Mango disini, ini chapter 2nya.

Read and Review guys

I don't own Naruto

-Sour-

Ucapan Gaara yang sangat manis, menyenangkan namun membunuh Sakura perlahan.

"Akrab!" Sakura mengerang kesal. Bagaimana bisa dekat? Bila Sakura hanya tahu nama dan status pria itu, tidak ada embel-embel lebih.

Bagaimana bisa mereka akrab? Sakura bahkan tidak tahu kesukaan Gaara, apa yang tidak ia suka dan mereka bahkan tidak pernah mendiskusikan ini. Hanya formalitas, Sakura akan datang memijat Gaara, menyerahkan dokumen atau apapun yang bersifat sangat normal.

Bagaimana bisa Gaara bilang bahwa mereka akrab? Bahkan Sakura tidak pernah mengangap Gaara temannya, bahkan nama pria itu kini masuk dalam daftar yang harus dijauhi.

Rumor tentang Sakura, ninja Konoha yang akrab dengan Kazekage mereka bergema dengan jelas setiap kali Sakura memasuki satu ruangan ketempat lain. Semua wanita menatapnya, mencibirnya bahkan menghinanya secara terang-terangan.

Sakura membanting mejanya kayu miliknya dengan kekuatan ekstra miliknya, menghancurkannya untuk kedua kalinya kali ini. Emosinya sedang buruk saat ini, saat seorang wanita tua berkata padanya bahwa ia dan Gaara akan melahirkan anak-anak yang lucu.

"Bagaimana bisa, dia seorang aseksual! Dia tidak tertarik kepadaku! Kenapa mereka mengharapkan anak dariku!"

Kini ada dua grup Pro dan Kontra antara hubungan mereka.

Grup wanita dan pria yang umumnya sudah dewasa, memilih mendukung Sakura mengingat wanita itu sangat ramah terhadap semua orang, sifat keibuan miliknya serta bagaimana mandirinya Sakura terhadap semua kebutuhannya. Mereka yakin Sakura mampu merawat Kazekage mereka.

Sementara wanita yang lebih muda, bahkan ada beberapa pria muda yang diam-diam ngefans sejati Gaara. Tidak suka, bahwa Sakura menjadi kekasih Kazekage, mengingat ia adalah ninja luar yang mungkin dapat merusak Sunagakure. Mereka tidak mau memiliki Kazehime dari luar desa dan tidak mau mengakui bahwa Kazekage mereka tertarik kepada wanita dari desa lain.

"Hell! Aku juga tidak mau menjadi istri pria itu!" erangnya kesal.

Sakura berusaha menghilangkan rumor tersebut. Tetapi Gaara berpikiran berbeda, pria itu menambahkan bara kedalam api yang menyala-nyala.

Mood Gaara tidak selalu baik, semua orang Sunagakure mengetahui hal itu. Jika mereka tidak hati-hati ada kesempatan Gaara bisa meremas mereka dan menghilangkan mayat mereka begitu saja.

Tetapi Gaara dapat dengan mudah menenangkan semua kekesalan yang menimpanya dengan menyebutkan kata kunci.

"Sakura-san, Kazekage memanggil anda."

Jika Gaara hanya memanggilnya, berarti Sakura akan memijatnya. Jika Gaara meminta dokumen maka Sakura akan menyerahkan dokumen dan sebuah pijatan, jika Gaara datang ketempatnya pertanda mereka akan makan bersama.

Tingkah laku Gaara seolah membenarkan rumor yang terjadi. Sakura berusaha lari, ia berusaha bergerak cepat bahkan terakhir kali dua Anbu yang berhasil menangkapnya. Ia ingin memberontak, tetapi Gaara lebih pintar dari pada itu.

Berkali-kali Sakura menjelaskan bahwa mereka tidak dekat, semuanya adalah hal yang berbau bisnis, tidak ada romantis sama sekali. Tetapi mereka tidak percaya.

Kazekage mereka yang tidak pernah dekat dengan wanita kecuali kakak perempuannya sendiri sekarang dekat dengan Sakura.

Sebuah gosip bagus untuk masyarakat Suna.

"Sakura-san, Kazekage..."

"Aku tahu, aku akan segera kesana."

-Sour-

Gaara menyambutnya dengan muka masam. Ia menekuk kedua tangannya di hadapannya dan menutupi mukanya, matanya bergerak gelisah. Ia menunggu di mana wanita itu, bukankah ia sudah memanggilnya.

Gaara melirik jam di mejanya, sudah lewat lima belas menit. Apakah Sakura bermain trik dengannya? atau ia harus membawa banyak Anbu agar wanita itu datang dengan segera.

Gaara dengan cepat membuka pintu dengan pasirnya, bahkan sebelum Sakura mengetuk pintu. Menatap Sakura dengan waspada. Wanita itu masuk kedalam ruangannya.

"Kau bertengkar lagi?" tanya Sakura, berjalan ke belakang kursinya.

"Mereka benar-benar menguji kesabaranku kali ini!" serunya kesal. "Sudah berkali-kali aku bilang bahwa pembangunan gedung baru adalah pemborosan!" seru Gaara. Ia tidak menaikan nadanya, tetapi Sakura jelas mendengar ancaman Gaara.

Sakura menghela nafas, "Kazekage-sama, lemaskan pundakmu."

Gaara tidak bergerak, bahunya masih tegang akibat pertengkaran dengan dewannya. "Karena aku masih muda, aku sudah dua puluh lima tahun sialan!" serunya bersesis.

"Kazekage-sama, lemaskan pundakmu."

"Lakukan Sakura-san, aku tidak punya banyak waktu!" ucapnya menatap dokumen-dokumen di tangannya.

"Aku tidak bisa jika pundakmu tegang!" kali ini ada nada kesal dari suara Sakura.

Gaara meliriknya, mendongak, berbalik, menutup matanya dan menghela nafas. "Maaf, aku kesal dengan mereka."

Sakura tersenyum kecil, "Aku tahu. Aku sudah sering berurusan dengan dewan ketika aku masih magang dengan Tsunade-sishou,"

Gaara hanya mendengus kecil mendengarnya.

-Sour-

Mood Gaara tidak pernah bagus akhir-akhir ini. Pria itu semakin sensitif akhir-akhir ini. Terakhir Sakura masuk ruangan Gaara, beberapa barang sudah berantakan di mejanya, ia memijat pelipisnya dan berbaring di sofa tamu di ruangannya.

Sakura tidak akan bertanya, ia akan melakukan tugasnya dengan baik. Memijat aliran cakra dari kepala Gaara dan pundak kemudian mood Gaara sedikit membaik dan ia akan melanjutkan pekerjaannya.

Orang di kantor Gaara sudah sangat terbiasa dengan kebiasaan itu. Bahkan mereka memanggil Sakura adalah 'Miracle doctor'. Panggilan itu bukan tanpa alasan, jika Kazekage mereka dalam suasana hati yang buruk, para pekerjanya tidak akan memasuki ruangannya sampai Sakura datang dan melakukan sesuatu sehingga Kazekage mereka bisa kembali ke seperti semula.

Sakura tidak menyukai pemikiran mereka, menjadikan Sakura tumbal atas kemarahan Gaara. Memang Gaara tidak menyerangnya, tetapi pijatan ini semakin lebih sering akhir-akhir ini.

Bahkan nyaris setiap hari. Seolah dewannya selalu membuat masalah dan membiarkan Sakura mengurusnya! Sakura benci pemikiran itu.

Waktu rumah sakit yang semakin padat, pertengkaran Gaara dengan dewannya membuat waktu Sakura semakin terhimpit. Belum lagi rumor aneh yang menyebar.

Pertengkaran dengan dewan yang semakin memanas, membuat Gaara menahan semua emosinya dengan mengurung diri di kamarnya. Kankurou akan mengambil alih tugasnya sementara dan berharap Sakura segera datang ke rumahnya menenangkan Gaara sebelum dia memutuskan untuk membunuh salah satu dewannya.

Tetapi kejadian dua hari yang lalu adalah kejadian yang berbeda.

"Itu adalah kejadian paling bodoh dalam hidupku!"

Walaupun Gaara memang menyebalkan, tetapi dia adalah pria yang sopan. Ia tidak memanggil Sakura di jam-jam random dan selalu di jam kerja.

Tetapi kali ini berbeda. Sakura menguap perlahan, membuka pintu dengan tidak nyaman. Seorang ninja pasir mengetuk pintunya dengan tidak sabar. "Kazekage ingin bertemu dengan anda,"

"Jam dua pagi?" tanya Sakura dengan masam.

"Kazekage baru saja pulang, ia bilang kepalanya sakit sekali kali ini. Ia meminta anda menemuinya,"

"Aku mengerti," jawab Sakura, mengambil mantel hangatnya dan berjalan pergi.

Andai saja Sakura tidak memiliki sifat baik, andai saja ia memiliki sedikit kecuekan Sasuke, sedikit saja. Maka ia tidak akan terjebak dengan rumor yang berkembang saat ini.

-sour-

Rumah Kazekage, Sakura tidak pernah memasukinya sedikitpun. Tetapi cerita dari Temari, bahwa Gaara menempati rumah milik ayahnya yang dulu dipakainya sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, walaupun sekarang sudah berbeda.

"Kau pasti akan terkejut Sakura. Kudengar Gaara sudah merenovasinya kembali,"

Sakura tidak yakin, tetapi sepertinya pria itu suka melakukan beberapa hal yang tidak perlu.

Rumah Kazekage, menjulang tinggi di hadapannya. Perlindungan yang cukup banyak disekitarnya, Gaara mengeluh perlindungan itu tidak perlu, tetapi ketika ia dicuri Akatsuki para dewannya tidak mau mengambil resiko kehilangan Kazekage mereka.

Cih, Sakura ingat, bukan cuma Kazekage. Melainkan gurunya juga mengalami hal yang sama, mereka suka sekali berlebihan tentang pengamanan untuk seorang kage.

Sakura ingat ketika gurunya membanting meja pada saat rapat dengan kesal. "Sudah berapa kali kukatakan! Jangan merubah rumahku!"

Sakura bersyukur bahwa dewan tidak ikut campur dengan rumah Kakashi atau Naruto tetapi tetap saja beberapa Anbu berkeliaran menjaga rumah itu 24 jam.

Gaara adalah pria sombong, Sakura tahu itu. Dengan semua prestasinya, darah bangsawannya (Bagi masyarakat Suna saudara pasir adalah seorang bangsawan) melihat rumahnya Sakura tahu mengapa pria itu bisa tumbuh dengan urat nada kebanggaan yang membuat Sakura mengeleng kepala.

Rumah Gaara, besar dibandingkan rumah sekitarnya. Itu bukanlah komplek sembarangan, hanya orang tertentu yang tinggal disana bahkan sepertinya ada beberapa dewan yang tinggal di daerah itu. Ketika Sakura memasuki ruangannya, banyak sekali barang-barang dengan pernak-pernik. Sederhana tetapi sangat elegan, tidak berlebihan tetapi menampilkan bahwa Gaara memiliki selera yang bagus dalam mendekor rumah.

Ninja pasir itu memasuki rumah sepi itu. Rasanya aneh bila, diluar Sakura dapat melihat dua atau tiga orang pengawal tetapi ketika ia masuk rumah besar itu sepi seolah tak berpenghuni.

Mereka menaiki tangga dalam diam, baik Sakura ataupun ninja pasir itu hanya diam. Ruangan Gaara terletak paling atas, beberapa dekorasi unik khas Sunagakure terpajang dengan rapi menyambut perjalan mereka sebelum Sakura menatap pintu besar ruangan itu.

Lantai atas hanya milik Gaara seorang.

"Ini ruangannya Sakura-san," ucap pria itu dan menghilang dalam kepulan asap.

Sakura menatap pintu itu gugup, belum pernah Gaara memintanya kerumahnya. Pria itu terlalu menyimpan rapat semuanya dan Sakura juga tidak tertarik untuk mengenal pria itu lebih.

"Dia meminta bantuanku. Aku profesional dalam bidang ini, aku sudah berkali-kali melihat banyak hal. Dia adalah teman Naruto, aku harus menghargainya." Menarik nafas lebih dalam, "Aku tidak akan mengecewakan Konoha, aku..."

Sakura mengetuk pintu itu perlahan, tidak ada jawaban, ia mengetuk lebih keras lagi. Masih hening. Apakah Gaara mengerjainya? Membangunkannya jam dua pagi bahkan ia masih mengenakan pakaian tidurnya. Sakura memutar perlahan kenop pintu itu dan disambut dengan Gaara yang berbaring di karpet ungu berbulu miliknya, pasir-pasirnya menahannya tubuhnya agar tidak jatuh di lantai.

Sakura mengigil ngeri!

"Gaara!" serunya menjerit, bahkan saat ini Sakura tidak menyadari bahwa ia memanggil Kazekage dengan namanya. "Oh tidak, apa yang terjadi? Apa yang terjadi?" ucapnya berulang-ulang. Ia mendekati tubuh pria itu dan mendekapnya, menyentuh nadinya memeriksa apakah Gaara masih hidup atau tidak.

Nadinya ada, Sakura memeriksa sekelilingnya. Ruangan itu rapi, tidak ada tanda-tanda perkelahian, hanya tutup labu yang sudah jatuh dan pasir-pasir itu berusaha melindungi Gaara hanya itu keanehannya.

Wajah Gaara memucat atau memang kulit normalnya seperti itu? Sakura bertanya-tanya, mengapa ia tidak pernah memperhatikan warna kulit Gaara sedikitpun.

Mendekatkan wajahnya di dada Gaara, detak jantungnya sangat lemah saat ini.

"Racun?" desis Sakura berbahaya. Ia mengalirkan cakra di tangannya memeriksa tubuh Gaara dengan perlahan.

"Gaara?" pria itu masih diam, "Gaara!" Sakura berseru agak keras, menguncang perlahan tubuh Gaara.

Tidak ada jawaban.

"Kumohon jangan mati!" ucap Sakura berbisik, sambil mengalirkan cakra memeriksa tubuh pria itu.

Perlahan tangan Gaara bergerak, ia membuka matanya perlahan, nafasnya terengah-engah seolah ia kesulitan untuk bernafas. "Sakura-san," pangilnya lemah.

"Apa yang terjadi Kazekage-sama?"

Mata Gaara menyipit, "Gaara,"

Tentu Sakura tahu nama pria itu. "Aku tahu namamu Kazekage-sama!" seru Sakura panik, apakah otaknya terbentur?

"Gaara,"

"Iya kau Gaara. Kazekage ke lima, apa yang terjadi denganmu?" ucap Sakura, apakah Gaara tidak yakin dengan dirinya sendiri?

Gaara hanya diam, memegang perutnya kemudian ia merasa mual. Gaara berusaha menahannya dengan menggigit bibirnya.

"Apa kau diracuni?" tanya Sakura. "Oh tidak, bagaimana bisa? ANBU ada disini!" ucap Sakura panik.

Gaara memengang perutnya lagi, menekannya. Sakura menyadarinya, "Kenapa dengan perutmu Kazekage-sama?"

"Gaara,"

"Aku tahu itu Kazekage-sama!" ucap Sakura kesal dengan tingkah laku Gaara kenapa pria itu menyebutkan namanya berkali-kali.

"Sakura-san," panggilnya lemah. Sakura menatapnya, ia tidak menemukan kerusakan apapun pada tubuh pria itu. Tidak ada racun, tidak ada jaringan yang robek, pria itu tampak sehat.

"Apa yang terjadi Kazekage-sama?"

"Gaara,"

"Demi Naruto sang hokage! Aku tahu namamu," ucap Sakura.

"Panggil aku Gaara,"

"Oh," hanya itu jawaban Sakura. Ia benar-benar panik sampai tak mengerti kenapa Gaara menyuruhnya memanggilnya dengan nama depannya. "Kenapa?"

"Sa.. kura-san," ucap Gaara mengigit bibirnya. Menatapnya dengan pandangan nar-nar.

"Apa yang terjadi Gaara? Aku ninja medis, katakan apa yang terjadi!"

"Sa.. kura-san," panggilnya berat.

"Ya Gaara! Aku disini, aku disini!" ucapnya perlahan berusaha tenang. Ia tidak boleh panik, tapi ini Gaara pria yang nyaris tidak pernah terluka kini terbaring lemah di lantai! Bagaimana jika kesepakatannya hancur, bagaimana bisa Sakura di tuduh melukai sang kage? Hanya Sakura disini, sang saksi mata.

Tangan Gaara bergerak, ia menyuruh Sakura untuk mendekat kearahnya. Sakura dengan sigap mendekatkan wajahnya ke arah Gaara. "Kepalaku..."

"Kenapa dengan kepalamu Gaara?"

"Sakit... sakit sekali," ucap Gaara, ia berusaha menahan rasa sakitnya, raut wajah Sakura benar-benar khawatir. Mengarahkan cakra hijau ke kepala Gaara dengan sigap. "Dan aku..."

"Kenapa, ada apa?" tanya Sakura ia mengigit bibirnya khawatir. Apakah Gaara memiliki penyakit bawaan yang sering kambuh? Sakura juga tidak pernah memeriksa pria ini.

"Aku..." nafas Gaara berat, perlahan raut wajahnya menjadi tegang, ia menatap Sakura dengan pandangan bingung dan ragu. Bola matanya bergerak tidak nyaman.

"Kenapa Gaara?" Sakura menatapnya dengan lembut, menyentuh kening Gaara, tubuhnya sedikit hangat.

Gaara menatapnya ragu, "Aku tidak yakin..."

"Aku ninja medis Gaara, kau harus mengatakannya! Aku tidak bisa membantumu jika aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu!"

"Kau berjanji untuk, Aarrggh." Gaara mengerang perlahan menyentuh perutnya lagi. "Membantuku?"

"Aku akan membantumu! Aku berjanji padamu. Aku akan membantumu." Sakura mengigit bibirnya, ragu. Bahkan seperti biasa, ia tidak sadar akan ucapannya sendiri.

"Aku lapar,"

Jawaban singkat Gaara sukses membuat Sakura menjatuhkan tubuh pria itu, Gaara mengeram pelan dan mengusap kepalanya. "Kepalaku..." erangnya protes.

"Kau! Membangunkanku jam dua pagi hanya untuk membuatkanmu makanan?" tanya Sakura, ia berdiri dan menatap Gaara yang kini berdiri memengang bagian belakang kepalanya.

"Kau lihat rumahku. Aku sendirian saat ini, Kankurou pergi misi dan aku lapar. Tidak ada makanan disini, aku tidak bisa memasak!" jawab Gaara kesal, ia duduk di ranjangnya dan menatap Sakura. "Kau berjanji untuk membantuku bukan?" tanyanya dengan nada polos.

Lagi-lagi Sakura mengutuki kebaikan dalam hatinya.

-Sour-

Sakura menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan. Ia menatap layar televisi di hadapannya dengan tidak tertarik.

Ini adalah rutinitas baru untuk Sakura. Jika Gaara tidak memanggilnya pada saat kantor berarti Gaara akan memanggilnya jam pulang dan mereka akan berakhir di rumah ini.

Rumah Gaara sudah menjadi tempat biasa untuk Sakura. Bahkan Gaara tak perlu mengirimkan ninja pasir atau apapun melainkan pasirnya sendiri akan datang dalam bentuk kucing dan menganggu wanita itu sampai ia datang menuju rumahnya.

Sakura hanya menghela nafas, Gaara memanfaatkannya. Memanfaatkan kebaikannya dan disinilah Sakura terjebak bersamanya.

"Ini harus berakhir," ucapnya dengan geram, "hubungan tidak sehat ini harus berakhir!" erang Sakura meremas rambut merah di tangannya.

"Aarggh, Sakura kau menarik rambutku."

Sakura menatap pria di hadapannya, Gaara sedang berbaring pada bantal yang berada di paha Sakura, mata gioknya menatap Sakura dengan kesal.

"Apa!"

"Kau melukaiku," jawabnya singkat.

"Kazekage-sama. Aku..,"

"Gaara,"

Sakura mengeram kecil, "baiklah Gaara. Kau tahu bukan kenapa aku bisa disini?" tanyanya dengan menatap tajam pria itu.

"Tentu," ucapnya mengerakkan tangannya untuk Sakura melanjutkan pekerjaannya, ia memalingkan mukanya dan berbalik ke arah televisi plasma di hadapannya.

"Lalu mengapa aku disini? Di kamarmu? Di sofamu sementara aku memijatmu nyaris setiap hari! Bukankah aku seharusnya memperbaiki rumah sakitmu?" tanya Sakura dengan kesal. Bahkan rumor tentang hubungan mereka semakin memanas.

Setelah mereka tahu jika ada kucing pasir yang datang ke rumah sakit, tentu saja Sakura langsung pergi menuju rumah Gaara, tergantung kertas apa yang dibawanya. Rumah atau kantor.

Tentu saja petugas rumah sakit mengerti, bahkan terkadang Gaara menambahkan sebuah tanda tanya, meminta Sakura untuk memilih.

"Sakura-san, hubungan kalian sudah sampai disitu ya?"

Wajah Sakura memerah malu, "Diam Toshiro! Baik aku dan dia tidak memiliki apapun selain bisnis!"

Gaara mengerang kecil, ia bangkit berdiri. "Aku lupa Sakura-san. Aku belum memberitahumu sesuatu," ucapnya kemudian mendekati meja kerja yang berada di sudut ruangan, mengeluarkan sebuah gulungan. "Aku merubah misimu,"

Gaara memberikan gulungan dan sebuah surat kecil di tangannya, terdapat lambang hokage disana. Sakura menerimanya dan membuka gulungan itu, "Misi kelas A? Bagaimana bisa? Bukankah ini seharusnya misi kelas B?"

Menatap kembali gulungan itu membacanya dengan cermat, tidak ada keanehan dalam gulungan itu.

"Misi kelas A untuk memijat Kazekage? Aku sangat tersentuh." Sakura menatap Gaara dengan awas. Gaara nampaknya tidak peduli, menyingkirkan tangan Sakura yang berada di bantalnya dan berbaring dengan nyaman, bahkan ia sempat menepuk bantalnya merubah posisinya.

"Lanjutkan Sakura-san,"

"Aku membutuhkan tanganku. Kazekage-sama!"

Gaara hanya cemberut mendengar ucapan Sakura. Kemudian dengan malas ia mengambil remot televisi itu dan mencari acara menarik.

Beberapa hari ini Gaara berusaha pulang lebih awal, para dewannya juga tidak memiliki masalah dengannya, Gaara sedang dalam mood baik saat ini.

Sakura menutup gulungan itu menaruhnya disisi lain dan membaca surat dengan segel hokage di tangannya, membacanya perlahan.

Dear Sakura-chan.

Aku senang sekali ketika Gaara memberitahuku bahwa kau melakukan pekerjaan dengan baik, bahkan meningkatkan kualitas rumah sakit Suna. Aku sangat senang sekali Sakura-chan, kau memang bisa diandalkan.

Aku tidak tahu apa bagaimana detailnya, tetapi Gaara berharap dia bisa merubah status misimu dan memperpanjang misimu. Dia bilang bahwa rumah sakit dan dia sangat membutuhkanmu.

Ketika aku membacanya, aku senang sekali. Walaupun bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi, tetapi Gaara hanya menjelaskan bahwa rumah sakitnya sedikit kacau akhir-akhir ini dan berpikir jika Sakura-chan pergi maka rumah sakit tidak bisa bertahan.

Karena itu aku setuju untuk memperpanjang misimu Sakura, 1 bulan lagi dan Gaara meminta untuk merubah status misimu menjadi kelas A. Gaara sepertinya peduli terhadapmu, Sakura-chan.

Jangan bekerja terlalu keras Sakura-chan. Aku tahu kau gila kerja, tetapi Gaara berjanji bahwa ia tidak akan membuatmu bekerja keras.

Aku berharap ketika kau pulang, kau bisa menceritakan hal-hal yang menarik padaku Sakura-chan.

Salam hangat, Naruto.

Ps : Oh, aku lupa. Gaara memberikanku banyak sekali hadiah, bisakah kau bilang padanya aku sangat menantikan varian ramen lain dari desa Suna saat kau kembali?

Sakura meremas perlahan kertas di tangannya, "Kau!" serunya awas. "Kau menyogoknya? Kau menyogok Hokage dengan ramen untuk memperpanjang misiku?" seru Sakura bergetar hebat. Gaara menarik surat itu dari tangan Sakura dan membacanya.

'Naruto, kenapa kau tidak menyadari keanehan ini? Gaara memanfaatkanku, dia bahkan memaksaku untuk lembur dengan memijat kepalanya! Dia yang membuatku berkerja keras!' batin Sakura.

Gaara bangkit dari tidurnya, tidak menyukai tuduhan yang baru saja di lemparkan Sakura. "Aku tidak menyogoknya," ucapnya datar, melipat kedua tangannya di dada.

"Kau jelas-jelas memberikannya banyak hadiah! Bertingkah laku seolah aku berharga padahal kau tidak peduli kepadaku!" ucap Sakura frustasi, ia mengerang kesal, melemparkan bantal ke lantai.

"Aku selalu memberikan Hokage banyak hadiah. Mulai dari gurumu, Tsunade. Kau bisa bertanya kepadanya, darimana ia mendapatkan sake kualitas terbaik negara pasir! Hal seperti ini bukan hal baru Sakura-san," ucap Gaara mengerutkan keningnya.

"Lalu kenapa? Kenapa kau merubah misiku, memperpanjang masa tinggalku?!"

Gaara mengambil bantal yang tergeletak di lantai, "Aku peduli kepadamu Sakura-san."

"Peduli?" ucap Sakura dengan menghina. "Katakan bagian mana kau peduli kepadaku Gaara?"

Gaara memijat pelipisnya, "Aku peduli kepadamu. Aku berusaha agar misimu ini bukan hanya misi memperbaiki desa. Kau akan mendapatkan bayaran yang layak atas kerja kerasmu Sakura. Aku akan membayarmu lebih atas semuanya," ucap Gaara.

Sakura mengeram kesal, ia tidak suka dengan ucapan Gaara. Memang ia peduli terhadap rumah sakit Gaara, tetapi pertemuan dia dengan Gaara membuat moodnya semakin buruk. "Aku sangat tersentuh Kazekage-sama, betapa kau menghargaiku disini."

Gaara menyipitkan matanya, ia tahu bahwa Sakura mengeluarkan nada awas kali ini. Jika Gaara tidak hati-hati kemungkinan wanita itu akan melemparkan tinju mematikannya ke arahnya.

"Sakura-san," ucapnya perlahan. "Aku peduli kepadamu,"

"Hentikan omong kosongmu Gaara," ucap Sakura, ia melipat kedua tangannya dan berdiri, menatap Gaara dengan mengancam. "Berhenti bersikap peduli padahal kau tidak peduli denganku!"

Gaara tidak suka pembicaraan ini, ia mengigit bibirnya. "Jaga ucapanmu Sakura-san," ucap Gaara mendesis, ia tidak suka dengan tingkah laku Sakura. Ia berdiri dengan tegak, menatap Sakura dengan mata kesal. "Jangan lupa siapa aku disini."

Sakura mendongak, menatap Gaara, menampilkan wajah sombong miliknya. Wajahnya memerah kesal, ia benci dengan ucapan Gaara yang peduli. Pria itu jelas-jelas tidak peduli kepadanya dan hanya memanfaatkannya. "Oh iya, aku ingat siapa kau," ucap Sakura dengan nada mengejek.

Gaara menyipitkan matanya, "Kau adalah Kazekage agung sialan!"

Sakura memukul genderang perang untuknya sendiri. Gaara menatapnya datar, belum pernah ada orang yang menghinanya secara terang-terangan terutama ninja lain. Sakura memang tidak pernah patuh kepadanya, Gaara bisa bersabar akan hal itu tetapi menghina gelarnya adalah masalah lain.

"Aku mengerti Sakura-san." Gaara menatapnya dengan tajam, "Akan kuberitahu kepadamu, mengapa aku bisa menjadi Kazekage dalam usia muda." Gaara berbalik menuju ranjangnya,

"Kau bisa keluar sekarang,"

Kini ia terlambat, Ia menyatakan perang terhadap Gaara.

-TO Be continued-

Apakah kalian menyukainya? Apakah kalian menunggu fic ini? Apakah kalian masih menyukai Gaasaku?

Banyak sekali pertanyaan dalam pikiranku, kuharap kalian menyukai fic ini, aku menyukai sifat Sakura dan Gaara disini, mereka sangat menyenangkan.

Review please.

Love you.