"Seh- Sehun.."


PETERPAN BOY

LU HAN X SEHUN

STORY BY IM

.

.

I'm looking
There isn't much time left
To make a wish, I wish there could be another day

Our tomorrow


Tidak apa. Mungkin mereka ada urusan dan sekalian main bersama di sana. Atau Chani ada masalah dan seperti biasan Sehun menemani nya.Fikir Lu Han.

"Hah..." sebanyak apa Lu Han mengelak sebanyak itu pula keraguan menghampirinya. Lu Han hanya menggeliat-geliat di kasur saja.

"Sudahlah Lu Han. Sehun dan Chani adalah teman. Oke! Sekarang pejamkan mata dan tidur." monolog Lu Han dan memejamkan matanya.

Drttt. Lu Han kembali membuka matanya dan meraih hp yang berada di nakas.

Bear Call.Seketika Lu Han terduduk dan matanya berbinar. Digesernya ikon berwarna hijau itu.

"Hallo Be!." saking bahagianya suara Lu Han sedikit melengking.

"Astaga Lu. Kenapa kamu berteriak seperti itu?."

"Ah maaf Be. Aku hanya terlalu bahagia." Lu Han memelankan suaranya saat sadar dia terlalu heboh.

"Ada apa?."

"Aku hanya.. Em.. Merindukan mu."

"Hahahah.. Astaga Lu. Kalau rindu kenapa tidak menghubungi ku dulu."

"Aku takut mengganggu."

"Kapan kamu jadi gangguang buat aku? Telfon saja oke."

Lu Han menjadi lebih tenang. Sehunnya masih Sehun yang sama.

"Heum. Kamu dimana?."

"Aku sudah dirumah."

"Tidak biasanya sudah ada dirumah. Biasanya juga masih ngurusin anak basket." Sehun adalah ketua tim basket jadi hampir setiap hari dia akan pulang malam karena kegiatannya. Terlebih sebentar lagi bakal ada pertandingan.

"Ya begitulah. Aku terlalu lelah untuk pulang larut hari ini.

"Eumm.." ingin Lu Han menanyakan kejadian tadi di mall tapi dia ragu dan takut.

"Kamu ingin berbicara lagi?."

"Eh itu.." Lu Han kembali ragu. Dan akhirnya dia pilih menyimpan kejadian yang dia lihat tadi. Dia tidak boleh egois dengan fikirannya. "Tidak ada Be! Suara mu saat ini sudah cukup. Aku butuh pelukan saja. Mungkin."

"Hhh baiklah kita berpelukan besuk. Sekarang tidurlah. Ini sudah terlalu malam. Besuk aku akan menjemput mu."

"Baiklah. Kamu juga tidurlah."

"Iya."

"I love U be."

"Aku juga."

Tut. Lu Han tersenyum simpul sambil menatap panggilan yang berakhir itu. Bukan hal aneh jika Sehun tidak membalas pernyataan cintanya karena menurut Sehun perasaannya bukan sekedar kata pasaran I Love You atau lainnya.

Bagi Sehun perasaannya kepada Lu Han adalah ketulusan, perjuangan, dan keyakinan yang tidak akan setara dengan pernyataan murahan itu.

Dengan hati lega perlahan Lu Han tertidur.

Disisih lain Sehun yang sedang bersandar diranjangnya segera menoleh saat pintu kamar mandinya terbuka.

"Tidak biasanya mandi jam segini. Chani." sapa Sehun pada pria yang baru keluar dari kamar mandi itu.

"Heum. Badan ku sangat lengket tiba-tiba." sambil menggosok rambutnya pria bernama Chani itu menuju ranjang. Sedangkan Sehun segera duduk.

"Kesini biar aku keringkan." Sehun menepuk kasur didepannya. Chani segera menghampiri Sehun dan memberikan handuk ditangannya.

"Kamu menelefon Lu Han?." tanya Chani yang sedang memainkan hp Sehun.

"Ya. Seharunya tadi aku ada janji dengannya tapi kamu tiba-tiba menelefon katanya penting. Tidak taunya karena belanja lupa membawa dompet." Sehun menelonyor kepala Chani pelan.

"Ishh akukan tidak tau jika kamu ada janji dengan pacar mu." bela Chani.

"Iya iya. Lagian kalau mau pergi jangan lupakan dompet dan hp mengerti."

"Eum." Chani masih asik dengan hp Sehun. "Hun kenapa hp mu penuh dengan foto Lu Han sih."

"Kenapa? Wajarkan dia pacar ku."

"Menyebalkan tau."

"Jangan menggerutu. Ca! Sudah selesai. Tidurlah." Sehun berdiri menaruh handuk tadi pada tempatnya sedangkan Chani masih bermain hpnya Sehun.

"Tidurlah Chani. Besuk kamu harus kesekolah."

"Malas. Aku ada pemotretan siangnya percuma jika masuk hanya setengah hari."

"Jika seperti ini lebih baik tidak jadi modelkan?."

"Sehun~ kamu tau kan itu impian ku." Chani menatap Sehun yang sudah berbaring disampingnya.

"Hh iya iya. Sekarang tidurlah biar kamu terlihat manis saat pemotretan nanti bagaimana?."

Chani mengangguk semangat. Memberikan hp yang dipegangnya dan segera menyelimutin tubuhnya. Sehun pun membantu agar Chani bisa tidur dengan nyaman. Ketika hendak menaruh hpnya dia melihat wallpaper hpnya yang tadinya foto dirinya dan Lu Han berubah menjadi dia dan Chani.

Sehun hanya tersenyum dan menaruh hpnya kemudian ikut tidur.

.

.

.

Pagi harinya Lu Han terlalu bersemangat tentang janji Sehun yang akan menjemputnya.

"Lu Han sayang tidak sarapan dulu?." tanya mama Lu Han yang melihat Lu Han sudah memakai sepatunya.

"Tidak ma aku akan makan.."

"Dia akan sarapan ma!." sebuah suara menghentikan acara mengikat sepatu Lu Han.

"Sehun!." Lu Han segera berdiri dan memeluk pria itu.

"Eh ada Sehun. Sini nak sarapan dulu." ujar mama Lu Han saat melihat Sehun yang sudah seperti anak sendiri tengah berdiri didepan pintu.

"Iya ma." Sehun melepas pelukan Lu Han dan membuka sepatunya tidak lupa sepatu Lu Han juga yang sudah dipakai. "Ayo makan dulu." ujar Sehun setelah membuka sepatu Lu Han dan segera masuk Lu Han pun mengikutinya.

"Pagi Pa." sapa Sehun pada papa Lu Han.

"Pagi Sehun. Wah lihatlah anak papa tampan sekali!," puji papa Lu Han membuat Sehun tersenyum dan Lu Han sebal.

"Pa! Kenapa papa tidak pernah mengatakan Lu Han tampan!." Protes Lu Han saat hendak duduk.

"Kamu itu manis Lu Han. Mungkin kalau dibandingkan dengan Seulgi kamu bisa dibilang tampan." goda papa Lu Han membuat penghuni disana tertawa. Seulgi adalah anak gadis blok sebelah yang sangat cantik.

"Papa benar Lu."

"Kalian ini sudah makan dulu jangan menggoda anak mama yang tampan ini." mama Lu Han menengahi percakapan itu daripada nanti Lu Han berakhir marah.

Semua segera makan sesuai seleranya. Sehun sendiri sudah lama dekat dengan keluarga Lu Han bahkan sebelum keduanya menjalin hubungan itu. Lu Han ke keluarga Sehun hanya mengenal. Dalam meja makan itu beberapa kali Sehun dan papa Lu Han nampak bergurau ria sampai papa Lu Han menyinggung tentang percintaan Sehun.

"Kamu sudah berada di umur yang cocok untuk mencari pendamping hidup. Apa belum ada gadis yang menarik perhatian mu?."

"Benar Sehun. Perkenalkan pada kami jika memilikinya." saut mama Lu Han. Sehun sendiri sangat kalem berbeda dengan Lu Han yang sudah gugup.

"Em tidak ada pa."

"Ckck. Carilah papa rasa banyak gadis disana yang mau mengantri untuk mu."

"Hei. Mungkin untuk papa banyak."

"Jangan katakan itu aku sudah ada yang punya. Heheheh."

"Ya aku juga."

"Eh. Siapa?."

"Lu Han." sangat jujur bahkan Lu Han sudah tersedak tapi tidak bisa dipungkirin jika kedua orang tua Lu Han menganggap ucapan Sehun adalah guyonan.

"Hhh ya ya benar kamu hanya punya Lu Han. Hah. Papa rasa jika Lu Han seorang gadis papa akan menikahkan kalian."

Sakit. Ya entah kenapa rasanya sakit untuk Lu Han. Sehun yang melihat gelagat Lu Han segera meraih tangan pria itu yang berada dibawah meja. Mengelus pelan Lu Han mengerti Sehun mencoba menghiburnya.

"Baiklah Pa aku akan berangkat dulu kasihan Lu Han memiliki jam pagi."

"Ya hati-hati dijalan."

Lu Han dan Sehun segera menuju mobil dan segera berangkat.

"Abaikan kata papa Lu."

"Heum." Lu Han menatap jalanan. "Tapi Be.. Jika nanti papa dan mama mu juga meminta kamu mengenalkan seorang gadis bagaimana?." Lu Han menatap Sehun.

"Ya aku akan membawa mu."

"Jangan bercanda ih."

"Aku serius Lu Han. Apa kamu berharap aku membawa Seulgi?." Sehun menatap Lu Han dengan menggoda pria itu.

"Yak! Aku tidak mengharapkan itu!."

"Hahah makanya jangan tanyakan hal yang sudah pasti. Aku sudah bilang jika nanti kita akan berjuang. Em tidak. Aku yang akan berjuang kamu hanya perlu mengikuti ku. Mengerti!."

Lu Han tersenyum cerah. "Mengerti My Bear!."

Sesampai sekolah Lu Han segera berlari menuju kelasnya dengan bahagia. Sedangkan Sehun menunggu kekasihnya itu menghilang dari pandangannya.

"Mengantar Tingkerbele." Sehun segera menoleh saat ada suara yang dia hafal menyapa telinganya.

"Chani?"

"Kenapa kaget."

"Katanya tidak sekolah?."

"Aku berubah fikiran. Dirumah sangat suntuk. Tapi melihat mu aku berfikir untuk jalan-jalan. Bagaimana?."

"Aku ada kelas jam 11."

Chani menatap jam ditangannya. "Jam 7. Aku rasa cukup 4 jam saja. Oke!." tanpa menunggu jawaban Sehun. Chani segera masuk kedalam mobil.

"Aku tidak suka melihat kamu membolos tau." ujar Sehun didalam mobil.

"Ya Peterpan ku!. Tapi membolos sehari tidak akan membuat ku jadi bodoh tau."

"Terserah Wendy." Sehun fikir percuma meladeni Chani karena dia akan berakhir kalah.

Keduanya menikmati jalan-jalannya. Berkeliling mall dan membeli beberapa hal tidak penting bahkan makan siang yang cukup romantis.

"Selalu menyewa 1 restaurant." cibir Chani.

"Aku mengajak seorang model terkenal makan siang. Aku tidak ingin ada yang menggangu kita. Makanlah."

"Yang terbaik deh."

Sehun adalah anak seorang pemilik SDC group. Sebuah perusahaan mebel terkenal di Jepang jadi menyewa restaurant untuk makan bersama Chani yang seorang model terkenal juga anak dari Artis dan Aktor senior itu bukan hal yang susah.

"Apa kamu juga suka makan bersama Lu Han seperti ini?."

"Tidak." Sehun mengambil minum disebelahnya. "Aku lebih sering makan dirumahnya. Karena jadwal kami yang berbeda kadang tidak ada waktu untuk jalan berdua."

"Eum. Pasti sulit ya LDRan seperti kalian."

"Tidak terlalu."

"Oh iya Sehun. Jika papa mu tau tentang orientasi sexual mu bagaimana?."

"Entahlah. Aku belum memikirkan itu. Mungkin keluarga ku akan marah dan mengusir ku. Maybe."

"Mungkin juga akan menyetujui jika pasanganan mu adalah seseorang pilihan mereka."

"Ya mungkin."


.

.

.

Maybe in the future you will be in tears for someone else

.

.

.


Chani? Chanyeol? hahah bukan kok :V Chani hanya OC. or kalian bisa bayangin Chani SF9. Tidak memasukkan OTP lain biar aku bisa fokus sama ceritanya. Kalau selingkuh tidaknya baca aja ya dan simpulin ini termasuk selingkuh atau karena kebutuhan kkk... Reviewnya ya kakak-kakak. janji fast up kalau banyak yang suka. hehehe...

SeeYouNextDay!