Arakafsya Uchiha Mempersembahkan:
"Real Family"
Characters: Sasuke U. & Sakura H.
Rate: T
Genre: Family/Drama
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Summary:
Sabaku Gaara. Anak dari Haruno Sakura dan mantan suaminya—Sabaku Sasori. Nakal, cengeng, jahil, dan tidak akan membiarkan pria manapun mendekati ibunya yang cantik ini. Jadi, bagaimana Sasuke Uchiha meluluhkan hati bocah nakal itu?
.
.
.
Enjoy reading
.
.
.
Sabaku Gaara baru saja bangun dari tidurnya, matanya mengerjap layaknya bocah biasa. Ia raih teddy bear cokelat yang selama ini menemaninya tidur, lalu memakai sandal beruang yang ada di bawah ranjangnya. Dengan langkah malas, ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju dapur untuk menemui ibunya yang mungkin masih berkutat di dapur untuk membuatkannya roti bakar—makanan kesukaannya.
"Mama," bocah berambut merah itu mendapati ibunya sedang menyiapkan roti bakar di atas piring.
"Hey, Gaara. Ohayou," jawab Sakura dan mengecup singkat pipi gembung puteranya yang baru saja duduk.
"Gaara, kau tahu? Mama ada dinas di luar kota, mungkin akan memakan waktu dua hari." Gaara hanya mengunyah rotinya dan menatap sang ibu dengan wajah polos.
Sakura tersenyum, "Mama bingung harus menitipkanmu pada siapa. Kau ada usul, honey?"
Gaara menggeleng bersamaan dengan suara deringan Samsung Note3 putih milik ibunya. Sakura mengisyaratkan Gaara untuk tetap duduk manis memakan sarapannya, sementara ia mulai menjawab panggilan tersebut.
"Ah, Sasuke-kun." Gaara masih tetap mengunyah makanannya dan menatap sang ibu, "Iya, aku masih bingung harus menitipkan Gaara pada siapa. Kau tahu dia anak yang terlalu aktif, aku—" Jade Gaara bertatapan secara tidak sengaja dengan emerald ibunya.
"Benarkah?! Ah, ya baiklah kalau begitu aku akan menitipkan Gaara padamu."
Gaara shock. Nafsu makannya hilang begitu saja saat melihat wajah ibunya yang tertawa sumringah sambil menempelkan benda kotak lebar itu di telinganya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka kecil menampilkan kesan imut dengan wajah panik yang dibuat-buat.
"Omaygosh." Jawab Gaara pelan saat melihat ibunya yang masih tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah, aku akan menjemputnya jam sembilan nanti. Selamat berkerja, aku mencintaimu."
Seorang pemuda berambut raven baru saja memutuskan sambungan telefonnya. Ia menyeringai penuh arti membayangkan kegiatannya hari ini dengan bocah berambut merah yang sempat berkenalan dengannya kemarin, "Ini akan menarik, ku siksa kau disini."
Dirinya bangkit dari bangku sarapan dan bergegas menuju kamar mandi. Sasuke memang sengaja tidak pindah dari mansion mewahnya, orangtuanya jarang pulang karena tugas di luar Negeri, sementara kakaknya itu akan pulang ke rumahnya dimana ada sang isteri yang akan mengurusnya. Tadinya ia berniat untuk menjemput Itachi yang baru akan keluar dari rumah sakit, tapi niat itu ia urungkan karena Sakura akan ke luar kota. Kalau tidak bertemu ya tidak usah pergi ke rumah sakit 'kan?
Selesai mandi, ia hanya mengenakan pakaian biasa. Kaos putih yang dilapisi jaket kulit hitam, dan jeans pendek selutut dengan sepatu Nike putihnya. Jiwa anak muda, harus tetap keren walau tidak ada yang punya. Ia membalurkan rambutnya dengan gel dan mengembalikan bentuk rambutnya yang sempat turun karena basah, ia raih kunci mobilnya dan segera keluar untuk menuruni tangga belakang yang menghubungkannya langsung dengan garasi mobilnya.
Pick Pick
Suara unlock pintu mobilnya menggema di ruangan lima kali lima meter itu. Porshce Panamera putih miliknya menyalakan lampu sen menandakan mobil dalam keadaan unlock, pintu terbuka ke atas menyediakan akses masuk bagi Sasuke. Pemuda itu menekan salah satu tombol yang membuat atap mobil terbuka, lalu segera memundurkan mobilnya begitu pintu garasi terbuka secara otomatis.
"Bocah sialan itu pasti akan tunduk." Katanya bersemangat.
Pagi ini mendung, dan Sasuke menyukai angin yang berhembus disaat mendung. Dingin, tidak sepanas matahari pagi yang kadang suka membakar kulitnya. Lagu Daylight mengalun berirama dengan jalannya mobil sedan mewah tersebut, meski tak dapat ia pungkiri bahwa lagu yang ia dengarkan sangat kontras dengan cuaca hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mama harus berangkat sekarang, Gaara." Suara Sakura terdengar begitu lembut di hadapan puteranya yang tengah merajuk.
Blam.
Pintu Cooper S merah itu tertutup. Sakura menurunkan tubuhnya, menyetarakan tingginya dengan Gaara yang masih merajuk. Bocah itu tidak bicara apa-apa, hanya memajukan bibirnya dengan pipi yang menggembung. Sakura memeluk tubuh kecil puteranya, lalu dibalas pelukan oleh tangan-tangan mungil milik malaikat kecilnya itu.
Satu kecupan mendarat di pipi Gaara, "Kau tampan, Gaara. Jangan memasang wajah seperti itu." ia tersenyum kala menyesap harum bubble gum yang ditinggalkan shampoo Bat Man yang puteranya kenakan.
"Aku tidak mau dengan paman ayam itu, Ma. Lambutnya aneh!" Kata Gaara setengah merajuk.
Sakura menggeleng, "Honey, dengar. Paman Sasuke adalah pria yang baik, kau harus bersikap baik pula dan jangan melakukan hal-hal yang pernah kau lakukan pada paman Naruto. Kau anak pintar anich mengerti maksudku 'kan?"
Gaara menunduk, "Tidak, tidak ada yang lebih baik dari papa."
Sakura menghela napasnya, dadanya mendadak sesak mendengar penuturan Gaara. Sakura mengusap rambut Gaara, "Ini bukan masalah apa-apa, kau tahu? Mama tidak ada hubungan apa pun dengan paman Sasuke, kami hanya teman anich tidak boleh menyakiti teman-teman mama seperti mama yang memperlakukan dengan baik semua teman-temanmu yang main ke rumah."
Ada keraguan yang terbesit di hati anak bocah itu, "Mama tidak boleh meninggalkan papa,"
Sekali lagi Sakura hanya mengecup kening lebar putera kecilnya, "Itu tidak akan terjadi."
Tin tin!
Suara klakson mobil membuat keduanya menoleh, Sakura tersenyum saat mendapati Sasuke disana—keluar dari mobilnya dengan senyum kecil untuk mereka berdua. Gaara mengikuti langkah ibunya ketika dirasa tangan Sakura menggenggamnya, ia hanya menatap datar Sasuke yang sempat tersenyum padanya.
"Kau akan berangkat sekarang?" tanya Sasuke saat melihat Cooper S merah itu dalam keadaan ready.
Sakura mengangguk, "Ya, dan kebetulan kau sudah datang. Terima kasih sebelumnya sudah mau mengambil alih tugasku untuk mengasuh Gaara,"
"Hn, senang bisa membantumu." Jawabnya sembari mengulurkan tangan pada Gaara, bocah merah itu melepas tangan ibunya dan beralih pada tangan Sasuke.
Kedua orang dewasa itu menurunkan tubuhnya mensejajarkan tingginya dengan Gaara. Sakura menatap Gaara lagi dengan senyum, seolah ia menegaskan pada puteranya kalau semua akan baik-baik saja. Gaara berjalan pelan dan mendekap ibunya dengan perasaan tidak rela, entah karena apa ia sendiri merasa kalau ibunya tidak boleh pergi jauh. Sasuke dan Sakura saling melempar pandang, keduanya tersenyum.
Sasuke mendekatkan kepalanya pada kepala Sakura, tidak melewatkan kesempatannya untuk mengecup Sakura yang tersenyum padanya. Keduanya mempersempit jarak, dan hampir berhasil bagi Sasuke untuk menempelkan bibirnya pada bibir Sakura. Hampir…
Plak.
Sasuke meringis sekaligus menatap sinis pada tangan kecil yang baru saja menampar pelan bibirnya, itu tangan Sabaku Gaara—bocah kecil berambut merah itu tersenyum dengan wajah polos tanpa dosa pada Sasuke, dan membiarkan Sakura menahan tawanya melihat kelakuan dua laki-laki di hadapannya. Ia bingung kenapa dengan cekatannya, Gaara membalikkan tubuhnya dari dekapan Sakura dan langsung menampar bibir Sasuke.
"Oh ma shit, bocah setan itu." ucapnya dalam hati saat melihat Gaara yang masih tersenyum ke arahnya.
"Oke. Cukup," Sasuke kembali berdiri dan disusul oleh Sakura yang tersenyum geli padanya. Mendapati tatapan menusuk dari kekasihnya, Sakura jadi tidak enak hati dan akhirnya mengusap lembut bibir yang sedikit memerah akibat tamparan Gaara tadi.
"Ku harap kau tidak menyesal, Sasuke-kun." Ucapnya pelan dan akhirnya menyerahkan Gaara pada dirinya, ia langsung melenggang masuk ke dalam mobil setelah mengacak rambut puteranya dengan gemas.
"Gaara, kemari!" ucap Sakura saat kepalanya menyembul keluar dari kaca mobil.
Gaara menurut, ia hampiri ibunya yang akhirnya keluar dari mobil dengan membawakan sebuah benda yang hampir sama dengan milik Sakura hanya saja ukurannya lebih kecil. Ia mengalungkan benda itu pada leher Gaara saat putera kecilnya itu berada di hadapannya.
Gaara mengernyitkan dahi, "Apa ini?"
Sakura tersenyum, "Ini namanya ponsel, kau bisa menghubungi ibu dengan menekan menu ini. Kalau kau tekan ini, kau akan menemukan banyak game kesukaanmu dan kalau ibu menghubungimu seperti ini—" ucapnya sembari mengajarkan tata cara menggunakan ponsel itu pada puteranya, "—kau harus geser jarimu anich yang warna hijau, mengerti?"
Gaara mengangguk senyum, "Kelen." Ia lirik tulisan Samsung yang bertengger di atas layar besar itu, sampai akhirnya Sasuke menghampiri mereka.
"Kau memberikannya S4? Kau bisa menanyakan kabarnya padaku, Sakura."
Sakura menghela napasnya, "Aku tahu, hanya untuk jaga-jaga. Kau tahu puteraku susah diatur, aku sudah menghubungkannya dengan GPS agar aku bisa memantaunya."
"Itu terlalu bahaya untuk anak seusianya," Jawab Sasuke menimpali, menatap Gaara yang sudah tenggelam dengan dunia permainannya.
"Aku mempercayakan keselamatan puteraku padamu," jawab Sakura pelan, ia menatap penuh harap pada Sasuke yang akhirnya menerima keputusan itu.
"Hati-hati, beri aku kabar." Sakura mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
==oOo==
"Baiklah, Gaara. Tugasku disini untuk menjagamu sampai ibumu kembali dari dinasnya, ku harap kita bisa berkerja sama dengan baik." Ucap Sasuke saat melihat Gaara yang baru saja duduk di sofa ruang keluarga miliknya.
"Tidak, Ayam. Tugasmu bukan untuk menjagaku, tapi melayaniku. Aku lajanya, oke?"
"Apa katanya?! Melayani?! Dan hey, panggilan apa tadi itu? Anak ini ingin mati muda rupanya." Sasuke menaikkan sebelah alisnya menatap Gaara yang tengah tersenyum polos padanya. Ah, anak kecil—turuti saja permainannya.
Sasuke membungkuk hormat, "Baiklah, Yang Mulia Raja. Sekarang waktunya—"
"Main." Sela Gaara cepat sambil nyengir lebar, memperlihatkan gigi susunya.
"Main?" Sasuke mengulang kembali kata-kata Gaara, "Sekarang kita harus ke super market untuk membeli…" Sasuke menghentikan ucapannya dan mengeluarkan secarik kertas di sakunya, "Susu, karena kata ibumu susu milikmu sudah habis. Lalu, kita harus membeli banyak cemilan untukmu."
Gaara menggeleng, "Tidak, Ayam. Kita akan main, kita akan pelgi setelah main."
"Gaara, dengar—"
"Main, atau kita tidak akan pelnah pelgi."
"Oke." Jawab Sasuke datar, menahan amarah yang membuncah di dadanya.
Gaara menyeringai penuh arti, ia bangkit dari duduknya dan menatap seisi rumahnya seakan berpikir dan meneliti. Lalu ditatapnya Sasuke yang kini menaikkan sebelah alisnya lagi sembari menatap bingung padanya.
"Kau bisa belhitung?" tanya Gaara dengan wajah ragunya.
Sasuke mengeryitkan dahinya bingung, "Belhitung? Belatung maksudmu?"
"Belhitung bodoh! Belhitung dari satu sampai lima puluh!" bocah berambut merah itu berteriak sarkatis.
Sasuke menyeringai, "Itu berhitung, Sabaku bodoh."
Kali ini Gaara sadar bahwa pemuda itu mempermainkannya, "Kau tahu aku tidak bisa bicara hulup el."
Sasuke menambah seringainya, "Kau baru mengucapkannya, Gaara. L, benar?"
"Eeeeeellllll!" bocah itu berteriak lagi, mencoba mengatakan er dengan cadel khas anak-anaknya.
"Oke then, Yang Mulia Laja. Aku akan belhitung untukmu, sepelti yang kau minta." Ucap Sasuke sembari tersenyum mengejek, sementara Gaara? Ia sudah kesal setengah mati pada pemuda gila di depannya ini.
"Telselah, hitung mulai sekalang."
Sasuke membalikkan tubuhnya dan bersandar pada dinding, ia menutup matanya sembari berhitung sesuai dengan permintaan Gaara.
"Satu…dua…tiga…"
Gaara berlari kecil menuju lantai atas, dengan cekatan bocah itu membuka pintu kamarnya dan mengambil keranjang mainannya. Ia tuangkan tentara-tentara kecil miliknya berserta dengan tank dan juga bola-bola kristal miliknya ke tangga. Terdengar suara Sasuke yang menggema di ruangan bawah telah menghitung sampai ke angka dua puluh. Ia harus bertindak lebih cepat.
Ia berlari menuju pintu belakang yang menghubungkannya dengan garasi mobil, ia turun melewati tangga besi melingkar dan mengeluarkan benang gulung dari sakunya. Ia melirik ke plafon putihnya dan menyeringai begitu melihat ember kecil siap tumpah. Dengan cekatan pula ia lilitkan benang jahit berwarna gold itu mengelilingi tangga, lalu melirik lagi pada plafon yang menggantungkan ember kecil miliknya.
"Dia akan tahu lasanya," ucap Gaara sembari tersenyum.
Jebakan itu sebenarnya memang dia buat sudah lama, dulu ia sering membuat rumahnya menjadi tempat bermain militer dengan ayahnya. Jangan tanya ia dapat dari mana semua ide konyol ini, ia selalu suka film Home Alone yang ditayangkan di TV dan itu membuatnya memiliki banyak ide untuk membuat jebakan.
Ia berlari melewati pintu garasi, lalu menuju taman tempat dimana bunga-bunga yang ditanam dan dirawat ibunya itu bermekaran. Ia raih gayung kecil berwarna merah muda itu di dalam ember dekat keran air, lalu membawanya sampai depan pintu masuk. Ia tertawa kecil saat mendengar Sasuke sudah menghitung sampai angka ke empat puluh, ia mengguyurkan air itu di depan pintu sehingga lantai granit putih itu basah.
"Empat puluh sembilan…lima puluh! Bersiaplah, Gaara!" teriak Sasuke dari dalam.
Gaara menempelkan wajahnya pada kaca jendela yang memanjang ke bawah, menatap Sasuke yang baru membuka matanya di dalam ruangan itu. Dia mengetuk jendela itu sampai pemuda berambut raven itu menoleh dan menyeringai pada Gaara yang sedang nyengir sumringah menunjukkan giginya lagi.
"Ku tangkap kau, bocah sialan." Ujar Sasuke sembari berlari menuju pintu keluar, dilihatnya Gaara yang sudah mulai berlari dan itu membuatnya sedikit bersemangat mengejar anak itu.
Bayangan Gaara yang akan ia siksa sebentar lagi sudah berkeliaran dalam benaknya, tanpa ia tahu bahwa lantai granit itu telah basah akan air.
Dugh!
"Aarrgh! Fuck, shit!" Sasuke menggeram saat dirinya terjungkal, sikunya membentur keras granit yang ia tapaki agar kepalanya tidak membentur lantai. Mungkin sekarang sikunya akan memar sedikit, tapi ia adalah laki-laki yang cool dan sangat tidak pantas bila ia menunjukkan raut wajah kesakitannya di depan bocah setan itu.
"Ayam, kau baik-baik saja?! Aku lupa mengatakan kalau lantai itu licin!" dilihatnya Gaara yang berteriak dari jarak beberapa meter di depannya, Sasuke bangkit dan mengejar bocah itu lagi.
Dia melihat Gaara masuk ke dalam garasi mobil, dengan cepat ia menyusul anak itu. Sasuke menolehkan kepalanya ke seluruh penjuru ruangan luas itu, tidak ada Gaara disana. Ia melihat ada tangga besi melingkar menuju lantai atas, Gaara pasti lari ke atas untuk bersembunyi. Ia menyeringai dan langsung berlari menuju tangga itu, tapi ia tidak melihat benang tak kasat mata itu disana. Ia menyenggolnya hingga benang itu putus dan jebakan selanjutnya berhasil mengenai dirinya.
Byur!
"Grrr….keluar kau, Sabaku Gaara!" Kali ini ia berteriak saat air itu sukses membasahi kepalanya, untung saja ia sempat mundur jadi hanya kepalanya yang terguyur air itu.
"HAHAHAHAHA! Apa yang kau lakukan disana, Ayam?! Kenapa kau basah seperti itu?"
Tidak menghiraukan ucapan Gaara, Sasuke mendelik dan bersiap mengejar bocah itu lagi. Gaara segera berlari terlebih dahulu, ia memotong jalan lewat belakang rumahnya yang akan menghubungkannya pada kolam berenang. Setelah berhasil memasuki dapur rumahnya, kemudian bersembunyi di bawah meja makan.
"Gaara, dimana kau?!" derap langkah kaki pemuda itu terdengar, jantung Gaara berdebar saat ia melihat kaki pemuda itu melewati meja makan dan menuju tangga. Gaara baru saja akan kembali tertawa, tapi ia kembali terkejut ketika melihat kaki pemuda itu berhenti.
"Kau memasang banyak jebakan rupanya, anak nakal."
Gaara merasa dadanya terasa sesak untuk bernapas, kalang kabut dan panik jadi satu. Ia yakin Sasuke akan mencincangnya habis-habisan jika berhasil menemukannya. Gaara melepaskan kalungan ponselnya dan meletakkan Samsung S4 itu di lantai, berlarian dengan mengalungkan ponsel sungguh menyusahkan dirinya. Tapi ia tetap bersyukur, tidak sia-sia dulu ayahnya sering mengajaknya lari pagi. Ia bahkan bisa menghindari pemuda Uchiha itu dengan gesit, ditambah ukuran badannya yang sangat mendukungnya.
"Kesempatan!" ucap Gaara dalam hati saat dirinya melihat kaki Sasuke dengan hati-hati menaiki tangga, ia keluar dari meja makan itu dan langsung menuju pintu dapur.
"Aku mendapatkanmu, Gaara!" teriak Sasuke sembari mengejarnya kembali.
Gaara terus berlari saat mendapari Sasuke mengejarnya di belakang, ia terus berlari melewati pinggiran kolam renang itu. Lantainya licin, dan Gaara kehilangan keseimbangannya hingga tubuh kecil itu masuk ke dalam kolam renang sedalam satu setengah meter itu. Ia tidak sempat berteriak, dirinya pasrah jika ia mati tenggelam. Mulutnya terbuka mengeluarkan gelembung air, ia sudah tidak bisa bernapas lagi.
Flashback
"Terus, Gaara…angkat kakimu, kerahkan tanganmu."
Gaara mengangkat kakinya terus menerus dari atas air, lalu dengan kasar menyipakkannya lagi pada air. Kedua tangannya digenggam erat oleh ayahnya, ia menaikkan kepalanya untuk mengambil napas dan bergerak maju.
"Aakhh!" Sasori langsung menarik tangan puteranya begitu ia mendengar suara Gaara yang menjerit pelan, ia dekap tubuh kecil puteranya yang mengalami kram di bagian kaki. Lalu bocah itu tertawa riang saat kedua tangannya berhasil meraih leher kokoh milik ayahnya.
"Anak nakal, kau pasti berpura-pura lagi hm?" gelak tawa Gaara semakin menjadi-jadi saat ayahnya mengangkat tinggi-tinggi tubuh mungilnya, mata jadenya terbuka menatap sang ibu yang juga tertawa di pinggir kolam renang. Sungguh suasana yang hangat di dalam sebuah keluarga.
"Ne, Gaara-kun. Kau sudah terlalu lama di air, kasihan papamu juga 'kan? Ayo kita makan siang." Suara ibunya menengahi tawa mereka, sampai Sasori akhirnya mengangkat tubuh Gaara ke tepi kolam.
"Hn, kalau aku cudah besal nanti aku akan jadi tentala yang kuat cepelti papa!" jawab Gaara sembari meraih uluran tangan ibunya.
Sasori mengangkat tubuhnya dari kolam, memperlihatkan tubuh toplessnya yang masih basah. Sakura melemparkan handuk padanya, sementara ia memakaikan jubah mandi untuk puteranya.
"Kau harus banyak makan agar cepat tumbuh dewasa dan menjadi tentara, honey." Jawab Sakura sembari mengacak pelan rambutnya.
"Tidak bisa berenang ingin jadi tentara?" Gaara menoleh dan memajukan bibirnya saat kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya.
"Oh, aku hanya bercanda. Kemarilah, anak manis. Kau akan jadi tentara yang hebat nanti." Ucap Sasori sembari mengulurkan tangannya.
Gaara menerima uluran tangan itu, "Aku bukan anak manis, papa." Ucapnya lagi saat Sasori mendekapnya hangat dan membawanya ke dapur untuk makan siang.
Flashback Ends
"Gaara, kau baik-baik saja?! Bukalah matamu, Gaara!"
Gaara merasa tubuhnya meringan, seperti bukan lagi berada di dalam air. Ia membuka matanya dan terbatuk saat mulutnya mengeluarkan banyak air, kepalanya pening bukan main. Ia melirik ke sekitarnya dan melihat wajah penuh ketakutan milik Sasuke, ia menyipitkan matanya pertanda bingung.
"Kau baik-baik saja?" Pemuda itu kembali bertanya, Gaara menggeleng.
"Ada apa?" suaranya bahkan seperti tercekat, Sasuke menghela napas.
"Kau hampir mati tenggelam, kau tahu?"
"Aku kedinginan…"
Sasuke mengangguk paham, diraihnya tubuh Gaara yang sudah basah kuyup. Ia menggendong anak itu menuju kamarnya dan segera menggantikan pakaian Gaara. Selesai menggantikan pakaian Gaara, ia segera menghubungi jasa housekeeper untuk merapihkan rumah Sakura yang sudah sangat berantakan. Diliriknya lagi putera kecil Sabaku yang tertidur, ditariknya selimut tebal itu hingga menutupi tubuhnya dengan sempurna.
Drrt Drrt
Sasuke menggeser jemarinya saat melihat nama Sakura terpampang di layar ponselnya, "Ya, Sakura."
"Aku akan terbang sebentar lagi, bagaimana keadaan kalian?" sahut suara di sebarang sana.
Sasuke tersenyum, "Kami baik, puteramu sedang tidur siang." Jawabnya berdusta, tidak ingin membuat khawatir Sakura.
"Terima kasih, Sasuke-kun. Ku harap ia mulai menyukaimu."
"Hn, berhati-hatilah kau disana."
"Kau tidak perlu khawatir denganku, aku bisa menjaga diriku baik-baik. Ah, ya jangan lupa belanja cemilan untuk Gaara ya?"
Sasuke mengangguk, "Ya."
"Aku akan merindukanmu, Sasuke-kun."
Sasuke mendengus geli, "Aku juga, Hime."
"Jaa ne. Aishiteru, Sasuke-kun."
"Aishiteru, Hime." Jawab Sasuke dan langsung memutuskan sambungan telefonnya.
Diliriknya lagi Sabaku Gaara yang masih tertidur, rasa kesalnya hilang begitu saja saat melihat anak itu tidak berdaya. Senakal-nakalnya Gaara, ia tetaplah bocah kecil biasa.
"Seperti ini rasanya menjadi orangtua dalam waktu beberapa jam. Menemaninya bermain, berlarian kesana kemari, lalu kau akan khawatir saat melihatnya terluka—walau luka itu disebabkan oleh kecerobohan anak itu sendiri." Ucap Sasuke dalam hati.
Ia lirik lagi kedua sikunya yang memar, ia tersenyum. Tidak terlalu buruk juga, berlarian dan berteriak seperti tadi membuat rasa penatnya hilang. Ia segera keluar dari kamar itu dan menemukan housekeeper yang sempat ia hubungi tadi sedang menyelesaikan pekerjaannya. Ia keluar menuju mobilnya, dan mengambil pakaian ganti yang memang selalu ia bawa untuk jaga-jaga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura tersenyum sesaat setelah mematikan ponselnya, ia duduk di dalam pesawat sembari sesekali melirik pada jendela pesawat. Matanya menatap kosong pemandangan itu, menerawang dan mencoba membayangkan Gaara yang tertidur siang dan Sasuke yang menjaganya. Ah, manisnya. Pemandangan yang sempat ia saksikan saat suaminya itu masih hidup.
"Sakura-san, boleh aku duduk disini?" Sakura menoleh dan tersenyum mendapati rekan kerjanya duduk di sampingnya.
"Dua hari tidak akan lama, puteramu akan baik-baik saja di penitipan." Ujar gadis itu sembari tersenyum.
Sakura tersenyum juga, "Ya, dia akan baik-baik saja."
-Tbc-
Author Note:
Haaaaaiiiii, terima kasih banget aku ucapkan pada orang-orang yang mendukung fic ini :* love you all hahahaha XD
Aku pribadi mengatakan minta maaf atas keterlambatan updatenya, mungkin habis ini aku mau update Red Rose Location yang udah mendekati final juga, terus sama Twin yang udah lama banget terlantar :'). Aku merasa garing banget di chap ini, datar dan gak ada kesan apa-apa. Maaf ya kalau jelek dan gak sesuai permintaan X"D
Masih berkenan review? Makasiiiiiiiiiiihhhhhh *kepanjangan*
-Give Thanks To-
Kirana Uchiha88 – Merrya Narcissa Bellatrix – Uchiha Cherry Rania17 – Eky-chan – Deauliaas – UchiHarunoKid – YashiUchiHatake – ichiro kenichi – hanazono yuri – Nyanmaru desu – Nuria23agazta – AkinaJung – Chitanda Chi-chan – Nawaki Riji – Vipris – sofi asat – Guest – bardere – Lhylia Kiryu – Iwahashi Hani – fn – Hana Kumiko – Antares – Michelle – Guest – Anka-Chan – rikaochan – love sasusaku – Seijuurou Eisha – Uchiha Fitri – amour-chan
Tanpa kalian, mungkin ini gak akan di keep :*
