Naruto: Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Typo(s), de el el…
Rate : T+
Don't Like Don't Read
.
.
.
.
Di samping sebuah ranjang quen size dengan bed cover turquise dan sprei merah muda, berdiri berdampingan dua orang lelaki yang menatap cemas wanita yang tengah tertidur dalam pingsannya itu. Namun ada perbedaan yang menonjol dari tatapan mereka. Akashi terlihat sangat khawatir dengan ibunya, sedangkan Sasuke hanya sedikit cemas. Yang paling dikhawatirkannya adalah, apakah Sakura mau menerima langsung lamarannya. Meskipun dia yakin seratus persen ditolak, namun tidak ada salahnya berharap, 'kan.
Akashi yang sangat takut terjadi apa-apa dengan ibunya, meluapkan kemarahannya pada orang yang bertanggung jawab atas kondisi Sakura saat ini. Tentu saja, ibunya pingsan gara-gara orang tidak tahu diri di sampingnya ini.
"Apa yang kau lakukan pada ibuku?" desis Akashi. Mata merahnya menatap tajam pada pria asing di rumahnya itu.
Sasuke yang ditatap sedemikian rupa oleh calon putranya hanya mengabaikan bocah merah menyebalkan itu.
Tidak mendapat tanggapan, membuat Akashi menarik kaos putih yang dikenakan Sasuke, dan ia menyeringai puas saat mendapat reaksi dari lelaki 'perusuh' itu. "Jangan dekat-dekat dengan ibuku. Lebih baik kau pergi sekarang," kata Akashi mencoba mengusir Sasuke.
Sasuke yang mendapat perlakukan kurang bersahabat dari Akashi hanya bisa mendengus. "Maaf bung! Sepertinya kau harus menerimaku sebagai ayahmu," kata Sasuke santai dengan seringai yang tidak kalah dari Akashi.
"Tidak sudi!" tukas Akashi cepat. Matanya melotot tajam pada Sasuke, tangannya mengepal erat.
Seringai Sasuke semakin melebar dengan reaksi Akashi. Sepertinya dia akan sedikit kesulitan untuk mendapatkan Sakura, dilihat dari reaksi Akashi. Namun, hal itu ternyata membuatnya semakin semangat. Karena Uchiha Sasuke sangat menyukai tantangan. Menurutnya, hidup akan sangat membosankan jika datar-datar saja dan tidak ada sesuatu yang harus ditaklukkan.
"Bersiaplah untuk memanggilku dengan sebutan A-Y-A-H," ujar Sasuke merasa di atas angin.
Menghiraukan Akashi yang tengah marah besar, Sasuke kemudian mengambil tempat yang sedikit kosong di samping Sakura. Pemuda yang mempunyai seringai sexy itu lalu mendudukkan dirinya di atas kasur. Jemari panjangnya menyelipkan helaian merah jambu calon wanitanya di belakang telinga.
"Jangan menyentuh ibuku!" Akashi sudah tidak tahan lagi. Bocah yang merasa ibunya dalam bahaya itu, kemudian menaiki ranjang tempat ibunya berbaring. Beraninya orang asing ini berbuat hal tidak senonoh pada ibu tercintanya. "Menjauh darinya, mesum!" terikanya tepat di telinga Sasuke. Dan dengan sekuat tenaga, Akashi mendorong Sasuke hingga terjengkang dari tempat tidur.
"Oh shit!" geram Sasuke sembari mengusap pantatnya yang sedikit nyeri. Bahkan telinganya masih berdengung hebat akibat teriakan nyaring Akashi. Manik kelamnya menampilkan tatapan membunuh pada bocah sialan yang tengah tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
"Ck, bocah sialan!" kesal Sasuke yang mulai bangkit dari lantai. Pandangannya tidak lepas dari calon putranya yang masih membalas tatapannya dengan tidak kalah tajam. Namun, Akashi memiliki seringai yang terpampang di wajah imutnya.
"Aku 'kan sudah bilang untuk menjauh dari ibuku, tidak nurut, sih," ejek Akashi seraya menjulurkan lidahnya.
Sepertinya, Akashi tengah merasa berada di atas angin sekarang.
Sasuke seolah ingin meledak, dia tidak ingin kalah dari bocah merah menyebalkan ini. "Tidak akan pernah! Dan kau harus belajar untuk memanggilku tousan!" tuntut Sasuke dengan seringai kejam.
Wajah Akashi langsung berubah merah padam. Anak itu benar-benar tidak sudi memanggil orang didepannya itu seperti itu. Lagipula, dia tidak akan pernah menyerahkan ibunya begitu saja.
"Aku sudah bilang, aku tidak—"
Krauukk…
Perkataan Akashi terpotong oleh suara aneh. Dia langsung menoleh pada ibunya yang tengah mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba untuk menyesuaikan cahaya.
"Kaa-san tidak apa-apa?" tanya Akashi lembut. Sangat bertolak belakang dengan sikap yang ditujukannya pada Sasuke.
Akashi mengusap sedikit peluh di pelipis ibunya dengan tangan mungilnya, lalu mengecup kening Sakura yang sedikit lebar.
"Kaa-san baik-baik saja, Akashi-kun," ujar Sakura pelan. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Lalu tatapannya jatuh pada pria yang menjadi penyebab pingsannya. "Kau masih disini, Sasuke-san?"
Sejujurnya, Sasuke sedikit kesal dengan pertanyaan Sakura yang seolah tidak menginginkan kehadirannya. "Hn," balasnya datar. Kemudian manik kelamnya bersinar penuh tuntutan. "Bagaimana? Kau menerima lamaranku?" tanyanya dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Tidak bisa!" tolak Akashi menjawab mewakili ibunya. Meskipun dia masih kecil, namun dia tahu apa yang tengah dibicarakan oleh pria mesum yang berniat mencuri ibunya itu. "Kalau kaa-san sampai menikah dengannya, "kata Akashi sambil menunjuk Sasuke dengan jari tengahnya, "Aku akan mogok makan malam ini," ancamnya.
Sasuke hanya bisa terkekeh mendengar perkataan Akashi. "Kau yang mogok makan, kau yang lapar." Sasuke mencoba mencoba mengabaikan Akashi yang kedua telinganya sudah mengeluarkan asap. "Jadi, apa jawabanmu, Saki?" Sasuke kembali menuntut jawaban.
"Kau gila!" kesal Sakura. Bagaimana tidak kesal jika ada orang asing yang tiba-tiba melamarmu begiru saja dan membuatmu pingsan karena terlalu shock. Apalagi, orangnya sangat penuntut dan pemaksa seperti Sasuke.
"Hn, karenamu," balas Sasuke dengan seringai sexy-nya.
Kami-sama, bagaimana bisa dia bertemu dengan manusia gila seperti Sasuke ini. Mereka baru saja bertemu beberapa jam, dan sekarang ia sudah di lamar. Ada apa dengan pria ini?
Melihat ibunya digoda seperti itu oleh pria yang tidak disukainya, Akashi menampilkan wajah yang ditekuk berlipat-lipat. Kepala merahnya tengah memikirkan cara untuk menyingkirkan orang gila yang tiba-tiba melamar ibunya itu.
.
.
.
.
"Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" tanya Naruto setelah menghabiskan mangkuk keempatnya. Perutnya sudah merasa puas dengan ramen untuk hari ini.
Wanita di seberang mejanya menggeleng pelan, "Aku membawa mobil sendiri," tolaknya sembari tersenyum manis.
Namun Naruto tetep kekeuh ingin mengantar Hinata pulang. Dia harus tahu dimana tempat tinggal wanita yang menarik perhatiannya itu. "Tidak apa, aku akan tetap mengantarmu," paksanya dengan cengiran khas dirinya.
"Tidak perlu merepotkan diri," tolak Hinata sopan. Merasa tidak enak sekaligus sedikit kesal dengan pemaksaan Naruto.
"Tidak-tidak." Naruto menggelengkan kepalanya seperti model iklan shampo. "Aku akan tetap mengantarmu, karena kau itu sangat langka Hinata-chan," ujarnya dengan senyuman yang menyilaukan.
"Ugh, pria menyebalkan," batin Hinata kesal. Meskipun dia tengah dongkol setengah mati, namun senyum di bibirnya tetap hadir.
Karena mengetahui dia tidak bisa membuat alasan lagi, Hinata kemudian memanggil pelayan untuk membayar dua mangku ramen yang telah disantapnya. Saat wanita Hyuuga itu membuka tas dan mengambil dompetnya, Naruto terlebih dahulu mneghentikannya.
"Aku yang membayar," kata Naruto membuat Hinata menatap ke arahnya.
Dan sebelum Hinata membuka mulutnya untuk menolak, Naruto sudah mengeluarkan tiga buah kupon ramen gratis yang didapatkannya kemarin saat ada perlombaan memakan ramen. Kupon itu cukup untuk membayar enam mangkuk ramen mereka, karena setiap kupon berlaku untuk dua mangkuk.
Benar-benar cara mentraktir yang tidak elit.
.
.
Setelah setengah jam perjalanan, mobil hitam di depan mobil Naruto berhenti membuat dirinya juga ikut berhenti. Tidak lama, Hinata keluar dari mobilnya dan menghampiri Naruto yang masih diam di mobil nyentrik oranye-nya.
Saat melihat Hinata keluar, Naruto juga ikut keluar dari mobilnya. "Apa aku boleh mampir?" tanya Naruto penuh harap. Matanya sarat dengan permohonan.
Hinata yang awalnya berniat untuk pamit masuk ke dalam rumahnya dan menyuruh pria itu pulang, terpaksa tersenyum mengiyakan. Sebagai tuan rumah yang baik, tidak mungkin dia mengusir tamu seenaknya, meskipun tamu itu sangat menyebalkan.
Dan dengan berat hati, Hinata kembali masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin, lalu berbelok masuk ke rumahnya. Di belakangnya, mobil Naruto setia mengikuti mobil Hinata.
Di dalam mobil, Naruto tersenyum puas dengan langkah yang telah di ambilnya. Dengan dirinya mampir, Naruto berharap agar bisa lebih mengenal pujaan hatinya itu, kemudian melamarnya. Setelah itu, ia bisa pamer pada Sasuke. Naruto menyeringai akan hal ini, ia tidak sabar mengenalkan Hinata pada Sasuke sebagai calon istrinya.
"Si Teme, pasti iri," pikirnya.
.
.
.
.
Sudah sepuluh menit Sasuke berdiri di pintu dapur. Mata kelamnya tidak lepas dari tubuh mungil Sakura yang tengah berlenggak lenggok memasak untuk makan malam mereka. Setelah wanita itu bangun, dia memang sempat diusir oleh Sakura meski tidak secara langsung. Namun Sasuke cuek saja (lanjut terus). Malah ia berniat untuk menginap malam ini, meskipun dengan cara sedikit memaksa.
Untung saja Akashi tengah mengerjakan pekerjaan rumahnya di dalam kamar, jadi dia bisa leluasa meneliti calon wanitanya.
Saat ini Sakura menggunakan celana pendek selutut, membuat Sasuke bisa melihat tanpa hambatan betis mulus Sakura. Tidak hanya itu, tatapan Sasuke tidak lepas dari pantat Sakura yang ternyata kalau diperhatikan cukup menarik juga.
"Wow, aku baru sadar, pantatnya sexy juga," batin Sasuke menyeringai. Entah pikiran apa yang tengah berseliweran di kepala mesum Uchiha itu sekarang.
Namun, ada yang lebih menarik bagi manik kelam Sasuke dari sekedar pantat Sakura. Iris onyx-nya tidak luput memperhatikan ekspresi serius calon wanitanya ketika tengah memasak. Terkadang, dahi lebar Sakura sedikit mengerut saat dirasanya ada yang kurang dalam masakannya, dan dengan lincah wanita itu menambahkan beberapa bumbu lagi ke dalam panci. Helaian merah jambu Sakura yang disanggul menggunakan sebuah pensil—milik Akashi, mungkin— membuat leher serta tengkuk Sakura terekspos sempurna. Tentu saja hal ini membuat pikian-pikiran liar berlarian di kepala Sasuke.
"Aku tidak sabar menjadikanmu pengantinku," gumam Sasuke tanpa sadar. Mata kelamnya masih setia mengikuti gerak gerik Sakura.
.
Sakura yang tengah mengiris daun bawang merasakan tatapan seseorang pada punggungnya. Dan benar saja. Ketika menoleh, ia langsung disambut oleh kilauan onyx yang menatap penuh damba ke arahnya.
Tentu saja, Sakura merasa agak risih ditatap sedemikan rupa oleh Sasuke. "Lihat apa?" tanya Sakura dengan nada sedikit kesal.
"Pantatmu sexy juga," jawab Sasuke penuh seringai.
"Dasar mesum!" delik Sakura. Wajahnya merona merah antara marah dan malu dengan ucapan tidak sopan Sasuke. Dan tanpa sadar, Sakura mengiris daun bawang yang tinggal setengahnya dengan sangat cepat. Dan ajaibnya, dia melakukannya dengan mulus tanpa melukai tangannya seperti seorang chef yang sudah sangat ahli.
Sasuke yang masih berdiri dengan tangan bersedekap hanya tersenyum tipis sebagai balasan. Entah kenapa, melihat Sakura yang tengah kesal seperti itu menambah kesan sexy baginya. Dia memang tidak salah memilih, pikirnya bangga.
"Masaklah yang enak, aku akan melihat putra nakalku dulu," ujar Sasuke kemudian dengan nada memerintahkan. Dan sebelum Sakura membuka mulutnya untuk membalas perkataan Sasuke, pria itu sudah pergi menuju kamar Akashi.
Sakura hanya bisa memelototi punggung Sasuke yang menghilang di balik tembok. "Siapa dia, sih?" batin Sakura kesal. Pisau yang dipegangnya sedikit bergetar akibat kekesalan yang disalurkan melalui tangannya. Mungkin hari ini bukan hari baik bagi dirinya yang berzodiak aries. Apakah dia harus mencari lucky stuff untuk mengimbangi kesialannya itu. Entahlah, mungkin bisa dicoba.
Karena bagi seorang Haruno Sakura, bertemu Uchiha Sasuke adalah suatu kesialan. Namun dia tidak pernah tahu, akan ada benang merah yang akan terjalin di antara mereka.
.
.
.
.
Naruto duduk di ruang tamu kediaman Hyuuga. Mata birunya mencuri lirikan pada seorang pria yang beranjak tua itu. Siapa sangka, dia langsung berhadapan dengan calon mertuanya. Padahal putrinya saja masih agak susah ditaklukkan, sekarang ia sudah berhadapan dengan ayahnya.
Naruto bukannya tidak percaya diri, hanya saja pria di depannya sepertinya agak kurang bersahabat. Tatapan tajamnya tidak berhenti menghujaminya, bahkan setelah sepuluh menit ayah Hinata belum juga membuka suaranya. Hal ini membuat Naruto agak takut dan cemas. Tenggorokannya terasa kering, namun dia tidak berani meski sekedar untuk mengambil minuman yang sudah tersaji di atas meja.
"Jadi, apa hubunganmu dengan putriku?" Hiashi mulai menginterogasi Naruto dengan suara berat dan nada datar, namun penuh intimidasi.
Akhirnya, Naruto memberanikan diri menatap calon mertuanya. "Namaku Uzumaki Naruto, 27 tahun dan aku adalah calon suaminya Hinata-chan," jawab Naruto tegas, meski jantungnya bertalu-talu. Dan, tidak lupa. Senyum tipis menghiasi bibir Naruto untuk membuat kesan baik bagi calon mertuanya.
Namun, senyum di wajah Naruto langsung memudar tatkala lelaki awal lima puluhan itu menyipitkan mata ke arahnya. "Aku tidak akan merestui, pergilah bocah," ujar Hiashi datar. Meski begitu, nada tidak suka tersirat jelas di dalamnya.
Dan apa yang menjadi ketakutan Naruto terbukti, calon ayah mertuanya langsung menolaknya mentah-mentah. Apa tidak bisa dia menunggu hingga setengah matang? Untuk membuktikan dirinya. Sial! Ayah dan anak sama-sama susah ditaklukkan. Sepertinya ia harus memikirkan cara untuk membuat dirinya diterima oleh mereka.
Namun, Naruto tidak ingin pulang dengan kepala tertunduk. Dengan keberanian yang entah datang darimana, pemuda pirang itu berdiri tepat di depan sang kepala rumah tangga.
"Meskipun anda tidak merestuiku sekarang, tapi aku akan membuat anda menarik kata-kata anda kembali." Naruto berkata tegas, menatap Hiashi dengan penuh percaya diri. Lalu pandangannya beralih pada Hinata yang tiba-tiba sudah berdiri di sofa belakang ayahnya. "Tenang saja, Hinata-chan, aku akan berjuang untuk mendapat restu dari ayahmu," ucapnya penuh keyakinan.
Sedangkan Hinata hanya bisa melongo, tidak mengerti maksud pria yang baru dikenalnya itu. dan Hiashi, pria itu menatap Naruto dengan sengit.
"Aku pulang dulu, Tou-san," pamitnya kemudian. Mengabaikan delikan tidak suka dari calon mertuanya.
Dan sebelum Naruto benar-benar meninggalkan ruang tamu, ia menyempatkan diri untuk berpamitan pada calon wanitanya. "Kau terlihat panas dengan dress itu," bisik Naruto tepat di telinga Hinata. Sekilas, ia masih sempat memperhatikan lekuk tubuh Hinata yang terbalut sempurna dengan dress selutut itu.
"Wow, dia terlihat semakin sexy. Apalagi bagian depan belakangnya," pikir Naruto dengan seringai mesumnya. Tidak butuh waktu lama untuk kaki jenjangnya membawa dirinya keluar dari rumah besar tersebut.
"Tunggu aku, Hinata," gumamnya seraya memperhatikan sebentar pintu rumah yang baru dilaluinya itu. "Aku akan menjadikanmu istriku, secepatnya," imbuhnya seraya masuk ke dalam mobil.
Suara mesin yang menderu membuat Hinata melihat ke halaman depan, wajahnya masih merona merah akibat perkataan Naruto sebelumnya.
Ugh, berani-beraninya dia!
Dan Hiashi, pria itu meremas kuat koran digenggamannya, menyalurkan emosinya yang diakibatkan oleh pria kuning tidak tahu diri itu.
Awas kau, bocah!
.
.
.
.
Uchiha Sasuke berdiri di depan pintu yang daunnya sedikit terbuka. Menjulurkan lehernya, Sasuke mengintip kegiatan yang sedang dilakukan oleh bocah nakal yang sayangnya adalah putra Sakura itu. Kalau saja bocah merah itu bukan calon putranya, ia pasti sudah memasukkannya ke dalam karung lalu membuangnya di tempat sampah. Sasuke menyeringai dengan pikirannya ini.
Dan setelah melakukan pengamatan sekitar satu menit, Sasuke bisa menyimpulkan kalau putranya itu ternyata tengah bermain game online. Ckk, bukannya belajar. Berniat ingin mengagetkan Akashi, Sasuke perlahan membuka pintu sedikit lebih lebar agar memungkinkan dirinya masuk.
Dengan langkah pelan, lelaki itu berjalan menuju Akashi yang tengah duduk di meja belajarnya, dengan sebuah laptop berwarna merah. Tangan mungilnya sangat lincah meng-klik sebuah mouse untuk mengendalikan permainannya. Karena penasaran game apa yang tengah dimainkan Akashi, Sasuke sedikit menjulurkan lehernya.
Akashi yang sibuk menghajar salah satu lawannya tidak menyadari keberadaan Sasuke di belakangnya, dia terus saja meng-klik tombol mouse dengan semangatnya. Karena sebentar lagi, karakter yang dimainkannya akan menang. Dan yang membuat Akashi sangat bersemangat memainkan game ini adalah, karena karakter musuhnya ia beri nama Sasuke-baka. Meskipun ini hanya permainan, namun Akashi mengkhayalkan jika karakter yang sebentar lagi akan mati itu adalah Sasuke nyata.
"Mati kau!" desisnya. Sesaat kemudian, karakter yang bernama Sasuke-baka itu akhirnya ambruk dengan kepala berdarah.
"Khukhukhu…" tawanya penuh kemenangan. Mata merahnya bersinar cerah penuh kebahagiaan.
Sedangkan Sasuke yang baru mengerti dengan game yang dimainkan oleh Akashi mengeram rendah.
"Bocah nakal!" desisnya sembari menjitak kepala merah Akashi. Tidak terima kalau namanya dijadikan nama karakter di dalam game itu, apalagi dia mati dengan mengenaskan.
"Awww!"
Kepala merah Akashi terasa nyut-nyutan akibat jitakan Sasuke. Bocah merah itu mengerang kesakitan. Ia lalu menoleh pada sumber yang telah membuat kepalanya berdenyut itu. Saaat melihat Sasuke yang berdiri menjulang di belakangnya, Akashi kemudian naik ke atas kursinya dan berdiri menantang Sasuke.
"Keluar dari kamarku!" usir Akashi seraya menodongkan sebuah katana plastik pada Sasuke. Maniknya melotot tidak suka, giginya bergemeletuk karena marah dengan jitakan yang diterimanya.
Namun Sasuke menanggapi Akashi dengan santai. "Sebagai calon ayahmu, aku ingin melihat apa saja yang putraku lakukan," balasnya, sembari menjauhkan ujung lancip katana di lehernya.
Tetapi Akashi tidak menyerah, kini tangan kirinya sudah menggenggam sebuah pistol mainan yang di todongkannya tepat di kepala Sasuke. "Keluar atau mati?" tanyanya dengan seringai, memberi pilihan bagi Sasuke. Meskipun masih bocah dan sedang imut-imutnya, seringai Akashi cukup menyeramkan, bahkan Sasuke mengakuinya meski enggan.
Sasuke membalas seringai Akashi, sama sekali tidak gentar dengan ancaman bocah ingusan itu. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan, heh?" tantangnya. Tangan kanannya bergerak untuk mengambil pistol berwarna biru tersebut.
Namun sepertinya Sasuke kalah cepat. Akashi terlebih dahulu melesatkan peluru yang tersimpan dan tepat mengenai pelipis kiri Sasuke.
"Shit!" Sasuke meringis. Mengusap pelan pelipisnya yang terasa terbakar. Meskipun peluru pistol tersebut terbuat dari karet sebesar biji kacang polong, namun ternyata hasil bidikannya sangat sakit. Apalagi Akashi membidik di tempat yang tepat.
Sedangkan si pelaku bertingkah layaknya seorang penembak jitu. "Tembakanku memang tidak pernah meleset," katanya membanggakan diri sambil meniup asap imajiner di ujung pistolnya. Tidak lupa, seringai mengejek ia tampilkan untuk membuat musuhnya kesal.
Dan Sasuke yang tidak suka kalah dalam hal apapun telah memiliki rencana untuk serangan balik. Dalam satu kedipan mata, ia membanting Akashi ke kasurnya dan mengurung bocah itu dalam kungkungannya.
Akashi yang terkejut sempat berteriak, namun Sasuke lebih dahulu menutup mulutnya. Kini, pria itu berkuasa penuh atas bocah merah nan menyebalkan itu. Sasuke jadi penasaran, siapa sebenarnya ayah Akashi sehingga mencetak anak seperti itu.
.
Akashi masih berjuang, ia kemudian menemukan cara untuk membuat Sasuke melepaskannya. Lalu, dengan sekuat tenaga Akashi menggigit telapak tangan Sasuke hingga sedikit berdarah.
"Aww, apa yang kau lakukan setan merah?!" desisnya. Onyx-nya terlihat membara. Beberapa jam mengenal Akashi bisa-bisa membuatnya mengidap darah tinggi. Tetapi mau bagaimana lagi, Akashi adalah putra Sakura yang artinya calon anaknya juga.
"Aku tidak bisa napas, baka!" desis Akashi yang entah sejak kapan bisa berbicara kasar seperti itu.
Menyipitkan matanya, Sasuke menghadiahkan tatapan garangnya pada Akashi. "Kau harus—"
"Akashi-kun!"
—namun perkataannya terpotong oleh suara merdu yang mengalun indah yang memasuki gendang telinganya. Seandainya saja, nama yang dipanggil itu bukan bocah merah ini, melainkan dirinya.
Sasuke-kun, terdengar bagus 'kan.
Dan dengan berat hati, Sasuke melepaskan kungkungannya membiarkan Akashi berlari menuju Sakura.
Sepertinya, ia harus menunda balas dendamnya dulu. Kini, ia harus berhadapan terlebih dahulu dengan Sakura yang tengah menatap bosan padanya dengan tangan bersedekap.
"Waktunya makan, Sasuke-san. Setelah itu, pulanglah," ujar Sakura menyarankan, lebih tepatnya mengusir.
Namun Sasuke menghiraukannya, ia hanya menampilkan seringai tipis sebagai balasan. "Hn, dan panggil aku Sasuke-kun, Saki," titahnya. Lengan kanannya merangkul pundak mungil Sakura dan menyeretnya meninggalkan kamar Akashi. Untung saja Akashi sudah pergi ke dapur duluan, jadi Sasuke bisa sedikit menggoda Sakura tanpa gangguan.
Sakura memberi Sasuke deathglare andalannya, namun Sasuke sama sekali tidak terpengaruh. Malah, pemuda itu menjadi semakin tertarik dengan Sakura. Bahkan, tatapan membunuh Sakura seperti itu menurutnya sexy.
"Kau terlihat panas ketika memasak," ujar Sasuke sebagai balasan atas tatapan tajam Sakura yang ditujukan padanya.
Tanpa bisa mengendalikannya, rona merah terpampang jelas di wajah ayunya.
"Sial!" batin Sakura.
Dan Sasuke, hanya bisa menyeringai puas melihat reaksi Sakura. Mungkin peluangnya untuk mendapatkan Sakura cukup besar, namun ia masih harus berurusan dengan bocah merah sialan itu.
.
.
.
Tsuzuku
.
.
.
Banyak yang nanya, bapaknya Akashi siapa ya? Saya juga belum tahu, hihihi…
Dan setelah membaca beberapa riview mengenai pantat Sakura (maaf bahasanya), jadi udah diganti, hehehe…(kalu diperhatikan emang sexy, sih XD)
Mohon Maaf juga kalo scene Naruhina lebih sedikit, gomen ya #bungkuk
.
DAAAN untuk para readers dan riviewer, saya ucapkan terimakasih banyak. Ternyata fic abal ini mendapat tanggapan yang cukup positif.
Special Thanks:
Hima Maa, NaruHina-lover, ananananan, Neychan, Natsumo Kagerou, YashiUchiHatake, aeon zealot lucifer, haruchan, Uchiha Cherry Rania17, Bunshin Anugrah ET, Natsuyakiko32, ichiro kenichi, Nuria23agazta, hanazono yuri, Motoharunana, utsukushi hana-cha, Chitanda Chi-chan, iya baka-san, Blue-senpai, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, febri feven, haana, Guest, Anka-Cha, sofi asat, Eysha 'CherryBlossom, kirei-neko, Lukireichan, Dewa Perang, resa kaito chan, Kumada Chiyu, Hyuuga Divaa Atarashii, Kasizta-chan, Sridaily Cherry, ArisaKinoshita0, gadisranti3251, Mia Dullindal, Bellachan, Arufi, uchiha saara, white moon uchiha, Lhylia Kiryu, 1415, Fitri Anisa
Mind to Riview
