Inferno

Inspired by Divina Commedia: Inferno the masterpiece of Dante Alighieri

The story itself from the idea of author, moonsea18

All of the character here owned by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata


Chapter 2: Twist of Fate

.

.

"Striker FC Tokyo, Sasaki Kotaro resmi bergabung dengan AC Milan dan akan mulai bertanding pada Serie A pada musim mendatang."

Hiruma hanya menguap lebar sembari memandang televisi, telinganya masih berdering karena teriakan Father Adriano dibilik pengakuan dosa tadi. Setidaknya Hiruma bersyukur ayah angkatnya masih sehat-sehat karena ia jarang menemui beliau, ia sempat khawatir dengan kesehatan ayahnya itu. Ternyata, kesehatan ayahnya masih baik-baik saja dan masih sempat mengomeli Hiruma panjang lebar soal bertarung karena masalah sepele. Ia sepertinya harus rajin-rajin ke gereja untuk mengecek keadaan ayahnya, namun tiba-tiba fokusnya teralihkan oleh bau semerbak dari arah dapur. Perutnya yang sudah minta diisi itu semakin memberontak karena mencium bau yang menguar dari arah dapur.

"Setidaknya aku tidak akan mati kelaparan di Florence karena ada kau." Serunya sambil melirik kearah dapur, pemuda berpostur tegap dan tinggi tengah memasak di dapur apartemennya.

Pemuda itu hanya diam saja, ia tidak punya waktu untuk meladeni pembicaraan sahabatnya yang kadang tidak bermanfaat itu. Ia tidak mengerti kenapa ia harus berteman dengan tipe orang seperti sahabatnya itu. Padahal , orang yang terlalu easy going dan susah dimengerti adalah tipe yang paling ia benci, ia benci dengan orang yang arah jalan pikirannya seperti labirin dan sahabatnya ini adalah salah satu tipe orang yang seperti itu.

"Tch! Kau memang tidak bisa di ajak bicara kalau lagi memasak."

Hiruma menyerah, sahabatnya itu tidak mudah di ajak berbicara saat serius mengerjakan sesuatu. Ia kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke televisi. Hari minggu hampir semua stasiun televisi menayangkan acara olahraga, maka dari itu setiap hari minggu ia hanya memilih satu channel saja untuk di tonton.

"Kotaro benar-benar serius ketika dia bilang mau jadi pemain sepak bola professional. Kalau saja kau idak memilih menjadi arsitek, kurasa kau bisa masuk Serie A sama seperti Kotaro."

Hiruma tahu ia tidak akan mendapat jawaban secara langsung, namun ia tahu sahabatnya itu merasa iri karena Kotaro berhasil masuk liga Italia sementara ia harus menyerah menjadi pemain sepak bola karena harus meneruskan bisnis ayahnya. Bukan karena ia anak yang berbakti, namun karena nasib seluruh orang yang bekerja dibawah ayahnya itu berada di tangannya. Dengan kondisi ayahnya yang tiap hari semakin memburuk dan pekerjaan di kantor konstruksi ayahnya yang semakin hari semakin mengalami penurunan, mau tidak mau ia harus menjadi penerus ayahnya dan belajar dunia arsitektur.

"Baguslah kalau ia serius. Setidaknya ia bisa melakukan hal yang paling ia sukai."

.

.

Overture

Mamori paling benci ketika mendengar musik yang selalu menjadi pembuka opera ini. Kali ini ayahnya memutar lagu dari opera Don Giovanni, dimana ia membenci sekali overture dari opera ini. Nada awalnya yang terdengar seperti petir itu membuat Mamori merasa itu adalah pertanda awal yang buruk, ia membenci opera walaupun Italia bisa dibilang gudangnya opera. Ia membenci opera karena ayahnya menyukai opera, alasan yang tidak masuk akal namun cukup menjadi alasan yang kuat bagi Mamori untuk membencinya.

Ia harus berusaha menyukai musik yang terputar di dalam mobilnya ini. Karena ia hidup dilubang yang sama dengan ayahnya, maka dari itu ia harus menyukai musik yang selalu menyapa indera pendengarannya ini, walaupun ia membencinya setengah mati. Ayahnya nampak diam tak bersuara, sepertinya ia tidak suka dengan sikap ramah tamah Mamori tadi. Percayalah, Mamori terpaksa melakukan hal tadi karena kewajiban.

"Mamori, siapa pria yang tadi menyapamu ?" Tanya ayahnya dingin dan tajam, tepat setelah ayahnya bertanya lagu Overture telah berakhir. Ia bersyukur ayahnya kemudian memutuskan tidak memutar musik dan memilih berbicara dengannya. Ia muak dengan opera maka dari itu ia bersyukur musik itu tidak dilanjutkan.

"Tidak tahu. Kebetulan aku bertemu dengannya di lorong-lorong kota dalam keadaan setengah babak belur. Kalau tidak ku tolong, reputasi ayah yang nantinya rusak." Balas Mamori, berusaha menahan diri agar ia tidak berbicara dingin dengan ayahnya. Ia masih menyayangi nyawanya, kalau ia tidak mau berakhir diruang penyiksaan karena bersifat lancang.

"Baiklah, ayah percaya. Tapi setelah itu menyingkir dari bocah ingusan itu kalau kalian bertemu lagi." Lanjut ayahnya yang kemudian menyetel musik kembali kali ini lagu Madamina, il catalogo รจ questo memenuhi seluruh penjuru mobil.

Mamori hanya dapat terdiam, ia tidak akan bertemu dengan pemuda itu lagi. Mereka hanya orang asing dan faktanya tidak ada orang asing yang bertemu lagi untuk ketiga kalinya. Kedua kalinya pun sebenarnya tidak akan terjadi, pertemuannya dengan pemuda tadi untuk kedua kalinya adalah sebuah kebetulan. Kebetulan yang Mamori tidak duga-duga, karena ia juga secara tidak sengaja melihat pemandangan yang indah yang diciptakan oleh pemuda tersebut. Pemandangan tadi mengingatkannya akan sebuah lukisan di Louvre,

"St Michael Vanquishing Satan."

.

.

Galleria degli Uffizi

Galeri tertua di dunia ini berdiri kokoh di area yang dikenal sebagai The Historic Centre of Florence. Hari ini, jurusan Hiruma sedang mengadakan study field atau belajar di lapangan. Kali ini dosennya membawa mereka kemari untuk memperlihatkan semua lukisan yang dipamerkan di galeri ini. Salah satu lukisan yang paling terkenal disini adalah The Birth of Venus karya dari Sandro Botticelli. Lukisan ini bisa dibilang seperi Monalisa nya Uffizi, karena ketenarannya yang sama seperti Monalisa yang selalu membuat Louvre tidak pernah sepi pengunjung.

"Tempat ini seperti biasa sesak dan selalu penuh. Aku tidak yakin kita bisa mengamati The Birth of Venus dengan mudah." Keluh Agon yang melihat kerumunan manusia yang memenuhi galeri.

Ada alasan lain yang membuat pengunjung selalu memenuhi galeri walaupun mereka sudah sering datang berkali-kali. Uffizi sendiri memiliki bentuk memanjang dan sempit. Ketika masuk kedalam, pengunjung akan lansung disambut dengan pemandangan sungai Arno yang membentang dihadapan mereka. Hiruma benar-benar tidak menyangka Alfonso Parigi dan juga Bernardo Buontalenti benar-benar mendesign sesuatu yang bisa membuat mata takjub walaupun orang tersebut sudah datang berkali-kali mereka tetap akan takjub dengan pemandangan ini. Tak heran museum ini selalu penuh dan sesak setiap harinya, selain The Birth of Venus arsitektur museum ini benar-benar memanjakan mata.

"Wajar saja, selain The Birth of Venus. Pemandangan yang terletak tepat dihadapan kita ini juga menjadi atraksi wisata yang menarik." Terang Lauren, salah satu teman akrab dari Hiruma dan Agon di jurusan seni lukis.

Berbeda dengan Hiruma dan Agon yang mengambil dual degree sebagai mahasiswa sastra. Lauren mengambil dual degreenya sebagai mahasiswa arsitektur, karena sahabat Hiruma dan Agon yang juga berkuliah di jurusan yang sama dengan Lauren. Maka dari itu Lauren bisa jauh lebih dekat dengan mereka berdua ketimbang dengan anak-anak lainnya.

"Lihat, mahasiswa arsitektur sedang berbicara. Kau jadi terlihat pintar ketika berbicara seperti itu." Ejek Agon yang berakhir dengan jitakan mulus di kepalanya, Hiruma hanya meringis ketika melihat kepala Agon yang benjol akibat jitakan dari Lauren. Ia bingung kenapa Agon berani macam-macam dengan Lauren yang dulunya pernah menjadi juara tinju nasional tingkat SMA di Inggris itu.

"Oh ya, kemarin aku sempat lihat kalian di gereja waktu misa pagi. Hiruma, kau sengaja ya pilih tempat duduk yang terkena pancaran sinar matahari ?" Lauren nampak mengalihkan pembicaraan, kali ini ia mengganti topik soal misa pagi di gereja kemarin. Lauren kebetulan juga satu gereja dengan Hiruma dan Agon, karena hal itu jugalah ia akrab dengan mereka berdua atau mungkin bertiga kalau ditambah sahabat mereka yang satunya lagi.

"Ha ?! Mana mungkin aku sengaja, kau tahu tidak aku kepanasan duduk disitu, rasanya seperti dipanggang di oven. Mana misa udah mulai, mana sempat aku mau tukar tempat duduk. Lagian kalaupun mau tukar aku harus berantem dulu dengan si gimbal ini!" Suara Hiruma yang terdengar kencang itu membuat mereka menjadi pusat perhatian, Hiruma kemudian menunduk malu dan meminta maaf. Setelah itu ia hanya memandang Lauren yang terkikik kecil karena berhasil menggoda Hiruma.

"Dia mana nyadar kalau duduk disitu bisa bikin cewek-cewek ngiler." Balas Agon jahil, ia sendiri dari awal Hiruma duduk di tempat kemarin sempat kagum dengan pemandangan yang diciptakan sahabatnya itu. Ia sempat mempertanyakan orientasi seksualnya ketika melihat Hiruma bermandikan cahaya matahari dan terlihat seperti malaikat.

Kali ini Hiruma bingung, ia tidak mengerti maksud arah pembicaraan teman-temannya itu. Lauren dan Agon hanya dapat terkekeh melihat ekspresi bingung Hiruma itu. Lauren yang tidak tega melihat Hiruma yang bingung dan tidak tahu apa-apa itu langsung mengeluarkan handphonenya, ia kemudian menunjukkan lockscreen di handphonenya itu.

Foto Hiruma yang tengah serius menikmati misa pagi dan terpapar sinar matahari dengan kualitas pengambilan gambar seperti menggunakan lensa kamera mahal, Hiruma hanya dapat tertegun melihat fotonya yang bermandikan sinar matahari itu terlihat bagus dan menawan. Sepertinya, Lauren harus pindah jurusan dan masuk jurusan fotografi dengan skill seperti ini Lauren bisa saja punya galeri foto sendiri.

"Kau tahu, hampir semua orang tidak fokus dengan khotbah dari Padre Adriano. Gara-gara kau duduk disitu, untung saja Agon minta tukar tempat. Walaupun aku mengutuk perbuatannya sih karena menghancurkan pemandangan." Jelas Lauren antusias sambil memandang bengis kearah Agon.

Agon yang merasa tersalahkan membalas tatapan Lauren dengan tatapan yang lebih bengis lagi, "Kalau si pak tua Musashi itu tidak suruh aku tukar tempat mana aku mau."

Hiruma hanya bisa speechless, lagi-lagi ia harus mendengar pertengkaran yang membuat telinganya sakit. Tidak bisakah dia mendapat ketenangan barang sedetik saja sembari menikmati kunjungan ke Uffizi walaupun kunjungan kali ini berembel-embel dengan kata belajar.

.

.

Setelah menembus hampir ratusan orang, akhirnya mereka tiba di section A yang berisi lukisan-lukisan. Nampak beberapa pengunjung berkerumun melihat karya dari Sandro Botticeli, dosen Hiruma nampak memperhatikan ratusan pengunjung yang masih berkerumun di spot yang sama demi melihat lukisan ini. Ia akhirnya membagi kelompok dan memberikan tugas kepada muridnya untuk mengamati dan menjelaskan makna dari setiap lukisan yang ada di galeri ini.

Ia hanya menggerutu ketika dosennya selesai membagikan kelompok untuk tugas kali ini Hiruma lagi-lagi harus satu kelompok dengan Agon dan Lauren dan sepertinya dewi fortuna sedang tidak berada dipihaknya, ia sudah cukup muak menemui dua orang ini di mana-mana dan sekarang ia harus satu kelompok dengan mereka.

"Wah, ada yang tidak suka sekelompok dengan kita." Goda Agon, entah mengapa menggoda Hiruma menjadi kegiatan favoritnya.

Lauren kemudian terkikik geli, reaksi Hiruma yang kadang lucu ketika digoda itu membuat ia dan Agon selalu menggoda Hiruma. Tentu saja hal ini selalu berujung dengan Musashi yang marah karena tuan muda nya di isengi oleh anak-anak jahil seperti Lauren dan juga Agon. Walaupun begitu ia dan Agon tidak pernah kapok untuk menggoda Hiruma.

Hiruma hanya bisa mengacuhkan kedua sahabatnya itu, ia sama sekali tidak tertarik untuk membalas ejekan mereka dan dimana Hiruma selalu kalah karenanya. Ia pun berjalan mengitari galeri yang penuh lukisan itu, sesekali matanya memandang takjub dengan detail yang ditorehkan oleh kuas si pelukis tersebut diatas kanvas. Akhirnya kakinya berhenti dilukisan primadonanya Uffizi, The Birth of Venus. Matanya memandang takjub lukisan tersebut, sesekali tatapan kagumnya berubah jadi tatapan kesal karena pemandangannya terhalang oleh amaturan yang sedang mengambil foto lukisan tersebut.

"Hiruma, bagaimana kalau kita berkeliling dulu. Setelah itu kemari lagi kalau sudah sepi." Saran Lauren, ia sebenarnya kesal melihat gerombolan orang-orang yang mengambil foto berkali-kali dan tetap ditempat itu dan tidak mau keluar dari situ.

Hiruma menyerah dan mengikuti saran Lauren, beberapa teman sekelasnya pun nampak ikut berkeliling galeri ini sembari menunggu keadaan sedikit sepi.

"Seperti Feeding Frenzy saja keadaan disini."

.

.

Mamori memandang datar rehersal opera, Don Giovani. Ia sama sekali tidak menunjukkan wajah menikmati penampilan yang memukau mata dan telinga itu. Kebetulan keluarganya mengadakan acara penggalangan dana untuk galeri Uffizi dan acara itu akan dilaksanakan disana dengan mengusung konsep opera yang artinya di galeri nanti akan diadakan pertunjukkan opera. Untungnya, arsitektur Uffizi itu memungkinkan mereka untuk membangun panggung sehingga pertunjukkan opera tidak terhalang oleh tempat yang sempit.

"Mamori, setelah ini pergi ke Uffizi untuk bertemu dengan kepala galeri dan bicarakan soal panggung dan kapasitas pengunjung." Titah ayahnya yang matanya masih memandang pertunjukkan opera itu.

Mamori hanya diam, ia tidak menikmati barang sedetik pun pertunjukkan ini. Ia mengakui penyanyi opera memang memiliki suara yang memanjakan telinga, tapi sayangnya ia harus membenci karya seni seindah opera ini. Ia hanya bisa mengumpat Mozart karena berhasil memproduksi opera seindah ini, ia mengumpat bagaimana seharusnya Mozart tetap menjadi musisi musik klasik ketimbang ikut-ikutan memproduksi opera.

Pertunjukkan memasuki scene terakhir, dimana discene ini Don Giovanni mengadakan acara makan malam denga Leppero. Setelah dia dengan bodohnya mengundang patung yang merupakan wujud dari orang yang telah ia bunuh. Manusia mana yang berani mengundang sebuah patung untuk acara makan malam, itu bukan tindakan berani namun tindakan bodoh yang berakhir dengan dia yang terseret ke neraka. Mamori yang membenci opera, selalu menganggap setiap cerita diopera adalah cerita paling bodoh yang pernah ia lihat. Ia mungkin akan di maki habis-habisan oleh penikmat opera dan juga penikmat seni karena menyamakan opera dengan film gagal Netflix, ia mungkin seperti melihat Bird Box dalam versi yang lebih classy dan elegan.

Da qual tremore insolito

sento assalir gli spiriti!

Donde escono quei vortici

di fuoco pien d'orror?

Entah kenapa, nyanyian Don Giovanni ini seperti merefleksikan ketakutannya, takut terseret ke lubang hitam yang dalam nan pekat itu. Ia melihat Don Giovanni yang dikelilingi oleh iblis yang menyeret jiwanya dan kemudian terseret ke neraka. Ia membayangkan dirinya berada di posisi Don Giovanni yang terseret kedalam lubang hitam yang ditakutinya itu oleh tangan-tangan yang terus menggapai kakinya. Ia membayangkan dirinya seperti Don Giovanni yang angkuh dan tidak mau mengakui dosanya sendiri sehingga terjerat jauh kedalam neraka.

"What strange fear, now assails my soul! Where do those flames

of horror come from?"

Mamori terkejut, disebelahnya tiba-tiba duduk seorang pemuda berambut hitam acak, wajahnya terlihat teduh dan menenangkan jiwa. Pemuda itu terlihat seperti seorang pangeran atau mungkin raja yang tengah menghadiri acara royal atau hanya sekedar duduk manis melihat opera.

"Anezaki, kau tahu tadi terjemahan lirik yang mana ?"

"Da qual tremore insolito sento assalir gli spiriti! Donde escono quei vortici di fuoco pien d'orror?"

Pemuda itu bertepuk tangan senang, terdengar ia mengucapkan kata bravo. Mamori hanya memandang datar pemuda disebelahnya ini, ia seperti melihat pangeran yang manja dan menikmati setiap hiburan yang ada tanpa berpikir panjang. Ia menarik pikirannya soal wajahnya yang menenangkan jiwa itu. Ayahnya nampak menoleh dan tersenyum lebar, Mamori kemudian sadar bahwa orang ini adalah tamu ayahnya. Firasat Mamori jadi tidak enak setelah mengetahui pemuda ini adalah tamu ayahnya.

"Ah, Mamori. Kau sudah bertemu dengan Yamato rupanya. Kau ingatkan pembicaraan kita tempo hari soal pertemuan penting, Yamato inilah yang ayah maksud."

Sial! Ia tidak bisa lari dari kenyataan sekarang. Kenyataan soal pertemuan, ia tahu arah pembicaraan ayahnya tempo hari dan itu membuatnya semakin ingin lari setelah melihat kenyataannya datang menghampiri dirinya.

.

.

Keadaan di Uffizi telah mulai sepi dari pengunjung, akhirnya Hiruma dapat bernafas lega sembari mengamati The Birth of Venus. Ia mengamati lukisan itu dengan seksama, Venus yang nampak dengan indahnya keluar dari cangkang mengingatkan Hiruma akan seseorang yang pernah ia temui. Ia mengingat kembali siapa yang menyerupai Venus didalam lukisan ini,

"Prego."

Ah, gadis itu! Gadis berambut auburn dengan mata blue sapphire, mata yang jernih seperti air laut di Maldives. Gadis yang terlihat seperti malaikat ketika ia pertama kali bertemu dengannya, gadis itu benar-benar mengingatkannya akan Venus. Jantungnya seketika berdegup kencang, wajahnya pun juga memerah. Dia tidak mengerti kenapa hanya dengan mengingat gadis itu jantungnya berdegup kencang, ia tidak mengerti.

"Ah, ini gawat!"

.

.

Twist of fate adalah sebuah idiom yang tidak asing di telinga semua orang, makna dari idiom ini adalah sebuah kesempatan atau kebetulan yang aneh, menarik dan membawa malapateka disaat yang bersamaan. Bisa dibilang tali takdir yang mempertemukan dua orang yang terasa seperti kebetulan yang menarik namun membawa malapetaka setelahnya. Galleria degli Uffizi, sore itu dibawah temaram sinar matahari dua orang anak manusia dipertemukan kembali oleh suatu ikatan bernama takdir. Mereka bertemu kembali tanpa mereka sadari, seperti kereta yang berpapasan namun tidak bisa menyapa. Seperti idiom tadi, Twist of Fate. Kedua insan itu bertemu kembali seperti benang takdir yang mengikat mereka untuk tetap bertemu satu sama lain yang akan berakhir dengan kemalangan.

.

.

To be Continue


Hola, ku akhirnya update chapter kedua~

By the way, I wanna say thank you to all of you who read, review, favorite and follow this stupid fanfiction. Terima kasih sekali lagi author ucapkan~

Sekian and see you on the next chap, laddies~

BYE~