Douzo

.

.

.

Menjadi seorang Hyuuga bukanlah hal yang luar biasa. Seluruh hidupnya, kepercayaan, nyawa, dan cinta sekalipun hanya boleh di dedikasikan untuk Hyuuga. Jika sebuah pribadi sepenuhnya melekat pada keluarga tersebut maka, kehidupannya terjamin.

Hinata muak mendengarnya. Terjamin? Baginya itu hanya sebuah kiasan halus untuk pengertian mempercayakan nyawa pada malaikat maut Hyuuga. Sejak awal, semua yang bersangkutan dengan nyawa bukanlah hal yang bagus. Dan dalam konteks keluarga ini, mereka yang tidak sadar jika hanya mempunyai satu tali kehidupan yang dengan bodohnya mereka serahkan demi menjadi barier ketika timah panas entah dari mana rimbanya melesat menuju sang kepala keluarga, Hyuuga Hiashi.

Juga ketika sesi latihan berlangsung, tidak banyak yang bertahan. Namun selalu ada pengganti baru. Dua-tiga pemuda mengalami patah tulang dalam sehari. Mereka tidak jera. Satu-dua orang meninggal tiap bulan, mereka tidak perduli.

Menjadi kuat adalah motto yang mendasari mereka berlaku tidak perduli terhadap sekitar dan tubuhnya sendiri. Entah ramuan apa yang di gunakan Ayah Hinata sehingga mempunyai bawahan sedemikian setianya.

Tujuh tahun menjalani kehidupan dalam neraka bersampul kastil itu membuat Hinata jera. Geng mafia, Hyuuga Familia. Begitulah mereka--para pebisnis underground--menyebutnya.

Sungguh jauh dari kata suci.

Ah, Hinata juga tak pernah merasa bahwa dirinya suci. Lagi pula, walaupun umurnya belum cukup, Ayahnya telah memberi titah pada Hinata untuk berlatih bersama keluarga jauh--begitu mereka menyebut bawahannya--di gedung pusat pelatihan.

Tak jarang ia mematahkan kaki seorang pemuda, menotok titik syarafnya sehingga mereka tidak bisa bergerak. Bahkan pada pertarungan senjata, ia berhasil menembus telinga salah seorang keluarga jauh saat itu. Headshoot yang meleset, dan Hinata bersyukur.

Setidaknya, tujuh tahunnya tidak terlalu kelam untuk di ingat, jika dibandingkan dengan Neji, sepupunya dari keluarga cabang yang lebih kuat dan giat.

Ia tak henti bersyukur semenjak insiden penculikannya oleh Cosa Nostra Raikage Family, hari dimana akhirnya ia bebas dari rumahnya. Tapi, Hinata juga berberat hati menyebutnya rumah karena tempat itu lebih mirip tempat penjagalan. Ia merasa, tuhan telah salah menentukan keluarga untuk dirinya.

Sekalipun berhasil menumbangkan salah seorang bawahan, ia tetaplah anak lemah bagi Hiashi. Hinata selalu mendapat lebih banyak luka dari pada Neji, atau bahkan Hanabi, adiknya. Ia selalu menjadi korban pertama ketika berlatih menggunakan senjata. Ia selalu terjepit ketika berlatih dengan sistem pengepungan. Dan ia hanya dapat menumbangkan kurang dari lima orang keluarga jauh. Untuk ukuran anak tujuh tahun, hal itu sudah dapat di anggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Namun tentunya, sistem Hyuuga lain.

Sepupunya Neji, dalam duel antar keluarga, selalu berhasil menumbangkan lawannya, yang rata-rata dalam sehari mencapai 50 orang. Sedangkan Hanabi, sekalipun ia lebih muda dari hinata tiga tahun, anak itu bisa sama kuatnya dengan Neji. Hinata tak yakin kalau mereka manusia.

Cukup sudah ia mengubur hal itu dalam-dalam. Menjadikan kenangan itu sebagai kotak pandora yang tak akan di sentuhnya. Namun, kalimat pemuda disampingnya meruntuhkan segalanya.

"Aku punya hal penting untuk dibicarakan padamu, Hyuuga."

Bukan kalimat yang bagus untuk awal percakapan dalam perjalanan pulang sehabis membeli buku.

Semenjak kepindahannya ke Konoha, nama Hyuuga sama sekali belum terucap dari mulut Hinata. Dan pemuda itu mendahului. Firasat buruk Hinata kembali bekerja ekstra. Ia mencoba untuk tidak gelisah sembari menunggu penjelasan Sai selanjutnya.

"Umurmu masih tujuh tahun saat kau di culik dari tempat itu, dan semua orang menganggapmu mati, " Sai menjeda kalimatnya, membelokkan stir.

"Ya, setelah kedua penculikmu tertangkap bawahan Hiashi dan mereka tidak menemukan keberadaanmu, hal itu cukup wajar. Apalagi kau hanya seorang gadis tujuh tahun yang lemah."

Kalimat Sai kembali mengingatkannya akan kenyataan yang coba disangkal Hinata saat itu, bahwa Ayahnya bahkan tidak perduli jika ia mati.

"Tapi secara mengejutkan kau masih hidup. Dan dapat di temukan sepuluh tahun kemudian di Konoha, sebagai seorang model. Yang sekarang beralih profesi menjadi pemilik restoran kecil sebagai bisnisnya. Entah kenapa, aku merasa bahwa kau tidak seharusnya melakukan itu Hinata, maksudku menjadi model? Itu lucu sekali, walaupun aku tidak tertawa. Bukankah dengan itu kau akan lebih mudah di lacak? Atau hanya tebakanku yang salah bahwa kau tidak menyukai berada di rumah lamamu?" Sai memandang Hinata sejenak, meminta jawaban.

"Maaf Sai, tapi siapa kau sebenarnya?" Hinata memutuskan untuk bertanya dari pada harus memendam kecurigaan bahwa Sai adalah salah satu aliansi Ayahnya.

Mengenai menjadi model, semua orang tau bahwa pekerjaan seperti itulah yang mengandung arti sebenarnya dari 'semudah membalik telapak tangan'. Tanpa pekerjaan itu, Hinata mungkin sudah jadi gelandangan sekarang.

"Oh yeah, maafkan aku. Ehem, aku Sai, tentu saja. Kenalanmu yang menyapa karena kebetulan mampir di toko sahabat lamanya. "

Hinata mengernyit. Sebelum ingatan itu memasuki kepalanya. Bodoh sekali dia sampai lupa hal itu. Ya, pria di sampingnya adalah Sai! Satu-satunya sahabat yang ia punya saat di Neraka dulu.

"Astaga, " kalimat itu, tidak pantas di sebut sebagai rasa terkejut. Hinata menggigit bibir, "Sai, kau masih mengingatku. "

Sai tersenyum simpul, "bukan hal yang spesial untuk seorang Putri sepertimu. Dan diriku juga bukan orang yang spesial untuk diingat karena hanya seorang keluarga jauh, tentu saja. "

Hinata mengerti, Sai menyinggung dirinya, "aku hanya gadis tujuh tahun saat itu, ingatanku masih samar, Sai. "

"Kau selalu benar, Putri. " Sai mengatakan yang sejujurnya. Lagi pula, dirinyalah yang memang sudah berumur cukup untuk mengingat jelas hubungan mereka, sepuluh tahun.

"Jadi kau hanya ingin menyapaku? Atau berniat membawaku kembali kedalam dunia gelap? Kau, tentu saja masih bagian dari mereka bukan? " bukannya tidak mempercayai Sahabatnya, Hinata hanya hafal luar dalam mengenai sifat seorang Family. Mereka loyal sekali.

Walaupun sebenarnya Sai hanyalah mantan Hyuuga sebelum kemudian, dengan keahlian negoisasi Seorang Hyuuga Hiashi, Sai berhasil menjadi orang kepercayaan Cosa Nostra Shimura Danzo dan menjadikan Hyuuga berada di daftar aliansi Mafia terbesar itu.

Menanggapi pertanyaan Hinata, Sai terkekeh, "ya, jika kau mau kembali. Selebihnya, tujuanku menyapamu bukan karena hal sesepele itu, Putri. Kau sedang mengalami masalah serius tanpa kau sadari. "

"Dan masalahnya adalah? " Hinata juga tidak tau kenapa ia bisa sesantai itu.

"Sabaku Family menginginkanmu. Matamu, dan mayatmu. "

Hinata tercekat. Sudah lama ia tidak mendengar hal-hal berbau menyeramkan seperti yang Sai bicarakan. Dunianya sekarang bersih, dan Sabaku Family? Ada apa dengan mereka? Hinata tidak mengerti. Bahkan jika apa yang mereka inginkan adalah mayatnya, bukankah hal itu hanya sebuah kesia-siaan, karena Hiashi juga tak akan membayar kepala Hinata yang seenaknya keluar dari Family. Dan tentu saja tanpa di penggal kepalanya pun, Hinata tak akan membeberkan apa-apa, Hiashi yakin akan hal itu.

Melihat ekspresi kebingungan Hinata, Sai berinisiatif melanjutkan penjelasannya. "Sabaku, kalau kau lupa, mereka selalu berselisih dengan Hyuuga. Wilayah mereka berdampingan namun tak ada kata menjalankan bisnis secara berdampingan. Hyuuga dengan negoisasi eksekusinya sementara Sabaku dengan eksekusi negoisasinya. Dan peranmu disini adalah, sebagai kunci dari kedua kubu itu untuk mencetuskan perang. Kau mungkin belum tau tentang mata seorang Hyuuga." Sembari menjelaskan, Sai tetap fokus mengemudi. Sementara Hinata sibuk dengan pikirannya.

Apa yang dikatakan Sai memang benar, Hinata tak tau menau masalah mata Hyuuga. Ia bahkan merasa, penjelasan sai mulai masuk ranah fantasi. Tapi, jika hal itu memang benar, sepertinya Hinata masih sangat muda ketika memutuskan untuk pergi. Tentunya, kepergian Hinata atas dasar kesempatan, keinginan, dan keberanian.

Namun, ia tak menyesalinya. Yang ia butuh hanya cara aman untuk menghadapi masalah yang masih rumit itu.

"Ada apa dengan mata Hyuuga? " Hinata menoleh pada Sai yang sibuk memperhatikan jalan.

"Aku tidak terlalu mengerti karena aku hanya seorang keluarga jauh, itupun dalam waktu yang singkat. Yang kutau hanya bahwa leluhurmu, punya obsesi pada ritual aneh yang meninggikan mata mereka. Hanya karena itu berbeda dengan kebanyakan orang. Tentu saja hal itu sampai pada Hiashi. Dan apapun yang terjadi, anggota keluarga harus melindungi mata mereka, bahkan saat mati. Kau seharusnya mengamati bahwa setiap anggota keluarga cabang dan utama mati, mereka menusuk matanya. "

Hinata tau dan sangat mengerti bagian menusuk mata jika meninggal. Hinata pikir, hanya keluarganyalah yang memiliki tradisi aneh semacam itu. Mata hanyalah mata, tidak ada yang spesial darinya.

"Terimakasih penjelasanmu, Sai. Aku mendapatkan poinnya. "

"Bukan masalah besar. " Sai tersenyum.

.

.

.

Hinata menutup novel yang dibacanya, memposisikan bantal dengan nyaman kemudian berguling, memikirkan ucapan Sai tadi siang.

Sabaku. Keluarga bar-bar dan terkenal minim bernegoisasi.

Hinata gelisah, apa ia harus meminta bantuan Sai dan berlindung di balik keluarga Shimura? Tidak, tidak. Hal itu hanya memperkeruh keadaan karena berdasarkan cerita Sai, Shimura bukanlah keluarga yang sesuci itu untuk melindungi seorang gadis dari incaran Sabaku Family yang terkenal dengan senjata biologisnya.

Lagi pula, bertemu dengan Danzo sama buruknya dengan Sabaku. Kakek tua itu tidak mungkin tidak menyerahkannya pada Hyuuga. Atau bagian terburuknya, matanya juga akan diambil. Bukan karena gelar Hyuuga, melainkan memang, mata sebelah seorang Danzo Shimura telah hilang, akibat kecerobohannya meremehkan musuh di masa lalu.

Sepertinya, usulan Sai adalah satu-satunya jalan keluar. Ia harus segera pergi ke luar negri, sebelum Sabaku melakukan pergerakan. Beruntunglah, ia punya tabungan yang cukup untuk menetap di luar negri sementara waktu.

Drrt drrt ... drrt drrtt ...

Sebuah pesan masuk.

Hinata menggapai ponselnya di nakas putih. Membuka pola slide, untuk kemudian menjumpai nomor tidak di kenal.

'Sedang memikirkan sesuatu, nona?'

Badannya menegang. Apakah ia benar-benar sendirian di rumah? Ataukan seseorang memasang kamera pengintai di kamarnya?

Drrrt drrrt ... Drrtt drrttt ...

'Di luar jendela'

Hinata menoleh-

Dor

Dan apa yang ia dapati kemudian adalah rasa nyeri di bahunya.

.

.

Owari