Hai readers tersayang dan tercinta ' ')/

Balik lagi pada author tak becus ini yang mau minta maap karena apdetnya lama pake banget.

Gara2 libur, rasa malesnya kebawa ke mana-mana. /yaterus

Yodah, langsung aja.

Disclaimer : Hanya milik Fujimaki Tadatoshi. Kalo punya gue, dunia udah kebalik kali. /?

Warning : typo(s), OOC, gajeness, kampungan, mainstream, abal, dll.

Don't like, Don't read!

Enjoooy~


"Library and Innocent Stalker"

Chapter 2

Akashi berdiri sendirian di tengah padang yang dihiasi berbagai macam bunga-bunga yang cantik. Ia menatap langit biru nan cerah dihiasi dengan burung-burung yang melayang dan menari di langit bersih itu, ditambah lagi angin siang yang suaranya berdesir menenangkan hati. Sungguh tenangnya hati Akashi di saat itu.

"Tuan mudaa! Sudah saatnya makan siang! Ayo kembali ke rumah!" ucap seorang pembantu rumah Akashi yang berlari menelusuri rerumpunan bunga itu untuk menghampiri Akashi.

Akashi yang mendengar sahutan pembantunya, perlahan-lahan membuka kedua matanya yang dari tadi terpejam dan menoleh ke belakang sambil berkata, "Iya, Yukarin. Kau tak per—"

Lelaki mungil berambut biru berdiri tepat di belakangnya.

"Domo,"

.

.

.

SRAAAAK!

Suara selimut Akashi yang tersibak menjadi suara pertama yang didengarnya di pagi itu. Akashi terbangun di tempat tidurnya dengan wajah melotot kebingungan. Ia sempat menatap lemari di depan tempat tidurnya dengan tatapan kosong. Beberapa detik kemudian, ia sadar diri lalu menepuk jidatnya sendiri.

"Lelaki aneh itu sudah mengganggu pikiranku, sekarang malah mimpiku. Ada apa sih ini?" ucap Akashi sambil menghela napas berat.

Ia pun beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi menggosok gigi dan mencuci mukanya. Kemudian ia memakai seragam sekolahnya dan menyusun buku-buku sesuai jadwalnya hari ini. Lalu ia keluar kamarnya dan menuju ruang makan.

"Ah, Ohayou tuan muda. Tidurmu nyenyak?" sapa pembantu rumahnya.

"…ya," jawab Akashi singkat.

'Apanya yang nyenyak. Bertemu dengan lelaki aneh yang bisa-bisanya merasuki mimpiku dan membangunkanku lebih pagi dari biasanya,' gerutu Akashi dalam hatinya.

Para pembantu yang lain datang membawa beberapa hidangan untuk dijadikan menu sarapan bagi Akashi. Menu utamanya Omurice*. Di samping itu, ada roti selai kacang, kentang goreng dan susu sebagain pelengkapnya. Akashi tidak melahap habis semuanya walaupun sisa waktunya masih banyak sebelum berangkat sekolah. Ia lebih memilih tidak kekenyangan daripada ia menjadi pemalas karena makan terlalu banyak.

"Ittekimasu,"

"Ah, bocchama. Hayai ne. Itterashai,"

Akashi pun mengambil tasnya dan berjalan keluar gerbang rumah. Ia berpikir, mungkin ia lebih baik mengambil rute jalan yang lebih panjang selagi ada waktu.

GRASAK GRUSUK

Semak-semak di dekat rumah Akashi bergoyang menimbulkan suara khasnya saat Akashi tepat lewat di depannya. Akashi hanya harus berwaspada dengan apa yang ada di balik semak-semak itu. Tetapi, setelah sesuatu keluar dari semak-semak itu, rasa waspada Akashi berubah menjadi rasa benci yang ia punyai dari dulu.

"Ada anjing…" ucap Akashi dengan suara yang sedikit ditekankan.

Namun Akashi tersadar akan sesuatu yang ada pada anjing itu.

'Bola mata anjing ini…rasanya aku pernah liat. Ini mirip…'

GRASAK GRASAK

Setelah seekor anjing yang keluar dari semak-semak, munculah seorang lelaki yang ikut keluar dari semak-semak itu.

"Nigou, seharusnya kau diam saja," ucap lelaki itu.

'...Mirip dia…"

Akashi hanya terdiam menatap lelaki asing—tidak, maksudnya lelaki aneh berambut biru yang ia temui kemarin.

"Su-sumimasen. Ini anjingku, Nigou. Saya permisi dulu," ucap lelaki berambut biru itu sambil menggendong anjing yang ia panggil 'Nigou' itu lalu berlari pergi.

"…Ah! Matte!"

Akashi berusaha memanggilnya namun hal itu sia-sia karena lelaki berambut biru itu terlanjur sudah berlari jauh dan suara Akashi tidak akan mampu meraih indera pendengar lelaki aneh itu. Akashi ingin mengejarnya namun arah jalan mereka berbeda arah. Akashi pun berbalik arah dan berjalan kembali menuju sekolahnya. Kemudian pikirannya mulai melayang. Beribu-ribu pertanyaan muncul di benaknya.

'Ke-kenapa keinginanku bisa terkabul begini? Aku bertemu dengannya lagi…tapi kenapa bisa? Selalu saja bisa bertemu dengannya setiap hari. Ia mempunyai anjing…namanya Nigou? Bola mata mereka itu memang mirip, bagaimana bisa? Lalu, kenapa mereka berdua berada di semak-semak dekat rumahku?'

"Nigou, seharusnya kau diam saja,"

Akashi pun menghentikan langkahnya sejenak seakan-akan ia menyadari sesuatu.

'…stalker…?'


[ Hmm…aku rasa dia benar-benar stalker Akashicchi!Kise ]

"Kenapa kau yakin kalau dia itu stalker?" tanya Akashi mencoba meyakinkan diri sambil mengetik balasannya di ponselnya itu.

[ Karena cewek itu selalu bertemu denganmu setiap hari entah kebetulan atau bagaimana-ssu. Bahkan, ia meminjamkanmu syal, menyapamu, dan segala macamnya itu. Bukankah itu artinya ia benar-benar stalker? Biasanya kan stalker itu berusaha supaya ia tahu apa saja yang dilakukan oleh orang yang ia perhatikan dan itu artinya dia perhatian-ssu. Ia mungkin menyukaimu. –Kise ]

Akashi terbatuk-batuk membaca email dari salah satu temannya itu, Kise Ryouta. Kise adalah salah satu temannya yang populer di kalangan anak perempuan, oleh karena itu Akashi memilih bertanya pada Kise daripada yang lain.

"Apa-apaan dengan kata 'menyukai' itu?" kata Akashi sambil membersihkan mulutnya dengan tisu kemudian mengetik balasannya lagi.

[ Kalau kau membuat masalah dengannya, pasti dia akan stalking kau untuk membalas dendam-ssu. Kau bilang, kau belum pernah bertemu dia kan? Itu artinya karena dia tertarik padamu. Fufu…tidak biasanya ya kau seperti ini, Akashicchi. Biasanya kamu pembawaannya tenang dan berwajah pemimpin-ssu. Sekarang, kau malah seperti ini anak sekolah dasar yang marah-marah tapi malu. Benar-benar di luar dugaan kau bisa seperti ini-ssu. Gara-gara cinta hahaha. – Kise ]

"Heh, jangan pernah kau beritahukan hal ini kepada semua orang. Hanya kau dan aku yang tau. Aku menanyakanmu karena kau lebih berpengalaman. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan membunuhmu," ancam Akashi dengan death glare nya sambil menatap layar ponselnya itu dan mengetik balasannya lagi.

[ Hidoi yo, Akashicchi! Demo, iya deh iya. Tapi lumayanlah, kalau stalker itu menyukaimu. Hehe lebih lumayan lagi kalau dia cantik-ssu. Kalau kau berhasil memacari gadis itu, kenalkan padaku ya, Akashicchi! – Kise ]

"Hah, tidak mungkin. Mana mau aku pacaran sama di—"

Akashi terdiam sejenak dan menatap ke bawah. Ia merasa perkataannya barusan tidak benar. Lalu, ia pun merasa ia tak perlu menjawab email Kise yang terakhir.


Akashi sudah menyelesaikan latihan basketnya untuk hari ini. Ia ingin melepas rasa lelahnya di perpustakaan kota. Ia lebih memilih membaca buku di sana daripada hanya berbaring tidak jelas di rumahnya.

"Kalau kau berhasil memacari gadis itu, kenalkan padaku ya!"

Kata-kata Kise itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Pikiran itu tidak bisa lenyap sedikit saja dari benak Akashi seakan-akan kata-kata Kise itu tertempel di otak Akashi dengan lem yang sangat kuat.

'Dia itu kan…cowok? Bagaimana aku bisa memacari dia? Dan bagaimana kalau semua orang tahu bahwa aku, Akashi Seijuro memacari stalkernya yang merupakan seorang laki-laki?' pikir Akashi sambil menghela napas untuk keberapa kalinya hari ini.

Langkahnya pun terhenti tepat di depan gedung perpustakaan. Ia memasuki gedung itu dan seperti biasanya, ia mengincar spot favoritnya, seperti biasanya. Ia pun menaruh tasnya dan mencari buku yang akan menjadi bahan bacaannya. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan salah satu buku saat ia mengambil buku yang lain.

"Ah," Akashi mengambil buku yang jatuh itu, namun ia menemukan sesuatu yang tidak biasanya terjadi.

Buku itu terjatuh dalam keadaan terbuka tepat di halaman terakhirnya sehingga ia bisa melihat kartu perpustakaan yang terselip di sana.

'Tumben sekali ada yang mau meminjam buku yang sama denganku. Anehnya. Hah? Namanya Kuroko Tetsuya? Hmm…sepertinya anak kutu buku. Hah, sudahlah. Buat apa aku mengurusi hal sepele seperti ini,' Pikir Akashi sambil mengembalikan buku yang jatuh tadi dan hendak menuju tempat duduknya, namun Keito kebetulan lewat.

"Ara, Shin. Mencari buku langka lagi?" tanya Keito seolah menyapa.

"Ya, Kei—" Akashi sedikit terkesiap melihat dua buku yang dibawa Keito sangat familiar baginya.

"Keito-san, buku-buku itu…baru dipinjam?" tanya Akashi.

"Eh? Ini…ya, ada yang pinjam. Baru saja dikembalikan hari ini,"

"Nama peminjamnya Kuroko Tetsuya?"

"Wah, betul. Itu dia namanya. Kenapa kau bisa tau, Shin?"

"…hanya menebak kok, Keito-san," ucap Akashi bohong.

"Oh. Jawabanmu memang selalu benar ya, belum pernah keliru saat berbicara padaku," ungkap Keito sambil hendak menaruh buku-buku itu di rak paling atas tanpa rasa heran.

"Ah, tunggu dulu, Keito-san. Aku ingin lihat buku-buku itu lagi. Nanti biar aku yang simpan," cegah Akashi.

"Eh…? Baiklah, tapi nanti kalau kau tak bisa menyimpannya kembali panggil aku saja ya," kata Keito sambil tersenyum.

"Jangan mengabaikan kemampuanku,"

"Maaf, maaf. Aku mau keluar sebentar ya. Tidak apa-apa kan, kau di dalam ruangan sebesar ini sendirian?"

"Ya, tidak apa-apa bagiku,"

"Baiklah, matta ne,"

Sosok Keito pun semakin mengecil dan mengecil hingga sosoknya hilang di balik pintu. Akashi mulai membuka-buka buku yang diserahkan Keito tadi, tepat di halaman belakangnya.

'Ah…buku-buku yang kubaca ini, semuanya ada tertulis nama laki-laki kutu buku itu tepat di bawah namaku. Siapa dia?' pikir Akashi.

Kemudian, ia pun menaruh buku-buku itu di tempat Keito tunjukkan tadi. Ia pun mencoba mencari buku lain yang pernah ia pinjam dengan berjalan menelusuri rak buku yang lain. Hasilnya…entah ia harapkan atau tidak. Semuanya bertuliskan nama orang yang sama di bawah namanya.

'Kuroko Tetsuya…siapa dia? Kenapa ia bisa meminjam semua buku yang kupinjam? Ini…tidak mungkin kebetulan. Tidak mungkin. Pasti ada yang salah dengan si kutu buku ini,'

Akashi pun menyimpan buku-buku itu ke tempat semula dan melewati rak-rak buku yang lain. Tiba-tiba, ia melihat sesosok laki-laki lewat di depan matanya.

Laki-laki mungil dan aneh yang berambut biru itu.

Akashi tidak berani membuka mulutnya. Tampaknya lelaki itu tidak sadar akan kehadirannya, bahkan entah itu cuma perasaan Akashi saja atau tidak, nampaknya lelaki berambut biru itu berjalan sempoyongan.

Tiba-tiba, lelaki itu menabrak rak buku yang berada tepat di depannya dan membuat beberapa kamus yang cukup tebal hendak jatuh dari tempatnya.

"Awas!"

Nampaknya, lelaki mungil itu tak mendengar peringatan Akashi yang sudah berteriak lumayan keras. Dengan spontan, Akashi berlari ke laki-laki yang sudah tersungkur di lantai itu dan menimpa badannya sehingga kamus-kamus itu malah berjatuhan ke punggung Akashi.

Akashi sedikit meringis dan membuat laki-laki di bawahnya membuka matanya yang daritadi terpejam karena kaget. Sepertinya laki-laki itu baru sadar.

"Go-gomen. Daijobu desu ka, Akashi-kun?" tanya laki-laki itu sedikit panik sambil menyingkir dari bawah Akashi.

"A-aku tidak apa-apa," jawab Akashi sambil membersihkan seragamnya. "Hanya kamus-kamus itu terasa berdebu saja, sehingga membuatku jengkel dan seragamku ikut berdebu,"

"Maafkan aku, Akashi-kun. Aku terlalu lelah karena tidur larut semalam. Maafkan aku,"

"Sudah, kubilang tidak apa-apa—tunggu, bagaimana kau bisa tahu namaku?"

"Eh? Eh…itu…um, a-aku kan pernah meminjam buku saat kau juga meminjam buku. Aku tak sengaja lihat saja saat kau menuliskan namamu di kartu perpustakaan itu," kata laki-laki itu tanpa memandang wajah Akashi, malah ia berbalik dan memungut kamus-kamus yang jatuh itu.

Akashi tak hanya bisa berdiam diri saja. Ia ikut berjongkok dan membantu laki-laki aneh itu membereskan kamus-kamus yang berserakan. Akashi pun mulai melayangkan pikirannya lagi.

'Aneh, alasan laki-laki ini cukup masuk akal namun aku merasa tak bisa mempercayainya. Kenapa ya?'

Tanpa sengaja, tangan Akashi dan tangan laki-laki berambut biru itu bertemu tepat di atas sebuah kamus.

"A-ah! Maaf!" kata laki-laki itu sambil menarik tangannya dengan sistem kilat.

Akashi terdiam beberapa detik, kemudian ia memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.

"Hei, siapa namamu? Dan mengapa aku selalu bertemu denganmu? Apa yang kau lakukan tadi pagi dengan anjingmu itu?" tanya Akashi penasaran.

Lelaki itu sempat terdiam. Kemudian ia mengangkat kamus-kamus itu untuk ditaruh ke tempat semulanya. Namun, tinggi badan laki-laki membuatnya tak mampu meraih tempat kamus-kamus itu berada. Akashi pun berdiri di belakangnya dan mengambil kamus dari tangan laki-laki mungil itu kemudian menaruhnya ke tempat yang lebih tinggi.

"Hei, kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?" tanya Akashi setengah berbisik di dekat telinga laki-laki di depannya itu.

Laki-laki itu tetap memilih untuk diam seribu bahasa. Kemudian, ia berjalan dengan cepat berusaha menyingkir dari Akashi.

"Hoi!" Akashi mulai setengah berteriak. Beruntung di dalam seruangan besar itu hanya ada mereka berdua sehingga Akashi bisa berbicara keras.

"A-aku Kuroko Tetsuya," jawabnya singkat tanpa menghentikan langkahnya dan justru malah berlari menjauhi Akashi.

Akashi langsung tekejut mendengar kalimat singkat dari pemuda itu.

'Kuroko Tetsuya…dia laki-laki si kutu buku itu? Yang namanya tertulis di tiap buku yang telah kupinjam sesudahku?'

Ia pun juga teringat bagaimana ia dan laki-laki yang mengakui bahwa dia adalah Kuroko Tetsuya itu bertemu untuk beberapa kali, dan ia langsung percaya bahwa itu semua bukanlah kebetulan. Kemudian ia juga teringat akan kata-kata Kise.

"Hmm…aku rasa dia benar-benar stalker Akashicchi!"

'Stalker?! Kuroko Tetsuya, si laki-laki mungil berambut biru yang sudah sering kutemui itu…stalker-ku?! Dugaanku benar kan! Kenapa dia stalking aku?' Akashi bertanya-tanya dalam hatinya.

Kemudian, ia berlari mencoba mengejar stalker-nya, Kuroko Tetsuya. Namun, ia tak menemukannya dia di sudut manapun.

"Tadaima," ucap Keito sambil masuk ke rungan itu.

"Eh? Shin? Sedang apa kau bengong di depan pintu? Sudah mau pulang? Tumben kau pulang cepat," lanjut Keito sambil menaruh barang-barangnya di meja utama ruangan itu.

"…tidak kok, Keito-san. Aku masih mau di sini," jawab Akashi datar sambil menuju spot favoritnya dan mulai membaca buku lagi.

Keito sempat memandang heran ke arah Akashi, namun ia pun mulai mengurusi pekerjaannya sendiri tanpa bertanya. Sementara itu, Akashi mulai membaca buku pilihannya sambil memikirkan tentang Kuroko Tetsuya.

'Kuroko…Tetsuya, aku harus bertemu dengannya lagi besok. Harus,'


-To Be Continued-

[*] Omurice itu adalah Omelette Rice. Itu istilah singkatnya di Jepang.

Akhirnya chapter 2 selese juga…*tabur kemenyan* /?

Yodah, tunggu aja apdetannya lagi. Jangan marah2 ya kalo lama, author emang suka menunda-nunda pekerjaan. buka aib ceritanya

REVIEW ONEGAISHIMASU!~