Ryu : Yay~ Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menyelesaikan fic ini! XD

Miku : OI! BAKAGO! KATANYA JANJI UPDATE CEPAT, INI UDAH SEBULAN LEBIH! W(OAOW)

Ryu : Iya, gomen... habis tugas anak kelas 2 SMP ternyata luar biasa banyak... ._. Dan lagi, aku ketagihan menulis di FictionPress... jadi fic ini sempat terlantar... #Plak!

Rin : Sudah, lebih baik kita melihat lanjutan fic ini ^^'

Rinto : Dan melihat betapa romantisnya Rin dan aku~ XD

Rin : Rinto! /

Ryu : Sudahlah, biarkan mereka berdua bermesraan~ XD #Plak!Dor!Duak! O iya, arigatou kepada minna sekalian yang sudah review, favourite, dan alert~ Maaf karena updatenya lama... Akhir kata, selamat membaca~ ^^


My Genie is My First Love

.

Disclaimer : Vocaloid Yamaha Corporation & Crypton Future Media ; Story Ryu Kago

Warning(s) : OOC, AU, Typo(s), Romance kurang terasa, dll ;-)

.

Miku Hatsune, seorang gadis SMA menerima hadiah berupa kotak musik dari teman, Rin Kagamine. Tapi, ternyata muncul sesosok jin dari dalam kotak musik itu dan memberikan Miku 3 permintaan. Kira-kira, apa yang akan diminta oleh Miku?

.

Keesokan paginya, di perjalanan menuju sekolah, Miku dan Rin kembali berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.

Mereka asyik mengobrol dan bercanda ria sambil tertawa sesekali.

"Rin, kapan rencananya kau mau menembak Rinto?" tanya Miku tiba-tiba. Sontak wajah Rin langsung merah padam.

Miku hanya tertawa kecil melihat wajah manis Rin yang kini sudah berwarna merah bagai tomat.

"Umm... yah, secepatnya..." jawab Rin dengan ragu-ragu. Tanpa ia sadari, wajahnya pun bertambah merah sehingga membuat Miku tertawa kecil.

Sesampainya di depan kelas, mereka langsung berhadapan dengan orang yang tidak mereka duga sebelumnya.

Mereka bertemu dengan... Rinto Kagami!

Rin pun menjadi salah tingkah melihat sang pujaan hatinya berdiri di hadapannya saat ini. Dia pun langsung segera bersembunyi di belakang Miku dengan wajah memerah.

"Ah! Ohayou, Rinto-kun!" sapa Miku sambil berusaha tersenyum manis. Lalu Miku menyikut Rin untuk memberi salam juga.

"Ng... O-ohayou... Rinto-kun..." kata Rin dengan terbata-bata.

Rinto pun membalas sapaan mereka dengan senyuman khas-nya yang telah berhasil membuat Rin melting.

"Ohayou, Miku-chan..." sapa Rinto. "Ohayou, Rinny..."

.

.

.

DEG!

'R-Rinny...? Dia memanggilku dengan sebutan itu...?' batin Rin dalam hati dengan jantung yang berdegup kencang.

Sudah begitu, senyuman khas Rinto itu pun terus tersungging di wajahnya yang tampan sehingga membuat wajah manis Rin merah padam.

"Rin?" panggil Miku saat menyadari Rin terus mencengkram lengan kemeja seragam sekolahnya dengan erat.

Miku pun melihat wajah Rin yang terlihat sangat merah, lebih merah dari tomat.

Setelah Rinto sudah masuk ke kelasnya sendiri, barulah Rin mau melepaskan cengkramannya itu diiringi dengan suara gelak tawa Miku.

"Hahaha... dasar Rinny... kau harus berani, dong!" seru Miku sambil tertawa keras. Rin pun menggembungkan pipi kirinya pertanda bahwa ia sedang kesal.

"Jangan tertawa! Daridapa kau tertawa terus, lebih baik kau bantu aku!" seru Rin dengan kesal. Miku pun mengusap ujung kepala Rin dengan gemas.

"Iya, Rinny~" jawabnya sambil tersenyum ke arah temannya itu.

Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas.

Ternyata belum ada murid lain yang berada di kelas. Ini merupakan kesempatan bagus untuk membahas hal-hal rahasia di antara mereka berdua.

"Rin," panggil Miku. "Kenapa tidak kau nyatakan saja perasaanmu tadi? Bukankah tadi itu hanya ada kita bertiga?"

Sebuah jitakan pun mendarat di kepala Miku.

"Kau ini tidak pikir, ya?" kata Rin dengan kesal. "Mana mungkin aku bisa menyatakan perasaanku kalau sedang ada orang lain di situ, walaupun orang itu adalah sahabat terbaikku..."

"Iya, iya... kali lain aku akan meninggalkan kalian berdua..." jawab Miku diiringi dengan tawa yang tertahan.

Setelah itu, satu persatu anak di kelas pun datang, sehingga Miku dan Rin harus mengakhiri pembicaraan mereka.

.

Saat bel istirahat pertama berbunyi, Rin pun langsung menghampiri meja Miku seakan hendak mengabarkan suatu hal penting.

"Umm... Miku..." kata Rin dengan suara yang begitu pelan sehingga hampir tidak terdengar oleh Miku. "Aku sudah memutuskan untuk menyatakan perasaanku pada Rinto-kun sekarang,"

Miku menatap Rin dengan tatapan terbelalak kaget. Siapa sangka Rin yang begitu pemalu bisa langsung memutuskan hal seperti ini?

"Yosh, kalau begitu aku akan membantumu, Rin-chan!" seru Miku dengan semangat. Rin pun tersipu malu melihat tingkah Miku barusan.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, mereka segera berjalan ke luar kelas dan berjalan menuju kelas 2-A, kelas tempat di mana Rinto Kagami berada.

Sesampainya di depan pintu kelas yang di tertera tulisan '2-A', Rin langsung meneguk ludahnya dan Miku pun menepuk pundak Rin untuk menenangkannya.

Mereka berdua pun melirik ke dalam kelas 2-A, dan di sana hanya ada Rinto Kagami! Betapa beruntungnya mereka saat itu!

Rin pun kembali meneguk ludahnya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wajah Rinto yang memesona saat sedang membaca buku.

"Ayo, Rinny! Kau pasti bisa!" seru Miku dengan semangat, tapi tetap mengatur volume suaranya agar tak terdengar oleh Rinto.

Rin pun melangkah masuk dengan ragu-ragu. Dimainkan jarinya pertanda bahwa ia sedang gugup dan gelisah.

"R-Rinto-kun..." panggil Rin. Rinto pun menoleh saat mendengar suara panggilan Rin. Rin kembali meneguk ludahnya sekali lagi.

"Ada apa, Rinny?" Blush! Wajah Rin langsung memerah saat mendengar kata-kata Rinto barusan.

Memang, yang selama ini memanggilnya 'Rinny' hanya Miku. Siapa sangka kalau seorang Rinto Kagami, sang pujaan hati Rin juga memanggilnya begitu?

"Ng... A-aku ingin mengatakan sesuatu..." kata Rin lagi dengan terbata-bata. Rinto pun memutar tubuhnya sehingga saat ini ia dan Rin dapat saling berhadapan.

"Katakanlah," kata Rinto sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang cukup panas untuk membuat Rin kembali melting.

"A-aku..." kata Rin dengan wajah memerah dan jantung berdebar-debar. Rin pun kembali meneguk ludah untuk yang terakhir kalinya.

"Daisuki desu, Rinto-kun!" kata Rin lantang dengan wajah merah padam.

Mata Rinto terbelalak mendengar pernyataan Rin barusan. Sementara itu, sang gadis dengan pita putih di kepalanya itu menunggu jawaban dari Rinto dengan hati berdebar-debar.

Rinto pun menundukan kepalanya.

"Gomenesai..." kata Rinto pelan. "Aku... tidak merasakan apapun terhadapmu..."

Mata Rin terbelalak mendengar jawaban Rinto barusan. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga.

'Aku... aku ditolak...?'

Muncul titik-titik air mata di kedua mata sapphire Rin yang masih memancarkan ekspresi terkejut sekaligus shock.

Akhirnya, air mata pun tumpah dari kedua mata Rin dan membasahi kedua pipinya yang masih mengeluarkan semburat merah.

Rin segera berlari keluar dari kelas 2-A sambil terus menangis. Dia merasa begitu terpukul sehingga tidak menyadari saat dirinya sudah menabrak Miku hingga gadis twintails itu hampir jatuh.

"Rin!" panggil Miku terhadap gadis yang saat ini sedang berlari tak tentu arah dengan berlinang air mata.

'Sudah kuduga, gadis sepertiku tidak mungkin bisa mendapatkan seorang laki-laki seperti Rinto...' batin Rin dalam hati sambil terus berlari.

Air matanya terus mengalir dan membasahi wajah serta tangannya. Dia tidak peduli akan menjadi bahan tontonan semua anak yang melihatnya. Hatinya terlalu sakit saat ini untuk menanggapi semua pandangan yang tertuju padanya.

Sementara itu, Miku sedang berjalan mendekati Rinto yang sedang melanjutkan kegiatannya membaca buku yang sempat tertunda tadi.

"Rinto-kun..." panggil Miku. Rinto pun menoleh ke arah Miku.

"Kamu teman gadis yang bernama Rin Kagamine itu, kan? Ada apa?" tanya Rinto tanpa rasa bersalah sedikitpun.

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Rinto.

"BAKA! Apa kamu tidak mengerti perasaan Rin?! Dia begitu mencintaimu! Paling tidak, hiburlah dia! Jangan hanya diam dan membaca buku seperti ini!" teriak Miku dengan penuh emosi.

Rinto hanya menatap Miku dengan mata terbelalak. Belum pernah ada orang, terutama gadis, yang berani membentaknya seperti itu. Apalagi...

"Daisuki dayo..." Rinto membisikan kata-kata itu sambil menundukan kepalanya.

"Eh?"

"Aku menyukaimu, Miku-chan. Senyumanmu yang manis, rambut tosca-mu yang indah, mata hijaumu yang bersinar, kau begitu sempurna di mataku..." kata Rinto dengan pelan. "Tapi, nyatanya justru gadis itu yang menyatakan perasaannya padaku, bukan kau."

Mata Miku terbelalak kaget. Ditatapnya wajah Rinto dengan tatapan terkejut.

"Kau... serius?" tanya Miku memecah keheningan yang tadi terjadi di antara mereka berdua.

Rinto pun mengangguk pelan.

"Iya,"

Miku pun terdiam mendengar jawaban Rinto tadi. Dia menundukan kepalanya dalam-dalam agar rona merah tipis yang ada di wajahnya tidak terlihat oleh Rinto.

Miku pun menggelengkan kepalanya.

"Maaf, Rinto-kun. Aku tidak bisa," kata Miku pelan. "Aku ingin temanku bahagia, dan aku tahu bahwa masih ada gadis lain yang lebih baik dariku. Seperti Rin..."

"Tapi aku mencintaimu!" seru Rinto sambil bangkit berdiri. "Aku tidak mencintai gadis itu!"

PLAK! Lagi-lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Rinto, namun kali ini pipi kiri-nya lah yang menjadi sasaran tangan Miku.

Air mata Miku mulai mengalir dan membasahi wajahnya yang memerah. Bukan karena malu, namun karena marah.

"Jangan katakan hal itu lagi!" bentak Miku lagi. "Aku tidak ingin melakukan ini, tapi aku ingin temanku bahagia! Tolong, mengertilah perasaanku!"

Miku pun segera berlari ke luar kelas tanpa memedulikan tatapan Rinto yang masih kebingungan.

Dia segera mencari di mana Rin berada dengan bertanya pada setiap anak yang ia temui.

"Kalian lihat Rin?"

"Ya, tapi tadi. Tadi dia berlari sambil menangis, sekarang kami tidak tahu dia ada di mana." Miku menggeram kesal mendengar jawaban dari sekelompok anak kelas 3 yang ditemuinya.

'Rinto... teganya kau membuat Rin menangis...' geram Miku sambil menggertakan giginya.

Karena tidak ada yang tahu di mana Rin berada saat ini, Miku pun segera berlari menuju ke tempat yang biasa didatangi oleh Rin.

.

.

.

Yaitu atap sekolah.

Siapa tahu Rin ada di sana?

Saat Miku sudah tiba di atas atap sekolah, dia melihat sebuah benda berwarna putih yang melambai-lambai dari balik tembok yang tidak terlalu tinggi.

Miku pun menyipitkan matanya. Benda putih itu terasa tidak asing di matanya.

Itu... PITA MILIK RIN!

Miku pun segera berlari menuju tembok tersebut dan mengintip di balik tembok tersebut.

Di sana, duduklah seorang gadis dengan pita putih besar di atas kepalanya.

Gadis itu terlihat sedang menangis tersedu-sedu dengan kedua lengan yang menutupi wajahnya.

"RIN!" seru Miku memanggil nama gadis yang sedang menangis di balik tembok itu.

Sang pemilik nama yang dipanggil oleh Miku itu pun segera menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya tadi.

"M-Miku..." bisik Rin lirih memanggil nama sahabatnya itu. Dia menatap wajah Miku dengan kedua mata yang masih basah.

"Bagaimana kau tahu aku ada di sini...?"

"Kau ini, Rin..." kata Miku sambil tersenyum manis. "Pita putih besar di kepalamu itu terlihat dari balik tembok yang tidak terlalu tinggi ini,"

Mata Rin terbelalak menyadari betapa cerobohnya dirinya. Bersembunyi tanpa menyadari bahwa pita putih besar yang bersandar di atas kepalanya itu terlalu besar untuk dapat disembunyikan di balik tembok yang tidak terlalu tinggi.

"Selain itu," kata Miku melanjutkan kalimatnya yang barusan. "Kita sahabat, kan? Jangan bersembunyi dariku. Ungkapkanlah dengan terbuka. Aku siap menjadi penghibur kapan saja untukmu, Rin."

Rin menatap wajah Miku, dan perlahan-lahan keluar titik-titik air mata dari kedua ujung mata Rin.

Pada akhirnya, gadis itu tidak lagi mampu menahan tangisnya. Dia memeluk Miku dan menangis sekeras-kerasnya.

Miku memeluk sahabatnya yang sedang menangis itu dengan lembut untuk menenangkannya.

"Menangislah, Rin. Jangan simpan kesedihanmu sendirian," kata Miku dengan suara yang lembut.

Rin pun menatap Miku dengan mata yang masih berkaca-kaca, dan sisa-sisa menghapus air mata yang masih membasahi daerah di sekitar matanya dan wajahnya.

"Arigatou, Miku-chan. Aku sudah merasa sedikit lebih tenang sekarang," kata Rin sambil berusaha tersenyum. Tapi, tak lama kemudian senyuman itu pun pudar.

"Tapi, aku sudah tahu. Pasti aku tidak akan bisa mendapatkan laki-laki seperti Rinto..." bisik Rin pelan dengan suara lirih.

Rin menundukan kepalanya dengan wajah kecewa. Aura muram keluar dari dalam tubuhnya.

Tentu saja Miku, sebagai sahabat terbaik Rin merasa prihatin dengan keadaan Rin sekarang.

'Aku harus membantu Rin. Maaf Rinto, tapi aku ingin sahabatku bahagia.'

.

Saat bel pulang sekolah sudah berdering, Miku langsung berlari keluar kelas. Dia segera berlari pulang tanpa menunggu Rin dulu.

Tangannya yang sedang mengetik sesuatu di sebuah handphone berwarna tosca.

To : Rin_Kagamine

From : Miku_Neginegi

Hari ini aku harus pulang cepat. Maaf tidak bisa menunggumu, ya.

Setelah mengirim e-mail barusan, Miku pun segera mempercepat langkah larinya.

Tidak lama kemudian, sampailah Miku di depan rumah besar dengan cat tembok berwarna putih yang telah kita ketahui sebagai rumah Miku.

"Aku pulang!" seru Miku sambil berlari masuk menerobos pintu rumahnya.

Rumahnya sepi, tidak ada jawaban sama sekali. Pasti kakaknya belum pulang dari kampusnya.

Miku pun menghela nafas pelan dan langsung naik ke lantai atas dan berjalan menuju kamarnya.

Di dalam kamarnya sendiri yang dipenuhi dengan warna hijau tosca dan motif negi, Miku menatap setiap sudut yang ada di kamarnya.

Pandangannya pun langsung tertuju pada sebuah kotak musik berwarna biru dan tosca, yaitu kotak musik ajaib yang diberikan Rin sebagai hadiah ulang tahunnya.

Diambilnya kotak musik bermotif indah itu, dan digenggamnya dengan kedua tangannya dengan erat.

'Aku akan membantu hubungan Rin dengan Rinto...' batinnya dalam hati sambil memutar tuas yang ada di salah satu sisi kotak musik itu.

Setelah memutar tuas tersebut beberapa kali, mungkin 5 kali, Miku pun membuka penutup kotak musik tersebut.

Setelah itu, sekali lagi alunan musik indah yang merdu pun memenuhi ruang kamar tersebut. Sepasang miniatur kecil yang ada di dalam kotak musik itu pun menari mengiringi alunan musik yang indah itu.

Perlahan-lahan, asap yang berwarna kebiruan pun kembali memenuhi kamar Miku. Dan, setelah Miku membuka matanya, dia pun kembali bertatapan mata dengan seorang pemuda tampan dengan rambut ocean blue yang tidak lain adalah jin yang bernama Kaito.

"Apakah anda sudah tidak marah lagi pada saya sehingga kembai memanggil saya ke sini, Nona Miku?" tanya Kaito sambil mengeluarkan senyuman indahnya. Tidak dielakan lagi, senyuman Kaito barusan pun kembali berhasil membuat Miku blushing.

"A-aku... akan mengatakan permohonan keduaku!" seru Miku dengan suara yang sengaja dibuatnya tinggi.

Saat mendengarnya, Kaito pun hanya tersenyum dan membungkuk hormat kepada Miku.

"Katakanlah. Saya siap melaksanakan permohonan anda," kata Kaito lagi.

BLUSH! Wajah Miku pun kembali memerah. Tapi, Miku menutupi wajahnya yang memerah itu dengan kedua tangannya sehingga Kaito tidak dapat melihatnya.

"A-aku... aku ingin agar Rin dan Rinto dapat menjadi pasangan kekasih!" seru Miku lantang dengan wajah memerah.

Mata Kaito pun terbelalak mendengar perkataan Miku.

"Apa... Nona Miku serius?" tanya Kaito dengan ragu-ragu. Miku pun menjawabnya dengan anggukan yakin.

Kaito menundukan kepalanya seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Baiklah," katanya. "Saya akan memenuhi permohonan anda,"

Miku mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukan. Perasaan senang sekaligus terkejut bercampur aduk di hatinya.

"Ah, ariga-" ucapan terima kasih Miku terputus karena saat ini bibir mungilnya ditahan oleh telunjuk Kaito.

"Tapi, permohonan anda yang satu ini memiliki syarat yang harus anda penuhi!" kata Kaito dengan senyuman andalannya yang menghiasi bibirnya. Dan seperti biasa, senyuman itu pun kembali dapat membuat Miku melting.

Sedetik kemudian, bibir Kaito pun telah 'mendarat' di bibir Miku. Yup, Kaito mencium Miku!

Kaito pun menjilat sedikit bibir bawah Miku sambil terus menatap wajah manis Miku. Sontak wajah Miku pun langsung memerah, lebih merah daripada tomat.

Selang beberapa menit, Kaito pun melepaskan ciumannya di bibir Miku. Sambil mengeluarkan senyuman andalannya, Kaito pun berkata.

"Syaratnya, saya meminta ciuman pertama anda. Maaf bila saya begitu lancang,"

Ketika mendengar perkataan Kaito barusan, wajah Miku pun semakin memerah. Jantungnya berdegup begitu kencang, dan matanya mulai berair.

Karena begitu terkejut, Miku pun sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

Mulut Miku yang terbuka lebar pun dikunci oleh telunjuk Kaito.

"Jangan melamun, karena sekarang saya akan mengabulkan permintaan anda."

Miku menatap wajah tampan Kaito sekali lagi.

"A-arigatou..." kata Miku pelan. Setelah ucapan Miku barusan, perlahan-lahan sosok Kaito pun menghilang bersama dengan kabut tipis yang berwarna kebiruan.

.

Esok harinya, saat Miku sedang berjalan ke sekolah bersama Rin, mereka pun bertemu dengan orang yang kemarin menolak Rin. Siapa lagi kalau bukan Rinto Kagami?

"Ayo ucapkan salam, Rin!" bisik Miku sambil menyikut tubuh Rin yang mungil. Rin pun melirik ke arah Rinto dengan ragu-ragu.

"O-ohayou, Rinto-kun..." bisik Rin lirih. Tak disangka-sangka, Rinto pun menoleh ke arah mereka berdua dan tersenyum manis.

"Ohayou, Rinny..." balas Rinto sambil tersenyum ke arah mereka, tepatnya ke arah Rin.

Wajah Rin pun memerah seketika saat melihat senyuman manis dari sang pujaan hatinya. Sepertinya Rin tetap mencintai Rinto, walaupun Rinto telah menolaknya.

Sementara itu, Miku hanya menatap pasangan R kuadrat itu dengan pandangan kosong.

'Mengapa belum ada pengaruhnya, ya..." batin Miku dalam hati.

Pada akhirnya, mereka berdua –Miku dan Rin– melanjutkan perjalanan mereka ke sekolah bersama dengan Rinto. Dan tentu saja, selama dalam perjalanan yang bisa dibilang memakan waktu cukup lama itu wajah Rin mengeluarkan semburat merah.

Sementara itu, Miku tetap tidak melepaskan perhatian kepada pasangan R kuadrat tersebut.

'Ayo, kapan sishirnya mulai bereaksi...?' batin Miku lagi.

Tidak lama kemudian, mereka bertiga pun sampai di tempat tujuan mereka, yaitu sekolah.

Di persimpangan koridor sekolah yang pertama, mereka pun berhenti berjalan. Kenapa? Karena ini adalah persimpangan antara kelas Miku dan Rin dengan Rinto.

"Sayonara, Miku-chan. Sayonara, Rinny~" kata Rinto sambil berjalan menuju ke kelasnya. Tangannya melambai kepada kedua gadis itu, dan senyumannya yang indah berhasil membuat wajah Rin semakin memerah.

Setelah sosok Rinto tidak lagi terlihat, mereka berdua –Miku dan Rin– pun berjalan ke lantai 2 sekolah, tempat di mana kelas mereka berada.

Diam-diam Miku terus melirik ke arah Rin. Sementara itu, Rin terus berjalan tanpa menyadari bahwa dirinya terus menerus diamati oleh sahabatnya yang berambut tosca itu.

Mereka pun masuk ke kelas mereka tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Miku segera duduk di atas kursinya, sedangkan Rin juga duduk di atas kursinya yang terletak di belakang Miku.

"Miku-chan..." tiba-tiba Rin memanggil Miku dengan suara lirih. Miku pun segera menengok ke arah sahabatnya itu.

"Kenapa aku masih menyukai Rinto...? Padahal dia sudah menolakku..." kata Rin lagi.

Wajah Rin itu tampak memerah, dengan sedikit mimik-mimik kebingungan. Rin menghela nafas perlahan dan kembali menatap sahabatnya yang berambut tosca itu.

"Apa aku masih punya harapan...?" Mata Miku terbelalak mendengar perkataan Rin barusan. Sebesar itukah perasaan Rin pada Rinto? Dia masih terus berharap, walaupun sebenarnya dia sudah ditolak oleh Rinto.

Diam-diam Miku tersenyum tipis dan menatap sahabatnya itu. Walau hatinya penuh keraguan, Miku yakin bahwa Kaito pasti akan membantu sahabatnya ini.

'Ya, kau masih punya harapan...' batin Miku dalam hati sambil tersenyum menatap sahabatnya yang sedang mengalami cinta pertamanya... ah, tidak juga. Sebenarnya Rin sudah pernah mencintai seseorang, namun orang ternyata orang tersebut sudah memiliki kekasih. Siapa namanya? Itu tidaklah penting.

Yang diharapkan Miku hanya ini hanya satu. Semoga sahabatnya tidak lagi merasakan yang disebut 'patah hati' untuk yang kedua kalinya.

Hari itu waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, bel masuk pelajaran dan bel istiraha pertama sudah berdering.

Guru yang mengajar di kelas pun merapikan buku-buku yang dibawanya dan berjalan ke luar kelas.

Sementara itu, Miku dan Rin sibuk mengambil dompet mereka, dan segera berjalan keluar kelas. Siapa yang mau menyia-nyiakan waktu istirahat yang begitu berharga?

Di saat Miku dan Rin berjalan menyusuri koridor sekolah yang cukup panjang menuju kantin, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki di belakang mereka. Langkah kaki itu terdengar bagai orang yang sedang berlari dengan terburu-buru.

Langkah-langkah kaki itu terdengar semakin dekat, dan semakin dekat.

Pasangan sahabat itu pun segera menoleh ke belakang, dan tepat di saat itu juga, orang yang mengeluarkan suara langkah kaki itu langsung memeluk Rin erat.

Miku dan Rin tercengang. Orang itu adalah... Rinto!

"Gomenesai..." bisik Rinto pelan di telinga kiri Rin. "Aku terlambat menyadari bahwa aku juga mencintaimu. Daisuki dayo, Rin-chan..."

Mata Rin terasa berair mendengar kata-kata indah yang keluar dari bibir Rinto.

Wajah Rin pun memerah, lalu ia balas memeluk Rinto. Mereka berdua tidak peduli walaupun diperhatikan seluruh siswa yang sedang berada di sekitar koridor tersebut.

Mereka pun segera melepaskan pelukan mereka, dan saling bertatapan mata satu sama lain.

"Jadi... maukah kau menjadi kekasihku, Rin?" tanya Rinto setengah berbisik. Walau begitu, suaranya itu cukup keras untuk dapat didengar oleh Rin, Miku, dan seluruh anak yang ada di sana.

Mata Rin terbelalak terkejut. Dia tidak menyangka, bahwa orang yang ia cintai kini mengatakan kalimat itu di hadapannya.

Dengan yakin dan wajah berseri, Rin pun menganggukkan kepalanya.

"Ya!"

Semua anak di sana, tak terkecuali Miku pun bertepuk tangan kencang setelah mendengar jawaban dari Rin. Barulah saat itu Rin dan Rinto menyadari bahwa mereka berdua sedang diperhatikan oleh semoa orang di sekitar koridor sekolah.

Sontak wajah pasangan R kuadrat ini pun langsung memerah menyadari apa yang mereka lakukan tadi terus diperhatikan oleh banyak orang.

Sementara itu, hati Miku terasa berbunga-bunga melihat sahabat baiknya yang ia sayangi dapat bahagia dan mendapatkan hati orang yang dicintainya.

'Arigatou, Kaito... Kau telah membuat Rin bahagia...' batin Miku dalam hati sambil terus memperhatikan sahabatnya, Rin, yang baru saja resmi memiliki kekasih, yaitu Rinto.

Semoga hubungan mereka dapat berjalan dengan baik dan lancar...

To be Continued


Ryu : Akhirnya... TBC lagi~ ^^'

Miku : ... OI! Kamu sadar words fic ini berapa?! O.O

Ryu : Iya... kebanyakan lagi... ._. Dan sepertinya akan banyak typo...

Miku : Ya ampun... bagaimana bisa sampai 3000 lebih... terlalu... -.-

Ryu : Ini aku suah menahan _ aku tidak sanggup mengerem tanganku...

Rin : Sudah, sudah... *nepuk pundak Ryu* yang penting sekarang, semoga chapter depan bisa lebih wajar~ ;-)

Ryu : Iya, makasih Rin... :') Akhir kata, review please~