LAST BREATH

BY : SUKEZ NO UCHIHA

Disclaimers : Mashashi Kishimoto.

Genre : Tragedy And Family.

Pairing : NaruHima - HinaBolt

Warning : AU, OOC, Typos, jalan cerita mudah di tebak, ide cerita pasaran, dan sebagainya.

..

.

.

Chapter 2 : Surat untuk Himawari.

Tiga hari setelahnya Naruto telah siuman terlebih dahulu. Dia mengerjapkan matanya untuk pertama kalinya setelah tiga hari terpejam. Pertama yang dilihatnya adalah sebuah atap putih dengan lampu yang menyala di sana.

Setelah puas dengan memandangi atap, dia beralih untuk memandang sekelilingnya. Dia mendapati semua perlengkapan kedokteran dari pendeteksi jantung yang terus berbunyi dengan teratur, selang dan kabel yang terhubung ke tubuhnya sampai hal-hal lainya.

Dia mencoba menggerakan kedua kakinya, tidak bisa. Sekarang tangan kirinya, juga tidak bisa dan yang terakhir adalah tangan kananya, bisa, itu masih berkerja. Meskipun agak susah dan sakit.

Perlahan dia memegang selimut dan menyibaknya kasar.

Matanya melebar seketika, kaget. Tangan kananya dan kedua kaki kirinya sekarang terselubung kain kasa sebagai bentuk proses gips. Dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia hanya diam, bingung harus berekspresi seperti apa menanggapi anggota tubuhnya tidak berfungsi dengan normal lagi.

Padahal dia sangat berharap kecelakaan itu hanya mimpi, atau dia sekarang hanya bermimpi? 'Jika benar aku sedang bermimpi tolong bangunkan aku secepatnya, siapa saja.' Ucapnya dalam hati.

Dia kembali sadar dalam lamunanya, jika keadaanya seperti ini parahnya, bagaimana dengan anggota keluarganya yang lainya. Dia hanya berharap agar dia yang satu-satunya yang mendapatkan luka separah ini. Tidak dengan yang lainya.

Tangan kananya segera beralih untuk menggerayangi tombol untuk memanggil di sebelah atas. Tidak berselang lama ada yang membuka pintu ruang rawatnya. Mereka merupakan dokter dan suster yang belum dia kenal sebelumnya.

Dokter tersebut mendekat dan memeriksa keadaanya. "Bagaimana keadaan anda Uzumaki-san." Ucapnya sambil melepas alat pendeteksi denyut jantung.

Naruto tidak ambil pusing kenapa Dokter itu dapat mengetahui namanya. "Apa yang terjadi dengan saya dan keluarga saya. Mohon beritahu saya." Bukanya menjawab pertanyaan yang sudah dapat di ketahui oleh dokter tersebut, Naruto malah bertanya.

Naruto sangat khawatir dengan keluarganya. Bahkan jika tubuhnya sekarang bisa di gerakan, mungkin dia akan berlari mencari di mana tempat keluarganya yang lain di rawat. Dia yakin mereka juga dirawat di rumah sakit ini.

Dokter tersebut menghentikan pekerjaanya sebentar dan memandang Naruto dengan iba. "Aku mohon." Ucap naruto lagi.

"Baiklah," ada jeda dalam berbicaranya,"Aku turut berduka sebelumnya. Kaki dan tangan kiri anda mengalami patah tulang serius sehingga membuat anda lumpuh sementara. Anak laki-laki dan Istri anda meninggal di tempat kejadian, anak perempuan anda masih dapat diselamatkan-"

"Tidak mungkin…" Selanya. Suara itu terdengar serak dan bergetar. Tidak mungkin dia langsung percaya pada dokter ini."Bawa aku pada mereka.." mohonya.

Tanpa penolakan dokter tersebut tidak jadi meneruskan ucapanya dan menuruti Naruto. Dokter tersebut melihat suster yang sudah mengerti tugasnya dan segera menyiapkan segala sesuatunya.

Dan di sinilah Naruto, menatap dua mayat yang berada di depanya dengan perasaan yang kacau. Dadanya dari tadi sakit karena tulang rusuknya patah dan belum membaik, tapi sekarang rasa sakit itu bertambah berkali-kali lipat sakitnya.

Tanpa suara dia menangis, air matanya tidak dapat di tahanya dan keluar dengan deras. Dia meratapi perbuatanya. Dia menyesal,sungguh menyesal memberikan hadiah liburan pada keluarganya.

Dan kenapa pula tuhan tidak memberikan firasat yang jelas untuk mereka. Apa tuhan marah pada keluarga yang tercipta tanpa restu orang tua dari Naruto itu. Entahlah.

Andaikan hadiahnya hal yang lain mungkin kini keluarganya sedang bercanda di rumah. Tapi itu hanya mungkin, tidak mungkin itu terjadi. Dia tidak dapat memutar balikan waktu dan mencegah semuanya.

Dia bukan tuhan.

Setelah dirasa sudah cukup dan sedikit merelakan kepergian keduanya dengan keterpaksaan mendalam, dia segera menoleh pada Suster dan Dokter yang sedari tadi menemaninya.

Mereka juga menampilkan wajah sedih dan iba pada Naruto. Bukankah mereka sering melihat kejadian ini sebelumnya, Tapi kenapa mereka memandang keluarga malang Naruto seperti itu? Atau itu hanya topeng. Hanya mereka dan tuhan yang mengetahuinya.

Dengan masih menormalkan deru nafasnya yang masih tersedat-sedat, Naruto berbicara. "Sekarang tolong bawa aku pada Himawari." ucapnya mencoba senormal mungkin.

"Baik." Sang suster menjawab dan segera mendorong kursi Roda Naruto mengikuti dokter yang memimpin jalan.

Perjalanan itu bagaikan sangat lama bagi Naruto. Dia sekarang masih punya harapan besar untuk kesembuhan anak bungsunya. Dan semoga saja Himawari mengalami luka yang paling ringan dibandingkan denganya atau ibu dan kakaknya.

Dia terus berdoa hingga masuk ruang rawat Himawari yang berbaring koma.

Naruto tercekat dan membatu melihat keadaan himawari yang tidak lebih baik darinya. Nafasnya tiba-tiba terasa terhenti. Rasa sakit di dadanya yang mulai membaik kini kembali muncul. Bagaikan teriris-iris jika diumpamakan.

Suster memberhentikan kursi roda Naruto terpat di sampimg tubuh himawari yang terhubung dengan alat pendeteksi denyut jantung, infuse yang bermacam-macam bentuknya dan selang bantu pernafasan.

Naruto juga melihat bahwa tangan kiri Himawari juga sama seperti yang dialaminya. Tanganya digips.

"Kenapa dia masih koma?" Tanya Naruto dengan suara parau pada Dokter di sebelahnya tanpa menoleh.

"Kami sungguh menyesal mengatakan ini." Dokter tersebut berhenti dan mengambil nafas dalam. "Salah satu ulang rusuk puteri anda yang patah menusuk hatinya, dan selama ini kami terus berusaha mencari donor yang tepat untuknya."

Naruto hanya diam tidak berekspresi dan bergerak. Ucapan dokter itu terus terngiang jelas di telinganya.

Kembali kabar buruk dia terima. Apa masih ada lagi kabar yang membuatnya sampai lebih parah. Dia memohon untuk tidak terjadi yang lebih buruk.

Naruto terus memandangi Himawari dengan kasihan. Kenapa, kenapa harus keluarganya yang harus menderita seperti ini. pertanyaan itu terlontar dalam hatinya entah pada siapa, tuhan mungkin.

Tanpa sadar matanya kembali meneteskan air mata. Tangan Naruto terulur mengusap helaian rambut indigo putrinya dan beralih memegang tangan himawari dan mengecup punggung tanganya penuh sayang, "Cepatlah bangun." Ucapnya setengah berbisik.

Naruto tertidur di samping tempat tidur Himawari dengan masih memegang tangan anaknya penuh sayang, seakan dia akan kehilangan anaknya jika pegangan itu terlepas.

Menjelang pagi Naruto terbangun. Dan dia juga berharap bangunya juga bebarengan dengan bagunya Himawari. tapi itu tidak terjadi.

Himawari masih berbaring tanpa gerakan, dia masih koma.

Tidak berselang lama ada Suster masuk yang mengatakan bahwa dia harus istirahat di kamar inapnya sendiri. Dia menolak mentah-mentah suruhan Suster tersebut, tapi Suster tersebut tidak mau kalah dan sampai akhirnya Naruto mengalah saat menyedari perbuatanya memang salah.

Jika Himawari tersadar dan melihat Naruto dengan keadaan seperti itu, dia malah akan membuat himawari sedih. Naruto tidak ingin itu terjadi. Dia harus sembuh sebelum Himawari sadar nanti.

Akhirnya dia dituntun kembali dan berbaring di tempat tidurnya.

Malam ini Naruto tidak bisa tidur sampai menjelang jam satu pagi. Dia terus berusaha memejamkan matanya tapi hal itu tidak bisa membuatnya mengantuk sampai tertidur.

Akhirnya dia memutuskan keluar sebentar untuk jalan-jalan. Dia mendudukan badanya dan mencoba menggapai kursi roda yang lumayan jauh tergeletak di ruangan itu.

Sambil menggapai kursi rodanya, Naruto mengumpat dalam hati, 'Mengapa suster bodoh itu menaruh kursi roda itu di luar jangkauanku.' Umpatnya dalam hati kesal tanpa sadar tubuhnya mulai condong tidak terkendali dan akhirnya jatuh dengan posisi kepala terlebih dahulu.

Tanganya yang masih dalam proses penyembuhan tertimpa dengan tidak wajar oleh tubuhnya diikuti dengan kakinya yang jatuh lumayan keras menghantam lantai rumah sakit yang keras.

Benturan itu lumayan keras, cukup untuk membuat naruto pingsan di tempat. Terlihat juga darah dari bekas lukanya merembes keluar. Membuat kain kasa itu menjadi semu merah.

Keesokan paginya terdengar suster menjerit melihat keadaan naruto yang tidak wajar. Naruto segera mendapat pertolongan lanjutan dan kembali berbaring tidak sadar seperti kemarin di tempat tidur.

Naruto siuman dan merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya saat sore tiba. Padahal Dokter sudah memberikan suntikan peredam rasa sakit pada diri naruto. mungkin obat itu kurang begitu bekerja atau luka naruto saja yang terlalu parah.

Keadaanya bertambah parah sekarang. Dia kembali menyesal atas tindakanya semalam. Itu membuatnya merasakan sakit ini dan juga dia tidak dapat bertemu dengan Himawari, menemaninya sampai siuman, dan juga menepati janjinya.

Berulang-ulang naruto menanyakan keadaan Himawari pada dokter yang sama, tapi jawaban yang sama pula dia dapatkan. Dokter itu selalu menjawab. "Masih belum kami dapatkan."

Jawaban sama dan terus menerus itu tidak serta merta membuat semangat Naruto muncul. Malah sebaliknya, keadaan Naruto semakin memburuk setiap harinya. Sering kali juga dia kehilangan kesadaran.

Dan tepatnya tadi malam, Naruto bermimpi didatangi Hinata dan bolt. Mereka mengajak serta Naruto untuk pulang. Dalam mimpi singkat itu Naruto ingat benar bahwa tidak ada Himawari di sana.

'Itu bukan mimpi.' Pikir Naruto.'itu sebuah firasat dari-Nya'

Dia juga merasakan bahwa nyawanya tidak akan tinggal lebih lama dalam dirinya. Dan menjelang sore, tepatnya saat Dokter kembali memeriksa keadaan Naruto. Naruto harus berbicara tentang permohonanya.

Dokter telah selesai mengecek keadan Naruto dan dia menampilkan wajah yang masam. Dokter tersebut sudah mengetahui bahwa Naruto akan menjemput ajalnya.

Profesinya menjadi Dokter selama ini memberikan pengalaman akan hal ini juga. "Tolong, aku mohon." Mohon Naruto lemah."Tuliskan suratku untuk Himawari."

Dokter tersebut mengangguk dan mendekat pada meja lalu membuka laci dan mengambil sebuah buku catatan dan mengambil bulpoin di saku kirinya. Naruto mulai berbicara dengan lemah dan Dokter tersebut terus menulis apa yang Naruto ucapkan.

Sering kali juga Dokter itu mendekatkan telinganya pada Naruto karena ucapan Naruto terlalu lemah didengarnya.

Sedangkan dengan suster yang menemani Dokter tersebut hanya melihat saja dengan mata yang mulai meneteskan air mata mendengar setiap lantunan kata Naruto kapada anaknya kelak Ketika bangun dari komanya.

Naruto mengakhiri surat itu dengan tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya, tidak lupa juga mengucapkan terimakasih. Dokter yang menulis surat itu tidak dapat menahan air matanya turun. Bahkan suster sampai terduduk lemas di lantai dengan suara tangisan yang menyayat hati.

Sungguh sebuah surat yang menyedihkan,pikirnya.

Dokter tersebut menarik pelan selimut Naruto sampai menutupi semua anggota badanya setelah melepaskan jarum infuse pada tangan naruto.

Sekarang Dokter tersebut mempunyai tanggung jawab untuk memindahkan hati Naruto pada Himawari yang pasti sangat cocok. Dia juga harus menyerahkan surat yang ada di atas meja sampingnya pada Himawari.

Dia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan yang terbaik pada pasienya yang satu ini.

.

.

.

.

.

TBC..

'

Kurang nyesek yah adeganya…?, maklumlah, kan masih tahap pembelajaran..

See you next chapter dan jangan lupa, review. Itu membuatku semangat menulis kalian tau?