Title : I Want To Be A Unicorn
Author : Annies Noia Kira Carinyosa a.k.a Choi Kira
Pairing : KrisLay / KripyLays / Kray
Genre : angst, drama, romance
Warning : boys love, alur lambat, childish! Lay, death chara
Happy Reading ^^
Part 1
"Lalu bagaimana denganmu? Kau begitu sibuk untuk bisa membuat Kris sembuh padahal kondisimu sendiri tidak lebih baik dari Kris," tanya Luhan dengan ekspresi kecewa, sedih, marah, dan juga sakit.
"Karena aku tahu,.. Aku tidak akan pernah sembuh, Luhan ge," jawab Lay dengan sedikit jeda di kalimat terakhirnya. "Yang Luhan ge lakukan hanyalah membuat kondisiku lebih baik agar aku bisa hidup lebih lama. Iya kan? Hemofilia adalah penyakit akibat kelainan gen, tidak ada obat yang bisa membuat penyakit ini hilang dari diriku kecuali dengan kematian," tambah Lay.
Part 2
"Lay,." lirih Luhan. "Lay, apa maksudmu?" tanya Luhan dan menatap Lay dengan tatapan terkejut.
"Aku sudah mendengar semuanya Luhan ge," ucap Lay tampak tenang yang justru membuat Luhan semakin khawatir dengan namja manis penyuka unicorn tersebut. "Xiumin ge, boleh aku minta alamat orang yang kau maksud?" tanya Lay pada namja baozi di hadapannya.
"Apa yang akan kau lakukan sebenarnya?" tanya Luhan dengan nada penekanan sambil mencengkram erat bahu Lay. Sedangkan Xiumin masih diam seolah dia sedang menunggu persetujuan Luhan tentang permintaan Lay.
"Sudah ku bilang kan, aku akan membujuk keluarga itu agar mau menjadi donor untuk Kris gege," jawab Lay sambil menyentakkan tangan Luhan yang ada di bahunya dan berjalan mendekati Xiumin.
"Keluarga itu tak akan begitu saja mau melakukan hal itu, Lay," tambah Luhan yang mulai frustasi membujuk Lay.
"Akan ku lakukan apapun agar Kris gege sembuh, Luhan ge," jawab Lay tegas. Luhan terdiam. Ia tercekat dengan jawaban Lay. Ada rasa sakit yang menjalan di dada Luhan saat Lay, namja yang selama ini selalu ingin ia lindungi ternyata lebih memilih melindungi orang lain. Namja yang membuatnya belajar dengan giat agar bisa menjadi seorang dokter agar bisa menyembuhkan penyakitnya atau setidaknya membuat Lay dapat hidup lebih lama nyatanya justru ingin menyembuhkan orang lain dan mengabaikan kesehatannya sendiri.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau begitu sibuk untuk bisa membuat Kris sembuh padahal kondisimu sendiri tidak lebih baik dari Kris," tanya Luhan dengan ekspresi kecewa, sedih, marah, dan juga sakit.
"Karena aku tahu,.. Aku tidak akan pernah sembuh, Luhan ge," jawab Lay dengan sedikit jeda di kalimat terakhirnya. "Yang Luhan ge lakukan hanyalah membuat kondisiku lebih baik agar aku bisa hidup lebih lama. Iya kan? Hemofilia adalah penyakit akibat kelainan gen, tidak ada obat yang bisa membuat penyakit ini hilang dari diriku kecuali dengan kematian," tambah Lay.
"Lay,.." lirih Luhan. Ia sama sekali tidak menyangka Lay akan mengatakan hal seperti itu.
"Kumohon, ge. Kali ini saja, biarkan aku pergi dan menyembuhkan Kris gege," ucap Lay dengan tatapan memohon pada Luhan.
"Kalau begitu pergilah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan, dengan syarat,... Kau harus mau di rawat intensif setelahnya," Luhan pun akhirnya menyerah. Dia taka akan pernah bisa menahan Lay untuk tidak memperdulikan Kris.
"Ne, aku janji. Setelah aku berhasil mendapatkan donor untuk Kris ge. Akan ku lakukan apapun permintaan Luhan ge," jawab Lay antusias. Luhan hanya bisa menghela napas dengan senyum getir. Luhan kemudian meminta Xiumin memberikan alamat keluarga calon donor hati untuk Kris.
"Xie xie, Xiumin ge, Luhan ge. Aku tidak akan mengecewakan kalian," dengan itu, Lay kemudian berlalu dari hadapan dua dokter muda itu dan pergi menuju alamat yang ada di tangannya sekarang.
Seorang namja manis berda di depan pintu rumah seseorang. Ada sedikit rasa tidak yakin terpancar di wajahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan segala keraguan dalam dirinya. Kemudian, dengan wajah penuh keteguhan, ia mulai mengetuk pintu dihadapannya.
Tokk tokk tokk
5 detik
15 detik
1 menit
Tidak juga ada sahutan dari dalam rumah bercat cream itu. Namja manis dengan satu dimple di pipi kanannya itu kembali mengetuk pintu kayu dihadapannya.
Tokk tokk tokk
Beberapa saat kemudian, pintu tersebut dibuka dari dalam oleh seorang namja yang tak kalah manis dari namja berdimple tadi. "Nuguseyo?" tanya namja manis dengan eye smile-nya.
"Annyeong, jeoneun Lay imnida," jawab Lay si namja berdimple. "Apa benar ini rumah Byun Baekhyun?" tanya Lay kemudian.
"Ya. Aku Baekhyun," jawab namja manis ber-eye smile tersebut. "Maaf, tapi untuk apa kau mencariku?" tanya Baekhyun dengan pandangan skeptis.
"Benarkah kau isteri dari Park Chanyeol?" tanya Lay memastikan.
"Ya, benar. Tapi apa mau mu sebenarnya? Ada hubungan apa kau dengan suamiku?" tanya Baekhyun dengan rasa curiga di tatapannya.
"Sebenarnya aku tidak ada hubungan apa-apa dengan suamimu. Aku datang ke sini untuk... meminta ijin darimu," jawab Lay dengan jeda cukup panjang saat mengucapkan frase terakhir.
"Ijin? Apa maksudmu?" tanya Baekhyun yang masih belum mampu menangkap maksud kedatangan Lay ke rumahnya.
"Kau kenal Xiumin ge kan?.." belum sempat Lay menyelesaikan maksud kedatangannya, Baekhyun sudah memotong perkataannya.
"Xiumin ge? Apa ini berhubungan dengan donor hati untuk pasien Xiumin ge?" tanya Baekhyun dengan nada yang agak meninggi. Tentu saja. Istri mana yang tidak akan naik darah jika salah satu organ suaminya diminta dan dipasangkan ke tubuh orang lain?
"I..iya. Aku datang ke sini untuk meminta ijin darimu agar hati dari Chanyeol-sshi untuk didonorkan pada Kris gege," jawab Lay pelan, tapi cukup mampu ditangkap oleh pendengaran Baekhyun.
"Bagaimana bisa kau memintaku untuk mengijinkan orang lain mengambil hati dari almarhum suamiku sendiri? Apa hubunganmu dengan orang itu hingga kau rela datang kemari, huh?" tanya Baekhyun dengan nada tinggi. Dia benar-benar merasa sakit hati. Bagaimana pun, Chanyeol adalah suaminya. Bagaimana mungkin dia rela salah satu organ tubuh suaminya diambil dan dipasangkan di tubuh orang lain yang sama sekali tidak ia kenal.
"Karena aku sangat peduli dengan Kris gege. Akan ku lakukan apa pun agar Kris ge bisa sembuh dari penyakitnya," jawab Lay lantang. Baekhyun sedikit tercekat. Tidak ada keraguan sedikit pun dari wajah Lay saat pengatakan hal itu.
"Kenapa kau ingin sekali menyembukan 'Kris gege' mu itu?" tanya Baekhyun sinis.
"Karena aku benci melihat Kris gege selalu kesakitan. Aku benci melihatnya pura-pura kuat di depanku," jawab Lay penuh kesungguhan.
"Tapi kenapa harus Chanyeol? Kenapa kau meminta hati suamiku? Kenapa kau tidak meminta hati orang lain?" gertak Baekhyun. Sungguh, meskipun dia sedikit tersentuh dengan kesungguhan Lay, tapi ia masih belum bisa terima dengan keadaan ini.
"Karena hanya hati Chanyeol-sshi yang cocok untuk Kris ge. Jika saja hati ku cocok untuknya, aku pasti sudah mendonorkan hatiku untuk Kris gege," jawab Lay yang membuat Baekhyun terkejut.
"Segitu besar kah kau peduli pada Kris-sshi?" tanya Baekhyun lirih. "Apa kau mencintai nya hingga kau rela mendonorkan hatimu jika hatimu cocok untuk Kris-sshi?" tambah namja ber-eye smile itu.
"Iya. Kau benar Baekhyun-sshi. Aku mencintai Kris ge lebih dari nyawaku sendiri," jawab Lay dengan penuh keyakinan.
"Kau mau tahu kenapa Chanyeol meninggal? Itu karena... dia adalah orang paling bodoh yang pernah ku temui," kata Baekhyun sambil menitikkan air mata. Sedangkan Lay hanya diam dan mencoba menyimak apa yang ingin Baekhyun sampaikan sebenarnya.
"Satu tahun yang lalu, aku divonis mengalami gagal ginjal. Hanya karena rasa cintanya yang begitu besara terhadapku, dia rela memberikan satu ginjalnya untukku dengan alasan dia tak ungin melihatku terus merasakan kesakitan. Dengan begitu banyak bujukan, akhirnya aku mau menerima ginjal dari Chanyeol. Sejak mendapatkan ginjal dari Chanyeol, keadaanku membaik. Kami juga akhirnya menikah setelah kondisiku benar-benar membaik. Namun, kebahagiaan kami tak berlangsung lama hingga kabar memburuknya kondisi Chanyeol membuatku terkejut. Chanyeol meninggal setelah 2 bulan di rawat karena gagal ginjal. Ironis bukan? Saat ia menyelamatkanku dari kematian, justru dia yang harus meninggal karena memberikan ginjalnya padaku," cerita Baekhyun panjang lebar dengan air mata yang terus mengalir dari sudur-sudut matanya dan sesekali melayangkan senyum getir di bibir mungilnya..
"Chanyeol-sshi pasti sangat mencintaimu," hanya itulah kata-kata yang bisa keluar dari bibir plump milik Lay. Dia bisa merasakan bagaimana hancurnya Baekhyun karena kepergian Chanyeol.
Saat menunduk, Baekhyun tidak sengaja melihat gelang yang dipakai Lay. Gelang itu adalah tanda untuk pengidap hemofilia. "Kau mengidap hemofilia?" tanya Baekhyun tiba-tiba.
"Iya. Aku memang mengidap hemofilia," jawab Lay dengan sedikit bingung dengan pertanyaan Baekhyun yang tiba-tiba. "Dari mana kau tahu?" tambah Lay.
"Gelang yang kau pakai. Aku adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit. Dan akau pernah menangani orang yang mengidap hemofilia," jawab Baekhyun. "Dan aku juga tahu jika... Pengidap hemofilia akan terus dibayang-bayangi oleh kematian," tambah Baekhyun.
"Kau benar," jawab Lay singkat sambil melihat kearah gelang yang ia pakai.
"Lalu bagaimana jika Kris-sshi sembuh karena berhasil mendapatkan donor, tapi kau justru yang tak mampu bertahan?" tanya Baekhyun. Bukan. Bukannya Baekhyun menginginkan kondisi Lay memburuk. Ia hanya ingin tahu apa yang Lay pikirkan jika salah satu dari mereka tidak selamat seperti kondisinya bersama Chanyeol.
"Aku tidak akan menyesal jika aku yang tak bisa bertahan. Asalkan Kris gege sembuh, itu sudah cukup untukku. Karena hanya itu yang aku inginkan," jawab Lay tegas.
"Apa itu juga yang dipikirkan Chanyeol?" tanya Baekhyun. Entah kenapa ia tiba-tiba bertanya seperti itu pada Lay. Namun, kata-kata Lay tadi cukup membuatnya lega. Beban sebagai penyebab kematian Chanyeol sedikit hilang dari pundak namja ber-eye smile itu.
"Aku yakin, Chanyeol-sshi tidak akan pernah menyesal memberikan ginjalnya padamu. Karena melihatmu sembuh dan terbebas dari rasa sakit adalah yang sangat diinginkan Chanyeol-sshi," jawab Lay.
"Berikan suratnya padaku. Aku akan menandatangani surat pernyataan itu," kata Baekhyun akhirnya.
"Su-surat pernyataan? Kau mengijinkan hati Chanyeol-sshi untuk didonorkan pada Kris ge?" tanya Lay tak percaya.
"Cepat berikan sebelum aku berubah pikiran?" ancam Baekhyun. Lay pun langsung memberikan surat pernyataan yang ia dapat dari Xiumin.
"Eh? Ba-baik. Ini..." ucap Lay terbata karena masih terkejut dengan perubahan sikap Baekhyun sambil menyerahkan surat pernyataan yang berisi keterangan ijin pihak keluarga untuk mendonorkan hati dari almarhum anggota keluarganya kepada orang lain.
Baekhyun pun menerima surat tersebut lalu menandatanganinya. "Ini,. Ku harap Kris-sshi bisa sembuh dan ku harap kondisimu baik-baik saja. Semoga kalian bisa bersatu," ucap Baekhyun tulus sambil menyerahkan surat pernyataan itu kembali pada Lay.
"Terima kasih banyak. Semoga kau bahagia walau tanpa Chanyeol-sshi karena aku yakin Chanyeol-sshi akan bahagia di surga jika melihatmu bahagia dan bisa menjalani hidupmu dengan baik," balas Lay. Baekhyun haya tersenyum sambil mengangguk. Setelah itu, Lay pun bergegas kembali ke rumah sakit dengan wajah berseri.
Di sebuah taxi, terlihat seorang namja manis berdimple tampak gelisah dengan sebuah map di tangannya. "Ahjusshi, apa masih lama?" tanya namja manis penyuka unicorn itu.
"Sepertinya di depan baru saja terjadi kecelakaan, Tuan. Saya tidak tahu sampai kapan akan terjebak di jalan seperti ini," jawab supir taxi yang ditumpangi Lay, namja manis berdimple tersebut. Lay semakin gelisah. Dia sudah hampir satu jam terjebak macet di jalan menuju rumah sakit.
neoui sesangeuro yeorin barameul tago
ne gyeoteuro eodieseo wannyago
Suara dering handphone milik Lay sedikit mengalihkan perhatian Lay. "Hallo?" sapa Lay pada orang di line seberang.
"Lay, eodieseo?" tanya seseorang di line seberang sedikit dengan nada panik.
"Wae, Xiumin ge? Aku masih di jalan," jawab Lay sedikit khawatir mendengar kepanikan Xiumin.
"Kau sudah mendapatkan ijin keluarga Chanyeol-sshi?" tanya seseorang di line seberang yang ternyata adalah Xiumin.
"Ne. Aku sudah mendapatkannya. Apa terjadi sesuatu?" tanya Lay semakin khawatir.
"Keadaan Kris semakin memburuk. Dia harus segera dioperasi sebelum terlambat," jawab Xiumin.
"Apa.? Ne, aku akan segera ke rumah sakit," jawab Lay dengan nada yang penuh kekhawatiran. Setelah itu, namja penyuka unicorn itu langsung menutup line teleponnya. Kemudian membayar taxi yang ia tumpangi dan berlari menuju ke rumah sakit yang bisa ia tempuh sekitar 30 menit dengan melewati beberapa jalan pintas.
Ia terus berlari diantara para pejalan kaki di sekitar jalan menuju rumah sakit. Panas terik matahari membuatnya hingga bercucuran keringat dan kelelahan. Lay bukan tipe seorang pelari. Dia tipe pemuda yang mudah lelah jika berlari. Kakinya lelah dan terasa berat. Namun, tidak. Dia tidak ingin berhenti. Dia harus terus berlari sampai rumah sakit. Semakin cepat ia sampai di rumah sakit, semakin cepat juga Kris dapat dioperasi. Keselamatan Kris adalah yang lebih penting baginya daripada keselamatannya sendiri.
"Aouch,." jerit Lay saat ia terjatuh karena kakinya yang mulai kelelahan. "Auch, eotteokhae? Huh..huh..aku..huh..harus cepat," tanpa memperdulikan luka di lutut, siku dan juga telapak tangannya yang mulai mengeluarkan darah dan juga napasnya yang tidak beraturan, Lay meneruskan perjalanannya menuju rumah sakit meski dengan terpincang-pincang.
Setelah sekitar 34 menit, Lay akhirnya sampai di depan rumah sakit. Dia langsung mencari ruangan Xiumin. "Xiumin ge.!" teriak Lay saat dia melihat namja berpipi chubby yang tengah berbincang-bincang dengan namja berambut blonde yang tidak lain adalah Xiumin dan Luhan.
"LAY!" teriak Luhan dengan raut cemas melihat pemandangan di depannya. Lay yang penuh dengan luka dan darah yang terus mengucur dari setiap bekas luka di lutut, siku dan telapak tangannya. Luhan kemudian berlari menghampiri Lay yang terlihat benar-benar lemah.
Sesaat sebelum ia benar-benar mencapai Lay, namja penyuka unicorn itu mulai kehilangan keseimbangannya. Untung saja Luhan mempercepat langkahnya hingga tubuh lemah Lay tak sampai menyentuh lantai rumah sakit yang keras. Namun, terjatuh di pelukan Luhan. "Ge.. .. a..ak..aku... berha..sil.. men..dapat..kan... ijin.. da..ri.. Baek..hyun-sshi.. to..tolong.. se..sela..mat..kan... Kris.. Kris gege," Ucap Lay pada Luhan dan Xiumin sebelum ia kehilangan kesadarannya.
"Lay, Lay... Lay bangunlah..Lay.." Luhan semakin panik melihat Lay yang tak sadarkan diri. "Hyung, aku akan merawat Lay, dan kau.. Tolong selamatkan Kris,. Lay pasti akan senang jika Kris sembuh," pinta Luhan pada Xiumin dengan nada lirih di kalimat terakhir. Walau dia sedikit tidak suka dengan kedekatan Lay dan Kris, tapi walau bagaimana pun, Kris lah semangat hidup Lay selama ini. Luhan rela melakukan apa pun agar Lay bahagia, termasuk memohon pada Xiumin agar Kris bisa diselamatkan.
Setelah sekitar dua jam, Luhan akhirnya selesai memberikan pertolongan pada Lay. Dia keluar dari ruang ICU dengan wajah menunduk. Pikirannya kalut akan kekhawatiran dengan kondisi Lay yang sangat buruk. Darah terus merembes dari setiap luka yang ada pada tubuh Lay. "Luhan.!" sapaan seorang lelaki bertubuh tinggi dan tampan walau di usianya yang sudah memasuki kepala lima membuyarkan lamunan dokter muda tersebut.
"Xiyuan Ahjusshi," lirih Luhan saat mata bulatnya mengenali figur lelaki paruh baya tersebut yang merupakan ayah Lay. Rasa bersalah mulai tumbuh dan membesar di setiap jengkal langkah Xiyuan yang semakin mendekat ke arah Luhan. Dia pernah berjanji pada ayah Lay untuk menjaga Lay. Namun, ia gagal. Ia gagal menjaga namja penyuka unicorn itu. Rasa besalah dan penyesalan itu seolah tertumpuk dipundaknya.
"Luhan, apa yang terjadi pada Lay?" tanya Xiyuan penuh kekhawatiran mengembalikan Luhan ke realita. Luhan ragu. Dia bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Xiyuan.
"Mianhae. Aku tidak bisa menjaga Lay dengan baik. Kondisi kesehatannya sudah melemah sejak awal ditambah dengan luka-luka yang ia derita membuat kondisinya semakin memburuk. Darah Lay terus merembes dari setiap lukanya," ucap Luhan memberikan penjelasan panjang lebar. Sebagai seorang ayah, Xiyuan merasa tubuhnya lemah seolah semua kekuatannya hilang hanya untuk berdiri. Ia bersandar pada dinding agar tetap bisa berdiri.
Hatinya hancur mendengar penjelasan dokter muda di depannya itu. Hati seorang ayah mana yang tidak hancur mendengar Anak semata wayangnya kini terbaring tak berdaya dan sedang berjuang melawan maut yang bisa datang kapan saja? Ditambah lagi, memikirkan bagaimana reaksi istrinya jika tahu anak mereka dalam kondisi yang sangat memprihatinkan seperti ini?
"Jangan katakan apapun pada istriku," pesan Xiyuan. "Biar aku yang mengatakan kondisi Lay padanya," tambah lelaki paruh baya tersebut. Sedangkan Luhan hanya mengangguk patuh. Mengenal keluarga Lay sejak ia masih SMA membuat Dokter muda itu sangat mengerti kekhawatiran Xiyuan.
"Luhan.!" teriak seorang namja bermata sipit yang masih terlihat manis walau diusianya yang sudah tidak muda lagi. Luhan dan Xiyuan mengalihkan pandangan mereka pada sosok namja manis itu.
"Yesung hyung,." lirih Xiyuan memanggil nama namja manis tersebut. Ya, Yesung sosok namja manis tersebut adalah istrinya dan ibu dari Lay.
"Siwon-ah, dimana Lay sekarang? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia sampai terluka?" tanya Yesung panik pada suaminya dengan memanggil nama korea namja tinggi itu.
"Tenanglah hyung. Lay akan baik-baik saja. Kita berdoa saja agar dia segera sadar," jawab Xiyuan atau Siwon tersebut.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Siwon-ah. Apa yang terjadi pada anakku?" balas Yesung keras kepala.
"Lay hanya terjatuh-"
"Dia terjatuh? Apa dia terluka? Bagaimana bisa ia terjatuh?" belum sempat Xiyuan menyelesaikan ucapannya, Yesung sudah dulu memotongnya dengan pertanyaan-pertanyaan penuh kekhawatiran.
"Dia akan baik-baik saja hyung. Jadi tenanglah," balas Xiyuan walau tak menjawab pertanyaan Yesung sepenuhnya.
"Lebih baik, Yesung ahjusshi dan Xiyuan Ahjusshi melihat sendiri keadaan Lay. Saya permisi dulu. Saya ingin melihat keadaan Kris," pamit Luhan kemudian.
"Baiklah. Oh ya, sampaikan salam kami pada Heechul hyung dan juga Hangeng hyung," pesan Xiyuan. Luhan menggangguk kemudian berlalu.
Luhan bukan orang yang akan meninggalkan Lay yang sedang lemah tak berdaya dan malah menengok keadaan seseorang yang justru mengambil semua perhatian Lay darinya. Namun, ia harus melakukannya, setidaknya untuk Lay. Walaupun Lay dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi dia yakin Lay pasti ingin tahu bagaimana keadaan namja dragon itu. Dan Luhan rela menjadi perantara diantara mereka.
"Annyeong, Xiumin hyung," sapa Luhan pada Xiumin di ruang kerja namja berjuluk baozi itu. Xiumin yang sedang memeriksa berkas-berkas di mejanya mengalihkan pandangannya pada dokter muda yang seumuran dengannya itu dan memberi isyarat pada pemuda yang lebih tingga darinya itu untuk masuk ke ruangannya.
"Aku dengar operasi Kris sudah selesai. Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Luhan to the point.
"Operasinya memang berjalan lancar. Namun, kau pasti juga tahu kalau kita belum bisa memastikan keadaan Kris sebelum ia sadar," jawab Xiumin terus terang.
"Ya. Aku tahu. Aku berharap dia cepat sadar," lirih Luhan.
"Ada apa?" tanya Xiumin tiba-tiba membuat Luhan menatap penuh tanda tanya pada dokter baozi itu. "Aku tahu hubunganmu dengan Lay dan juga Kris. Mendengarmu berharap atas kesembuhan Kris sangat terasa aneh ditelingaku," lanjut Xiumin.
"Kau pikir aku sejahat itu ya?" kekeh Luhan yang sedikit dipaksakan. "Hal itu,.. Karena jika Kris cepat sadar mungkin dia bisa membawa Lay untuk sadar juga," tambah Luhan dengan raut penuh kesedihan.
"Terjadi sesuatu pada Lay?" tanya Xiumin penasaran. Luhan mengangguk menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.
"Kondisi Lay sangat buruk. Trombositnya menurun drastis, membuat darah terus merembes dari luka-lukannya," lirih Luhan. "Harusnya aku tidak membiarkannya pergi sendiri waktu itu," tambah Luhan dengan menitikkan air mata.
Lay, namja yang menjadi semangatnya untuk belajar giat dan meraih gelar dokter. Lay, satu-satu nya orang yang sangat ingin ia jaga kini sedang terluka parah. Tidak ada yang bisa membuat Luhan begitu hancur selain kondisi Lay saat ini. Luhan menangis. Sungguh ia tak sanggup melihat kondisi Lay saat ini.
Lay yang ceria. Lay yang selalu bersikap kekanak-kanakan di hadapannya. Lay yang selalu menebarkan senyum manisnya. Lay yang sering bertingkah konyol. Lay yang ceroboh kini terbaring lemah. Hanya ada Lay yang tertidur dengan wajah pucat.
"Lay pasti bisa melewati semuanya," hanya itu yang mampu keluar dari mulut dokter baozi itu untuk menenangkan sahabatnya. Mengenal Luhan dari mereka kuliah membuat Xiumin sangat paham betapa berartinya Lay untuk sahabatnya itu.
Dua hari sudah berlalu semenjak operasi yang dilakukan pada Kris dan dari saat itu pula Kris maupun Lay belum mau membuka matanya. Mereka seolah terbuai oleh mimpi hingga tak juga mau untuk terjaga. Indahkah mimpi mereka? Atau lelahkah mereka untuk kembali ke dunia nyata?
Seorang dokter muda bertubuh tinggi dan kurus memasuki sebuah bangsal tempat Kris dirawat. Perlahan ia melangkah mendekati pasien yang masih tertidur itu. Ia kemudian menggeser kursi di tepi ranjang untuk ia duduki. "Kris,." lirih dokter muda tersebut. "Kau belum mau bangun juga?" tanya Luhan, dokter muda tersebut yang tidak akan mendapat jawaban dari namja dragon yang masih terbaring di depannya.
"Lay.." Luhan memberi jeda pada ucapannya. "Dia juga tidak mau membuka matanya," tambah Luhan. "Bangunlah Kris. Tolong bangun dan bujuk Lay agar membuka matanya," Luhan memohon. "Ku mohon Kris, bangun dan bujuk Lay. Jika kau yang memintanya, dia pasti akan menurut. Hanya kau yang bisa membuatnya bangun," isak Luhan.
Ya. Luhan menangis karena keadaan Lay yang tidak membaik dan malah semakin memburuk. Luhan membuang harga dirinya dan memohon pada Kris hanya untuk Lay. Dia berpikir mungkin Lay akan cepat sadar jika Kris juga sadar dan berbicara pada namja penyuka unicorn itu.
Sesudah ia berbicara pada Kris, Luhan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan lain. Ruangan seorang namja manis berdimple yang sangat ia sayangi. Sebelum mencapai ruangan yang ingin ia tuju, Luhan ditahan oleh seorang perawat dengan membawa boneka kelinci.
"Dokter Luhan," sapa perawat tersebut. Luhan hanya membalas dengan anggukan kecil. "Kebetulan saya bertemu dokter di sini. Saya ingin menitipkan boneka kelinci ini pada pokter. Boneka ini milik Lay-sshi. Saya sudah mencucinya dengan bersih," kata Si perawat.
"Ne, terima kasih," balas Luhan. Perawat itu pun berlalu setelah memberikan boneka milik Lay pada Luhan. Luhan juga melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat Lay.
Di ruangan bernuansa putih di salah satu bangsal rumah sakit, tengah terlelap seorang namja berdimple. Luhan yang baru saja memasuki ruangan tersebut kemudian mendudukan dirinya di sisi ranjang Lay, namja berdimple tersebut. Ia kemudian meletakkan boneka kelinci yang ia bawa di samping Lay. Setelah itu, ia raih tangan lentik milik Lay untuk ia genggam.
"Kau tidak lelah tidur terus, heum?" tanya Luhan pada Lay yang tidak pernah mendapat jawaban. "Boneka kelinci itu sangat manis, sama sepertimu. Boneka itu pasti dari Kris kan? Aku sependapat dengan Kris kalau kau memang litttle rabbit yang sangat manis," puji Luhan dengan semakin erat menggenggam tangan Lay. "Ku mohon bangunlah Lay. Aku janji setelah kau bangun, aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Aku juga akan membiarkan mu bersama Kris. Kau senang kan? Ku mohon bangunlah," rancau Luhan dengan menahan air matanya.
"Belum ada perubahan padanya?" tanya Xiumin yang sudah berada di belakang Luhan.
"Keadaannya justru semakin memburuk. Jumlah trombositnya tidak juga menunjukan adanya peningkatan," jawab Luhan tanpa menoleh karena dia sudah sangat hafal dengan suara sahabatnya itu. Xiumin menepuk pundak Luhan seolah sedang menyalurkan semangat untuk dokter muda itu. "Jika seperti ini terus, dia mungkin tidak akan selamat. Dia akan semakin kehilangan banyak darah," lirih Luhan dengan menitikkan air mata yang sejak tadi ia bendung.
"Kau sudah melakukan yang kau mampu. Semuanya ada di tangan Tuhan. Berdoa saja agar ada keajaiban yang membuat Lay siuman," kata Xiumin mencoba menenangkan Luhan. Luhan hanya mengangguk pelan. "Sekarang istirahatlah. Jam kerjamu sudah selesai bukan?" bujuk Xiumin.
"Ya," lirih Luhan. Setelah mendaratkan kecupan di kening Lay, Luhan pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Walau sebenarnya ia tak ingin meninggalkan Lay, tapi ia juga butuh untuk sekedar menenangkan diri. Setidaknya untuk menghilangkan kekhawatiran-kekhawatiran yang selama ini hinggap di hatinya.
"Di mana ini?" tanya seorang namja berambut blonde dengan tinggi badan di atas rata-rata. Ia merasa asing dengan tempatnya berdiri sekarang ini. Sebuah tempat di mana banyak pohon-pohon pinus tumbuh menjulang tinggi. Lalu, ada sebuah kolam air yang cukup lebar selebar kolam renang di sebuah taman bermain. Di lahan-lahan yang tidak ditumbuhi pohon pinus terdapat bermacama-macam tanaman bunga yang berwarna warni.
Keterkejutan namja blonde itu semakin bertambah matanya menangkan sosok seorang namja manis yang di lengannya menggendong sebuah boneka kelinci dan sedang membelai salah satu dari enam ekor kuda putih bertanduk atau yang sering disebut unicorn. "Lay," lirih si namja blonde memanggil namja manis di depannya.
Namja manis itu pun menoleh. Senyuman manis seketika merekah dari bibirnya saat ia melihat siapa orang yang memanggilnya. "Kris gege," balas namja manis atau Lay.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kris penasaran masih dengan mengamati tempatnya dan Lay saat ini sambil melangkah menghampiri Lay.
"Aku hanya bermain-main dengan para unicorn itu. Ternyata mereka makhluk yang sangat cantik jika dilihat dari dekat," jawab Lay dengan mengarahkan pandangannya ke arah para unicorn yang sudah menjauhinya dan Kris. Para unicorn itu seolah tahu jika Lay dan Kris butuh waktu berdua. Kris pun mengalihkan pandangannya ke arah unicorn yang sedang memakan rumput di dekat kolam. "Kris ge," panggil Lay.
Chupp
Sebuah kecupan di pipinya membuat Kris membeku seketika. Dia tidak siap untuk mendapat serangan tiba-tiba dari namja manis di depannya itu. "L..Lay.." gumam Kris masih dengan ekspresi shock.
"Itu untuk ucapan terima kasih karena sudah memberiku boneka kelinci ini. Boneka ini sangat manis," ucap Lay menjelaskan tindakan tiba-tibanya sambil menunduk malu. Rona merah pun tak luput untuk singgah di pipi putih Lay.
"Boneka itu sangat manis, sama sepertimu," balas Kris yang sudah sadar dari keterkejutannya. "Oh ya, sebenarnya iini tempat apa?" tanya Kris kemudian.
"Di sini adalah tempat tinggal para unicorn itu," jawab Lay. Kris hanya mengangguk menanggapi jawaban Lay walau sebenarnya ia masih tidak mengerti kenapa dia dan Lay bisa berada di tempat seperti itu. Keduanya kemudian sama-sama terdiam dan sama-sama melayangkan pandangan ke arah para unicorn yang saling bercanda dengan berlari-lari kecil di sekitar kolam.
"Kau tau, ge? Tempat ini sangat menyenangkan. Aku ingin suatu hari nanti bisa menunjukan tempat ini pada Luhan gege juga," kata Lay memecah keheningan.
Kris seketika menoleh ke arah namja manis di sebelahnya. Ada rasa tidak senang saat ia mendengar nama Luhan keluar dari bibir Lay. "Bisakah kau tidak membicarakan Luhan saat bersamaku?" pinta Kris dengan nada memerintah.
"Memangnya kenapa? Kris ge tidak suka dengan Luhan gege, ya?," tanya Lay penasaran sambil mengarahkan pandangannya pada Kris. "Luhan gege kan orang yang baik," tambah Lay.
"A,.. Aku,.. Aku hanya.. Agghhrrr,.. Hanya bisakah kau menuruti kata-kata ku?" kesal Kris yang juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Lay. Kris memang tak benar-benar membenci Luhan. Namun, melihat kedekatan Lay dan Luhan benar-benar menguras emosinya. Dia mudah sekali naik darah jika Lay mulai membicarakan Luhan di hadapannya.
"Kris gege membenci Luhan ge," lirih Lay yang kemudian mengembalikan akal sehat Kris.
"Bukan itu maksudku Lay," balas Kris lembut mencoba tak melukai hati Lay. "Dengarkan aku. Pernahkah kau berpikir jika aku cemburu dengan kedekatanmu dan Luhan?" tanya Kris serius. Lay hanya menatap Kris dan mencoba mencerna pertanyaan Kris yang baru saja ia dengar. "I love you, my little rabbit," kata Kris lembut sebelum ia mendaratkan bibirnya di bibir Lay. Lay membelalakan matanya, shock. Ia terkejut dengan ungkapan cinta Kris dan beberapa detik kemudian ia semakin terkejut saat bibir Kris menyentuh bibirnya. Lay bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Cukup lama Kris menempelkan bibirnya di bibir Lay. Kucup untuk membuat Lay tersadar dengan apa yang terjadi. "I love you too, Kris gege," ucap Lay kemudian. Mendapat balasan dari pernyataannya, Kris memberanikan diri untuk mulai menggerakkan bibirnya di atas bibir manis Lay. Lay pun dengan senang hati membalas perlakuan Kris sambil menutup matanya dan melingkarkan tangannya di leher Kris.
Cukup lama mereka saling berciuman. Ciuman tanpa ada nafsu di dalamnya. Ciuman yang tak menuntut. Ciuman manis hanya untuk saling menunjukan besarnya rasa cinta dari keduannya.
Kebutuhan oksigen diantara keduanya memaksa dua namja yang sedang mencumbu itu pelahan menghentikan kegiatan mereka. Kris kemudian memeluk Lay sangat erat seolah takut little rabbit-nya akan lepas dari rengkuhannya. Lay pun membalas pelukan Kris dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang namja yang baru saja menciumnya itu. "I really love you my little rabbit," ucap Kris lembut sambil mengecup pucuk kepala Lay penuh sayang.
"I know," jawab Lay lembut sambil semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kris. Seperti bayi yang sedang mencari kehangatan dan kenyamanan di pelukan ibunya.
Setelah cukup lama dalam posisi saling memeluk. Lay mencoba membuat jarak di antara keduanya. "Kau tahu ge? Hubunganku dan hubungan Luhan ge tidak lebih dari hubungan antara seorang gege dan didi-nya," ucap Lay kemudian.
"Tapi kalian terlalu dekat. Hal itu membuatku sering dibakar cemburu," balas Kris dengan pura-pura kesal.
"Tapi hanya Kris gege yang sangat aku cintai," tambah Lay.
"Hai, my little rabbit? Kau sedang merayuku ya?" goda Kris yang membuat Lay mem-blushing.
"Ti-tidak. Aku tidak sedang merayumu," elak Lay dengan wajah yang merona.
"Tenang saja. Kau tak perlu repot-repot merayuku. Aku sudah jatuh ke dalam pelukanmu. Jadi tak perlu merayuku lagi," goda Kris lagi dengan seriangaian jahil.
"Aku tidak merayumu," balas Lay dengan nada merajuk karena dipermainkan oleh Kris. Hal itu membuat Kris tertawa gemas dengan tingkah Lay. Bukankah dia benar-benar terlihat seperti little rabbit yang sangat menggemaskan? Setidaknya itulah yang ada di pikiran namja dragon itu.
"Gege, bisakah akau berpesan sesuatu padamu?" tanya Lay dengan nada serius yangg sontak menghentikan tawa Kris. Kris pun menatap Lay. "Sampaikan pada Luhan ge, jika aku sangat menyayanginya. Jika aku sangat senang menjadi adiknya. Ucapkan terima kasihku padanya yang selama ini sangat baik padaku," tambah Lay.
"Kenapa kau tidak menyampaikannya sendiri?" tanya Kris. Sedangkan Lay justru tersenyum lembut tanpa berniat menjawab pertanyaan Kris.
"Sampaikan juga padanya agar jangan lama-lama membuat Xiumin ge menunggu pernyataan cintanya. Atau Xiumin ge akan meninggalkannya dan Luhan ge akan menyesal," tambah Lay lagi.
"Kau kan bisa menyampaikannya sendiri padanya," balas Kris. Dan lagi-lagi Lay hanya tersenyum menanggapi ucapan Kris.
"Dan untuk orang tuaku. Terima kasih karena sudah merawatku dan membesarkanku dengan baik. Terima kasih karena sudah melimpahkan begitu besar kasih sayang mereka padaku. Aku sangat menyayangi daddy dan mommy," lanjut Lay.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau bicara seolah-olah kau akan pergi jauh?" Kris mulai kehilangan kesabaran juga rasa takut kehilangan Lay yang tiba-tiba muncul akibat pernyataan-pernyataan namja yang baru saja menjadi kekasihnya.
"Sudah saatnya kau pulang, ge," kata Lay tiba-tiba.
"Pulang? Maksudmu?" tanya Kris penasaran dan menatap Lay dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Kau tidak merindukan orang tua mu?" tanya Lay sambil menghadap namja yang lebih tinggi darinya itu. Kris hanya diam dan terus memberikan pandangan yang meminta penjelasan lebih lanjut dari namja manis itu. Lay mulai menggapai tangan kekar Kris kemudian ia genggam. "Kau sudah lama meninggalkan rumahmu. Han Ahjusshi dan Chullie Ahjusshi pasti sudah sangat merindukanmu," lanjut Lay.
Kris membalas genggaman tangan Lay. "Kalau begitu kau ikut denganku pulang," ajak Kris. Lay menggeleng pelan sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Kris.
"Aku tidak bisa pulang, gege," balas Lay lirih, tapi cukup mampu ditangkap oleh pendengaran Kris.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa pulang?" desak Kris sambil memegang kedua bahu Lay dan menghadapkan namja manis itu padanya.
"Karena di sini aku bisa hidup bersama para unicorn itu. Hanya di sini aku terbebas dari rasa sakit yang selama ini ku rasakan. Di sini juga aku tidak akan merepotkan banyak orang lagi," jawab Lay dengan air mata yang mengalir dari mata indahnya.
"Apa kau lebih memilih bersama para unicorn itu daripada hidup bersamaku?" tanya Kris lagi. Sungguh, sebenarnya Kris sedikit bingung dengan ucapan Lay. Ia hanya tahu jika Kris tak ingin meninggalkan Lay sendirian di tempat asing itu. Dia hanya ingin namja manis pencuri hatinya itu ikut kemana pun ia pergi.
"Kau tahu jawabannya," alih-alih memebrikan jawaban, Lay justru membuat penyataan. "I do love you, Kris gege," ucap Lay lembut sambil berjinjit dan mencium Kris tepat di bibir namja dragon tersebut. Kris pun membalas ciuman Lay dengan cukup intens.
Terhanyut dengan ciuman Lay, hingga membuat Kris lupa akan rasass kesalnya yang sempat membuncah. Namun, sadar akan waktu Lay melepaskan ciumannya.
"Suatu hari nanti aku akan datang untuk menjemput gege agar tinggal bersamaku. Namun, bukan sekarang. Ini belum waktunya bagi Kris gege untuk ikut bersamaku," jawab Lay memberi pengertian. "Berjanjilah kau akan hidup bahagia," pinta Lay.
"Tidak. Aku tidak akan bahagia tanpa mu," balas Kris.
"Ku mohon berjanjilah padaku," pinta Lay lagi. Dan dengan terpaksa, Kris menganggukan kepalanya membuat Lay tersenyum lega. "Kau harus bahagia," ucap Lay kemudian memeluk Kris erat.
Kris membalas pelukan Lay tak kalah erat. Ia menutup matanya mencoba merasakan kehangatan pelukan Lay. Namun, tiba-tiba ia merasa jika Lay telah hilang dari rengkuhannya. Dan benar saja, saat ia membuka matanya, Lay dan para unicorn itu telah menghilang.
"Lay.." gumam seorang namja berambut blonde yang terbaring lemah di ranjang sebuah rumah sakit membangunkan seorang namja paruh baya yang tengah tertidur di sisi ranjang tersebut.
"Kris kau sudah sadar?" tanya seorang namja paruh baya tersebut yang masih tetap cantik di usiannya yang sudah tidak muda lagi, Kim Heechul, ibu dari namja blonde itu.
"Mom-my," sapa Kris si namja blonde pada Heechul membuat senyum lega bertengger di bibir namja yang lebih tua itu.
"Ne, honey. Gwaenchana?" tanya Heechul memastikan keadaan sang anak sambil memencet tombol yang ada di sisi ranjang untuk memanggil perawat agar menuju ke ruangan tempat Kris dirawat.
"I'm fine, Mom," jawab Kris masih lemah.
"Sebentar lagi dokter pasti akan ke sini dan memeriksa keadaanmu," kata Heechul memberi tahu sambil membelai kening Kris. Kris mengangguk lemah tanda mengerti.
"Mom, where is Lay?" tanya Kris masih lemah namun tersirat rasa ingin tahu yang besar. Heechul terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa pada Kris. Dia tidak mungkin mengatakan pada Kris jika Lay sedang sekarat saat ini, kan? Kris baru saja sadar semenjak operasi cangkok hati yang dilakukannya satu minggu yang lalu. Heechul tidak ingin kondisi Kris memburuk karena mendengar berita buruk tentang Lay. Aksi diam Heechul membuat rasa khawatir tumbuh di benak namja dragon itu. "Why? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Kris lagi.
"Kris-sshi," sapa dokter berpipi chubby, Xiumin, menginterupsi pembicaraan ibu dan anak itu. Kris dan Heechul sama-sama menoleh ke arah Xiumin yang sedang berjalan menuju ranjang Kris. "Senang sekali melihat Anda sadar," tambah dokter baozi itu sesaat setelah sampai di tepi ranjang Kris. Xiumin pun mulai mengececk keadaan Kris.
"Dokter Xiumin, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Kris setelah Xiumin selesai mengececk keadaannya.
"Tentu saja," jawab xiumin dengan senyum ramah.
"Anda mengenal dokter Luhan dan Lay?" tanya Kris dengan pendangan skeptis.
Xiumin sedikit terkejut dengan pertanyaan Kris. "Kenapa Anda menanyakan hal itu?" Xiumin balik bertanya karena merasa penasaran kenapa tiba-tiba pasiennya itu bertanya tentang Luhan dan lay.
"Aku hanya ingin tahu," jawab Kris sekenannya. "Jadi Anda mengenal mereka?" tanya Kris memastikan.
Xiumin tersenyum. "Ya. Saya mengenal mereka," jawab Xiumin akhirnya.
"Apa Anda tahu dimana Lay sekarang?" tanya Kris lagi. Xiumin bereaksi sama dengan reaksi Heechul sebelumnya, terdiam. Terlalu terkejut dengan pertanyaan Kris.
"Tolong beri tahu aku dimana Lay sekarang," pinta Kris.
"Lay.. Lay sedang bersama Luhan," jawab Xiumin setengah berbohong. Dia tidak sepenuhnya berbohong karena Lay memang sedang bersama Luhan yang tengah memeriksa keadaan namja berdimple itu.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Kris lagi seolah mengabaikan rasa kecewa yang ia rasakan karena mendengar bahwa Lay sedang bersama Luhan. Namun, ada hal yang lebih penting untuk ia ketahui, keadaan namja tercintanya itu, his little rabbit. Mimpinya tentang Lay sebelum ia siuman membuat Kris merasa sangat cemas tentang keadaan sang pujaan hati.
Xiumin kembali terdiam. Kali ini dia tidak tahu harus berbuat apa. "Dia..-"
"LAY..!" teriakan dan tangis seseorang dari ruangan sebelah memotong ucapan Xiumin.
"Ada apa dengan Lay?" desak Kris yang mendengar teriakan histeris yang meneriakan nama Lay. Xiumin dan Heechul yang masih berada di dekat Kris masih terdiam. "Kalau kalian tidak mau menjawabku, akan ku cari tahu sendiri," tambah Kris dan mencoba bangkit dari ranjangnya.
"Kris!" cegah Heechul. Namun, Xiumin kemudian memberi isyarat jika Kris boleh untuk bangkit dari ranjangnya. Heechul pun mengalah dan membiarkan Xiumin dan seorang perawat membantu Kris bangkit dari ranjang dan mendudukan namja dragon itu ke sebuah kursi roda. Xiumin kemudian membawa Kris menuju ruangan yang menjadi sumber teriakan dan tangisan yang baru saja mereka dengar.
Kris dan Xiumin akhirnya sampai di sebuah ruangan yang hanya berjarak dua bangsal dari ruangan Kris. Di sana, mereka melihat Luhan dan Xiyuan atau Siwon yang tengah menangis di dekat sebuah ranjang. Sedangkan Yesung tengah menangis histeris dengan memeluk seorang namja berdimple, Lay, yang terbaring tenang di ranjang. Wajah Lay terlihat sangat pucat.
"Lay," lirih Kris kemudian bangkit dari kursi roda dan menghampiri tubuh Lay yang sudah tidak bernyawa. Entah mendapat kekuatan dari mana ia bisa bangkit dan berjalan setelah lama tertidur. Luhan, Xiyuan, dan Yesung pun menoleh ke arah Kris dan sedikit terkejut dengan kedatangann Kris yang tidak diprediksi.
Yesung yang tadinya memeluk Lay pun melepaskan pelukkannya dan menghampiri suaminya, Xiyuan. Ia memberi ruang bagi Kris untuk bisa mendekati jasad anaknya. "Lay," lirih Kris sedikit bergetar. Dia sangat shock mendapati namja yang sangat ia cintai kini terbujur kaku dengan wajah pucat. Kris menggenggam tangan dingin Lay dan menangis di sisi jasad Lay.
Acara pemakaman Lay berlangsung penuh haru. Yesung tak henti-hentinya menangis di dekapan suaminya, Xiyuan. Setelah acara pemakaman selesai, semua orang kembali pulang hanya tinggal seorang namja yang masih berdiri di sisi makam Lay. Ia kemudian berlutut dan berpegangan pada nisan Lay. "Jadi, mimpi itu adalah salam perpisahan darimu?" tanya Kris pada Lay yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban. "Kenapa? Kenapa kau pergi meninggalkanku?" tanya Kris lagi. "Kau ingin bahagia? Bagaimana aku bisa bahagia tanpamu?" Rancau Kris mulai menangis.
Don't cry, gege.
Sebuah bisikan di telinga Kris membuat Kris terdiam. "Lay kau kah itu?" tanya Kris yang entah pada siapa. "Baik. Jika kau ingin aku bahagia dan melanjutkan hidupku. Baik. Aku kan melakukannya. Aku juga akan membantumu mewujudkan keinginanmu agar Luhan dan Xiumin bersatu. Namun, kau harus menepati janjimu untuk menjemputku jika waktuku tiba," kata Kris. Ia kemudian beranjak dan mulai melangkah meninggalkan makam Lay.
"I promise. I love you, gege," ucap sebuah sosok transparan yang tersenyum memperlihatkan dimple yang begitu manis. Sosok itu kemudian menghilang layaknya kabut.
FIN
Selesai..
kayaknya bakal ada epilognya, tapi gag tau bakal jadi apa gag..
Choi Kira yang sedang merindukan kakaknya, Lay Exo M..
