Disclaimer:
Boboiboy milik Animonsta
Era cuma pinjem chara-nya doang kok~
Daan... Fanfiction ini dibuat hanya untuk kesenangan saja
Soundless Voice, Proof of Life and Endless Wedge by Kagamine Len and Kagamine Rin
The Story is mine! XD
Warning : Yaoi! (Kalau tidak suka silahkan tekan tombol back. Be a smart reader, okay? *smile*), typo (maybe), AU, chara-death.
Pairing : Boboiboy x Fang / Fang x Boboiboy (terserah sudut pandang para readers sekalian.. Kyon: Hehe~ Soalnya Era nee bingung pairing nya gimana~ Era : U-urusai!)
Genre : Romance, Hurt / Comfort, Tragedy.
Disarankan untuk mendengarkan lagu Proof of Life dari Kagamine Rin selagi membacanya~
~(`.w.`~)
Balasan Review~
Mgmaranatha21
Ampun mel! Saya datang dengan damai! Jangan bunuh saya mel! #nak. Moe apanya mel? Pairing-nya? Pastilah! Atau.. CN? Hehe~ Sankyuu dah review~ #dibuang
Riku Ruki-chan
Tenang~ ini sudah dilanjut kok! Maaf kalo lama #banget. Nah.. Itu yang Era juga bingung.. Pengennya sih begitu.. Lihat kondisinya dulu.. Tapi yang pasti di ff ini pairing-nya boboiboyxfang! #yapastilah. Walaupun belum jelas yang jadi seme siapa.. Yang jadi uke siapa._. (Kyon : karena Era nee juga masih bingung~ Era : Kyoonn.. *siap siap harimau bayang* ) Arigatou sudah review~
Aiko
Ini sudah di-update~ maaf lama~
Umm... Cara jadi anggota fanfic Boboiboy? Atau mau bikin account fanfiction nih? Kalau Aiko-san mau publish cerita.. Aiko-san harus bikin akun fanfiction dulu... Terus baru bisa bikin fanfic di fandom Boboiboy^^ Aiya~ arigatou sudah review~
Yuka-Shuu and Raira
Iya bener~ Boboiboy emang imut~ Bersiap siaplah... Di chapter ini akan jadi lebih sedih lagi! #bugh! Hmmmm... Itu yg era bingung bbb x fang ato fang x bbb.-. Itu sih terserah reader mau liatnya gimana.. Soalnya jujur saya masih bingung dengan pair-nya #dibuang. Aiya~ arigatou sudah menyempatkan diri untuk me-review ff ini~
Satandowski
Aa.. Era nggak kepikiran lho kalo akhirnya mereka jadi bobo bareng.-. #jder. Tenang~ ini sudah kelar (walaupun baru 1 chap #buakh) Aiya~ iya~ terima kasih sudah mampir untuk me-review ff yg satu ini~
FiaAqari
Umm... Disini Boboiboy sakit Leukemia dan Kanker otak. Dokter sudah memvonis umurnya tidak akan lama lagi.. Begitulah... Pairing yaa... Bisa aja Fang x Boboiboy... Bisa juga Boboiboy x Fang... Soalnya itu terserah sudut pandang readers sekalian~ (Kyon : Soalnya Era nee juga masih bingung XD Era : Kyon! Kusumpal mulutmu dengan bobola api (?) Kalau kau tidak bisa diam!) Tenang Fia-san! Pasti di lanjut kok! Terima kasih sudah mau memberikan review untuk ff Era yg satu ini XD #buakh
Kawaii hime-sama
Ha'i pasti dilanjut kok~ Yokatta na, kalau kau suka^^
Ahahaha gomen ne.. Lama ya? #banget! Terima kasih banyak sudah mau menunggu~ Dan terima kasih juga atas reviewnya~
Mamiko Momoda
Roger that! I'll try to post the next chapter As Soon As Possible! Thank you for your review~ #buakh #sokinggrislu
zi-chan
Iyaa... Ini sudah lanjut~ Gomen lama (T~T) Iya! Semangat! Arigatou reviewnya~
Mireine Neiko
Aiya~ hontou? Era juga lho~ Habis dengerin lagunya Soundless Voice sama Proof of Life langsung keluar ide buat bikin fic tentang itu~
Hontou? Yokatta na feel-nya masih kerasa (?)
Tenang! Pasti di update kok!... Walaupun 'rada rada' lama XD #dibuang
Aiya~ Arigatou reviewnya~
~(`.w.`~)
Your Proof of Life
"Aku ingin terus lanjutkan hidupku yang sangat singkat ini..
Ku ingin buktikan semuanya.. Ku ingin tetap bernyanyi..
Ku harap dapat tinggalkan sesuatu yang menandakan bukti aku pernah hidup bahagia.. Bersamamu."
BOBOIBOY'S POV
"Ngh.. Sudah pagi ya?" Kukerjapkan mataku perlahan. Berusaha menyesuaikan mataku dengan cahaya yang masuk. Aku mencoba bangun, tapi tangan kananku terasa berat. Saat aku menoleh aku melihat Fang sedang tertidur pulas. Dengan perlahan aku mengganti posisiku menjadi terduduk agar Fang tidak terbangun. Kuamati Fang dalam diam, seulas senyum sedih terukir di bibirku. 'Sebentar lagi aku akan meninggalkan Fang sendirian di dunia ini... Karena itu aku ingin kau mengabulkan permintaan terakhirku ini... Maafkan aku Fang... Aku ini tidak berguna...'
'Karena saat ini.. Hanya senyum yang kuinginkan.. Bukan lagu sedih tetapi lagu lagu bahagia...'
"Boboiboy? Kok sudah bangun?" Eh? Ternyata Fang sudah bangun.
"Hehe iya Fang. Maaf sudah membangunkanmu." Aku mengamati Fang yang mulai bangkit dari posisinya. "Nah.. Kau tidak perlu minta maaf.. Aku memang harus bangun sekarang ini. Aku akan menyiapkan sarapan.. Kau tunggu disini saja ya." Ujar Fang sambil mengacak surai hitamku yang tidak lagi tertutup topi kesayanganku itu. "Hmm.. Iya iya." Gumamku tidak jelas.
Setelah Fang keluar dari kamarku, aku membuka tirai dari jendela berukuran cukup besar yang berada tepat di sisi kiriku. Aku dibuat takjub melihat pemandangan di luar. Salju sudah menutupi setiap sudut jalan dan menyulapnya menjadi jalan yang berwarna putih. "Indah sekali.." Kubuka sedikit jendela itu membuat sebuah celah. Aku ulurkan tanganku keluar untuk menangkap salju yang berjatuhan. Ada salju yang jatuh ketanganku, rasanya sangat dingin. Namun sedetik kemudian salju itu meleleh. Mengingatkanku akan sesuatu... Yaitu kehidupan. 'Disaat kau berhasil menggenggamnya, Kau akan berjuang untuk mempertahankannya. Namun, disaat salju itu meleleh, sudah tidak ada yang bisa kau lakukan lagi untuk mengembalikannya ke bentuknya semula. Pada akhirnya, meski kau memohon sampai bersujud sekalipun, salju itu tidak akan kembali ke bentuknya yang semula..' Pemikiran itu benar benar membuatku sedih. Karena aku tau, aku juga akan menjadi seperti itu. Pada akhirnya, aku akan pergi dari dunia ini dan meninggalkan orang yang paling kucintai -Fang. Kututup kembali jendela itu saat merasakan angin bertambah kencang –yang membuatku kedinginan seketika. Aku menyandarkan punggungku ke sandaran yang ada di kasurku. Menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Aku tau perasaan yang kumiliki sekarang ini adalah perasaan yang terlarang. Karena Fang itu adalah seorang lelaki dan aku juga seorang lelaki. Aku tidak tau, apa yang harus aku katakan padanya. Tapi aku yakin, Fang dapat mengerti perasaanku ini, karena hati kita berdua selalu terhubung satu dengan yang lain. Namun, aku yang sekarang ini sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Dan aku tau, hidupku tidak akan lama.. Oleh karena itu, lebih baik aku pendam perasaan ini daripada aku harus mengatakannya dengan jujur. Karena aku tau, jika aku mengatakannya, aku akan membuat Fang menjadi semakin menderita. Tanpa sadar, air mata turun membasahi pipiku.
"Boboiboy? Kau kenapa?" Ujar Fang. Eh?! F-Fang?!
Dengan cepat aku menghapus air mataku dan memasang senyuman lebar. "Eh? Fang? Sejak kapan kau berdiri disitu?" Fang sedang berdiri di hadapanku membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah mangkuk berisi sup panas dan sebuah gelas yang berisi coklat panas, saking panasnya asapnya sampai mengepul tebal. Oooh~ jangan lupakan celemek berwarna ungu tua yang sedang dipakai oleh Fang itu. Aih~ Fang yang biasanya garang jadi seperti seorang ibu yang sangat lemah lembut karena celemek itu. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada celemek itu, kalau perlu aku bersujud di hadapan celemek itu. Oke, itu berlebihan, lupakan jika aku pernah memikirkan hal seperti itu.
"Barusan.. Ini sarapanmu. Dan ini oba– eh? Kok tidak ada? Jangan jangan tertinggal di dapur. Hah.. Ya sudahlah, kau makan dulu sarapanmu Boboiboy. Aku mau mengambil obatmu."
"Baiklah~"
Fang menaruh nampan yang dibawanya tadi diatas meja yang ada di sebelahku. Hihi dia tidak menyadari kalau dia masih mengenakan celemek itu ya?
Kulirik makanan yang berada di sebelahku. Aku mengambil gelas kaca yang berisi coklat panas itu. Aku meminumnya secara perlahan lahan menikmati rasa dan aroma dari coklat itu. Saat aku mengangkat gelas tadi untuk meminumnya lagi, tanganku terasa sangat lemas. Saking lemasnya sampai sampai aku tidak kuat memegang gelas tadi dan secara tidak sengaja aku menjatuhkannya.
PRAAANG!
Astaga! G-gelasnya pecah! Dasar tangan ini.. Aku memandangi tanganku dengan tatapan kosong.
"BOBOIBOY! ADA APA?! APA KAU BAIK BAIK SAJA?!" Setelah mendengarkan suara gelas yang kujatuhkan tadi pasti Fang langsung berlari kekamarku.. Karena nafas Fang terenggah enggah. Aku menatap Fang, lalu menatap pecahan gelas yang ada di lantai, lalu menatap tanganku, kemudian menatap Fang lagi. Aku tersenyum. "Aku tidak apa apa kok, Fang.. Tanganku licin.. Waktu aku mau mengambil gelasnya.. Makanya gelasnya jatuh.. Maafkan aku Fang.. Aku akan membersihkannya.." Saat aku berusaha turun dari kasurku, Fang menghalangiku. "Tidak perlu. Aku saja yang membersihkannya.. Syukurlah kau tidak apa apa." Fang keluar dari kamarku lalu kembali membawa sebuah pel dan kantong plastik. Fang mengambil pecahan pecahan kaca yang cukup besar lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik saat semua pecahan kaca sudah dibersihkan, Fang mengepel tumpahan susu yang ada di lantai. Tidak sampai lima belas menit, semuanya kembali bersih seperti semula. Aku merasa benar benar tidak berguna. Aku hanya bisa melihat Fang yang membersihkan kekacauan yang kusebabkan. Aku menundukkan kepalaku –sedih.
"Hei, sudahlah Boboiboy! Aku tidak masalah kok membersihkannya. Jangan bersedih begitu dong! Tunggu sebentar ya." Fang keluar dari kamarku membawa kantong plastik yang berisi pecahan kaca dan pel yang ia gunakan tadi. Lalu kembali lagi sambil membawa gelas berisi coklat panas yang baru dan kotak obatku.
"Ayo makan! Akan kusuapi." Fang duduk di kursi yang ada di samping kasurku, menaruh gelas berisi coklat panas dan kotak obatku diatas meja lalu mengambil mangkuk berisi sup yang belum kusentuh sama sekali. "Ayo buka mulutmu, Boboiboy. Aaa.." Fang mengarahkan sendok penuh berisi sup kearahku. Aku diperlakukan seperti anak kecil! Aku menatap tajam Fang. Tapi sepertinya Fang tidak mengubrisnya. Dengan terpaksa, aku membuka mulutku. Dan Fang langsung menyuapiku. Sampai suapan yang ke lima, aku menghentikan Fang.
"Tunggu Fang.. Berikan sendoknya padaku.." Walau terlihat bingung Fang tidak mengatakan sepatah kata pun dan memberikan sendoknya kepadaku.
"Nah Fang! Ayo buka mulutmu! Aaa.." Pembalasan dimulai. Aku mengarahkan sendok berisi sup kearah Fang. "Apa yang- hmph!" Hehe masuk! "Kau kira aku ini anak kecil apa, Boboiboy?!" Butuh beberapa saat bagi Fang untuk memakan supnya tadi sampai akhirnya ia bisa protes. "Hehehe... Tadi kau juga melakukan hal yang sama kepadaku, Fang."
"Baiklah.. Baiklah.. Ayo makan lagi..Berikan sendoknya padaku.." Sebelum Fang bisa mengambil sendok yang ada di tanganku, aku menjauhkan sendoknya dari jangkauannya. Tehee ambil kalau bisa, Fang. "Boboiboy! Berikan sendoknya!"
"Tidak akan! Kau juga makan lah Fang.."
"Tidak... Aku bisa makan nanti. Sekarang kau yang makan."
"Kalau kau tidak makan aku juga tidak makan." Ujarku sambil berpura pura merajuk. Aku tau cara ini pasti berhasil.
"Haah.. Baiklah aku juga akan makan." Hehehe tuh kan berhasil.
"Ayo buka mulutmu Fang!"
"Aku bisa makan sendiri Boboiboy!"
"Sudahlah Fang! Buka saja mulutmu!"
"Hah.. Iya iya-" HAP! Yeey masuk! Fang pintar! Ehehehe..
"Nah gitu dong~ Fang pintar! Hehe"
CTAK!
"Aduh! Aku kan memujimu Fang! Kenapa malah menjitakku?!"
"Kau kira aku anak TK apa?!" Wajah Fang memerah.. Aish~ manisnya~ hehe~
"Tidak kok~ Hehehe~"
"Huft.. Iya iya terserah kau.. Sekarang gantian! Kemarikan sendoknya!" Fang langsung merebut sendoknya dari tanganku.
"Nah, sekarang buka mulutmu Boboiboy! Aaa.."
Tanpa sadar, kami berdua jadi suap suapan begini sampai supnya habis. Hehehe..
"Nah sekarang kau harus minum obatnya, Boboiboy." Fang memberiku segelas air dan lima butir obat. Aku mengangguk, kuminum obatku satu persatu sampai kelimanya sudah selesai kuminum. Setelah aku meminum obatku, suasana di kamar menjadi hening. Fang sedang membersihkan mangkuk dan gelas yang sudah kosong.
"Hei Fang?" Karena sudah bosan dengan suasana hening ini aku memutuskan untuk bersuara.
"Apa?"
"Sampai kapan kau mau mengenakan celemek itu?" Tanyaku sambil menunjuk kearah celemek yang sedang Ia gunakan.
"Ap–" Fang mengikuti arah telunjukku dan menemukan Ia masih mengenakan celemeknya.
Mari kita hitung mundur!
5!
4!
3!
2!
1!
0!
"UWAAAH! AKU LUPA MELEPASNYA! BETAPA BODOHNYA AKU!" Tuh kan.. Sudah kuduga.. Hehehe.. Kadang kadang Fang bisa jadi orang yang benar benar pikun. Oh! Oh! Oh! Lihat mukanya merah lagi~ Manisnya~
Fang buru buru melepas celemeknya. "Lho? Lho? Lho? Kenapa dilepas Faaang?~ Begitu saja kan manis~" Mendengar ucapanku, wajah Fang jadi tambah merah. Hihihi.. Aku benar benar senang menggodanya.
"Manis gundulmu! Aku ini cowok tau! COWOK! C-O-W-O-K! Cowok!" Oke.. Aku harus berhenti sebelum Fang keluar tanduknya. Heh? Tanduk? Ya sudahlah.
"Iya iya.. Tehehee.." Ups.. Keceplosan.
"Kenapa kau tertawa?!" Uwoh.. Uwoh.. Aku bisa melihat api yang membara dari belakang Fang.
"Ehem! Tidak apa apa kok."
"..."
.
Haduuh... Kenapa jadi hening lagi sih?!
"Hei Fang?"
"Apa lagi?!" Uwaah.. Serem.
"Jangan galak gitu dong!" Aku menatap tajam kearah Fang. Aku tau sekarang Fang sedang menghela nafas –pasrah.
"Haah.. Iya iya maaf.. Baiklah.. Ada apa Boboiboy?" Aku tersenyum pahit kearahnya. Sementara Ia menatapku bingung.
"Fang.. Jika saja hari ini adalah hari terakhirku.. Jika saja hari ini aku mati.. Maukah kau mengabulkan permintaanku untuk yang terakhir kali?" Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Aku tidak ingin Fang tahu bahwa aku kesepian, ketakutan dan kesakitan. Aku hanya ingin Fang bahagia, karena itu aku akan berusaha untuk tetap tersenyum setiap harinya walaupun aku tau aku menderita. Tapi itu semua tidak apa apa asalkan aku bisa membuat Fang bahagia.
"J-jangan bicara seperti itu Boboiboy! Kau tidak akan mati! A-apa k-kau ingin meninggalkan aku.. Sendirian? Apa.. Apa kau ingin membuatku m-menderita?" Setelah mendengar penuturan Fang aku langsung memusatkan perhatianku kepadanya. Air mata setetes demi setetes menuruni pipinya. Kuulurkan tanganku kearahnya, berusaha sebisaku untuk menghapus airmatanya.
"Hush.. Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku ingin membuatmu menderita. Aku hanya ingin melihatmu menjalani hidupmu dengan optimis dan penuh dengan senyuman. Dan satu lagi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian Fang.. Aku akan selalu ada bersamamu, berada di dekatmu, aku akan selalu menjagamu. Membantumu bangun disaat kau terpuruk. Membantumu berjalan disaat kau sudah tidak sanggup lagi. Aku akan selalu ada disaat kau kesusahan." Aku tersenyum lembut kearah Fang. Suasana menjadi hening setelah aku menyelesaikan kalimatku –atau yang menurutku lebih mirip ceramah atau pidato– itu.
Wow... Aku kok tiba tiba jadi puitis banget begini? Kesambet apa aku barusan?
"Gimana Fang? Kalimatku keren kan?" Aku mengembangkan cengiranku selebar mungkin. Daann.. Fang hanya memandangiku dengan tatapan aneh.
"Hmph! Entahlah! Apa peduliku?" Fang menyilangkan tangannya di depan dadanya. Yaah... Yaah... Fangnya marah~
"Kau marah Fang?"
Fang menggelengkan keapalanya "Tidak."
"Beneran?"
"Iya!"
"Yaaah.. Fang marah..Jangan marah lah Fang~ Maaf deh." Fang menatapku dengan tatapan aneh sebelum menyeringai kecil.
"Akan kumaafkan kau."
"Yeey! Gitu dong~ Fang tau kan aku sukanya bergu–" "Tapi..."
"Eh? Ada tapinya?"
"Iya.. Kau harus berjanji bahwa kau akan sembuh." Aku mengerjap perlahan. Huh? Sembuh? Itu tidak mungkin! Kau pasti sudah tau Fang, kalau penyakitku ini sudah kronis. Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk, karena aku tidak tau apa yang harus aku katakan untuk menjawabnya.
[ TIME SKIP ]
Hari sudah semakin siang, matahari sudah nampak semakin tinggi. Kini aku dan Fang berada di ruang tengah. Aku menghangatkan tubuhku di depan perapian dan Fang –seperti biasanya– bermain piano. Huft.. Iya iya aku tau kau bisa bermain piano dengan baik Fang.. Tidak sepertiku.. Eits! Jangan salah! Aku memang tidak bisa bermain piano sebagus Fang, tapi suaraku jauuuhh lebih bagus daripada Fang!
Aku memperhatikan Fang dalam diam. Sekarang ini pikiranku sudah ngelantur kemana mana. Dan akhirnya berhenti pada sesuatu... Janji Fang kemarin malam!
"Hei Fang?" Fang yang saat itu sedang asik asiknya bermain piano langsung menghentikannya dan menoleh kearahku.
"Ada apa?"
"Kau lupa?"
"Lupa? Lupa apa?"
"Kau benar benar lupa, Fang?"
"Kalau kau tidak memberitahu apa yang sedang kau bicarakan, aku tidak akan mengerti."
"Jadi.. Kau benar benar lupa ya.."
Sebuah perempatan muncul di dahi Fang. "Boboiboy.. Ku ulangi sekali lagi... KALAU KAU TIDAK MEMBERITAHU APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN, AKU TIDAK AKAN MENGERTI!" Ya ampun, kok jadi marah begitu.. Aku kan cuma bercanda..
"Hehe.. Aku kan hanya bercanda, Fang."
"Haah.. Ya sudah.. Apa yang ingin kau katakan?"
"Kau kan kemarin sudah berjanji Fang! Kalau hari ini kita akan bermain salju diluar!"
Fang melebarkan matanya. "Hah?" Tapi kembali seperti semula beberapa saat setelah itu. "Ooh. Aku tau.." Setelah mengatakan itu, Fang meninggalkanku sedirian–– Apa?! Fang! Aku menatap tajam kearah pintu yang baru saja terbuka –karena dibuka oleh Fang. Kesal.. Ya. Aku kesal.. Kenapa Fang tiba tiba keluar begitu?! Haah.. Tidak ada gunanya marah marah.. Setelah beberapa menit, Fang akhirnya kembali sambil membawa nampan berisi.. Obat?! Pandanganku langsung beralih kearah jam dinding yang ada di ruangan ini. Sudah jam tiga?! Secepat itu? Ya ampun.. Aku tidak sadar.
"Akan kuperbolehkan... Asal kau minum obatmu dulu, Boboiboy."
"Hum.. Baiklah." Aku ambil lima butir obat dan segelas air mineral yang diberikan Fang. Kuminum satu persatu obatku. Fang hanya memandangiku. "Nah.. Sudah habis! Ayo Fang!"
"Eits! Tunggu dulu! Kau mau keluar dengan baju setipis itu? Kau pasti akan jadi balok es lah!" Refleks, aku langsung melihat pakaian yang kukenakan. Hanya kaos oblong dan celana panjang tipis. Aku mengamati Fang. Dia juga sama menyedihkannya denganku, dia hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan celana tipis selutut. "Kau juga Fang. Bajumu apa nggak kurang tipis?" Ujarku sarkastik sambil memasang senyum mengejek.
"Huh! Aku baru saja ingin mengganti baju–"
"Eits! Nggak boleh! Aku duluan yang ganti!" Yap. Bendera perang sudah dikobarkan.
"Aku dulu lah! Kau nanti saja Boboiboy! Setelahku!" Oke. Aku tidak akan kalah dari Fang dalam perang childish ini!
"Siapa cepat dia dapat Fang!" Sekuat tenaga aku lari ke arah kamar mandi. Daaann.. HUP! CKLEK! Yeay! Aku berhasil masuk terlebih dulu ketimbang Fang! "Yeey! Aku duluan ya Fang!"
Hening. Tidak ada jawaban dari Fang.
"Hei Boboiboy?"
"Iya?"
"Untuk apa kau masuk kedalam tanpa membawa baju ganti?"
Krik.. Krik.. Krik.. Krik..
Oh iya.. Baju gantiku– dasar bodoh.
"Ehehe.. F-Fang bisa tolong kau ambilkan–"
"Haaah.. Sudah kuduga.. Tunggu sebentar."
Haduh.. Ini benar benar memalukan.. Aku berlomba masuk ke kamar mandi dengan Fang… Dan aku menang.. Tapi aku tidak membawa baju gantiku. Haahh… Tembok mana tembok.. Sekarang ini rasanya aku ingin sekali menjedutkan kepalaku ke tembok gara gara kejadian yang memalukan ini.
TOK! TOK!
"Hei Boboiboy… Ini bajumu.."
Kubuka pintu kamar mandi sehingga membuat sedikit celah. Dan aku bisa melihat Fang sedang membawa baju tebal berwarna oranye pucat milikku. "Terima kasih Fang." Kuambil bajuku dan kututup lagi pintu kamar mandi. Dan aku segera berganti baju.
Hening…. Lagi.. Sampai akhirnya aku selesai berganti baju. Aku keluar dan menemukan Fang dengan setia menunggu di depan kamar mandi.
"Maaf.. Aku lama ya?"
"Tidak juga"
"Nah cepatlah ganti Fang! Hush! Hush!"
"Iya iya.. Kau tunggu saja di ruang tengah"
Sambil menunggu Fang berganti baju.. Aku kembali kembali ke ruang tengah –sesuai dengan perintah Fang–. Karena bosan menunggu –walaupun belum sampai 1 menit–, aku mencoba memainkan piano yang ada di ruang tengah. Aku mengambil partitur lagu –yang kusukai– dari sebuah map yang berada di atas meja disamping piano. Kutekan satu persatu tuts di piano sesuai dengan nada yang ada di partitur lagu itu. Pertamanya bingung sih, tapi lama lama menyenangkan juga. Sambil menyanyikan beberapa penggal dari lirik lagunya. Yang tidak kuketahui, Fang yang sudah selesai berganti baju dari tadi mengamatiku dengan senyuman lembut di wajahnya.
"Anata ni sasagetai setsubetsu no uta.. Saigo ni tsutaetai yo... Arigatou.." Penggalan lirik lagu bagian terakhir yang benar benar kusukai. Untuk terakhir kali, kutekan tuts tuts di piano sesuai dengan yang tertera di partitur. Aku tersenyum puas dengan permainan pianoku.
Tiba tiba suara sebuah tepuk tangan mengisi ruangan– Eh? Tepuk tangan?! Aku menoleh kebelakangku setelah mengumpulkan keberanian. Daaannn... Fang! Se-se-sejak kapan?!
Seakan mengerti apa yang kupikirkan, Fang menjawab dengan senyuman geli "Dari tadi.."
"A-apaa?!" Oke. Kenapa..
"Ahaha.. Tidak usah seperti itu. Tadi itu bagus kok." Eh? Bagus? Apanya? Apanya yang bagus?
"Ehm.. Apanya yang bagus, Fang?"
"Haduh.. Tadi. Permainan pianomu lah.. Apa lagi memangnya?"
"Huft.. Iya iya.. Aku tau kok kalau kamu yang memainkannya pasti lebih baik." Kataku. Fang mendengus pelan.
"Kau itu.. Negative thinking terus.. Tadi itu memang bagus kok." Ujar Fang sambil tersenyum lembut. Tiba tiba wajahku terasa panas, mudah mudahan Fang tidak melihatnya.
"Eh.. Hehehe.. T-terima kasih.. Oh iya! Ayo Fang! Aku sudah tidak sabar! Ayo kita keluar!" Aku menarik tangan Fang. Membawanya –baca : menyeretnya– keluar. "Iya iya! Kau ini benar benar tidak sabaran! Tanganku jadi sakit tau!" Gerutu Fang ketika aku menarik tangannya.
Setelah mengenakan sepatu dan syal agar tetap hangat, kita berdua keluar. Kesan pertama setelah aku melihat dunia luar setelah sekian lama, luar biasa. Semuanya tertutup salju. Salju menyulap semuanya menjadi putih.. Mulai dari atap rumah, jalanan sampai pepohonan. Semuanya berubah menjadi sangat indah. "Fang lihat pohonnya! Jadi berwarna putih!" Seruku sambil menunjuk pohon besar yang berada di depan rumah. "Iya aku tau.." Jawab Fang sambil tersenyum kecil. I-ini benar benar indah..
PUK!
Eh? Saat menoleh kebelakang aku melihat Fang menyeringai lebar –sambil menahan tawa. Kuletakkan tanganku diatas kepalaku yang terasa dingin–eh? Kok dingin? Apa ini?
"Ada salju tuh.. Diatas kepalamu.." Fang yang sedari tadi diam –dan menyeringai– kini angkat suara, sambil menunjuk keatas kepalaku. "Pfft.."
"Eh? K-kok bisa?" Mungkin saljunya jatuh dari dahan dahan pohon. Iya. Tapi waktu aku melihat keatas.. Tidak ada dahan pohon sama sekali.
"Bisa lah... Lihat ini, Boboiboy." Ditangan Fang sudah ada segumpal sallju yang cukup besar. Dan sedetik kemudian, Fang melemparkannya kearahku– Eh?! Kearahku?!
BUK!
Dan ya! Salju tadi tepat mengenai wajahku! Awas kau Fang! Karena ingin membalas perbuatannya aku mengambil beberapa salju.. Tapi.. INI DINGIN SEKALI!
"Uwah! D-d-d-dingin! Faaanngg!" Refleks.. Aku membuang gumpalan salju tadi dan berlari kearah Fang. "Ada apa Boboiboy? Dingin yaa~" kata Fang sambil menunjukkan seringai yang benar benar menyebalkan.
"K-kenapa kau bisa tahan, Fang?! I-i-ini sangat dingin!" Aku melihat tanganku yang sudah jadi pucat gara gara kedinginan. Karena kedinginan juga, tanganku jadi bergetar hebat. "Itu karena aku ini hebat.. Kau tidak bisa mengalahkanku Boboiboy.. Lihat ini." Fang membuat sebuah bola salju yang cukup besar. Tiba tiba pandanganku terfokus pada satu hal.. Sarung tangan berwarna ungu tua yang membalut tangannya! Hmph jelas saja dia bisa tahan.. DIA PAKAI SARUNG TANGAN! Jelas saja dia tidak kedinginan! Dasar curang!
"Buu.. Jelas kau tidak kedinginan... Kamu pakai sarung tangan.." Fang menghentikan apa yang ia lakukan sekarang dan menyeringai lebar. Lalu melempar bola salju itu kearahku lagi–Eh?! Kearahku?! L-lagi?!
BUK!
Ini sudah yang kedua kalinya Fang melemparkan bola saljunya kearahku. Dan aku tidak bisa membalasnya. Kau kejam Fang! "Sudah sudah! Hentikan Fang! Kau mau aku kedinginan?!"
Fang hanya tersenyum miring dan menatapku remeh "Hah! Bilang saja kalau kau tidak bisa mengalahkanku.. Ya kan?"
"Ya. Ya. Terserah kau sajalah, Fang." Aku berjalan menjauhi Fang tanpa tentu arah.. Tiba tiba aku berhenti di depan pohon besar.
"Fang! Aku menemukan tunas pohon Eve! Lihat ini!" Boboiboy kecil berlari kearah seorang anak laki laki bersurai gelap membawa pot berisi sebuah tunas.
"Hah! Yang benar Boboiboy?! Pohon Eve yang sudah hampir punah itu?!" Anak laki laki bersurai gelap tadi–yang ternyata adalah Fang– nampak terkejut sekaligus senang. Fang kecil menghampiri Boboiboy kecil dan melihat pot yang dibawa olehnya.
"Indah sekali kan?"
"Tentu saja! Kau dapat darimana Boboiboy?" Tanya Fang kecil dengan mata berbinar.
"Hehehe.. Tadi aku menemukannya dipinggir jurang." Jawab Boboiboy kecil dengan polosnya sambil tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih.
"J-jurang?!" Fang kecil nampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak laki laki di hadapannya itu.
"Iyap! Sekarang ayo kita tanam tunas ini di depan rumah! Agar semua orang bisa tau!" Boboiboy kecil menarik tangan Fang kecil dan membawanya ke suatu tempat.
Kepingan memori indah itu datang lagi. Tanpa sadar, aku tersenyum lebar pada saat aku mengingatnya kembali.
"Fang! Fang! Aku kok nggak nyadar ya... Terakhir kalo kita kesini kan pohon ini masih setinggi lutut.. Sekarang sudah sebesar ini!"
" Iya ya.. Kalau dipikir pikir.. Perkataanmu ada benarnya juga.. Atau karena kitanya yang terlalu sibuk sampai sampai tidak sadar kalau pohonnya sudah sebesar ini.."
Beberapa tahun setelah mereka menanam tunas pohon Eve itu.. Boboiboy dan Fang kini berusia 11 tahun. Tidak ada yang angkat suara, semuanya terpaku dengan pemandangan yang disuguhkan di depan mereka.
"Hei Fang.. Aku ada ide.."
"Apa?" Tanya Fang tanpa mengalihkan pandangannya dari pohon besar dihadapannya.
"Bagaimana kalau kita mengukir nama kita di pohon itu?" Ucap Boboiboy dengan seringaian lebar sambil mengeluarkan dua buah cutter dari saku celananya.
Fang menatap Boboiboy sebentar. Sebelum akhirnya mengambil salah satu cutter dari tangan Boboiboy dan berjalan kearah pohon Eve berukuran besar itu.
Fang mulai mengukir namanya dengan rapi di batang besar pohon itu. "Faanngg! Tunguu akuu!" Boboiboy berlari kecil ke arah Fang dan mulai mengukir namanya secara hati hati di samping ukiran nama Fang.
Aku menyentuh batang pohon itu dan menghapus beberapa bekas salju di batang pohon itu. Aku terkejut setengah mati.. Ukiran namaku dan nama Fang masih ada! Bahkan masih serapi dulu. Saking senangnya, air mataku sampai menetes.
GREB!
Eh? Ada apa ini? Tiba tiba aku melihat kepulan putih yang dingin dari bahu kiriku–eh? Apa ini? Kenapa kok rasanya badanku tiba tiba terasa berat ya. Saat aku menoleh ke kiriku, aku melihat Fang sedang terenggah enggah.. Dan nafasnya mengeluarkan kepulan berwarna putih yang sangat dingin.
"F-Fang?" Aku menyadari bahwa Fang tengah memelukku dari belakang. "A-ada apa?" Aku hafal betul sikap Fang.. Dia akan melakukan hal seperti ini jika dia benar benar ketakutan.
"Haahh.. Haahh.. Aku mencarimu.. Haahh.. Boboiboy.. Haahh.. K-kau.. Kemana.. Haahh.. Saja?"
"Sebelum itu.. Bisakah kau melepaskan pelukanmu terlebih dulu, Fang?"
Fang mengerjap perlahan "Ah! Iya, Baiklah.. Maaf." Fang akhirnya melepaskan pelukannya padaku.
"Terima kasih"
"Aku dari tadi disini kok.. Apa yang kau khawatirkan, Fang?"
"K-kupikir kau marah padaku.. Lalu berusaha menghindariku.. Tapi kau tersesat.. Dan.. Dan.." Wajah Fang terlihat lebih pucat.. Sepertinya dia sedang memikirkan hal yang aneh aneh..
"Dasar Paranoid."
"Huh? Kdau tadi bicara sesuatu, Boboiboy?"
"IYA! AKU BILANG KALAU KAU ITU BENAR BENAR PARANOID, FANG!"
"Aku hanya takut kalau terjadi sesuatu terhadapmu, Boboiboy!"
"Aku tau itu Fang! Tapi kau lihat kan kalau aku baik baik saja sekarang!"
"M-maaf.. Aku hanya khawatir dengan penyakitmu, Boboiboy"
Haah.. Dia membahas penyakitku lagi.. "Baiklah baiklah.. Aku juga minta maaf.. Tapi jangan ungkit ungkit tentang penyakitku dulu! Aku ingin bersenang senang hari ini!"
"Oh iya! Fang lihat ini! Apa kau masih ingat?" Tanyaku sambil menunjuk sebuah ukiran di pohon yang bertuliskan namaku dan juga Fang.
"Eh? I-itu kan.." Fang terlihat sama terkejutnya sepertiku tadi. "Ide gilamu yang waktu itu bukan?" J-jahat! Itu ide yang brilian! Fang meletakkan jari telunjuknya di batang besar yang dimiliki pohon besar itu dan menatap ukiran tadi secara intens, lalu berkata "Aku tidak menyangka tulisannya masih sama seperti pertama kali dibuat." Dan hanya kujawab dengan anggukan dan senyuman.
Suasana menjadi hening, tidak ada yang mau mengangkat suara dan memilih untuk menikmati ketenangan ini. Sampai akhirnya Fang angkat suara "Bagaimana kalau kita lihat lihat ke tempat yang lainnya?" Saat aku menoleh kearahnya, aku mendapati Fang sedang menatapku. Entah kenapa, tiba tiba wajahku terasa panas. Aku ini kenapa sih? "Boleh." Aku berjalan mendahului Fang dengan maksud supaya Fang tidak bisa melihat rona merah di wajahku.
"Fang! Lihat! Itu ada–"
SRET!
Eh? Kok tiba tiba tanganku terasa hangat? Saat melihat ke tanganku, ternyata tanganku sudah digenggam oleh Fang–eh? Tunggu? Apa?
"F-Fang?" Fang menoleh "Apa? Aku hanya ingin meyakinkan agar kau tidak kabur seperti tadi." Ujar Fang sambil memalingkan wajahnya dan seketika telinganya memerah. Eh? Kenapa? Ah sudahlah.. Biarkan saja dia.
Setelah beberapa menit kita berjalan–dan tidak menemukan apapun yang menarik–
Sampai sebuah ide cemerlang keluar dari otakku. Kulepas paksa tanganku dari genggaman Fang. "Hei Fang.. Apa kau ingin mengetahui apa keinginan terbesarku?"
Kupejamkan mataku, merasakan dinginnya angin musim dingin sambil meletakkan kedua tanganku di depan dada. "Aku ingin.. Agar.. Aku bisa tetap tersenyum.. Dan ikut tertawa denganmu setiap kali kau bahagia.. Dan menyanyikan lagu lagu bahagia.. Berdua bersamamu.." Aku tersenyum lebar sambil memulai menyanyikan sebuah lagu. "Fuyu wo tsugeru kaze no koe ni... Mimi wo katamuke furueru karada... Tonari ni iru anata no iki... Shiroku natte samusou... Kotoshi mo mata inochi wa kare hate... Yagate kuru haru wo machi wa biru... Inochi no rensa wo kiki nagara... Mebuite yuku hikari no naka de..." Saat kubuka mataku, yang aku lihat adalah wajah terkejut Fang, tapi lama kelamaan wajahnya menjadi lembut.
"Kuchi de yuku sadame to... Wakatte nao tsuyoku... Iki shite ita iyo utatte itai... Watashi ni mo nani ka nokoseru to ii na... Watashi ga iki ta inochi no akashi wo…" Fang akhirnya tersenyum, dan membuat senyumanku semakin lebar..
"Kanashii uta ni wa shitaku nai yo... Nee onegai ima kono toki dake wa... Waratte itai yo… Anata no yoko de... Yasashii uta wo utatte itai.."
DEG!
Tiba tiba seluruh badanku terasa sakit sekali, tapi ku paksakan agar suaraku tetap keluar dan mulai menyanyikan bait lagu yang berikutnya. "Ikudo me ka no fuyu wo koete... Yatto kizuita kono kimochi wa... Tsugeru koto wa deki nakatta kedo... Kokoro wa itsumo tsunagatte ita yo ne..."
Mungkin.. Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan Fang. Maka dari itu, aku ingin dia tau perasaanku.. Dan juga penderitaanku.
"Kurakute mienai yo… Nani mo kikoe nai yo… Kowai yo… Kurushii yo… Sabishii yo… Nani mo kamo subete ga... Kiete yuku naka de... Anata no egao dake ga... Ima kienai…"
Ku genggam tangan Fang yang terasa hangat itu––karena tanganku sudah sangat dingin, sambil tersenyum kearahnya.
"Yasashii uta wo utatte ite ne... Kodoku na sekai ni tsutsumarete mo... Zutto soba ni iru yo wasure nai de ne... Anata wa itsumo hitori janai yo..."
GREB!
"H-hentikan.. B-Boboiboy!" Aku hanya tesenyum sedih saat melihat keadaan Fang yang sangat menyedihkan saat ini, karena wajahnya sudah dibasahi oleh air matanya.
"Sabishiku nai yo anata ga iru... Dakishimete kureru atatakai te de... Kikoe nai keredo tsutawatte iru yo... Fureta yubisaki kara "aishiteru"tte.."
Aku melepaskan pelukan Fang dan menghapus airmatanya. Meskipun sekarang nafasku mulai berat, tapi aku ingin mengutarakan semuanya kepada Fang.. Dengan sisa nafasku ini.
"Kanashii uta ni wa shitaku nai yo... Nee onegai ima kono toki dake wa... Waratte itai yo anata to tomo ni... Yasashii uta wo utatte itai... Anata ni sasagetai setsubetsu no uta... Saigo ni tsutaetai yo…"
Perlahan lahan kesadaranku mulai menjauh. Tapi.. Aku ingin Fang tahu betapa bersyukurnya aku bisa bertemu dengannya.. Aku ingin Fang tahu bahwa aku menyayanginya. Aku pasti akan mengungkapkannya! Apapun yang terjadi!
Tapi kalau dipikir pikir lagi... Aku sudah tidak mungkin bisa mengucapkan kalimat sepanjang itu. Namun setidaknya aku masih ingin mengungkapkan rasa terima kasihku kepada Fang.
"Fang... Ari.. Ga.. Tou.."
Yah.. Setidaknya aku sudah bisa menyampaikannya. Aku bisa pergi dengan tenang. Selamat tinggal, Fang.
BOBOIBOY'S POV END
Tubuh kecil Boboiboy secara perlahan jatuh keatas tumpukan salju. Pergerakannya terlihat seperti slow motion di mata Fang. Ia ingin sekali menangkap tubuh seseorang yang amat dicintainya itu, tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Ingin rasanya ia berteriak meminta tolong, tapi suaranya tidak dapat keluar seakan ikut menghilang bersama dengan Boboiboy. Ingin Ia menggendong tubuh rapuh pemuda itu dan membawanya ke suatu tempat yang lebih aman, tapi apa daya, tubuhnya kini sudah seperti diluar kendalinya. Diantara mereka berdua tidak ada yang bergerak, tapi salju tetap turun dengan lebatnya. Sepertinya akan terjadi badai salju malam ini.. Tapi Fang tidak peduli itu semua! Ia hanya ingin menyelamatkan pemuda yang selama ini mewarnai hari harinya itu! Tapi Bagaimana? Apa yang harus Fang lakukan? Sementara seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan, bahkan suaranya pun menghilang! Tapi.. Kenapa air matanya tidak bisa berhenti? Dan juga, kenapa lututnya terasa sangat lemas? Apa yang harus Fang lakukan di dalam ketidakberdayaannya sekarang ini? Ia merasa ini semua adalah salahnya.. Jika saja ia tidak mengizinkan Boboiboy untuk bermain salju hari ini, Boboiboy tidak akan berakhir seperti ini. Ia memilih untuk mengingkari janjinya.. Setidaknya itu lebih baik! Ya Tuhan.. Memangnya apa yang bisa ia lakukan sekarang ini? Apakah sekarang ini yang ia bisa hanya menangisi kepergian pujaan hatinya itu? Tanpa berusaha melakukan sesuatu? Jangan bercanda! Itu tidak mungkin! Setidaknya sekarang ini biarkan ia mencari cara untuk menyelamatkan Boboiboy! Kenapa takdir begitu kejam kepadanya?! Jika memang ia tidak diizinkan untuk menyelamatkan Boboiboy... Setidaknya, izinkan dia untuk bisa pergi menyusul pemuda yang sudah mencuri hatinya itu.. Jika tanpa Boboiboy di sisinya, ia bisa apa? Karena sedari dulu harapan dan semangat hidupnya hanya ada di dalam diri Boboiboy. Sekarang Boboiboy telah tiada, berarti harapan dan semangat hidupnya juga telah tiada lagi..
Kalau begitu.. Apa gunanya ia hidup di dunia ini?
~(`.w.`~)
TBC or Discontinued?
Pojokan Author (?)
Era : HUWAAH! AKHIRNYA! Setelah sekian lama! Gara gara Era bingung.. Entah bingung karena apa.. Padahal rencananya selesainya seminggu setelah chapter pertama... Tapi jadinya malah sebulan..
Fang : Che.. Makanya jangan males males.. Fic-nya juga ga jelas.
Boboiboy : Era kejam! Kenapa aku di buat mati?
Era : Tehehe~ maaf Boboiboy~ tapi kalo nggak gitu ceritanya nggak akan jalan~ dan juga~ aku kehabisan inspirasi~
Boboiboy : Ya sudah.. Kumaafkan deh. (Inner : jarang jarang kan bisa liat si Fang begitu. Hehehe)
Era : Yee siapa juga yang males?! Aku barusan sembuh tau! Dan aku tau kok kalo fanfic ini gaje to the max (?)
Fang : Ya ya... Terserah..
Era : *ambil tali* awas kau Fang.. *iket Fang*
Fang : Uwooh! Apa apaan ini, Casstella?!
Era : Bwek! Salah sendiri! *lempar Fang ke gudang*
Boboiboy : Itu beneran lhoo.. Era-chan barusan sembuh.. Padahal beberapa minggu yang lalu sudah sakit.. Nggak sampai satu minggu eehh sakit lagi.
Era : Iya.. Era nggak tau kalo penyakit-nya sayang banget sama Era... Maaf ya semua.. Jadi molor lama banget.. Aku memang benar benar bodoh... Dan lagi, bentar lagi UTS mungkin update fanfic-nya akan lama..*pundung sambil nyabutin rumput yang bergoyang (?)*
Kyon : Ahaha.. Nee-chan.. *sweatdrop* Karena auranya Nee-chan sudah mulai nggak enak, biar aku aja yang nutup oke? *wink* Terima kasih banyak yang sudah mau review~ Maaf update-nya lama~
Boboiboy : Penasaran apa yang Fang akan lakukan selajutnya?
Kyon : Makanya tunggu kelanjutannya!~
Boboiboy & Kyon : Last Word.. Mind to RnR? And... See You Next Time!
