Yo minna~
Gomen, gomen, saya updatenya kelamaan XD
Tapi perjuangan melawan 3 monster kecil saat menulis fic ini tidaklah mudah T^T *diganggu keponakan yang minta nonton anime T^T
Yah~ yang penting saya berhasil menyelesaikan tulisan ini XD *banzai
Mari membalas review dulu
Guest : wah en-chan langsung ketahuan siapa orang.a ya? XD
Danger : wah terimakasih sudah mau mengingatkan pasti akan selalu aku ingat :D
soal kata setelah tanda petik ("") harus kecil ya? Apa kapital sih? Masih bingung nih (+_+)
Yang log in silahkan cek inbox :D
Happy reading minna~ ^^/
Pick Up Service
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pick Up Service milik Meca Tanaka
Rated : Teen (T)
Genre : Romance, Fantasy, and Humor
Pairing : SasuSaku
Warning : gaje (mungkin), typos bertebaran, OOC (mungkin)
Don't like don't read!
Namaku Haruno Sakura, aku gadis biasa yang sangat menyukai karate. Sejak kecil kakek sudah mengajariku karate. Namun hidup ku yang biasa saja ini berubah ketika kakek ku meninggal disaat pertandingan final karate yang ku ikuti saat umurku 12 tahun. Dan dari sanalah takdir mulai mempermainkanku.
.
.
.
.
.
Sakura tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Semua perasaan yang dia simpan selama ini menguap begitu saja setelah melihat wajah pemuda yang sekarang sedang berusaha berdiri dihadapannya. Marah, rindu, dan bingung bercampur jadi satu. Entah mana dulu yang harus Sakura ekspresikan pada pemuda berambut hitam panjang dihadapannya itu. Bahkan memukulnya saja belum cukup bagi Sakura.
"Hisashiburi, Sakura" ucap pemuda berambut hitam panjang dihadapannya dengan tatapan datarnya.
"Hisashiburi" ucap Sakura tak kalah datar.
Setelah mengucapkan kata sapaan itu kesunyian kembali menyelimuti mereka. Bahkan sekarang karena bosan arwah nenek Tsunade sedang melayang-layang mengelilingi mereka dengan tatapan bosan. En-chan menguap bosan menatap Sakura dan Nabeshima. Sedangkan Tenten menatap Nabeshima dan Sakura bergantian dengan sorot kebingungan dimatanya.
"Ne, ne, dia siapa Nabe?" tanya Tenten sambil menarik-narik ujung kostum kelinci yang Nabeshima pakai.
Nabeshima menatap Tenten sebentar dan kembali menatap Sakura sebelum akhirnya menjawab.
"Namanya Haruno Sakura. Aku bertemu dengannya 4 tahun yang lalu sebelum kita dijadikan partner." Jelas Nabeshima pada Tenten.
"Bisa kita mulai prosesinya? Aku sudah tidak betah dan ingin cepat bertemu dengan suamiku diatas sana" tanya nenek Tsunade tak sabar.
"Baiklah nenek cerewet! Ayo kita mulai!" seru Nabeshima setelah mengalihkan pandangannya dari Sakura ke nenek trasnparan dibelakangnya.
"Ano En-chan, kau sudah siap?" tanya Tenten
"Hn" jawab En-chan.
"Baiklah, silahkan masuk nenek" ucap Nabeshima.
Sakura yang diacuhkan oleh mereka hanya bisa menonton kejadian didepannya dengan mata membulat kaget. Karena sekarang didepan matanya arwah nenek Tsunade tengah masuk kedalam tubuh pemuda yang Sakura tahu bernama En-chan. En-chan hanya berdiri dengan tenang sampai akhirnya arwah nenek Tsunade masuk kedalam tubuhnya dengan sempurna. Ekspresi pemuda itu tetap datar dan tenang. Awalnya Sakura mengira bahwa En-chan dirasuki. Seperti cerita-cerita horror pada umumnya. Tapi perkiraannya itu salah karena kemudian En-chan berbicara dengan normal.
"Sekarang kita kemana?" tanya En-chan.
Sakura mengira En-chan sedang berbicara pada Nabeshima atau Tenten yang berada dihadapannya. Tapi baik Nabeshima maupun Tenten tetap diam.
"Sungai dekat jembatan? Baiklah, sekarang kita kesana" ucap En-chan lagi.
Tenten yang melihat ekspresi kebingungan diwajah Sakura membuatnya merasa tidak enak.
"Ano, Sakura-san?" panggil Tenten
Sakura mengalihkan pandangannya pada Tenten yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya.
"Ada apa?!" jawab Sakura ketus.
"E-eto, apa Sakura-san penasaran dengan apa yang dilakukan En-chan? Atau Sakura-san khawatir?" tanya Tenten lagi.
Sakura menatap tajam pada Tenten dan itu membuat nyali Tenten menciut.
"Memang apa yang pemuda itu lakukan?" tanya balik Sakura
"Ya, seperti yang Sakura-san lihat. Didalam tubuh En-chan sekarang ada arwah lain selain arwahnya sendiri. Bisa dibilang En-chan sedang berbagi tubuhnya dengan arwah nenek Tsunade" terang Tenten
"Bukankah itu tidak mungkin dilakukan oleh manusia? Dan pasti juga berbahaya" sela Sakura
"Memang normalnya seorang manusia tidak akan bisa melakukan hal itu. tapi En-chan berbeda. Dia bekerja membantu kami menjemput arwah." Jelas Tenten
"Menjemput arwah? Bukankah itu tugas shinigami? Kenapa manusia bisa melakukannya?! Dan kau ini siapa?" cecar Sakura
"Kami, aku dan Nabeshima bekerja didivisi 4 pick up service. Sebuah organisasi yang dibuat untuk membantu pekerjaan shinigami. Tugas kami adalah menjemput arwah yang belum bisa kembali kesurga karena ada yang belum mereka lakukan ketika hidup" ucap Tenten yang sekarang mulai berjalan mengikuti En-chan dan Nabeshima.
"Tu-tunggu dulu! Kau membuatku bingung!" seru Sakura lalu mengejar Tenten.
"Bagian mana yang tidak kau pahami Sakura-san?" tanya Tenten tanpa memandang Sakura.
"Kau dan Nabeshima makhluk yang sama?" tanya Sakura ragu.
"Ya, kami ini arwah jika itu yang kau maksud. Aku yakin kau sudah tahu" jawab Tenten.
Dengan susah payah Sakura menelan ludahnya. Benar apa yang dikatakan Tenten, Sakura memang sudah tahu kalu Nabeshima adalah arwah. Nabeshima sendiri yang mengatakannya 4 tahun yang lalu.
"Kalian bertugas menjemput arwah penasaran, begitu?" sepertinya Sakura mulai paham.
"Tepat sekali! Kami bertugas menjemput arwah penasaran. Tapi tidak semua arwah penasaran kami jemput. Divisi dimana aku bekerja hanya bertugas untuk menjemput arwah penasaran yang mati wajar tapi masih memiliki ganjalan untuk kembali kesurga" Ucap Tenten dengan semangat.
"Ganjalan? Apa maksudnya?" ucap Sakura.
"Bagaimna ya aku menjelaskannya? Hemm…" Tenten terlihat sedang berpikir keras untuk memilih kata-kata yang tepat. "jadi, banyak manusia yang mati membawa penyesalan. Dimana mereka tidak sempat melakukan hal penting yang seharusnya sudah mereka lakukan ketika masih hidup. Banyak diantara mereka yang terlalu takut untuk melakukannya, atau terlalu bodoh untuk menyadari bahwa hal itu sebenarnya sangat penting. Hingga akhirnya mereka terlambat untuk melakukannya. Disinilah tugas kami dimulai."
"Bagaimana kalian melakukannya?" tanya Sakura penasaran
"Kami melakukannya berdasarkan perintah dari ketua divisi. Biasanya kami akan mendapatkan list arwah yang harus kami jemput." Jawab Tenten.
"Lalu apa tugas pemuda itu?" tunjuk Sakura pada En-chan
"En-chan maksudmu?" Tenten mengalihkan pandangannya pada Sakura.
Sakura hanya mengangguk dan menatap Tenten penuh tanya. Sepertinya Sakura mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"En-chan membantu kami, atau lebih tepatnya membantu para arwah melakukan keinginan terakhir mereka. Kau tahu, sebagai arwah kami tidak bisa menyentuh benda yang berhubungan dengan perasaan. Dan kebanyakan arwah yang kami jemput selalu berurusan dengan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Jadi, itulah kenapa kami meminta bantuan En-chan" jelas Tenten.
"Aku masih bingung! Bagaimana mungkin seorang manusia membantu pekerjaan kalian?" seru Sakura frustrasi.
Tenten terkekeh pelan sebelum akhirnya bicara lagi "entahlah. Kami bertemu En-chan 3 tahun yang lalu ketika kami sedang menjemput arwah seorang pria yang mati karena kecelakaan. Pria itu tidak mau ikut dengan kami sebelum menyerahkan kado ulang tahun yang baru saja dia beli untuk putrinya yang berusia 5 tahun. Pria itu memohon dan menangis pada kami agar diijinkan untuk menemui putrinya. Tapi kami tidak bisa melakukan apa-apa, karena kami juga arwah." Wajah Tenten terlihat sedih ketika menceritakan kejadian 3 tahun yang lalu pada Sakura.
Flashback 3 tahun yang lalu
Disebuah jalan raya yang sepi terlihat seorang pria sedang menangis disana. Sedangkan didepannya berdiri dua orang yang menatap pria itu dengan sedih. Sekilas tidak ada yang aneh dengan tiga orang tersebut. Tapi jika dilihat lebih dekat maka bisa dilihat dengan jelas bahwa pria yang tengah menangis ditengah jalan tersebut ternyata transparan.
"Tolong ijinkan aku memberikan kado itu pada putriku, kumohon" seorang pria sedang menangis dihadapan seorang pemuda dan gadis kecil dihadapannya.
"Maaf Asuma-san, kami tidak bisa membantu" ucap pemuda berambut hitam panjang dihadapannya sedih.
Pria itu hanya bisa menangis mendengar jawaban dari pemuda yang tengah menjemputnya itu. Sementara gadis disamping pemuda berambut hitam panjang itu sudah menangis sesenggukan.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan, Nabe?" tanya gadis itu ditengah tangisannya.
"Kita tidak mungkin bisa melakukannya. Kau tahu sendirikan kalau kita ini juga arwah" ucap Nabeshima pahit.
Tiga orang tersebut terdiam cukup lama sampai sebuah suara mengintrupsi keheningan yang tercipta.
"Maaf, apa yang sedang kalian lakukan ditengah jalan tengah malam begini?"
Tiga orang, atau lebih tepatnya tiga manusia transparan yang sejak tadi melakukan percakapan dibuat terkejut dengan munculnya seorang pemuda berambut hitam kebiruan yang mencuat kebelakang yang sekarang tengah memandang mereka bertiga dengan datar.
"Kau siapa?" tanya Nabe kaget.
"Aku bukan siapa-siapa" ucap pemuda itu datar.
"Kau bisa melihat kami?!" pekik Tenten.
"Hn" gumam pemuda itu bosan.
"Apa kau bisa membantuku anak muda?" tanya Asuma.
"Kau ingin aku melakukan apa?" tanya pemuda itu dengan tatapan datar pada Asuma.
"Tolong berikan kado yang sudah kupesan di Konoha Toy's Store pada putriku" ucap Asuma yang kemudian kembali terisak.
"Hn, paman bisa memberikannya sendiri kalau paman mau" ucap pemuda berwajah datar dan bermata hitam sekelam malam pada Asuma.
"Be-benarkah?" tanya Asuma
'Apa yang pemuda ini pikirkan?' pikir Nabeshima.
'Apa yang barusan pemuda itu katakan?! Apa dia sedang bercanda?!' pekik Tenten dalam hati.
"Hn, paman bisa masuk kedalam tubuhku sekarang. Tapi paman harus berjanji untuk menuruti perkataanku" ucap pemuda itu lagi.
Arwah Asuma kemudian masuk kedalam tubuh pemuda asing dihadapannya itu dengan mulus. Tidak terjadi hal yang mencurigakan atau membahayakan. Hal ini membuat Nabeshima dan Tenten menganga kaget dihadapan pemuda itu. Pemuda itu berjalan menuju Konoha Toy's Store dengan santai seperti tidak ada beban. Padahal didalam tubuhnya terdapat arwah lain. Tak lama kemudian pemuda itu keluar dari toko dengan sebuah kotak kado ditangannya. Nabeshima berkesimpulan bahwa pemuda dengan sekotak kado yang tengah berjalan dihadapannya bukanlah orang biasa. Pemuda misterius yang tiba-tiba muncul itu jelas memiliki kemampuan tidak wajar yang bisa membuatnya dengan santai bisa membagi tubuhnya dengan seorang arwah.
Mereka sampai disebuah rumah sederhana dipinggiran Kota Konoha. Dengan berpura-pura sebagai pengantar barang. Pemuda itu memberikan kotak kado ditangannya pada seorang anak perempuan yang sangat manis dihadapannya. Sedangkan seorang wanita cantik dengan mata semerah batu ruby disebelah anak kecil itu tersenyum lembut. Setelah menerima kado itu, gadis cilik itu tersenyum dan memeluk erat kotak kado ditangannya.
"Arigatou oni-chan" ucap gadis cilik itu lalu kembali masuk kedalam rumahnya. Setelah mengucapkan hal yang sama dengan anaknya, wanita yang ternyata adalah istri Asuma menutup pintu rumahnya pelan.
Nabeshima dan Tenten mendekati pemuda berwajah datar itu yang ternyata tengah menangis dalam diam. Tapi dari sorot matanya, pemuda itu tidak terlihat sedih sama sekali.
"Paman, berhenti menangis. Kau bisa keluar sekarang" ucap pemuda itu datar walau dia tengah menangis.
Perlahan arwah Asuma keluar dari dalam tubuh pemuda itu dan berterimakasih padanya.
"Hontou ni arigatou. Berkat bantuanmu aku bisa melakukan keinginan terakhirku. Dan maaf membuatmu meneteskan airmata" ucap tulus Asuma.
"Hn" balas pemuda itu.
"Baiklah Asuma-san. Bisa kita melanjutkan perjalanan?" sela Nabeshima.
"Ayo! Aku sudah tidak punya penyesalan lagi didunia ini" jawab Asuma.
"Silahkan naik" ucap Tenten.
Asuma berjalan mendekati sebuah vespa berwarna biru muda yang tidak jauh darinya, lalu mendudukan dirinya dikursi penumpang. Nabeshima sendiri sudah duduk didepan kemudi dengan nyaman. Tenten berojigi dan berterimakasih pada pemuda yang telah menolong pekerjaan mereka hari ini.
"Terimaksih banyak tuan. Kalau boleh tahu, siapa nama tuan?" tanya Tenten.
"Hn, aku biasa dipanggil En-chan" ucap pemuda itu lalu pergi menjauh dari Tenten.
"En-chan" gumam Tenten.
"Tenten! Ayo cepat!" seru Nabeshima.
"Baik!" jawab Tenten yang kemudian naik dengan posisi berdiri diatas tempat duduk vesap, tepat dibelakang Asuma.
"Ayo pulang!" seru Tenten, dan kemudian vespa dengan tiga orang diatasnya itu melaju dan terbang keangkasa.
Flashback end
"Jadi kalian bertemu dengan En-chan secara kebetulan?" tanya Sakura setelah mendengar cerita Tenten.
"Bisa dibilang begitu. Tapi aku lebih percaya kalau itu adalah takdir" ucap Tenten.
"Takdir?" tanya Sakura sangsi.
"Benar. Karena setelah hari itu, kami selalu bertemu dengan En-chan secara tidak sengaja. Hingga akhirnya Nabeshima meminta En-chan untuk membantu kami" jawab Tenten.
"Baiklah, sepertinya aku mulai mengerti" ucap Sakura.
"Benarkah?"tanya Tenten gembira.
Sakura menganggukan kepalanya.
"Kau dan Nabeshima adalah arwah" ucap Sakura.
"Benar" jawab Tenten.
"Kalian bertugas menjemput arwah" lanjut Sakura.
"Tepat sekali" ucap Tenten gembira.
"Dan pemuda bernama En-chan itu adalah manusia yang membantu kalian" ucap Sakura lagi.
"Begitulah" jawab Tenten membenarkan.
"Jadi, kalian itu shinigami?" tanya Sakura.
"Bukan, kami bukan shinigami" jawab Tenten.
"Lalu?" tanya Sakura.
"Tugas kami hanya membantu shinigami. Kami adalah arwah yang dipilih khusus untuk membantu kerja para shinigami. Kami seperti tangan kanan atau semacamnya. Entahlah, aku sendiri tidak paham." jelas Tenten yang diakhiri dengan kekehan pelan.
Sakura kembali melamun dan merenungkan perkataan Tenten.
"Kau bisa melihatnya sendiri" ucap Tenten menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Melihat apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Kami adalah arwah yang dipilih secara khusus untuk membantu shinigami. Kau lihat? Bahkan kami tidak transparan seperti arwah kebanyakan" ucap Tenten sambil memandang kedua tangannya.
Sakura memandang Tenten dengan seksama dan membenarkan ucapannya. Memang benar, Tenten dan Nabeshima tidak transparan seperti layaknya roh atau arwah pada umumnya. Mereka terlihat padat seperti manusia. Terlihat normal dimata Sakura, terlalu normal kalau Sakura bisa menambahkan.
"Jadi, itulah kenapa aku bisa memukul Nabe tadi? Karena kalian tidak transparan?" tanya Sakura.
"Bisa dibilang begitu, bisa juga tidak" jawab Tenten.
"Apa maksudnya itu?!" seru Sakura.
"Kau bisa menyentuh, bahkan memukul kami itu karena kau bisa melihat kami. Dan itu pasti ada sebabnya. Tidak semua manusia bisa melakukannya" ucap Tenten santai.
"Jadi apa yang bisa membuat manusia bisa melihat kalian?" tanya Sakura lagi.
"Ada tiga hal yang dapat membuat manusia bisa melihat kami" Tenten memberi jeda sebelum dia kembali berbicara. "Pertama, kau adalah manusia yang memiliki kelebihan untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat sejak kau lahir, semacam indra keenam. Apa kau masuk dalam kategori ini Sakura-san?" tanya Tenten.
"Aku rasa, aku bukan termasuk didalamnya" ucap Sakura.
"Mungkin kau termasuk dalam kategori kedua. Manusia dalam kategori ini adalah manusia yang mendapat kelebihan seperti kategori pertama dalam sebuah kejadian, seperti mati suri. Karena orang-orang yang pernah mengalami mati suri bisa dengan mudah melihat kami. Apa kau pernah mengalami mati suri Sakura-san?" tanya Tenten lagi.
"Aku memang pernah mengalami cedera dan masuk rumah sakit ketika bermain karate. Tapi seingatku aku tak pernah mati suri" jelas Sakura
"Jadi kemungkinan terakhir kau masuk dalam kategori ketiga" lanjut Tenten.
"Apa itu?" tanya Sakura penasaran.
Karena sejujurnya Sakura sendiri tidak pernah tahu apa yang membuatnya bisa melihat arwah selama ini. Karena tiba-tiba saja dia bisa melihat arwah disekitarnya. Hal ini sebenarnya membuat Sakura sangat terganggu. Tapi dia berusaha untuk mengabaikannya, sampai hari ini.
"Dalam kategori ketiga ini, manusia biasanya jarang sekali yang mengalaminya" ucap Tenten.
"Mengalami apa?" Sakura mulai penasaran.
"Kategori ketiga yang dapat membuat manusia melihat kami adalah dengan cara bersentuhan dengan kami. Sejujurnya hal ini sangat dilarang. Karena kami dalam bekerja harus meminimalisir kontak dengan manusia, pengecualian bagi mereka yang memang bisa melihat kami" terang Tenten.
Deg
Sakura langsung menghentikan langkahnya dan terdiam ditempatnya. Kata-kata 'bersentuhan' terus terngiang didalam otak Sakura. Ingatannya kembali kemasa 4 tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya Sakura bertemu dengan Nabeshima.
"Sudah jangan menangis, dan menagkan pertandingannya! Itu pesan kakekmu" ucap pemuda berambut panjang didepan sebuah pintu.
"Hiks..hiks…ta-tapi kakek jahat! Kenapa dia meninggal begitu saja?!" seru Sakura dari dalam kamar mandi.
"Itu adalah takdir. Sebaiknya kau cepat keluar, pertandingannya akan segera dimulai. Kau tidak ingin mengecewakan kakekmu kan?" ucap pemuda itu.
Pintu mulai terbuka dan menampakan Sakura yang masih terisak dengan seragam karatenya.
"Sebenarnya kau itu siapa?" tanya Sakura ketika akhirnya dia berhenti menangis.
"Namaku Nabeshima" ucap pemuda berambut panjang dihadapan Sakura.
Sakura tak bisa berkata-kata ketika sebuah tangan menyentuh puncak kepalanya dan mengelusnya pelan memberi semangat.
"Semoga berhasil" ucap pemuda tampan berambut hitam panjang itu pada Sakura, lalu pergi begitu saja.
Kenangan empat tahun yang lalu seperti sebuah film lama yang diputar ulang didalam pikiran Sakura. Sekarang Sakura ingat dengan jelas kalau Nabeshima pernah menyentuhnya. Sekarang semuanya sudah jelas. Kenapa dia bisa melihat arwah setelah kejadian itu. karena arwah pertama yang Sakura lihat adalah arwah kakeknya tengah menangis bahagia melihatnya memenangkan perlombaan waktu itu. dan disebelahnya dengan jelas dia bisa melihat Nabeshima tengah tersenyum lembut padanya.
"Sakura-san?!" seru Tenten mengagetkan Sakura.
"E-eh? Ada apa?" tanya Sakura.
"Kenapa kau diam saja disitu?" tanya Tenten yang sudah berhenti berjalan didepannya.
"Go-gomen" ucap Sakura yang kemudian berjalan menyusul Tenten.
"Kau melamunkan apa? melamunkan perkataanku ya?" ucap Tenten penasaran.
"Mungkin" jawab Sakura singkat.
"Sepertinya kau masuk dalam kategori ketiga" lanjut Tenten
"Darimana kau tahu?!" seru Sakura kaget.
"Dari reaksimu saat bertemu Nabe tadi" ucap Tenten.
Sakura terdiam, tidak menjawab perkataan Tenten yang sepertinya dari awal sudah tahu. Sedangkan Tenten hanya menghela napas dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa berkata-kata lagi. Sakura dan Tenten melanjutkan perjalanan mereka dalam diam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
.
.
.
Setelah berjalan cukup lama En-chan dan Nabeshima sampai disebuah sungai kecil yang menjadi tujuan mereka. Tak jauh dibelakang mereka Sakura dan Tenten tengah berjalan mendekat. Dan jangan lupakan ichi yang dari tadi mengekori majikannya dalam diam. Disamping kanan sungai tersebut terdapat sebuah lapangan kecil dengan rumput hijau menghiasinya. En-chan berjalan menuruni tangga yang berada disamping kirinya menuju lapangan kecil itu.
"Apa disini tenpatnya?" tanya En-chan.
"Iya, dulu aku tak sengaja menjatuhkannya disini" ucap nenek Tsunade dari dalam tubuh En-chan.
En-chan mulai berjongkok dan menyibak rumput dihadapannya. Sepertinya dia sedang mencari sesuatu. Nabeshima dan Tenten juga ikut membantu dan mulai mencari. Sedangkan Sakura hanya memandang mereka bingung dan mendudukkan dirinya dipinggir lapangan bersama ichi disampingnya.
Berjam-jam berlalu dan hampir seluruh rumput dilapangan itu diobrak-abrik oleh mereka bertiga. Namun hasilnya nihil. Benda yang mereka cari tidak juga ketemu.
"Sebenarnya apa yang sedang kalian cari?" tanya Sakura yang mulai bosan.
"Cincin" ucap En-chan.
Sakura berdiri dari posisi duduknya dan mulai ikut mencari.
"Seperti apa ciri-cirinya?" tanya Sakura.
"Cincin biasa, tidak ada hiasannya, hanya cincin polos" jawab En-chan.
Sakura mulai mencari dari pinggir dan mulai mendekati sungai.
"Apa mungkin cincin itu masuk kesungai?" tanya Sakura asal.
"Mungkin saja" jawab nenek Tsunade dari dalam tubuh En-chan.
Tiba-tiba sebuah bayangan lewat dihadapan Sakura diiringi dengan suara benda jatuh kedalam sungai. Untuk beberapa saat tidak ada yang bereaksi sampai Tenten berteriak nyaring.
"En-chan!" seru Tenten.
Sakura dan Nabeshima mengalihkan pendangannya menuju riak diatas sungai. Tempat dimana En-chan baru saja menceburkan dirinya.
Nabeshima terlihat sangat kaget dan Tenten hampir menangis. Sakura merasa aneh dengan reaksi mereka berdua dan kembali mengalihkan pandangannya menuju sungai. Tidak terjadi apapun, En-chan juga tidak terlihat.
'Apa yang sedang pemuda itu lakukan?!' pikir Sakura.
"Sakura-san! Cepat tolong En-chan! Dia tidak bisa berenang!" pekik Tenten.
Dengan cepat dan tanpa sempat berpikir hal lain Sakura melompat kedalam sungai dan melihat En-chan tengah menutup matanya dengan tenang. Dengan cepat Sakura meraih tubuh En-chan dan membawanya menuju daratan. Dimana Nabeshima dan Tenten sedang menunggu.
Nabeshima melakukan CPR (minus napas buatan) pada En-chan namun tidak terjadi apapun. En-chan masih belum membuka matanya sama sekali. Raut khawatir terlihat jelas diwajah Nabeshima. Ini pertama kalinya Sakura melihat Nabeshima menampakan ekspresi seperti itu.
"Sepertinya hal itu terjadi lagi" ucap Nabeshima lalu menghela napas.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tenten yang sudah siap menangis kapan saja.
"Apa yang terjadi?" tanya Sakura.
"Tubuh En-chan diambil alih oleh arwah nenek Tsunade. Ini sering terjadi jika En-chan mulai kelelahan" ucap Tenten sedih.
"Kalau dia tidak cepat bangun, bisa-bisa dia yang jadi arwah" seru Nabeshima kesal.
Sakura memandang wajah En-chan yang seperti tengah tertidur. Rambut hitamnya basah dan sedikit menutupi wajah putih pucat miliknya. Kalau boleh Sakura jujur, En-chan adalah pemuda yang sangat tampan. Sakura melihat Nabeshima dan Tenten sudah tertunduk lemas disamping En-chan. Sakura mulai merasakan hal yang sama dan menganggap dirinya tidak berguna jika sampai pemuda yang pingsan dihadapannya ini sampai tidak tertolong. Entah mengapa Sakura merasa kasihan pada En-chan. Padahal mereka baru saja bertemu, bahkan belum berkenalan. Memikirkan hal itu membuat Sakura merasa kesal dan memukul kepala En-chan cukup keras.
"Bangun baka!" seru Sakura yang dengan mulus mendaratkan pukulannya.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Nabe dan Tenten kaget.
"Memukulnya!" seru Sakura kesal.
Wusshh
Angin berhembus dan perlahan arwah nenek Tsunade keluar dari dalam tubuh En-chan sambil memegangi kepalanya yang benjol.
"Gadis yang tidak punya sopan santun" seru arwah nenek Tsunade.
Sakura memberikan deathglare andalannya pada nenek Tsunade. Melihat tatapan menakutkan Sakura membuat arwah nenek Tsunade bergidik ngeri.
"Uhuk..uhuk…" En-chan sadar dari pingsannya dan memuntahkan air dari mulutnya.
"En-chan!" seru Tenten lalu memeluk En-chan.
Nabeshima menghela napasnya lega dan menatap En-chan marah.
"Sudah berapa kali kubilang padamu untuk tidak bersikap terlalu baik pada arwah yang ada didalam tubuhmu!" seru Nabeshima marah.
"Hn" jawab En-chan.
Setelah beristirahat sebentar dan arwah nenek Tsunade meminta maaf atas kelakuannya tadi, pencarian cincin dilakukan kembali.
"Memang sepenting apa sih cincin itu?" tanya Sakura yang akhirnya menyerah mencari cincin itu.
"Itu adalah cincin pemberian pacar pertamaku, cincin itu sangat penting bagiku. Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali" jelas arwah nenek Tsunade yang sudah kembali berada didalam tubuh En-chan.
"Sepertinya cincin itu sudah benar-benar hilang" ucap En-chan datar.
Arwah nenek Tsunade keluar begitu saja dari dalam tubuh En-chan dengan wajah sedih.
"Sepertinya percuma saja mencarinya. Mungkin memang sudah hilang. Terimakasih sudah mau membantuku. Ayo berangkat" ucap arwah nenek Tsunade.
"Tapi cincinnya kan belum ketemu" ucap Tenten.
En-chan yang melihat wajah sedih nenek Tsunade kembali melanjutkan pencariannya. Nabeshima dan Tenten yang melihatnya juga melakukan hal yang sama. Menyibak semua rumput yang ada dihadapan mereka. Keringat membasahi wajah tampan nan datar milik En-chan. Namun tiba-tiba En-cah berhenti melakukan kegiatannya dan menatap Sakura intens, atau lebih tepatnya menatap ichi disamping Sakura. En-chan mulai berjalan mendekati Sakura dan berhenti tiga langkah didepannya.
"Nona, bisa kau suruh anjingmu itu menyingkir?" tanya En-chan.
"Kenapa?" tanya Sakura bingung.
"Lakukan saja" ucap En-chan datar.
Sakura menarik ichi menjauh dan kemudian En-chan mendekati tempat yang baru saja ichi tinggalkan. Dengan senyum mengembang diwajah tampannya En-chan mengambil sesuatu dari dalam rumput dan membalikkan badannya yang tadinya membelakangi Sakura dan lainnya.
"Aku menemukannya" ucap En-chan sambil menunjukan sebuah cincin kecil ditangannya.
Arwah nenek Tsunade menangis haru melihat cincin ditangan En-chan. Sedangkan Nabe, Tenten, dan Sakura ternganga keget.
"Bagaimana bisa?" gumam Sakura.
"Aku baru sadar kalau anjingmu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Dan itulah satu-satunya tempat yang belum kita cari" jelas En-chan.
"Nenek bisa masuk dalam tubuhku lagi jika ingin memegangnya" lanjut En-chan.
Setelah mendengar kata-kata En-chan arwah nenek Tsunade kembali masuk dalam tubuh En-chan dan berusaha memakai cincin itu. Cincin itu hanya masuk hingga pertenghaan cari manis En-chan karena ukurannya yang terlalu kecil.
Setelah mengucapkan terimakasih berkali-kali akhirnya Nabeshima dan Tenten membawa arwah nenek Tsunade menggunakan vespa biru muda milik Nabe, seperti biasanya.
En-chan menidurkan dirinya diatas rumput dan memandang vespa biru muda yang mulai menjauh diatas sana. Dan langit senja mengakhiri kegiatan Sakura hari ini. Sungguh kejadian yang tidak pernah dia bayangkan. Membantu arwah kembali kesurga ternyata bukanlah hal mudah. Sakura memandang En-chan yang sudah memejamkan matanya. Sakura berpikir, kira-kira sudah berapa banyak arwah yang En-chan tolong.
"Ayo kita pulang ichi" seru Sakura.
Namun bukannya mengikuti Sakura, ichi justru berlari dan melompat keatas tubuh En-chan dan mulai menjilati mukanya.
"Huwa..aa…singkirkan dia dariku!" seru En-chan panik.
Sakura tertawa melihat wajah panik En-chan dan mulai berjalan menjauh.
"Nona! Singkirkan anjingmu dariku!" seru En-chan dibalik punggung Sakura.
"Namaku Haruno Sakura, bukan nona" ucap Sakura singkat dan mulai terkikik.
"Nona!" seru En-chan kembali.
TBC
Akhirnya update XD *tebar bunga
Author minta map nih updatenya lama m(_,_)m *gomen
Karena seperti yang sudah author jelaskan diatas, author mengalami serangan dari 3 monster kecil yang mensabotase laptop author *gigit jari dipojokan T^T
Tapi akhirnya sekarang bisa update juga XD
Seperti biasa RnR minna~ ^^/
