Author Note: Yay! Update~ Thank for visiting~

One Part of Kingdom Heart

Chapter 2 : Choosing

Mendengar perkataan Sora, membuatku sedih sekali. "Apakah kau memutuskan untuk menjadi penjaga antara cahaya dan kegelapan Sora?" tanyaku dengan sedih.

"Sebenarnya Riku, aku tidak ingin menjadi penjaga antara cahaya dan kegelapan. Tetapi, aku juga ingin seluruh dunia aman tampa adanya heartless lagi…" kata Sora sambil menatap ke bawah.

"…" akupun terdiam sejenak karena tidak dapat mengatakan apa-apa.

"Tapi, dalam lubuk hatiku aku ingin tetap disini Riku, selalu bersamamu melewati hari-hari dengan kehidupan normal, dimana kita selalu tertawa, bersama, dan berbagi cinta. Tidak ada yang namanya kekerasan, tidak ada yang namanya darah, dan tidak ada yang namanya kekhawatiran akan hari esok." Katanya dengan sedih. "Apakah aku salah jika ingin kehidupan yang normal Riku?" tanyanya sambil menatapku.

"…" aku kembali terdiam sejenak untuk mencari jawaban yang tepat. "Mungkin, kau memanglah salah Sora…" kataku padanya dan dia langsung terlihat sedih. "… karena kau tidak mengikuti kata hatimu…" kataku dengan tersenyum dan wajahnya Sora terlihat terkejut. "…Apa artinya jika kebahagiaanmu kau buang hanya untuk kebahagiaan orang lain? Itu sangatlah salah. Jika kau bahagia dan orang lain juga bahagia, itu barulah benar." Kataku tersenyum.

"Riku…" Sora menatapku dengan terus-menerus.

"Ikutilah apa yang hatimu katakan Sora, bukankah kau yang bilang bahwa kita harus mengikuti kata hati kita?" tanyaku padanya sambil mengingatkannya.

"…" Sora terdiam sejenak dan menutup matanya sambil menyentuh hatinya. Lalu dia membuka matanya dan tersenyum. "Hatiku mengatakan bahwa aku ingin berada disini, bersamamu Riku!"

Akupun tersenyum begitu mendengarnya. "Kalau begitu, katakanlah pada saudara kembarmu bahwa kau ingin tinggal disini dan tidak ingin menjadi penjaga antara cahaya dan kegelapan." Kataku.

"Hum!" katanya dengan senyum.

Lalu aku mendekatinya dan memeluknya secara mendadak. Aku memeluknya dengan erat sekali dan memegangi kepalanya. Sora memegang punggungku dan juga memelukku. Aku merasa sangat senang dan lega mendengar jawabannya. Kecemasanku dan kekhawatiranku menghilang seketika setelah aku memeluknya dengan erat…

"Kurasa, aku sudah sangat membuatmu cemas Riku, maafkan aku ya…" kata Sora sambil memelukku dengan erat.

"Kau tau, aku sangat dan sangat mencemaskanmu sampai-sampai aku bolos sekolah…" kataku memberitaukannya.

"Heh, tapi yang bolos bukan kamu saja, tapi aku juga…" katanya sedikit tertawa. "Um, Riku, bisakah aku melepaskan pelukanmu? Aku sedikit merasa sesak…" katanya memberitaukanku.

"…" aku terus mendiamkannya sambil memeluknya dengan erat.

"Hey…" katanya berusaha menatapku dalam pelukanku yang erat. "…Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku sudah memutuskan untuk tetap tinggal disini Riku. Maka itu, janganlah khawatir ya?" tanyanya.

"Aku bukannya mengkhawatirkan itu…" kataku sambil melepaskannya. "… yang aku khawatirkan adalah saudara kembarmu, Ventus. Apa yang dia hendak lakukan setelah mendengarkan keputusanmu, itu yang kukhawatirkan…"

"…" wajah Sora menjadi cemas mendengar kata-kataku. "Aku juga tidak tau apa yang akan terjadi…" katanya sambil menghela napas. "…tetapi aku tau, semua pasti akan berjalan dengan baik selama kita berpikir optimis!" katanya dengan yakin.

"kau selalu optimis Sora…"kataku dengan tersenyum. "…Aku jadi sedikit iri padamu yang selalu optimis terhadap segala hal, karena aku sendiri jarang sekali merasa optimis." Kataku memberitaukannya.

"hehehe…" katanya tersenyum senyum mendengar kata-kataku. "Jika kita tidak bersikap optimis, nanti kita tidak akan berhasil! Makanya harus bersikap optimis agar berhasil!" katanya masih sambil tersenyum. Lalu dia menatap kearah jendela. "Kurasa… dia akan datang sebentar lagi…" katanya menghela napas sambil menatap kearah jendela. "…Hey Riku…" Sora lalu menatapku. "…maukah kau menemaniku menemui Ven untuk memberitaukan keputusanku?"

"Tentu…" kataku sambil mengangguk.

Maka kami berdua memutuskan untuk keluar dan menunggu Ventus diluar rumah. Baru beberapa menit kami berdua keluar, Ventus datang dan menatap kami berdua…

"Tidak kusangka kau berubah pikiran Sora…" kata Ventus sambil berjalan mendekati kami.

"Ba… bagaimana kau bisa tau Ven?" Tanya Sora dengan terkejut mendengar perkataan Ventus.

"Dari sorot matamu, yang tadinya merasa ragu-ragu sekarang terlihat yakin…" kata Ventus berhenti beberapa langkah dari kami. "…sepertinya akan menjadi sulit jika aku ingin membawamu pergi jika kau sudah menentukan pilihanmu. Tadinya aku ingin segera membawamu pergi dalam kebimbanganmu, tetapi sepertinya aku terlambat…"

Sora lalu menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya lagi dan menatap Ventus. "Maafkan aku Ven, tetapi aku sudah menentukan pilihanku, yaitu tetap tinggal disini. Kau boleh bilang bahwa aku ini egois karena lebih mementingkan diriku sendiri, meski begitu, aku ingin mengikuti kata hatiku. Bagiku, Riku adalah orang terpenting dalam hidupku dan hidupku ini terasa kosong tampanya! Maka dari itu Ven, kumohon biarkan aku tetap tinggal disini bersama Riku!" Kata Sora memohon padanya.

Ventus terdiam sejenak mendengar kata-katanya. Dari raut wajahnya, dia terlihat sedih mendengar perkataan Sora…

"Aku sungguh tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini setelah sekian lama berlalu…" kata Ventus sambil menatap Sora. "…setelah sekian lama aku membimbingmu dan juga Nobodymu, Roxas untuk menjadi seorang keyblade master."

"…" Mulut Sora terbuka, tetapi dia tidak mengeluarkan satu katapun dari mulutnya. Dia menatap Ventus dengan wajah sedih. "Ternyata…" katanya mengatakan sesuatu setelah terdiam sejenak. "…Kaulah suara mistery itu yang selama ini membimbingku dan juga Roxas…"

"Sora, kumohon ikutlah denganku, saudara kembarmu…" kata Ventus sambil menjulurkan tangannya kearah Sora. "…ikutlah bersamaku. Aku selalu menunggu hari ini tiba, dimana kita akan selalu bersama sebagai saudara kandung. Selalu melakukan apapun bersama, selalu tinggal bersama, selalu bercerita satu sama lain, dan juga selalu ada untuk satu sama lain…" katanya memohon.

"Aku…" Sora mengenggam tanganku dengan erat sambil menunduk. "…Tidak bisa Ven." Katanya masih sambil menunduk. Lalu dia memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya dan menatap Ventus. "Hatiku sudah berkata bahwa aku ingin disini dan aku tidak ingin melawan kata hatiku. Dihatiku hanya ada Riku dan aku juga ingin selalu disisinya dan selalu bersamanya!"

Wajah Ventus terlihat semakin sedih mendengarnya. "Mungkin, seharusnya dulu aku tidak membimbingmu…" katanya dengan wajah menyesal. "…Dan jika itu kulakukan dulu, mungkin kau akan selalu menetap di kegelapan…" Katanya sambil menatapku. "…Dan Sora akan bersamaku saat ini…" katanya penuh dengan amarah.

"Ven…" Sora menjadi cemas mendengar kata-katanya Ventus.

"Mari kita buat perjanjian…" kata Ventus sambil menatap kami berdua. "…Aku ingin kalian berdua bertarung denganku, bersama-sama. Jika aku menang, maka Sora harus ikut denganku dan aku ingin kau tidak mencoba mencari kami dan membiarkanku hidup tenang dengan Sora…" katanya sambil menatapku dengan amarah. "… tetapi jika kalian menang, aku berjanji akan membiarkan Sora tetap tinggal disini dan aku tidak akan pernah datang menemuinya lagi…" katanya dan Sora terlihat sedih saat dia mengatakannya. "… tetapi aku ingin kalian berdua menyerahkan keyblade kalian padaku. Keyblade adalah kunci menuju Kingdom Heart dan karena itu, keyblade kalian merupakan salah satu kunci untuk menuju Kingdom Heart." Katanya menjelaskan.

"Kau… yakin dapat melawan kami berdua Ven?" Tanya Sora dengan khawatir.

"Aku tidaklah selemah yang kau kira Sora, aku sanggup melawan kalian berdua sendirian karena…" tiba-tiba dia berhenti berbicara dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Maka aku dan Sora hanya bisa menatap Ventus dengan bingung tampa berakata apa-apa…

"Kita akan bertarung ditepi pantai, aku beri kalian waktu untuk bersiap-siap. Aku mempunyai urusan sebentar dan penting, sehingga aku tidak dapat bertarung sekarang…" kata Ventus menghela napas. Lalu dia berjalan pergi. "Kutunggu kalian berdua nanti sore di tepi pantai…" katanya sebelum dia menghilang…

Sora terus-menerus menatapi kepergian Ventus dengan wajah sedih dan cemas sambil menggenggam tanganku dengan erat. "…" mulutnya terbuka, tetapi tidak ada satu katapun yang keluar. Dia lalu menatapku…

Akupun hanya bisa menghela napas tampa dapat berkata apapun. Lalu aku mengajaknya untuk kembali kekamarnya dan dia hanya mengangguk. Kami berdua berjalan masuk dan langsung menuju kamar Sora. Kami berdua langsung duduk dikasurnya Sora dan kami berdua membisu selama bermenit-menit…

"Hah…" kata Sora tiba-tiba menghela napas. Lalu dia membaringkan tubuhnya dikasurnya dan menutup matanya sejenak. Matanya terbuka dengan perlahan dan lalu pandangannya tertuju padaku. "Tidak kusangka Ven akan menantang kita berdua bertarung, padahal dia tau bahwa kau dan aku ini tidak bisa diremehkan. Tetapi mengapa dia tetap menantang kita berdua bertarung bersama-sama melawannya?" tanyanya dengan heran.

"Kurasa karena dia memang lebih kuat dari kita berdua. Jika tidak, tidak mungkin dia akan menantang kita berdua bertarung melawannya…" kataku menjelaskan. "…dia tidak mungkin bertindak gegabah seperti itu jika memang dia tidak dapat menang dari kita berdua." Kataku menjelaskan.

"Aku tau, tetapi aku yakin kita pasti menang!" katanya dengan senyum. "Kau harus berpikir optimis bahwa kita akan menang Riku! Karena jika kau berpikir demikian, pasti kita akan menang!" katanya mengyakinkanku

"Ya…" kataku dengan senyum.

Maka kami berdua membicarakan strategi untuk melawan Ventus karena kami belum mengetahui kemampuannya bertarung. Aku merasa sangat optimis akan menang karena Sora terlihat sangat optimis akan kemenangan kami. Kami terus membicarakan strategi kami hingga berjam-jam dan tampa terasa hari sudah sore dan Ventus pasti sudah menunggu kami di tepi pantai…

Kami berdua segera menuju kearah tepi pantai begitu menyadari hari sudah sore. Ditepi pantai, terlihat seseorang berambut blond berdiri ditepi pantai dan dia sedang menatap kearah laut.

Aku dan Sora mendekati orang itu dan orang itu masih menghadap kearah laut meski dia menyadari kehadiran kita. Setelah beberapa menit berlalu, dia lalu menoleh kearah kami dan membalikkan badannya.

"Aku sudah menunggu kalian…" katanya dengan senyum sinis.

To Be Continued…

Author Note: Okay, the next chapy was the last chapy! Please review guys and thank a lot for visiting this story~