Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 2

Dua pria bertubuh tegap terlihat berdiri di depan sebuah pintu besar berwarna hitam, yang pasti Naruto tahu pintu itu tidak bisa ditembus oleh senjata api. Dalam diam Naruto mengikuti langkah Gaara, yang dibukakan jalan oleh dua pria berwajah tembok tadi.

Matanya menyipit ketika wajah kecoklatan itu tertimpa cahaya warna warni di ruangan yang sebenarnya bersuhu dingin namun terasa panas di saat bersamaan. Naruto mendengus melihat berpasang-pasang pria menghentakkan tubuh di lantai dansa.

One's Club—

Adalah klub gay paling terkenal seantero Konoha, bahkan di Jepang.

Musik menggema di tiap sudut ruangan luas yang mendadak sempit karena gerakan liar para lelaki yang sibuk bergoyang mengikuti alunan musik.

Naruto mengernyit melihat di salah satu sudut, bahkan ada yang sudah bertindihan dalam keadaan topless. Tsk! Hormon pria memang menyusahkan, ttebayo! Gumamnya dalam hati.

Merasakan tarikan halus di tangan kirinya, Naruto refleks mengikuti arah ke mana sepupunya ini akan membawa mereka.


Bartender dengan wajah penuh tinidikan itu terlihat lincah memutar botol minuman yang entah apa namanya di hadapan Naruto. Bosan, si blonde menguap.

"Setidaknya berikan kesan yang bagus untuk kunjungan pertamamu" Gaara bergumam sambil menikmati gelas pertamanya malam itu.

Naruto mendengus melihat tatapan lapar pria di sekelilingnya "Setidaknya untuk kunjungan pertama bukanlah bar dengan kumpulan pria bernafsu seperti ini." Gaara terkekeh pelan mendengar jawaban sepupunya, hal yang sangat jarang dilakukannya.

Lagi-lagi mata Naruto menyipit melihat lelaki berambut coklat menghampiri mereka. "Yo Naruto. Lama tak berjumapa." Sapa pria itu saat berada tepat di hadapan mereka. Naruto tersenyum lebar. Neji Hyuuga, kekasih Gaara.

Bisa dibilang tujuan Gaara mengajak Naruto ke One's Club ini karena dia bermaksud menyadarkan orientasi seksual sepupunya yang juga menyimpang seperti dirinya. Bukannya dia tidak mau Naruto itu normal, hanya saja dia merasa kasihan.

Gaara yakin kalau sepupunya ini sama seperti dirinya, hanya saja dia tidak sadar dan selalu saja mencoba mengajak wanita berkencan—sekalipun berakhir dengan penolakan. Karena Gaara tahu, wanita itu merasa tersaingi oleh Naruto.

Lagipula dia ingat, sepupunya ini pernah merona berkali-kali saat melihat senior mereka yang tampan dan bersikap baik hati padanya. Atau kepada pria yang tak sengaja dia tabrak di pusat perbelanjaan.

Yeah, tidak selamanya sepupunya harus jadi orang bodoh dalam hal cinta, bukan?

Memang, Gaara tahu tempat ini salah untuk orang di bawah umur 20 tahun seperti mereka. Tapi untuk ukuran klub gay seperti One's Club, 17 tahun adalah umur yang cukup.

"Sudah lama?" Tanya Neji dan mengambil tempat di samping kiri Gaara.

"5 menit" Timpal Gaara singkat. Neji mengangguk.

"Mana dia?" Lanjut Gaara sembari menyisir pelan rambut merahnya.

"Sebentar lagi sampai" Jawab Neji sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.

Naruto sendiri cuek bebek pada pembahasan mereka, menurut perkiraannya, dia akan mengalami kencan buta malam ini. Gaara tidak mungkin mengajaknya tanpa alasan, dan Naruto menyanggupi karena dia memang sudah meragukan orientasi seksualnya.

Merasakan tepukan pelan di bahunya, Naruto menoleh dari arah lautan pria gila dan bernafsu menuju mata jade Gaara. Dia bisa melihat Gaara mengangkat dagu ke arah pintu masuk.

Jantung Naruto berdegup kencang saat melihat pria dalam balutan kemeja formal yang dua kancing teratasnya terbuka berjalan menghampiri mereka. Tampan. Sangat tampan. Tubuhnya tegap namun sedikit kurus, tapi Naruto yakin ototnya yang sedikit itu terbentuk dengan baik.

"Lama tak berjumpa" Sapa Neji saat orang itu tiba di hadapannya dan Gaara.

"Aku banyak membantu aniki akhir-akhir ini" Jawabnya.

Datar sekali, jangan bilang dia yang akan dikenalkan denganku, batin Naruto miris. Namun, sebagian hati Naruto bersorak, dia mendengus, apa-apaan itu. Kau bukan gadis, Naruto. Bersikap wajarlah. Hell yeah, setidaknya dia tampan.

"Kenalkan Sasuke, dia sepupuku Naruto, orang yang dibicarakan Neji kemarin" Suara Gaara memecah perdebatan hati Naruto.

"Hn. Sasuke Uchiha."

Jadi dia Uchiha? Bibir Naruto maju, mulutnya tak setampan wajahnya, pelit sekaliiiii, sungutnya, dalam hati tentunya. "Naruto, Naruto Namikaze. Senang berkenalan denganmu, Sasuke-san" Tapi dia tetap tersenyum di akhir kalimat.

"Hn."

Alis Naruto berkedut, Neji hanya tersenyum maklum.

"Jadi, bisa kutitip Naruto sebentar, Sasuke? Sudah lama aku tidak menikmati ini" Neji menatap Sasuke penuh arti "Lagipula, aku yakin kau butuh hiburan pasca stress kerja yang melandamu" Lanjutnya sebelum menarik Gaara turun ke lantai dansa.

Gaara sendiri hanya pasrah dan memandang maaf pada Naruto yang dibalas dengan anggukan kepala pirangnya. Sekali lagi, hormon pria memang menyusahkan.


Sudah lima menit sejak Gaara meninggalkannya bersama patung berwajah tampan ini, tapi tak satupun kata yang dia ucapkan, malah Sasuke sudah menenggak habis gelas ketiganya. Sepertinya kencan buta akan berubah jadi sesi curhat yang mengharukan mengenai kejamnya hidup.

Tidak. Tentu tidak. Itu hanyalah pikiran dangkal Naruto saja, mana mungkin orang seperti Uchiha Sasuke akan berbicara blak-blakan seperti mengenai kejamnya kakaknya dalam memberikan tugas ataupun sakit hatinya ditinggal kekasih, Naruto tertawa dalam hati.

Pikiran macam apa itu. Tanpa kata, Naruto tahu Uchiha bukan nama sembarangan.

Semua orang di Jepang juga tahu. Raja dari industri hiburan. Uchiha Production.

Apa yang membuat Naruto heran adalah, kenapa orang sempurna seperti Sasuke mau datang ke tempat seperti ini. Dia memang belum pernah bertemu Sasuke sebelumnya, tapi dia sering mendengar celotehan teman kampusnya tentang betapa tampannya pewaris Uchiha—Sasuke dan kakaknya—kini Naruto percaya akan hal itu.

Menjadi orang kaya memang menyusahkan yah? Naruto lagi-lagi tertawa dalam hati. Setidaknya dia juga orang kaya, atau begitulah teman-temannya menyebut dirinya. Setidaknya dia masih baik-baik saja.

Naruto tidak tahu itu adalah gelas yang keberapa untuk Sasuke malam ini, yang jelas dia mulai terlihat tak stabil.

"Kau tahu, aku ini normal" Seakan memperkuat pendapat Naruto sebelumnya, Sasuke mulai bergumam lagi "Kalau bukan karena Neji, aku tak mau ada di tempat yang penuh dengan orang-orang bodoh ini"

Naruto mengernyit, sudah berapa gelaskah yang dia habiskan, dan menoleh pada bartender di hadapannya yang sedang menggeleng maklum. Naruto menghela napas.

Sasuke kembali menenggak gelas yang entah ke berapa "Tapi, aku merasa tak ada salahnya mencoba hal baru." Naruto memilih diam, tidak habis pikir bahwa kencan butanya akan benar-benar berakhir jadi sesi curhat dadakan.

Sebegitu sulitnyakah masalah yang dia hadapi? Kasihan sekali, Naruto mencibir, sok tahu.

Namun Sasuke tetaplah Uchiha, mabuk sekalipun mulutnya tetap terkontrol dengan baik, buktinya dia tak lagi meracau dan memilih memandang cairan beralkohol di hadapannya. Naruto kemudian bersyukur sekaligus heran.

"Jadi, kau mau diam di sini atau ikut denganku?" Ajakan Sasuke, menyentakkan Naruto, hanya sesaat.

Dia meremas gelas terisi penuh di hadapannya. Dia sudah di sini jadi tak ada salahnya mencoba bukan? Sebelum mejawab, Naruto menenggak alkohol pertama dalam 18 tahun hidupnya.

"Kemana?" Naruto balik bertanya. Tidak buruk pikirnya, dia mulai ketagihan dan meminta gelas kedua pada bartender di hadapannya. Sasuke menunggu sampai Naruto menandaskan isi gelasnya, bisa dia lihat si pirang menggelengkan kepala berkali-kali, pusing sepertinya.

Mendengus geli, Sasuke menjawab "Ikuti aku" Sebelum menenggak gelas terakhirnya malam itu.


Sasuke tidak peduli, jika dia tidak mengenal pemuda yang sedang mendesahkan namanya dibawahnya. Bahkan Sasuke lupa siapa namanya.

"Cih!" Naruto membuka mata yang sedari tadi terpejam mendengarnya, Sasuke bisa melihat wajah bingungnya, sebelum kembali meraup bibir yang sudah lumayan bengkak itu.

Persetan dengan alkohol yang sudah membuatnya lupa diri dan sulit berkonsentrasi, yang ada di otaknya hanyalah bagaimana agar dia bisa mencapai kepuasan, itu saja.

Tahu apa yang dilakukannya ini salah, setitik air mata mengalir dari mata biru Naruto. Sakit. Sakit karena besok ketika dia terbangun, kenyataan akan menamparnya. Sakit, karena ini merupakan pengalaman pertamanya.

Namun sama seperti Sasuke, Naruto tidak peduli, toh dia tahu sekarang kalau dia memang tertarik pada sesama, atau mungkin hanya pada Sasuke? Itu saja.

Malam semakin larut saat keduanya bergerak dalam tempo yang tak teratur, mencapai titik puncak dalam desah napas yang kasar dan memburu.


Naruto menggeleng, baru beberapa detik yang lalu dia mengatakan akan membesarkan anak ini sendiri, dia sudah terlempar kembali ke malam itu. Terkekeh pelan saat menyadari kebodohannya.

Sasuke mengernyit heran, nampaknya Naruto sudah gila "Ada yang lucu?"

Si pirang berdehem pelan "Aku baru sadar sejak sampai di sini, sudah dua kali aku berpikir kalau kau itu normal. Padahal jelas-jelas waktu itu di klub kau bilang kau memang normal. Kenapa aku sampai melupakan hal sepenting i—"

Suara Naruto tercekat, kenapa menurutnya hal itu penting? Memangnya si brengsek itu mengingatnya, huh? Bodoh sekali kau Naruto, rutuknya dalam hati.

"Dobe" Sasuke berbisik, namun di antara deburan ombak, Naruto masih bisa mendengar dengan baik ejekan itu.

"Che! TEME" Tidak, Naruto tidak berteriak, karena dia yakin Sasuke mendengarnya. "Apa masih ada yang ingin kau bicarakan? Aku mau pulang." Ya, Naruto lelah berada di dekat pengecut seperti Sasuke.

Pengecut, eh? Tentu saja. Andaikan dia bukan pengecut, sekalipun Naruto menolak, dia pasti bersikeras untuk menikahinya, dan bertanggung jawab terhadap anak ini.

Apa baru saja dia berharap untuk dinikahi? Setelah ini mungkin Naruto akan melakukan tes kelamin saja, demi kuah ramen yang kental, dia seorang lelaki yang berharap dilamar lelaki?

Naruto mendecih. Berada dekat pengecut, membuatnya jadi melankolis dan lemah.

"Kau tidak bisa egois begitu, baka. Setidaknya izinkan aku membantumu membesarkannya. Lagipula, aku ingin melihatnya karena aku belum yakin jika dia memang an—"

"Aku tidak butuh bantuanmu" Naruto memotong ucapan Sasuke, dia geram. Secara tidak langsung Sasuke menuduhnya pernah melakukan hal itu dengan orang lain.

"Sebagai orang yang berpengalaman, kau tentu tahu mana yang original dan tidak, Teme." Naruto menatap Sasuke dengan pandangan meremehkan.

Tangan Sasuke terkepal erat, "Dengar usuratonkachi, aku bukan pria brengsek seperti yang ayahmu bilang. Mencium seorang wanita saja aku tidak pernah" Sasuke terpancing emosi, si kepala pirang ini sudah cukup mebuat waktunya yang sedikit menjadi terbuang sia-sia.

"Oh? Kau tidak terlihat begitu, tuan Uchiha." Naruto mendengus kasar.

Sasuke sadar dia salah bicara tadi "Oke, aku minta maaf kalau kau tersinggung. Yang pasti, baik dengan wanita ataupun pria, kita sama-sama mengalami ini pertama kali" Dia tidak percaya semudah itu dia meminta maaf pada orang yang tidak dikenalnya—dengan baik.

Tidak, dia tidak berbohong. Sasuke memang bukan tipe pria yang gila akan seks. Ciuman saja dia tidak pernah, dia merasa tubuhnya terlalu berharga untuk dimilki orang lain. Selain mantan kekasihnya., mungkin?

Hell yeah, dua tahun menjalin hubungan hanya Sasuke ungkapkan lewat ciuman di kening dan pelukan sayang, tidak lebih. Sasuke mendengus, kenapa dia harus mengingat wanita itu di saat seperti ini.

Hal itu membuatnya semakin frustasi, saat tahu keperjakaannya jatuh di tangan seorang pemuda. Bukan salahnya kan, jika malam itu Naruto terlihat menggoda. Lebih menggoda dari Sakura yang hanya mengenakan selembar handuk pffft.

"Terserah kau sajalah, pokoknya aku mau pulang" Tanpa Naruto sadari dia sedikit bersyukur kalau memang apa yang Sasuke katakan itu benar. Setidaknya mereka sama-sama baru pertama kali merasakannya bukan?

"Lalu apa yang akan kau lakukan—" Sauke tidak sadar dia menelan ludah "—pada anak itu?"

"Tentu saja aku akan merawatnya, sekalipun aku ini laki-laki, aku harus siap dipanggil ibu. Tenang saja, aku yang akan berbicara pada ayah, dia pasti mengerti." Naruto terenyum miris saat mengatakan itu.

Entah ini karena keadaan di sekitar mereka yang seolah mendukung atau karena Sasuke terlalu lelah, kenapa dia merasa tidak menjadi dirinya yang biasa, sekarang, di hadapan seorang Naruto Namikaze. Kembali, penyesalan membawa Naruto ke pantai ini seolah menghantam Sasuke.

Mungkin seharusnya dia mengakui apa yang dia perbuat malam itu di sana, di rumahnya, dan semua akan selesai. Naruto tidak perlu menyelesaikan ini sendiri, dan dia tidak perlu merasa bersalah dan menyesal seperti ini—sangat tidak Uchiha menurutnya.

Tapi, Sasuke adalah Sasuke, orang egois yang akan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Sekalipun cinta ada di urutan sekian dalam hidupnya, tetap saja dia merasa harus menikah dengan orang yang setidaknya dia cintai.

Sedangkan pada Naruto? Dia tidak yakin apa yang dia rasakan pada pemuda yang bahkan belum dia kenal baik ini. Kasihan mungkin?

"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka dikasihani."

Sasuke tersentak, apa dari tadi dia menatap Naruto dengan tatapan kasihan? Seharusnya Sasuke tahu kalau dia orang yang kuat.

"Bearapa umurmu?" Dia tahu sudah terlambat menanyakan umur sekarang.

"Hampir 18 tahun. Kenapa?" Naruto menjawab tanpa menoleh dari hamparan laut di hadapannya.

Sasuke menghela napas, dia masih sangat muda rupanya. "Tidak. Ayo pulang, tidak baik bocah berkeliaran di malam hari"

"Aku sudah mahasiswa semester dua kalau kau tidak tahu!" Suara Naruto meninggi, sepertinya dia sudah mendapatkan dirinya kembali. Dia mengikuti Sasuke sambil menggerutu.


Kediaman Namikaze.

Nampaknya orangtua Naruto sudah kembali. Entah mengapa tubuhnya terasa berat untuk meninggalkan mobil ini.

"Kita sudah sampai" Sasuke seolah berbicara pada diri sendiri.

Setelah ini, mungkin dia akan sulit bertemu dengan Naruto. Bukannya dia berharap, tapi setidaknya dia juga punya rasa tanggungjawab.

"Kau tahu kemana harus menguhubungiku saat kau butuh bantuan" Sasuke tidak bertanya, karena dia yakin Naruto tahu itu.

Kepala pirang itu tertunduk, tangannya terkepal. Dia tahu dia tidak boleh lari apalagi sampai menyerah, dia akan memperjuangkan hidupnya dan anak ini. Dia juga tidak mungkin meminta bantuan Sasuke dan menyita waktunya. Setidaknya dia sendiri yang mebuat keputusan, apapun yang terjadi, dia harus maju.

Naruto merasakan sebuah tarikan pada tangannya saat akan keluar dari mobil hitam Sasuke. Tersentak. Hanya dengan sentuhan sekecil ini, mampu membuat Naruto merasakan sesuatu menjalar di tubuhnya.

Berdebar. Dia berdebar sama seperti saat mereka pertama bertemu.

Pesona uchiha memang sangat kuat, eh?

"Kau tahu aku juga bertanggung jawab, jadi jangan mencoba memikul hal ini sendirian"

Matanya membulat. Sasuke bilang apa? Bertanggung jawab? Yeah ini juga anaknya, Naruto. Setidaknya dia punya hak. Naruto kemudian mengangguk, sedikit tidak rela saat dia harus melepas tangan bekulit putih itu. Huh? Apa yang baru saja kau pikirkan, Naruto?

Pintu mobil pun tertutup, menyisakan Sasuke dan kekosongan yang mencekik.

To be continued..


Saya terharu, ternyata banyak yang review. Hehe maaf saya tidak bisa balas yang tidak login T,T

Yang pasti saya berterima kasih, berkat review kalian saya jadi bersemangat meng-update XD

Semoga kalian puas *bows*