Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
Remake dari Novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Alsanea.
.
Setelah kemeriahan perayaan pernikahan Hinata, ketiga sahabat itu mengabadikan apa yang bisa mereka kenang dari sosok Hinata. Mereka meletakan souvenir pernikahan yang bertuliskan Gaara-Hinata di deretan souvenir-souvenir yang mereka dapat dari acara resepsi para teman lain yang telah menikah. Ino, Sakura, dan Rin, masing-masing berharap dalam hati, semoga mereka tidak menyusul Hinata secepatnya. Pernikahan berarti tertutupnya pintu kebebasan, tak ada lagi acara kumpul-kumpul dengan teman, ataupun belajar di kampus untuk mengejar cita-cita dan pekerjaan yang diimpikan.
Ino bercerita pada Sakura dan Rin, bahwa di barat ada tradisi yang berlaku pada masyrakat menjelang pernikahan semacam pesta bujang atau pesta lajang. Para sahabat dan keluarga akan datang menghadiri pesta dan menari sebebasnya disana dengan iringan musik menghentak yang dibawakan oleh Disc-Jockey. Biaya pesta pra pernikahan seperti ini biasanya mencapai ribuan riyal. Ketiga sahabat Hinata beranggapan bahwa tradisi seperti ini adalah sesuatu yang sangat perlu dilaksanakan sebelum mereka menikah. Jelas sekali mereka ingin mendobrak tradisi.
.
.
Suatu hari Rin, Sakura, dan Ino berencana untuk keluar jalan-jalan dan berbelanja. Mereka sepakat untuk bertemu di rumah Ino. Ketiganya berangkat dari sana menggunakan mobil Jeep milik Ino, yang menyetel suara music dari tape mobil dengan keras. Para gadis itu tertawa-tawa sambil menggerakan badan mengikuti irama.
Sepanjang perjalanan, mereka menjadi pusat perhatian para lelaki. Paras cantik dengan pakaian modern ala barat, ditambah perilaku yang seperti mendobrak tradisi, membuat mereka seakan menjadi sekawanan kijang diantara singa yang lapar. Perempuan mengendarai mobil sendiri sambil menyetel musik keras-keras menjadi pemandangan yang asing bagi masyarakat Riyadh.
Mobil mulai memasuki area pertokoan yang ramai. Di sebuah pusat perbelanjaan para gadis itu diikuti oleh beberapa pemuda. Kebiasaan anak muda zaman sekarang adalah saling bertukar nomer telepon. Banyak cara yang dilakukan para pemuda untuk mendapatkan kenalan gadis sebanyak mungkin, seperti membuat kartu nama yang banyak atau menuliskan nomer telpon di kaca mobil agar bisa dihubungi oleh siapapun yang menghendaki. Ketiga gadis itu masih akan diikuti oleh para pemuda, kalau saja seorang satpam tidak menghentikan langkah mereka dan menyampaikan larangan bahwa para bujang tidak boleh memasuki pusat perbelanjaan selepas sholat isya.
Dengan kecewa para pemuda itu akhirnya pergi, kecuali satu orang yang memberanikan diri menemui Ino dan teman-temannya. Pemuda itu sepertinya tertarik pada Ino, karena sejak tadi dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis pirang modis tersebut. Dia meminta Ino untuk mengijinkan dia menyertai mereka bertiga. Keberanian laki-laki muda tersebut membuat Ino terkesan, hingga dia mengijinkan. Rombongan yang terdiri dari empat orang itupun akhirnya beriringan mengelilingi pusat perbelanjaan untuk mencari barang yang diinginkan.
Pemuda itu mengaku bernama Shikamaru, dia lebih tua sekitar dua atau tiga tahun dari Ino, Sakura, dan Rin. Shikamaru mengajak mereka untuk makan malam di sebuah rumah makan terkenal diluar mal, tapi Ino menolak. Sebelum pergi, pemuda yang memiliki gaya rambut bak buah nanas itu menyerahkan tiga lembar kartu nama yang bertuliskan nomer ponselnya pada mereka. Nama lengkap pemuda itu adalah Nara Shikamaru.
Sakura, Ino, dan Hinata menjadi pusat perhatian. Dimana mereka lewat atau berhenti, disitu semua mata memandang. Sudah menjadi tradisi, bahwa laki-laki selalu memiliki alasan untuk mejeng di depan perempuan, tapi perempuan tidak punya hak untuk melakukan yang sama. Di Negara ini tidak mungkin seorang perempuan bisa berjalan-jalan di mal tanpa menarik perhatian dan gunjingan orang lain. Baju yang dipakai, kerudung yang dikenakan, tas yang dibawa, cara berjalan, semua pasti akan menjadi bahan komentar orang-orang yang melihat.
Setelah selesai berbelanja, mereka pergi ke rumah makan untuk makan malam. Lalu sisa hari itu dihabiskan untuk berkemah di depan rumah Rin. Mereka bercengkrama dan saling bertukar pikiran, mulai dari hal-hal yang terjadi di kampus sampai pembahasan mengenai kehidupan rumah tangga yang akan mereka jalani kelak. Saat itu seluruh anggota keluarga Rin tengah pergi ke Jeddah untuk melangsungkan liburan musim panas, yang ada di rumah hanya Rin dan saudari kembarnya.
Rin, Ino, dan Sakura menghabiskan malam dengan tawa ceria, dan makanan minuman yang lezat, sembari bermain kartu. Mereka menyalakan musik dan bergoyang gembira diiringi lagu seribusatu malam oleh Ummu Kultsum (Biduanita kondang asal Mesir yang melegenda). Melengkapi keceriaan, Ino memberikan beberapa minuman alkohol berkelas yang dia bawa dari rumah (lebih tepatnya diambil dari lemari kaca milik ayahnya yang menyimpan banyak minuman mahal) pada Sakura dan Rin. Ino tahu banyak soal minuman beralkohol, dan dia bisa meraciknya. Rin sendiri tidak terbiasa dengan minuman jenis itu, tapi karena ini adalah perayaan untuk melepas Hinata memasuki dunia baru, jadi dia meminumnya.
Ketika suara Abdul Majid Abdullah melantunkan lagu, "Wahai wanita Riyad, wahai harta pilihan, tebarkan kasih sayang," Rin menarik tangan kedua sahabatnya untuk kembali menari.
BERSAMBUNG
Terimakasih banyak : jey sakura, Forehead Poke, Out/Guest, Hinamori Hikari, ayuniejung, dan bebek kuning (Iya novelnya memang keren, walau diawal agak membosankan. Paling sebel sama suaminya Qamrah dan juga cowoknya Shedim yang plinplan. Ngomong-ngomong di fanfic ini udah tahukan siapa yang jadi Qamrah, Shedim, Michelle, dan Lumeis? :) )
