Special Thanks to all reviewer yang telah menyempatkan diri memberikan masukan maupun pendapatnya tentang fict ini, baik yang login maupun non login.

Happy Reading

.

.

" Aku, Sa- ingin melamar Hyuuga Hinata bukan karena perjodohan. Tapi karena aku, Uch- sangat mencintai Hyuuga Hinata."

Perempuan cantik itu masih terus mengingat mimpinya yang sudah berulang beberapa hari ini. Awalnya, ia mengira itu hanya khayalan atau mimpi biasa, tetapi sekarang? Mengapa sampai tiga hari berturut-turut? Dan kata-kata itu selalu sama setiap ia memimpikannya. Ia tidak mengingat sama sekali siapa yang berbicara dengannya, ia hanya mengingat tempat itu. Taman.

Ia sebenarnya ingin menayakan saja pada Gaara. Tapi Gaara sedang berada di luar kota dan baru kembali besok malam.

"Mungkinkah Gaara-kun pernah melamarku dan aku lupa?"

.

.

Dia benar-benar kacau hari ini.

Ia tidak menyangka pertemuannya dengan Hinata beberapa hari yang lalu membuatnya malah semakin tidak tenang. Semua yang ia kerjakan rasanya tidak benar. Masalahnya dengan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu tidak dapat lepas dari pikirannya. Ia memang senang bertemu Hinata waktu itu. Tapi hanya ketika mereka benar-benar bisa berbicara, saling menatap dan sama-sama memperhatikan Hikari. Ya, hanya hari itu saja. Setelah itu perasaannya semakin kacau. Ia semakin tidak bisa berpura-pura seolah-olah perpisahannya dengan Hinata tidak berpengaruh pada dirinya sama sekali.

Sepertinya, pertemuan itu membuatnya berpikir dua kali untuk melepaskan Hinata.

Itu yang pertama.

Yang kedua adalah berkas-berkas yang paling tidak pernah terpikirkannya akan ia sentuh sama sekali berada dihadapannya sekarang. Memang tidak ada salahnya pria berambut merah itu mengirimkannya padanya, bahkan sangat aneh jika berkas-berkas ini tidak dikirim padanya sama sekali. Tapi, tetap saja rasanya ia tidak terima dengan semua ini. Dalam mimpi sajapun ia tidak pernah terpikirkan.

Kring..kring...

"Hn?"

"Apa kau sudah menerimanya?"

"Hn."

"Ku harap kau bisa menandatanganinya secepatnya Sasuke."

"..."

"Baiklah, hanya itu yang ingin ku sampaikan. Besok aku akan menyuruh bawahanku untuk mengambilnya kembali."

"..."

"Sampai jump—"

"Bagaimana jika –"

Berbicara disaat yang sama memang tidak efektif.

"Apa kau mengatakan sesuatu?"

"Hn."

"..."

"Bagaimana jika –"

.

.

Seusai mengatakannya, pria di seberang menutup teleponnya dan membiarkan pria Uchiha itu hanya dapat mendengar bunyi tuut..tuutt beberapa kali. Lalu ia menatap berkas di depannya dan merobeknya dengan tangannya sendiri.

"Akan kupastikan aku tidak akan menyentuh surat cerai sialan ini lagi."

.

.

Sasuke pastinya sudah mengetahui kebiasaan Hinata di akhir pekan dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ketika ia melihat Hinaya di dekat rak-rak buah dan sayur ia lalu mendekatinya lalu pura-pura membeli sayuran tanpa melihat ke arah Hinata.

"S-sasuke-san."

Tepat seperti perkiraannya.

"Hn?"

"Apa kau mengingatku? Aku Hinata. Hyuuga Hinata."

Tentu saja. Aku tidak mungkin melupakanmu.

"Hn. Apa kabar?"

"Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Hikari-chan?"

Ini yang ia tunggu-tunggu.

"Dia semakin merindukan Kaa-sannya. Dia tidak mau makan, aku sudah mencoba memasakkan makanan untuknya. Tapi, sama saja. Ia tidak mau."

Untuk yang satu ini ia tidak berbohong. Hikari memang sulit makan. Jika sifat Hinata tidak berubah, maka ia akan merasa kasihan pada Hikari dan—

"B-bagaiman jika saya yang memasak hari ini untuknya?"

Dan berhasil.

"Apa tidak merepotkan?"

Pasti dia mengatakan 'tidak'.

"Aa, tentu saja tidak. Aku sedang luang."

Karena kau terlalu baik, Hime.

"Hn. Baiklah."

.

.

Sasuke kecewa melihat ekspresi Hinata yang biasa saja saat melihat rumah mereka. Sama sekali melupakanku kah? Pikirnya miris.

"Rumah anda sangat nyaman Sasuke-san. Aku sangat menyukainya. Ini seperti rumah impianku." Kata Hinata saat melihat keadaan rumah itu.

Tentu saja. Kau yang mendesain ruangan ini, Hime.

"Hn."

"Aku akan memanggil Hikari. Kau boleh menggunaan dapur di sebelah sana. Jika kau membutuhkan sesuatu kau panggil saja aku."

"Hai, arigatou."

.

.

Hinata tersenyum melihat Hikari yang hampir tertidur. Setelah menyuapi Hikari makan, mereka berbincang-bincang tentang TK yang akan Hikari masuki. Dia sangat senang dapat membuat anak kecil itu lahap memakan masakannya. Dan hatinya kembali mriris memikirkan Kaa-san Hikari yang tidak bisa bersama mereka.

"Tidurlah. Kau sudah tampak ngantuk, Hika-chan."

"Tidak mau."

"Kenapa Hika-chan?"

"Aku takut jika nanti aku terbangun Kaa-san pergi lagi."

"..."

"Kaa-san jangan pergi lagi."

"Hai."

Dengan jawaban itu Hikari tersenyum senang lalu tertidur.

Hinata merasa sudah terlalu lama disini, jadi ia putuskan untukmencari Sasuke dan pamit pulang. Ketika ia hendak beranjak pergi, ia menangkap sesuatu yang sangat mengejutkan melalui ekor matanya. Sebuah foto. Dalam foto itu nampak sepasang keluarga yang sangat berbahagia. Sasuke-san dan keluarganya. Tapi yang membuatnya terkejut adalah perempuan yang di samping Sasuke-san dan menggendong Hikari.

Saking terkejutnya, ia terhuyung ke belakang sampai ia merasa ia menabrak seseorang.

"S-sa-sasuku-s-san?"

Sasuke tahu maksud Hinata karena sudah sejak tadi ia berada di belakangnya.

"Hikari sedang tidur. Apa kau ingin sedikit berjalan-jalan?"

.

.

Sudah setengah jam lebih, tapi keduanya malah lebih memilih terdiam. Lama-lama keingintahuan Hinata membuatnya tidak dapat menahan pertanyaannya.

"Siapa perempuan di foto itu, Sasuke-san?"

Kau

"Istriku."

"K-kenapa bisa?"

"Kau ingat ketika Hikari memanggilmu Kaa-san ketika di minimarket beberapa hari yang lalu?

"Aa,,, ternyata kami benar-benar mirip, ya."

"Hn."

Menyadari hari yang mulai sore, Sasuke memberanikan diri memanfaatkan waktu yang ada untuk kesempatan terakhirnya.

"Aku juga sering membayangkanmu sebagai istriku."

Hinata pov

"Aku juga sering membayangkanmu sebagai istriku."

A-apa maksudnya?

"..."

"Taman ini adalah taman kesukaannya. Aku biasa menggenggam tangannya ketika kami berjalan-jalan di sekitar taman ini."

"..."

"Bolehkah aku menggenggam tanganmu?"

Untuk apa?

"Aku merindukan istriku. Aku rindu memegang tangannya. Bolehkah?"

"..."

Tapi, aku sudah mempunyai Gaara-kun.

"Sebentar saja."

Kami-sama, Gaara-kun maafkan aku.

"B-baiklah."

"Aku selalu ingin terus dapat menggenggam tangan istriku terus seperti ini."

'Aku ingin terus menggenggam tanganmu seperti ini, Hime'

'Bukankah kita selalu melakukannya -kun?'

Kepalaku pusing. Kenapa mimpi itu muncul di saat seperti ini? Siapa?

'Tidak. Genggaman tangan ini akibat perjodohan itu. Sangat lemah. Aku ingin genggaman yang lebih kuat untuk bisa menahanmu terus denganku.'

Kepalaku sangat sakit rasanya. Aku ingin kejadian-kejadian itu tidak melayang-layang lagi dipikiranku karena kepalau seperti dipukul rasanya. Tapi aku sangat penasaran dengannya. Aku yakin itu bukan hanya sebuah khayalan. Itu terasa nyata. Dalam mimpi ataupun dalam sadarku.

"Hinata."

Aku familiar dengan suara ini, cara memanggilnya, dan nada suaranya yang terkesan datar tapi sangat dalam memanggilku.

"A-ada apa sasuke-san?"

"Apa kau baik-baik saja?"

"Ya. Aku hanya sedikit pusing."

"Duduklah."

Taman itu memang menyediakan tempat duduk bagi para pejalan kaki.

"Apa kau mau mendengarkan ketika aku melamar istriku?"

"E-eh? Bolehkah?"

"Hn. Tentu saja. Kau harus menjawabnya sesuai yang ada dalam hatimu."

Anggukan yang kuberikan pada Sasuke-san membuatnya sedikit tersenyum. Sebegitu rindukah dia pada istrinya? Kenapa istri Sasuke-san bisa melupakan suami yang begitu mencintainya?

"Hinata..."

"Aku ingin terus menggenggam tanganmu seperti ini, Hime"

DEG

'Bukankah kita selalu melakukannya -kun?'

K-kenapa bisa sama? Ah, Sasuke-san menunggu jawabanku.

"Bukankah kita selalu melakukannya, Sasuke-kun?

Kami berdua sama-sama terkejut dengan jawabanku. Aku terkejut mengapa aku dapat mengatakannya. Bukankah itu 'khayalanku' tadi, untuk apa aku mengikutinya? Dan kenapa Sasuke-san sangat terkejut?

"Tidak. Genggaman tangan ini akibat perjodohan itu. Sangat lemah. Aku ingin genggaman yang lebih kuat untuk bisa menahanmu terus denganku."

T-tidak mungkin bisa kebetulan sama seperti ini. Kepalaku bertambah pusing saja. Aku ingin mengakhirinya saja. Tapi, aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi padaku. Apa aku pernah berjumpa dengan Sasuke-san?

'Aku tidak mengerti S-Sasuke-kun'

Itu terjadi lagi.

"Aku tidak mengerti S-Sasuke-kun"

Lalu dapat kulihat Sasuke-san tersenyum padaku. Genggaman tangannya makin erat tapi tetap nyaman. Nyaman? Ada apa denganku Kami-sama? Maafkan aku Gaara-kun.

"Aku ingin genggaman tangan kita tak kan pernah putus."

"..."

" Aku, Sasuke Uchiha ingin melamar Hyuuga Hinata bukan karena perjodohan. Tapi karena aku, Uchiha Sasuke sangat mencintai Hyuuga Hinata."

DEG

Mimpi itu, apakah nyata?

Kenapa bisa sama seperti dalam mimpiku?

Atau apa aku pernah mengalaminya dengan Gaara-kun? Tapi aku sangat mengingat setiap saatku dengan Gaara-kun. Tidak ada lamaran seperti ini. Aku tidak mungkin mengetahui persis lamaran Sasuke-san pada istrinya, bukan? Lalu kenapa semuanya terasa pas?

Aku masih ingat jelas kejadian-kejadian antara aku dan Gaara-kun. Saat Gaara-kun memintaku jadi pacarnya, saat Gaara-kun setiap minggu membawakanku kue coklat ke apartemen, saat Gaara-kun akan mengajakku makan malam jika aku lupa meneleponnya, saat Gaara-kun mengerjakan semua pekerjaan apartemen karena aku demam, dan saat pertama kalinya aku dan Gaara-kun bertengkar karena hubungan kami merenggang. Ah! Benar juga. Hubungan kami pernah renggang, setelah itu, setelah itu, apa? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?

Agghh.. kepalaku sakit memikirkannya.

"Hi-hinata? Apa kau sakit?"

"T-tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya aneh mendengar Sasuke-san menyebut namaku langsung, bukan nama istri Sasuke-san."

"Tidak ada satu kata pun yang kuubah saat melamar istriku waktu itu."

"Maksud Sasuke-san apa?"

"Bagaimana jika kukatakan bahwa benar-benar seperti itulah kalimat yang kuucapkan pada istriku tanpa sedikit pun ada kata yang berubah? Bagaimana jika nama istriku adalah Hinata. Hyuuga Hinata. Ah, bukan. Namanya Uchiha Hinata."

"..."

"..."

Sepertinya ini sudah cukup. Sakit di kepalaku sudah tak dapat ku tahan. Lagipula aku mulai tidak mengerti kemana tujuan pembicaraan ini. Semuanya tiba-tiba rumit. Mengapa seolah-olah aku terlibat di dalamnya? Bukankah aku hanya seorang gadis yang sudah memiliki tunangan dan akan menikah beberapa hari lagi, dan hanya kebetulan sebelum hari itu aku bertemu dengan Sasuke-san dan anaknya? Sesederhana itu, kan?

Lalu apa yang sedang terjadi sekarang?

"G-Gomen, Sasuke-san. Aku harus pergi. Hari sudah mulai gelap. Haha."

Aku tahu saat itu tawaku pasti terdengar hambar. Tapi aku benar-benar pergi. Ada banyak hal yang ingin aku luruskan.

"..."

"Aku ingin mencari Gaara-kun."

Ya. Yang kubutuhkan sekarang adalah Gaara-kun. Semoga dia sudah tiba.

Hinata pov end

Lalu genggaman itu lepas dan menyadarkan Sasuke untuk kedua kalinya bahwa ikatan pernikahan mereka juga tidak mampu menggenggam tangan Hinata agar selalu ada dengannya.

"Kesempatan terakhirku, juga tidak bisakah?" lirihnya.

.

.

Hinata pov

Seharusnya aku tahu bahwa ada yang aneh ketika aku terbangun di rumah sakit tanpa tahu apa yang terjadi padaku.

Seharusnya aku tahu bahwa sesuatu sedang disembunyikan keluargaku ketika tiba-tiba mereka selalu memperhatikanku berlebihan dan menatapku khawatir.

Seharusnya aku tidak melupakan kenyataan bahwa aku dan Gaara-kun hampir putus waktu itu sebelum aku tiba-tiba terbangun di rumah sakit dan tidak mengingat apa-apa.

Seharusnya aku juga tahu bahwa belakangan ini sikap Gaara-kun padaku dibandingkan saat kami pacaran dulu lebih sopan, ia bahkan jarang menggenggam tanganku dan tidak pernah lagi menciumku, walau sekedar di pipi.

Seharusnya aku tahu bahwa gadis kecil seperti Hikari tidak mungkin salah mengenal Kaa-sannya. Bukankah anak kecil tidak pandai berbohong?

Seharusnya aku merasa aneh kenapa aku sangat mengenal dapur rumah Sasuke-san. Aku tahu dimana letak panci, aku tahu dimana letak pisau, aku tahu dimana letak bumbu, aku tahu—ah, bagaimana bisa?

Seharusnya,

Seharusnya aku tidak sebodoh ini.

Tapi, aku juga tidak percaya jika Gaara-kun dan keluargaku membohongiku dan menyembunyikan ini semua dariku.

Dan lebih dari itu, aku tidak percaya bahwa aku pernah menikah. Sasuke-san? Tidak mungkin kan?

Aku harus mendengarnya langsung dari Gaara-kun.

Hinata pov end

.

.

Pria berambut merah itu terkejut melihat Hinata yang sudah berdiri di depan apartemennya. Dia dapat melihat wanita itu mondar-mandir tidak sabaran. Membuat rasa ingin tahu pria Sabaku itu semakin menjadi. Apakah Sasuke? Apakah aku lagi yang akan mengalah kali ini?

"Hinata? Ada apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan Gaara-kun."

Dengan itu pria itu tahu bahwa memang itulah yang pasti akan dibicarakan Hinata.

.

.

"Gaara-kun, aku mohon kau menjawabnya dengan jujur. Kau berjanji?"

"Tentu saja."

"Sebenarnya kenapa aku berada di rumah sakit waktu itu?"

"Bukanka—"

"Tidak. Jangan katakan lagi jika aku hanya jatuh dari tangga Gaara-kun."

"..."

"Kau sudah berjanji akan berkata jujur padaku Gaara-kun."

"..."

"Mengapa aku tiba-tiba berada di rumah sakit dan tidak mengingat apa-apa? Mengapa Gaara-kun menjaga jarak denganku? Mengapa keluargaku selalu mengkhawatirkan keadaanku? Dan mengapa anak perempuan Sasuke-san memanggilku Kaa-san? Kenapa Sasuke-san memiliki istri yang mirip dengaku? Atau mengapa Sasuke-san memiliki istri yang bernama Uchiha Hinata? Mengapa—"

"Hinata."

"..."

"Kau memang Uchiha Hinata."

.

.

Hinata merasa seperti kurcaci kecil di bandara itu. Wajahnya terus ia palingkan ke sana kemari hanya demi mencari seseorang.

"Sebentar lagi ia akan ke luar negeri. Mungkin sekarang dia sudah menuju bandara. Kau boleh mengejarnya."

Kata-kata Gaara masih ternginag di telinganya.

Sedang sibunya ia mencari orang tersebut, tiba-tiba ia menabrak seseorang dan hampir terjatuh jika orang tersebut tidak memegang tangannya. Detik berikutnya ia menyadari siapa orang itu.

"S-sasuke-san."

Pria itu tentu saja terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu. Ia sangat senang. Sebulan lebih sudah ia tak pernah merasakannya lagi. Di balasnya pelukan Hinata lebih erat.

"Hinata? Syukurlah kau belum berangkat."

"Maksud Sasuke-san apa?"

"Bukankah kalian akan menikah di luar negeri?"

"..."

"Dasar bodoh."

Keduanya menoleh pada asal suara.

"Gaara-kun? Mengapa Gaara-kun ada disini?"

'Kenapa Hinata bertanya seperti itu?' pikir Sasuke.

"Khe, tidakkah kau ingin mengantar kepergianku Hinata? Sebentar lagi aku akan take-off."

"T-tapi—"

"Semoga kau dapat menjaganya dan membahagiakannya Uchiha."

"Hn. pasti."

Sepertinya Uchiha itu sudah dapat membaca keadaan yang diciptakan Sabaku itu.

"Kenapa kau baru berpikiran mengejarnya sekarang? Kenapa tidak dari awal?"

"Maksudmu?"

"Paling tidak undangan itu tidak perlu disebar. Jadi kau tidak boleh menyia-nyiakannya."

Hinata mungkin terlihat bingung dan tidak mengerti maksud perkataan Gaara. Tapi, si Uchiha itu tentunya mengerti terlihat dari seringaiannya.

"Sayonara, Hinata."

Dengan itu Gaara meninggalkan mereka hendak menuju pesawat. Gaara masih dapat mendengar Sasuke menggumamkan 'terima kasih' dengan suara yang pelan.

'Dasar Uchiha' rutuknya dalam hati.

.

.

"Sasuke-san, sampai kapan kau akan memelukku?"

"Sampai aku percaya kau telah mengingatku."

"A-aku memang belum mengingamu, Sasuke-san. Aku hanya mengingat potongan kecilnya. Dan itu hanya samar-samar. Aku bahkan hampir tidak mempercayainya."

"..."

"Sasuke-san?"

"Jadi kau belum juga mengingatku?"

Hinata lalu melepaskan pelukan Sasuke dan meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi Sasuke.

"Aku memang belum mengingatmu, Sasuke-san. Tapi aku berjanji akan mengingatmu lagi. Untuk itu, aku membutuhkanmu."

Karena terlalu bahagia mendengar perkataan Hinata, Sasuke memeluk badan mungil itu lagi dan membisikkan kata-kata terimakasih yang sama sampai membuat Hinata tertawa geli mendengarnya.

"Terimakasih Hinata. Terima kasih karena telah kembali padaku. Aku dan Hikari, kami membutuhkanmu, kau tahu?"

Anggukan Hinata dapat ia rasakan di bahunya. Dan dengan itu ia mengeratkan pelukannya tidak peduli bahwa mereka menjadi pusat perhatian.

.

Dari ketinggian kapal, pria itu dapat melihat pasangan itu berpelukan erat.

Setiap orang memang senang jika orang yang dicintainya bahagia, tapi bahagia dengan orang lain tentunya berbeda. Bagaimana pun juga rasa sakit itu tidak dapat ditepisnya. Walaupun hanya satu atau dua tetes, cairan bening itu keluar juga dari matanya.

"Aku mencintaimu, Hinata."

.

.

Dengan kedua tangan yang masih memeluk Hinata, Sasuke menatap kepergian Gaara di ketinggian. 'Terima kasih telah memberikan satu kesempatan terakhir, Gaara'. Ia masih ingat pembicaraan mereka waktu itu.

"Sampai jump—"

"Bagaimana jika –"

Berbicara disaat yang sama memang tidak efektif.

"Apa kau mengatakan sesuatu?"

"Hn."

"..."

"Bagaimana jika dia mengatakan seharusnya aku tidak hanya menunggu tapi harus mengejarnya?"

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Kau mengerti, Gaara Sabaku."

Lumayan lama sampai pria di seberang sana membalas ucapannya. Hingga akhirnya ia mendengar helaan nafas pria itu walaupun samar.

"Kalau begitu itu adalah kesempatan terakhirmu, Uchiha."

.

.

Tamat

.

.

Omake

"Sasuke-san, sebenarnya apa maksud Gaara-kun dengan undangan yang telah disebar itu?"

Senyuman suaminya itu tidak membuatnya puas.

"Baiklah, malam ini aku tidur di kamar Hika-chan saja."

"Tidak bisa."

"Kalau begitu Sasuke-kun harus menjawab pertanyaanku."

"Apa kau benar-benar ingin mengetahuinya?"

"Tentu saja."

"Artinya kau harus bersiap-siap dengan lamaran ketigaku."

"E-eh?"

"Dan bersiap-siaplah untuk pesta pernikahan kita yang kedua."

"Na-nani?"

"Setelah itu kau harus sudah mengingatku lagi dan berhenti memanggilku Sasuke-san. Kau mengerti, Hime?"

"..."

Berhenti memasang raut wajah seperti itu. Kau tidak perlu seterkejut itu. Atau—

CUP

Tebak,

Kening, Pipi, atau tempat lain?

.

.

Gomen, jika endingnya jadi makin GAJE.

Karena sudah berjanji membuat TWOSHOT, jadinya tidak bisa kalau tidak GAJE seperti ini. Alurnya berantakan, feelnya gag dapet, deESbe.

Dan maaf juga untuk typo, saya tidak sempat mengedit dua kali.

Gomen. Dan maaf jika ke depannya saia akan agak lelet up date karena sedang banyak kegiatan dan tugas.

Arigatou.