Senja di Ujung Ilalang

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Shion x Akasuna Sasori

.

Warning : Typo, OOC, Gaje, bahasa abal dll.

.

.

Sebuah ikatan yang sempat terputus kini hampir terjalin kembali.

Apa menurutmu hidup ini adalah permaian takdir, atau hidup ini adalah kebetulan yang menyeramkan ?

Lewati semua harimu agar kau menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang terlontar di masa lalu, yang masih kau simpan rapi hingga sekarang.

.

.

Musim gugur ke-sekian yang di lewatinya. Aroma daun kering samar-samar menusuk hidung. Suhu udara mulai turun beberapa derajad, membuat kulit merasakan sensasi dingin lebih dari biasanya. Ranting-ranting pohon juga mulai menampakkan kerapuhanya. Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh sama sekali untuk pemuda bersurai merah satu ini, Akasuna Sasori. Dia tetap menjalani harinya seperti biasa, bangun pagi lalu bersiap-siap pergi bekerja. Ya, meski sebenarnya dia masihlah seorang mahasiswa semester 5. Ia memutuskan membuka sebuah kedai kopi satu tahun yang lalu sebagai kesibukan sampingan.

.

.

Hari ini Sasori memutuskan untuk tidak berangkat kuliah. Pagi-pagi setelah bangun ia langsung menelpon sahabat pirangnya, Deidara. Meminta tolong atau lebih tepat disebut memberi perintah agar Deidara mau mengisi absen kehadirannya pada beberapa mata kuliah hari ini. Deidara harus menahan urat kesabarannya atas perintah sewenang-wenang Sasori. Sebenarnya dia sudah bosan melakukan hal itu, bukan hanya sekali dua kali Sasori memintanya melakukan hal yang sama. Dan lagi-lagi dia mengiyakan permintaan sahabat merahnya itu. Entah kenapa Deidara tak bisa menolaknya walau hanya sekali.

Setelah memastikan rumahnya terkunci, Sasori bergegas menaiki mobilnya yang terparkir rapi di halaman, menuju kedai kopinya. Sebenarnya dia tidak harus mengurus kedai itu setiap hari karena ia punya beberapa pekerja yang bisa dipercaya di sana. Hanya saja akhir-akhir ini dia lebih suka menghabiskan waktunya di kedai, melayani pelanggan dan membuat sendiri kopi untuk mereka.

Bukan tanpa alasan dia melakukan semua itu. Sasori hanya tak ingin terus menerus terlarut dalam nostalgi yang membuat dadanya sesak. Dia ingin melupakannya barang sejenak. Tapi bayangan si gadis pirang beberapa tahun lalu masih tercetak jelas di benaknya. Rasanya sudah begitu lama mereka tak saling menatap, tapi manic lavender pucat itu seolah tetap memandangnya lekat, seperti baru kemarin saja.

.

Mobil merah itu berhenti pelan di area parker Akasuna Coffe. Setelah yakin bahwa mobilnya terparkir dengan benar sang pemuda Akasuna lantas turun dari mobil, membuka pintu kedai pelan, "ting" terus menuju conter menemui pegawainya.

"Aku akan menjadi barista hari ini, kalian yang melayani pelanggan dan mencatat pesanan, sisanya biar aku yang urus!", tanpa repot-repot menyapa, Sasori langsung memberikan instruksi penuh kepada para pegawainya.

"Haiik !"Ucap mereka serempak tanda mengerti. Lagi pula para pegawainya sudah hafal dengan sifatnya itu. Mereka sudah bekerja bersama selama satu tahun penuh bukan.

Setelah selesai dengan instruksinya Sasori beranjak ke belakang menuju ruang ganti yang sama dengan ruang yang digunakan para pegawainya. Ia mengganti bajunya dengan seragam barista khas kedai kopi miliknya itu. Melihat pantulan dirinya sekilas di depan cermin lantas tersenyum simpul, puas dengan penampilannya. Ia siap menghadapi para pelanggannya hari ini..

.

.

"Satu cangkir espresso untuk meja nomor 12" ucap Sasori sembari meletakkan cangkir berisi cairan hitam pekat itu pada nampan yang dibawa pegawainya. Sedangkan yang diajak bicara hanya mengangguk, memastikan pesanannya sudah benar.

Sasori menyeka keringat yang menetes di pelipisnya dengan ujung tangan, pelan. Ia tampak kuyu, meskipun hal itu tak sedikit pun mengurangi ketampanan pemuda berwajah baby face tersebut. Mendudukkan dirinya di kursi belakang conter, si pemuda berusaha mengembalikan tenaganya yang hampir habis terkuras. Bagaimana tidak, lonceng yang terpasang di pintu itu terus-menerus berdenting menjelang waktu makan siang tiba. Pelanggan yang datang kali ini lebih banyak dari yang dia kira.

"Apa orang-orang sedang ingin menghabiskan waktunya sambil minum kopi hari ini ?" pikiran absurd terlintas dibenaknya saat matanya intens memandang ke seluruh ruangan di kedai kopi dengan meja dan kursi yang hampir terisi penuh. Tepat saat pintu kedainya di buka pelan dan lonceng itu kembali berdenting, Akasuna Sasori reflek mengarahkan pandangannya. Manic hazelnya menangkap afeksi seorang gadis berambut violet yang digerai lurus tengah berjalan anggun memasuki kedainya. Dan didetik berikutnya, saat jam di dinding menunjukkan pukul 12 tepat sehingga bandulnya berdentang 7 kali, dua pasang mata berbeda warna itu saling bertatapan. Hazel bertemu amethyst. Sejenak Sasori membeku ditempat, seolah tersihir oleh keindahan mata bulan itu. Mata yang hampir serupa dengan iris lavender pucat milik gadis pirang di masa lalunya.

.

.

.

Pukul 12.00, pesawat dari jalur penerbangan internasional mendarat dengan selamat di bandara terbesar yang terletak di kota Tokyo. Seorang gadis bersurai pirang dengan gaya rambut sedikit ikal menarik kopernya pelan menuju area penyambutan penumpang. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang mampu dijangkau matanya. Mencari-cari kepala jabrik dengan warna mencolok milik pemuda yang kemarin malam berjanji akan menjemputnya lewat obrolan telephon. Lima menit berlalu, tapi orang yang berjanji padannya tak kunjung ketemu juga. Lelah berdiri, gadis itu lantas berjalan lagi mencari tempat duduk. Setelah ketemu, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi dan melepaskan pegangannya dari koper berat itu. Menghembuskan napasnya lelah, ia mengacak-acak isi tas selempangnya mencari benda berbentuk persegi panjang dengan motif bunga lavender sebagai hiasannya.

Tak butuh waktu lama, dia langsung menekan tombol speed deal yang tertera pada benda tersebut. Sepertinya dia mencoba menghubungi seseorang. Nada tunggu terdengar jelas di telinganya, selang beberapa detik nada sapaan terdengar dari seberang, tanda sang pemilik handphone menjawab panggilannya.

"Moshi-mo-"

"Kau dimana Baka !?Aku sudah sampai beberapa menit yang lalu. Apa kau lupa, hah ?" gadis tadi menyela sapaan pemuda di seberang telfon dengan nada kesal, sepertinya kesabarannya sudah mencapai batas.

"Go-Gomen, aku terjebak macet. Sebentar lagi aku sampai, hehe" Pemuda di seberang telfon tertwa pelan tanpa nada bersalah.

"Cepatlah Baka! Aku lelah harus menyeret koper berat ini sendiri"

"Haik, haik nona, aku akan segera sampai. Jaa!"

Si pemuda memutuskan sambungan telephonnya sepihak, tanpa tahu bahwa gadis yang menghubunginya tadi tengah menahan diri untuk tidak mengumpat keras melampiaskan kekesalannya.

.

.

Naruto Uzumaki bergegas menuju tempat kedatangan penumpang setelah memarkirkan mobilnya asal di halaman depan bandara. Blue saffirnya terus mencari siluet gadis bersurai pirang yang tadi menelphonnya. Setelah sepersekian detik matanya terpancang pada seorang gadis yang tengah terduduk lesu dengan koper besar di sampingnya. Naruto tersenyum lembut menghampri gadis itu. Ia mengulurrkan tangannya, mengacak lembut surai pirang milik si gadis agar menyadari kehadirannya. Shion, nama gadis pirang itu mendongakan kepalanya setelah ia merasakan sentuhan pelan pada rambutnya. Menatap sang pelaku dengan wajah masam setengah merajuk.

"Kau lama Baka! Aku hampir saja menuju loket dan membeli tiket tujuan Rusia sekali lagi.."

"Haha, jangan berlebihan Nona. Maafkan aku karena telat menjemputmu"

Pandangan Naruto melembut menatap wajah gadisnya. Tangan sebelah kanannya terulur menarik koper milik Shion, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jemari Shion. Menariknya berdiri agar melengkah mensejajarinya.

"Ayo pulang! kau pasti lelah. Lanjutkan kekesalanmu setelah kita sampai di rumah. Masih ada banyak waktu untuk itu" sekali lagi, Naruto menampakkan senyuman lembutnya. Membuat Shion mau tak mau harus menuruti kata-kata pemuda bersurai pirang cerah itu. Mereka berjalan beriringan dengan tangan saling bertautan menuju mobil yang terparkir di depan bandara.

"Setelah beberapa tahun aku kembali lagi ke kota ini. Apakah semua masih tampak sama seperti dulu ? Apa dia masih mengingatku ?Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi Sasori." Diperjalanan menuju rumah, Shion mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. Naruto melirik sekilas gadis yang sedang melamun tersebut dari ekor matanya, tak perlu menerka-nerka dia tahu betul isi kepala gadis itu saat ini. Dan untuk kesekian kalinya Naruto memasang topeng ceria miliknya seolah tak tahu apa-apa.

_To be continue_

.

.

.

.

huh, akhirnya setelah cukup lama berpikir author bisa up chap ke-dua fic ini. Arigatou buat yang udah review sekaligus nungguin updaten fic ini.

Ini adalah fic yang minim dialog dan pov dari chap pertama. Jujur author ga pinter bikin dialog xD, sorry jg kalau penggambaran suasananya kurang kerasa hhe. Maklum masih author baru.

Satu lagi, thanks buat Shionna Akasuna senpai yg udah review kemarin

"aku emang suka pair yg gak canon, semacam kekurangan pair yg gak biasa, gajelas bgt "

Sekali lagi jangan lupa RnR ya !