Our Now

Pembalasan

Equilibrium



Mata dibalas mata, telinga dibalas telinga, tangan dibalas tangan.

Barbar.

Tapi itu sistem yang dianut Raito, tak peduli seberapa berpendidikan dan manusiawinya dia.

Marathon catur selama tiga bulan bersama Lawliet, belum bisa diputuskan pemenangnya. Meskipun kemenangan sementara ada di tangan Lawliet. Beda satu skor, 345-346.

Bibir Raito terasa panas, bukan karena sentuhan jari kerontang Lawliet, tapi karena ingin memaki!

Lawliet telah menang dengan cara yang paling licik.

Berhati-hatilah, Lawliet, waktu pembalasan akan tiba.

---HF-Smile---

"Hm," Lawliet bergumam, "belum bisa menerima kekalahanmu, Raito-kun?"

Raito tertawa ringan, menyusun bidak-bidak caturnya, "Ini hanya untuk penyegaran, Lawliet." Berlawanan dengan ucapannya, ia pun menyusun bidak-bidak hitam milik Lawliet, memaksa bermain.

Lawliet mengerti sepenuhnya desakan hati Raito, senyumnya terkulum, "Kalau ini bisa membuatmu senang, Raito-kun."

"Tentu saja," Raito membalas senyuman Lawliet dengan seringai percaya diri, "Kali ini ada aturan tambahan." Lawliet membuka matanya lebar-lebar, memandangi Raito bingung.

"Lawan yang bidaknya termakan, harus melepaskan pakaiannya selembar demi selembar," ucap Raito acuh, seolah persyaratannya seperti hanya pertaruhan enteng. Lawliet bergeming di tempatnya, berpikir. Seringai Raito makin lebar, mengintimidasi, "Terlalu berat?"

Pemuda berambut hitam itu menjawab kemudian dengan tekad bulat, "Ini tantangan yang mempertaruhkan integritas. Saya tidak mungkin menolak."

---HF-Smile---

Kedua raja tergeletak di atas papan catur yang dingin. Yang lainnya bergelimpangan tak tentu.

"Kita tidak menyelesaikan pertandingan, Lawliet?"

"Hmmm, menurutmu?"

"Kita tidak akan melakukan apapun, sebelum aku mengalahkanmu dan mengembalikan skor ke posisi seri."

"…, Baiklah, kau menang."

"Jadi, sampai di mana kita tadi?"

"Kau sebaiknya diam, saya akan mengingatkanmu."

"Ah…,Kau tidak bisa dipercaya…."

Bidak-bidak catur berhujanan ke lantai, teredam bunyinya oleh tumpukan jeans dan kaos, bersembunyi malu di balik lipatan-liukannya. mejanya terlalu penuh untuk medan pergumulan kedua pesaing yang sama-sama tak mau mengalah.

---HF-Smile---

A little footnote: Like I said, no lemon, no lime, just suggestive scene XDDD.