buruk yang membuatnya menjadi seperti ini, ia terlihat berantakan sekali. Matanya memandang kosong tanpa pikiran dan napasnya tidak teratur.
"Kalau saja aku tidak bermimpi buruk tentang orang sialan yang tidak ku kenal itu! Aku pasti tidak seperti," Karin berkata dengan nada dingin menutup matanya sambil merasakan perasaan sakit dalam dirinya.
"Jin. . siapa dia sebenarnya?" dengus Karin dengan nada menahan kesal, menyebut nama itu membuatnya semakin hilang kendali dan dalam sekaligus ia merasakan rasa sakit dan marah secara bersamaan.
[][][][][][]
Suasana rumah yang biasanya sepi di hari minggu kini berubah 180 derajat, suara heboh dari Himeka dan Michiru menggema hampir ke seluruh ruangan membuat Kazune mau tak mau harus bangun dari tidurnya.
Dengan malas ia menuju sumber suara itu, Himeka dan Michiru tampaknya sibuk sekali di dapur. Mereka dari tadi berbicara tidak jelas tentang sesuatu hal.
"Tidak mungkin Michi-kun, Kazune. . Kazune suka orang itu!" Himeka tidak percaya atas pernyataan yang Michiru katakan, rasanya hal itu tidak mungkin sekali terjadi.
"Aku tidak berbohong kok Hime! Aku tidak mungkin membohongi pacarku sendiri," Michiru menggeleng pelan seakan tidak terima atas ketidak percayaan Himeka.
"Aku harap kalian tidak menggosip sambil menghancurkan dapur, tapi. . nyatanya itu tidak mungkin, bukan?" dengan nada sinis Kazune menatap Michiru dan Himeka tidak senang.
"Kami hanya memasak Kazune, err. . sambil bercerita," Michiru tertawa garing menatap Kazune dengan cengiran khasnya.
"Katakan apa bedanya bercerita yang kau maksud dengan menggosip," dengus Kazune memutar bola matanya bosan,
[][][][][][]
"Aku tidak sabar sekali!" Himeka terus mengucapkan perkataan itu berulang kali sepanjang jalan, bibirnya tersenyum simpul membayangkan orang yang bernama Karin itu mungkin bisa menjadi teman dekat.
"Aku bosan. . kau terus mengulang perkataan itu dari tadi," desah Kazune menutup telinganya, ia berharap mereka cepat sampai di rumah sakit agar Himeka berhenti mengoceh dengan mengulangi kalimat yang sama.
"Hei, tunggu dulu! Ada yang a-aku lupakan," Himeka berteriak panik dan wajahnya kini berubah pucat sekali, ia menepuk pelan dahinya akan kebodohan yang telah ia lakukan.
"Ada apa Hime?" Michiru yang dari tadi hanya memainkan handphonennya mulai angkat bicara.
"Aku pergi sebentar, aku lupa beli bunga untuk Karin!" seru Himeka heboh sendiri, ia meninggalkan Kazune dan Michiru yang memandangnya tidak mengerti.
"Tunggu! Apa inginku temani?" tawar Michiru sedikit dengan suara keras agar Himeka dapat mendengarnya.
"Tidak, kalian duluan saja. . a-"
"Kalau mau beli bunga sebaiknya beli bunga matahari, mungkin dia akan suka," ujar Kazune tiba-tiba dengan suara yang tidak begitu keras. Mendengar itu Himeka tersenyum, mungkin apa yang dikatakan Michiru di dapur memang benar.
[][][][][][]
Perempuan berambut biru kelam ini bingung, terlalu banyak bunga matahari yang bisa ia pilih. Harusnya tadi ia bertanya jenis bunga matahari apa yang Karin sukai, bukannya kabur seakan sudah tahu apa jawabannya.
"Baka, se-sekarang aku harus bagaimana? Aku. . memang bodoh! Err. . aku tidak mengerti tentang masalah bunga matahari," Himeka mendesah pelan, bibirnya terkatup begitu saja. Saat ini ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Hei, kau kenapa?" tanya seseorang datar, tangannya dengan pelan menepuk bahu Himeka.
"Ano. . aku bingung, menurutmu apa jenis bunga matahari yang bagus?" tanya Himeka sambil menunjuk pelan gerombolan bunga matahari di depannya dengan penuh kepasraan.
"Haha, kau aneh! Tentu saja semua bunga matahari itu bagus, aku bahkan suka semuanya," perempuan berambut coklat di depan Himeka terkikik geli, benar-benar polos sekali pertanyaan Himeka tadi.
"Eh. .ja-jadi aku a. .neh ya?" dengan sedikit kecewa Himeka menanggapi perkataan perempuan itu dengan serius.
"Aku hanya bercanda, tapi jika kau mau moonwalker ini indah menurutku. Emh. . tapi keputusan ada di tangamu," perempuan itu tersenyum tipis lalu ia meninggalkan Himeka yang hanya mematung menatapnya hingga pergi.
"Ha-harusnya tadi. . aku bilang te-rima ka-sih," gumam Himeka pelan.
[][][][][][]
"Kazune," panggil Michiru pelan menatap langit biru di atasnya sambil tetap berjalan.
"Hnm?" Kazune hanya menjawab dengan gumamman tidak jelas, ia sedang tidak niat untuk mengobrol dengan Michiru.
"Apa kau menyukai perempuan itu?" tanya Michiru tiba-tiba dengan nada ingin tahu,
"Siapa?" tanya Kazune balik.
"Jangan pura-pura bodoh, kau tahu bukan? Ini tentang Karin," dengus Michiru menatap sebal Kazune.
Berhenti, Kazune berhenti perkataan Michiru berujung dengan nama Karin? Apakah tidak ada nama lain yang menyangkut diotak Michiru?.
"Ti-dak, aku tidak tertarik dengannya," ujar Kazune datar sambil melanjutkan langkah kakinya yang terhenti.
"Kenapa kau menyangkal? Ternyata ada orang lain selain miyon yang bisa membuatmu tertarik," gumam Michiru sambil memunculkan seringainya.
"Berhenti bicara, aku tidak ingin dia berpikir yang bukan-bukan. . kita sekarang sudah ada di depan pintu kamar rawatnya, Michi!" dengus Kazune mencoba menghentikan perkataan Michiru yang semakin memojok, lalu dengan pelan ia membuka pintu itu.
Cklek. . .
Kazune menatap seluruh kamar sambil menaikkan sebelah alisnya, tampak kacau sekali di ruangan ini. Yang terlihat baik hanya bunga matahari di dalam pot biru, selain itu semuanya tampak hancur dan berantakan.
"Kazune, err. . sepertinya dia kabur. Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan kemarin dengannya, tapi ini buruk dan. . ada darah di pecahan gelas ini," tunjuk Michiru pada sebuah gelas yang telah menjadi berkeping-keping.
"Hnm, aku. . akan mencarinya. Sebenarnya apa yang dia pikirkan," tanpa pikir panjang lagi Kazune berlari meninggalkan kamar rawat Karin.
[][][][][][]
Himeka berjalan pelan melewati koridor rumah sakit, ia tidak terlalu terburu-buru karena sebenarnya memang tidak boleh membuat keributan di rumah sakit, tapi kalau Himeka tetap melakukannya ia akan diusir sebelum bertemu dengan Karin.
Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, tampak seseorang yang dikenal Himeka berlari dengan sangat cepat. Hal itu membuat orang itu mau tak mau bertabrakan dengan Himeka.
Duagh. .
Brakk. .
"Akh. . kenapa Kazune me-nabrakku? Tidak boleh berlari di koridor rumah sakit, Kazune!" rintih Himeka kesakitan, gara-gara Kazune hampir saja bunga matahari ini rusak.
"Karin hilang Himeka, ia kabur!"
[][][][][][]
To Be Continued
R
E
V
I
E
W
Maaf jika ada kesalahan penulisan dalam cerita ini!
-Ao-
