Bottle Up
Pukul 00.00.
Boboiboy bangun dari tidur, lalu beranjak ke hadapan cermin.
Sosok Api muncul. Membuka mulut lebar-lebar, seraya mengucapkan sapaan yang menggembirakan. "Hai, Boboi-
Namun urung, setelah melihat orang di depannya terduduk lemas di lantai.
-boy?"
Boboiboy sadar. Kata 'main' serta 'anak-anak' belum bisa pergi untuk tidak melekat dalam dirinya. Setiap waktu terpakai, sebagai title superhero dan murid yang masih membutuhkan ajaran. Boboiboy juga manusia biasa. Yang sekali-sekali bisa merasakan penat. Tertekan, dan butuh hiburan. Maka dari itu, kuasa Api muncul.
Ia pergi keluar setiap malam, membawa raga Boboiboy, hanya hendak mencari permainan untuk melampiaskan perasaan yang ia pendam.
Tanpa sengaja membuat kebakaran, yang sama sekali tidak ia inginkan.
Bahkan kehadiran Boboibot kini, mampu menggesernya dari ingatan orang-orang.
Api berjongkok.
Bila sisi Boboiboy ini suka melepas apa yang dirasanya, maka hari itu Boboiboy menangis, semalaman. Walaupun rintihannya pelan, namun Api sanggup menemaninya sendirian.
Dengan berkali-kali mengucapkan, "Keluarkan saja Boboiboy, jangan ditahan."
...
Blacklist Name Present :
Fine - Chapter 2
Based On :
Boboiboy musim 3 ep. 16 - 20
Boboiboy Galaxy ep. 5
Boboiboy c to Monsta
...
Peaceful
Seminggu berturut-turut merupakan masa terberat bagi Boboiboy. Mengeluarkan dua kuasa sekaligus dalam jangka pendek yang berkemungkinan bisa membuat kerusuhan besar. Api dan Air.
Yaa, kecuali ia giat berlatih untuk menggunakannya.
Mengalahkan Boboibot dan kembali mendapatkan kepercayaan orang-orang memang cukup sulit. Namun karena Boboiboy pantang menyerah, semuanya pun jadi baik-baik saja.
Hujan mengguyur bumi, lagu klasik jaman dulu diputar dari radio.
Hari ini Boboiboy menemani Atok yang hendak membeli coklat untuk kedainya, dengan menaiki mobil milik teman kakeknya itu. Boboiboy duduk di kursi kedua, belakang pengendara. Dan Ochobot disampingnya.
Bulir-bulir air hinggap di kaca mobil, membuat blur sehingga pemandangan luar tidak terlihat jelas.
"Cucumu ini sangat hebat. Masih kecil, sudah bisa membahagiakan orang banyak."
"Alhamdulilah. Yang penting, selama dia senang melakukannya, aku pun ikut senang."
"Pasti bangga kan kau, jadi seorang kakek?"
"Pastilah! Dia kan cucuku satu-satunya."
Mereka tertawa.
Percakapan antar dua kawan lama itu tampak hangat, walau suhu sebenarnya sedang dingin. Damai rasanya. Namun tidak dengan isi kepala lelaki bertopi jingga. Pikirannya tengah sibuk melayang, mengingat kejadian kemarin. Dimana sosok Air muncul, bagian dari diri Boboiboy yang paling tenang. Tidak suka keributan, hobi beristirahat, dan selalu ketiduran.
Sejauh ini menurutnya kuasa Api dan Air cocok. Si penuh ambisi dan tidak. Seimbang bukan? Boboiboy percaya mereka bisa berkolaborasi jadi tim yang hebat.
Sampai laju mobil perlahan melambat, ternyata ada lampu merah dengan detik yang masih jauh, membuat kendaraan teman Atok berhenti.
Boboiboy menguap. Matanya terasa berat. Sepertinya ia akan tertidur disini. Namun tidak jadi. Tidak setelah bayangan Air muncul, di kaca pintu mobil sebelah Boboiboy.
"Air?"
"Eh, kenapa Boboiboy?"
Kegiatan Ochobot terganggu dari menatap awan-awan yang kelabu. Melirik ke pemiliknya tersebut, karena ia rasa Boboiboy telah mengucapkan sesuatu.
"Tak apa-apa Ochobot. Hehe," balasnya diiringi tawa kikuk.
Menghadap kembali pada posisinya semula, Boboiboy membulatkan mata.
"Sedang apa kau disini?" Bisiknya.
"Hanya ingin menatapmu."
Satu alis terangkat, jelas sekali seseorang tidak mengerti apa yang dibicarakan lawan bicaranya.
Air terkekeh, lalu melanjuti ucapan. "Bercanda."
Boboiboy tertawa kecil.
"Aku hanya ingin bilang. Kau harus jaga kesehatanmu. Banyak istirahat, jangan lupa makan, dan jangan terlalu banyak pikiran."
Boboiboy tersenyum. Kemudian mengangguk. "Iya."
...
3 years later
...
Naive
Sinar matahari mengusik mata sang empunya walau masih tertutup. Menembus jendela kamar, ia menjadi satu-satunya yang membangunkan remaja berumur 14 tahun.
Surai hitam yang berpadu dengan sedikit helai berwarna putih di bagian depannya, terlihat berantakkan. Karena Ochobot membuka topi si pelupa itu yang selalu memakainya di setiap tidur, pantas Boboiboy merasa sedikit janggal. Ah, tidak pakai topi ternyata.
Terbangun di Pulau Rintis, khususnya di rumah kakek tercinta sebelum kembali mengerjakan tugas dalam misi sebagai anggota TAPOPS yang selanjutnya.
Setelah meregangkan otot kaki dan tangan, Boboiboy bangun. Duduk di sisi kasur beberapa saat, sampai matanya menatap sesuatu di ujung ruangan.
Cermin.
Benda yang berdiri itu sudah menyaingi tubuh Boboiboy yang bertambah tinggi. Ngomong-ngomong, sudah lama ia tak melakukannya. Berinteraksi dengan salah satu dari mereka, yang akhir-akhir ini jarang muncul. Boboiboy penasaran. Apabila giliran ia yang memanggil mereka, mereka akan keluar?
Setidaknya ia harus mencoba.
Boboiboy turun dari tempat tidur, dan beranjak ke hadapan cermin.
Lalu ia duduk bersila di lantai.
Mengangkat tangan hendak mengetuk, namun hatinya ragu-ragu.
Tarik nafas, buang. Ia lakukan sebanyak dua kali, sebelum percaya dirinya mantap untuk memberanikan diri.
Cermin pun diketuk, Boboiboy memanggil. "Daun?"
Kuasa yang kemarin muncul setelah ia melawan Bajak Angkasa. Walau harus terbentur dahan pohon terlebih dahulu, namun tak bisa dipungkiri. Kuasa yang satu ini sangat lucu.
"Daun?"
Beberapa menit berlalu, akhirnya diri Daun terbentuk. Menggambarkan pantulan Boboiboy yang memakai baju serba hijau, serta duduk sambil menekuk lutut.
"Daun?"
"Iya?" Balasnya, begitu menggemaskan.
Boboiboy tersenyum senang atas kehadirannya.
Perangai yang lebih seperti anak kecil, terlihat lugu dan minta dipeluk.
Tidak menjawab pertanyaan Daun, Boboiboy malah mengikuti gaya Dia duduk dan menatap matanya. Untuk waktu yang cukup lama.
Bila ini nyata, Boboiboy ingin sekali mengusap kepala itu. Tapi sayang, Daun hanyalah sebuah bayangan. Sebagian dari imajinasi Boboiboy yang ia miliki.
Dipikir-pikir sudah lama juga ya, dari sebelum jam kuasa ini melingkar di pergelangan Boboiboy. Sekitar 4 tahun lalu. Banyak hal yang terjadi, namun Boboiboy menikmatinya.
Berarti, ia sudah cukup dewasa sekarang.
"Mau sampai kapan kau menatapku seperti itu? Kau suka padaku ya?"
Boboiboy tertawa. Menghiraukan pertanyaannya, lelaki itu malah balik bertanya. "Bagaimana kepalamu? Benjol ya?"
Daun menyeringai memperlihatkan sederet giginya. "Iya, masih benjol, hehe."
Dan selanjutnya hanya percakapan ringan antar dua mahkluk yang sejiwa. Boboiboy dan Daun, membicarakan banyak hal untuk satu jam kedepan.
Berbicara dengan elemental sendiri bisa seperti ini ternyata. Coba dulu ia bisa lebih lama dengan yang lain.
Ya tapi, yang lalu biarlah berlalu. Lagi pula Boboiboy sudah tahu caranya sekarang. Hanya tinggal fokus dan mengetuk cermin, kemudian panggil salah satu dari mereka.
Boboiboy menempelkan telapak tangan di benda yang terbuat dari pecahan kaca tersebut, terasa dingin, namun Daun melakukan hal yang sama.
Kini kedua tangan mereka seperti bersatu.
"Wah! Ukuran tangan kita sama, ya!"
Boboiboy mendengus.
Walau kepalanya memang benjol setelah insiden kemarin, setidaknya kejahatan berkurang satu. Dan digantikan dengan sesuatu yang manis.
"Terima kasih ya, Daun."
...
To be continued
...
[Last : Cahaya, and A Letter]
