Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso
Warning: AU, OOC, Humor garing
Deal With The Otaku
"Ciel, nanti... Kencan-lah denganku." ujar Sebastian langsung.
"EH?" tanya Ciel heran. Ia melihat wajah Sebastian yang menujukkan kepastian atas ucapannya itu.
"Iya. Kita akan kencan, kau mau?"
Ciel sedikit heran dengan apa yang Sebastian ucapkan. Apakah karena ia baru meninggalkan Sebastian sejenak, Sebastian berniat mengajaknya kencan.
"Sebastian..." panggil Ciel.
"Iya?" yang dipanggil memperhatikan Ciel.
"Kamu sakit?" tanya Ciel
"Tidak." jawab Sebastian sambil berjalan mendekati Ciel.
Ciel perlahan berjalan mundur dan Sebastian semakin maju mendekati Ciel. Hingga Ciel menabrak tembok di belakangnya dan Sebastian segera menatap ke arah Ciel. Ia hanya menyentuh pipi Ciel pelan.
Ciel merasa ada yang aneh dengan dirinya, jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat kencang. Wajahnya perlahan memerah, Sebastian tersenyum kecil melihatnya.
"Kenapa kau dekat-dekat?" tanya Ciel pelan.
"Lho... Aku kan mau mengajakmu kencan. Iya, kau mau?" tanya Sebastian lagi. Dengan iseng, dia melingkarkan tangannya di pinggang kecil Ciel. "Muach!" godanya
Ciel hanya menghela nafas saja, kalau keinginan Sebastian dituruti ia tidak akan terganggu lagi kan? Setidaknya itulah yang ia bisa pikirkan sekarang.
"Baiklah. Terserah kau saja." ujar Ciel.
Sebastian mendekatkan wajahnya dengan wajah Ciel. Dengan wajah mesumnya seperti biasa, dia mengambil bibir Ciel dengan ciumannya. Tampaknya Sebastian tidak merasa segan mencium Ciel. Lagipula ciuman pertama Ciel itu Ciel sendiri yang menyerahkannya.
"I'm yours." gumam Sebastian sambil tersenyum.
Wajah Ciel langsung memerah. Ia segera mengalihkan pandangannya dari Sebastian. Kali ini ia benar-benar merasa jantungnya bisa keluar kapan saja. Ia tidak ingin merasakan hal seperti ini, tapi rasa ini tidak bisa berhenti begitu saja.
"Kau mau kencan kan? Aku mau siap-siap dulu." gumam Ciel pelan sambil berjalan meninggalkan Sebastian. Tapi Sebastian menahan tangan Ciel. "Ada apa?"
"Kau terburu-buru ingin kencan denganku?" goda Sebastian lagi.
"Kau kan yang mengajak."
"Tapi tidak harus sekarang. Nanti saja jam sepuluh."
Sebastian menunjuk ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Wajah Ciel kembali memerah, tapi bukan karena tersipu dengan ucapan Sebastian. Ia malu karena mengira waktu kencannya adalah sekarang.
"Tapi, kalau mau sekarang tidak apa-apa." ujar Sebastian.
"Tidak!" Ciel langsung saja meninggalkan Sebastian dan menuju komputernya. Tampaknya satu hal yang mampu mengalihkan Ciel dari Sebastian hanyalah game miliknya itu.
"Ah~ kembali lagi seperti itu." gumam Sebastian.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Sebastian dan Ciel sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sudah seperti yang dibayangkan, Ciel sibuk dengan game miliknya, sedangkan Sebastian sibuk dengan rencananya.
'Aku tidak akan gagal. Akan aku ikuti semua.' batin Sebastian sambil menyeringai.
Ia sudah mempersiapkan dari A-Z apa yang akan ia lakukan ketika kencan nanti. Tapi seiring dengan suara Ciel yang cukup berisik itu, tampaknya Sebastian kembali ke dunia nyata. Ciel belum sepenuhnya jujur akan perasaannya itu.
"Ciel~ kenapa berisik sih?" tanya Sebastian.
"Kamu bodoh atau apa? Aku tidak menyukai bunga." ujar Rika.
"Huwee~ Rika-chan gak suka bunga ternyata~ salah milih~" Ciel segera menangis bawang bombay(?). Ia meneruskan game-nya dengan perasaan galau.
"Tapi karena kamu sudah membawanya untukku. Kupikir tidak apa."
"Yes! Rika-chan, kamu memang manis~" ujar Ciel sambil tersenyum.
Sebastian yang meliha kegilaan(?) Ciel itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memperhatikan wajah Ciel, terlihat bahagia. Tiba-tiba ia berpikir, Ciel tidak pernah menunjukkan senyum semanis itu pada dirinya.
"Hei Ciel..." panggil Sebastian. Ciel merasa dirinya dipanggil langsung saja menoleh.
"Ada apa?" tanya Ciel.
"Tidak... Hanya saja..."
"Apa?"
"Wajahmu terlihat bahagia..."
Tiba-tiba suasana menjadi hening, mereka berdua tidak ada yang berbicara. Sebastian memperhatikan wajah Ciel yang tampaknya bingung itu. Ia mendekat ke arah Ciel dan hanya mengacak-acak rambut Ciel.
"Hai, kenapa kamu suka mengacak-acak rambutku?" tanya Ciel.
"Entah," jawab Sebastian asal. Ia langsung saja mencium kening Ciel pelan. Wajah Ciel mendadak saja memerah. "Berangkat sekarang saja, yuk?"
"Ini belum jam sepuluh."
"Ah~ aku tidak mau melihatmu bersama dengannya~"
Ciel hanya menggelengkan kepala melihat Sebastian mulai bersikap manja lagi padanya. Ciel langsung bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Sebastian.
"Baiklah. Aku siap-siap dulu." ujar Ciel.
"Tentu, my lady~." jawab Sebastian, setengah menggoda.
Ciel langsung saja menuju kamarnya. Sejujurnya ia bingung dengan apa yang Sebastian lakukan. Terkadang membuat dirinya merasa, ah malu pada dirinya sendiri. Mengingat hal-hal yang terjadi tadi, wajahnya kembali memerah.
"Apa yang dia pikirkan sih?" gumam Ciel pelan. Ia langsung saja memilih baju yang akan ia pakai.
Sebastian menyeringai sembari menunggu Ciel kembali. "Hihihihi."
.
.
.
Tidak lama Ciel keluar, ia sudah siap. Sebastian memperhatikan Ciel yang memakai baju bewarna biru dengan celana bewarna hitam. Mau penampilan Ciel seperti apa pun, tetap saja Sebastian menyukainya.
'Ia keliatan manis.' batin Sebastian.
Ciel hanya menundukkan wajahnya, ia malu melihat wajah Sebastian secara langsung. Daritadi ia berusaha agar tidak terlalu sering menatap wajah Sebastian. Menyadari Ciel tidak menatapnya, Sebastian mendekat ke arahnya.
"Woi, kok nunduk? Jelek tahu." ujar Sebastian sambil mengacak-acak rambut Ciel.
"Apa maksudmu? Terserah aku kan!" elak Ciel. Tapi ia tidak keberatan Sebastian mengacak-acak rambutnya. Ia hanya tersenyum kecil saja.
"Tidak, tidak sayang. Karena aku yang mengajak kencan, jadi aku yang membuat aturan." Sebastian menjilati leher Ciel pelan. Tampaknya Sebastian mulai nafsu(?) melihat Ciel.
"Ah~" Ciel berusaha menghindari serangan Sebastian itu. Ia tidak ingin membuat Sebastian kehilangan kendali, karena pasti berakibat buruk padanya. "Kita mau kemana nih?"
"Kemana saja yang kamu mau~," goda Sebastian.
"Kamu yang ngajak harusnya kamu yang nentuin tempatnya." ujar Ciel.
Sebastian terdiam, iya dia yang harus menentukan tempatnya. Apalagi dia sudah mempunyai rencana yang bagus. Tiba-tiba saja ia tersenyum dan langsung menarik tangan Ciel.
"Baiklah. Ikut aku..." ajak Sebastian.
Ciel mengikuti kemana Sebastian mengajaknya pergi. Toh, pergi kelua tidak ada buruknya. Lagipula hanya "sebentar" kan? Ciel berdoa semoga mereka hanya pergi sebentar dan ia bisa meneruskan kegiatannya yang tertunda.
Sebastian mengajak Ciel berjalan-jalan saja di sekitar pertokoan, jalanan cukup ramai di hari Sabtu ini. Sebastian menggengam tangan Ciel lembut. Tiba-tiba saja Ciel merasa jantungnya berdebar kencang.
"Hei, kenapa kau menggengam tanganku? Lepaskan." tanya Ciel.
"Ah~ tidak apa-apa. Kita dilihat orang-orang sebagai kakak yang membawa adiknya jalan-jalan." ujar Sebastian. Mendengar hal itu Ciel langsung melepaskan tangan Sebastian.
"Siapa yang sudi jadi adikmu, hah?" tanya Ciel sedikit berteriak.
"Jangan teriak-teriak, kau menarik perhatian," ujar Sebastian. "Ah, kita ke cafe di sebelah sana saja. Kamu belum makan, kan?"
Ciel hanya mengangguk pelan saja, Sebastian kembali menggengam tangan Ciel dan membawanya menuju cafe. Tidak lama mereka telah sampai di sebuah cafe kecil. Sebastian langsung memilih meja paling ujung.
"Selamat datang. Silahkan ingin pesan apa?" tanya sang waiter.
"Hmm... Menu breakfast saja." jawab Sebastian.
"Menu breakfast? Untuk makanan saya menyarankan grilled ham dan minuman susu coklat. Anda mau?"
"Boleh. Kami pesan dua."
"Baiklah." lalu sang waiter itu pergi. Ciel tersenyum saja ke arah Sebastian.
"Kamu tahu aku belum makan?" tanya Ciel.
"Tentu saja. Daritadi kerjaanmu hanya main game." jawab Sebastian.
Tidak lama pesanan mereka datang dan mereka memakannya. Tampaknya tidak butuh waktu lama bagi Ciel untuk menghabiskan makanannya, mungkin ia kelaparan(?) dan butuh energi. Sebastian baru saja selesai makan.
"Kalau berikutnya ke toko buku? Kamu belum menyelesaikan tugas sekolahmu, kan?" usul Sebastian sambil menghabiskan minumannya.
Ciel langsung saja berubah pucat. Nyawanya melayang(?). Ia baru ingat ia memiliki tugas sekolah yang harus dikumpulkan hari senin.
"AH! Kok aku lupa? Yaudah kita ke toko buku. Aku mau cari buku disana!" seru Ciel sambil menarik tangan Sebastian meninggalkan cafe itu. Tentu setelah membayar pesanan mereka.
.
.
.
Akhirnya mereka sampai di toko buku, Ciel langsung berkeliling mencari buku fisika. Ia memang sedikit lemah di pelajaran itu, dan ia butuh buku panduan. Setelah ia menemukannya, wajahnya terlihat senang.
"Ah, akhirnya dapat juga." ujar Ciel.
Tapi tiba-tiba Ciel teringat sesuatu. Kenapa Sebastian harus mengajaknya ke toko buku, hanya untuk beli satu buku fisika? Ciel baru ingat Sebastian ahli fisika dan ia bisa bertanya pada Sebastian.
'Kayaknya ada sesuatu deh.' batin Ciel.
"Kamu sudah menemukannya?" tanya Sebastian yang tiba-tiba berada di samping Ciel.
"Su... sudah." ujar Ciel terbata-bata karena kaget.
"Baiklah. Ayo ke kasir."
Sebastian mengajak Ciel menuju kasir untuk membayar buku yang dibeli Ciel. Ciel kembali berpikir. Hari ini Sebastian memang aneh, meski dari dulu udah aneh*plak*. Tiba-tiba mengajak kencan, lalu makan di cafe dan ke toko buku.
'Ini...' batin Ciel kaget(?). 'Aku rasa Sebastian meniru cara kencan-ku ketika memainkan Ann-chan deh. Tinggal satu bukti lagi. Kalau dia mengajak ke taman hiburan, maka dugaanku benar.'
"Nih." Sebastian memberikan buku pada Ciel.
"Terima kasih." ujar Ciel pelan.
"Setelah ini... Kamu mau ke taman hiburan?"
Ciel shock banget. Wajahnya berubah merah(?), kuning(?), hijau(?)*lampu merah kali*. Sebastian yang melihat Ciel jadi aneh hanya mendekat ke arah Ciel.
"Kau kenapa? Sakit?" tanya Sebastian.
Ciel berusaha kembali ke dunia nyata(?), ia langsung menggelengkan kepalanya layaknya orang disco*plak*. Ia mencoba tersenyum di hadapan Sebastian.
"Ah, tidak... Ayo..." ujar Ciel.
Lalu Sebastian mengajak Ciel ke taman hiburan. Sedangkan Ciel, ia benar-benar bingung kenapa Sebastian mengikuti yang Ciel lakukan dalam game. Apa yang dipikiran pemuda yang sedang putus asa(?) itu? Hanya Tuhan yang tahu.
Akhirnya mereka berdua sudah sampai di taman hiburan. Ciel benar-benar tidak percaya bahwa Sebastian akan melakukan hal seperti ini. Mengajaknya kencan sesuai dengan pilihannya ketika bermain game. Salah besar kalau Sebastian mengira Ciel tidak tahu.
"Ciel, makan ice cream yuk?" ajak Sebastian.
"Ha? Bukannya kamu tidak suka yang manis?" tanya Ciel heran.
"Iya, kamu yang makan saja."
Sebastian mengajak Ciel menuju penjual ice cream yang sedang memberikan ice cream kepada beberapa orang. Sebastian membeli satu ice cream, bukan karena ia pelit. Tapi ia ingin melihat Ciel yang memakannya.
Si penjual ice cream itu sedikit gemetaran(?) saat memberikan ice cream pada Sebastian. Sebastian bingung melihat tingkah penjual itu.
"Ano... Bisa saya minta ice cream-nya?" tanya Sebastian.
"Sebby... Kamu tidak tahu siapa aku?" tanya penjual itu.
Tiba-tiba saja Sebastian merasakan aura-aura buruk dari penjual itu. Dan benar saja, penjual ice cream itu ternyata orang yang paling tidak ingin ditemui Sebastian untuk saat-saat ini.
"Grell-san?" Sebastian terkejut melihat jati diri penjual ice cream itu.
"Ini aku, Sebas-chan. Kyaa... Senangnya bisa bertemu di sini!" Grell dengan gaya centilnya langsung aja nempel-nempel kayak perangko. Ciel yang melihatnya hanya terdiam. Jauh di lubuk hatinya, ia tidak suka melihat hal itu.
"Grell-san, jangan nempel-nempel gini." ujar Sebastian.
"Ah~ tidak. Aku mau sama kamu~" ujar Grell genit.
Entah kenapa Ciel mulai kesal. Ok cukup ia melihat semuanya. Ia langsung saja pergi meninggalkan mereka berdua. Sebastian yang melihat Ciel pergi berusaha mengejarnya.
"Ciel!" panggil Sebastian.
"Sebby~ mending sama aku aja."ujar Grell manja.
Tapi Sebastian langsung saja melepaskan dirinya dari Grell. Ia langsung mengejar Ciel dan tanpa ia sadari ice cream yang ia beli ia lemparkan ke arah Grell.
"Eh? Kenapa kamu lempar aku sih~" keluh Grell.
Sebastian langsung saja mengejar Ciel, untung Ciel belum pergi terlalu jauh. Sebastian langsung saja menggengam tangan Ciel.
"Ciel, kenapa pergi?" tanya Sebastian.
"Kamu sudah bertemu dengan temanmu itu kan? Sama dia saja. Aku mau pulang!" ujar Ciel.
"Kamu marah?"
"Tidak. Aku tidak marah." Ciel berusaha melepaskan tangan Sebastian. Tapi tiba-tiba Sebastian langsung saja menarik tangan Ciel dan memeluknya. Wajah Ciel langsung memerah.
"Maaf, kalau aku bikin kamu marah." ujar Sebastian.
"Hei, lepas-" ujar Ciel pelan.
"Aku tidak akan melepaskanmu."
Dan terjadilah adegan romantis di sana. Tapi Ciel langsung saja memukul perut Sebastian pelan, dan Sebastian langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Ciel dengan air mata buaya(?) yang dibuatnya.
"Kamu... ingin aku pergi, honey?" tanya Sebastian dengan ala drama.
"Kamu liat sekeliling kalau bertindak!" seru Ciel marah-marah.
Iya, kalau beradegan romantis hanya ada berdua tidak apa-apa. Tapi ini di tempat umum, dan melihat kedua pemuda saling berpelukan itu terasa aneh bagi orang-orang. Kecuali bagi para fujoshi dan fudanshi.
"Kyaaa... Mereka manis sekali ya?" terdengar teriakan beberapa gadis. Bisa dipastikan mereka adalah fujoshi.
"Pemuda rambut kelabu itu pasti uke." ujar salahs atu gadis itu.
"Iya. Uke tsundere ya? Kawaii..." ujar temannya sambil berusaha menahan nosebleed.
"Seme-nya juga keren..."
"Kapan ada adegan kemesraan mereka? Aku mau siap-siap foto nih."
Itulah yang diteriakan para fujoshi di sana. Sayangnya, kami tidak ada di sana melihat kemesraan itu*maunya*. Lalu beralih kepada para fudanshi, mereka daritadi memperhatikan ekspresi Ciel yang imut itu.
"Dia manis sekali ya?" ujar seorang pemuda.
"Ah~ Kalau dia gak mau sama pemuda itu, mending sama aku aja." ujar pemuda yang lain.
"Jangan macam-macam. Dia milikku!"
"Aku!"
"Aku!"
Dan untuk para pemuda di sana, mereka malah rebutan siapa yang akan menjadi seme bagi Ciel. Tentu saja Sebastian tidak akan membiarkannya, ia langsung saja menarik tangan Ciel dan membawanya kabur. Para fujoshi dan fudanshi itu langsung mengejar mereka berdua.
"Tunggu! Jangan kabur!" seru mereka.
Saat para fans mengejar mereka, Sebastian dan Ciel berusaha berlari menghindari kejaran mereka. Sikap para fans itu membuat mereka kewalahan. Maklum, siapa suruh mereka beradegan romantis di tempat umum? Mengundang perhatian bagi para fujoshi dan fudanshi.
"Ciel, kamu bisa lari cepat tidak?" tanya Sebastian.
"Tidak." ujar Ciel.
"Ah~" Sebastian berhenti sejenak dan ia langsung saja mengendong Ciel ala bridal style. Para fujoshi itu langsung saja jerit-jerit heboh. Ada yang langsung memotret mereka berdua dan ada yang pingsan(?) di tempat.
"Kyaa... Aku dapat foto mereka!" seru salah satu gadis itu.
"Lihat dong?~" ujar gadis lain.
Sebastian memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur bersama Ciel. Tampaknya para gadis itu lupa tujuan mereka, mengejar Sebastian dan Ciel.
"Hei, kemana mereka?" tanya salah satu gadis.
"Mereka kabur!"
Tiba-tiba para pemuda yang tadi rebutan siapa yang ingin menjadi seme bagi Ciel menghampiri para gadis itu.
"Hei, kemana dua orang itu?" tanya salah satu pemuda.
"Entah." ujar gadis itu.
"Ayo kita cari."
"Yay!"
Mereka semua berusaha mencari Sebastian dan Ciel. Siapa yang akan melepaskan pasangan yaoi begitu saja? Mereka akan mencari Sebastian dan Ciel hingga ketemu. Sedangkan Sebastian sudah capek berlari menghindari serbuan fans dadakan(?) mereka.
"Tampaknya sudah aman." gumam Sebastian. Ia sekarang berada di sebuah taman kecil yang tidak jauh dari taman hiburan itu.
"Hei, cepat turunkan aku!" seru Ciel.
Sebastian menurunkan Ciel di bangku taman itu, padahal dalam hati ia merasa sayang banget. Lumayan kesempatan mesra-mesraan sama Ciel.
"Hei Sebastian..." ujar Ciel.
"Apa?" tanya Sebastian.
"Kamu... kamu meniru kencan dalam game ya?"
Sebastian langsung terdiam. Rencana briliannya ketahuan*iyalah*. Sebastian tidak menyangka Ciel akan menyadarinya secepat itu. Ciel yang melihat Sebastian terdiam hanya menghela nafas saja.
"Ternyata benar." gumam Ciel. Ia memperhatikan dirinya dan Sebastian... berada di taman. Wajahnya langsung memerah.
"Kau kenapa?" tanya Sebastian.
"Aku tidak akan menyatakan perasaanku ya!" ujar Ciel tiba-tiba. Sebastian terkejut mendengarnya.
"Ada apa?"
"Kalau kamu memang mengikuti kencan milik Ann-chan dalam game yang aku mainkan. Di sini kamu akan..."
"Menyatakan cinta? Aku akan melakukannya."
Wajah Ciel langsung saja memerah. Ternyata Sebastian memang mengikuti dalam game, kalau untuk game inilah akhirnya Tapi Ciel tidak akan jatuh ke dalam perangkap semudah itu.
Sebastian menggengam tangan Ciel dan langsung tersenyum ke arahnya. Wajah Ciel tampak lebih merah lagi. Ciel berusaha menahan debaran jantungnya.
"Aku... mencintaimu. Kau memang sudah sering mendengarnya," ujar Sebastian. "Tapi aku serius. Aku mencintaimu, dan ingin memilikimu. Bisa?"
Ciel mengalihkan wajahnya dari Sebastian, jantungnya benar-benar bisa berhenti karena hal ini. Tapi tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk(?) di dekat semak-semak. Sebastian melepaskan gengamannya dan mendekati semak-semak itu, dilihatnya orang-orang yang mengejarnya dan Ciel sedang bersembunyi.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sebastian.
"Wah! Ketahuan!" seru mereka kaget.
"Aku baru saja merekam pernyataan cintamu tadi." ujar seorang gadis pada Sebastian.
"Benarkah?" tanya teman-teman yang lain.
"Sebaiknya kalian semua pergi, sebelum kalian merasakan akibatnya." muncul aura iblis di sekeliling Sebastian. Dan mereka semua langsung saja pergi dari hadapan Sebastian. Mereka takut Sebastian akan mengambil rekaman tadi.
"Sebastian..." panggil Ciel.
"Ah, orang-orang itu keterlaluan." gumam Sebastian sambil geleng-geleng kepala.
Ciel tidak terlalu memperhatikan ucapan Sebastian tadi. Ia tersenyum kecil saja melihat tingkah Sebastian ketika berhadapan dengan orang-orang itu. Terlihat lucu.
"Ada apa, Ciel?" tanya Sebastian.
"Ah tidak..." gumam Ciel.
Tiba-tiba saja Sebastian mendekat ke arah Ciel dan memeluknya. Ciel sedikit terkejut dengan apa yang Sebastian lakukan.
"Hei... Lepaskan aku..." ujar Ciel.
"Tidak," ujar Sebastian. "Biarkan seperti ini sebentar saja."
Ciel tidak melawan, entah kenapa ia hanya menganggukan kepala dan membiarkan Sebastian memeluknya. Jantungnya berdetak sangat kencang, apakah Ciel mencintai Sebastian juga?
"Lalu apa jawabanmu?" tanya Sebastian.
"Eh?" tanya Ciel balik.
"Aku sudah menyatakan perasaanku padamu. Nah jawabanmu?"
Ciel tidak menjawab apa-apa, ia melepaskan diri dari pelukan Sebastian. Ia langsung saja berjalan meninggalkan Sebastian. Tapi Ciel mengulurkan tangannya dengan wajah memerah.
"Hei, genggam tanganku. Aku kedinginan." ujar Ciel malu.
Sebastian hanya tersenyum kecil melihat Ciel meminta hal yang imut seperti itu. Sebastian mendekatinya dan segera mengenggam tangan Ciel.
"Baiklah, kita pulang sekarang." ujar Sebastian.
"Iya." gumam Ciel.
Lalu mereka berdua berjalan bersama-sama menuju asrama mereka, Selama perjalanan Sebastian merasa genggaman tangan Ciel kuat, beda dari yang biasa-biasanya.
"Jadi... kita sudah bisa pacaran belum?" tanya Sebastian memastikan.
"Hmm~ entah..." jawab Ciel langsung.
"He? Kok gitu?"
"Biarin..."
Dan mereka berdua pulang dengan bahagia(?). Sedangkan nasib buruk terjadi pada Grell yang diomeli oleh bos-nya karena ia bertingkah heboh. Lalu para fans dadakan(?) itu menikmati foto dan video yang mereka dapatkan. Semuanya berakhir bahagia, mungkin.
The End
A/N: Akhirnya fic ini kelar juga. Di chap ini mungkin lebih banyak Romance daripada Humor. Setidaknya biar seru(?). Nah, ditunggu review dari minna-san semua.
Sign,
Blackish Girls
