Disclaimer Applied

.

Sweet Nightmare 2

.

.

Semua orang di Hogwarts pada saat itu tahu seberapa buruk hubungan antara Hermione Jean Granger dan Draco Malfoy. Lebih dari sekali, keduanya bersitegang di depan umum, entah terkait dengan hal remeh atau hal yang lebih besar, yang jelas semua orang tahu seberapa dalam rasa benci keduanya akan satu sama lain. Hanya dengan mendengar nama Hermione Granger disebutkan mampu membuat Draco berjengit, begitu pula dengan Hermione yang dapat merasakan keberadaan Draco bahkan dari jarak belasan kaki darinya. Kalau ada hal yang sama di antara mereka itu adalah bahwa keduanya saling membenci satu sama lain. Hermione lebih baik mati dibandingkan harus berjabat tangan dengan pewaris keluarga Malfoy itu dan Draco dengan senang hati akan melemparkan kutukan tak termaafkan pada gadis keturunan muggle itu kalau saja ia mendapat kesempatan yang tepat. Pada masa-masa akhir peperangan melawan Pangeran Kegelapan keduanya sempat berada di pihak yang sama namun itu tidak lantas berarti rasa kebencian keduanya menguap begitu saja.

Saat hari ini ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke salah satu toko di Knockturn Alley, hal terburuk yang mungkin terjadi yang ada di dalam kepala Draco Malfoy adalah beberapa penyihir bodoh berusaha menyerangnya untuk mengambil kantong berisi koin emasnya dan ia telah menyiapkan diri untuk hal semacam itu. Yang tidak pernah diduganya adalah ia harus bertemu dengan wanita yang paling dibencinya, yang sudah beberapa tahun belakangan ini tidak pernah dilihatnya, di toko yang dimasukinya. Seberapa besar kemungkinan untuk bertemu dengan seorang Hermione Granger, murid terbaik yang selalu menaati peraturan dan tata tertib, di toko yang menjual barang-barang terlarang di daerah yang dipenuhi penyihir hitam dari seluruh penjuru negeri adalah sama besar dengan kemungkinan untuk bisa mengambil telur naga ekor berduri dari Hungaria tanpa disembur api. Tentu saja kemungkinan bahwa benda ilegal yang tengah dicarinya di tempat itu adalah benda yang yang sama dengan apa yang Hermione cari jauh lebih kecil lagi. Tapi dari kemungkinan yang begitu kecil, yang terjadi ternyata bisa jauh lebih buruk. Penyihir tua bergigi ompong yang merupakan pemilik tempat itu mengatakan bahwa persediaan Molukka Bean atau telur peri yang dimilikinya hanya tinggal satu.

Perjalanan menuju tempat itu tidak menyenangkan dan setelah semua yang dilaluinya hingga bisa sampai ke sana, Draco sama sekali tidak berniat untuk kehilangan benda yang diinginkannya. Terutama tidak kalau orang lain yang juga menginginkan benda itu adalah Hermione Granger, musuh bebuyutannya semasa sekolah. Dirinya tidak terbiasa berbuat baik pada orang lain, terutama pada darah lumpur sok tahu yang selalu berjalan dengan mendongakkan wajahnya dengan angkuh. Tidak, seorang Malfoy sejati tidak akan mundur begitu saja.

"Jadi, maafkan aku, Tuan dan Nona, aku hanya memiliki satu buah telur peri saat ini," kata penyihir bungkuk yang merupakan pemilik toko itu berusaha menjelaskan, "aku hanya bisa menjualnya pada salah satu dari kalian."

"Dan kau akan menjualnya padaku," kata Draco sambil mengeluarkan sekantung uang emas dan melemparkannya ke arah penyihir tua itu yang meskipun sedikit kesulitan namun berhasil menangkapnya, "sekarang berikan barangnya padaku."

Hermione membelalakan matanya tidak percaya, "Tunggu dulu! Aku lebih dulu datang ke tempat ini dan aku rasa aku lebih berhak untuk membelinya!" Setelah melemparkan tatapan jijik ke arah Draco, Hermione menoleh ke arah penyihir pemilik toko itu, "Aku datang lebih dulu dari Malfoy jadi aku harap anda bertindak adil!"

Draco mendengus mendengar kata-kata Hermione. Gadis itu tidak berubah sedikit pun setelah bertahun-tahun, "Tidak ada kata 'adil' di Knockturn Alley, Granger."

"Diam kau Malfoy," Hermione menuding ke arah Draco dengan tongkat sihirnya yang dikeluarkannya dari dalam mantelnya. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya terdengar berbahaya dan tidak main-main, "Aku tidak sedang bicara denganmu."

Draco menggeram dan mengelurkan tongkatnya. Ia mengacungkan tongkatnya, dua puluh delapan senti kayu eboni, dan mengarahkannya tepat ke wajah Hermione yang tidak tampak terintimidasi sedikitpun dengan tongkat penyihir berdarah murni itu. Draco mendekat ke arah Hermione masih dengan tongkat teracung, "Dengarkan aku, Granger, aku tidak akan mengacungkan tongkatku sembarangan kalau aku jadi kau," desisnya, kabar bahwa Hermione telah meninggalkan dunia sihir telah sampai ke telinganya beberapa tahun yang lalu, tentu saja dibandingkan dengan Hermione yang hidup bertahun-tahun jauh dari sihir dan mantera, Draco berada di posisi yang jauh lebih menguntungkan.

"Begini saja," penyihir tua itu mencoba menengahi kedua pelanggannya, "Nona Granger, bagaimana kalau anda datang kemari seminggu lagi? Aku akan berusaha mendapatkan stok lagi sebelum minggu depan, dan aku juga akan memberikan diskon untuk anda!"

"Aku datang jauh-jauh kemari hari ini, aku tidak akan kembali dengan tangan kosong hanya karena seseorang berbuat curang," kata Hermione masih sambil menatap Draco.

"Curang?" Draco nyaris tertawa, "Dengar, aku membayar lebih dulu. Apa kau tidak tahu cara berbelanja, Granger? Ada uang, ada barang!"

Hermione baru saja membuka mulutnya untuk mengucapkan kutukan terburuk yang ia pernah pelajari ketika penyihir tua itu lagi-lagi berusaha menengahi keduanya, "Maafkan aku, tapi bagaimana kalau anda berdua berbagi telur perinya?"

"Apa?"

Itu kedua kalinya Hermione dan Draco mengucapkan satu kata yang sama di saat yang sama hari itu. Keduanya melemparkan pandangan jijik pada satu sama lain sebelum kembali menoleh ke arah penyihir tua itu. Keduanya masih menggenggam erat tongkat masing-masing dan mengacungkannya ke arah leher satu sama lain.

"Satu telur peri bisa cukup untuk beberapa porsi ramuan, kalian bisa membaginya," kata penyihir itu sambil mengacungkan jari telunjuknya yang kurus dan panjang.

Draco memasang wajah seolah-olah ingin muntah, "Yang benar saja, aku sudah membayarnya terlebih dahulu, telur peri itu milikku. Aku tidak berniat membaginya dengan siapa pun," ia menatap Hermione dengan tatapan menantang, "terutama tidak dengan dia."

Lagi-lagi penyihir tua itu merebut kesempatan Hermione untuk mengatakan sesuatu, "Tapi, Tuan Malfoy, apa tuan tahu, telur peri hanya bisa bekerja efektif pada ramuan yang diracik oleh penyihir wanita."

"Apa?" Draco mengalihkan tongkatnya ke arah penyihir tua kotor yang berjarak beberapa langkah darinya itu.

Hermione, masih dengan tongkat mengarah pada penyihir berambut pirang keperakan itu, mendengus mencemooh, "Kamu berniat membelinya tanpa tahu apapun tentangnya? Cerdik sekali, Malfoy..."

"Dengar," kata Draco tajam sambil kembali mengarahkan tongkatnya ke arah penyihir wanita yang tengah tersenyum penuh kemenangan itu, wajah penyihir berdarah murni itu memerah, "aku tidak sedang bicara denganmu jadi sebaiknya kau tutup mulut."

"Kau yang dengarkan aku, Malfoy," masih tersenyum sinis, Hermione mengajukan penawaran, "kalau aku jadi kau aku akan mendengarkan apa yang tuan..."

"Napkin, Nona Granger," kata penyihir tua itu sambil menyeringai lebar, "Hansel Napkin."

"...tuan Napkin usulkan tadi," lanjut Hermione, berusaha untuk tidak berjengit saat mengucapkan nama penyihir pemilik toko itu, "kau tidak punya banyak pilihan."

Draco menggelengkan kepalanya, ia masih mengacungkan tongkatnya meskipun sekarang otot-otot di tubuhnya mulai melemas, "tidak, aku selalu memiliki pilihan lain..."

"Oh ya? Ibumu? Astoria Greengrass? Pansy Parkinson?" Hermione menaikan sebelah alisnya. Kali ini ia menurunkan lengannya dan melipat kedua tangannya di depan dada, tongkat yang diacungkan Draco tidak lagi tampak berbahaya baginya, "Atau kau akan mencari bantuan dari sembarang penyihir yang tidak kau kenal?" Hermione tersenyum, ia tahu negosiasi adalah hal yang merupakan keahliannya sejak dulu, "Kau menolak tawaran kerjasama dari salah seorang penyihir terbaik dan berniat membayar penyihir wanita sembarangan untuk membantumu? Bisa kubayangkan rumor yang akan beredar kalau sampai berita ini menyebar..."

Bagi Draco hal ini terdengar seperti ancaman, dan itu memang merupakan ancaman. Hermione tahu Draco tidak akan mengatakan tidak kali ini. Hanya dengan melihat perubahan warna wajah penyihir berkulit pucat itu, Hermione bisa mengetahui apa yang tengah ia pikirkan. Hermione membalas tatapan curiga Draco padanya dengan sorot mata penuh kepercayaan diri.

Draco Malfoy tidak memiliki pilihan lain.


"Ada yang aneh dengan Hermione."

Harry menatap temannya yang sedang sibuk memotong sayuran dan buah-buahan untuk campuran salad di dapur apartemennya. Dari belakang, temannya itu terlihat biasa saja. Ia mengenakan kaos longgar berwarna putih dan jins pendek berwarna coklat tua, rambutnya yang ikal digelung dan dijepit asal-asalan ke belakang. Di mata penyihir berambut hitam berantakan itu, tidak ada yang aneh pada Hermione. Ia menatap Hermione selama beberapa detik lagi sekedar untuk memastikan sebelum lalu berbalik menatap temannya yang duduk di sofa yang sama di ruang tamu bersamanya.

Harry merendahkan suaranya agar Hermione tidak dapat mendengarnya, sejak awal ia tiba di apartemen sahabatnya itu ia sudah memperhatikan tingkah laku sahabatnya itu namun ia tidak melihat ada sesuatu yang aneh dari sahabatnya itu, "aku tidak melihat ada yang aneh."

Ron memicingkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya selama belasan tahun itu. Ia menatap punggung Hermione selama beberapa saat sebelum kembali pada sahabatnya itu dan berkata dengan setengah berbisik, "ayolah Harry! Ada yang berbeda dengan Hermione, ia menyembunyikan sesuatu dari kita!"

Penyihir muda berkacamata itu mengangkat kedua bahunya, "entahlah Ron, di mataku Hermione terlihat baik-baik saja."

"Tapi Ginny jelas-jelas bilang ada sesuatu yang aneh pada Hermione hari ini saat mereka bertemu!" kata Ron bersikeras, di saat-saat tertentu ia sering kali merasa kesal pada sahabatnya itu karena tidak mudah baginya untuk membuat sahabatnya itu melihat apa yang dilihatnya. Ia memang tidak pintar, tapi Ronald Weasley yakin bahwa kali ini perasaannya tidak meleset. Ada yang aneh pada sahabatnya itu.

Harry, di sisi lain, tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Temannya itu bisa jadi sangat keras kepala untuk hal-hal tertentu dan bisa bersikap berlebihan saat menghadapi sesuatu. Kadang-kadang ia ingin mengatakan pada Ron bahwa ia dan Hermione sudah tidak lagi berkencan dan Hermione sudah cukup dewasa untuk memutuskan segala sesuatunya seorang diri namun ia tahu Ron tidak akan mendengarkan kata-katanya. Harry tidak yakin apakah sikap Ron itu dikarenakan ia masih menyimpan perasaan tertentu pada Hermione ataukah hanya karena ia merasa cemas pada sahabatnya itu. Harry sendiri mengerti perasaan cemas itu. Sejak Hermione memutuskan untuk meninggalkan dunia sihir bertahun-tahun yang lalu, Harry sebenarnya telah mencemaskan keputusan itu. Tapi setelah tahun demi tahun berlalu, di matanya Hermione tampak baik-baik saja, Harry pun merasa bahwa kekhawatirannya sedikit berlebihan. Hermione adalah seorang penyihir yang mampu mengatasi masalahnya sendiri, meskipun sebagai seorang teman ada saatnya dimana Harry ingin sedikit lebih diandalkan oleh Hermione, tapi ia juga menghargai keputusan Hermione.

Malam ini sebenarnya bukanlah jadwal berkunjung Harry dan Ron ke apartemen Hermione. Kunjungan kali ini sedikit istimewa, meskipun mereka tidak memberitahu alasan sebenarnya pada Hermione. Kali ini Ron bersikeras mengatakan pada Harry bahwa mereka harus bertemu dengan Hermione dan mengorek informasi darinya tentang sesuatu yang terjadi belakanganan ini. Menurut Ron, Ginny mengirim burung hantu padanya yang mengatakan bahwa ia mencemaskan keadaan Hermione. Adik bungsunya itu tidak menuliskan dengan jelas apa yang membuatnya berkata demikian tapi ia menuliskan bahwa ia bertemu dengan Hermione beberapa hari yang lalu dan sesuatu pada diri Hermione membuatnya cemas.

"Ron, Ginny tengah hamil saat ini," kata Harry beralasan, tangannya meraih remote televisi dan menyalakannya, ada beberapa acara mingguan yang selalu ditontonnya setiap kali berkunjung ke tempat Hermione di akhir pekan, "wanita hamil memiliki hormon-hormon yang tidak terkedali. Kadang-kadang mereka menjadi paranoid."

Ron belum sempat membalas kata-kata Harry itu ketika Hermione telah kembali dari dapur membawa semangkuk salad. Harry segera berdiri tanpa diminta untuk mengambil beberapa mangkuk dan garpu dari dapur. Ron hanya berjengit melihat keduanya. Ia tidak pernah mengerti kenapa Hermione dan Harry mau mengerjakan hal-hal seperti itu tanpa sihir. Penyihir bertubuh jangkung itu selalu berpendapat bahwa sihir ada untuk mempermudah hidup mereka, kenapa harus repot-repot mengerjakan hal yang bisa dilakukan dengan sihir secara manual? Setiap kali ia melontarkan pertanyaan seperti ini Hermione hanya akan menggelengkan kepala dan menatapnya dengan tatapan kasihan.

"Aku tidak mengerti," kali ini Ron kembali menanyakan hal yang sudah sering ditanyakannya pada kedua temannya itu, "kenapa kalian repot-repot mengerjakan hal-hal seperti itu?" Ron mengayunkan tongkatnya dengan malas untuk membuka pintu lemari es Hermione, kali ini sekotak karton jus jeruk terbang ke arah mereka bersama tiga gelas kertas, "Kalian penyihir kan?"

Harry dan Hermione saling berpandangan selama beberapa detik sebelum keduanya lalu memutar bola mata mereka. Ron akan tetap bertingkah seperti itu. Mereka tahu, teman mereka yang berdarah murni itu tidak akan pernah mengerti.

Hermione membagi-bagikan saladnya di tiap mangkuk sambil menggelengkan kepalanya, "Kalau kamu malas bergerak, tidak lama lagi perutmu akan semakin membuncit."

Harry tersedak saat mencoba menahan tawa namun berusaha mati-matian untuk tidak tertawa saat Ron melemparkan tatapan memperingatkan padanya. Belakangan ini Ron mengeluh bahwa ia bertambah gemuk dan sedikit sensitif dengan topik berat badan, tapi seperti biasanya, Hermione selalu tahu bagaimana cara untuk membalas kata-kata seseorang dengan telak.

"Oh ya, Hermione," Harry mencoba membuka topik baru untuk memulai pembicaraan diantara ketiganya sambil menerima mangkuk berisi salad yang disodorkan Hermione padanya, "apa kamu serius tidak mau mempertimbangkan tawaran untuk kembali ke dunia sihir? Aku bisa bicara dengan Menteri untuk mencarikan rekomendasi pekerjaan untukmu."

Ron menyambut baik topik pembicaraan yang disodorkan Harry, ia bergeser sedikit sehingga kini ketiga sahabat itu duduk berdesakan di sofa panjang Hermione, "Aku yakin orang-orang di kementrian bisa menyediakan meja untukmu."

Hermione mengerutkan dahinya, "kalau aku mau aku bisa mencari pekerjaan sendiri, terimakasih. Aku tidak membutuhkan rekomendasi dari siapa pun. Lagipula, aku menikmati kehidupanku saat ini. Jadi terimakasih atas tawarannya, tapi tidak."

Ron yang sudah tahu kalau Hermione akan menjawab demikian namun tetap tidak terima dengan jawaban dingin semacam itu menatap Hermione dengan tatapan tidak percaya. Baginya, Hermione telah menyia-nyiakan satu kesempatan besar dalam hidupnya dan ia tidak bisa membiarkan temannya itu melakukan kebodohan seperti itu, "Menikmati kehidupanmu saat ini? Apa yang kamu nikmati? Tempatmu bukan disini, 'Mione! Kamu adalah penyihir, bukan Muggle! Apa yang kamu dapatkan di sini? Pekerjaanmu membosankan, kehidupanmu membosankan!" Ron merentangkan kedua tangannya menunjuk pada seisi apartemen Hermione, "kamu hidup sendirian disini, semua membosankan!"

"Ron," kata Harry mencoba mengingatkan temannya itu agar tidak mengatakan hal-hal yang sebaiknya tidak ia katakan, ia melirik ke arah Hermione yang tampak tenang menyantap saladnya. Ron mungkin tidak melihatnya namun Harry dapat merasakan bahwa sedikit lagi maka kesabaran Hermione akan mencapai puncaknya. "Hermione pasti sudah memikirkannya..."

"Memikirkan apanya?" kata Ron lagi, tidak sadar akan tangan Hermione yang sedikit bergetar menahan marah, "Dia bahkan tidak memiliki kekasih! Sampai kapan kamu akan hidup seperti ini, Hermione? Ini menyedihkan sekali!"

Harry menepuk dahinya sendiri mendengar kata-kata yang sahabatnya itu ucapkan. Dalam hati ia berdoa agar Hermione tidak mengutuk Ron dengan kutukan tidak termaafkan saat itu. Wajah Hermione saat itu terlihat seperti wajah penyihir yang siap melontarkan crucio kapan saja. Tidak ada seorang pun yang berhak mengatakan bahwa kehidupan Hermione Granger membosankan, apalagi menyedihkan. Seharusnya Ron tahu itu. Harry tahu Ron terkadang bertindak konyol dan kali ini ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk sahabatnya itu untuk menyelamatkannya dari kemarahan Hermione.

Tapi di luar dugaan, Hermione ternyata bisa menahan diri. Dengan anggun ia meletakan mangkuk saladnya di atas meja dan menuangkan segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri. Tanpa menoleh ke arah Ron ia akhirnya mengatakan sesuatu, "Sebenarnya, kehidupanku tidak terlalu sepi saat ini, asal kalian tahu saja, saat ini aku sudah memiliki pacar."

Kalau mereka berdua tokoh kartun, saat ini dagu kedua penyihir pria yang duduk di sofa yang sama dengannya itu sudah jatuh ke lantai. Harry menatap sahabatnya itu dengan tatapan tidak percaya sedangkan Ron kehilangan kata-kata saat mendengar gadis yang pernah dikencaninya itu sekarang tengah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki misterius yang tidak pernah ditemuinya sekali pun.

Tentu saja Hermione bisa saja berbohong.

"Oh ya?" tantang Ron, "Ini pertama kali aku mendengar soal hal ini!"

Hermione menaikan sebelah alisnya, "Karena aku memang tidak pernah cerita pada kalian."

Harry menatap Hermione dengan sepasang mata hijaunya yang berkilat penasaran, "apa kami mengenal laki-laki ini?"

Hermione tersenyum misterius, "tunggu saja sampai kalian bertemu dengannya."

"Kami bisa bertemu dengannya?" Harry bertanya lagi. Berbeda dengan dulu saat Hermione berkencan dengan Ron, kali ini Harry merasa cemas. Ia tidak mengenal pria itu sebaik ia mengenal Ron.

"Kalau kalian mau aku bisa mengenalkan kalian lain kali," gumam Hermione, dalam hati ia berpikir bagaimana cara untuk meminta Jim, rekan sekantornya yang gay untuk berpura-pura menjadi kekasihnya di hadapan Ron dan Harry, "dia sedang agak sibuk belakangan ini..."

"Ba-bagaimana bisa..." Ron kehilangan kata-kata. Ia hanya menatap Hermione dengan tatapan tidak percaya.

Hermione menggelengkan kepalanya lagi mengacungkan garpu saladnya ke arah Ron, "aku dua puluh enam tahun sebentar lagi, Ron, tentu saja satu dua orang teman kencan tidaklah aneh..."

Ron dan Harry bertukar pandang penuh arti.

Sepertinya apa yang dikatakan Ginny benar...


Saat Hermione membuka pintu dan Draco berdiri di depan pintunya dengan wajah masam, Hermione nyaris tidak bisa menahan senyumnya. Tidak setiap hari ia bisa melihat seorang Draco Malfoy berdiri di depan pintumu dengan mantel dan rambut yang basah oleh hujan bulan Oktober. Penyihir yang sempat menjadi kaki tangan pangeran kegelapan itu tampaknya terpaksa harus berjalan sejauh beberapa blok untuk bisa mencapai apartemen Hermione. Mungkin hanya Hermione Granger dan Pangeran Kegelapan yang bisa membuat Draco melakukan hal seperti itu. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang hangat bahkan sebelum Hermione mempersilahkannya masuk. Hermione, menjadi tuan rumah yang baik, menerima mantel separuh basah yang tadi dikenakan Draco dan menggantungkannya di sudut ruangan dengan bantuan sedikit sihir.

Draco menggumamkan mantra untuk mengeringkan tubuhnya sebelum ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa panjang yang ada di ruangan itu. Mata birunya yang nyaris kelabu mengikuti Hermione yang tengah berjalan menuju dapur untuk membuat dua cangkir cokelat panas. Saat Hermione kembali dari dapur dengan dua cangkir cokelat panas, Draco tengah duduk di atas sofa kesayangannya, menatapnya dengan dahi berkerut dan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Aku tidak mengerti, kenapa kamu harus memasang mantera anti apparate di sekeliling tempat tinggalmu, aku bisa mengerti kalau kamu memasangnya di rumahmu, tapi seribu yard dari rumahmu?" Draco memulai protesnya, "aku harus berjalan sejauh seribu yard untuk mencapai tempat ini, aku harap kau menepati janjimu, Granger."

Hermione meletakan secangkir cokelat panas di hadapan penyihir berwajah masam dengan dagu lancip tersebut, "Malfoy, mungkin standar pengamananku akan penyihir hitam jauh lebih tinggi dibanding dengan standar pengamanan di Malfoy Manor, tapi seribu yard tidaklah terlalu jauh untuk seseorang berjalan kaki," Draco menatap Hermione dengan tatapan kesal namun penyihir bertubuh langsing itu hanya menghirup cokelatnya dengan santai, "dan mengenai janjiku, aku tidak pernah berjanji apapun. Tapi kalau yang kau maksud adalah membantumu membuat ramuan menggunakan telur peri, tentu saja akan kulakukan dengan beberapa syarat."

Dari tatapan yang Draco tujukan pada Hermione tampak jelas kebencian yang terpancar, Hermione sendiri cukup menikmati kekesalan Draco padanya. Ia tahu saat ini posisi tawar penyihir berambut pirang itu jauh lebih rendah darinya dan Draco sendiri menyadari hal itu, terbukti dengan sikapnya yang memilih untuk diam dan tidak melontarkan komentar apapun. Meski pun ia harus menggigit lidahnya sendiri untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan cemoohan yang bisa membuat Hermione marah. Mimpi buruk yang belakangan ini menghantui tidurnya sudah sangat mengganggu dan ia harus segera mengatasinya. Ia tidak bisa menceritakannya pada sembarangan orang. Seorang Malfoy uring-uringan hanya karena mimpi buruk? Ia akan jadi bahan tertawaan di kalangan penyihir berdarah murni.

"Jadi," Hermione duduk di sofa yang sama dengan Draco dan secara alami memilih posisi paling jauh darinya, "sebenarnya, ramuan apa yang kau inginkan? Pertama-tama aku harus tau seberapa banyak telur peri yang kau butuhkan untuk ramuanmu."

Draco menggigit bagian dalam mulutnya sambil berpikir sekali lagi, memberi dirinya kesempatan terakhir sebelum melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, memberitahukan rahasianya pada Hermione Granger, penyihir wanita berdarah lumpur yang paling dibencinya. Ia tahu ia tidak memiliki banyak pilihan saat ini. Suka atau tidak suka ia harus mengatakannya. Hermione menunggu dengan sabar sambil meminum cokelatnya sendiri. Cepat atau lambat Draco tetap harus mengatakannya padanya.

"Aku akan mengutukmu kalau kau membocorkan ini pada siapa pun, Granger," gumam Draco dengan alis yang bertaut satu sama lain. Hermione menatapnya tanpa mengatakan apapun, ia tahu bahwa seharusnya Draco paham, ia bukanlah tipe yang akan membocorkan rahasia seseorang pada siapa pun. Tentu saja tidak termasuk pada kedua sahabatnya, "aku ingin kau berjanji."

Hermione manghela napas, "Ya, baiklah."

"Termasuk Potty dan Weasel!" geram Draco lagi seolah bisa membaca pikiran Hermione.

"Apa yang membuatmu berpikir aku akan memberitahu Harry dan Ron bahwa aku bertemu dan melakukan sesuatu denganmu? Mereka akan ketakutan dan membawaku ke St. Mungo untuk memeriksakan otakku!" Hermione memutar kedua bola matanya, "mereka akan kena serangan jantung."

Kali ini giliran penyihir pria itu yang menghela napas dalam-dalam, "Pengusir mimpi buruk, aku butuh pengusir mimpi buruk. Yang paling kuat. Aku sudah mencoba beberapa ramuan dan semuanya tidak bekerja. Kali ini aku membuatuhkan sesuatu yang lebih kuat."

Hermione terkejut mendengarnya namun berhasil menutupinya dengan buru-buru meminum cokelatnya. Draco menatapnya dengan ekspresi yang entah mengapa hampir menyerupai ekspresi malu-malu. Kalau saja Hermione tidak mengenal Draco lebih baik maka ia akan berpikir bahwa penyihir licik itu tengah merasa malu setelah mengatakan hal itu padanya. Seorang Draco Malfoy tidak pernah merasa malu, tentu saja.

"Kau tahu tentang ramuan yang kumaksud kan?"

Tentu saja Hermione tahu, Draco tidak berniat meremehkan penyihir terpintar di sekolahnya itu, ia hanya ingin memastikan. Ramuan yang dimaksudnya adalah salah satu ramuan terlarang yang hanya boleh diracik oleh penyihir-penyihir dengan lisensi khusus. Tapi tentu saja, sejak kapan seorang Malfoy patuh pada aturan? Malfoy hidup dengan aturan yang mereka buat sendiri, yang mengejutkannya adalah bahwa seorang seperti Hermione Granger bersedia terlibat dengan apa yang akan dilakukannya.

"Telur peri, embun, ragwort, sari mawar, foxglove, dan wiski api... Kurang lebih itu bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan penghilang mimpi buruk," gumam Hermione, "selain telur peri, semua bahan mudah didapatkan. Tapi kita sudah punya telur perinya jadi tidak ada yang perlu dicemaskan soal bahan-bahan, hanya saja ramuan ini hanya akan bekerja kalau dibuat saat bulan purnama dan dibiarkan masak selama sepuluh hari."

Draco mencibir keterangan yang baru saja disampaikan Hermione, "seperti yang kuduga darimu, Granger. Apa yang kau lakukan sebenarnya setiap hari, menelan kamus dan ensiklopedia?"

Hermione, di luar dugaan, tidak merasa tersinggung dengan cemoohan Draco, "sebenarnya, aku memang sengaja secara khusus mempelajari ramuan ini sejak beberapa waktu lalu."

"Hah?"

"Well, sepertinya, Malfoy, ramuan yang aku butuhkan sama dengan yang ingin kau buat."


.

.

Author's Note:

Terima kasih untuk 3 reader yang sudah meninggalkan review :D

Soal apakah ada slight Harmony atau tidak di fanfic ini, reader sekalian saja yang menilai sendiri... Oh ya, telur peri itu sendiri, atau Molukka Bean, adalah nama tumbuhan bukan telur yang sesungguhnya. Konon tumbuhan ini sering digunakan para nenek sihir untuk membuat ramuan atau obat. Tumbuhan ini konon benar-benar ada meskipun tidak banyak orang yang pernah melihatnya. Untuk lebih jauh bisa tanya mbah Google soal tubuhan ini ya... :D

Recchi