Naughty Teased
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
PAIR: NEJIxHINA(RTN)
WARNING: AU,OOC
JUST ADULT ONLY
.
.
Chapter 2. Wildest
.
.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
Lima hari yang lalu, aku memutuskan menggoda sepupuku hanya untuk melihat sampai dimana batas pengendalian diri lelaki itu.
Maksudku, Neji terlalu…terkendali. Mungkin karena faktor usia atau sudah bawaan sejak lahir, ia selalu tampak tenang dan akan bertindak sesuai apa yang diharapkan orang lain. Ia dewasa, dalam arti membosankan, kaku, mudah ditebak dan monoton. Ia selalu seperti itu. Dan ku pikir akan menyenangkan melihat wajahnya saat ia hilang kendali.
Tapi sekarang, saat itu benar-benar terjadi, Neji yang ku lihat saat ini sangat jauh dari yang kubayangkan.
Sosoknya yang ku kenal selama ini hilang, dan digantikan oleh orang yang benar-benar asing. Ia mungkin masih Neji, tapi tatapan dan senyumannya tak pernah terlihat semenakutkan ini.
Dari tempatku berbaring, lelaki itu tampak besar dan kasar. Jari-jarinya masih mengerjaiku dibawah sana. Cepat. Tak peduli aku mau atau tidak.
Tubuhku melengkung tak berdaya saat gerakan tangannya kian bertambah cepat, napasku berat, dan hanya wajah Neji yang ku lihat saat aku sampai dipuncak.
Ini benar-benar…memalukan.
Aku mungkin bukan lagi gadis polos, tapi menyadari bahwa orang yang memberiku kenikmatan adalah Neji membuat harga diriku berantakan. Dan fakta bahwa aku menyukai semua yang ia lakukan membuat keadaan dua kali lebih buruk.
Di tengah usahaku menenangkan diri setelah klimaks, Neji membungkukan tubuhnya dan melepas ikatan ditanganku. Bibirnya begitu dekat dengan telingaku saat ia berkata, "Jangan pernah menguji kesabaranku lagi."
Tapi aku sudah tidak peduli. Tubuhku lemas, dan yang kuinginkan hanyalah lelaki itu segera pergi.
Dan kemudian napasku kembali tercekat saat merasakan sesuatu yang keras dan hangat menyentuh kewanitaanku, mencoba masuk.
"Ti-tidak…"
Aku berusaha menolak, tapi Neji justru mencengkram pinggangku, menghentikan seluruh usahaku untuk bergerak. Dan dalam satu kali hentakan kasar, kejantanannya melesak masuk memenuhi tubuhku. Membuatku merasa sesak seketika. Pria ini benar-benar besar, dan aku perlu waktu untuk membiasakan diri.
Tapi Neji sama sekali tidak peduli. Pria itu terus bergerak. Merangsang seluruh sel dalam tubuhku. Membangkitkan kembali gairahku dengan cepat.
Jeritanku sama sekali tidak diacuhkan saat ia menggerakan tubuhnya kian cepat. Mendesak dirinya makin dalam.
Otakku tidak sanggup lagi berpikir.
Kulitku basah oleh keringat, napasku tersengal-sengal saat mencapai orgasme-ku yang kedua kalinya pagi ini, dan pria ini masih belum berhenti!
Ia tetap bergerak, menjelajahi seluruh tubuhku. Dan tangannya yang besar itu kembali menyentuh payudaraku, meremasnya kuat. Sedikit terkesiap saat ia mencubit putingku pelan.
Dan aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, menahan lenguhan yang hampir keluar.
Beberapa saat kemudian, saat merasa gerakannya makin tak terkendali, aku tahu ia akan segera mencapai klimaks. Dengan cepat, aku mencengkram bahunya, berusaha mendorongnya menjauh. Tapi sialnya, pria ini benar-benar kuat.
"Ti-tidak, Neji, jangan di dalam," pintaku putus asa, tanganku mencakar bahunya meminta perhatian. Aku memang pernah sex sebelumnya, tapi bukan berarti aku aman. Aku tidak pernah minum pil anti hamil seperti teman-temanku, bahkan sebenarnya aku tidak pernah bisa minum pil apapun. Pacarku tahu itu. Tapi Neji tidak. Aku bahkan tidak yakin dia sempat pakai kondom atau tidak, dan aku tidak mau ambi resiko.
Tapi lagi-lagi Neji memilih waktu yang salah untuk jadi pria brengsek. Ia kembali mengacuhkanku. Tangannya meraih lututku, membukanya selebar mungkin sehingga ia leluasa bergerak. Dan ia memenuhi rahimku dengan benihnya tak lama kemudian. Tidak peduli aku aman atau tidak.
Aku benar-benar membenci pria ini.
Beberapa saat kemudian, ketika denyut nadi melambat dan otot-otot telah setengah responsif lagi, aku mendorong Neji menyingkir dari atas tubuhku. Tapi sekuat apapun aku mendorongnya, pria itu tetap tidak bergeming dan aku mulai kesulitan bernapas.
"Menyingkir dariku." Ucapan itu seharusnya terdengar tegas dan galak, tapi justru terdengar seperti rengekan manja. Dan aku benci terdengar lemah.
Neji yang sepertinya menyadari paru-paruku mulai kekurangan pasokan oksigen memilih waktu yang tepat untuk bergerak. Tangannya menyelinap ke belakang punggungku, memelukku erat, dan membawaku berguling bersamanya sehingga kini posisiku berada diatas.
"Aku membencimu," bisikku penuh dendam. Tubuhku masih terasa lemas, tapi aku tidak mau bersentuhan dengan pria ini lebih lama. Tanganku sedikit kaku saat dipaksakan untuk bergerak, tapi perlahan akhirnya aku bisa duduk diatas tubuh lelaki itu. Saat itulah aku menyadari bahwa tubuh kami masih bersatu.
"Kau terlihat menyukaiku beberapa saat lalu." sahut Neji dengan santai. Tangannya mencengkram pinggangku, membuatku kesulitan untuk bergerak. "Bahkan kelihatannya kau sangat menyukaiku sekarang."
Laki-laki ini gila!
" Aku membencimu dan kau tahu itu."
"Buktikan," kata Neji dengan nada menantang. Ia mengangkat sedikit tubuhku agar bisa beranjak duduk, kemudian menempatkan kedua kakiku melingkari pinggangnya. Tangannya menekan punggungku sehingga tubuh kami kembali saling menempel. Dan tiba-tiba saja aku merasa gugup dengan keintiman kami.
Kengerianku makin menjadi saat merasakan tubuh Neji yang kembali mengeras berdenyut di dalam tubuhku.
"Buktikan kau membenciku." tantang pria itu lagi, wajahnya makin dekat, dan aku merasa panik karena tidak bisa memikirkan apapun. Tangannya di belakang punggungku bergerak turun dan meremas bokongku dengan gemas, tanpa sadar aku kembali mencengkram bahunya untuk menyeimbangkan posisiku agar tidak terjatuh.
Neji kembali mengecup bibirku sekilas. Perlahan, ia mulai memanduku bergerak naik turun diatas tubuhnya, dan aku yang masih lemas tidak melawan sama sekali.
Ia mengecup bibirku lagi, kali ini lebih lama. Dan saat ia kembali memandangku, ada rasa puas yang terlihat dimatanya.
"Apa kau sudah putus dari pacarmu?" tanyanya. Aku menggeleng pelan, tidak yakin dengan suaraku sendiri. Payudaraku menggesek dadanya seiring dengan gerakan tubuhku. Dan itu benar-benar siksaan tersendiri.
"Putuskan dia." perintahnya mutlak. Di hari biasa, aku pasti akan mendebatnya. Neji mungkin orang kepercayaan ayah, tapi dia bukan ayahku. Dia tidak berhak mengatur hidupku. Tapi saat ini, yang kuinginkan hanyalah agar dia bergerak lebih cepat…dan kasar.
"Ne-Neji…"
"Putuskan dia, dan akan kuberikan apapun yang kau mau."
Dan aku tidak menolak tawarannya. Tubuhku bergerak sedikit terlalu antusias, tapi aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah merasakan sepenuhnya kenikmatan yang ia berikan.
Neji menciumku lagi, lidahnya menjilat bibir bawahku sebelum menjelajah masuk.
Dan lidah kami saling bersentuhan, membelit satu dengan yang lain. Napasku kian terengah saat lidah itu digantikan gigi yang menggigit ujung lidahku perlahan. Lidahku dihisap kuat dan aku tak sadar telah mengerang didalam mulut pria itu.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Yang ku tahu, saat Neji membaringkan tubuhku, aku tidak melawan sama sekali.
Mungkin…aku memang tidak membenci pria ini.
.
.
.
Aku terbangun dengan perasaan tak karuan.
Tubuhku lemas, tanganku sakit, dan harga diriku hancur. Seharian ini aku hanya berbaring ditempat tidur memikirkan apa yang terjadi tadi pagi, tentang Neji yang menggedor pintuku sambil marah-marah dan bagaimana ia menyentuhku dibawah sana. Aku mungkin tertidur sebentar saat pelayan membawakan makan siang. Lalu bepikir lagi. dan tertidur lagi. Tak heran kepalaku pusing saat bangun tadi.
Dan sekarang sudah hampir waktunya makan.
Biasanya, sebesar apapun kekacauan yang kubuat, aku tidak pernah takut menunjukan wajahku dimuka umum. Tapi malam ini, rasa dingin merambati punggungku saat membayangkan akan kembali bertatap muka dengan Neji.
Apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya?
Apa yang harus kukatakan saat kami bertemu?
Perasaan gelisah ini baru pertama kali kurasakan. Dan itu membuatku resah.
Ini tidak bagus.
Sangat. Sangat tidak bagus.
Kepalaku masih terasa pusing saat pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok Hanabi yang tanpa sungkan memasuki kamar seakan ini kamarnya sendiri. Kelihatannya ia baru pulang dari pantai, atau kolam renang umum. Rambutnya masih kelihatan basah dan kulit pucatnya sedikit terbakar sinar matahari. Tapi wajahnya yang tampak girang membuatku kembali murung.
Hanabi hanya berlaku ceria jika ada hal menarik yang terjadi. Dan biasanya 'hal' itu bukan sesuatu yang kusukai.
"Katakan," katanya dengan sorot mata tertarik. "Apa yang di katakan para pelayan benar?"
"Apanya?"
Saat ini aku tidak pura-pura bodoh, maksudku, aku memang tidak tahu apa yang dikatakan para pelayan. Mereka bisa bicara apapun tentang apa saja, lagipula aku tidak pernah peduli apa yang dikatakan atau dipikirkan para pegawaiku. Tapi melihat cengiran Hanabi yang makin lebar membuatku was-was. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?
"Mereka bilang kau tidur dengan Neji," katanya dengan penuh kepuasan seakan itu hal yang sudah lama ia duga. Sementara aku tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu shock untuk membantah.
"Yah, bukan hal yang mengagetkan sebenarnya, mengingat Neji tampaknya menaruh minat padamu sejak kita masih kecil." lanjutnya dengan pandangan menerawang. "Aku hanya terkejut ia baru sekarang mengambil tindakan. Lama juga."
Lalu senyuman yang menjengkelkan itu muncul lagi.
"Ayah sepertinya akan tahu, mengingat sepertinya semua penghuni rumah ini sudah tahu dan tidak berhenti membicarakannya."
Tidak.
"Mungkin akan ada pernikahan."
Tidak!
"Ah, dan paman katanya akan datang minggu ini."
Oh, tidak. Ini mengerikan.
Apa yang sudah kulakukan?
Kenapa semua jadi kacau begini?
Aku hanya iseng!
Maksudku, aku memang sengaja merayu Neji, tapi aku sama sekali tidak pernah merencanakan tidur dengannya. Aku bahkan membenci pria itu. Dia merebut semua perhatian ayah yang seharusnya ditujukan padaku. Ia juga yang membuat ruang gerakku terbatas karena ayah lebih mempercayai pendapatnya daripada aku!
Dan sekarang…kami akan menikah?
Hell no!
Neji memang hebat diranjang, tapi menghabiskan sisa hidup bersamanya tidak pernah terbayangkan.
"Hanabi," panggilku dengan putus asa. "Tolong bunuh aku."
.
.
.
The end?
err…mungkin akan ada sekuel, biar gak terlalu ngegantung. tapi gak janji ya ^^
jaa.
