Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

.


.

Don't Like Don't Read

.

~ Stay With A Murderer~

[chapter 1]

.

.

.

Ceklek

Lampu menyala dan tiba-tiba dia membuangku di atas lantai. Oh syukurlah, aku segera menarik napasku, akhirnya aku bisa bernapas lagi. Aku sudah tidak peduli jika dia ingin mengambil uang atau benda yang berharga atau yang bisa di jadikan uang untuknya, tidak masalah, asal dia segera pergi. Aku mencoba membuka mataku dan melirik ke lantai, kaki seorang pria dengan celana jeans, aku mulai mengangkat wajahku dan melihat siapa orang jahat ini.

Mataku melebar dan menatap seorang pria, dengan wajah putih pucatnya tengah menodongkan senjata tepat ke arah wajahku. Siapa dia? Apa dia benar-benar seorang pencuri? tapi ada yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya, tatapannya, rambut hitamnya yang mencuat kebelakang dan pakaiannya yang tak tampak seperti seorang pencuri, biasanya seorang pencuri akan memakai pakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan topeng atau semacamnya demi menutupi identitas pribadinya, bagaimana dengan seorang pencuri yang ada di hadapanku? Dia tidak menutupi wajahnya, bahkan dengan setelan kaos merah dan jaket yang menurutku dari perancang terkenal, sepertinya aku pernah melihat model jaketnya itu di sebuah katalok dengan harga yang sangat mahal. Tunggu dulu, apa yang tengah ku pikirkan, aku malah memikirkan style seorang pencuri, mungkin ini gaya terbaru mereka.

"Ji-jika kau ingin uang dan perhiasan, aku menyimpannya di lemari, kau boleh mengambilnya dan bawa saja televisi atau apapun yang ada di rumahku ini, tapi bisakah kau tidak membunuhku? Aku masih terlalu muda untuk mati, lagi pula aku belum punya pasangan, bahkan aku belum menikah, aku belum mencapai apapun dalam hidupku, bisa kah kau menunda kematianku?" Ucapku panjang lebar, aku benar-benar tidak ingin mati sekarang.

"Berisik." Ucapnya santai. Tatapannya sangat dingin, bahkan pistol itu tidak juga berpindah.

"Ba-baiklah, aku akan diam." Ucapku, takut, aku sungguh takut.

Dia menggerakkan pistolnya seakan menyuruhku untuk duduk di sofa, aku mengikuti apa yang di perintahkannya, dia juga berjalan dan duduk di sofa yang tepat berada di hadapanku, pistolnya masih tidak juga berpindah dan masih mengarah ke wajahku.

1 detik

2 detik

5 detik

10 detik

Apa dia sedang melamun, tatapannya entah kemana tapi pistolnya masih tetap pada sasaran, melirik ke arahnya dan dia terdiam, tidak ada pembicaraan sama sekali, bisakah ini berakhir, aku sudah sangat lelah dan ingin tidur.

"A-anu. Apa kau tidak apa-apa?" Ucapku, bodohnya, kenapa aku harus bertanya hal itu padanya, seharusnya aku menggertaknya dan menyuruhnya untuk keluar dari rumahku.

"Aku akan tinggal di sini dan kau ku ampuni." Ucap pria itu.

Tu-tunggu dulu, apa yang dia katakan, apa aku tidak salah dengar? Dia ingin tinggal di sini dan membuatku menjadi babunya seumur hidup. Tidak, aku tidak bisa.

"Tidak bisa." Aku menolak.

"Baiklah, kalau begitu hidupmu akan sampai hari ini saja." Ancamnya.

Ya ampun, dia benar-benar akan membunuhku, pencuri macam apa ini, kenapa dia ingin tinggal di sini, apa dia tidak punya rumah?

"Kenapa kau harus tinggal di rumahku? kau bisa mencari rumah lain kan." Aku harus mengusirnya.

"Di sini lebih aman dan lagi pula kau orang yang sibuk." Ucapnya, dia seakan-akan cuek dan tidak ingin mendengar perkataanku.

"Dari mana kau tahu?" Tanyaku, aku jadi penasaran dengan tindakannya.

"Aku sudah ada di sini sejak siang hari. Apa kau tahu itu?" Ucapnya dan tatapannya menajam ke arahku.

"Ma-mana ku tahu kalau sudah berada di sini sejak siang hari." Ucapku. Jadi sejak dari tadi dia sudah berada di rumahku dan seenak jidatnya seperti pemilik rumah, pantas saja meskipun dalam keadaan gelap dia sudah seperti memahami apa-apa yang ada di rumah ini. Aku melirik ke sana kemari, melihat benda apa yang sudah hilang, tapi semua benda berada di tempatnya, tidak ada yang hilang bahkan bergerak sesenti pun dari tempatnya. Apa dia benar-benar pencuri? "Sudah ku katakan, uangku ada di lemari dan kau bisa mengambil benda apapun, setelahnya kau pergilah dengan bebas, aku tidak akan melaporkanmu." Ucapku lagi, aku ingin segera mengusirnya meskipun barang-barang berhargaku akan di ambilnya.

"Aku tidak butuh uang dan barang-barang rongsokanmu." Ucap Pria itu.

"Baiklah, jika kau tidak membutuhkannya." Ucapku, syukurlah dia tidak ingin mencuri apapun. Tidak ingin mencuri? "A-apa maksudmu? Kau itu pencuri kan? Kenapa kau tidak ingin mencuri apapun di rumah ini dan juga tidak ada barang rongsokan di sini! Apa pencuri jaman sekarang punya selera barang-barang berkelas." Ucapku lagi, aku semakin bingung dengan pencuri ini.

"Berisik!" Nada suaranya meninggi.

"Ba-baiklah. Aku akan diam."

Uhk, mau apa dia? Kenapa tidak ingin mencuri dan malah ingin tinggal, aku tidak ingin berbagi rumah pribadiku dengan orang asing yang baru saja ku kenal dan dia bahkan berani menodongkan senjata ke arahku.

"Aku bukan pencuri." Ucapnya. Dia seperti ingin meyakinkan kalau dirinya benar-benar bukan pencuri. Tapi, apa namanya jika masuk begitu saja ke rumah orang tanpa permisi, bukankah itu namanya pencuri. Memperhatikan pria di hadapanku ini, masih sulit untukku mencapnya sebagai pencuri. Mungkin saja dia seorang mafia atau semacamnya.

"Jika kau bukan pencuri, lalu sebenarnya kau ini apa?" Tanyaku, aku tidak ingin memberikan rasa simpati akan sikap anehnya itu.

"Aku butuh tempat bersembunyi, hanya itu." Ucapnya, tatapannya berubah, dia seakan bersedih tentang sesuatu dan tatapan itu kembali menajam.

"Jadi, aku harus membiarkanmu tinggal di sini?"

"Itu adalah keputusanku, aku akan tinggal di sini dan kau tidak boleh protes sedikit pun, nyawamu ada di tanganku, sedikit saja kau melakukan kesalahan, seperti melapor ke polisi atau semacamnya, kau tidak akan bernapas besoknya. Apa kau paham?" Ucapnya dan tatapan itu semakin menusuk.

"Baik-baik, jika kau ingin tinggal, tinggallah, aku tidak akan mengganggumu atau melaporkanmu, yang penting kau membiarkanku hidup aman dan tidak membuatku berhenti bernapas besoknya." Ucapku, ini demi hidupku, aku tidak ingin mati muda, terserah dia akan berbuat apa, tinggal di sini sampai aku menikah dan pindah dari rumah ini, itu akan lebih baik, dia bisa ambil rumah ini dan aku akan tinggal bersama suamiku. Ide yang cemerlang Sakura, aku akan tinggalkan rumah ini beserta pencuri atau perampok atau apalah namanya dia. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan? Senyum anehmu terlihat." Ucap pria itu, terkesan seperti sedang mengejekku.

"Bukan apa-apa, baiklah, kau boleh tinggal di sini, ada satu kamar lagi di lantai atas, sudah selesaikan? baiklah aku ke kamarku, aku mau tidur." Ucapku, dengan santai berdiri dan berjalan meninggalkannya, baru saja satu langkah, dia segera berdiri dan malah mendekatkan pistolnya ke arahku. "A-apa lagi? Aku sudah sepakat, aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu terancam." Ucapku, tapi sepertinya aku di sini yang sangat terancam.

"Apa kau bisa di percayai?" Ucapnya.

"Bisa, aku janjikan hal itu padamu." Ucapku dengan tegas.

Pistol itu mulai turun perlahan. Akhirnya aku bisa bernapas legah, anggap saja dia seseorang yang tengah numpang di rumahku. Yaa, aku akan mengganggpnya seperti itu agar nyawaku tidak terancam lagi.

Melangkah kakiku dan aku berhenti sejenak, ada sesuatu yang sedikit merusak penciumanku.

"Hei, apa kau tidak pernah membersihkan dirimu?" Tanyaku pada pria itu.

"Sudah lima hari aku dalam pelarian, tidak ada waktu untuk membersihkan diri." Ucapnya.

"Dasar jorok. Cepat ke kamar mandi!" Perintahku.

Dia sedikit terkejut dan malah menuruti perintahku. Pria itu sudah berada di kamar mandi dan menanggalkan pakaiannya, aku menyuruhnya menyimpan pakaiannya di dekat mesin cuci, meskipun penampilannya cukup keren, tapi pakaiannya sangat bau sekali. Sementara pria aneh itu mandi, aku mencuci bajunya, meninggalkannya di mesin cuci dan sepertinya aku butuh sesuatu untuk di makan, rasa takut tadi membuatku sangat lapar. Apa pria itu juga belum makan? Mungkin membuatkan untuknya tidak akan jadi masalah, aku tidak ingin ketika dia melihatku makan dan dia malah akan menodongku kembali untuk membuatkan makanan, memikirkannya saja sudah membuatku kembali ketakutan.

Aku bisa dengar langkah kaki dari arah tangga, makan malam sudah siap dan aku sudah makan lebih dulu, memangnya dia siapa? Aku tidak ingin menunggunya. Suara langkahnya semakin dekat dan aku langsung menutup mulutku dan menahan suara tawaku. Apa yang tengah ku lihat, dia sangat mencolok dengan piama biru bermotif love.

"Hahahahahahahah, aku tidak bisa menahannya lagi." Ucapku. Suara tawaku lepas begitu saja.

"Oh jadi menurutmu ini sangat lucu?" Ucapnya dengan tatapan yang sangat malas.

Aku sudah mengatakan padanya untuk sementara bajunya sedang di cuci dan baru akan bisa dia kenakan besok, untuk saat ini dia harus pakai pakaian lain dan aku tidak punya satu pun baju pria, aku hanya punya piama itu dan sedikit sempit padanya, bahkan bagian bajunya terangkat sedikit memperlihat perutnya yang, wow, apa dia selalu berolahraga? perutnya sangat rata dan terbentuk. Bahkan celananya menggantung padanya, ini sungguh lucu, seperti memaksa seorang pria dewasa memakai pakaian anak kecil, dia jauh lebih tinggi dariku, aku hanya setinggi dadanya.

"Tidak, maaf, aku hanya tidak percaya kau akan mengenakannya." Ucapku, mencoba untuk tidak tertawa lagi.

"Cih, aku tidak sudi memakainya, tapi tidak ada pilihan lain." Ucap pria itu.

Dia berjalan dan duduk di meja makan, padahal aku tidak mengajaknya, dia seenaknya datang ke meja makan dan makan begitu saja.

"Siapa kau? dan dari mana asalmu? kenapa memilih rumahku sebagai tempat tinggal? kau bahkan mengancamku." Tanyaku bertubi-tubi.

"Kau tidak perlu tahu, aku akan tinggal sebentar dan akan pergi jika semua ini sudah berakhir." Ucap pria itu.

Aku tidak puas dengan jawabannya, dia masih membuatku penasaran, berada di rumahku dari siang hari dan semua barang tidak ada yang hilang, jika dia bukan pencuri, lalu dia apa?

"Hei, katakan sesuatu, memangnya kau tidak punya identitas?"

"Anggap saja aku tidak ada."

Apa-apaan dia, bagaimana bisa aku menganggapnya tidak ada di rumahku, jelas-jelas dia itu makhluk hidup dan bukan hantu atau semacamnya yang tidak bisa di lihat secara kasat mata.

"Nama atau sebutan untuk dirimu." Tanyaku lagi, aku sendiri bingung mau memanggilnya apa.

"Kau tidak perlu tahu." Ucapnya.

Lagi-lagi tidak ada jawaban yang berarti, ahk, ya sudah aku tidak perlu mengetahui apapun darinya, dia cukup tinggal dan aku tidak perlu menyadarinya.

Makan malam berakhir, dan kenapa aku yang harus mencuci piring, dia segera naik ke kamarnya dan mengunci pintu. Sebelumnya dia sudah mengancamku akan membunuhku jika aku ketahuan menelpon polisi atau meminta bantuan pada tetangga untuk menangkapnya. Uhk dasar pria aneh!

Beres-beres dapur selesai, aku harus segera tidur, sudah sangat malam dan aku harus cepat bangun pagi untuk ke kantor, berjalan dengan gontai ke arah kamarku dan bergegas tidur, aku ingin segera beristirahat dan menganggap hari ini hanya mimpi, besok ketika aku bangun pria aneh itu sudah menghilang.

.

.

.

.

.

Ku awali pagi dengan bangun seperti biasanya, malam ini tidurku sangat nyenyak dan aku bisa bangun dengan tepat waktu. Aku harus ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membuat sarapan.

"Selamat pagi." Ucapku pada pria yang tengah menggosok giginya dan masih mengenakan piama itu. Rasanya aku ingin tertawa lagi tapi, aku harus mengabaikannya. Dia menatapku sejenak dan kembali menggosok giginya, ternyata dia buka orang yang pemalas, bangunnya juga tidak kesiangan.

Ahhkk...!

Teriakkan ku melengking hingga membuatnya menutup telinga. Tunggu dulu! dia tidak menghilang dan bahkan dia bukan sekedar mimpi burukku semalam. Oh ya ampun, semalam itu benar-benar nyata.

"Apa kau bisa diam untuk beberapa detik saja, suaramu hampir memecahkan gendang telingaku." Ucap pria itu dengan nada kesal.

"Kenapa kau masih di sini?" Tanyaku kasar.

"Apa? Kau lupa janji dan kesepakatanmu sendiri ha?"

Membuang muka dari hadapannya, aku malu sendiri, lupa jika semalam aku mengijinkannya tinggal dan berjanji akan membuatnya aman di sini. Ini semua demi nyawaku.

"Apa kau sudah ingat nona berisik?" Ucapannya seperti mengejekku lagi.

Tidak ada yang perlu ku ucapkan lagi, aku akan menyelesaikan cuci muka dan bergegas membuat sarapan.

Dua sarapan sudah tersedia, kenapa aku jadi seperti babu baginya, dia bisa sendiri membuat sarapan kan, ahk tidak-tidak, aku tidak ingin mendapat masalah darinya. Ku nyalakan layar televisi untuk mendengar berita hari ini.

Telah terjadi pembunuhan di sebuah perumahan mewah di kawasan elit, pelakunya sendiri kabur dan sampai sekarang belum di temukan. Kami harap jika ada yang-

Televisiku tiba-tiba mati, melirik ke arah seseorang yang tengah memegang remotnya dan mematikan siaran berita itu. Mau apa dia mematikan televisiku seenaknya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku padanya. Padahal dia sendiri sudah mengatakan untuk mengabaikannya, tapi bagaimana bisa aku mengabaikannya sedangkan dia mengganggu acara nonton pagiku.

"Siaran berita hanya memuat berita-berita palsu yang tidak perlu kau dengar." Ucapnya dengan santai.

Ihk, rasanya mau aku kubur dia hidup-hidup, jika ingin tinggal, tinggal saja, dan jangan mengganggu apapun yang sedang ku lakukan. Apa aku katakan saja seperti itu, aku takut jika pistolnya itu mengarah ke wajahku lagi. Eh, ngomong-ngomong pistol itu berada dimana? Ahk, jangan mikir yang tidak-tidak Sakura, jika kau tiba-tiba melawan, pistol itu tiba-tiba muncul, nasibku sedang buruk sepertinya.

"Hei jangan melamun."

Ucapannya membuatku tersadar dan segera menghabiskan sarapan pagiku.

"Aku akan ke kantor." Ucapku.

"Aku tahu."

"Dan aku tidak akan di rumah sampai-"

"Iya aku tahu, pergi lah dan tidak perlu mengomel lagi." Ucapnya dan sedang menyantap sarapannya dengan santai,

Rasanya tanganku gatal ingin mencekik pria aneh ini. Cepatlah pergi dari rumahku, kau hanya menjadi pengganggu di kehidupanku. Semua kata-kataku tidak bisa keluar, kejadian semalam masih terbayang-bayang di pikiranku, pistol itu seperti sudah di takdirkan akan terus mengarah ke arahku.

"Jangan di pikirkan Sakura, kau harus bisa melewati cobaan ini." Ucapku saat mulai bersiap di kamar.

Sudah jam setengah 9 dan aku harus bergegas. Berjalan turun dari tangga dan meliriknya sejenak tengah berada di ruang televisi dan sibuk menonton. Baiklah, mulai sekarang abaikan dia. Aku tidak peduli. Berjalan dengan santai dan menuju pintu keluar.

"Jangan lupa, kau harus mengunci pintumu." Teriaknya dari ruang nonton.

Berisik! Aku tahu aku akan mengunci pintu rumahku. Dasar pria aneh. Setelah keluar dari rumah, kehidupanku kembali seperti semula, ibu-ibu penggosip dan aku harus menghindari mereka. Bisakah mereka tidak menasehatiku tentang pria dan status hubungan? Ini sudah untuk kesekian kalinya. Abaikan, hanya itu yang bisa aku lakukan.

Tepat waktu berada di kantor, semua berjalan seperti mana mestinya, seperti roda waktu yang berputar terus-menerus, tidak ada sesuatu yang aneh, dan aku menjalani semua keseharianku seperti biasa. Mengerjakan beberapa berkas dan mengumpulkannya. Secangkir kopi yang biasanya aku pesan. Ahk, inilah hidupku.

Keseharianku berubah jika sudah berada di rumah. Dia bahkan tidak menyalakan lampu jika sudah malam.

"Bisakah kau menyalakan lampu jika sudah gelap." Pintaku padanya. sudah jam 9 malam dan dia membiarkan rumahku gelap gulita, dia hanya sibuk menonton, apa sepanjang hari dia hanya menonton? Pria yang tidak berguna.

"Apa kau lupa? Kau pikir tetanggamu tahu jika ada orang selain kau di rumah ini, apa yang akan di pikirkan mereka jika lampu rumahmu tiba-tiba menyala di saat kau belum pulang?" Ucapnya.

Aku kalah, yang di katakannya memang benar, bagaimana jika tetanggaku tahu aku menyimpan seorang pria di rumah dan mereka tidak tahu sama sekali, Apa! Ini bukan seperti itu, dia yang mengancamku untuk tinggal di rumaku. Apa yang sudah ku pikirkan, aku melupakan semuanya.

"Ahk, sudahlah, aku akan ingin beristirahat." Ucapku. Sekarang aku benar-benar akan mengabaikannya.

Berjalan ke dalam kamar mandi, aku ingin mandi sebelum tidur, setelah selesai mandi dan menyimpan baju kotor, piama yang dia pakai sudah tersimpan rapi di atas mesin cuci, aku tidak sadar jika dia sudah mengganti pakaian dan bahkan membersihkan piamaku.

Aku sampai lupa untuk makan malam, apa dia sudah makan? Ha! Apa peduli ku, kenapa mengabaikannya susah sekali. Menuruni tangga dengan malas dan berjalan ke arahnya yang tidak lepas dari televisi.

"Apa kau sudah makan?" Tanyaku.

"Belum dan jika bisa, aku ingin makan pizza dan minuman bersoda." Ucapnya santai.

Pria macam apa dia! Bahkan meminta hal yang tidak ada di rumahku.

"Apa itu sebuah perintah?" Tanyaku.

"Terserah kau mau mengartikannya apa." Ucapnya cuek.

Kesal dan amat sangat marah, itulah yang terlintas di benakku, tapi aku harus mengendalikan diriku, ini demi nyawaku, iya, ini demi nyawa, aku masih sayang nyawaku, mengambil ponsel dan memesan beberapa pizza. Minuman bersoda masih ada di kulkas. Sepertinya, aku berjalan ke arah kulkas dan kosong. Dimana semua minuman bersodaku!

"Aku sudah bilang padamu, aku ingin minuman bersoda." Ucapnya tiba-tiba.

Sialan, dia bahkan menghabiskan minuman bersodaku tanpa permisi. Ahk, aku harus keluar untuk membeli minuman. Berlari ke arah kamarku dan mengambil jaket. Aku harus ke mini market untuk membeli stok baru.

"Mau kemana?" Tanyanya padaku.

"Ke kantor polisi dan melaporkanmu." Ucapku, bercanda. Tatapannya menjadi kesal ke arahku. "Bukan, tentu saja ke mini market, kau sudah menghabiskan minuman bersodaku, seharusnya kau yang bertanggung jawab atas semuanya, seharusnya kau yang menggantinya." Lanjutku. Aku benar-benar kesal dengan tingkah seenaknya.

"Baiklah." Ucapnya.

"A-apa? Kau akan menggantikannya?" Ucapku tidak percaya.

"Bodoh, aku hanya akan menemanimu membelinya."

Dasar, baru saja aku berpikir dia yang akan menggantikannya. Setelah mengunci pintu, kami berjalan keluar, sudah sangat malam dan suasananya sangat sepi, sudah tidak ada orang yang berlalu-lalang di jalan kecuali aku dan pria aneh ini. Dia menemaniku untuk membeli minuman bersoda.

Untung saja aku mengajaknya, mana mungkin aku akan mengangkat dua dos minuman bersoda dan lagi pula dia membeli beberapa perlengkapan, alat cukur dan pakaian dalam. Memangnya aku atm berjalannya.

"Catat saja semua pengeluaranku, aku akan menggantikannya." Ucapnya tiba-tiba saat kami tengah berjalan pulang.

"Jangan berbicara omong kosong, ucapanmu terdengar seperti kau itu orang kaya saja." Ucapku.

"Aku tidak main-main, uang tunaiku habis, dan aku tidak bisa menggunakan kartu atmku." Ucapnya.

"Tentu saja, itu kan kartu atm curian." Sindirku, memangnya seorang pencuri akan memiliki atm yang benar-benar murni miliknya sendiri.

"Apa aku perlu memperlihatkan nama pemilik kartu atm itu? Semuanya atas namaku." Ucapnya.

Dia terdengar seperti tidak berbohong, setelah sampai dan benar saja, dia membongkar dompetnya berisi 9 kartu atm dengan bank yang berbeda dan hanya satu nama yang terukir di sana.

"Uchi-" Belum sempat aku selesai membacanya, dia sudah mengambil kartu-kartu itu. "Hei, biar aku selesaikan membacanya. Aku hanya ingin tahu namamu, apa nama saja tidak boleh?" Protesku

.

Ting..tongg...

"Pizza!"

Terdengar suara pengantar pizza, pesananku sudah datang. Aku berjalan keluar rumah dan mengambil 4 kotak pizza dengan toping yang berbeda. Setelah membayarnya, aku segera mengunci pintu dan pagar, aku tidak ingin ada orang tiba-tiba bertamu atau datang dan melihatku seperti tengah berpesta dengan pizza, minuman bersoda dan seorang pria asing di rumahku.

Makan malam yang sedikit tidak sehat, tapi tidak apalah, sekali-kali untuk hari ini saja.

"Namaku Haruno Sakura." Ucapku padanya, tapi dia tidak peduli, tatapanya tetap fokus pada layar televisi dan mulutnya tidak berhenti mengunyah. "Haloooo...! apa ada orang?" Ucapku dengan suara yang sangat mengganggu baginya.

"Aku dengar, kalau namamu Haruno Sakura. Apa kau puas?" Ucapnya datar.

"Setidaknya kau juga mengucapkan siapa namamu, aku akan memanggilmu 'pria aneh' jika tidak mengatakan namamu."

"Terserah kau saja" Ucapnya cuek.

"Baiklah, pria aneh. Apa yang sedang terjadi padamu, kau itu tidak terlihat seperti seorang pencuri."

"Aku memang bukan seorang pencuri, bahkan rumahmu bisa ku beli dengan mudah beserta isinya."

Apa-apaan dia, ucapannya terkesan sangat sombong sekali, atau jangan-jangan dia anak orang kaya yang kabur dari rumah, mana mungkin memiliki kartu atm sebanyak itu, penampilannya dan caranya berbicara seperti anak kaya yang manja.

"Katakan saja jika kau sedang kabur dari rumah." Ucapku.

"Aku tidak sedang kabur dari rumah." Ucapnya cepat.

"Lalu?" Aku semakin penasaran dengannya.

"Aku di tuduh membunuh seseorang." Ucapnya.

"Membunuh? Siapa?" Tanyaku, aku ingin mengetahui sebenarnya dia siapa.

Tatapannya menajam dan dia terdiam bahkan pizza yang sedang di makannya di simpan kembali. Dia seperti tengah berpikir. Oh, mungkin saja dia sudah membunuh dan memilih untuk kabur dari kejaran polisi, yaa bisa saja. Aku menyembunyikan seorang pembunuh, bisa saja dia tiba-tiba membunuhku. Kepalaku di penuhi dengan pikiran yang tidak-tidak.

"Aku tidak ingin mati." Tanpa sadar aku mengucapkannya dan dia menatapku. Mampus, apa yang sudah ku ucapkan, aku malah menatapnya balik. Tapi, tatapannya tidak seperti dia ingin membunuhku, dia hanya menatapku dan terdiam.

"Jangan bodoh, Aku tidak pernah membunuh orang." Ucapnya.

Heee, benarkah? Dia tidak pernah membunuh, tapi berani mengancam akan membunuhku.

"Dasar pria yang aneh." Ucapku.

"Namaku Uchiha Sasuke."

Uchiha Sasuke? jadi itu namanya, apa dia sudah muak di panggil 'pria aneh' olehku. Baguslah, lebih baik seperti itu. Aku juga malas memanggilnya dengan 'pria aneh'

"Akhirnya kau mengucapkan namamu. Jadi apa kau bisa menceritakan masalahmu, siapa tahu saja aku bisa membantumu." Tawarku, merasa seperti sudah akrab dengannya padahal baru dua hari kami bersama.

"Aku tidak butuh, dan cepatlah tidur, kau akan terlambat besok." Ucapnya.

Melirik ke arah jam dan sudah jam 1 pagi, gawat, aku segera membereskan ruang televisi, seperti biasa dia akan pergi ke kamarnya begitu saja tanpa membantuku. Beberapa menit berlalu dan aku sudah berada di tempat tidur, aku harus segera tidur.

.

.

.

.

.

Seperti sebuah takdir, aku tinggal bersama seorang pria yang bernama Uchiha Sasuke, entah dia datang dari mana dan tiba-tiba saja sudah berada di rumah, meskipun dia selalu mengancam akan membunuhku, tapi itu hanya seperti sebuah gertakan, dia terkesan seperti pria yang sangat manja, aku harus keras padanya, dia harus membantuku saat di rumah, aku merasa seperti tengah mengasuh pria dewasa yang selalu saja tidak ingin mengerjakan apapun dan menghabiskan waktu untuk menonton telivisi, apa dia pikir aku ini pembantunya!

Hari sabtu dan minggu adalah hari liburan, hari ini aku akan menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan dan tidak ingin melakukan apapun. Ini adalah imbalan kerja kerasku. Sudah seminggu dia tinggal dan semua aman-aman saja.

"Ini sudah siang dan kau hanya akan bermalas-malasan." Ucapnya. Seperti sedang menceramahiku.

"Bukan urusanmu dan lakukan urusan kita masing-masing, hanya dua hari saja aku bisa bersantai dan jangan menggangguku." Ucapku.

"Oh. Apa kau tidak keluar untuk sekedar berjalan-jalan atau berkencan dengan pacarmu." Ucapnya lagi.

"Malas, dan juga aku ini single abadi, aku tidak memiliki pacar." Ucapku.

"Dasar perawan tua."

Seperti di sambar petir, dia mengejekku 'perawan tua'.

"Hei! Dengar yaa, aku masih muda, dan jangan mengatakan perawan tua." Ucapku, aku sangat kesal dengan ucapannya yang tidak bisa tersaring, bahkan dia terdengar seperti ibu-ibu yang suka mengatakan 'perawan tua' di belakangku.

"Baiklah. Dasar tidak laku."

"Apa! Aku hanya tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan pria berengsek mana pun untuk saat ini." Ucapku semakin kesal.

"Oh, jadi menurutmu semua pria itu berengsek?"

"Tentu."

"Apa aku juga seperti itu?" Ucapnya dan menatap serius ke arahku.

"Ten- eh, mana ku tahu." Aku pikir dia juga pria berengsek yang suka seenaknya.

"Dasar bodoh." Ejeknya.

"Diam kau!"

"Hei, aku ingin baju baru, bisakah kau membelikan beberapa potong pakaian." Ucapnya, tapi terdengar seperti sebuah perintah.

"Pergi saja sendiri, kau sangat kaya kan, dan gunakan uangmu! Jangan menggunakan uang orang lain." Ucapku, aku muak untuk di manfaatkan.

"Aku akan menggantikannya, nanti" Ucapnya santai.

Kenapa aku sial sekali? Akhirnya ada yang mengganggu waktu liburanku, pria aneh yang tidak pernah membunuh tapi mengancam akan membunuhku.

"Aku tidak tahu ukuranmu, apa kau tidak bisa ikut saja?" Ucapku, aku malas untuk masuk ke toko pakaian pria.

"Uhm, baiklah, tapi di malam hari kita akan keluar." Ucapnya.

"Kenapa harus malam hari?"

"Aku tidak ingin di kenali siapapun saat di luar jika siang hari." Ucapnya. Apa itu sebuah alasan?

"Terserah kau saja." Ucapku dan ingin bersantai lagi.

"Hei aku lapar." Ucapnya.

"Kau punya kaki dan tangan, bisakah kau membuatnya sendiri!" Ucapku, bisakah sedetik saja dia tidak menggangguku.

"Aku tidak bisa memasak." Ucapnya.

"Bodoh."

"Apa kau bilang!"

"Bodoh, pemalas, apa kau bisa berguna sedikit saja di rumah? Bersih-bersih atau apapun yang bisa kau lakukan." Ucapku, aku sudah cukup bersabar hingga hari ini.

"Bukan urusanku untuk membantumu di rumah. Ingat aku hanya-"

"-Kau hanya tinggal, tapi tidak berguna!" Ucapku kesal, berjalan dengan cepat ke arah kamar dan membanting pintu kamarku.

Bisa-bisa dia enak-enakan sementara aku seperti pelayan pribadinya, jika ingin tinggal dan hidup enak, keluar dari rumahku, aku tidak ingin di jadikan pembantu atau pesuruh, aku punya harga diri dan aku wanita karier yang sukses, dia seharusnya yang menjadi babu di rumah ini.

Memijat pelan pelipisku, apa yang sudah ku pikirkan, aku membuat nyawaku terancam lagi. Sedikit tergesah-gesah aku berjalan keluar kamar menuju ruang tv, tidak ada, dia tidak berada di sana.

Praanggg...!

Suara sesuatu yang pecah berasal dari dapur, aku berlari ke sana dan mendapati Sasuke tengah seperti sedang mencuci piring.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku dan berjalan untuk mengambil pecahan piring itu.

"Seperti yang kau lihat. Aku membantumu, apa kau pikir aku tidak berguna. Aku hanya tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah." Ucapnya dan tatapannya entah kemana.

Apa? Dia berusaha membantuku? Tapi, dia sudah memecahkan satu piringku.

"Sudah, berhenti, jika kau mencuci, semua piringku akan habis olehmu." Ucapku.

Dia terdiam dan masih mematung di samping westafel. Aku sangat marah saat ini, tapi ada hal aneh yang membuatku terdiam dan merasa hal ini sangat lucu. Sebuah cekikan keluar dari mulut, aku tidak bisa menahan rasa geli ini, dia sangat lucu untuk membantuku tapi tidak bisa melakukannya, dia hanya berusaha membuat dirinya berguna meskipun tidak sesuai dengan apa yang ku harapkan.

"Ada apa? Akan ku ganti piringmu dengan satu lusing atau pun berapa banyak piring yang kau butuhkan." Ucapnya.

Dasar, bukannya minta maaf atau apa, dia malah kembali menyombongkan diri dengan akan menggantikan satu piring yang pecah ini dengan selusing piring.

"Tidak perlu." Tolakku. "Sebaiknya kau kembali ke ruang tv dan menonton dengan santai di sana." Ucapku. Aku tidak ingin ada pekerjaan tambahan jika dia tetap di dapur dan akan benda lain yang hancur lagi olehnya.

Setelah mendengar ucapanku dia kembali ke ruang televisi dan kembali menonton.

Aku sudah salah menceramai orang, dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Muncul sebuah ide. Setelah membuang pecahan piring itu ke tempat sampah, aku berjalan menghampirinya.

"Aku akan mengajarimu untuk hidup mandiri." Ucapku.

"Tidak mau." Ucapnya cuek.

"Kau harus mau dan tidak ada boleh penolakan." Paksaku.

Aku menariknya kembali ke dapur dan mengajarinya mencuci piring dengan benar. menyuruhnya mengambil piring kotor dan memegangnya hati-hati untuk di bersihkan dengan sebuah spon yang sudah di beri sabun cuci piring dan menaruhnya perlahan-lahan kembali ke westafel untuk di bilas, akhirnya kami mencuci piring bersama hingga semua beres.

"Bagaimana?" Tanyaku padanya.

"Itu sangat mudah, bahkan dengan tutup mata pun aku bisa mengerjakannya."

Lagi-lagi berucap seakan-akan semuanya sangat gampang untuknya. Apa dia lupa jika sudah memecahkan satu piring.

Hari liburku di isi dengan melatihnya untuk mandiri, tidak mudah, dia bahkan sangat menyebalkan, aku harus ekstra keras untuk membuatnya mengerti.

"Setelah ini kau harus mengepel lantainya." Ucapku, memberinya alat pel.

"Tidak mau." Ucapnya dan membuang alat pel itu ke lantai.

"Kerjakan sekarang juga dan jangan membantah." Ucapku dan memaksanya untuk mengepel.

"Kau tidak bisa memerintahku." Ucapnya kasar.

"Jika kau tidak mengepel sekarang, aku tidak akan membantumu membeli pakaian." Ancamku.

Tatapannya menajam ke arahku, mengambil alat pel itu dengan kasar dan mengepel lantainya dengan asal-asal. Uhk, rasanya mau aku jambak saja rambutnya.

"Yang benar mengepelnya." Ucapku.

"Berisik!"

Selesai beberapa lantai, dia menyuruhku untuk mengepelnya sendiri, sepertinya memang harus pelan-pelan mengajarinya, apa dia tidak pernah melakukan pekerjaan ini sebelumnya. Oh aku lupa, dia sepertinya anak kaya manja yang memiliki banyak pembantu dan tidak perlu melakukan semua kegiatan bersih-bersih.

Sudah jam 7 malam. Hari liburku yang berharga di habisi dengan mengajari anak manja ini, uhk, menyebalkan. Aku hanya akan mengumpatnya dalam hati. Sebaiknya aku bersiap-siap sebelum dia mengomel untuk menemaninya berbelanja.

Beberapa jam berlalu, apa yang di lakukannya di dalam kamar? Dua jam lalu aku sudah bersiap dan dia belum juga turun dari kamarnya, ini sudah jam 9 malam dan dia belum juga keluar, apa ada toko yang buka hingga tengah malam.

Berjalan naik ke lantai dua dan berdiri tepat di depan pintu kamarnya, mengetuk beberapa kali dan tidak ada jawaban, mengetuk lagi dan tidak ada jawaban sama sekali. Ada apa dengannya? Aku tidak suka menunggu, memutar gagang pintu dan pintunya tidak terkunci, mataku membulat dan apa yang ku dapati saat masuk ke dalam kamarnya.

.

.

TBC

.

.


sudah update... waktu update tergantung dari waktu tidak sibuknya auhtor. ehehehehehe... kalau cepat ngetiknya, updatenya kilat. hohohoho

terima kasih atas reviewnya. ternyata beberapa reader cukup menyukainya, terima kasih sekali lagi XD oh iya, auhtor sempat download app ffn, hanya saja, itu cara mengupload cerita baru gimana caranya yaa? kalau ada yang tahu mohon bantuannya, soalnya tidak ngerti dan tahu tahu gimana caranya mengaupdate ceritanya.

-balas review-

Dewazz : sdah di jawab di chapter ini yoo

sakura : benarkah? aduh. author tidak tahu kalau ada judul yg sama... soalnya belum pernah baca fic lagi. ini aja baru buka akun langsung update fic baru. ehehee.. ya semoga judulnya saja yang mirip Xd

ika luthfiyyah nurmawati : terima kasih reviewnya... tenang aja kok author anti gantung fic. bakalan di buat sampai tamat kok...

cerry startmoon : makasih. update yoo.

joanna kathrina37 : sudah update

reynaras : makasih reviewnya.. hahaha. udah d jawab di chap ini yoo.


see you next chapter.