Disclaimer: Tite Kubo sensei

Pairing IchiRuki, IchiHime, KaienRuki

"Winter"

Chapter 2



Rukia POV

Aku dan Matsumoto turun dari bus yang membawa kami sampai ke jalan kecil dan sepi. Jalan ini menuju ke sebuah apartemen. Yah, sebenarnya tidak bisa disebut sebagai apartemen karena gedung ini hanya bertingkat dua. Tidak ada lift dan sebagai gantinya terdapat tangga yang berukuran tidak terlalu lebar.

Sudah 5 bulan, aku tinggal di sini. Biaya sewanya terjangkau dan cocok untukku yang hanya bekerja di salah satu perpustakaan di Shinjuku. Aku suka sekali membaca jadi kuputuskan untuk bekerja di sana. Awalnya Hisana nee-san dan Byakuya nii-sama tidak mengizinkan. Mengingat aku adalah salah satu dari keluarga terhormat Kuchiki, mereka takut akan keselamatanku. Tapi aku tetap memaksa dan berjanji akan pulang ke Kyoto setiap liburan.

"Kau pinjam buku lagi?" tanya Matsumoto.

Aku mengangguk. "Ini," jawabku sambil mengeluarkan dua buah buku tebal dari tasku. "Dua buku ini baru masuk hari ini di perpustakaan umum Shinjuku dan aku menjadi orang pertama yang membacanya. Kau mau pinjam?" tawarku.

"Buku klasik? Yang benar saja? Otakku yang sederhana ini hanya bisa memahami manga," jawabnya lalu tertawa.

Kami berpisah di lantai dasar. Matsumoto dan adiknya Ikkaku tinggal di apartemen bawah nomor 114. Sedangkan di apartemen nomor 115 ditempati oleh sepasang suami istri, Kisuke Uruhara dan Yoruichi yang sekaligus merupakan penanggung jawab gedung.

Aku sendiri menempati apartemen nomor 215 di lantai dua. Apartemen nomor 214 yang ada di sampingku, saat ini kosong. Dulu saat aku pertama kali pindah ke sini, sepasang suami istri menempati apartemen itu selama satu tahun. Orangnya baik dan sering membantuku. Sebulan yang lalu mereka pindah dari sini karena ingin menempati rumah yang baru mereka beli di pinggiran kota.

Aku mulai menaiki tangga menuju apartemenku di lantai atas. Udara malam ini dingin sekali. Membuatku hampir beku.

"Bruk," buku-buku tebal yang tadi aku bawa jatuh tepat di pintu apartemen nomor 214. Aku menghela nafas dan jongkok untuk mengambilnya. Aku terkejut ketika pintu apartemen nomor 214 mendadak berayun terbuka. Tunggu!!!. Bukankah apartemen itu belum ada yang menempati. Jangan-jangan ada hantu sadako. Apa yang harus ku lakukan kalau mendadak muncul hantu dihadapanku. Lari? Atau memukulnya dengan buku yang aku bawa? Memang hantu bisa dipukul? Pikiranku mulai melantur. Ah, tidak. Kami-sama tolong aku. "AAAAAAAAAAAAAAAA," aku berteriak.


Ichigo POV

Aku terbangun dengan kepala melirik ke luar jendela. Cahaya lampu di luar membuatku menyipitkan mata. Karena sekarang lampu apartemen tidak aku nyalakan Sudah malamkah? Jam berapa ini?Aku tidak bisa tidur nyenyak dipesawat tadi. Jadi ketika sampai aku langsung menuju kamar dan tidur. Tenggorokanku kering dan perutku lapar. Kapan terakhir kali aku makan? Sewaktu dipesawat? Pantas saja sekarang aku kelaparan.

Aku baru akan berjalan ke dapur ketika mendengar benda jatuh keras di luar pintu apartemen. Aku menoleh dan melihat bayangan gelap terpantul dari bawah celah pintu. Jangan-jangan pencuri. Ku putuskan untuk menghampiri pintu itu dan membukanya. Tak lupa aku membawa sebuah pemukul yang terletak di pojok ruangan.

"AAAAAAAAAAAAAAAAA", teriak seorang gadis membuatku menutup kedua telingaku dan menjatuhkan pemukul yang tadi aku pegang. Lho!!! Itu kan gadis yang tadi aku tabrak saat di bandara? Oh, Kami-sama apa salahku? Kenapa aku bertemu dengan gadis menyebalkan itu lagi?

Aku melihat gadis itu jongkok dan masih menutup matanya. Bibirnya berkomat kamit membaca sesuatu. Hehehe. Terpikir olehku untuk mengerjainya. Yah, hitung-hitung balasan tadi dia menginjak kakiku di bandara.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dengan suara yang sengaja aku buat-buat agar lebih menakutkan.

"Ja..ngan gang..gu a..ku," katanya terbata-bata.

Mukaku memerah karena menahan tawa. Sepertinya akan menarik. Mendadak keadaan sekelilingku menjadi riuh. Bunyi pintu-pintu membuka. Lalu berbagai seruan yang terdengar tumpang tindih.

"Ada apa?Apa yang terjadi?".

"Suara apa itu?".

"Siapa yang berteriak?".

"Ada pencuri?".

"Rukia kaukah itu?".

"Rukia?".

"Ikkaku! Ayo kita naik".

"Mana tongkat bisbolku?".

"Bu, kau tunggu di sini saja".

"Hati-hati".

Dalam sekejap, tiga orang bermunculan dihadapanku. Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata memandangi dua orang pria dan satu wanita yang menyerbu koridor sempit di lantai dua. Aku mengenal salah satu pria itu. Pria yang memakai topi, tadi siang aku berbicara dengannya soal sewa-menyewa apartemen di sini. Namanya kalau tidak salah Kisuke Uruhara. Sedangkan seorang pemuda kepalanya botak yang membawa tongkat bisbol dan seorang wanita berambut orange panjang masih menatapku heran.

"Rukia, apa yang terjadi?" tanya si wanita berambut orange panjang sambil menghampiri gadis yang membuatku kesal itu. "Kau baik-baik saja?"

Gadis itu membuka matanya. "Matsumoto. Eh, aku baik-baik saja. Kau tahu tadi ada hantu", jawabnya.

"Hantu?".

Dia mengangguk. "Maksudmu orang ini? Rukia apa dia macam-macam padamu?" tanya si pemuda yang kepalanya botak sambil mengacungkan tongkat bisbolnya ke arahku.

Mata violet gadis itu membulat sempurna ketika melihatku. "Kau, rambut jeruk!" serunya tak percaya. "Kenapa kau ada di sini? Oh, jadi tadi kau yang menakut-nakutiku? Ikkaku, sini aku pinjam tongkat bisbolmu, biar kupukul dia," katanya sambil merebut tongkat itu dari si pemuda kepala botak dan bersiap memukulku.

Aku mengambil tongkat yang tadi aku jatuhkan. "Kau pikir aku takut padamu. Ayo sini maju kalau berani," tantangku.

"Sudah-sudah hentikan,"lerai Pak Uruhara.

"Kalian saling kenal?" tanyanya padaku dan gadis itu.

"Tidak," jawab kami bersamaan.

Aku melihat Pak Uruhara menghela nafas sedangkan wanita berambut orange dan si pemuda berkepala botak hanya geleng-geleng kepala.

"Dia orang yang baru pindah ke apartemen ini. Namanya Ichigo Kurosaki,"jelas Pak Uruhara.

"Hmm. Saya baru tiba di Tokyo dengan pesawat siang tadi. Karena tidak enak badan saya langsung tertidur ketika tiba di apartemen ini. Saya minta maaf karena tidak memperkenalkan diri sejak awal," kataku seraya membungkuk meminta maaf.

"Namaku Matsumoto dan ini adikku Ikkaku. Kami tinggal di apartemen bawah nomor 114," kata wanita berambut orange itu sambil tersenyum padaku.

"Senang bertemu denganmu," kata Ikkaku.

"Nah, dia namanya Rukia Kuchiki. Dia tinggal di apartemen sebelahmu," sambung Pak Uruhara sambil menunjuk gadis menyebalkan itu.

"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Matsumoto pada Rukia.

"Ehm, itu sebenarnya aku tidak tahu kalau sudah ada yang menempati apartemen nomor 215. Tadi aku terkejut ketika tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan jadi kupikir," suaranya semakin lirih dan dia tersenyum kikuk "itu hantu,".

'Ternyata dia manis juga' pikirku.

"Tapi itu semua salahmu, kenapa kau menakut-nakutiku?" nada suaranya berubah menjadi marah.

Baru dibilang manis, sudah marah-marah lagi. Orang menyebalkan tetap saja menyebalkan.

"Salahmu sendiri, kenapa jadi orang penakut sekali," jawabku enteng.

"Kau..,"

"Hei kalian berdua hentikan. Kalau masih mau tinggal di sini jangan bertengkar lagi. Mengganggu orang saja," ancam Pak Uruhara. Aku dan Rukia langsung diam.

"Nah, bagus. Aku kembali ke bawah sekarang. Istriku sudah menunggu. Selamat malam," kata Pak Uruhara lalu pergi meninggalkan kami.

"Ichigo, Rukia, aku dan kakak pulang dulu," kata Ikkaku lalu berjalan menuruni tangga. Matsumoto melambaikan tangan kepada kami dan tersenyum.

"Ini semua salahmu midget," seruku.

"Buk," lemparan sandal berbentuk kelinci aneh tepat mengenai belakang kepalaku. Aku meringis kesakitan dan mengelus-elus belakang kepalaku. Aku melihat Rukia tertawa dan berjalan memungut sandal yang tadi dia lempar. Aku memberikan deathglare ku padanya. Namun Rukia hanya terkikik. "Selamat malam jeruk bodoh," katanya lalu pergi masuk apartemennya.

Dasar gadis aneh. Pantas saja seleranya juga aneh. Sandal berbentuk kelinci, huh. Handphone dari saku celanaku berbunyi. Aku mengambilnya dengan malas.

"Hallo,".

"Kurosaki, ini kau? Kau serius pindah ke Tokyo?," tanya suara di seberang sana.

"Iya. Ada apa?".

"Bisa besok kita ketemu?".

Aku berfikir sejenak. "Baiklah".

"Besok sore jam tiga di kafe favoritku di daerah Shinjuku".

Sambungan telepon terputus. Aku mengantongi handphone ku lagi. Pikiranku kacau. Ditambah lagi perutku keroncongan. Sial sekali hari ini. Sebenarnya keputusanku untuk pindah ke Tokyo kali ini benar atau salah ya?

Tsuzuku



Balasan untuk yang review:

Aya-na Byakkun:

Wah…souka?...arigatou Aya senpai^^…

Hehehe… chapter pertama sya lupa…tapi yg chapter dua ini sudah sya kasih…

Thx udh d ingtkan…

Ah..iy brhubung sya msih bru d sni…

Mhon bmbingannya :_D…

Hikaru Ryuuzaki:

Yup...sya msih bru d sni…jd mhon bmbingannya:_D..

Hehehe…hontou ni arigatou Hikaru senpai^^…

Chapter dua ini lbih sdikit agk pnjang dri yg prtama XD…

kuroi no yuki:

Itsumo arigatou Yuki senpai^^…

Ini sdah sya update…

Mhon bmbingannya:_D…

Zheone Quin:

Thanks Zheone senpai^^…

Mhon bmbingannya:_D…

Jess Kuchiki:

Iy…sya msih bru^^…

Souka?...arigatou gozaimasu Kuchiki senpai:D…

Hehehe…iy..thx dah d ingatkan…

Spertinya di chapter dua ini..sya g lupa ngasih titik..

Mhon bmbingannya:_D…

Riztichimaru:

Arigatou Riztichimaru senpai^^…

Mhon bmbingannya:_D…

Hontou ni arigatou untuk yang review. Untuk chapter dua mohon di review lagi. Supaya saya lebih baik lagi untuk menulisnya :D…