"Megurine Luka-chan sudah pacaran dengan Gakupo."

.

.

.


.

.

.

Synchronized

Vocaloid © Yamaha Corporation

Synchronized © Shirokami Kurashi

.

.

.


Chapter 2: Me

Aku membuka mataku perlahan, silau. Argh, pagi hari memang menyebalkan. Aku tidak pernah mau bangun di saat pagi hari. Aku menatap langit-langit kamarku, merenung di pagi hari setelah bangun adalah kebiasaanku. Sudah dua minggu aku tinggal bersama Gakuko, dan hasilnya sejak saat itu aku merasa kalau hidupku sedikit ada warnanya. Paling tidak yang tadinya hitam pekat sudah jadi abu-abulah, dan ada sedikit warna lain yang tidak kuketahui. Itu hanya kiasan, karena pada dasarnya setiap hidup manusia sudah ada banyak warna, kan? Biru dari langit, hijau dari dedaunan, dan masih banyak lagi.

Sejak hari pertama kali aku tinggal bersama Gakuko, dia sudah banyak memberiku ceramah. Sebelumnya dia sangat mendukungku untuk mengejar Megurine, tapi setelah kuberitahu kalau Megurine sudah pacaran dengan Gakupo dia lebih menyarankanku untuk dekat dengan Rin. Dia bilang kalau dia merasa aku dan Rin cocok. Walaupun setengah tidak percaya karena aku tidak suka dengan tipe perempuan pettanko, tapi aku berusaha mempercayainya. Dia punya kemampuan khusus kan? Dia juga menceritakan padaku kalau sebenarnya Rinto menyukai Lenka, adik kembarnya sendiri, tapi dia tidak yakin dan tidak mau mengakui kenyataan itu. Gakuko bilang kalau perasaan Rinto itu bukan seperti perasaanku pada Gakupo, perasaan Rinto alami.

"Ohayou, Onii-san," sapa Gakuko yang langsung masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hebat kan? Bagaimana kalau aku sedang ganti baju? Tapi memang instuinsinya selalu bagus, hal yang kukatakan 'kalau' itu tidak pernah terjadi. Ralat, belum pernah.

"Onii-san, kalau tidak bangun sekarang bisa terlambat ke sekolah,", katanya lagi lalu melempar seragamku ke atas mukaku.

Aku langsung duduk dan turun dari ranjangku. "Ya, ya, ya. Kau keluar dulu aku mau gan—" belum selesai aku bicara, seperti biasa. Entah bagaimana dan sejak kapan dia sudah tidak ada di kamarku, dan pintu kamarku juga sudah ditutup. Awal-awalnya aku sempat agak takut karena kejadian-kejadian aneh ini, tapi sekarang aku sudah lumayan terbiasa. Orang yang memiliki indra keenam kan rata-rata memang agak aneh begitu. Atau karena aneh itu dia jadi memiliki indra keenam? Apapun itu, aku sendiri tidak begitu mengerti.

Begitu selesai ganti baju dan bersih-bersih aku langsung ke ruang makan. Perutku sudah berisik dari tadi. Gakuko sudah duduk manis di meja makan, dan sarapan hari ini atau maksudku sarapanku, seperti biasa. Isinya makanan yang memang seperti di menu-menu untuk diet sehat. Roti bakar, telur mata sapi, susu satu gelas. Lalu setelah itu Gakuko pasti membuatkanku bento, dia makin lama bukan seperti adikku lagi, tapi seperti sosok ibu buatku.

Aku melirik ke arah Gakuko yang sedang makan, dan itu membuatku sedikit berubah pikiran. Mungkin tepatnya sosok robot pelayan? Dia agak aneh, kadang senyum tawar tapi kadang juga senyum benar-benar tersenyum. Kadang raut wajahnya datar dan seperti menerawang tapi kadang juga ceria. Tapi satu hal yang pasti, dia suka menceramahiku. Setelah selesai makan dan cuci piring, aku berangkat ke sekolah duluan, baru setelah itu Gakuko berangkat. Kami tidak pernah berangkat bersama. Pulang-pun sendiri-sendiri. Aku tidak perlu takut Gakuko pulang malam, karena dia selalu pulang lebih dulu dan menyiapkan makan malam untukku. Semula kupikir begitu.

Pagi ini aku berangkat seperti biasa, masuk ke kelas, belajar pelajaran yang membosankan, lalu istirahat makan siang, kembali belajar, dan setelah itu pulang. Sebelum pulang aku dan Rinto selalu berbincang-bincang dulu, kadang Luki juga ikutan. Megurino Luki, murid pindahan sekitar dua minggu yang lalu. Yah, tiga belas hari yang lalu lah. Anaknya ceria tapi juga dewasa, dia cowok tulen dan sikapnya juga demikian, walaupun rambutnya berwarna merah jambu dengan iris azure yang jernih.

Dia pindah sekolah karena sekolahnya yang lama terjadi kebakaran, dan satu sekolah itu habis. Reputasi-nya cukup baik, dia disukai banyak guru. Sore ini aku duduk lagi sendirian di dalam kelas bersama Rinto. Ngobrol, membahas pelajaran, atau membahas festival kebudayaan sekolah. Aku dan Rinto memang sudah seperti saudara, kami membutuhkan satu sama lain. Bukan berarti bergantung satu sama lain. Rinto membuka-buka majalahnya lalu menutupnya dan melirikku. Aku membalas pandangannya dan menaikkan sedikit kepalaku.

"Kau sudah memilih lagu untuk festival nanti?" tanya Rinto. "Aku panitia untuk acara menyanyi seperti itu, kau beruntung bisa dapat informasi lebih banyak dariku. Setiap peserta menyanyikan tiga lagu, Gakuko sudah kuberitahu. Jadi? Apa lagumu? Apa Gakuko-chan yang memilihkan?"

"Ya. Tadinya aku mau lagu 'Remote Control', kebetulan lagunya cukup enak, ngebit-ngebit begitu. Tapi langsung dia tolak. Lalu langsung lagu kedua dulu, aku memilih lagu 'Alone' yang dinyanyikan penyanyi terkenal SeeU itu dan dia langsung menolaknya juga. Lagu ketiga aku tadinya mau menyanyikan lagu 'Orange', tapi langsung ditolak lagi. Tapi kemudian akhirnya dia setuju. Yang lagu pertama diganti lagu 'Fire Flower'. Dia bilang, supaya urutannya bagus pertama lagu 'Fire Flower', lalu 'Orange', lalu 'No Music, No Life.' Menurutmu bagaimana? Kau paham soal musik kan?" jawabku.

Rinto terkekeh. "'No Music, No Life', ya? Kalau dalam bahasa Jepang, musik itu kan 'gaku'? Jadi maksudmu tidak ada Gakupo tidak ada hidup?"

Mataku langsung membulat sempurna. "Apa maksudmu hah?" Aku mendelik, tubuhku langsung keringat dingin.

"Tidak apa, aku sudah tahu kok. Aku juga akan membantumu agar tidak jadi yaoi lagi, aku janji. Dan aku juga tidak pernah memberitahu siapa-siapa. Hanya pernah bertanya pada Gakuko-chan."

"AP—"

"Aku tahu dia juga tahu rahasiamu. Instuinsi kali ya? Dia bilang kau bukan yaoi sungguhan, karena kau hanya mencintai Gakupo karena salah paham dan atas perintah otakmu. Untuk selebihnya, kau masih normal. Jadi Gakuko bilang kalau kau itu jadi yaoi bukan alami, tapi karena depresi dan terlalu berpikir kalau kau itu gila dan yaoi. Intinya karena otakmu yang memerintahkan," potong Rinto, dia berbicara persis seperti Gakuko.

Aku tersenyum kecil. "Begitulah. Dia anak yang aneh," gumamku tapi cukup jelas untuk Rinto dengar, "Dia kadang tersenyum seperti diprogram, tapi kadang juga tersenyum dari hatinya. Dia mirip robot, robot yang diprogram untuk membahagiakan orang lain."

Rinto memandangku dengan aneh. "Kau jatuh cinta padanya ya?"

"Hah!? Mana mungkin!? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada anak aneh yang seperti robot itu," kilahku. Lagipula, seperti kata Gakuko. Aku harus mencari target lain. Aku berusaha berpikir dan sekuat tenaga berpikir kalau aku mencintai Lenka, agar nantinya aku benar-benar jatuh cinta seperti saat dengan Gakupo. Aku tidak mau dengan Rin.

Sebelumnya aku tidak masalah kalau perasaan cinta itu muncul karena otak yang memerintah, tapi sekarang aku mulai merasa tidak enak. Jadi yang namanya cinta sejati dan cinta pada pandangan pertama itu hanyalah dongeng belaka? Karena sesungguhnya cinta itu terjadi karena otak yang memikirkannya? Menyedihkan. Tapi itulah hidup, penuh dengan logika. Dan aku sedikit bersyukur karena aku bukanlah seperti robot. Ya kan?

Kalau kita mencintai orang itu karena otak kita terus-terusan berkata demikian, kita jadi seperti robot. Melaksanakan 'perintah' dari otak. Aku bersyukur karena sekuat apapun aku berpikir aku mencintai Lenka, yang ada mataku selalu beralih pada Rin. Argh, padahal aku tidak pernah berharap demikian. Gakuko tidak pernah mengatakan kalau cinta tidak bisa memilih, dia selalu mengatakan perasaan itu kita sendiri yang memilih. Dan sekarang akan kubuktikan kalau kata-katanya itu salah. Cinta memang tidak bisa memilih. Kemungkinan aku jatuh cinta pada Gakupo memang karena 'perintah' dari otak, tapi itu hanya cinta monyet. Karena cintaku yang sebenarnya... Rin.

Hah! Akan kudesak si Gakuko itu kalau teorinya tentang perasaan dan cinta itu salah. Ah, mungkin dia berpikir demikan karena dia seperti itu ya? Habis, Gakuko memang mirip robot sih. Cara hidupnya juga. Berdasarkan perintah.

"Aku mau pulang dulu," kataku singkat lalu berdiri.

"Len, lagu di festival kalau kau mau menyanyikan sekitar dua lagu lagi bisa kok, sebagai hiburan untuk penonton," ujar Rinto tiba-tiba.

"Ya. Eh... Rinto," panggilku pelan.

"Apa?" tanyanya.

"Apa Rin sudah punya pacar?" tanyaku balik.

"Rin selalu sabar menunggumu kok. Temui dia kalau sudah siap. Aku akan membantumu," ujar Rinto dengan senyum lebarnya yang khas.

Aku tersenyum mengerti lalu keluar kelas. Aku tidak sabar ingin pulang ke rumah, menceritakan perkembangan perasaanku yang cepat begini pada Gakuko, dan berterimakasih. Aku bukan yaoi lagi. Dan entah bagaimana dalam waktu yang singkat. Yah, mungkin Gakuko memang benar. Itu karena aku jadi yaoi hanya karena aku salah paham, dan karena 'perintah' otakku.

Aku berjalan dengan ringannya, dan senang. Mungkin aku akan menyatakan perasaanku pada Rin besok. Atau malah nanti malam? Yah, kalau ketemu deh. Daripada itu, aku langsung melihat ke arah toko kue yang kulewati barusan. Aku langsung mundur dan masuk ke toko kue itu. Aku harus berterimakasih pada Gakuko, jadi kupikir aku akan membelikannya kue. Walaupun aku tidak tahu kue atau masakan kesukannya, tapi sepertinya dia suka kue.

Jadi aku beli semu macam kue di sana. Kue coklat, kue keju, tiramisu, caramel, opera, black forest, dan mouse coklat, dan mouse jeruk. Setelah membeli kue aku melanjutkan perjalanan ke apartemenku. Hari ini aku senang, dan berubah jadi gugup saat di tengah jalan bertemu dengan Rin. Dia menyapaku dengan riang dan aku membalasnya dengan kikuk. Tapi aku ingat tujuanku dan aku langsung memanggilnya lagi.

"Ya?" sahut Rin begitu aku menahannya saat dia akan melanjutkan perjalanan.

Instuinsi. Pertama kalinya aku menggunakan perasaanku. "Eh... Mau berbincang-bincang sebentar?" Aku menunjuk kursi taman yang tak jauh.

Rin tersenyum senang dan mengangguk. Setelah itu aku dan Rin mengobrol banyak. Tentang idola, jenis musik favorit, makanan favorit, minuman, hewan, dan pelajaran. Ternyata Rin suka sekali dengan jeruk, dan puji Tuhan tadi aku beli mouse jeruk. Beruntungnya lagi, saat Rin berceloteh tentang makanan dia bercerita kalau dia sangat menyukai mouse jeruk di toko kue yang barusan kukunjungi tadi. Aku tersenyum lembut padanya. Untung mouse jeruk tadi aku beli belakangan, jadi kotaknya terpisah.

"Rin, ini," aku menyodorkan kotak berisi mouse jeruk itu, "Tadi aku barusan beli, kau suka kan? Untukmu, hadiah."

Wajah Rin langsung memerah dan saat itu juga jantungku berdegup kencang. Dan dadaku sesak. Apa ini yang namanya cinta? Apakah iya? Rin menerima mouse jeruk itu dengan malu-malu, kemudian dia tertawa kecil padaku dan itu membuat wajahku langsung memanas.

"Arigatou gozaimasu, demo... Ini hadiah untukku? Memang aku sudah melakukan apa?" Rin bertanya dengan malu-malu, imut sekali.

Aku tertawa pelan. "Terimakasih, karena sudah mencintaiku dan mau menungguku."

Wajah Rin kembali merah padam. "Aduh, Rinto cerita-cerita ya? Itu-itu-itu—"

"Aku juga," aku langsung memotong kalimat Rin.

Rin menatapku kaget. "'Aku juga'? Juga apa?"

Jantungku berdetak semakin tidak keruan. Hati ini rasanya senang sekali. Aku mendekatkan wajahku pada Rin, kupegang pipi gadis itu dengan lembut kemudian kukecup pelan bibirnya yang merah merona itu. Lembut. Rin memejamkan matanya dan wajahnya merah padam, aku terus mencium bibirnya kemudian melepaskannya. Aku tersenyum padanya, tapi masih belum menjauhkan jarakku dengan jaraknya.

"Aku tidak tahu ini saat yang tepat atau tidak, tapi... Aku juga mencintaimu, Rin. Cinta itu datangnya tiba-tiba kan? Aku percaya itu sekarang. Kau mau menjadi milikku kan?"

Rin menatapku tidak percaya, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan langsung memelukku. "Iya, iya... terimakasih Len!" seru Rin gembira, aku langsung membalas pelukan Rin. Aku senang aku bisa mengubah hidupku jadi jauh lebih baik dalam waktu yang singkat. Ini berkat Gakuko, berkat 'adik baru'ku. Walaupun mirip robot karena hampir tidak pernah menunjukkan perasaannya. Tuhan, terimakasih atas 'manusia robot' yang telah kau utus.


"Tadaima," seruku begitu sampai di apartemen. Aku senang sekali, sampai-sampai mau meledak rasanya. Aku sudah membayangkan Gakuko juga sudah pulang dan menyiapkan makan malam seperti biasa. Tapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya kan? 'Semula kupikir begitu'. Tidak ada sahutan, tapi lampu sudah menyala.

"Gakuko?" panggilku mulai cemas. Dia sudah pulang kan? Aku melihat sepatunya dan aku yakin dia sudah pulang. Aku melangkah lagi, dan aku menemukan tas-nya. Benar, dia sudah pulang. Kalau begitu, ada di mana dia sekarang? Dia tidak kembali ke sekolah lagi kan? Tidak, tidak, jangan ngawur dong Len! Aku memarahi diriku sendiri saking kacaunya. Sepatunya ada di rumah kan? Tubuhku mulai menegang dan nafasku terhenti. Entah kenapa, perasaanku mulai saling berkecamuk.

"Aku... berbeda dari orang lain. Aku divonis tidak akan bertahan hidup lebih dari tujuh belas tahun."

Tiba-tiba kalimat Gakuko waktu itu terngiang di telingaku. Mustahil... dia bilang tidak lebih dari tu—ah, dia bilang 'tidak lebih', ya. Jadi maksudnya, dia bisa saja sewaktu-waktu 'pergi'!? Kemudian aku teringat sesuatu. Tapi dia bilang kalau dokter mengatakan keadaannya membaik kan? Dia bilang dia akan sembuh kan? Dia bilang kemungkinan penyakitnya sembuh sembilan puluh persen, jadi tidak mungkin kan?! Aku langsung masuk ke kamarnya dan jantungku seolah berhenti berdetak. Gakuko tergeletak di lantai. Aku langsung menghampirinya dan mengecek denyut nadinya. Kepalaku seperti mau pecah dan tubuhku lemas sekali, denyut nadinya terlalu lemah untuk ukuran normal.

"Gakuko...," gumamku lirih. Aku langsung meraih ponselku dan memanggil ambulans. Pikiranku berkecamuk. Kenapa? Dia bilang akan sembuh!

"Musik dalam bahasa Jepang artinya 'gaku' kan?"

Perkataan Rinto di sekolah tadi terngiang di kepalaku, dan mengembalikanku pada realita, mengingatkanku pada teoriku tentang musik. Musik itu sekalipun sedih, tetap akan membuat orang lain tenang. Musik menyalurkan kesedihannya pada orang lain dalam bentuk hiburan, dalam bentuk 'obat kesedihan'. Negatif kali negatif sama dengan positif kan? Tapi ini tidak benar... Gakuko berbohong. Kenapa aku tidak sadar lebih awal? Seharusnya aku langsung tahu... Bukan kemungkinan sembuhnya yang sembilan puluh persen... dia membalikkan fakta untuk membuatku tenang. Yang sembilan puluh persen sebenarnya adalah kemungkinan tidak sembuhnya, dan kemungkinan sembuh hanya sepuluh persen.

Begitu ambulans datang, Gakuko langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aku tidak sanggup berpikir lagi, aku tidak sanggup berkata-kata lagi, aku hanya bisa menelepon Rin dan bertanya apa dia bisa menemaniku atau tidak. Aku bersyukur Rin bisa, tanpa bertanya dia langsung menyusulku ke rumah sakit. Setelah menelepon Rin aku langsung menelepon Gakupo. Saat sampai di rumah sakit Gakuko langsung dilarikan ke UGD, dokter menanyakan riwayat hidupnya dan aku hanya mengatakan dia ada leukimia dan divonis tidak akan bertahan hidup lebih dari tujuh belas tahun. Kemudian aku disuruh menunggu di ruang tunggu di depan ruangan Gakuko. Tak lama, Rin datang dan Gakupo datang bersama orang tuanya.

Aku terdiam, tidak tahu harus melakukan apa. Kemudian aku hanya berdoa terus menerus, memohon keselamatan Gakuko. Dia sudah mengubah hidupku, paling tidak biarkan aku mengubah hidupnya. Dia terlalu sering berbohong, aku bahkan tidak yakin apa yang dia katakan tentang hidupnya bahagia itu bukan suatu kebohongan. Yang bisa kupercayai darinya hanyalah keinginannya untuk membantu dan menghiburku. Senyum-nya, tawanya, sebagian palsu dan sebagian tidak. Dia aneh, dia seperti robot. Gakuko, sekarang aku memang berharap kalau kau itu robot. Sebab robot tidak akan mati kan?

"Len, bersabarlah...," ujar Rin lembut kemudian memeluk pelan bahuku. "Aku memang tidak pernah cerita, tapi aku dan Gakuko bersahabat baik. Dia pantang menyerah, dia pasti akan berjuang, Len..." Rin kembali berkata dengan lembut.

Aku mengangguk pelan dan berusaha menahan air mataku. Aku tidak boleh menangis, aku harus tetap tegar. Seperti Gakuko. Walaupun dia kesepian, tidak sekalipun aku melihatnya menangis atau ingin menangis. Dia selalu mengikutiku, seolah menunjukkan kalau dia tidak akan menangis diam-diam. Aku memegangi keningku, kepalaku benar-benar mau pecah sekarang dan seluruh tubuhku terasa kecut. Aku takut. Aku tidak mau kehilangan Gakuko, aku benar-benar sudah menganggapnya seperti adik sendiri, aku menganggapnya sebagai keluargaku...

KLEK

Dokter keluar. Aku, Rin, dan Gakupo langsung berdiri. Tenggorokanku tercekat dan aku tidak sanggup bertanya. Aku terlalu takut untuk bertanya.

"Dokter, adik saya?" Gakupo bertanya dengan cemas.

"Anda... keluarganya?"

Gakupo, paman, dan bibi mengangguk lemah. Dokter itu melepas topi bedahnya dan menunduk, raut wajahnya menunjukkan penyesalan. Aku pernah dengar dari Gakuko kalau sudah ada pendonor baru yang bersedia mendonorkan tulang sumsum-nya. Jadi... bukankah seharusnya Gakuko bisa diselamatkan? Apa tidak bisa karena pendonor itu belum kecelakaan atau masih sehat?

"Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi..." Dokter itu menghentikan kata-katanya dan menarik nafas panjang. Dia menatap kami semua dengan pandangan ikut bersedih. Dan aku berharap detik berikutnya tidak pernah terjadi. Dokter itu melanjutkan kata-katanya, "Tuhan sudah punya rencana-Nya sendiri."


Lonceng kematian yang berbunyi benar-benar menyenandungkan sebuah requiem untukku. Aku menatap kosong pada bohe yang bertuliskan nama Kamui Gakuko. Rin memegangi lenganku dan ikut menatap sedih. Aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh lagi, dan menikmati setiap rasa sakit yang menyerbu jantungku. Gakupo berdiri di sampingku, dia tidak menangis sedikitpun. Meneteskan air mata setetespun tidak. Selama upacara pemakaman dia hanya menatap datar ke arah peti mati, dan bibirnya terkunci rapat. Luka menangis tidak berhenti, bahkan sampai sekarang masih. Tapi kemudian Gakupo meminta Luka untuk pulang duluan karena masih ada yang ingin dia bicarakan dengan Gakuko. Aku berdiri tidak jauh dari Gakupo yang sedang berdiri di samping haka Gakuko. Menatapi salib di atas batu nisan kotak yang pendek.

"Gakuko pernah mengatakan padamu kalau perasaan itu bisa ditekan kan? Kalau cinta itu otak yang mengatur," tiba-tiba Gakupo membuka suaranya.

"Ya," jawabku tercekat.

"Tapi dia berkata begitu hanya karena dia tidak pernah bisa menekan perasaannya," lanjut Gakupo lirih. Dia masih menatapi salib Gakuko.

"Orang yang dia cintai itu..."

"Nakajima Gumiya," lanjut Gakupo.

Oh, aku kenal. Nakajima Gumiya, aku mengenalnya saat penerimaan murid baru di SMP, saat aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Pemuda berambut hijau dengan iris hijau zamrud yang menawan dan dengan kacamata hitamnya. Jadi dia orang yang disukai Gakuko?

"Tapi kenapa dia malah memilih tinggal bersamaku untuk menyembuhkanku? Apa karena Nakajima sudah punya pacar?" tanyaku lirih.

Semula, suasana masih hening. Kemudian Gakupo tersenyum tipis, "Bukan. Aku menemukan surat cinta yang ditujukan pada Gumiya satu tahun yang lalu, dan aku bertanya pada Gakuko kenapa dia tidak memberikannya. Aku lalu diam-diam memberikannya langsung ke rumah Gumiya, dan yang menyambut adalah adiknya, Nakajima Gumi. Gumi langsung menangis begitu aku menitipkan surat cinta itu. Gumi lalu mengajakku masuk ke kamar Gumiya, dia menunjukkan surat cinta yang sama, ditujukan pada Gakuko dari Gumiya. Gumi mengatakan kalau Gumiya sering bercerita tentang Gakuko dan betapa dia mencintai Gakuko. Tapi dua bulan setelah penerimaan murid baru, Gumiya mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku menyembunyikan rahasia tentang surat cinta Gumiya, tapi akhirnya Gakuko tahu juga yang sebenarnya.

Selama tiga tahun dia berusaha sekuat mungkin menekan perasaannya dan berusaha mencintaimu Len, tapi dia tidak pernah berhasil. Dia sering terlihat depresi, tapi hanya ditunjukkan lewat senyum tawarnya itu. Dia berusaha meyakini, kalau sekarang ini Gumiya melihat dan mengawasinya dari Surga. Dan meyakini kalau mereka saling mencintai dan menjalin hubungan, di dua dunia yang berbeda. Karena tidak pernah berhasil itu dia selalu mengatakan kalau perasaan manusia berdasarkan 'perintah' otak. Sambil berkata begitu dia terus berjuang mencintaimu. Sampai sore sebelum dia ambruk, tiba-tiba dia meneleponku dan mengatakan 'aniki, ternyata aku sangat mencintai Gumiya apapun yang terjadi dan berapa lama-pun'. Setelah itu dia mematikan teleponnya," Gakupo menjawab panjang lebar. Dan sekarang aku mengerti dengan apa yang telah terjadi, semuanya.

"Dia merasa hidupnya bahagia, karena sejak kecil papa dan mama juga aku selalu menemaninya. Tapi dia tahu kalau kau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, dan kau merindukan kasih sayang dari keluarga. Begitu tahu paman dan bibi mau 'menyembuhkan'mu, Gakuko langsung menyatakan dia ingin membantu. Semula kami semua tidak setuju, tapi dia bilang, 'aku sudah merasakan cukup kebahagiaan, dan usiaku tidak lama lagi. Sebelum aku 'pergi', aku ingin membahagiakan orang yang berada di dekatku, yang belum pernah merasakan kasih sayang'. Akhirnya kami setuju, karena itu permohonan pertama sekaligus terakhir Gakuko. Aku tahu kau tidak akan macam-macam pada Gakuko, tapi aku tetap saja khawatir. Itu pertama kalinya Gakuko berada jauh dari kami sekeluarga, tapi Gakuko selalu menelepon dan berkata dengan riang, 'sudahlah! Kebahagiaan Len-kun adalah kebahagiaan kita juga. Untuk sekali dalam hidupku, aku ingin membuat Len-kun bahagia. Karena dia ingin tapi tidak bisa'. Dan aku tahu, apa yang dikatakan Gakuko selalu benar. Itu kemampuannya. Seolah Tuhan berkata melalui dirinya." Gakupo kembali berkata dengan lirih.

Aku menunduk, lalu berdiri di samping Gakupo. Rin memegangi lenganku. Dan aku menatap lembut ke arah Rin.

"Rin, maaf aku tidak menceritakan ini padamu, aku—"

"Shht," Rin langsung memotong kalimatku, dia tersenyum dengan lembut, "Aku tahu, dan aku mengerti. Ingat? Aku dan Gakuko bersahabat baik, dan kami sudah seperti bisa telepati. Sekarangpun iya."

Aku tertegun, tapi kemudian aku ikut tersenyum lembut dan mengangguk berterimakasih. Ya, semuanya sudah usai, atau mungkin kebalikannya. Gakuko, gadis aneh yang muncul di pagi hari setelah aku pingsan. Si 'manusia robot' yang seolah hidup hanya berdasarkan perintah. Aku menyayanginya, sangat. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri, tapi Tuhan memang sudah punya rencana-Nya sendiri. Aku mendongak dan menatap langit, tersenyum kecil.

Gakuko, kau pasti senang ya akhirnya bisa bertemu Nakajima. Walaupun sekarang si 'manusia robot' sudah tidak ada lagi, walaupun si 'musik' yang menyalurkan kesedihannya pada orang lain dalam bentuk penghiburan kini berada di dunia yang berbeda, tapi dia tidak pernah pergi dari satu tempat di dunia ini. Gakuko selalu ada di sini, di hati kami semua.

The End

Well, ide ini mendadak jadi maaf kalau abal. Check-nya hanya sekilas, jadi, sumimasen kalau ada typo orz. Mind to review?