Kaa-san meninggalkanku di rumah.
"Kazunari, Kaa-san pergi dulu ya. Jaga rumah dan nee-chanmu baik-baik!"
"Roger, Kaa-san!"
"TUNGGUUUUUU, JANGAN TINGGALKAN AKU DENGAN SI BELAH TENGAH INIIIIIIII!"
–Malapetaka di pagi hari.
.
.
.
.
Chuunibyou Time! (Extra chapter : Another Chuunibyou Story)
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Note: Biar ga pusing, saya jelaskan dulu. Disini reader-san (atau dianggap OC juga boleh) berperan sebagai 'aku', sang kakak dari Takao. Walaupun dia punya sodara lain, anggap aja kalian hanya dua bersaudara yah. Saa, selamat menikmati~ #wink
.
.
.
.
Rasa-rasanya, badanku bertambah tinggi. Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah barusan, Kaa-san terlebih dahulu menjitakku–dan sepertinya itu menumbuhkan benjolan bertumpuk di kepalaku. Itu karena aku terus-terusan merengek minta ikut. Tentu saja alasannya karena aku tidak ingin ditinggalkan di rumah hanya berdua saja dengan seorang Takao Kazunari–karena aku tahu berada di sampingnya akan membuatku merasa kesal tanpa sebab yang jelas, dan akan berakhir dengan kekacauan yang kami buat.
Dan parahnya, sekarang aku terpaksa duduk berhadapan di meja makan bersama Kazu, sarapan bersama dalam sunyi, memakan kimchi yang Kaa-san siapkan untuk kami sebelum berangkat. Sebenarnya tidak sunyi sih, suara kecapan pelan Kazu sedari tadi menggelitiki telingaku. Kami hanya tidak saling berbicara karena masih menganggap masing-masing sebagai musuh bebuyutan akibat pertarungan kami di toko suvenir. Walaupun sudah lewat seminggu semenjak kejadian itu, jurang permusuhan diantara kami masih juga menganga lebar.
Sekarang sudah beranjak menuju jam 9 pagi, namun belum satupun dari kami yang berniat mandi. Masing-masing pucuk kepala kami masih bertahtakan bed hair. Untungnya hari ini hari libur sehingga aku bisa sedikit bermalas-malasan.
"Haaahh.."
Aku menghela napas berat. Pandanganku terkunci pada sarapanku yang hampir habis. Sumpit pada genggamanku akhirnya kuarahkan pada potongan lobak terakhir pada mangkuk kimchi di meja makan.
TUK
Aku refleks mengalihkan pandanganku pada mangkuk kimchi. Sepasang sumpit lain bertabrakan dengan sumpitku. Dengan gerakan kasar, sumpit itu mendorong sumpitku menjauh lalu cepat-cepat menjepit potongan lobak yang tadi kuincar. Tak kalah gesit, aku pun kembali mendekatkan sumpitku dan menjepit ujung satunya dari lobak itu, menahan pergerakan lebih lanjut sumpit tidak tahu malu itu.
"Hei nee-chan! Aku yang duluan mengambilnya!"
"Tidak! Kau sudah makan banyak, jadi ini milikku!"
Selama beberapa detik, terjadilah saling tarik menarik lobak diantara kami. Ketika aku berhasil menariknya ke arahku, Kazu pun mengganti posisi sumpitnya sedemikian rupa sehingga keadaan seimbang kembali, begitulah jika terjadi sebaliknya. Kami berdua sama-sama sudah mulai kelelahan mengerahkan seluruh kemampuan kami demi sayuran terakhir itu.
"Seharusnya kakak itu mengalah pada adik."
"Seharusnya laki-laki itu mengalah pada perempuan."
Sip, sudah jelas diantara kami tidak ada yang mau mengalah. Tindakan selanjutnya adalah aku dan Kazu saling menjedukkan kening kami tanpa melepaskan lobak di jepitan sumpit sembari menatap tajam satu sama lain, menimbulkan percikan listrik imajiner tanda rivalitas pada jarak mata kami.
"Onee-chaaaaaaaaaan!"
"Kazuuuuuuuuuuu!"
"Hoi kalian sedang apa, nodayo?!"
"Huwaaaaaaaaa!"
Jeritan kolaborasiku dengan Kazu seketika menggema di ruang makan ketika mendengar suara makhluk lain selain kami di rumah ini, apalagi ia menggotong sebuah death scythe yang menjulang tinggi di punggungnya. Entah kenapa dengan kompaknya kami melesatkan lobak yang masih kami perebutkan ini ke arah sumber suara dan..
PLEK!
Lobak itu mendarat dengan indahnya di kacamata makhluk tersebut. Kuah yang menempel pada lobak itu bercipratan membasahi lensa serta framenya dan beberapa bagian wajah yang lain, kemudian tergelincir ke bawah meninggalkan jejak kuah di hidung makhluk yang sedang sial itu sebelum berakhir jatuh di depan kakinya.
"Midorima/Shin-chan! Kenapa kau disini?! Kenapa kau bisa masuk?! Kenapa kau bawa death scythe?! Kau ingin membunuh kami?!"
Lagi-lagi aku dan Kazu kompak berteriak, kali ini menghujani Midorima–si makhluk sial tersebut–dengan beribu pertanyaan yang entah kenapa bisa berurut dengan tepat. Midorima tampak berdecak kesal. Tanpa izin dari kami, ia berjalan ke meja makan dan mencomot beberapa tisu yang tersedia disitu. Sembari mengelap kacamata dan membersihkan cipratan kuah pada wajahnya, ia menoleh ke Kazu.
"Janji belajar bersama denganku hari ini di rumahmu, jangan lupakan itu, nanodayo. Aku masuk saja daripada terus-terusan tidak dibukakan pintu setelah mengetuk lama. Dan ini lucky itemku hari ini, nanodayo.
Mana ada lucky item semacam itu! Batinku dan Kazu di dalam hati.
Setelah mendapat penjelasan Midorima, akhirnya Kazu manggut-manggut.
"Ah, sou ka, aku hampir lupa. Te-hee~"
Dengan tampang tidak berdosa, Kazu memiringkan kepalanya dan menjitak kepalanya sendiri, sebelah matanya tampak berkedip. Ingin muntah, itulah yang pertama terlintas di kepalaku ketika Kazu melakukannya.
"Please, Kazu, itu–"
"Saa, ayo kita belajar, Shin-chan!"
JLEB!
Tanganku tiba-tiba bergerak sendiri, melempar salah satu sumpit bekas makanku ke arah Kazu sehingga sukses bertengger pada salah satu lubang hidungnya. Kazu dan Midorima sama-sama shock dengan apa yang barusan terjadi. Kazu pun cepat-cepat melepaskan sumpit itu dari hidungnya.
"Puah! Apa yang kau lakukan sih?!"
"–jangan abaikan aku, belah tengah. Dengan poni norak dan gaya sok imut begitu, kau sangat menjijikan. Aku yakin, teman lumutanmu pun berpikiran sama denganku. Benar, Midorima?"
Senyuman licikku terarah pada Midorima. Kouhaiku itu–sambil berusaha menutupi kekagetannya–kemudian menjawabku santai.
"Aku tidak menyukaimu, tapi untuk kali ini aku setuju padamu, nanodayo."
SRET!
Dua batang sumpit masing-masing meluncur di sebelah wajahku dan Midorima. Kekuatan mata rajawali Kazu kini bangkit. Dia mungkin terprovokasi. Terbukti ketika selesai melempariku sumpit, ia mulai berjalan gontai menuju lemari makan, menelisik setiap benda yang ada disitu. Aku pun mengambil sumpit yang tadi kulemparkan dan juga sumpit yang dilempar Kazu, kemudian memasang kuda-kuda di kakiku. Untuk ahli jarak jauh sepertiku, senjata dengan tipe dilemparlah yang paling cocok.
Setiap detik Kazu mengacak-acak isi lemari, jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Suasana mulai menegang. Selama itu pula, aku semakin mengeratkan peganganku pada keempat batang sumpit di tanganku. Kali ini, senjata apa lagi yang akan melawanku?
Hei, sepertinya aku melupakan sesuatu. Bagaimana nasib Midorima sekarang? Ketika aku meliriknya, ternyata ia masih berdiri mematung. Ah, bodohkah dia? Apa dia tidak bisa membaca situasi?
"Hei, Midorima, siapkan death scythemu. Sebentar lagi perang akan dimulai."
"Hah, perang apa, nodayo?! Aku kesini bukan untuk–"
JLEB!
"–berperang."
Percaya atau tidak, baru saja sedetik yang lalu, sebuah pisau asli meluncur tepat diantara aku dan Midorima. Serangan dadakan itu seakan menyetrum seluruh tubuhku untuk segera menggulingkan meja makan–tidak peduli dengan piring-piring di atasnya yang seketika pecah menghantam lantai. Tak lupa kutarik paksa Midorima untuk berlindung di balik meja. Uh, apa yang harus kulakukan sekarang?! Kazu kali ini–
JLEB JLEB JLEB!
Hei, jangan menyerang dulu, aku belum selesai berpikir!
"Nee-chan, menyerahlah! Sebagus apapun senjatamu, kau tidak akan bisa mengalahkan senjataku! Hahahahaha!"
Dari balik meja, aku bisa mendengar Kazu tertawa sinis. Otak, tolong abaikan tawa itu dan fokus berpikir!
"..Senpai. Apa kalian memang selalu seperti ini jika di rumah, nodayo?"
Di sebelahku, Midorima bertanya tanpa menoleh padaku. Ia memandang lekat-lekat death scythe yang sudah berpindah ke genggaman tangannya.
"Kadang-kadang. Sekarang bantu aku memikirkan taktik mengalahkan Kazu sebelum dia kembali waras!"
Setelah mengatakan itu, aku kembali berpikir keras. Meskipun aku meminta si mata empat ini membantu, aku yakin dia hanya akan merepotkanku nanti. Namun aku punya alasan masuk akal untuk tetap mempertahankannya di pihakku. Death scythe miliknya.
Sebenarnya aku bisa saja menggunakan replika senjata khas grim reaper itu dengan mengkombinasikannya dengan berbagai skill andalanku, tapi jika dilihat dari sifatnya yang cinta mati dengan yang namanya lucky item, tentu saja memintanya menyerahkan death scythe itu bukanlah ide bagus. Satu-satunya cara adalah membuatnya terpancing untuk memakai senjatanya sendiri dan bertarung untukku.
Di saat aku masih tenggelam memikirkan taktik, Midorima tiba-tiba keluar dari persembunyian sambil membawa senjatanya, meninggalkanku yang terpaku melihat tindakan bodohnya itu.
"Baka! Kau mau mati?!"
Tanpa menggubrisku, ia kemudian berdiri menghadap Kazu. Pinggulnya sedikit direndahkan dan jari-jari kakinya tampak mencengkram erat lantai. Di kubu lain, Kazu pun menyiapkan tiga buah pisau–kali ini pisau plastik yang tidak terlalu tajam–pada kedua belah tangannya dan tanpa ragu mengacungkannya pada Midorima, membuatnya seperti bersenjatakan knuckle.
Detik selanjutnya, Midorima sudah berada di udara dengan death scythe melintang di depan tubuhnya. Ujung runcingnya mengarah pada Kazu. Ia sudah persis grim reaper yang turun dari langit dan hendak mencabut nyawa Kazu.
Kazu pun tidak tinggal diam, dengan hentakan terlatih, pisau-pisau itu melesat cepat bak kawanan torpedo, siap merajam tubuh sang malaikat maut tanpa pertahanan itu.
Hah! Aku tidak boleh membiarkan pisau-pisau itu menyentuh Midorima!
Dengan skill menembak jituku, kukerahkan keempat sumpit milikku untuk melindunginya.
TRAK TRAK TRAK TRAK!
Empat pisau tumbang, tersisa dua lagi. Kedua kakiku otomatis bergerak cepat menyusul lompatan Midorima. Sebelum kedua pisau itu berhasil menjilat kulit mulus Midorima, jari manis dan tengah masing-masing tanganku menjepitnya kuat, lalu secepat kilat membalikkan arahnya untuk dilemparkan kembali pada Kazu.
"Ikeeeeeee, kouhaaaaaii!"
"Heeaaaaaaaaahh!"
Serangan kombinasi antara pisau plastik dan replika death scythe siap mencabik tubuh Kazu.
Namun tampaknya kekuatan mata rajawali memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kazu langsung bisa mempelajari situasi dengan cepat. Ia tahu-tahu sudah menggenggam tutup panci lalu dengan mudahnya menangkis pisau dariku. Tidak, terlalu cepat untuk merasa kecewa. Midorima belum melepaskan serangannya.
BUM!
Bumi seakan bergetar ketika Midorima menapak lantai–ujung runcing death scythenya telah menancap dalam di ubin rumah, menimbulkan hiasan retak disitu. Tunggu, kenapa menancap di ubin? Dimana Kazu?
"My, my.. Pada akhirnya Shin-chan memilih berpihak pada nee-chan dibandingkan denganku ya?"
Aku dan Midorima serentak menoleh pada Kazu yang entah sejak kapan sudah berada di atas meja tempat kami bersembunyi tadi. Usut punya usut, ternyata sebelum serangan Midorima mengenainya, ia melakukan back flip sebanyak dua kali hingga berakhir di atas meja.
Midorima berdecak pelan. Ia memutar death scythenya sembari membetulkan posisi kacamatanya. Niatnya mungkin sok keren, tapi di mataku fail to the max.
"Aku hanya ingin balas dendam atas kejadian minggu lalu. Dan kau, Senpai, cepatlah cari senjata, nanodayo."
Ah benar juga, aku hampir lupa bahwa sedari tadi aku bertarung hanya dengan senjata seadanya. Tapi dimana aku bisa menemukan senjata permanen? Ruangan ini penuh dengan barang pecah belah, baik yang masih utuh maupun yang sudah hancur. Hanya bicara sih memang mudah, Midorima.
Sedangkan Kazu sudah menemukan senjata baru, sebuah kabel bekas sepanjang kurang lebih dua meter. Ia tampak terus-terusan mengayunkan kabel tersebut, membuatnya terlihat seperti gypsy pengguna senjata bertipe whip.
"Dua penembak jitu berkoalisi demi mengalahkan kekuatan mataku. Menarik."
GRASP!
Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba saja kabel itu melilitkan diri pada pegangan death scythe Midorima. Kazu kemudian mengerahkan segenap kekuatannya untuk menarik death scythe itu. Midorima tampak terkejut. Ia sepertinya belum siap menerima tarikan mendadakdari Kazu. Tubuhnya terlihat refleks condong ke depan, berusaha mempertahankan senjatanya.
Melihat partnerku kesulitan, aku pun bergegas berlari menuju Kazu, tidak peduli jika aku belum mengantongi secuilpun senjata. Berbekal nyali, aku nekat menendang kuat-kuat meja tempat Kazu berpijak sehingga membuat meja itu meluncur bebas dan berakhir menabrak dinding terdekat. Akibatnya, keseimbangan Kazu pun goyah, namun ia masih bisa mengakalinya dengan lompatan kecil meskipun tidak sempurna.
Menyadari keberadaanku di dekatnya, Kazu pun menarik kembali kabelnya dan beralih melilitkannya pada tangan kananku, membuatku tidak bisa bergerak bebas. Alih-alih terdesak, aku malah tersenyum puas. Pasalnya, ada satu hal yang tidak Kazu sadari. Dia salah perhitungan. Aku memang penembak jitu yang membutuhkan tangan untuk mengeluarkan skill itu, tapi aku juga punya kaki super bertenaga kuda. Dengan tangan kosong tak bersenjata pun, aku masih bisa bertarung mengandalkan kakiku.
Dengan segenap kekuatanku yang tersisa, aku melompat agak jauh ke belakang sehingga membuat kabel yang melilit tanganku menegang. Kazu pun semakin masuk dalam perangkapku ketika ia malah ikut menarik kabelnya semakin menegang. Kuhela napasku perlahan sembari melompat-lompat kecil untuk mengumpulkan sedikit tenaga. Sejurus kemudian, aku pun melakukan back flip seperti halnya Kazu tadi, lalu mendarat telak pada tengah-tengah tali yang menegang. Seketika saja, kabel itu putus karena tidak kuasa menahan beban berat badanku. Berhasil!
"Naniiiiii?!"
Kazu berseru panik melihat senjatanya dirusak. Dia lengah.
Ada celah untuk menyerang!
"Midorima! Cepat serang Kazu!"
Sang three point shooter SMA Shuutoku yang hari ini mendadak jadi tangan kananku bergerak cepat menuruti perintahku. Dari balik kacamatanya, tampak kedua manik emeraldnya yang berkilat-kilat seolah haus akan darah. Dengan death scythe di tangannya, dia benar-benar jelmaan malaikat pencabut nyawa yang sesungguhnya.
Gerakan elegan mengiringi setiap langkah Midorima menuju Kazu. Melihat tanda-tanda Kazu akan melakukan back flip lagi, aku pun dengan cepat mengunci pergerakannya dengan menangkap tangannya yang menjulur ke arahku.
"Nee-chan temeeeee!"
Seringaian iblis Midorima pun semakin jelas terlihat di kala ia telah berada tepat di depan Kazu. Aku tertawa puas melihat nyawa Kazu sudah di ujung tanduk, membuatnya mendelik padaku.
Ayunan death scythe kini siap merenggut nyawa sang rajawali.
"Sayounara, Kazu.."
BUAGH!
Dunia mendadak mati lampu dalam pandangan Kazu.
.
.
.
.
Owari
.
.
.
.
Omake~~
"Nee-chan to Shin-chan hidoi! Bagaimana jika aku mati betulan?! Kalian mau tanggungjawab?!"
Setelah sadar dari pingsannya, Kazu langsung menyerocos padaku dan Midorima. Aku sendiri tidak menggubris ocehannya yang seperti anak kecil itu, begitupun Midorima yang tampak sibuk mengusap-usap death scythe yang telah 'ternodai oleh darah Kazu' itu.
"Maa, jadi sekarang kau dan Midorima impas. Nee, Midorima?"
"Bukan berarti impas, nanodayo. Aku masih belum puas mencabik-cabiknya. Lagipula kau juga ikut andil ketika Takao menusukku, nanodayo."
Ck, tsundere bertransformasi menjadi yandere. Tapi aku bisa repot juga ya, jika Midorima bermaksud balas dendam padaku juga.
"Soal itu aku minta maaf deh.. Maafkan aku, nee?"
Aku pun mengeluarkan jurus puppy eyesku pada Midorima, lengkap dengan kedua tangan terkatup di depan dada. Wajah manusia berlumut itu seketika memerah, bibirnya tiba-tiba bergetar. Yes, sepertinya aku berhasil!
Namun tiba-tiba Kazu menyelaku.
"Nee-chan, hati-hatilah pada Shin-chan. Dia itu penyuka gadis yang lebih tua."
"Naniiiiiii?!"
Kompak teriakanku dengan Midorima.
.
.
.
Holaa~~
Entah kenapa saya kepikiran bikin lanjutan fic ini. Chapter ini jadi semacam sequel buat chapter sebelumnya.
Semoga memuaskan ya :3
Akhir kata, mohon kritik dan sarannya! Dan terimakasih udah mampir di fic ini ;)
