A/N: Halo, Author tidak bertanggung jawab telah kembali. Maaf karena lama untuk mengupdate perihal saya menulis membutuhkan kepala yang jernih sehingga bisa menemukan kata-kata yang bagus.
Baiklah tanpa banyak cincong silakan dibaca
Disclaimer:Masashi Kishimoto & Hiro Mashima
Fuu, Choumei and Fairy tail
Tiga tahun sudah berlalu sejak mereka tiba di Earthland. Mereka banyak hal-hal baru dan aneh kalau dibandingkan dengan dunia mereka sendiri. Mulai dari listrik yang tidak menggunakan minyak melainkan semacam Kristal bernama Lacrima, binatang yang bisa bicara—terutama yang bisa mesum terhadap perempuan—, kendaraan yang bergerak menggunakan energy sihir dalam tubuh, dan masih banyak lagi hal-hal unik yang mereka lihat.
Di balik segala keanehan dan keunikan dunia ini, ternyata orang-orang masih menggunakan uang kertas untuk bertransaksi. Mata uang itu adalah Jewel. Jika dibandingkan dengan Ryo, mata uang saat mereka di dunia Shinobi, nilai mata uang Jewel lebih rendah ketimbang Ryo. Bayangkan saja, mereka bertiga kerja sambilan sebagai tukang kayu atau sebagai kuli bangunan hanya di bayar antara 150 hingga 200 Jewel. Sedangkan membeli barang untuk keperluan sehari-hari bisa lebih itu. Jadilah mereka sebagai bocah-bocah terlantar yang mengarungi kerasnya kehidupan di Earthland. Sangat menyedihkan jika mengingat title mereka sebagai Shinobi.
Di hulu sungai di sebuah padang rumput yang entah dimana. Naruto sedang termenung meratapi nasibnya. Dia kini sedang duduk di sebuah batu besar yang menghadap kearah sungai. Ia melihat cerminan dirinya sendiri di aliran sungai tersebut. Sekarang Naruto tidak terlihat seperti tiga tahun yang lalu atau ketika dia masih di dunia Shinobi.
Rambutnya yang sudah panjang dibiarkan berantakan tanpa di cukur. Jika dilihat, Naruto sekarang mirip seperti ayahnya yaitu Namikaze Minato mengingat jambang Naruto kini sudah melebihi dagunya, persis seperti Minato—minus matanya karena dia memakai penutup mata berwarna hitam di mata kanannya. Dia kini memakai jaket berwarna biru dengan dalaman kaos berwarna oranye, di ikuti dengan celana berwarna hitam dan sepatu Sneakers berwarna biru.
"Oi Naruto! Makanan sudah siap!" teriak Gaara dari kejauhan, Naruto menghela nafasnya sambil turun dari batu itu.
Dia mulai berjalan menuju tempat kedua sahabatnya yang tidak jauh dari situ. Udara segar berhembus pelan membuat jaketnya berkibar. Rumput-rumput ikut bergoyang mengikuti arah angin bertiup. Beberapa rumput terlepas dari tempatnya berasal, terbang membentuk spiral menuju langit yang disinari oleh sinar Matahari dengan beberapa awan yang mengambang disana. Di aliran sungai itu, terdengar suara gemericik air yang mengalir, membuat perasaan siapapun yang mendengar suara itu menjadi tenang dan damai.
Saat Naruto sampai, dia disambut dengan harum ikan bakar yang di panggang dengan bubuk cabai sehingga aroma yang tercium membuatnya bersin. Disana, Naruto melihat kedua sahabatnya yang sedang duduk tepat di depan api unggun dengan ikan-ikan yang berjumlah enam ekor. Ikan-ikan itu di tusuk dengan batang ranting berbentuk lurus seperti tongkat. Sasuke yang penampilannya masih seperti dulu—hanya saja dia sekarang memakai Jeans biru dan sepatu Sneakers biru tua—, sekarang tengah menyodok kayu yang sedang dibakar menjadi api unggun dengan menggunakan ranting pohon. Gaara juga tidak banyak perubahan, yang berubah hanya tinggi badannya dan pakaiannya yaitu sebuah jaket bertudung berwarna abu-abu dengan celana panjang berwarna marun dan sepatu tanpa tali berwarna abu-abu. Sama seperti Sasuke, Gaara juga menyodok bara api itu agar apinya tetap terjaga. Hanya saja, terkadang dia mengolesi mentega pada ikan-ikan yang sedang di bakar dengan posisi tongkat menancap di tanah dan ikan diberdirikan mendekati api.
Naruto perlahan berjalan mendekati mereka lalu duduk disebelah Sasuke. Dia menghela nafasnya sambil memandang ikan-ikan yang tengah dibakar itu dengan tatapan bosan. Sebenarnya Naruto tidak masalah untuk makan ikan, hanya saja selama tiga tahun ini makanan yang dia konsumsi hanya ikan, ikan dan ikan lagi. Hal ini membuat Naruto bosan dengan makhluk bernama ikan walau dimasak oleh Gaara yang ternyata jago memasak dengan beragam variasi seperti Sup ikan, Sushi Ikan, ataupun variasi lainnya. Tapi, tetap saja ujung-ujungnya ikan!
Naruto sendiri kadang menyesal mempercayakan uang hasil jerih payahnya kepada Gaara yang notabene sudah Pelit, Medit, Irit pula. Karena hal ini, dia tidak bebas membeli makanan kesukaannya yaitu Ramen. Padahal dia ingat di Lupinus Town ada restoran yang menyediakan Ramen. Naruto menghela nafasnya lagi.
Tanpa Naruto sadari, Gaara yang sedari tadi sibuk mengatur ikan-ikan bakar itu juga memperhatikan ekspresi muka Naruto. "Kau kenapa Naruto?" tanya Gaara.
"Ah, tidak apa-apa kok, hahaha!" jawab Naruto di ikuti dengan tawa hambarnya.
"Perasaan kau selama 17 tahun makan Ramen setiap hari tidak bosan pada makanan itu, kenapa makan hanya makan ikan saja kau bosan?" Naruto tiba-tiba terdiam, dia memandang Gaara dengan tatapan menyelidik. "Lagi pula, aku mengatur keuangan kita agar kalian tidak boros, mengingat kita tidak punya banyak uang."
'ini orang penyihir ya? kok dia bisa membaca pikiranku?' ucap Naruto dalam hati.
"Sudahlah dobe, terima saja dan jangan banyak mengeluh." ujar Sasuke yang kini sudah mengambil Ikan bakarnya. Sebelum dia memakannya, Sasuke mengambil saus tomat saset dari kantung ninjanya lalu mengolesi ikan itu secara horizontal dan memakannya.
Naruto tahu betul apa yang dikatakan Sasuke benar, tapi dia juga yakin seandainya tidak ada saus atau bumbu-bumbu lain yang berhubungan dengan Tomat pasti Sasuke tidak akan berkata demikian. Yah, Sasuke memang mempunyai filosofi yang menurut Naruto konyol yaitu, "Makan apapun akan aku makan asal ada Tomat." Naruto jadi ingin mencoba memberi Sasuke Tomat yang sudah diolesi kotoran kuda. Apa dia tetap akan memakannya ya? hehe.
Naruto mengambil ikan yang berada di depannya. Aroma daging matang yang bercampur dengan asap dan bubuk cabai yang matang membuat siapapun pasti tergoda untuk memakannya, tapi tidak untuk Naruto. Dia tidak selera untuk memakannya, tapi rasa lapar mewajibkannya untuk memakan apa yang sudah disajikan di depannya. Dengan malas, dia mulai menggigit ikan itu dari bagian bawah. Rasa daging ikan asap bercampur rasa pedas gurih memenuhi mulutnya. Kalau saja ada pecinta daging sejati, mungkin akan menganggap ini salah satu makanan terenak di dunia. Tapi sekali lagi, Naruto tidak terlalu menyukainya, dia malah menganggap rasanya biasa-biasa saja dan cenderung hambar.
Naruto memakan Ikannya dengan cepat. Hanya butuh satu menit baginya untuk menghabiskan ikannya lalu membuang tongkat kayunya kedalam bara api yang menyala. Gaara tampak khawatir dengan tingkah Naruto, dia mencoba menawarkan Naruto untuk menambah makanannya tapi dibalas dengan gelengan kepala oleh Naruto. Gaara mencoba meminta bantuan kepada Sasuke tapi si Rambut Raven itu hanya mengangkat bahunya sambil terus melanjutkan acara makannya.
Dengan bosan, Naruto mengambil sesuatu dari kantung peralatannya yang ditaruh dibelakang pinggulnya. Di tangannya, sebuah Kunai dengan mata pisau bercabang tiga dengan bilah yang bergerigi. Gagangnya terbuat dari kayu yang membuat Kunai itu sedikit berat ketimbang Kunai biasa. di gagang itu pula tulisan Kanji '黄色い閃光'—Kiiroi senkō(Kilat Kuning).
Hiraishin no Jutsu. Sudah hampir satu setengah tahun dia mempelajarinya namun tidak ada perkembangan yang signifikan. Yang dia bisa lakukan sampai saat ini hanya menambah kecepatannya untuk membuat segel spesial sebagai syarat batasan untuk mengaktifkan jurus ini. Naruto jadi teringat bagaimana asal mula dia mempelajari jurus ini.
-Flashback-
"Hiraishin no Jutsu?" tanya Kurama yang sedang tiduran dengan santainya sambil menatap Naruto.
Naruto mengangguk. "Aku yakin kau tahu bagaimana menggunakan jurus itu karena kau sudah pernah melihat dan menggunakannya." ujar Naruto.
Kyuubi menaikan alisnya, sedikit bingung dengan pernyataan Naruto barusan. "Aku memang pernah melihat dan merasakan sensasi menggunakan jurus itu. Tapi, bukan berarti aku tahu bagaimana cara menggunakannya."
"Tapi kau pernah mendengar metode penggunaannya, kan? Ayolah, kau ini kan Kurama si Kyuubi no Kitsune yang terkenal akan kepintarannya." ucap Naruto dengan nada sok merayu. Berharap agar Kurama mau membagi sedikit pengetahuannya.
"Jangan coba merayu Naruto, aku ini tidak mempan terhadap rayuan."
"Tolonglah! Aku mohon beritahu aku!" pinta Naruto dengan berlutut di depan Rubah berekor Sembilan tersebut.
Kurama hanya menghela nafas pasrah dan menyuruh Naruto mengangkat kepalanya. "Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu padamu." Naruto mengangguk setuju dengan memberikan Thumb Up. "Dengar, jurus Hiraishin dapat klasifikasi level S dan masuk dalam jurus terlarang, apa kau tahu kenapa?"
Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak. Memangnya kenapa?"
"Karena dalam percobaannya, penggunaan jurus ini dapat menyebabkan kematian." Naruto mematung, dia menatap Kurama dengan pandangan tidak percaya, namun Kurama tidak mengacuhkan pandangan tersebut dan melanjutkan ceritanya. "Jurus ini, mirip dengan Shunshin no Jutsu tapi dengan kecepatan sepuluh kali lipat dari Shunshin biasanya dan menggunakan chakra yang sedikit namun dengan takaran yang tepat."
"Jika Shunshin mengandalkan kecepatanmu sebagai medium pemindah maka Hiraishin menggunakan sebuah segel yang disebut Jutsu-Shiki—Teknik formula," ujar Kurama, "Konsepnya mirip seperti Kuchiyose namun kau yang berpindah-pindah ketempat yang sudah kau tandai Jutsu-Shiki. Sisanya, kau cari sendiri bagaimana cara menggunakannya. "
Naruto mengangguk-anggukan kepalanya. "Lalu, apa yang menyebabkan penggunanya mengalami kematian?" tanya Naruto penasaran.
Kurama memberikan tatapan tajam pada Naruto. "Itu—"
-Flashback End-
Frustasi dengan efek samping dari Hiraishin no jutsu, Naruto melempar kunainya kedekat api unggun dan menancap di tanah tepat sebelum mengenai tumpukan kayu yang sedang terbakar. Kedua temannya melihat itu.
"Kenapa lagi kau? karena Hiraishin lagi?" tanya Sasuke sambil menggigit daging ikan.
Naruto tidak menjawab, dia berdiri lalu mengambil Kunainya dan meninggalkan teman-temannya menuju batu besar yang tadi menjadi tempatnya termangun. Dengan sekali lompatan dia telah mencapai batu itu dan duduk disana dengan menatap padang hijau diseberang sungai itu. Dikejauhan, terlihat burung-burung berterbangan seperti mengitari sesuatu yang Naruto tidak tahu.
Gaara menatap Naruto dengan prihatin, tapi Sasuke menyuruhnya agar tidak terlalu mengkhawatirkannya. "Toh hanya masalah jurus, nanti juga baikan kok."
"Permisi." terdengar sebuah suara yang mengalihkan perhatian kedua pasang remaja laki-laki itu dari temannya yang berkepala kuning menuju seorang gadis cilik berambut biru yang kini berdiri dibelakang Sasuke.
"Ano..bolehkah aku meminta ikan itu?" tanya gadis itu menunjuk ikan-ikan yang sedang dibakar di api unggun.
"Ambil saja, tidak apa-apa." kata keduanya dengan nada mononton sehingga terdengar seperti tidak ikhlas.
Gadis itu mengerjap-ngerjap matanya. Dia hanya berdiri disitu dan menaruh jari telunjuk di mulutnya. Kepalanya tertunduk.
Sasuke mengerutkan dahinya melihat tingkah anak gadis didepannya. "Ada apa?" tanya Sasuke. "Bukannya kau mau ikan itu? ambil lah." Sasuke mengambil satu tangkai kayu yang diatasnya terdapat ikan dan menyerahkannya pada gadis tersebut.
Gadis itu menerimanya dengan malu-malu tapi tetap tidak beranjak pergi dari tempatnya berdiri atau memakan ikan itu.
Sasuke memiringkan kepalanya. "Apa lagi? Bukannya aku sudah mengambilkannya untukmu?"
"Um..ano..boleh aku minta satu lagi?"
Sasuke maupun Gaara melebarkan matanya lalu menatap satu sama lain. Mereka melihat jumlah ikan yang tersisa. Cuman dua, yang diberikan kepada gadis kecil tadi adalah jatah Naruto yang tidak ingin dia makan. Berarti sisa ikan yang masih dibakar adalah milik..
Sasuke dan Gaara berdiri, tatapan mereka bertemu. Sebuah aliran listrik kecil tak kasat mata bertemu diantara mereka berdua. Mereka berdua menyiapkan kuda-kudanya layaknya gaya Goku membuat Kamekameha. Tangan kanan mereka terkepal dan ditutupi oleh tangan kiri. Dengan sekali hentakan. Mereka langsung melancarkan aksinya.
"JAN-KEN-PO!" teriak mereka berdua, lalu melihat hasil dari taruhan maut mereka.
Sasuke batu dan Gaara gunting. Yup, Sasuke yang menang atas pertarungan kecil-kecilan ini dan Gaara merutuki kesalahannya. Tanpa sepengetahuan sang pemilik, Sasuke mengambil ikan yang berada di depan Gaara dan menyerahkan ikan itu pada gadis kecil tersebut.
"ARG! Apa yang kau lakukan!?" jerit Gaara yang menyadari apa yang Sasuke lakukan.
"Aku yang menang, wajar saja aku menyerahkan bagianmu padanya."
"Ugh!" Gaara langsung duduk di tepi sungai dengan memeluk kedua kakinya dan aura hitam mulai muncul disekitar kepalanya.
Sasuke mendengus tidak peduli. Dia mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil itu. "Nah, kau sudah mendapat apa yang kau inginkan. Sudah sana pergi."
"Um.. terima kasih atas ikannya." kata sang gadis sambil membungkuk lalu pergi dari situ.
Sasuke menghela nafasnya panjang lalu dia hendak berbalik untuk mengambil sisa ikan miliknya. Namun, ketika dia berbalik, dia menyadari kalau ikan miliknya sudah menghilang dari tempat yang seharusnya. Dia menengok ke kiri dan ke kanan dan menemukan sosok Gaara tengah sibuk mengigit dan menelannya dengan sangat cepat. Sepertinya dia tidak mengunyahnya lebih dahulu.
'Si kepala merah itu!' jerit Sasuke dalam hati. Dia langsung berlari dan menendang bokong pelaku pencuri jatah makannya.
Gaara tersedak dan langsung memukul-mukul punggungnya dengan pasir yang dibuat seperti tangan. "Ap-apa ya-*uhuk*yang kau lakukan!"
"AKU YANG HARUSNYA BERKATA SEPERTI ITU!" teriak Sasuke hendak menendang Gaara namun ditahan oleh sebuah pasir berbentuk tangan.
Dengan tampang polos dibuat-buat Gaara menatap Sasuke, kilat putih tampak di bola matanya laksana membuat gerakan memohon. "Tolonglah, ikhlaskan satu ikan saja untuk anak malang yang lapar ini." ucap Gaara dengan gaya melankolis.
Jikalau itu wanita, mungkin mereka akan mengikhlaskannya makannya ketika melihat wajah tidak bersalah imut Gaara—apalagi kalau itu adalah fansnya di Suna. Hanya saja, yang dihadapinya bukan wanita, melainkan seorang Uchiha Sasuke yang berarti dia adalah seorang batangan.
Dengan tidak peduli dia menginjak wajah Gaara dan menggesek-gesekan telapak sepatunya disana.
"KAU PIKIR KAU SAJA YANG LAPAR, HAH!? kata Sasuke tanpa menunjukan belas kasihan. "DAN JANGAN PERNAH MEMPERLIHATKAN WAJAH SEPERTI ITU DIDEPANKU! MENJIJIKAN!"
Naruto yang merasa terganggu karena teriakan Sasuke langsung turun dari batu dan berjalan menuju kedua temannya yang sedang berkelahi saat itu.
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Naruto dengan meyipitkan matanya. Entah kenapa akhir-akhir ini kedua temannya sudah berubah, tidak setenang dan sekeren dulu. Apa mungkin mereka ketularan sifat Naruto? Entahlah. Hanya tuhan yang tahu.
Tanpa ada niat melerai, Naruto mencari gadis kecil tadi. Bukan, bukan karena dia menyukai gadis tersebut atau apa. Hanya penasaran saja. Wajarkan kalau seseorang bertemu dengan orang asing pasti ada rasa ingin tahu lebih dalam terhadap orang asing itu. Tapi, kalau dikasus ini, jika sampai salah persepsi bisa-bisa Naruto disangka Pedofil.
Dikejauhan, Naruto melihat gadis kecil berambut biru itu. tapi dia tidak sendirian. di sebelahnya seorang anak laki-laki dengan tinggi yang sama seperti dirinya berambut biru dan membawa tongkat di punggungnya. Entah kenapa, Naruto merasa familiar dengan anak laki-laki itu. Karena itu, dia mengejar mereka berdua.
"Oi! Yang ada disana!" teriak Naruto memanggil kedua orang itu.
Kedua orang itu berbalik. Naruto terbalak ketika melihat siapa yang anak laki-laki itu. Rambut biru itu, tato di mata kanannya itu? Naruto langsung mengambil kunai Spesialnya dari dalam kantung ninjanya dan melompat menebas anak lelaki itu.
Hanya saja, anak lelaki itu cukup tangkas dan menahan kunai Naruto dengan tongkatnya lalu mendorong mundur Naruto. Naruto berputar kebelakang di udara lalu mendarat dengan sempurna ditanah.
"Ke-kenapa kau menyerangku!?" teriak anak lelaki itu.
"Kenapa kau disini?" Naruto mulai berlari melanjutkan serangannya, "JELLAL FERNANDES!"
Mata anak laki-laki yang disebut Jellal terbuka lebar. Ketika ia membuat gerakan mengayun tongkatnya hendak membuat sihir, gadis kecil itu melompat kedepannya dan membuat lingkaran sihir di mulutnya.
"Tenryu no Hoko(Sky Dragon Roar!)" mendadak angin bertekanan tinggi, berputar menyerang Naruto. Tapi, dengan kesigapannya Naruto membuat segel dan meletakan tangannya di depan mulutnya.
"Fuuton: Fuuryu no Hoko(Wind Release: Wind Dragon Roar)."
Angin bertekanan tinggi dan berputar keluar dari mulut Naruto dan menabrak angin yang dikeluarkan gadis itu. Sebuah ledakan muncul dari tempat kedua angin itu bertubrukan. Naruto dan gadis itu sama-sama terpental akan tetapi Naruto menabrak tanah dengan keras dan gadis itu ditahan oleh anak lelaki yang disangka Jellal.
Naruto mulai bangun dari tempat jatuhnya tadi dan siap menyerang kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang melanda tubuhnya. Saat ia mulai bergerak, mendadak sesuatu menahan tangan dan kaki kanannya. Ketika dia melihat apa yang menahannya dia langsung merutuki Gaara karena pasirnya menahannya untuk menyerang Jellal.
"Apa yang kau lakukan Naruto?" ucap Gaara yang kini sudah berdiri dibelakangnya bersama Sasuke. "Kenapa kau menyerang orang sembarangan seperti itu?"
"Bukan urusan kalian!" pasir Gaara langsung mengencang membuat Naruto sedikit kesakitan.
"Itu bukan jawaban yang kami inginkan darimu." kata Sasuke sambil menjitak kepala Naruto.
Naruto tidak menjawab dan tetap menatap Jellal yang sedang memeluk gadis kecil tadi. Kenapa dia ada disini dan mau apa dia? Apa dia ingin memperalat gadis itu seperti dia memperalat Erza? tidak, dia tidak bisa membiarkannya. Naruto melepas kunainya, membiarkannya jatuh ke tanah. Namun, sesaat dia melepas kunai itu, Naruto membuat segel dengan satu tangannya.
"Fuuton: Reppusho!(Wind Release: Gale Palm!)" kunai yang baru saja jatuh langsung terbang menuju Jellal dengan keadaan berputar.
Anak laki-laki yang disangka Jellal itu menyadari kedatangan Kunai Naruto dan menepis Kunai itu menggunakan pedangnya sehingga kunai itu menancap di tanah di depan anak laki-laki itu. Naruto tersenyum. Itulah yang diincar Naruto. Dengan satu gerakan Naruto menghilang dari hadapan kedua temannya menjadi cahaya kuning keemasan dan muncul tepat depan anak laki-laki itu. Ia terkejut dengan kehadiran Naruto yang mendadak tapi Naruto tidak peduli. Naruto langsung menarik kunainya.
CRAAASSS!
Sebuah cairan kental bagai madu namun berwarna merah pekat terbang di udara. Membiarkan benda itu mengenai anak laki-laki berambut biru. Ia melotot melihat benda yang ia tahu sebagai darah mendarat begitu saja di wajahnya. Namun, darah itu bukanlah miliknya melainkan darah milik seorang pemuda berambut Kuning yang berada dihadapannya. Ya, darah itu milik Naruto dan keluar dari mulutnya begitu saja.
Naruto terjatuh ke tanah tanpa sempat memberikan luka pada anak itu. Darah terus keluar dari mulut dan hidungnya tanpa berhenti. Perlahan namun pasti, kesadarannya mulai menghilang. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya bergetar kuat akibat rasa sakit yang menyebar keseluruh tubuhnya. 'Sial, aku tidak boleh mati disini! Tidak boleh!'. Dia mencoba mengambil kunai spesial yang berada di depan wajahnya. Ketika dia berhasil memegang kunainya mendadak semua menjadi gelap.
.
.
.
"DASAR BODOH! APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN!" teriak Kurama dengan suara menggelegar bagai halilintar disertai angin topan yang besar. "AKU SUDAH BILANG BERKALI-KALI, BELUM SAATNYA KAU MENGGUNAKAN JURUS ITU!"
"Berisik! Tumben sekali kau peduli padaku!" jawab Naruto ketus dengan posisi memunggungi Kurama
"TENTU SAJA AKU PEDULI PADAMU DASAR BODOH!" Kurama menepuk dahinya diikuti dengan gelengan kepalanya, mengekspresikan rasa pusingnya pada orang yang menjadi Host-nya. "Aku tidak mengerti. Umurmu sudah 21 tahun lebih, tapi kelakuanmu sama saja seperti anak-anak."
"Hey! Kau tidak tahu siapa dia bukan? Lebih baik kau diam saja!" ujar Naruto, tidak terima atas perkataan Kurama, "Lagi pula, walau aku sudah hidup 21 tahun tapi tubuhku masih 14 tahun!"
'Bukannya kalau begitu kamu bisa bersikap lebih dewasa?' pikir Kurama. "Aku tahu siapa dia Naruto, aku melihatnya ketika ada di Tower of Heaven"
"Tapi bukan berarti kau bergerak tanpa perhitungan! Hiraishin no Jutsu sangat berbahaya untuk pemula bila dilakukan tanpa ada ninja medis disampingnya, karena pergesekan antar dimensi dalam waktu relatif singkat akan merusak struktur tubuhmu. Minato sendiri pertama kali menggunakan jurus ini ketika ada Tsunade disebelahnya, dan kau tahu? dia harus masuk rumah sakit selama tiga bulan dan rawat jalan selama lima bulan."
"Aku sudah pernah dengar ceritamu," ucap Naruto tanpa melihat kearah Kurama, "Lagi pula, kemampuanmu untuk menyembuhkan juga setara dengan nenek Tsunade, bukan?"
"Walau begitu, dalam tiga hari pertama kau tidak akan bisa bergerak, dan kalau kau bergerak di sengaja atau tidak pasti akan sakit sekali." Naruto terdiam, dia tidak kepikiran efeknya separah itu. "Tapi untunglah, gadis kecil itu punya jurus penyembuhan mirip seperti Ninjutsu medis. Jadi, hal yang aku katakan barusan tidak terjadi."
"He? dia punya jurus semacam itu?"
"Dari pada kau bertanya seperti itu terus, lebih baik kau lihat sendiri sana!" teriak Kurama sambil menyentil Naruto pada punggungnya dengan kekuatan penuh.
"UAAAA!"
Mendadak, pemandangan Naruto berubah seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya dia berada di sebuah tempat dengan langit berwarna putih menjadi tempat yang gelap yang dia tidak tahu dimana. Lensa matanya belum bekerja dengan sempurna membuat cahaya yang masuk kedalam matanya menjadi pecah dan kabur. Sejenak dia mengerjap-ngerjap matanya untuk membetulkan Indra penglihatannya itu. Saat matanya sudah mulai menangkap cahaya dengan betul, dia baru menyadari jika ia berada di dalam tenda entah milik siapa dan sepertinya sekarang sudah malam hari.
Naruto mencoba bangun namun rasa sakit mendadak menjalar keseluruh tubuhnya. Hanya saja dia paksakan kondisinya yang dari posisi tidur menjadi posisi duduk. Dia mencoba menganalisa keadaan di dalam sana. Saat ia menengokan kepala ke kiri, dia menemukan gadis kecil itu. Meringkuk ketakutan di sudut tenda tersebut.
Naruto melihat itu dan tersenyum, "Tidak apa-apa, aku tidak mengigit kok." dia menjulurkan tangannya, hendak member rasa kepercayaan pada anak itu.
Hanya saja, gadis itu tidak meraih tangannya dan berusaha menjauh dengan bergerak mundur menuju dinding tenda itu. Akibatnya, tenda itu menjadi tidak stabil dan hendak rubuh. Untunglah saat itu Gaara masuk untuk mengecek keadaan.
"Ah, kau sudah bangun Naruto. Syukurlah." kata Gaara sembari berjalan menuju Naruto.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Naruto yang sebenarnya sudah tau jawabannya.
"Kau terluka setelah menggunakan Hiraishin," Gaara menepuk pelan pundak Naruto, "Aku tidak menduga kalau efek sampingnya separah itu. Tapi, untunglah ada Wendy disini. Dia melakukan pertolongan pertama untukmu."
"Begitu," Naruto melihat gadis berambut biru itu lalu tersenyum kembali, "Terima kasih ya sudah merawatku, aku tidak tau apa yang terjadi padaku jika kamu tidak ada."
"Um.." jawab Wendy diikuti dengan anggukan.
Mendadak, tirai tenda terbuka yang disana seorang pemuda berambut Raven berdiri dengan tangan terlipat di dada.
Dia menatap Naruto dengan tajam. "Sudah sadar kau rupanya, dobe?" tanya Sasuke tanpa memperdulikan jawaban dari Naruto. "Kau ini gila atau apa? Mendadak menyerang orang tanpa alasan seperti itu, apa yang kau pikirkan sih?"
"Ah, maaf. Sebenarnya—" mendadak Naruto terdiam. Tepat dibelakang Sasuke, sosok anak laki-laki berambut biru dengan mata kanan yang memiliki tattoo secara vertikal masuk. Naruto memberikan tatapan membunuh kepada anak itu, "Apa yang kau lakukan disini, Jellal Fernandes!?"
"Fernandes?" tanya anak itu yang sepertinya bingung akan pertanyaan Naruto, "Nama belakangku bukan Fernandes."
"Apa?" mata Naruto terbalak. "Bagaimana mungkin! Aku tahu mukamu dan tidak mungkin salah!"
"Woo,woo, tunggu dulu Naruto! Apa kau benar pernah bertemu dengan orang ini? Kalau pernah kapan kau bertemu dengannya?" tanya Sasuke dengan tatapan mengintrogasi.
"Aku bertemu dengannya ketika di Tower of Heaven!" jawab Naruto dengan terus menatap Jellal, "Aku yang memberinya luka dipunggungnya dengan Rasengan!"
Jellal bergerak maju dan itu membuat tubuh Naruto tegang, mempersiapkan posisi untuk kondisi terburuk kalau Jellal menyerang. Mendadak Jellal membuka bajunya dan memperlihatkan punggungnya yang tanpa luka. Naruto terbalak melihat itu, tidak percaya atas apa yang dia lihat.
"Kau..bagaimana..!"
"Sepertinya dia orang yang berbeda dengan yang pernah kau temui, Naruto." Naruto mengalihkan perhatiannya dari Jellal menuju Gaara yang duduk disampingnya. "Sepertinya kau salah orang."
"EH?"
"Namaku Jellal Faust, dan aku berasal dari Edolas." kata Jellal dengan menundukan sedikit tubuhnya. "Senang berkenalan denganmu, Naruto-san."
"EEEHHH!?"
.
.
.
Sudah dua minggu sejak pertemuan Naruto, Sasuke, dan Gaara dengan Jellal, dan Wendy. Selama dua minggu tersebut Naruto selalu saja meminta maaf kepada Jellal dan dijawab dengan ramah oleh Jellal sendiri. Wendy juga selalu merawat Naruto hingga kondisi sudah pulih sepenuhnya. Terima kasih pada Kurama yang mempercepat penyembuhannya.
Mereka kini berkelana bersama menuju desa Ezio, yang kalau dilihat dari peta. Posisi mereka dekat dengan kota tersebut. Sejujurnya tidak ada tujuan khusus kenapa mereka kesana, hanya saja melihat persediaan makanan maupun pengobatan sudah berkurang banyak, mereka harus segera mengisinya kembali.
Jellal dan Wendy juga tidak keberatan toh mereka juga tidak tahu mau kemana. Dengan demikian mereka dengan serempak mereka berjalan menuju desa tersebut. Butuh waktu sejam dari posisi mereka menuju desa itu, mengingat mereka berada di lembah dekat aliran sungai dan desa itu ada di kaki gunung yang tidak jauh dari situ.
"Wah!" pekik Wendy terpukau ketika mereka tengah melewati lembah itu. Di matanya, terdapat perkebuan buah-buahan yang hijau dan asri. Beberapa kebun juga terlihat tanamannya sudah berbuah. Beberapa yang Naruto tahu adanya buah Strawberry dan Blueberry, terlihat kentara sekali dari bentuk dan warnanya.
Mereka berjalan diantara perkebunan itu dan mereka juga sempat bertemu dengan penduduk setempat atau pemilik kebun tersebut. Beberapa diantara mereka ada yang tersenyum memberi salam dan beberapa diantanya juga sempat bertanya kenapa mereka tidak bersama orang tua mereka masing-masing. Dengan jawaban serempak, mereka semua—kecuali Jellal— menjawab kalau orang tua mereka telah meninggal. Orang-orang yang merasa kasihan kepada mereka memberikan sedikit uang untuk bekal perjalanan. Jujur saja, mereka tidak berharap apa-apa tapi kalau dapat uang gratis kenapa tidak?
Tidak lama, mereka sampai di desa tersebut. Mereka disambut dengan patung berbentung elang yang terbuat dari perunggu bertuliskan 'Selamat datang di desa Ezio'.
"Ramai sekali ya?" celetuk Wendy melihat keadaan desa itu.
Memang, kondisi desa itu tidak sesuai dengan ekspetasi mereka. Awalnya mereka pikir desa ini hanya seperti desa biasa, sepi dan tentram. Tapi, kenyataannya tempat ini sangat ramai. Bangunan-bangunannya tidak seperti desa yang pernah mereka kunjungi. Desa ini banyak sekali bangunan yang bertingkat, berbeda sekali dengan desa biasa yang bangunan-bangunannya tidak ada tingkatannya sama sekali.
Tanpa menunggu, Gaara langsung bergerak mencari pedagang penjual makanan, karena menurutnya makan ada dalam urutan paling atas ketimbang barang yang lainnya. Naruto dan yang lain langsung mengikutinya. Tepat ketika Gaara menemukan toko roti, Gaara langsung masuk begitu saja. Disaat Jellal dan Wendy ingin masuk ke toko Roti tersebut, tangan Sasuke maupun Naruto segera menahan mereka tepat dipundak.
"Lebih baik kita tidak masuk dan pura-pura tidak kenal." kata Naruto dan Sasuke secara bersamaan yang dibarengi dengan rasa bingung oleh dua anak muda berambut biru itu.
"Apa maksudmu!?" terdengar teriakan dari dalam toko tersebut. "Harganya memang sudah segini! tidak bisa aku turunkan lagi!"
"Ayolah, berikan diskon untuk anak malang ini." kata Gaara dengan suara parau namun dapat di dengar keluar jendela.
"Kalau aku memberimu diskon, bisa rugi daganganku!" jerit sang pemilik toko
"Rugi apanya? Setiap harinya anda pasti untung, sekali-sekali berilah keringanan untuk kami makan."
Terjadi keributan panjang di dalam toko roti tersebut. Memang, kalau soal tawar menawar, Gaara bisa dibilang sadis, atau dengan kata lain 'tidak tahu malu'. Menurut dugaan Sasuke, sikap Gaara yang seperti itu adalah hasil didikan menjadi Kazekage. Karena Sasuke sendiri pernah dengar dari Hokage pertama ketika rapat antara para Kage pertama, Kazekage pertama membuat penawaran yang tidak masuk akal.
Akibat dari keributan itu, orang-orang sedang lewat, berhenti karena penasaran terhadap keributan yang sedang terjadi. Naruto sendiri mulai melangkah mundur, malu rasanya kalau orang-orang tahu kalau anak berambut merah yang sedang tawar menawar dengan tukang roti tersebut adalah sahabatnya.
Diliriknya Sasuke yang ternyata ikut mundur meninggalkan Jellal dan Wendy yang masih berdiri kaku dengan pandangan yang sulit ditebak. Inginnya sih mengajak lari dua anak itu, tapi kalau mendadak menarik mereka akan langsung ketahuan kalau mereka adalah teman Gaara. Sadis? Tidak setia kawan? Bodo amat, siapa yang mau menanggung malu karena temannya membuat keributan yang memalukan.
Dengan sekali gerakan, Naruto berputar kebelakang memunggungi toko tersebut. Saat dia ingin melangkah melarikan diri, mendadak dia menemukan sesuatu yang selama ini dicari-carinya. Sesuatu yang sangat sulit dicari karena ketidaktahuannya mengenai keberadaan sesuatu tersebut ada dimana. Dan kini, sesuatu tersebut ada di depannya.
Seorang gadis dengan tinggi yang lebih pendek darinya, memiliki kulit kecoklatan terbakar sinar matahari. Rambut hijau sebahu berkibar dengan angin lembut yang mengenai dirinya. Bola mata berwarna oranye dibagian pupil itu bertemu dengan satu mata safir milik Naruto. Disana, berdiri seorang Fū yang Naruto tahu sebagai Jinchuuriki Nanabi(Ekor tujuh), Choumei.
Fū yang menyadari kalau dia sedang ditatap oleh Naruto langsung mengalihkan mukanya dan berjalan bersama kedua temannya yang Naruto tidak tahu siapa. Melihat itu, segera Naruto mengejar dan memegang tangan Fū. Sontak saja, Fū kaget karena tangannya dipegang mendadak seperi itu.
"Fū! Kau Fū, kan?" tanya Naruto
"Iya, kenapa memang?" balas Fū dengan memberikan tatapan aneh pada Naruto. "Apa aku mengenalmu?"
Mendadak Naruto sadar kalau Fū tidak mengingat masa lalunya sebagai Jinchuuriki. Naruto menggaruk-garuk pipi kirinya yang tidak gatal. Bingung mau ngomong apa.
"Um, bisakah kau lepaskan tanganku?" sontak Naruto langsung sadar kalau sedari tadi dia pegang.
"Ah, Maaf."
"Dasar orang aneh." Fū langsung beranjak pergi dari situ. Meninggalkan Naruto yang berdiri termangu menatap kepergiannya.
"Wah, wah, cinta anak remaja. Cinta monyet bocah ingusan." mendadak, terdengar suara bernada berat namun sedikit cempreng.
Naruto menengokan kepalanya kekiri, kekanan, dan kebelakang. 'tidak ada siapa-siapa? Aneh'
"Hey, dibawah sini!" Naruto langsung merundukan kepalanya dan dilihatnya disampik kirinya terdapat kakek-kakek bertubuh mungil tengah mengenakan pakaian serba kuning dengan topi mirip aneh. Jika dilihat kakek-kakek ini mirip boneka badut.
"Maaf," ucap Naruto, "Anda siapa? Dan maksudnya cinta anak remaja apa?"
"Wah, wah, bukannya tadi kau baru saja menyatakan cintamu pada gadis itu?" jawab si Kakek sekaligus bertanya, "Sayangnya kau ditolak mentah-mentah ya."
Muka Naruto menjadi panas dan mendadak merah menyala. "Aku tidak suka padanya! Dan aku tidak ditolak olehnya!"
"Kau bohong."
"TIDAK! AKU TIDAK BOHONG!"
WUZZ
Angin secara tiba-tiba berhembus kencang. Entah angin apa ini tapi terasa ganjil di kulit Naruto. Lalu ia sempat melihat sekelebat bayangan hitam di tanah di ikuti dengan kabut yang memiliki berwarna putih namun memiliki butiran-butiran aneh. Seketika itu juga, pandangannya mulai kabur entah kenapa. ia coba melihat sekelilingnya yang ternyata para penduduk banyak yang memegangi kepalanya, beberapa malah ada yang pingsan, kakek-kakek kecil itu juga mengalami gejala yang sama dengan para penduduk.
'ini, sepertinya pernah aku lihat entah dimana" pikir Naruto yang sudah mulai tidak konsen lagi. Kepalanya terlalu berat untuk berpikir. Ia ingin segera mengakhiri ini dengan menutup matanya.
"JANGAN TIDUR NARUTO!" teriak Kurama yang mengagetkan Naruto. Membuat mata yang harusnya sudah tertutup menjadi terbuka kembali.
"A-Apa? Kenapa?"
"Ini perbuatannya, jangan lengah!"
"Perbuatannya? Perbuatan siapa?"
"Choumei si ekor tujuh." Naruto kaget mendengar perkataan Kurama. "Sepertinya ini hari beruntungan kita, menemukan Choumei beserta Jinchuurikinya pada tempat yang sama. Naruto, gunakan elemen anginmu untuk menghapus kabut mengganggu ini!"
Tanpa disuruh, Naruto langsung melompat ke udara dan membuat segel disetrai hembusan angin yang kuat dari sekitar tubuhnya dan menyebar ke empat arah mata angin, membuat kabut itu terbawa dan hilang seketika. Ia mendarat di atap bangunan bertingkat tiga dan melihat ke segala penjuru, namun dia tidak menemukan tanda-tanda ada si ekor tujuh.
"Diatas!" benar saja, ketika Naruto melihat ke langit, terdapat seekor makhluk raksasa mirip seperti kumbang tanduk memiliki enam sayap dan satu ekor dibelakangnya. Choumei berputar-putar di langit lalu berhenti melihat kearah desa.
Naruto terkejut apa yang akan di lakukan Choumei. Walau kecil tapi Naruto dapat melihat mulutnya terbuka dan tepat di depan mulutnya terdapat titik kecil berwarna ungu kehitaman. Dan itu adalah..
"BIJU DAMA!?" teriak Naruto.
"Cih, si bodoh itu ingin menghancurkan desa ini" geram Kurama. "Aku akan panggil Goku dan Shukaku. Naruto, coba kau tahan dia!"
"Dengan apa!? Biju dama juga!?"
"Bodoh! Kalau kau gunakan Biju dama sama saja kau akan menghancurkan desa ini! Gunakan Kamui!"
Naruto terdiam, dia belum bisa menggunakan Kamui dengan benar. Walau hanya sekedar menghisap suatu benda dan berpindah ke dimensi lain itupun baru bisa benda kecil seperti batu atau shuriken. Kalau benda sebesar dan seberbahaya biju dama, dia..
"Kenapa kau diam saja!? sebentar lagi dia akan menembak!" teriak Kurama yang sedang panik.
Sepertinya Naruto tidak punya pilihan lain, dia buka penutup matanya dan memperlihatkan mata merah dengan tiga buah Tomoe yang melingkar di pupil matanya. Naruto menutup mata kirinya dan berkonsentrasi untuk melepaskan kekuatan Kamui. Perlahan namun pasti, angin mulai berputar di depan matanya. Sensasi aneh seperti menghisap mulai terasa dimata kanannya.
Jantung Naruto berdetak kuat seraya dengan rasa ketakutannya semakin meningkat. Ia tidak tahu apa dia akan berhasil dan disaat berikutnya Choumei menembak biju dama kearahnya. Karena rasa ketakutan ditambah dengan rasa panik, Naruto mulai kehilangan Konsentrasi dan dengan sekejap angin yang seharusnya menghisap biju dama menghilang.
'celaka!' jerit Naruto dalam hati.
BUUUM! DUAAAR!
Suara bagai bom yang meledak menggelegar keseluruh penjuru. Menghantarkan angin panas dengan radius lebih dari lima Kilometer dan api sekitar satu kilometer. Akan tetapi, ledakan itu tidak menghancurkan desa tersebut karena sebuah kubah terbuat dari batu mendadak muncul melindungi dilangit desa tersebut. Tepat setelah itu, dua sosok sahabatnya muncul tepat didepannya.
Naruto tidak bisa tidak menyunggingkan cengiran khasnya. "Tepat pada waktunya."
"Tentu saja kami tepat waktu." ucap Sasuke yang membuat sebuah segel di tangannya dan perlahan kubah batu itu mulai bergerak turun menuju bumi.
Dilangit, Choumei melihat itu. dia bergerak turun hendak menyerang.
"Gaara, pasir!" pinta Naruto yang kini sudah berubah menjadi Kyuubi Mode. Jubahnya tidak berwarna kuning lagi melainkan berwarna merah menyala dengan butiran-butiran cakra merah yang terbang ke langit.
Dengan cekatan segera Gaara membuat pasir-pasir padat yang melayang di udara dan Naruto melompati pasir-pasir tersebut sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi lagi. Choumei sepertinya tidak tinggal diam. Ia mengepakkan sayapnya dengan kencang membuat hembusan angin sangat kencang. Naruto terkena hembusan itu seketika saja terdorong menuju bumi dengan sangat cepat.
Naruto berpikir cepat. Dengan chakra Kurama, dia julurkan tangannya dan membuat tangan buatan dari chakra yang menjulur cepat ke meraih ekor Choumei yang terjuntai begitu saja. Dengan sekali gerakan tarikan, Naruto menghilang dari tempatnya muncul tepat di muka raksasa berekor tujuh itu.
Naruto yang sudah berhadapan langsung dalam jarak dekat, segera membuat enam bola-bola besar kebiruan dibelakang punggungnya
" Cho Odama Rasenrangan( Ultra big ball Spiralling Strife Spheres)" dengan satu gerakan, Naruto mendorong bola-bola besar itu menggunakan enam tangan buatan menuju Choumei.
DUAAAR!
Ledakan besar terjadi, pergesekan antara bola-bola Rasengan raksasa membuat bola itu makin besar dan mendorong Choumei hingga jatuh menabrak sebuah hutan dekat desa tersebut di lereng gunung dengan keras. Asap mengepul dari tempat ekor tujuh mendarat. Namun, dengan sekali kipasan sayap, Choumei berhasil menghilangkan asap itu dan siap menyerang Naruto yang berada diudara tanpa pertahanan.
"Tidak akan aku biarkan, Yoton:Honō no bōru(Lava release:Blaze ball)" bola Lava besar keluar dari mulut Sasuke dan meluncur dengan cepat menuju Choumei.
"GAAAAH" teriak Choumei terkena serangan tersebut.
"Sudah saatnya kau tidur, ekor tujuh." ucap Gaara. Ia menggerakan tangannya seperti sedang menarik sesuatu lalu dia membuat gerakan seperti mengangkat benda. "Sabaku Sōtaisō(Desert Layered Imperial Funeral)"
Pasir-pasir mulai bermuculan dibawah Choumei dan terbang keangkasa dengan deras. Pasir-pasir itu mulai menyelimutinya dan membuat bentuk seperti piramid. Choumei yang tidak terima langsung mengibas-ngibaskan sayapnya membuat angin agar dapat menyingkirkan pasir-pasir itu.
Gaara menyunggingkan senyuman seraya mulai membuat gerakan mendekatkan kedua telapak tangannya untuk saling bergenggaman. "Percuma saja, elemen angin tidak akan mempengaruhi pasirku."
Separuh tubuh Choumei sudahtertutup pasir yang mulai berbentuk piramid. Choumei terus memberontak namun semakin ia memberontak, semakin cepat pula pasir itu menyelimutinya. Dia mendadak membuka mulutnya dan membuat biju dama kembali dan ia mengarahkannya menuju desa.
"Gawat! Gaara, cepat kubur dia dengan pasirmu!" teriak Naruto yang sudah masih melayang di udara. Gaara berusaha sekuat tenaga untuk mengubur monster kumbang tanduk itu dan Gaara tidak lagi fokus menguburnya dari kaki melainkan dari kepala juga.
Ketika pasir Gaara sudah mulai menutup kepala dan mulut ekor tujuh, Choumei menembak biju dama dalam bentuk jauh dari sempurna. Ketimbang biju dama yang pertama, biju dama kali ini jauh lebih kecil. Dengan gerak lamban, Naruto bisa melihat biju dama bergerak lurus menuju desa yang Naruto tahu sebagai desa Ezio.
'gawat, aku tidak bisa menggunakan Shunsin no jutsu di udara." pikir Naruto. Sepintas ia terpikir sebuah gagasan gila. "tidak, aku tidak bisa menggunakan jurus itu sekarang."
Dalam konflik batinnya itu, Naruto menyadari waktunya tidak banyak. Dia harus segera membuat keputusan karena biju dama itu makin lama makin dekat. 'Ck, SIAL!" tanpa pikir panjang lagi, Naruto menarik kunai spesialnya dan melemparnya sekuat tenaga dengan tenaga dorong oleh chakra Kyuubi. Kunai itu meluncur lebih cepat dari pada biju dama dan menancap dipatung elang perunggu yang berada di gerbang desa.
Detik berikutnya, Naruto menghilang dari tempatnya melayang dan muncul tepat di patung elang tersebut. Tubuhnya mendadak sakit akibat efek samping Hiraishin no jutsu, namun ia tidak perdulikan. Segera ketika biju dama itu berada di depannya, ia tepis bola petaka itu. Hanya saja, akibat rasa sakit tubuhnya, Naruto tidak mampu mengontrol kemana arah biju dama itu ia tepis. Disaat berikutnya tidak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah ledakan muncul secara tiba-tiba menghantarkan gelombang panas kuat. Akibat gelombang tersebut, bangunan-bangunan desa yang awalnya kokoh langsung rusak seketika. Retakan terjadi dimana-mana, atap berterbangan, dan beberapa gedung yang tidak terlalu kuat langsung rubuh.
Naruto sendiri terpental dan menabrak dinding tembok. Rasa mual sekaligus sakit membuatnya pusing. Darah kental keluar dari mulut dan hidungnya. Mata kirinya tertutup karena ia merasa darah mulai keluar dari kepalanya mengalir kebagian kiri wajahnya.
"Naruto tukar denganku!" teriak Kurama dari dalam tubuhnya.
"Tidak apa-apa Kurama, aku masih bisa.. UGH!" Naruto terjelembab ketika ia hendak bangun.
"Sudah hentikan! Biar aku saja yang mengurus si bodoh nanabi itu!" tanpa mendengar protes Naruto, Kurama langsung mengambil alih tubu Naruto. Mata birunya berubah menjadi merah, selaras dengan mata Sharingan di bagian kanan.
"Mata menjijikan ini.." Kurama melihat tangan kanan Naruto lalu mengepalkannya dengan kuat. "Tidak buruk"
Kurama membuat Kagebunsin yang berupa wujud Naruto. "Kau cari bocah bernama Fū, dan bawa dia ketempat Choumei!" bunshin itu mengangguk dan menghilang meninggalkan kilat kuning
Kurama melakukan Shunshin menuju tempat Choumei dan Gaara maupun Sasuke sedang bertarung. Entah bagaimana Choumei bisa keluar dari pasir ciptaan Gaara dan kini Sasuke maupun Gaara suah tidak lagi pada bentuk manusianya. Setengah tubuh Gaara tengah berubah wujud menjadi Shukaku kecil dan tubuh Sasuke berubah menjadi seperti batu yang terkena lava disertai dengan satu ekor berwarna merah di dekat bokongnya. Mendadak badan Kurama terasa sakit ketika dia muncul di tempat pertarungan. 'Ck! Tubuh ini tidak bisa bertahan lama. Aku harus cepat!"
"OI bocah pasir! Pantat ayam! Tukar kesadaran kalian dengan biju! SEKARANG!" teriak Kurama yang membuat perhatian dua remaja itu teralih.
"Kau sebut aku apa tadi DOBE!?" tanya Sasuke dengan keras dan sepertinya siap mengubah sasarannya dari Choumei menjadi Naruto.
"Kau berani melawan aku? Seekor Kyuubi no Kitsune ini!?" geram Kurama dengan tatapan mengintimidasi dan berhasil membuat Sasuke ciut.
"Ada apa Kurama? Kenapa kau mengambil alih tubuh Naruto?" tanya Son Goku yang sudah bertukar kesadaran dengan Sasuke.
"Aku tidak punya waktu menjelaskan, aku ingin kau berubah menjadi wujud aslimu dan tahan Nanabi! Shukaku, siapkan altar dan gunakan Sabaku Sōtaisō Fuin(Desert Layered Imperial Funeral Seal) untuk menahan pergerakannya! Kita akan lakukan biju fuin!"
"Cih, aku tidak mau diatur oleh Kitsune sepertimu" kata Shukaku sinis.
"Sekarang bukan waktunya untuk itu Tanuki!"
"APA KATAMU BAKA KITSUNE!"
"LAKUKAN SEKARANG TANUKI!"
"DIAM KAU KITSUNE!" dengan amarah yang besar tubuh Gaara berubah total menjadi Shukaku kecil. Tangannya menjulur dan bergerak seirama dengan pasir yang dia kendalikan.
Son Goku langsung melompat menarik Choumei yang hendak terbang dan menariknya ke tanah. Dengan cepat, pasir-pasir yang dikendalikan Shukaku mulai menyelimuti tubuh Goku dan Choumei. Goku langsung melimpat menghindari pasir Shukaku yang sudah menyelimuti tubuh Choumei dan mulai bergerak naik membentuk piramid. Tangan Shukaku memanjang menyentuh piramid yang dia buat sembari mengirim tattoo yang ada di tubuhnya ke Piramid tersebut.
"Bagus, siapkan altar! Kita akan mulai ritualnya!"
Shukaku membuat segel lain dan mendadak sebuah Torii—gerbang suci kuil—yang terbuat dari pasir muncul kepermukaan. Gerbang itu berada didepan piramid tempat Choumei terpenjara.
"MAU APA KAU! LEPASKAN!" jerit suara wanita yang mendadak muncul bersamaan dengan Kagebunsin yang tadi diciptakan Kurama.
Kagebunshin itu menjatuhkan gadis itu yang diketahui bernama Fū secara kasar. Fū yang mengaduh kesakitan seketika itu juga terdiam ketika melihat apa yang ada didepan matanya. Monster. Ya, dihadapannya kini berdiri seorang pemuda dengan tubuh menyala-nyala aneh, lalu dia juga melihat monster berwarna coklat muda tengah terbang diatas pasir serta monster monyet raksasa tengah berdiri disamping piramid pasir.
Tanpa menunggu komentar Fū, Kurama segera mengikat tubuh Fū dengan ekor miliknya dan melemparnya menuju gerbang itu. Gadis yang masih syok itu tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa mengeluarkan air mata sebagai bukti rasa takut yang dia alami saat ini. Tepat ketika gadis itu telah mendekati gerbang, pasir-pasir muncul dari tiang-tiang pasir dan meraih kedua tangan dan kaki Fū lalu tepat digerbang itu, Fū di ikat dengan posisi di salib
"Ap-apa yang mau kalian lakukan padaku?" kata Fū dengan suara parau.
"Tenang saja, sebentar lagi kau akan tahu." jawab Kurama yang langsung menginstruksikan dua biju yang lain untuk bersiap.
Ketika Kurama memberi aba-aba, mereka bertiga segera berpencar ketiga arah dan membentuk sebuah segitiga jika dilihat dari atas. Mereka menggengam kedua telapak tangan mereka masing-masing yang tidak lain dan tidak bukan adalah segel persiapan penyegelan.
"Kita lakukan! Biju juinjutsu: Biju fuin!"
Seketika itu juga, cahaya biru kehijauan mulai muncul di tubuh Fū maupun dari piramid. perlahan-lahan piramid pasir itu mulai terbuka memperlihatkan Choumei yang mulai terhisap kedalam tubuh Fū dengan cahaya hijau itu sebagai penghubung keduanya. Choumei maupun Fū berteriak-teriak kesakitan namun ketiga biju yang sedang mengawasi penyegelan ini menambah chakra mereka sehingga mempercepat proses menyakitkan ini.
Tubuh Choumei perlahan-lahan mulai menghilang digantikan dengan partikel-partikel cahaya yang masuk melalui setiap lubang yang ada kepala Fū. Ketika Choumei sudah benar-benar masuk, secara tiba-tiba tubuh Fū bergetar dan cahaya hijau menyebar dari tubuhnya menerangi senja dihari itu.
"Aku ingat sekarang, aku ingat siapa aku. Dan aku tahu untuk apa aku kemari" kata Fū sembari memegang dadanya dengan kedua tangannya. Fū berbalik dan memberikan senyuman kepada Kurama yang tengah melihatnya. "Terima kasih, Naruto."
"Aku bukan Naruto, lebih baik kau nanti saja berterima kasihnya."
.
.
.
"ADUH!" jerit Naruto yang kini tengah mendapat perawatan oleh dokter di desa itu.
"Nah sudah beres," ucap dokter setelah membungkus tubuh Naruto layaknya Mumi. "Aku tidak mengerti, apa yang kamu lakukan sehingga bisa seperti ini. Tiga tulang rusuk patah, tangan kanan dan kaki kirimu retak. Seluruh jaringan ototmu memar, kau ini habis ngapain sih?"
"Hehe, itu—"
"Yoo, dobe! Sudah sadar kau rupanya." kata Sasuke yang membuka tirai tempat Naruto tengah dirawat saat ini.
"Teme, bukannya kau tidak boleh masuk?"
"Ah, itu.."
"Tidak masalah, aku sudah selesai memeriksanya, tapi dia butuh istirahat kira-kira seminggu."
"Apa? Lama sekali!" jerit Naruto. Dia tidak mau lama-lama disini. Dia muak mencium bau obat-obatan yang berada di klinik desa apa lagi kalau dia nanti minum obat.
"Sudahlah terima saja Naruto-san." ujar seorang gadis yang masuk ke dalam tempat ruangan Naruto dirawat. Dia adalah Fū yang diikuti Gaara dibelakangnya.
"Ah, Fū. Jadi kau sudah kembali menjadi Jinchuuriki Nanabi?" tanya Naruto diikuti dengan anggukan oleh Fū. "Baguslah kalau begitu."
"Lalu mengenai apa yang sudah kita bicarakan," Sasuke mengalihkan perhatiannya ke Fū. "apa aku siap ikut bersama kami?"
Fū tidak menjawab, dia berjalan kearah jendela yang berada di samping tempat tidur Naruto dan menatap jauh kepadang rumput yang mulai gelap.
"Mungkin aku harus mengucapkan perpisahan kepada Rika dan Veronica. Lalu aku juga harus mengucapkan selamat tinggal kepada ayah dan ibu."
"Hm..? jadi jawabannya?" tanya Gaara menunggu.
Fū berbalik arah dan mengangguk, "Aku akan ikut kalian." Naruto, Gaara dan Sasuke tersenyum. Sepertinya bertambal lagi satu teman mereka.
Ngomong-ngomong soal teman, Naruto menyadari ada yang kurang diantara mereka. "Hey, dimana Jellal dan Wendy?"
"Oh mereka? kalau tidak salah mereka pergi dari sini karena Wendy terluka ketika biju dama kedua meledak."
"Hah!? bagaimana bisa?" tanya Naruto tidak percaya.
"Mana aku tahu, hanya Itu yang aku dengar dari kakek-kakek cebol bernama Makarov." jawab Sasuke ketus. "Kakek-kakek itu cuman bilang kalau Jellal membawanya ke seorang tabib tapi tidak mau menerangkan lebih lanjut dimana tabib itu."
Sebelum Naruto membalas perkataannya mendadak pintu ruangan dibuka secara kasar dan masuk orang-orang dengan pakaian berbaju zirah dan membawa tombak. Diantara mereka ada seseorang dengan tubuh besar dan tatapan tajam menatap mereka berempat.
"Apa kalian yang melawan monster kumbang raksasa itu?" tanyanya dengan suara mononton.
"Um.. iya?" jawab Naruto
"Apa kalian seorang penyihir?"
"Penyihir? Kami bukan penyihir." jawab Gaara dengan nada stoic
"Kalau kalian bukan penyihir, lalu siapa kalian? Dengan cara apa kalian melawanya?"
"Ah.. itu.."
"Kalian tahu jika seorang penyihir tidak punya wewenang dari Guild atau serikat resmi lainnya untuk menjalankan misi maka kalian akan dianggap sebagai penyihir hitam dan terkena ancaman hukuman selamanya?"
"Apa!? Sejak kapan ada hukum seperti itu?" kata Sasuke yang melangkah maju namun berhenti karena para prajurit dibelakang orang besar itu segera maju dan menodongkan tombak kearah mereka.
"Nah, sekarang aku tanya sekali lagi, apa kalian penyihir? Kalau memang iya kalian berasal dari serikat mana?"
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Mereka berempat hanya diam. Lelaki besar itu menyunggingkan senyuman kemenangan. Dia mengangkat tangannya memberi aba-aba penangkapan kepada keempat remaja itu.
"Mereka berasal dari FAIRY TAIL!" teriak seorang dari arah pintu. Seluruh kepala yang ada di kamar tersebut mengalihkan perhatiannya kearah pintu dan disana seorang kakek-kakek cebol dengan pakaian layaknya badut tengah berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Master Makarov!" ucap lelaki besar itu sambil memberi hormat.
"Mereka berasal dari Fairy tail, apa kalian puas sekarang?" tanya Makarov memberikan tatapan tajam kepada orang itu.
"Maaf Master Makarov, tapi kami tidak pernah tahu kalau mereka adalah bagian dari Guildmu. Lebih tepatnya tidak ada foto mereka pada daftar Guildmu."
"Aku belum memperbaruinya, akhir-akhir ini banyak sekali yang menjadi anggota baru Fairy tail."
"Lalu, apa mereka penyihir level S? karena sesuai ketentuan kalau penyihir bukan level S menjalani misi berbahaya seperti ini maka—"
"Dan mereka penyihir level S, mereka aku perintahkan untuk menghabisi monster kumbang itu."
"Tapi—"
"Apa lagi? Aku sudah bilangkan kalau aku belum memperbarui status Fairy tail pada pemerintah karena baru bulan lalu aku melaksanakan tes Level S." ucap Makarov. Ia mendapati orang besar itu ingin bertanya lagi dan Makarov sudah tahu apa yang akan ditanyakan si pria besar ini. "Hei kau, yang rambut merah, namamu Gaara, kan?" tanya Makarav yang dijawab anggukan oleh Gaara. "Coba kau tunjukan tattoo Fairy tail yang ada di lengan kananmu."
"Eh?"
"Sudah cepat buka jaketmu dan perlihatkan padanya kalau kau anggota Fairy tail." Gaara mengangguk lalu cepat-cepat membuka jaketnya dan melipat kaus merahnya. Tepat dilengan atasnya terdapat sebuah tattoo seperti gambar wajah peri berwarna merah disana. Makarov melirik orang besar itu. "Bagaimana? Butuh bukti apa lagi?"
"Um.. sepertinya tidak ada. " ujar pria besar itu yang tampak kalah. "Kalau begitu kami permisi dulu." Ia segera berjalan meninggalkan ruangan itu beserta para bawahannya. Keempat remaja itu langsung bernafas lega. Makarov sendiri juga menghela nafasnya.
"Yare-yare, merepotkan saja orang itu." ujar Makarov sambil berjalan menuju keempat remaja itu. "Kalian tidak apa-apa?"
"Tidak, kami tidak apa-apa kok. Terima kasih telah menolong kami." ucap Gaara sambil menundukan tubuhnya.
"Ya tidak masalah, anggap saja hadiah karena telah menyelamatkan desa ini." jawab Makarov. Ia memegang dagunya seraya melihat keempat remaja tersebut. "Tapi aku harap kalian mengerti kalau kalian sekarang adalah anggota resmi Fairy tail."
"Eh?"
"Bagaimana bisa?" tanya Naruto bingung.
"Karena aku yang bilang, bisa gawat kalau aku menarik kata-kataku tadi."
"Ah, tapi kami tidak bisa langsung pergi ke Fairy Tail karena kami—"
"Ya-ya aku tahu, tidak masalah kalau sekarang kalian tidak bisa ke Fairy Tail sekarang tapi aku harap suatu saat kalian kesana." ucap Makarov. Ia berjalan menuju Sasuke dan memberikan sepucuk kertas bertuliskan alamat Guild Fairy Tail.
"Magnolia?" Makarov mengangguk lalu dia berbalik arah dan berjalan menuju pintu. Hendak keluar dari ruangan itu.
"Um.. oi, pak tua!" panggil Naruto. Makarov menengokan kepalanya melihat kearah orang yang memanggilnya. "Terima kasih sudah menolong kami."
Makarov tersenyum dan mengangguk. Ia lanjut berjalan dan menghilang dibalik pintu.
A/N: mungkin bagi kalian yang membaca Chapter ini sedikit mengecewakan perihal saya sangat pusing membuatnya, maklum, saya membuatnya dimalam hari dan mengerjakan bisa sampai tengah malam jadi diakhir-akhiri cerita alur dan diksinya menjadi aneh.
jika ada kritikan atau saran silahkan di Review karena Review adalah bentuk penghargaan dari reader setelah membaca cerita buatan Author.
sekian dari saya.
