Boboiboy © Animonsta Studio, Malaysia
Boi & Fani, Ling & Lee, Iqbal (OC) by me


Tak saya sangka banyak yang suka fanfic ini dan minta diteruskan ^^ Terima kasih atas review-review anda semua ^^ Dan salam kenal juga bagi para pembaca baru di sini ^^

Saya coba teruskan sedikit, entah akan sampai mana fanfic ini berjalan ^^


WARNING!
Fang x fem!Boboiboy
Gopal x Yaya
Stanley x Ying

Kalau kalian lupa siapa itu Stanley, bisa nonton Boboiboy season 2. Ada anak gemuk berwajah Tionghoa di paling belakang sejajar dengan Fang, di pojok sebelah kiri.

Jika tak suka pairing-pairing ini, saya sarankan jangan teruskan membaca. Terima kasih


Petals of Memory

Kicauan burung di pagi hari diiringi suara canda tawa riang dua anak yang begitu gembira melihat koper dan tas memasuki mobil yang ditata rapi oleh ayah mereka.

Boi tak hentinya menawarkan diri untuk membantu sang ayah mengangkat koper, "Aku bantu ya, pah! Ayolah! Aku bantu, ya? Ya? Ya? Yaaa?" Fang menghela napas mendengar ocehan anak sulungnya. Ia hanya tersenyum dan memberikan sebuah tas untuk Boi agar ia tenang sedikit. Boi memekik girang melihat tas milik ayahnya diperbolehkan ia angkat. Sayang ia hanya bisa menyeret tas berat tersebut diiringi senyum usil ayahnya.

Sementara Fani yang terus memeluk boneka kesayangannya kini duduk manis di bangku meja makan memperhatikan sang ibunda membuat bekal. Boboiboy tak bisa menahan senyum melihat buah hatinya sungguh penasaran pada termos berisi cokelat panas kesukaan Fani. Gadis kecil tersebut menempelkan pipi tembemnya pada termos merasakan hangat yang membuat anak tersebut tak bisa menahan tawa mungilnya. Ia begitu bahagia mengetahui apa isi termos tersebut.

Boboiboy menyolek sedikit selai cokelat yang ia gunakan sebagai isian roti di telunjuknya, "Fani..."

Fani menoleh melihat ibunya memanggil sambil tengah mendekatkan telunjuk lentiknya yang tercelup cokelat pada bibir mungil sang gadis kecil, membiarkan Fani mengemut jemari ibunya menikmati cokelat manis tersebut. Fani tentu mengeluarkan tawa kecilnya yang membuat sang ibunda gemas hingga menggendong dan memeluk sambil menciumi anak bungsunya.

Fani suka sekali memeluk sambil menghirup aroma mawar segar yang ada di tubuh ibunya. Seperti aroma seorang ratu negeri dongeng bagi sang gadis kecil. Ratu yang cantik jelita dengan hati yang murni.

Boboiboy mencium lembut kening anaknya sambil mengelus rambut Fani yang pendek sama seperti miliknya. Fani selalu ingin sekali mirip dengan ibunya dalam segala hal. Ia selalu meniru apa yang mamanya kenakan. Bahkan ketika Boboiboy mengenakan kalung, Fani membuat sendiri kalung mainan yang terbuat dari kertas.

Wangi manis vanila tercium dari sang gadis kecil. Begitu kontras dengan wajah dan tubuh mungil Fani membuatnya semakin manis "Mama... Fani boleh bawain tas bekalnya...?"

Suara Fani yang pelan dijawab anggukan dari ibundanya. Berhati-hati, Boboiboy memberikan tas kecil milik Fani yang berisi bekal untuk di mobil. Sebenarnya bekal untuk mereka sekeluarga ada di tas besar yang dibawakan Ochobot, namun Boboiboy memberikan bekal kecil spesial tambahan agar anaknya senang ketika membawa tasnya sendiri.

Fani mengenakan ransel mungil di punggungnya dengan termos berisi cokelat panas yang ia selempangkan di tubuhnya. Tangan kirinya tak pernah lepas dari bobeka dinosaurus yang dijahit sendiri oleh mamanya tercinta. Tangan kanan Fani meraih-raih manja pada jemari ibunya meminta agar tangan keduanya saling menggandeng, "Mama... boleh gandeng...?"

Boboiboy tersenyum dan menggandeng tangan mungil anaknya, berjalan keluar rumah menghampiri Boi dan Fang yang tak hentinya bercanda, terlebih karena Fang begitu asyik menggoda Boi yang masih terlalu kecil membawa koper besar milik Fang.

Boi begitu manja pada ayahnya. Ia menganggap sang ayah begitu luar biasa, pintar, berani, kuat, dan bisa melakukan banyak hal termasuk mengangkat koper yang sangat berat. Berkali-kali sang bocah dibuat kagum oleh sang ayah yang sanggup mengangkat koper dengan mudahnya dan menyusunnya di mobil bagian belakang. Bahkan Fang menyempatkan diri mengangkat anaknya tinggi-tinggi hingga tertawa begitu lepas.

"Papa... kakak...," Fani menyapa papa dan abangnya sambil berlari kecil menarik Boboiboy menuju ke samping mobil. Ochobot memasukkan tas bekal di dekat Fani Boi duduk nanti agar kedua anak itu bisa makan jika mereka lapar. Tentu saja Boi dan Fani langsung mengintip bekal hasil karya mama mereka karena wangi yang tercium dari balik tas keranjang tersebut.

"Papa, mau minum kopi dulu...? Atau mau istirahat sebentar...? Ah, apa tas dan koper sudah masuk semua?" Boboiboy mendekati suaminya perlahan sebelum ia menutup pintu bagasi mobil. Fang menarik napas panjang, "Hmm, tas dan koper sudah semua... Ah, ada satu hal yang belum ada di mobil..."

"Apa itu? Akan kuambilkan sebelum rumah dikunci..."

Fang tiba-tiba memeluk pinggang istrinya dan menarik ke dalam pelukannya mencium mesra bibir lembut Boboiboy, "Istriku tersayang yang belum masuk ke mobil karena masih mengkhawatirkan suaminya...," senyum jahil Fang dibalas cubitan pelan di hidung oleh Boboiboy "Gombal...," namun sang istri tak bisa menyembunyikan senyumannya.

Ochobot mengecek kembali seluruh jendela, pintu, serta listrik dan kompor agar aman selama mereka berlibur ke tempat Tok Aba.

Fang memastikan sabuk pengaman yang menjaga anak-anaknya terpasang erat dan nyaman di tubuh mungil mereka. Boi meniru seorang pilot yang hendak terbang landas begitu ayahnya mengenakan sabuk pengaman di tubuhnya menghibur Fani yang ikut-ikutan abangnya tanpa melepas pelukan boneka dinosaurus oranye tersayang.

Boboiboy memastikan kedua anaknya nyaman duduk di belakang bersama Ochobot di tengah-tengah, "Sayang, nanti kalau lapar bilang Ochobot, yah... ada bekal di keranjang bekal... Kalau kebelet bilang, nanti papa bisa carikan tempat berhenti dahulu..."

"Mama, Fani mau pipis..."

Suara mungil Fani membuat Fang, Ochobot, dan Boi yang sudah bersemangat mau berangkat menghela napas panjaaang dan diikuti tawa geli Boboiboy, "Ayo, sayang... ke kamar mandi dulu... Boi juga sekalian aja, yuk...," Boi merasa tak menahan air kecil sama sekali, tapi ia menuruti ibunya.

"Aih, aku tak sabar ingin bertemu Atok..." Ochobot terbang memutar-mutar menemani Fang yang masih menunggu Boboiboy bersama Boi dan Fani. Fang tersenyum. Ia sendiri juga bergitu rindu dengan kota kenangan masa kecilnya dahulu.

Fang ingat jelas ketika setelah menikah dengan Boboiboy, keduanya memaksa sang kakek untuk ikut bersama mereka ke Kuala Lumpur. Namun Tok Aba hanya tersenyum dan menggeleng. Baginya rumah tua kecil yang ia tempati itu kenangan yang sama sekali tak bisa ditinggalkan. Dan ia sendiri merasa begitu senang melakukan kegiatan berjualan coklat di kedai. Ochobot turut memaksa agar dirinya boleh tinggal bersama Atok untuk membantu menjaga kedai sebagai pegawai. Namun sang kakek berpikiran lain. Bagi Tok Aba, Fang dan Boboiboy akan lebih membutuhkan Ochobot sebagai pengantin baru dan setelah punya anak. Ramalan sang kakek benar. Boboiboy memang membutuhkan babysitter handal seperti Ochobot untuk membantunya mengasuh anak. Terutama Boi yang hiperaktif dan suka sekali terluka di sana-sini sehingga kotak P3K selalu menjadi sahabat Ochobot sembari mengejar anak laki-laki yang suka bermain sepak bola tersebut.

Keberadaan Adu Du dan Probe sungguh melegakan hati Boboiboy. Keduanya pindah dari markas bawah tanah mereka menemani Atok. Bahkan Probe dilatih langsung oleh Ochobot dan Tok Aba membuat coklat sehingga bisa menggantikan Ochobot menjadi pegawai Kokotiam Tok Aba. Tentu saja masa pelatihan selalu diiringi Adu Du yang memijit kening dan menepuk jidat karena tingkah Probe. Serah terima jabatan pegawai diwarnai tangisan Ochobot yang baru bisa berhenti setelah lima jam kemudian. Sungguh robot mungil kuning itu sangat menyayangi bosnya yang sudah tua. Adu Du sendiri membuat laboratorium di samping rumah Tok Aba sebagai tempatnya bereksperimen.

"Ayo berangkaaaat!" seru Boi sambil berlari menuju Fang yang tersadar dari lamunannya sambil bersandar di pintu mobil. Fani tak pernah lepas dari gandengan tangan mamanya tersayang. Bahkan ia sempat sedikit merajuk, "Mama... Fani boleh nggak duduk sama mama...?'

Boboiboy tersenyum sambil menggendong dan membantu Fani duduk di samping Ochobot dan Boi, "Fani temani kakak sama Ochobot aja, ya...? Kasihan nanti kakak nggak ada yang temenin main kalo Ochobot tidur..."

Anggukan kecil Fani mendapat hadiah sebuah ciuman sayang di kening dari sang ibunda, membuat gadis kecil tersebut bangga karena mamanya tersayang terlihat begitu senang dirinya menurut. Boi tertawa-tawa ketika ayahnya memasang kembali sabuk pengaman sambil menggelitiki perut anaknya. Tak lama, keluarga yang begitu merindukan sang kakek di Pulau Rintis berangkat menuju kota kecil penuh kenangan yang indah.


Sementara di Pulau Rintis, Atok Aba tengah melayani pelanggan setianya yang telah bergenerasi baru, dan telah melunasi hutang-hutang masa kecilnya dahulu sesuai dengan apa yang ia janjikan. Gopal tertawa-tawa ketika sang kakek mengingatkan bahwa ia berhutang begitu sering hingga akhirnya Yaya sering mengomeli bahwa berhutang bukanlah suatu hal yang baik.

"Iya, nih... Bayangkan... Masa setiap datang berkunjung setiap harinya berhutang atau minta ditraktir...? Malu-maluin...," gerutu Yaya membuat Gopal nyengir lebar. Seorang bocah laki-laki agak gemuk berkulit sawo matang nyaris seperti Gopal duduk di antara kedua sahabat masa kecil itu.

"Bunda... memangnya dulu bapak suka berhutang? Ish, ish, ish... tak baik itu, pak...," bocah tersebut menggoyangkan telunjuknya meledek sang ayah.

"Eish... kamu tak tahu masa lalu bapakmu, Iqbal... Dia ini benar-benar suka sekali jajan... sementara dompetnya tak selalu isi...," gelak tawa Tok Aba yang tak pernah terdengar tua seperti usianya mengiringi Gopal yang tak henti nyengir. Yaya mengelus-elus kepala anaknya yang membantu dirinya menasehati sang suami "Tuh, dengarkan kata-kata anakmu sendiri..."

Gelak tawa terdengar begitu ramai di kedai mungil tersebut. Beberapa pelanggan setia tak merubah kebiasaan mereka mengunjungi dan menikmati coklat nikmat di kedai kokotiam Tok Aba, termasuk Gopal dan Yaya yang membawa buah hati mereka.

"Hmm? Probe? Sedang apa kau terbang setinggi itu...?" Yaya menyadari Probe yang tengah celingukan memutar-mutar di atas papan kedai mungil Tok Aba.

"Aku menunggu Fang dan Boboibooooy...! Aku kangen sekali pada mereka serta Boi dan Faniiii...!"

"Eih, Probe... mereka' kan baru berangkat hari ini dengan mobil... mungkin besok baru sampai... Tak usah kau tunggu seperti ini, nanti terasa lama... Sudah turun sini! Bantu Atok membuat koko...!" Tok Aba menuangkan cokelat panas untuk Yaya.

"Horeee! Aku bisa main sepak bola lagi dengan Boi! Boleh' kan, bunda?" girang Iqbal. Yaya mengangguk.

Wanita berjilbab merah muda tersebut sungguh merindukan sahabatnya yang dahulu tak pernah melepas topi dari kepalanya. Sampai-sampai ketika pernikahan Boboiboy dengan Fang, Yaya iseng meminjam topi masa kecil Boboiboy dari Tok Aba agar mereka bisa berfoto mengenang masa kecil mereka dengan mengenakan benda-benda yang biasa mereka pakai dahulu seperti goggle milik Yaya, topi kupluk Ying, headband milik Gopal, dan sarung tangan fingerless Fang yang dijahit ulang oleh Boboiboy agar bisa dikenakan kembali oleh Fang. Papa Zola, Mama Zilla, Probe, Adu Du, Ochobot, dan Tok Aba meramaikan foto kenangan bernuansa putih cerah perkawinan dua sahabat tersebut.

Foto penuh kebahagiaan tersebut selalu menjadi kenangan indah para sahabat masa kecil itu. Yaya tak pernah bosan memandangi foto yang ia pasang di album khusus. Gopal tak bisa menyembunyikan senyum melihat istrinya yang selalu tertawa-tawa sendiri melihat foto-foto masa kecil mereka yang dihiasi petualangan dan candaan seru mereka.

"Aah, aku tak sabar ingin bertemu mereka... Sejak pernikahan Ying dengan Stanley kita jarang bertemu karena kegiatan masing-masing...," Yaya menopang dagu sambil mengaduk koko panas di hadapannya. Gopal mengangguk menyetujui.

Kembali, keduanya teringat ketika mereka masih SMA...

Boboiboy, Fang, Yaya, dan Gopal sedang jalan-jalan, ketika Ying mengatakan ia ada kesibukan sehingga tak bisa ikut. Betapa terkejutnya mereka mendapati Ying tengah berjalan bersama seorang remaja laki-laki yang mereka kenal sebagai teman sekelas mereka ketika SD dahulu... anak gemuk dengan wajah kental Tionghoa yang biasa duduk di pojok belakang sebaris dengan Fang, Iwan, dan Siti.

Tak disangka, Stanley tumbuh menjadi gagah tak segemuk dahulu. Karena masuk kelas yang berbeda dan jarang bertemu meski satu sekolah, Boboiboy dan kawan-kawannya terkejut mendapati mantan teman sekelas mereka berubah. Ying malu-malu sambil nyengir mengakui bahwa ia sudah ada janji untuk berjalan bersama Stanley. Akhirnya keesokan hari, Fang dan Gopal kompak meledek-ledek Ying dan Stanley, dan tentu saja Ying mengeluarkan jurus mautnya memaksa kedua cowok tersebut maraton seribu kilometer dengan kuasa pengendali waktunya sampai keduanya kapok. Sementara Yaya dan Boboiboy menonton dari pinggir lapangan sambil mengobrol dengan Stanley, menanyakan bagaimana awal mula hubungan mereka berdua, diiringi jerit minta tolong Fang dan Gopal.

"Yayaaaa...! Gopaaaal...!"

Sebuah suara penuh keceriaan membuyarkan lamunan Yaya. Ying melambaikan tangannya dari kejauhan dengan Stanley yang kini berjalan gagah dengan senyum kecil di wajahnya. Di tengah keduanya ada anak kembar laki-laki dan perempuan seusia dengan Iqbal dan Boi. Berambut hitam dan jelas memiliki keturunan Tionghoa sama dengan orang tua mereka. Senyuman lebar penuh semangat nampak pada wajah kedua anak kembar tersebut. Anak laki-laki dengan kacamata bulat lebar serta anak perempuan dengan rambut diikat dua persis seperti sang ibunda ketika masih kecil dahulu.

"Ying! Stanley! Apa kabar...?" Yaya menyambut kedua temannya. Anak-anak mereka sudah saling menyapa terlebih dahulu, "Iqbal! Katanya Boi mau datang, yah!"

"Lee! Ling! Iya, nih! Besok kita bisa main bareng Boi di lapangan lagi! Udah lama dia nggak kemari...!" Iqbal langsung bubar dari bangkunya menuju ke kedua teman sekolahnya. Sejak lebaran kemarin Boi memang telah menjadi sahabat mereka. Ling terlihat begitu mengagumi Boboiboy berkat Ying yang sering menceritakan sahabat masa kecilnya itu. Betapa kelima sahabat itu saling merindukan saat-saat mereka berkumpul dan melepas tawa canda yang riuh.

Iqbal berpamitan kepada kedua orang tuanya ingin bermain bersama Ling dan Lee. Ketiga anak tersebut langsung menuju taman bermain, tak ingin mengganggu orang tua mereka sedang bernostalgia sembari menunggu kedatangan Boboiboy dan Fang di Pulau Rintis.

"Aku akan telepon Amy dan Suzy... Stanley sudah mengabari Amar Deep dan Ana... Iwan dan Siti juga pasti datang kemari besok..."

"Wah, ini benar-benar seperti reuni SD Rintis kelas Jujur, yah...!"

"Papa Zola diajak nggak besok...?"

Pertanyaan Gopal dijawab dengan diam penuh keraguan. Tapi akhirnya mereka kembali tertawa mengingat sang guru nyentrik tersebut pasti akan tetap mereka undang meski tingkahnya yang sungguh ajaib itu. Tok Aba tak hentinya tertawa mendengar cerita masa kanak-kanak sahabat-sahabat cucunya di kedai mungil tersebut.

"... terus ingat nggak waktu drama Putri Tidur...? Boboiboy terpilih jadi Putri Tidur.. Ying sama Fang berantem mengajukan diri menjadi pangeran...!"

Semua langsung ramai mengingat kisah yang diceritakan Stanley sambil tak bisa menahan tawa.

"Ingat! Ingat! Ying ngotot pingin jadi pangeran akhirnya hompimpah dengan Fang dan Iwan dan berujung Ying jadi salah satu peri, Fang jadi naga jahat, dan Iwan yang jadi pangeran...! Hahahahah!"

"Terus di tengah-tengah malah kacau karena Probe nggak sengaja menyenggol properti... lalu Fang dadakan jadi pangeran! Untung penonton mengira kita memang sudah latihan untuk mengubah cerita... padahal improvisasi habis-habisan!"

"Dan yang paling bikin heboh... Boboiboy tidur beneraaan...! Nggak bangun sampai akhir...!"

Gelak tawa tak karuan mengiringi sore hari di kedai Tok Aba. Ying dan suaminya tak bisa lagi mengeluarkan suara ketika tertawa. Perut mereka sakit sampai terbungkuk-bungkuk. Gopal sampai terlupa dengan coklat kesukaannya, dan Yaya sampai menangis karena tertawa.

Oh sungguh rindu mereka dengan sahabat-sahabat yang lain.

Tak sabar para sahabat itu menunggu Fang dan Boboiboy datang berkunjung ke Pulau Rintis...


tbc