UNEXPECTEDLY HAPPEN
Author: Annadine Amoris
Rated T
Romance, Friendship
Kamichama Karin © Koge Donbo
Unexpectedly Happen © Annadine Amoris
"Even if you're on the right track, you'll get run over if you just sit there."
~Will Rogers
Akhirnya sekolah hari ini selesai.
Karena baru hari pertama, jadi pulang cepet dong. Miyon ngajak jalan ke kafe ato kemana kek gitu, tapi akunya (entah kenapa) lagi gak mood. Jadilah kami pulang ke rumah masing-masing, dan janji akan telpon-telponan nanti.
Mama jam segini pasti belom pulang. Aku home alone~ Ngapain ya enaknya. Lagi bete neh. Mau ngapain aja berasa gak enak. Ganti baju dulu aja deh.
Aku memutuskan untuk nelpon Miyon aja. Tadi kita ngga sempet ngobrol banyak karena Micchi yang tetep nempel-nempel dan Kazune—maksudnya Kujyou—yang selalu dekat. Entah kenapa galaksi Andromeda itu berasa sangat dekat permirsah. Jauh sih, tapi dekat. Tapi jauh, tapi dekat.
Tuut...
Yaps, pikiran tentang galaksi Andromeda-nya ditunda dulu ya. Lagi mau nelpon Miyon neh.
Tuu—"Moshi-mo~"
...Bukan Miyon namanya kalo nggak cepet angkat telpon.
"Miyon-chan~"
"Baru nyampe rumah nih." kata Miyon disambung dengan cikikan kecil kami.
"Gimana?"
"eerr tentang Kujyou-san?" tanyaku gak yakin.
"Iya lah! Masa tentang galaksi andromeda—" Wah ternyata nggak Karin nggak Miyon sama-sama fans-nya para galaksi permirsah.
"Iyaa iyaa. Nah jadi dia bener anaknya Kujyou Kazuto—ya kamu tau sendiri lah."
"Uh-huh—" Miyon kode-kode bilang 'lanjutin'.
"Terus gimana dong?"
"Yaelah malah balik nanya!"
"Ya kamu kan lebih pinter dari aku, Miyon ._."
"Yang punya urusan sama Mr. Kujyou kan kamu, Karin -,-"
"Eh ya, kamu pernah sekelas sama dia kan?"
"Yaa waktu tahun pertama Junior School. Ganteng ya, Karin." Wah, kalo ini sih Miyon lagi godain aku. Wajib dibalas.
"Kalo Yuki-kun?"
"Erm, Yuki-kun? Kenapa? Apanya?" HAHAHAHHA mampus kau Miyon! *smirk*
"Suka sama Yuki-kun yaaa? *.*"
"Eh ngga, kata siapaa" Aku ngebayangin pipi Miyon merah sekarang.
"Ekhem bilang aja. Aku udah tau kok. Kamu—"
"ngga nggaaaa! Ih Karin-chan gitu ah, aku kan—"
"—Saya sudah mengerti, sudahlah. Nah jadi—"
"engga aahhhh"
"—UDAH WOY. Oy oy jadi bahas Mr. Kujyou ngga?"
Yeps. Berhasil bikin Miyon diem. Muy bien, Karin.
"...Ehm ehm. Kembali ke topik utama. Nah jadi kamu pengennya gimana?" cie yang ngalihin topik. Harusnya kan aku yang nanyain itu, gimana sih ._.
"Aku pengen kerjasama sama dia." Kataku pelan.
"Yaudah kerjasama aja."
"Palelo!" kataku gemes. Emang segampang itu apa? Tadi aja ngga sekalipun kita ngobrol satu-sama-lain.
"Hmm, dia bakal gak mau ya..." kata Miyon yang mungkin baru mulai serius mikir.
"Kalo ngeliat sikapnya dia yang cuek gitu, aku dianggep serangga tak berarti kali. Ngapain bantuin aku segala. Emang aku siapa?"
"...dia fobia serangga, Karin..."
Krik krik. Krik krik.
"HAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA—"
"..."
"Dia? Orang kayak gitu? Gunung Everest yang tinggi menjulang, takut sama serangga? Ya Tuhan, malu-maluin banget... Semoga malam ini dia kejatohan laba-laba... 3:-D"
(Meanwhile, di mansion Kujyou, 5 jam setelahnya...
Pluk. Sesuatu berwarna hitam berkaki 8 sukses mendarat di meja belajar seorang cowok berambut blonde dan bermata—
"KYAAAAA-MUU-MUUSSHIIII-")
Karin-chan. Kami-sama menyayangimu.
"ehehe... nggak banyak yang tau sih, waktu itu aku tau karna pas aku ketinggalan buku, kan aku ambil bukunya tuh di kelas, nah pas mau balik kan ngelewatin lab IPA. Kok ada berisik-berisik, nah aku intip di jendelanya, ada Kazune lagi dijahilin sama Micchi pake kecoa yang dia dapet dari mana au. Waktu itu aku belom kenal sama Micchi sih—tapi ya kayaknya waktu itu Micchi deh yang jahilin dia. Kazune udah ilang kali ya harga dirinya. Teriak sambil muter-muter tuh lab sempit sampe nabrak meja juga. Sekolah udah sepi, dan pas besoknya aku tanyain ke Kazuners apa Kazune punya fobia apa nggak, katanya mereka sih kayaknya ngga. Haduh, ngomongin Kazuners, mendingan kamu gak usah punya urusan ya sama mereka. Aku nanya begituan aja mereka udah ngira aku naksir plus ngancem-ngancem jangan deket-deket dia juga." Jelas Miyon panjang lebar.
...tapi tiba-tiba, aku dapet ide cemerlang.
"nah! Itu dia, Miyon! Kita blackmail dia!" EUREKA!
Hening sesaat.
"...blackmail... Emangnya cukup? Kalo dia ngga peduli gimana?"
Iya juga sih ya... "Eerr dia punya rahasia apa lagi nggak?"
"Ngga tau sih, waktu itu kan udah lama banget dan kita nggak deket-deket juga. Lagian dianya cuek gitu, mungkin aja dia nggak terlalu kepikiran kalo emang papanya mau cari pasangan baru—cailah bahasanya.."
Hmm... "Tapi akunya yang kepikiran, Miyon..." desahku pelan.
"..."
"Gimana kalo kita cari tau aja apa kelemahannya dia?"
"Stalking?"
"Yaps" *grin*
"Gimana caranya?"
Hmm... Makin sulit nih.
"Besok aja kita liat dulu?" otak saya mulai capek dengan pikiran sulit, permirsah.
"Yaudah deh. Aku juga udah laper neh, khehehe. Jaa!" Aduh Miyon, ngomongin laper, aku juga jadi ikutan pengen makan kan...
"Jaa," jawabku pendek. Telepon terputus.
Haah~ entah apa yang akan terjadi besok yah. Yosh!
"Nah, jadi ntar aku coba ngomong sama dia—semoga aja berhasil—dan liat gimana reaksi dia." Kataku saat aku sedang berjalan ke sekolah sama Miyon esok paginya. Sesekali aku mengunyah apel yang kubawa dari rumah—takut kesiangan jadi dimakan di jalan ajah.
"Kazuners gimana?" tanya Miyon. "Kemaren aja kita udah dapet pandangan mengintimidasi dari seluruh kelas—gaga-gara Micchi sih... -,-"
Pas saat itu kita belok ke kiri.
Di seberang jalan tampaklah seorang cowok berambut hitam dengan cowok berambut karamel yang warna matanya beda—Yuki dan Micchi~ Panjang umur, Micchi. Panjang umur.
Miyon langsung, yah, salting, dan aku nyengir-nyengir godain dia sampe keselek apel juga. Aku batuk-batuk dong, yang emang sengaja aku keras-kerasin biar mereka nengok ke kita. Miyon udah panik—tapi bukan karna aku keselek, tapi karna Yuki deh pasti.
"A-aduuh Karin-chan, daijobu ka?" tanya Miyon sambil ngambilin botol minumku dan ngasihin botol transparan itu ke aku. "Adududududuuh!"
"OY!" Dua cowok di sebrang jalan itu mulai nengok kanan-kiri dan lari menyebrangi jalan aspal hitam yang penuh dengan kelopak bunga musim semi~ /...epic fail/
"ADUUUH" Miyon tambah panik sekarang. Yeh, Miyon, kamu panik sih jadi malah mereka yang nyamperin kita kan *smirk* *smirk* :D
"Eerr, Karin-chan, nggak apa-apa?" tanya Yuki.
Setelah berhasil meneguk air minumku dan udah enakan, aku gak bisa nahan ketawa. Kenapa? Gak tau ._.
"Hahaha... Gak papa, gak papa. Aduuh maap yah, tadi aku makan apel terus... err... keselek bijinya deh kayaknya..." jawabku asal. Miyon, Yuki, dan Micchi pun sweatdrop di tempat.
"Ano... Biji apel kan kecil... Lagian itu kamu belom makan bagian tengahnya..." Kata miyon sambil menunjuk apel merah yang ada di tangan kananku yang EMANG belom kemakan tengahnya.
Aku ngasih kode udah-ah-iyain-aja-kenapa...
"Ehehehe~" belom sempat aku mikirin alasan lain, Micchi udah nyela duluan.
"Yaudah, yuk, jalan lagi ke sekolah." Katanya ditambah dengan senyuman Yuki yang bikin orang—ralat—Miyon meleleh. Aku sih nggak ya. Eh, jadi kita diajak jalan bareng ke sekolah? Aku dan Miyon pandang-pandangan.
Micchi ikut senyum dan mulai jalan. Aku dan Miyon buntutin di belakang mereka.
"Gimana sekolahnya?" tanyaku asal biar suasana nggak awkward.
"Ya gitu deh," jawab Yuki sambil ketawa kecil.
"Tapi seru lho," Micchi ikutan jawab. "Kita sekelas sama orang-orang yang asyik. Ya kan, Miyon?"
"Eeh? Eh, yaa iya sih. Tapi banyak yang aku gak kenal..." jawab Miyon.
"Nanti juga kenal," jawab Yuki. "Ah, iya, kita juga bisa sekelas lagi sama Kazune, ya, Micchi? Aku pernah sekelas sama Kazune cuma pas 2 tahun lalu..."
"Ah, iya! Dulu aku pernah sekelas sama Kazune 2 kali, pas kelas dua Junior School sama kelas 1 Senior school." kata Micchi. Aku dan Miyon mangut-mangut aja, berharap dalam hati mereka bakal cerita lebih lanjut tentang Kazune tanpa diminta.
"Ah, Miyon pernah sekelas sama dia kan?" tanya Yuki.
"EH? Erm, iya sih, pas tahun pertama Junior School.. Etto, Yuki-kun tau dari mana?" jawab Miyon.
"Nebak aja," jawabnya sambil senyum tentunya. "Kalo Karin-chan?"
"Ne?" Aku baru nyadar ditanyain. "Eh, kalo aku sih nggak pernah."
"Hmm, gitu ya.. Kita juga gak pernah kan ya sekelas sama kalian berdua..." sambung Micchi.
Kami mengangguk-angguk saja. Saat ini kami semakin dekat ke sekolah. Satu belokan lagi, dan kami akan sampai di jalan yang menjurus langsung ke sekolah.
Micchi melanjutkan ceritanya. "Aku udah sahabatan sama Kazune dari SD," (well, entah apa lah bahasa Jepang-nya setingakt SD, anggep aja SD lah)
"Aku udah bilang kan, papaku itu assistennya ayahnya Kazune. Nah jadi kita pernah dikenalin dan mulai main bareng deh~" Jelas Micchi lagi.
"Kalo aku, kenal Kazune juga dari SD. Entah gimana ya waktu itu bisa deket sama dia, tapi yang jelas kita juga deket lah sampe sekarang." kata Yuki ramah.
"Hahh cowok kayak gitu... Kok kalian bisa temenan sama dia, aku sampe heran..." jawabku yang emang sengaja—banget—mancing topik ini semakin jauh.
"Ssstt—" Yuki memberi aba-aba untuk diam—dengan background sebuah mobil sedan hitam berlari di jalanan aspal. Shuuwwhh~ (bunyinya gitu bukan ya ._. Anggep aja itu suara mobil lah yah.)
"?" Aku dan Miyon memberi Yuki hadiah berupa tatapan bingung.
"Ehehe~ Itu mobilnya Kazune. Gak enak kalo ngomongin dia, soalnya kadang-kadang dia kayak bisa baca pikiran orang -,-" jelas Yuki.
Aku dan Miyon cuma bisa bilang 'O' tanpa suara.
Aku memandang mobil itu dari kejauhan sebelum akhirnya mobil itu berbelok ke kanan dan hilang dari pandangan~ Jelas, kalo dilihat-lihat, emang itu kayak mobil yang pernah dibawa Mr. Kujyou sih...
"Dulu Kazune nggak parah-parah amat loh." Kata Micchi.
"Nggak 'parah'? Parah gimana?" tanyaku.
"Yaa nggak kayak gitu dehh. Pas tahun terakhir SD, erm, Mamanya Kazune kan meninggal, jadi..." Micchi memberikan tatapan ya-kamu-tau-sendiri-lah.
"Oooh..." sahutku pelan. "Emang dia dulu nggak kayak gitu? Hmm, sulit dibayangkan."
Micchi menatapku sesaat. "TJIEH KEPO~~"
Aku mendongak dengan cepat ke arah Michhi. "Apaan sih, Micchi! Bukan begituu! Dia cuma gak jelas dan sok kepinteran dan sok kegantengan aja, jadi aku bingung kok banyak yang suka!" Ups. Ini mah malah semakin meyakinkan aku kepo ke dia! Salah topik! :0
Miyon melirikku dengan tatapan ehm-Karin-chan-bukannya-dia-emang-ganteng-dan-pinter-EKHEM. Plus smirk smrik juga. Sialan.
"Dulu dia nggak pinter-pinter juga ya..." sambung Michhi pelan sambil masang tampang pasrah.
Kali ini telingaku beroperasi di level MAX. "Oh yaaa?"
"Hehehe~ Sejak mamanya meninggal dia kayak termotivasi... Dan jadi dingin juga. Sebelumnya dia juga pendiem sih, tapi ngga dingin-dingin amat... Dia pengen jadi kayak ayahnya, jadi suatu saat dia bisa nyelamatin orang yang dia sayang... Dia mulai rajin belajar deh. Aku kasih hint ya Karin-chan—" TELINGAKU BEROPERASI MAX PLUS PLUS! "—Dia sebenernya nggak mau kasar sama perempuan karena dia keinget ibunya, tapi disaat dia pengen baik itu dia juga gak bisa karna udah terlalu lama terbiasa dingin gitu. Udah jadi personality dia... Err, jadi, jangan salah sangka ya, untuk yang kemaren..."
Aku dan Miyon pandang-pandangan. Info baru! Makasih ya Kami-sama sudah mengabulkan doa kami. Janji deh kami bakal makin rajin menabung—eh, gak janji juga sih ya ._. Coba deh Kami-sama buat Kazune mau kerjasama sama aku, baru deh aku bakal rajin menabung dan belajar juga...
...tanpa sadar kok aku malah jadi ber-nazar gini ya... -.-
"Ah, Micchi, nggak apa-apa kok..." dan kami terpaksa menghentikan obrolan privat kami karena kami mulai memasuki area sekolah... Ganti topik deh jadi yang lebih santai dan ringan. Tentang klub sekolah, kantin, makanan (dan aku dengan senangnya mengekspresikan rasa cintaku pada BELUT~), video game, dan hal random lainnya lah.
Teng-tong-teng-tong~
Euuhhh x.x
"Karin-chan..." bisik Miyon pelan dengan pandangan mengancam. Kenapa? Ya, jelas! Ini udah waktunya pulang dan aku sama sekali gak berhasil ngajak ngobrol si blonde Kujyou itu. Tadi pagi, pas aku dan rombongan dateng memasuki kelas, dianya entah ngilang kemana. Adanya cuma tasnya yang tergantung manis di sisi mejanya dia. Dia baru masuk pas bel berbunyi. Pas istirahat pertama, Micchi ngajak ngobrol terus plus nawarin buat nraktir aku roti belut juga. Mana bisa aku nolak! Dan, disinilah aku sekarang, di jam yang seharusnya buat istirahat kedua, tapi karna masih awal-awal sekolah, dijadiin jam pulang sekolah. Baru mulai belajar efektif besok sih. Hufftt berarti mulai besok aku bakal mulai sibuk... Huhuhuh TT_TT
Micchi lagi siap-siap piket dan Yuki—yang anggota OSIS—lagi rapat. Degan tampang galau aku mulai memasukkan alat tulisku ke dalam tas. Yah, mau gimana lagi. Mungkin besok akan lebih baik—
"Hanazono-san, bisa bicara sebentar?"
E-ehh?
Aku nengok lambat-lambat dan patah-patah kayak robot rusak. Ke kanan. Yak, ke atas dikit. Tampaklah sepasang mata berwarna biru safir yang paling indah yang pernah kulihat.
Aku nyaris saja terhipnotis sepasang permata itu, untung saja otakku langsung kembali waras permirsah. Eh, tapi...
Eh,
Eh,
Dia pengen APPAAAA?!
To Be Continued...
A/N:
Hohoho~ ¡Hola! Anna lagi~
Pertama-tama, HAPPY VALENTINE! 14 Februari niih~~~ (disini masih 13 sih wkwkwk ._.)
Maap yah updatenya lama. Tiba-tiba bosen dan stuck ide juga, walaupun plot-nya jelas, tapi menuangkannya dalam bentuk fic itu susah juga permirsah. Hohoho~
Baru karena ada libur Half-term seminggu, jadi semangat lagi deh! Yosh!
Maap yak kalo misalnya chapter ini rada gak jelas, soalnya aku ngerubah sedikit plot nya di menit-menit terakhir. Jadi ya butuh mikir ekstra untuk nyesuai-in plot sama ide-ide yang ujuk-ujuk muncul :v Aku juga harus yakin dulu sama chapter selanjutnya—apa plot yang baru ini berhasil apa nggak, gitu. Jadi ya harus bikin beberapa bagian chapter 3 juga. Chapter 3 bakal cepet update, deh! ^^ Yakusoku!
Bagian plot yang aku ubah itu akan ada di chapter selanjutnya! ^^~ Mohon dibaca nee~~ Makasih buat semua yang udah support, jadi semangat nee~~ *kissu* Arigatou udah baca yaa~
P.S. Balasan review aku itu dalam bentuk review juga nee~ :v
.
.
.
Belfast, 13th February 2015, 08:58 PM GMT
Annadine Amoris x
