"…Hello~?"

Naruto memiringkan kepalanya ke samping, seolah ingin mengerti apa yang membuat orang yang membukakan pintu itu seketika memucat dan mematung menatapnya. Apa ia punya penyakit tertentu ketika permainannya dihentikan? Apa ia punya reaksi marah yang aneh bila permainannya diinterupsi?

Pria muda berdarah jepang itu membeku di depan pintu, jarak diantara mereka hanya beberapa inci dan mereka berdua mempunyai tinggi sama persis, mata ke mata dan dahi ke dahi.

Naruto perlu beberapa kali melambaikan tangan untuk memecahkan tatapan intens yang terpaku itu kepadanya. Bukannya ia tidak nyaman, memang budaya untuk tidak menatap lawan bicara langsung di mata selalu diajarkan di tanah kelahirannya, namun ia cepat merasa kerasan di sini karena budayanya yang lebih bebas dan familiaritas yang tidak mencekik.

Seolah-olah sesuatu menyambarnya, Uchiha Sasuke nyaris melompat mundur ketika ia kembali ke kenyataan. Ia terbata, semu yang nyaris ungu muncul di tulang pipinya yang menonjol dan untuk sesaat Naruto merasa telah melihat pemandangan langka. Untuk skala pria jepang yang biasanya kaku dan membosankan. Tergidik akan penemuan ini, Naruto memasang senyum santainya dan memulai dari awal seolah tidak terjadi apa-apa.

"Hei." Katanya, memulai. Biasanya ia tidak sekaku ini. Namun Uchiha Sasuke kini memaksakan otot-otot wajahnya untuk merengut dan menatap setajam mungkin ke lawan bicaranya. Sekali lagi ketika bertemu mata, Sasuke menghindar kembali dan kini fokus ke tangan Naruto saja.

"Umm…" Aku menemukan dompetmu, ini kukembalikan? Aku kebetulan lewat, ini dompetmu kukembalikan? Sebenarnya aku tidak ingin mengembalikan dompetmu, namun apa boleh buat? Membuat impresi awal yang mengesankan itu sulit. Rasanya seperti melepaskan bom ke segala arah dan menutup telinga erat hingga kau terhindar dari ledakannya yang dapat memicumu melakukan hal bodoh.

"…permainanmu bagus, aku kebetulan lewat…"

Shit.

Shit.

Paras Naruto memucat dan dalam pikirannya ia terjungkal. Apa yang barusan merasukinya? Apa yang sebenarnya ia lakukan? Benar, benar. Dompet. Ia di sini untuk mengembalikan dompet.

Tetapi Sasuke tidak menyadari hal itu, hanya melihat lawan bicaranya sedikit memucat sementara darahnya turun ke kaki. Ini adalah sore hari yang buruk, di mana jari-jarinya kini berdengit dan ingin kembali melarikan diri di atas tuts-tuts, atau mencekik orang ini. Sebrilian apapun matanya, hal itu tidak berarti apa-apa bila seseorang berani mengganggu waktu latihannya tanpa alasan jelas, karena orang tidak datang ke haribaan pintu ruang latihan Sasuke dan kemudian berkata, 'hai, umm, aku suka permainanmu. Itu saja.' Opsi untuk membanting pintu dan presisi mata Sasuke sudah mengukur bahwa bantingan tersebut paling tidak akan menyentuh beberapa mili tebal hidung orang kurang ajar ini, bila ia melakukannya dengan cukup bernafsu. Sasuke ingin memilih opsi tersebut, sebagai awal dari concerto piano selanjutnya yang ingin ia mainkan. Ooh, ia akan mulai dengan Chopin sehabis ini.

Namun rentetan pemikirannya itu terhambat ketika sebuah dompet kulit coklat yang sangat familiar disodorkan kepadanya.

"Ini…"

"Dompetmu, kan? Kau Sasuke Uchiha? Apa aku mengetuk ruangan yang salah?"

Refleks, Sasuke menyambar dompet tersebut yang berisi harta yang memungkinkannya untuk masuk ke asrama tanpa masalah, dan ia bisa makan makanan hangat. Ia langsung membuka dompet itu tanpa ragu, memeriksa uangnya sembari kini berani menantang orang aneh yang mungkin saja hanya pencopet berkedok itu. Ia merasakan ekspresi si mata biru itu sedikit menciut, seperti gelagapan di depan tatapan tajamnya.

Jari Sasuke meraba lembar-lembar dollar yang berjumlah pas sesuai ingatannya terakhir kali ia merogoh saku. Lengkap dengan recehan di kantong yang terkunci dengan kancing, dan deretan kartu kredit serta student ID serta identitas visanya.

Saat itu, di antara mereka hanya ada gemerisik jemarinya yang memeriksa dompet itu. Ia merasakan pandangan orang itu di ujung jarinya, dan toh, tidak keberatan hingga ia menutup dompetnya kembali tanda puas.

Orang itu menghela nafas.

"…apa benar-benar ada yang kau ambil?" Sasuke bertanya, dengan aksen asianya yang sedikit patah-patah. Ada kilatan aneh di mata orang yang kini menatapnya langsung, namun sekelibat momen itu hilang seiring cengiran lebar tersungging di bibir si konduktor, menceriakan remang-remangnya koridor. "Tidak, aku berani sumpah, aku hanya melihat nama di student cardmu saja,"

Ada semu merah yang samar di pipi Sasuke ketika prasangkanya ternyata bertepuk sebelah tangan. Naruto menemukan hal ini, hal tentang orang aneh yang bernada galak dan bermuka asia itu menarik. Mata hitam yang tadi sempat menyudutkannya dengan tuduhan sunyi kembali menatap ke… tangannya? Naruto memutuskan untuk membiarkan hal itu sementara ia berusaha menyusun kata-kata kembali. "Umm, kau orang jepang?"

"Memangnya kenapa?"

Tanpa sadar tangan Naruto mengikuti kebiasaan Iruka yang ia telah perhatikan selama beberapa tahun, menggaruk belakang lehernya dengan pelan. Ia melemparkan padangannya ke.. dinding! Dinding itu jauh lebih menarik. "Aku tidak bermaksud rasis, kau tahu. Hanya saja…"

"Kau bisa berbahasa jepang?"

" Eh-? Kau barusan berbicara dalam-"

"Bahasa Jepang, ya. Kutanya, kau bisa berbahasa jepang?"

"Bisa!" Naruto menjawab. Ia merasakan rasa hangat menyebar di dadanya yang kedinginan menembus angin musim gugur di luar, menyebrang ke hall tempat ruang-ruang latihan, kini semua itu terbayar penuh dengan bertemu sesama orang yang mampu berkata-kata mengingatkannya mengenai kampung halaman, dan kemungkinan besar juga mengerti adat di sana. Dari cara Sasuke Uchiha ini menghindari tatapan matanya, posturnya yang tegap seperti laju orang-orang di sana yang melangkah tanpa henti membuat sekelibat nostalgia menggantung di ruangan.

"Aku… Namikaze Naruto. Aku bertanggung jawab atas Orkes Youth sekarang."

"Aku tahu."

"Ara, kau menonton rehearsal siang tadi, ya?"

Sasuke menggertakkan giginya sedikit, menahan kesal. Kejadian itu lagi! Yang tidak henti-hentinya berputar di kepala sejak tadi siang, membuatnya sakit kepala hingga membanting tuts piano. Apa orang ini telah mengikutinya juga? Berada di dekat orang yang membuat panas dingin badanmu, apalagi dengan tangan yang – yang sekarang dimasukkan ke dalam saku itu membuat Sasuke semakin menggigil oleh euphoria yang sedikit mengerikan.

"Ya. Terimakasih, selamat malam." Tanpa basa-basi, Sasuke berbalik dan mundur untuk menutup pintu tersebut. Ia berusaha menjaga pandangannya cool dan tingggi seperti layaknya seorang Uchiha, apalagi orang yang dihadapannya ini sama-sama dari jepang, dan power play adalah hal yang dianggap penting.

Pintu itu menutup, dan selama Naruto berdiri di sana, ia tidak tahu harus berbalik atau tetap tersenyum mendengar samar aliran fantasie impromptu membuka tabir malam, mengenalkannya pada lembaran baru yang tidak terduga.


Ketika Sasuke menarik student IDnya untuk membuka kunci otomatis asrama, secarik kertas ikut jatuh.

093-3434-435-XXX
Call me if you're interested (^o^)/ -Naruto

Ia meremas, membanting pintu kamarnya hingga dinding-dinding dan kusen jendela bergetar, hingga tetangga yang baru mandi dan sedang mengeringkan rambut dan yang sedang mendengarkan lagu dalam stereo, hingga yang sedang bercumbu, melongokan kepala. Ia mengutuk nasib sialnya karena baru saja mengenal fakta baru mengenai Namikaze-somethingtersebut.

Dia gay.

Sangat, sangat gay.


Hal ini terbukti keesokan harinya.

Kelas pertama Sasuke pagi itu adalah pukul sembilan pagi. Namun ia terbangun pukul enam, dengan dentuman palu di dinding belakang kepalanya. Ia mengerang, mengutuk dan berusaha menahan bunyi tersebut dengan menarik selimutnya di atas kepala, namun tidak berhasil. Rencannya untuk membangun dinding kedap suara memang harus direalisasikan sesegera mungkin, bila tidak, ia akan semakin gila. Orang bodoh mana yang berani membangunkannya di jam edan seperti ini?

Suara itu datang dari samping kiri tempat tidurnya. Berarti si Charles bajingan itu, pasti sedang mabuk dan kini hendak memasang sesuatu dan malah membobol dinding –

Tunggu.

Charles sudah mati tiga minggu yang lalu.

Kenyataan tersebut mampu membuat Sasuke melompat dari tempat tidurnya, bahkan tidak teringat untuk menyelipkan sandal sekalipun untuk bergegas membuka rantai dan kunci kamarnya (ya, ia separanoid itu,) dan di depan pintunya sendiri ia menoleh ke kanan dan melihat sosok Ino sudah berkacak pinggang duluan di depan pintu tetangga mereka yang berisik. Perempuan itu bahkan tidak sempat membuka mulut ketika ia menyadari sosok Sasuke, yang masih dalam t-shirt putih tidur dan celana boxer bergaris. "Sasuke-kun!" Pekiknya dengan aksen yang menebal. Itu pertanda dia sedang marah, dan Ino yang marah tanpa ada sosok pink yang dapat menenangkannya bukanlah pertanda bagus.

Sasuke mengambil langkah pertama dan mulai menggedor pintu tetangga misterius mereka tanpa ampun.

Kepalan tangannya yang terdiri dari jari-jari yang menebal dan kuat akan pengaruh alat musik hampir cukup untuk membolongi pintu tersebut, namun ia memilih untuk menghemat uang sakunya di ujung bulan. Suara palu tersebut berhenti, dan ia memukul sekali lagi sebelum akhirnya, ada derap kaki dan pintu yang dibuka dengan tergesa.

"It's fucking six in the morning! Mind your business!" Serbu Ino bahkan sebelum ia dapat melihat dengan jelas wajah tetangga kirinya.

Sementara, Sasuke, matanya melebar ketika ia melihat kepala kuning yang familiar itu dan tatapan bening yang sama. Egonya sendiri menyelamatkannya dari melongo terang-terangan. Sejak kapan-? Ia pulang lewat tengah malam, setelah security gedung latihan mengusirnya keluar, dan terhuyung-huyung kembali ke dormintori. Sejak kapan-? Orang ini pindah? Setengah hari, waktu ia melihat Naruto melatih orkestra. Pada malam harinya, ada kejadian itu yang meninggalkan sedikitnya empat jam interval hingga Sasuke kembali ke asrama, dan bahkan tidak ada tanda-tanda orang memindahkan barang, atau lampu yang menyala, atau- sesuatu yang menandakan kehidupan dari ruangan Charles-malang tersebut.

Rentetan pertanyan tersebut berputar di kepala Sasuke dan memblok semua input suara. Ia hanya melihat dalam sunyi ketika Naruto menggaruk kepalanya dan membungkuk meminta maaf kepada Ino dan mulut pedasnya yang terus saja mendumel. Sasuke menelusuri sosok pundak Naruto dibalik kaus oranye lusuh dan celananya, dan lengan bagian bawahnya yang kecoklatan serta struktur jarinya-

"…Sasuke!"

Ia terperanjat dan menyentakkan pandangannya kembali ke wajah kedua lawan bicaranya tersebut. Sasuke tidak tahu mengapa kini matanya sering sekali mengkhianatinya hingga terus-terusan melihat tidak sopan ke hal-hal yang justru, memang, di bawah sana, menarik perhatiannya. Ia bisa merasa pipinya memanas, namun bersikeras terhadap alter egonya sendiri bahwa itu adalah pengaruh suhu musim gugur yang drop pada subuh.

"Kita tetangga?!" Seru Naruto, hampir melupakan eksistensi Ino yang tengah memarahinya.

"…kelihatannya demikian…" Sasuke menggumam, ingin berbalik dan kembali tidur. Oh, ya. Seharusnya ia sekarang mendamprat siapapun yang tengah mengganggu kesempatan langkanya untuk tidur sebelum jam tiga pagi. Ino, dilihat dari perawakannya, mungkin baru mendapat tidur sejam entah itu dari tumpukan tugas atau ada sosok lain yang tengah terbaring di tempat tidurnya, tak jelas apakah laki-laki atau perempuan. Sasuke bergidik pada pemikirannya sendiri yang tepat sasaran. Ia kembali bertemu mata dengan tetangga barunya yang tersenyum lebar itu, hampir seperti senyuman rubah, dan melihat kilatan aneh di sana.

Kilatan yang membuat saraf-saraf primitifnya memberi impuls dalam bentuk alarm yang meraung-raung untuk segera sprint.

Ia mendengar samar-samar Naruto berseru "yoroshiku onegaishimasu!" di balik bantingan pintunya sendiri dan tatapan aneh Ino. Mata Naruto itu, membuatnya ingin lari. Penuh pertanyaan yang playful, seplayful kedoknya untuk sengaja membuat ribut di pagi hari untuk menandakan kedatangannya sendiri, mungkin, dan kemungkinan besar untuk membangunkan Sasuke. Hell, karena orang itu telah menyentuh dompetnya bukan tidak mungkin ia telah melihat nomor di kunci elektronik yang tersimpan dalamnya. Dan tatapan itu juga mungkin berkata "why didn't you call me last night?" yang membuat phobia ringan Sasuke terhadap psikopat meroket.

Namun, sambil merosot menjadi gundukan menyedihkan di lantai, terpapar pada pintu yang menjadi sandarannya terhadap realita, nalar Sasuke tetap tak bisa menjelaskan alasan dari jantungnya yang berdebar-debar, liar.