Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Humor, Parody, Drama.

Pairing : SasuNaru

Warning : mengandung unsur shounen ai, kadar ke-gajean yang tinggi desertai ketidaknyambungan, OOC parah.


"Bundo."

Sang Pangeran memandang Ratu dengan tatapan memohon, sedangkan yang ditatap menggubrisnya. Pangeran berambut pirang berantakan karena tidak pernah pernah disisir itu menggembungkan pipinya, berpura-pura merajuk. Namun, sepertinya hati Ratu sama sekali tik tergerak melihat anak semata wayangnya sedang pundung sambil menggaruk lantai di bawahnya dengan jari telunjuk. Pangeran dengan nama lengkap Namikaze Naruto kini tengah memohon sesuatu pada ibunya. Namun karena ibunya tidak menuruti, jadilah dirinya seperti sekarang ini.

"Bundo, ayolah. Biarkan aku…." Ujar sang pangeran, ia menarik-narik lengan baju kebangsaan ibunya.

Sang ibu menghela napas," jangan merayuku, sekeras apapun usahamu takkan pernah kukabulkan!" Sang Ratu kini tengah mencoba menyingkirkan tangan berwarna tan yang mencolek-colek lengannya.

"Bundo, kumohon, aku ini sudah cukup umur." Naruto mengguncang pelan lengan ibunya.

Sedangkan Sang Ratu tetap bergeming. Kebiasaan merengek putranya tak kunjung hilang juga. Dari dulu sampai sekarang, kalau keinginannya tidak dipenuhi Naruto selalu merajuk. Bahkan pernah sampai guling-guling di lantai. Namun, karena Naruto adalah anak yang anti kuman cinta akan kebersihan. Pastinya sebelum guling-guling, Ia menyapu dan mengepel lantai sampai bersih, tidak lupa memakai sabun pel wangi jeruk kesukaannya. Setelah dipastikan bersih dengan pendeteksi kuman, barulah Naruto melaksanakan acara guling-gulingnya.

"Belum, belum pangeran. Umur belasan tahun masih belum matang untuk itu!" Tegas Sang Ratu. Ia menyibakkan rambut merah panjangnya, kegerahan karena putra tersayangnya masih saja menggelayut di lengannya.

"Ayolah Bundo, aku ingin sekali meminangnya. Bundo tidak pernah baca cerita fiksi, ya? Contohnya saja pangeran di cerita Putri Salju, atau di cerita Beauty and The Beast, kalau tidak di cerita Cinderella. Semua pangeran disana menikah di usia yang relatif muda, Bundo! Ayolah Bundo, umurku sudah 17 tahun, dan kurasa aku sudah cukup dewasa." Naruto terus saja merengek sambil menggembungkan pipinya.

"Ah jangan ngarang! Tahu dari mana kamu, kalau umur pangeran-pangeran di dalam cerita fiksi umurnya masih muda? " Ratu tetap saja tidak mengindahkan rengekan anaknya.

"Mereka belum keriput, kayak Bundo!" Jawab Naruto innocent dan tanpa dosa.

Sang Ratu melongo, kemudian dahinya langsung berkedut. "Kurang ajar! Dasar anak durhaka! Kukutuk engkau jadi batu!" Ratu berambut merah itu marah besar, ia meneriakkan sebuah kutukan kepada pangeran hanya karena dikatai keriput. "Anaknya siapa Ente? beraninya ngatain ane keriput!" Ratu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Naruto.

"Aa-ano Bundo... daku 'kan anak Bundo?" Jawab Naruto setengah gugup, ia mundur ke belakang berusaha kabur dari cengkraman ibunya.

"GYAAAH! WEAPOON !" Secara tiba-tiba muncul bara api mengelilingi ratu, bara api itu kemudian berputar dan menuju satu titik, tempat dimana Naruto berdiri. Gawat Bundo yang satu ini, bisa-bisanya menyerang anak sendiri.

"Ampun Bundo!" Naruto meringkuk dipojokan dengan mengangkat kedua tangannya.

"FIRE!" Api dengan cepat melesat kearah Naruto, sedangkan Naruto yang ia lakukan hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menyesal, mengapa sebelum menyindir bundonya keriput, ia tidak menikmati satu atau dua mangkuk ramen dengan segelas orange juice terlebih dahulu? Ia berjanji pada diri sendiri akan banyak-banyak bersedekah pada fakir miskin dan ta'mir masjid kalau masih diberi kesempatan hidup dengan wajah ganteng seperti sedia kala. Tidak, Naruto tidak boleh mati sekarang, fiksi ini belum selesai, dan kalau Naruto mati sekarang, readers pasti akan kecewa dan marah-marah pada penulis.

"Calm down , Kushina!" Seseorang berteriak kencang sambil menyiram api disekitar Ratu Kushina dengan satu ember air yang diambil dari empang sebelah kastil. "Jangan bertindak di luar skrip, Honey. Kalau kau benar-benar mengutuk anakmu jadi batu, cerita ini akan berubah judul jadi Narukundang, dong?" Seseorang itu kemudian menepuk pelan pundak Kushina. Seseorang itu adalah seorang pria berambut pirang agak sedikit panjang dari Naruto, warna mata biru, postur badan tegap nan mempesona.

"Minato, aku…aku…." Kata Kushina setengah tergagap, kemudian ia memandangi kedua tangannya yang tadi hampir saja melukai anak semata wayang (golek) mereka. Kushina menyesal.

"Eling, Kushina… Eling…." Minato geleng-geleng kepala, Naruto manggut-manggut mengiyakan, dan Kushina gemetaran. Kushina langsung berlari ke arah mushola yang ada di dalam kastil, setelah ini ia akan sholat taubat dan menangis meminta ampun kepada Tuhan.

Menyisakan Minato dan Naruto, berdua saja.

"Jadi?" Kata Minato mengawali obrolan. "Ada apa, Naruto?"

"Be-begini, Pakndo," Naruto memainkan jari telunjuknya. "Hamba ingin meminang seseorang, Pakndo." Naruto berkata sepelan mungkin, masih trauma dengan penyerangan yang dilakukan ibunya. Ia takut mungkin saja kali ini sang ayah akan berubah menjadi mode gundam dan menyerangnya dengan tembakan beam.

Minato terdiam.

Rasa takut di dalam diri Naruto semakin menjadi-jadi. Kini, dalam bayangannya, molekul tubuh ayahnya sudah mulai bermutasi dan pada akhirnya sang ayah berubah menjadi makhluk hijau besar alias Hulk yang sudah siap mematahkan tulang-tulangnya.

"Pakndo? Ada yang salah?" ujar Naruto takut-takut, ia memandangi sang bapak yang sekarang wajahnya sudah memerah, giginya gemretak, hidungnya kembang kempis, tangannya terkepal, alisnya naik satu, ah eksperesi wajah yang aneh.

"Oh," respon sang bapak. "Boleh kok, yasudah, kapan nikahnya?"

Naruto langsung bersorak kegirangan mendengar jawaban sang bapak, ia berlari-lari memutari pilar disudut ruangan sambil menyanyikan lagu ' We Are The Champions, my pet'.

Kushina yang baru saja datang dari kamarnya untuk mengambil mukena dan sajadah melongo, begitu mudahnya anaknya ini mendapat restu dari dari sang bapak. Kushina hendak menyampailkan keberatan, namun nampaknya keputusan Minato sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Minato sepertinya juga senang dengan keputusan yang ia buat sendiri, buktinya sekarang ia tertawa bahagia melihat tingkah laku anaknya.

"Jadi, siapa calonnya?" Tanya Minato, Naruto kemudian berhenti sejenak lalu menggaruk belakang kepalanya.

Naruto sendiri tidak tahu asal usul gadis 'itu', dia belum sempat menyebutkan namanya. Yang Naruto ketahui hanya rambut biru tua sepinggang, mata hitam kelam, kulit pucat, dan Sandal Swallow . Ah, ya! Mungkin dengan petunjuk Sandal Swallow itu dapat mencari jejak sang pujaan hati. Tapi Naruto jadi sedikit pesimis, pasalnya Sandal Swallow adalah sandal sejuta rakyat Konoha, akan sulit menemukan gadisnya jika hanya berpacu pada sandal ini. "Entahlah, Pakndo. Hamba sendiri juga sedikit bingung, jejak yang dia tinggalkan hanyalah dua pasang Sandal Swallow ini." Naruto berbicara dengan nada kecewa, ia menundukkan kepalanya.

Minato nampak berpikir, tak lama kemudian, muncul cahaya redup dari lampu hemat enerji di atas kepala Minato. "Kita pasang pamflet saja, Pangeran?" Minato nyengir.

Sang Pangeran mengangguk antusias, lalu berlari kedalam dekapan bapaknya. "Hamba senang sekali, Pakndo Minato adalah satu-satunya orang tua yang mengertiku!" Kalimat Naruto secara tidak langsung menyindir Kushina yang kini dahinya kembali berkedut.


.


Di tengah hutan, seorang pemuda berkulit pucat sedang berjalan sambil menghentakkan kakinya, sepertinya ia sedang menahan marah. Ia memakai kaus putih compang-camping yang sudah bernoda, namun baju itu mempunyai wangi seperti karbol yang biasa dipakai untuk mengepel. Ia memakai boxer hitam gambar love love berwarna merah jambu. Siapa gerangan pemuda itu? Ya, pemuda itu adalah Uchiha Sasuke. Sasuke baru saja menghadiri Pesta Kedewasaan Pangeran atas paksaan peri magang Sakura Haruno. Peri fujoshi itu seenak dahi menyuruh Sasuke memikat hati pangeran, oh ayolah, sampai saat ini Uchiha Sasuke masih berstatus lelaki normal. Sakura juga mengancam akan memutilasinya bila menolak untuk datang. Dan sekarang, setelah semua keinginannya dipenuhi, Sasuke ditelantarkan begitu saja. Dasar peri sialan, tunggu pembalasan dendamku!

Sasuke berjalan maju terus, tanpa menghiraukan telapak kakinya berdenyut karena menginjak kerikil, wajar saja karena sekarang ia berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Sandal swallow semata wayangnya tertinggal ditangga istana (dan yang satu lagi si lempar). Bagaimana nanti jika Fugaku menanyai kemana hilangnya sandal itu? Harus menjelaskan dengan kalimat apa nanti? Ah, Sasuke jadi pusing sendiri.

Fugaku ya… sudah lama rasanya Sasuke tidak bertemu ayah aslinya. Beliau terlalu cinta dan sibuk dengan pekerjaan berdagangnya hingga membiarkan anaknya tinggal di gubuk derita bersama papa uke tiri dan kedua saudara tirinya. Fugaku terlalu gila kerja (gila duit) hingga tak sadar, kelakuannya menimbulkan kesengsaraan bagi Sasuke. Apa, jangan-jangan Fugaku sudah lupa pada Sasuke? Apa Fugaku tidak tahu anaknya kini sedang hidup terlunta-lunta yang kesehariannya hanya makan nasi karak?

Fugaku sedang apa ya, sekarang?

Ah, mengapa Sasuke jadi melankolis seperti ini? sama sekali tidak Uchihayis.

"Guk…guk…." Sesuatu yang kecil mendekati Uchiha.

Guk? Sasuke merasa familiar dengan suara seperti itu. Ah, itu mungkin ular, dan bunyi 'guk' adalah desisan ular. Eh… Bukan, tapi itu burung. Ya, itu adalah suara cicitan burung. Sudahlah, jangan bercanda lagi, suara 'guk' itu pasti suara semut.

Sasuke menunduk dan menemukan makhluk berkaki empat dengan mata sayu, telinga turun, lidahnya terjulur. Oh Kami! Mengapa Sasuke bisa lupa, suara 'guk' itu pasti hanya binatang bernama kambing yang mempunyainya.

Sasuke kemudian jongkok tepat di depan makhluk apalah itu, ia mengelus kepalanya. "Apa?" Tanya Sasuke pada makhluk itu.

"Guk, guk, guk, guk," makhluk itu menggonggong seolah berkata sesuatu pada Sasuke.

Sasuke manggut-manggut, "Kau lapar? Aku juga juga, tadi belum sempet ngambil makanan."

"Guk, Guk! Guk!"

"Ah, jangan ikut! Kau tau, makananku sehari-hari cuma nasi karak sama terasi udang, emang kambing seperti kau doyan terasi?"

"Guuuk~," makhluk yang disebut 'kambing' oleh Sasuke nampak merajuk, kedua telinganya makin turun, tanda kecewa berat.

"Udah sana, pergi! Aku mau pulang." Sasuke mencoba mengusir makhluk di depannya, namun makhluk itu bergeming. Ketika Sasuke beranjak dari jongkoknya, makhluk itu malah mengikuti Sasuke dengan tampang memelas.

Malam makin dingin, sinar bulan juga makin terang, Sasuke mempercepat langkahnya ia harus sampai di gubuk derita atau harus rela terserang demam. Makhluk kecil itu terus saja mengikuti Sasuke, seolah pemuda pucat itu adalah induknya.

"Hoi, Kambing buduk. Pergi sana! Jangan ikut, ntar Kau disiksa sama Si Gigi Hiu kalo ikut!" Sasuke mencoba mengusir, namun sepertinya usahanya sia-sia. Karena makhluk itu sekarang berputar di kaki Sasuke. Sasuke menghela napas, kemudian mengangkat makhluk itu.

"Oke, Kau ikut aku pulang? Puas?" Ajaibnya, si 'Kambing' langsung mengangguk antusias sambil menjulurkan lidah. "Oke, 'Mbing, mulai sekarang kau jadi peliharaanku." Sasuke mengangkat 'kambing' barunya keatas, seperti menggoda anak bayi.

"Mbing?"

"Guk?"

"Ah, rasanya aneh kalo manggil pake nama gitu. Enaknya kamu kunamai apa, ya?"

"Guk,guk,guk!"

"…"

"Kaing!"

"Mulai sekarang namamu 'Kucing', nggak buruk kan?"

"Guk!"

Well, mulai detik ini, disaksikan oleh rembulan dan hembusan angin. Sasuke mempunyai kambing bernama kucing yang berbunyi 'guk'.


Cinderella

By

Pearl Jeevas

Hope you like it!


"Jadi ini yang namanya percetakan ya, Yang Mulia?" Naruto berdecak kagum pada bangunan didepannya. Seumur hidup ia belum pernah ke tempat dengan peralatan elektronik. Maklum, kesehariannya ia selalu mendekam di istana untuk belajar kenegaraan dan berlatih pedang, pastilah tak sempat pergi ke tempat-tempat umum seperti sekarang.

"Di sini kita akan membuat pamflet pengumuman pencarian calon istrimu, Pangeran." Ujar sang raja bijak, mereka baru saja turun dari kereta kuda. Minato meraih pundak anaknya, menuntunnya memasuki percetakan. Sedangkan Naruto masih mangap terkagum-kagum. Pasangan ayah-anak memasuki kawasan percetakan, Naruto makin terkagum, sedangkan Minato cengar-cengir.

"Permisi Tuan, aku hendak memesan beberapa lembar pamflet." Ujar Minato pada seseorang yang sedang duduk membelakangi mereka, Minato mengira dia adalah shop keeper.

"Hn." Si shop keeper menjawab singkat.

"Bisa kutahu berapa harga untuk satu lembarnya?"

"Hn."

"Err, aku tak mengerti apa arti kata 'hn'mu itu, Tuan?" Minato mulai geram pada shop keeper di depan mereka, dari tadi hanya menjawab 'hn' saja tanpa melakukan gerakan yang berarti. Si membalik badannya, dan menemukan dua orang dengan wajah mirip sedang berdiri menatapnya dengan mata besar sebelah. shop keeper Shop keeper memandangnya tajam, sukses membuat pasangan bapak-anak merinding. Kemudian ia mengeluarkan sebuah buku setebal kamus kedokteran, dan melemparkannya ke atas meja tepat di depan kedua tamu blondenya. "Selamat datang di percetakan kami, saya Fugaku akan memandu dan menjawab semua pertanyaan anda. Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat karena pagi ini cuaca cerah. Kedua, apa yang anda butuhkan? Ah... Dari wajah Anda, sepertinya Anda sedang mencari pamflet. Silahkan anda pilih desain pamflet seperti apa yang nantinya akan anda pesan, semua desain ada dalam buku itu. Mulai dari gambar binatang yang lucu dan imut-imut, gambar gadis-gadis seksi bermain voli pantai, bahkan ada pula desain sederhana bergambar pegunungan yang menyejukkan hati serta pikiran. Saya juga akan memberikan diskon 1% untuk setiap pembelian seratus lembar, berlaku kelipatan." Si shop keeper berbicara layaknya salesman yang mengejar pelanggan. Hey, bukankah dia memang salesman?

Minato mengerutkan dahinya, "ah, kukira kau orangnya pendiam." Kemudian ia membuka buku tebal di depannya.

"Sebenarnya iya, tapi tidak kalau urusan bisnis." Mata si shop keeper yang tadinya berwarna hitam onyx berubah menjadi kehijauan, seringaian seram muncul dari sudut bibirnya.

Setelah lama membuka halaman-halaman buku desain, mata Minato terhenti pada salah satu gambar yang baginya menarik. "Ah, bagaimana kalau ini saja, pangeran?" Tanya sang raja pada putranya, mencoba memberi kesempatan berdialog setelah lumanyan lama terlupakan.

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menjawab,"desain apa ini, Pakndo? Hamba belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya." Sang pangeran rupanya kagum pada desain yang baru saja ditunjuk oleh bapaknya.

Minato menopang dagunya dengan tangan kanannya, "entahlah, pengeran. Aku sendiri juga tidak tahu." Sang raja kemudian menatap si shop keeper yang bernama Fugaku, meminta penjelasan.

Fugaku tersenyum, benaknya bersorak kini saatnya aku menampilkan kehebatan. "Ehem, jadi begini. Desain dinamakan batik, desain asli dari salah satu Negara di Asia Tenggara. Harganya cukup terjangkau, hanya 1000¥ perlembarnya, dan saya akan memberi diskon 1% jika tuan-tuan memesan seratus lembar." Lagi-lagi seringaian seram muncul, membuat pasangan bapak-anak yang melihatnya bergidik.

"Desainnya unik, Pakndo. Kita ambil yang ini saja." Mata Naruto blink-blink melihatnya, tangannya terus ia kepalkan, alisnya naik turun, tanda tak sabar pamphlet itu akan segera jadi dan dirinya bisa menemukan sang pujaan hati.

Minato terkekeh, "yasudah, ambil yang ini saja. Aku pesan seratus lembar."

Fugaku matanya langsung berubah hitam-hijau-hitam-hijau, tidak sabar berapa besar keuntungan yang akan diperolehnya setelah ini. "pilihan tepat! Karena setiap seartus lembar untuk desain ini, anda berhak mendapatkan foto-foto Karena Kapoor, Kajol, dan Ranee, bagaimana?"

Mata Naruto makin blink-blink mendengarnya, hidungnya sudah kembang kempis sampai berbuah (?). sudah desainnya bagus, diberi diskon 1%, dapet foto-foto pemain film india wanita cantik lagi. Betapa beruntungnya pangeran kita yang satu ini.

"Jadi, total keseluruhan biaya." Kata Fugaku sambil menghitung sesuatu di kalkulator mini bermotif bunga-bunga dan lope miliknya. "Biaya pamphlet seratus lembar adalah 100.000, biaya tanya 2.000, biaya melihat desain 3.500, biaya memegang pintu 1000, mendorong pintu 15.000, duduk di sofa 1.250, bersandar 550, biaya masuk took 12.900, biaya senyumanku ini yang paling mahal 1.500.000. Jadi totalnya 5 juta yen, sudah termasuk PPN, aksesoris dan batrai dijual terpisah." Fugaku mengakhiri kalimatnya.

Minato dan Naruto melongo, lebar sekali. Saking lebarnya mungkin bola basket bisa masuk dengan mudahnya. Minato kemudian mengalihkan pandangannya kepada anaknya,"pangeran, nggak jadi nikah nggak papa,ya? Kalau ngeluarin duit segitu banyaknya, bisa-bisa pakndo harus jual sawah dulu."

"Emang Pakndo punya sawah?" tanya Naruto innocent.

"Enggak sih, maksud pakndo jual sawahnya orang." Minato nyengir. "Ano, nggak bisa biayanya diturunin sedikit? Aku 'kan raja, jadi ya…" Minato mencoba menawar.

Tapi dengan cepat Fugaku menggeleng,"tidak bisa!"

"Ayolah."

"Tidak, oke, tambah 500.000 sebagai biaya menggeleng."

Dasar penjaga toko sableng! Dasar matrialistis, sialan, orang penuh perhitungan. Semoga Kami-sama mengampuni semua dosamu!

"Kalau tidak mau, yasudah keluar saja…." Ujar Fugaku sinis.

Kalau saja Minato bukan raja, pasti sekarang bogem mentah sudah melayang di pipi si shop keeper.

"YA! Aku pergi, dan aku berharap tidak akan bertemu dengan orang matre sepertimu!" Bentak Minato keras, sampai-sampai pita suaranya hampir sobek. Minato langsung menyeret putranya yang meringkuk lemas, gagal kawin, gue gagal kawin. Begitulah kurang kebih isi hati sang pangeran.

"Biaya marah-marah 10.000."

"GAH!"


.


Naruto putus asa, dirinya terancam gagal kawin karena musim kemarau (?). Akhirnya, demi menyejukkan hati yang sedih, ia memutuskan untuk berjalan-jalan santai di pinggir sungai yang tidak jauh dari kastil. Kalau saja tadi Pakndonya mau merogoh kocek lebih dalam, atau mau menjual sawah milik tetangga, pasti dirinya kini bisa menemukan jejak sang pujaan hati.

"Tuhan."

Naruto mengadahkan tangannya ke langit, ia berdoa dengan seluruh ketulusan hatinya. Ia mencoba memasrahkan semuanya kepada Yang Di Atas.

"Jika dia memang jodohku, dekatkanlah."

Naruto tidak mau dengan yang lain, yang ia suka hanya sang pemilik Sandal Swallow biru itu. Ia tidak mau harus bersanding dengan gadis yang bukan dirinya. Walau baru pertama kali bertemu, sebagian hati Naruto sudah berhasil diikat dan dibawa olehnya

"Jika dia bukan jodohku, jodohkanlah."

Naruto tidak mau mati perjaka.

"Jika memang dia benar-benar bukan jodohku, jangan jodohkan dia dengan yang lain."

Oke, kali ini doanya sudah mulai melunjak.

"Guk!"

Naruto bergidik, "oh, Tuhan, mengapa kau balas doaku dengan gonggongan?"

Entah pikiran Naruto kalut, atau memang dirinya asli orang bodoh. Bisa-bisanya ia bicara seperti itu.

Seekor 'kambing' berlari mendekati Naruto yang sedang dalam posisi berdoa tadi (ia bersimpuh, tangannya mengadah keatas, wajahnya memelas). Kemudian ia menoleh dan mendapati makhluk kecil itu sedang menjilat lututnya.

"Syukurlah kau tidak membalas doaku dengan gonggongan." Naruto menghela napas.

Kemudian ia mengelus pelan kepala makhuk berliur itu. Lalu dengan segenap kekuatan, Naruto mengangkatnya. "Siapa namamu, Anjing Kecil?"tanya Naruto pada makhluk itu, yang ternyata adalah anjing.

"Guk!"

"Aaaw, siapa pemilikmu? Mengapa kau berjalan sendiri?"

"Guk, kaing, kaing."

Naruto tersenyum, kemudian ia mendekap anak anjing itu.

Sreek

Suara daun kering terinjak, spontan Naruto langsung menoleh ke arah sumbernya. Ia mendapati seseorang, berparas tampan, berambut biru tua, mata hitam kelam, kulit pucat.

Si pemilik sandal swallow! Tapi kok, Cowok?

What the?


To Be Continued


AN: maaf! Beribu maaf saya ucapkan. Padahal ini fict SN, mengapa readers mengira ini NS ya? Apa karena naru yang jadi pangeran? Yasudah, untuk berjaga-jaga saya ubah deh pairnya! Oya, kayaknya ini nggak bisa jadi twoshot deh, tapi tenang aja chapternya nggak banyak-banyak kok! Paling banter ya 5.

Kayaknya saya kehilangan sense of romance deh, akibatnya MCAM nggak bisa di update duluu~ *plak. TOLONG! Temukan sense of romance sayaa.

Oke, segitu dulu curhatnya, bagaimana chapter kali ini? Garing? Basah? Nyemek?

Tuangkan perasaan kalian dalam sepiring review.

Terimakasih suda mau baca~

Special thanks to:

Chary Ai TemeDobe, luciellucifer, Namikaze Sakura, Meiko Namikaze, Rhie chan Aoi sora, Kuro no Shiroi, Namikaze Hanaan, Eleannore Lloyd, Akira Fujikaze, Ada aja, Keiko no Midori, Namikaze Shiruna Kuruta, Ri-EroFujo, little' Hikari Namikaze, NowaHiro KamiSama.

Maaf belum bisa membalas repiu kalian! Saya janji jika ada waktu pasti dibalas kok! xD