Gloomiest Day

_Chapter 2_

The cast are member and ex-member of EXO:

· Park Chanyeol

· Byun Baekhyun

· Oh Sehun

· Kim Junmyun

· Lu Han

Caution:

· GS Fanfiction

· Teen

· Little fantasy

· Typo

Disclaimer:

Member EXO dan seluruh karakter disini hanya milik Tuhan yang dititipkan pada orang tuanya. Saya selaku author hanya meminjam namanya (atau sosoknya) untuk melengkapi cerita fiksi buatan saya ini. Meskipun begitu, cerita ini tetap buatan saya dan murni hasil otak saya. So, don't copy my story! (kecuali izin terlebih dulu)


"Kesini sekarang juga, Suho!" ucap Luhan frustasi dengan ponsel yang menempel ditelinganya. "…" "Baekhyun tidak ada, dan seluruh barang-barangnya yang dibawa ke hotel sudah lenyap. Tolong kesini, Suho! Aku sudah hampir mati menghadapi gadis itu." Ucap Luhan dalam sekali tarikan nafas. "…" "Masa bodo dengan berkas-berkasmu itu, yang penting cepat kesini!" biip. Luhan membanting dirinya dikasur hotel dan terduduk disana dengan kepala menunduk.

Ia melirik kesuatu arah, disana terdapat kertas kuning kecil yang sedikit terlihat karena terselip dibawah bantal. Ia meraih kertas itu dan rupanya sebuah tulisan dipoles dikertas itu. Luhan membacanya dan matanya terbelalak, dengan segera ia kembali menelfon Suho.

Maaf selama ini merepotkan kalian, aku pergi dulu dan kalian jangan mencariku. Aku hanya ingin sendiri, mungkin ini hanya sebentar. Jadi, tenanglah! Aku tidak kemana-mana. –Byun Baekhyun-


Seorang pemuda berhenti didepan sebuah pintu untuk mengetikan beberapa digit angka-angka digagang pintu apartement miliknya, setelah melakukan itu ia masuk kedalam apartement tersebut. "Feliie! Aku pulang" ucap pemuda itu sambil menutup pintu apartementnya. "Ah kau sudah pulang, Chanyeol?" ucap gadis berperawakan tinggi itu dengan senyumannya yang mengembang dan tangan kanannya yang masih memegang spatula untuk memasak.

"Seperti yang kau lihat. Apa kau sedang memasak?" Tanya Chanyeol sambil mengecup pipi gadis itu secepat kilat. Gadis dengan nama panggilan Feliie mengangguk dengan semangat. "Oh ya? Kebetulan sekali aku sedang lapar." Ucap Chanyeol dengan wajah berbinar.

"Sebaiknya kau duduk saja disana! Tunggu aku menyelesaikan tugasku." Ucap gadis bernama asli Felicia Jung dengan wajah cerianya. "Baiklah" jawab Chanyeol pada akhirnya dan berjalan menuju meja makan dan bosan. Karena bosan menunggu Felicia ia memutuskan untuk pergi menuju dapur dan memperhatikan Felicia yang sedang memasak, dengan lihainya menuangkan masakan osengnya kedalam dua piring putih yang berada diatas meja bar didapur itu.

Felicia menaruh penggorengan ditangannya keatas kompor yang telah melenyapkan apinya dan mengangkat dua piring dikedua tangannya. Ketika ia berbalik, begitu kagetnya ia karena melihat seseorang berdiri dihadapannya. "Chanyeol! Kau mengagetkanku saja!" ucap Felicia yang mengerucutkan bibirnya.

Felicia berjalan mendahului Chanyeol menuju meja makan dan menaruh dua piring tadi diatas meja makan. Ketika membalikan tubuhnya lagi, ia kembali dikagetkan dengan kemunculan Chanyeol dihadapannya.

"Aku sungguh menginginkanmu untuk menjadi milikku sekarang, Feliie!" ucap Chanyeol berusaha menetralkan detak jantungnya. Felicia menautkan kedua alisnya heran dengan kata-kata Chanyeol sekaligus dengan cara berbicara Chanyeol yang Nampak aneh. "Apa maksud-" belum selesai Felicia berbicara, Chanyeol sudah menutup bibir gadis itu dengan telapak tangannya hingga Felicia kehabisan nafas.

Dengan susah payah Felicia mendorong Chanyeol agar menjauh darinya. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Felicia berusaha untuk berbicara. "Apa maksudmu, Chanyeol?" Tanya Felicia sambil menetralkan detak jantungnya. "Lain kali jangan memainkanku, Felicia Jung!" ucap Chanyeol dengan nada bicara yang aneh.

"Maksudmu 'memainkan' apa?" Tanya Felicia mencoba menahan tawa atas pengakuan Chanyeol. "Kau, kenapa kau mengenakan baju kekurangan bahan seperti itu, hah?" Tanya Chanyeol geram. "Memangnya kenapa? Aku tidak pantas mengenakan baju seperti ini?" mendengar nada Felicia yang polos membuat Chanyeol memejamkan matanya kesal. "Ya ampun, aku lupa mematikan kran" ucap Felicia panik.

Chanyeol melepas jaketnya yang sedari tadi ia pakai hingga kini ia hanya mengenakan kaus hitam dan celana jeansnya. Felicia kembali, celemeknya sudah ia lepas dan kini terlihat baju Felicia yang berlengan panjang namun perutnya terekspos sedikit. Oh yeah, tidak lupa celana Felicia yang kelewat pendek itu.

Melihat itu, Chanyeol meneguk salivanya. Ia terduduk dan menundukan kepalanya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal, rasa ini sungguh menyakitinya. Dengan kasar ia berdiri dari tempatnya duduk hingga membuat kursi bergeser dan menimbulkan deritan yang keras dan mengagetkan, seperti Felicia yang saat ini begitu kaget melihat tingkah aneh Chanyeol.

Felicia hanya terdiam mematung ditempatnya hingga tubuh Chanyeol mendekat dan mengangkat tubuh ramping Felicia dibahu kokoh milik Chanyeol. "Chan?" panggil Felicia heran. Pemuda itu menurunkan gadis berambut coklat ini di sofa miliknya. Chanyeol menahan kedua pergelangan tangan Felicia dikedua sisi kepala gadis itu.

Felicia hanya dapat tercengang atas kejadian yang begitu cepat barusan. "Jangan memakai pakaian seperti ini lagi, ok?" Tanya Chanyeol memastikan, Felicia hanya dapat mengangguk menurut meskipun dirinya benar-benar heran mengapa mengenakan baju seperti ini begitu salah dimata Chanyeol.

Pemuda itu mengelus rambut Felicia sambil tersenyum aneh, lama kelamaan elusan yang lembut itu berubah menjadi kasar. Chanyeol semakin lama malah mengacak-acak tatanan rambut Felicia yang rapih. "Chan-sudahlah! Berhenti!" perintah Felicia kesal. Chanyeol menatap Felicia dengan cengirannya. Felicia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Kau tidak boleh melakukan ini!" perintah gadis bermata biru terang itu dengan memelas.

"Seperti belum pernah berantakan saja! Itu kan sudah biasa." Ucap Chanyeol tenang, ia memainkan rambut coklat Felicia yang panjang. "Aku hanya takut terjadi sesuatu pada rambutku." Chanyeol sadar apa yang ditakuti Felicia, 'ia pasti takut rambutnya kusut' itu pemikiran Chanyeol. Tidak, ada ketakutan lain yang tersirat dimata gadis itu yang tidak disadari Chanyeol.


Pagi yang dingin, di negeri Paman Sam ini, musim dingin masih berlangsung. Gadis dengan rambut hitam yang dikuncir kuda berjalan meniti trotoar yang ia tapaki, berjalan dengan santai dan tenang namun ia tetap berhati-berhati dengan jalanan licin ini, apalagi ia menarik koper besar ditangan kanannya.

Sebuah taxi berwarna kuning ia hentikan, dan ia segera naik kesana. "St. Rose" ucap Si Gadis kepada Si Supir taxi, lalu supir taxi itu mengangguk. Jaket tebal yang ia pakai tetap tidak berguna baginya karena disini sangat dingin untuknya, dan satu lagi, ia lupa membawa syal dan ia berniat untuk pergi ke toko pakaian musim dingin untuk membeli benda itu.

Taxi mengurangi kecepatannya dan berakhir dengan terdiam disana. Gadis itu memberi beberapa lembar uang kepada Si Supir dan mengucapkan terimakasih. Ia keluar dari taxi tersebut lalu terdiam ditempat sambil menatap hotel dihadapannya. Hotel yang terletak di St. Rose. Hotel sederhana namun terlihat nyaman dan hangat. Gadis itu tetap dengan tatapan datar dan dinginnya seperti biasa, ia mulai menarik koper merahnya untuk masuk ke hotel itu.

Poni didahinya sesekali tersapu angin hingga dahi putihnya terlihat. Sesekali ia juga meringis menahan hawa dingin disekitarnya. Jaket tebal berwarna hitamnya hanya memberi sedikit kehangatan, apalagi hoodienya yang tidak bisa dipakai karena selalu diterbangi angin. Ia membuka buku catatan kecilnya bagitu sudah sampai dikamar hotel yang sudah ia sewa. Ia mencentang satu kalimat yang paling atas disana. Setelah menutup buku itu kembali, ia beranjak menuju kamar mandi.

Rose Hotel in St. Rose

Carnation Funeral in St. Carnation

Mother Place in St. Carnation

Dream


"Oh ya ampun! Sejak kemarin Baekhyun tidak ada, Suho! Kau tidak bisa santai begini! Benar apa kataku dulu, belikan Baekhyun ponsel!" omel wanita berambut krem sambil berjalan kesana-kemari. Lelaki diatas sofa hanya terduduk dan menatap lemah kearah lantai. "Bagaimana jika terjadi yang tidak-tidak dengan anak itu?! Oh ya ampun…" ucap wanita itu sambil menggigiti ujung jari telunjuknya.

"Suho! Aku bicara padamu!" omel wanita itu lagi. Lelaki di sofa berdiri dan mengambil ponselnya dimeja yang cukup jauh dari sofa yang ia duduki. "Ada kemungkinan jika Baekhyun ketempat yang sepi dan tenang, Lu." Ucap Suho pada akhirnya kepada Luhan. "Dimana tempat itu? Tempat yang tenang disekitar sini, hanyalah taman kota yang sepi atau danau dipinggiran kota." Ucap Luhan termakan emosi.

Suho menggeleng, "Tidak mungkin di taman kota, disana sedang masa renofasi karena rumput-rumput yang mati dan pasti disana banyak pekerja, Baekhyun tidak mungkin berada ditempat itu sekarang, kan?" jelas Suho mencoba tenang. Luhan menunduk "Ya…" jawab Luhan lirih. "Didanau bukankah banyak pengunjung dihari libur seperti ini? Berarti itu sangat ramai dan bukan alasan tempat Baekhyun berada disana." Jelas Suho lagi, Luhan mengangguk lemah.

Suho yang sedari tadi masih berdiri kemudian kembali duduk disofa dan memainkan ponselnya. "Lalu dimana? Dihutan?" tebak Luhan asal. "Kau pikir hutan se-sepi dan se-tenang yang kau kira? Dihutan lebih banyak penghuninya, bodoh!" Luhan merosot kebawah, ia merasa tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk adiknya.


Seorang pemuda berkulit pucat berjalan dengan sebelah tangannya yang membawa sebuah skateboard, ia merasa kecewa tempat bermainnya ditutup karena jalur permainan papan luncur itu masih basah karena sisa salju. Jadilah sekarang ia berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan kecil yang tersembunyi dikota Seoul.

Ia menghela nafas malas ketika seseorang menabraknya dan menjatuhkan benda kesayangannya, ia tak mengindahkan kata maaf dari orang itu sama sekali dan terus berjalan dengan acuh setelah sebelumnya sudah mengambil kembali benda kesayangannya.

Hantaman keras dikepala pemuda itu sepertinya berdampak sangat buruk setelahnya. Ia terjatuh berlutut dijalan itu, memegang kepala bagian belakangnya yang terhantam… tongkat baseball. Seseorang berlari kecil kearahnya, samar-samar ia melihat wajah orang itu, itu gadisnya?

Ia tidak tahu lagi apa benar sosok dihadapannya ini nyata atau tidak, yang pasti sosok itu menyentuhnya, menahan kedua bahunya agar ia tetap sadar. "Hei, bertahanlah! aku akan menolongmu!" samar-samar ia juga mendengar suara khawatir sosok dihadapannya yang sepertinya juga ikut berlutut seperti pemuda berhoodie ini.

Apa itu suara gadisnya? Tidak, ia tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk gadis dihadapannya. Namun belum sempat mendekapnya, pemuda berkulit pucat ini sudah tumbang ditubuh sosok itu.

"Oh ya ampun! Harus kubawa kemana ia?" ucap gadis berambut krem lalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk membopong lelaki yang sama sekali tak ia kenal ini. Tempat yang gadis ini lalui terlalu sepi, Si Pelempar tongkat baseball tadi adalah anak-anak yang nakal. Bahkan para anak laki-laki tadi sudah pergi entah kemana.

Didorong rasa penasarannya, ia membuka hoodie lelaki dihadapannya dan terlihat wajah putih pucat seorang lelaki dengan rambut coklatnya yang sudah berantakan. Melihat itu, gadis ini membelalakan kedua matanya. "Oh Sehun?" reflex gadis itu. Ia teringat kembali ketika sahabatnya sedang menemui seseorang dikantornya untuk membicarakan sesuatu yang penting, setelah 'sesuatu yang penting' selesai, pemuda ini keluar dari kantor sahabatnya dengan wajah tenang dan pucatnya. Ia tahu bahwa lelaki dihadapannya ini Oh Sehun, lelaki yang akan menjaga adiknya selama disekolah.


Setelah membeli sebuah syal, gadis berjaket tebal ini memutuskan mencari taxi untuk pergi kesebuah tempat yang sudah tertuliskan dibuku catatannya. Setelah memberhentikan sebuah taxi, ia masuk kedalam taxi itu dan berkata kepada Si Supir apa tempat tujuannya. "Carnation Funeral, sir!" si supir mengangguk dan melajukan mobilnya. Gadis itu membenarkan letak syal yang dililit dilehernya, lalu bersandar.

Tatapan datarnya menyapu seluruh jalan yang mobil ini lewati, tatapannya berubah sendu. Jalan ini mengingatkannya akan sesuatu. Sesuatu yang begitu manis untuk dirasakan. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia lelah terus menangis sepanjang hari.

Setelah mobil berhenti, gadis itu keluar dari mobil taxi berwarna kuning setelah memberikan bayaran kepada Sang Supir yang mengantarnya. Ia melihat disisi jalan terdapat sebuah pemakaman yang diatas pagar hitamnya tertuliskan 'The Carnation Funeral'. Ia memantapkan hatinya untuk masuk kedalam sana, padahal ia tahu jika ia masuk kesana hanya akan membuat pertahanannya runtuh seketika.


"Jangan! Tidak perlu!" bentak Chanyeol kepada gadis yang sedang berusaha membantunya untuk membersihkan apartment milik Chanyeol. "Tapi-" "Tidak perlu!" bentak Chanyeol mulai jengkel kepada Felicia. "Baiklah, aku ingin pulang!" perdebatan akhirnya selesai. Chanyeol dan Felicia sejak tadi pagi terus terdiam dan saling menjauh, penyebabnya adalah Chanyeol yang menginginkan Felicia untuk menjadi kekasihnya tadi malam namun Felicia menolaknya dengan keras dan berakhir keduanya tertidur diruang berbeda.

Felicia pergi dengan menghentak-hentakan kakinya, ia meraih tas kecilnya yang bertengger digantungan lalu keluar dari apartment Chanyeol dengan wajah yang ditekuk. Chanyeol mengabaikan gadis keturunan Korea-Amerika itu sambil terus membersihkan meja dapurnya yang sedikit lagi bersih.

"Arrrghh… awas kau Felicia!" rahang Chanyeol mengeras, ia melempar kain lap di genggaman tangannya dengan asal. Drrrt..drrrrt.. ponselnya bergetar. Chanyeol melihat nama pemanggilnya lalu memilih untuk mengangkatnya. "Halo?" sapa pemuda itu kepada siapapun diseberang sana. Air muka Chanyeol berubah setelah mendengar penjelasan dari suara parau diseberang sana "O-okay. Aku akan berangkat secepatnya. Dah!" setelah menutup panggilannya, ia bergegas kedalam kamarnya.


Seorang wanita berambut krem tak henti-hentinya berjalan kesana kemari demi merawat pemuda yang kini sedang terbaring diranjang kamar hotelnya. Sesekali ia memaki Suho yang sejak tadi tidak bisa ia hubungi. Matanya juga terus mengawasi pergerakan pemuda itu, meskipun pemuda berhoodie diranjangnya tidak bergerak sedari tadi. Wanita itu mendekat keranjangnya dan berlutut agar dapat melihat wajah pemuda berambut coklat dihadapannya.

Lumayan lama ia menatap wajah pucat itu hingga akhirnya tersadar bahwa pemuda yang ia tatap perlahan membuka matanya dan menyernyit. "Ehm.. anu, kau tak sadarkan diri setelah dipukul anak-anak nakal itu," ucap wanita itu merasa dirinya sangat bodoh karena ketahuan sedang menatapi pemuda pucat itu.

"Anak-anak?" Tanya pemuda itu sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Wanita itu mengangguk polos, pemuda tadi menatap wanita disamping ranjang dengan tatapan kesakitan dan merubah posisinya menjadi duduk dengan gerakan hati-hati. "Kau Oh Sehun kan?" Tanya wanita itu dengan senyuman lembutnya, pemuda itu menyernyit, "Aku sahabat Junmyun" kernyitan didahi pemuda berkulit putih pucat hilang, ia tahu siapa wanita disampingnya ini, tentu saja ia tahu.

"Emmm, kau ingin minum?" Tanya wanita itu dengan senyumannya seperti tadi, pemuda bernama Oh Sehun hanya mengangguk karena ia memang merasa tenggorokannya sangat kering. Dengan terburu-buru, wanita itu mengambilkan segelas air hangat kepada Sehun. Sehun menatapnya lekat.

Lagi, Sehun merasa wanita dihadapannya adalah gadis yang ia rindukan. Gadis yang selalu merawatnya ketika ia sakit, gadis yang kini memberinya segelas minuman hangat. Ia meraih gelas bening yang diulurkan gadis-nya dan meneguknya perlahan hingga habis. Sehun mengelap bibirnya yang masih tersisa jejak air dan memberikan gelas bening itu pada gadis yang sedang menatapnya khawatir.

Belum sempat gadis itu menaruh gelas didapur, Sehun sudah mengunci pergerakan gadis itu didekapannya. Sehun menenggelamkan wajahnya diperut gadis itu sambil melingkarkan kedua tangannya disekitar pinggang gadis dihadapannya.

"Jangan pergi lagi!"


Gadis itu kini menangis, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tetap pada posisi berdirinya, ia menatap sendu pada sebuah nisan dihadapannya. "Boo, maafkan aku, aku tidak sadar telah melakukan hal sekejam itu padamu, apa kamu mengijinkan aku untuk menggapai mimpimu?" Hening, pertanyaannya hanya dijawab oleh hembusan angin yang lembut.

"Kamu tidak marah kan padaku? Jika kamu tidak marah kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" hening. Baekhyun mendekap mulutnya sendiri dengan tangannya, berharap suara tangisannya tidak terdengar.

"Maaf nona, Aku ingin membersihkan lumut dimakam ini. Bisa permisi sebentar?" pinta seorang lelaki tua dalam bahasa inggris kepada Baekhyun. Baekhyun mengangguk mengiyakan. Dengan cepat ia menyeka air matanya dan pergi dari sana.

Setelah meninggalkan tempat pemakaman, Baekhyun memutuskan untuk kembali ke hotelnya. Tapi, bagaimana dengan rumah Sang Ibu yang terletak tidak jauh dari tempat ini? Apa ia langsung kesana saja? Tapi bagaimana jika ibunya menolak kehadirannya?. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia harus segera pulang. Secepatnya. Ke Korea.


Baekhyun memasukkan seluruh barang-barang yang ia bawa kedalam kopernya yang besar. Setelah itu ia mengeratkan jaket tebal yang ia kenakan, syal merahnya juga tak lupa terlilit dilehernya. Sarung tangan diatas kasur hotel itu ia ambil dan ia pakai untuk tangannya. Setelah selesai bersiap-siap, gadis itu pergi meninggalkan kamar hotelnya untuk cek-out.

"Kau sungguh ingin cek-out malam-malam begini, nona?" Baekhyun hanya menatap petugas hotel itu dengan tatapan esnya sambil mengangguk kecil. "Kau sungguh tidak takut? Kejahatan ada dimana saja, apalagi sekarang musim salju, kau akan kedinginan diluar sana sekalipun jaketmu setebal bantal, nona." Baekhyun tetap menatap petugas itu. "Aku tidak peduli."


Ini sudah dini hari, tapi sejak semalam Baekhyun tidak bisa istirahat karena merasa tidak nyaman berada di super market 24 jam yang sepi ini. Baekhyun bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari super market itu. Pasalnya, ia tidak kuat berada diluar ruangan, maka dari itu tadi malam Baekhyun malah pergi ke super market hanya untuk sekedar mencari sedikit kehangatan.

Gadis itu menghentikan taxi yang kebetulan lewat, lalu segera berangkat menuju bandara menggunakan taxi yang barusan ia hentikan.


Drrrrt…drrrrt

"Ya, halo?" jawab seorang lelaki jangkung pada panggilan diponselnya. "Ya. Aku sudah sampai. Ya, aku baik-baik saja. Sekarang aku akan pergi ke alamat yang kau berikan padaku tadi malam." Pemuda itu menutup panggilannya. Matanya menyapu pandangan bandara disekitarnya. Tepat ketika ia turun dari pesawat yang membawanya ke Amerika beberapa menit yang lalu, sebuah badai tiba-tiba datang. Membuat beberapa penerbangan terpaksa didelay hingga cuaca membaik.

Pemuda itu, Park Chanyeol, berjalan membawa kopernya menelusuri bandara yang baru ditapakinya ini. Tempat yang kini ingin dikunjunginya terlebih dahulu yaitu toilet. Chanyeol mempercepat jalannya hingga seorang gadis yang melakukan hal sama dengannya diarah yang berlawanan menabrak tubuhnya.

"Ahh! Sakit sekali bahuku!" ringis gadis itu dalam bahasa korea sambil memegangi bahu sebelah kanannya. "Maaf, maafkan aku, aku berjalan terlalu cepat hingga sulit untuk berhenti. Maaf?!" ucap Chanyeol merasa bersalah. Gadis tadi mendongak untuk melihat siapa orang yang bertabrakan dengannya. "Berhati-hatilah lain kali!" nasihat gadis itu sebelum ia beranjak menarik kopernya kembali. Chanyeol terkejut bukan main. Bukan karena nasihat yang dilontarkan gadis itu, tapi karena siapa gadis itu.

"Tunggu!" panggil Chanyeol memutar balik arahnya untuk mengejar gadis itu. "Kau, Baekhyun, kan?" Tanya Chanyeol begitu berhasil menahan tangan gadis itu. Baekhyun diam membisu. "Ah ya, aku Chanyeol, teman lamamu, kau ingat?" Tanya Chanyeol begitu berharap jika Baekhyun ingat. "Si gendut Chanyeol?" Tanya Baekhyun tanpa ekspresi. "Ya begitulah. Kau kenapa, sakit? Aku melihat kamu beberapa hari yang lalu juga merasa bahwa ada perubahan pada dirimu. Kenapa berubah?" Tanya Chanyeol panjang lebar.

"Aku tahu kau tahu, tidak usah berpura-pura, Yeol!" Baekhyun hendak pergi lagi, namun Chanyeol kembali menahan tangannya. "Kau sedang apa disini? Kemana Suho hyung dan Luhan noona? Aku tidak lihat." Ucap Chanyeol yang diakhiri dengan celingak-celinguk mencari keberadaan dua orang yang tadi ia sebutkan.

"Aku pergi sendiri." Jawab Baekhyun datar yang berhasil membuat Chanyeol tercengang. "Mereka tidak mungkin memberikan izin kepadamukan?" Tanya Chanyeol khawatir. "Maka dari itu aku pergi tanpa bilang-bilang." Ucap Baekhyun sambil menatap mata Chanyeol dalam. Chanyeol juga melakukan hal yang sama.

"Setelah ini, kau mau kemana? Semua penerbangan didelay." Tanya Chanyeol masih dalam posisi sama. Baekhyun mengedingkan bahunya. Matanya tidak ingin menatap mata Chanyeol lagi dalam jangka waktu terlalu lama seperti tadi. Ada sesuatu yang tidak menenangkan jantungnya ketika ia menatap mata yang disana terpancar kehangatan untuknya itu. Sudah lama Baekhyun tidak seperti ini.

"Kalau begitu ikut aku!" ucap Chanyeol dengan senyuman berkarismanya sambil menarik tangan Baekhyun agar mengikuti langkahnya. "Kemana? Aku lelah, aku ingin istirahat." Ucap Baekhyun lemah tanpa menolak ajakan Chanyeol. "Pertama, kau harus menungguku hingga aku selesai buang air kecil." Ucap Chanyeol disusul dengan cengiran khasnya.

Mau tak mau Baekhyun tersenyum, walaupun sangat samar, tapi Chanyeol melihatnya. "Kau akan lebih cantik jika tersenyum lebar seperti dulu, Baek!" kemudian Chanyeol tersenyum simpul.


"Suho! Bisakah kau berhenti bekerja sementara, hah!? Apa kau tidak tahu bagaimana keadaanku sekarang? Aku kerepotan!" semprot Luhan ketika mengangkat panggilan telepon dari Suho. Suho tertawa. Sungguh ini begitu lucu menurut Suho. Luhan yang mendengar suara tawa Suho melongo. Ia mengira bahwa kini Suho sudah gila.

"Kau tertawa? KAU TERTAWA?! Disaat seperti ini kau masih bisa tertawa?" geram Luhan. Wanita itu memutar bola matanya kesal. "Setidaknya kita tidak boleh stress" ucap Suho santai. "Aku tahu kau menyukai ini!" tambah Suho lagi sebelum Luhan membalas. "Suka? Suka apa maksudmu?" Tanya Luhan yang entah kenapa sekarang berkeringat dingin.

"Menolong lelaki tampan dan membawanya kehotelmu, misalnya?" Tanya Suho berpura-pura tidak mengetahui sesuatu. Luhan membulatkan matanya. "Ba-bagaimana kau tahu?!" ucap Luhan tergeragap. "Benarkan kau menyukainya?" Tanya Suho jahil. "Sudahlah. Bagaimana dengan Baekhyun?" Tanya Luhan teringat akan nasib Baekhyun.

"Logikaku bilang bahwa gadis dingin itu berada disekitar makam saudaranya. Menurutmu, apa logika ku ini benar?"

"Ma-maksudmu,… Amerika?"

"Ya."

"Apa kita perlu kesana?"

"Tidak. Disana ada orang yang menemaninya. Mengajaknya untuk bersama-sama."

"Siapa? Bagaimana jika orang itu jahat?" ucap Luhan khawatir. "Aku tidak tahu dia siapa. Ini hanya ramalanku, Luhan. Orang itu berniat baik." Begitu mendengar penjelasan Suho, Luhan merasa agak lega. Setidaknya, beban dihatinya sedikit terangkat.

"Oh ya, aku minta tolong-" belum Luhan melanjutkan kalimatnya, seseorang mengetuk pintu kamar mandi yang sedang didiaminya ini. "Aku lanjut nanti." Ucap Luhan cepat lalu memutuskan panggilan secara sepihak. Luhan membuka pintu kamar mandi lalu tersenyum lugu kearah lelaki dihadapannya.

"Kau sudah bangun? Bagaimana dengan kepalamu? Apa masih sakit?" Tanya Luhan yang terlihat jelas diwajahnya bahwa ia khawatir. Lelaki dihadapannya menggeleng. Luhan tersenyum lega. "Jika masih sakit bilang saja, tidak usah malu-malu!" perintah Luhan lembut. "Kau ingin memakai kamar mandi?" Tanya Luhan sekedar basa-basi karena ia kikuk melihat lelaki dihadapannya hanya terdiam menatapnya. Lagi-lagi lelaki itu hanya menganggukan kepalanya.

"Ok" Luhan baru melangkahkan salah satu kakinya, namun dirinya malah tersandung kaki yang satunya, bodoh. Lelaki yang ternyata Oh Sehun segera menahan kedua lengan Luhan agar wanita itu tidak terjatuh kelantai. Luhan mendongak untuk menatap Sehun yang kini rupanya nampak takut apabila wajah bening Luhan harus menempel pada lantai yang tidak terjamin kebersihannya.

Luhan segera berdiri dengan benar. "Terimakasih" setelah mengucapkan itu Luhan buru-buru pergi dari sana. Luhan bergumam dengan suara yang tidak cocok disebut gumaman.

"Memalukan."


Baekhyun menggerak-gerakan kakinya karena bosan menunggu 'tiang' yang sedang buang air kecil itu. "Apa ia buang air besar? Kenapa lama sekali." Gumam Baekhyun sambil terus menunduk. "Ayo!" orang yang ditunggu Baekhyun akhirnya keluar dari ruangan yang tidak dapat dimasukinya itu.

"Kau sangat lama didalam sana!" sembur Baekhyun dengan air wajah sedikit sebal. "Maaf, Bee" Chanyeol memperlihatkan gigi-giginya yang putih dalam sebuah cengiran yang berhasil menghangatkan hati gadis dihadapannya. "Tunggu apa lagi, ayo!" ucap Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun.

"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Baekhyun pasrah dengan perlakuan Chanyeol yang jujur saja membuatnya nyaman. Chanyeol berpikir bahwa tempat yang akan ia tuju adalah… "Ah sangat banyak, Baek. Tapi aku ingin ketempat ayahku dahulu. Kau harus ikut! Sepertinya beliau juga rindu sepertiku dengan sosokmu." Setelah itu seulas senyuman manis terukir diwajah tampan seorang Chanyeol.

"Benarkah? Aku hampir lupa bagaimana sosok beliau." Setelah itu suatu keajaiban, Baekhyun tersenyum manis. Matanya ikut tersenyum, tidak seperti biasanya yang hanya senyuman dingin yang terukir diwajah manisnya. Ini adalah akhir setelah lima tahun lebih ia tidak pernah menunjukan senyuman hangatnya. Mungkin Suho dan Luhan harus banyak berterimakasih kepada tiang bernama Chanyeol ini.

"Bahkan aku selaku anaknya sendiri. Aku sudah lama tidak menjenguknya." Air muka Chanyeol berubah. Ia sedih. Ia kembali memikirkan ayahnya yang sedang sakit. Kali ini penyakitnya kambuh. Tingkatan penyakit ayahnya bertambah buruk. "Jangan sedih, Yeol. Jangan menjadi gunung yang tertutup kabut." Ucap Baekhyun diakhiri dengan helaan napas. "Jangan sepertiku!" ucap Baekhyun lalu menunduk sedih. Tidak terasa mereka sampai disebuah taksi yang masih kosong.

Chanyeol menatap Baekhyun sebelum masuk kedalam taksi, lalu tersenyum lembut. "Jangan seperti dirimu juga!" timpal Chanyeol. Baekhyun mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Chanyeol. Alisnya bertaut entah bingung entah kesal. Tapi kemudian ia lebih dulu masuk kedalam taksi. Chanyeol terkekeh lalu menyusul masuk.

"Apa tempat dimana ayahmu dirawat jauh?" Tanya Baekhyun. Chanyeol mengedingkan bahunya. "Aku tidak tahu." Ucap Chanyeol cuek yang berhasil membuat Baekhyun menatapnya dengan mata membulat. "APA!?" pekik Baekhyun kesal. Chanyeol menoleh ke Baekhyun lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Hehe. Ayahku pindah rumah sakit jadi aku baru pertama kali kesana, denganmu." Ucap Chanyeol yang kalimat akhirnya berubah menjadi gumaman yang tak terdengar Baekhyun. Baekhyun mengangguk tapi ia masih khawatir jika nanti kesasar. "Kau tahu alamatnya?" Tanya Baekhyun dengan wajah khawatir.

Chanyeol tersenyum menatap wajah khawatir Baekhyun. Tangan kekarnya terangkat untuk mengusak rambut cokelat Baekhyun. "Tentu saja 'Bayi Lebah'" ucap Chanyeol gemas. Sang supir berdehem. Mobil belum berjalan sedari tadi.

"Where will you both go?" Tanya supir itu. Chanyeol menurunkan lengannya untuk mencari alamat didalam saku celana jeansnya.

"Carnation Hospital in Carnation Street" ucap Chanyeol tegas. Mendengar itu, Baekhyun tertegun. Tapi, ia berhasil menyembunyikan kekagetannya itu dengan membuang muka kearah kaca mobil.


Mobil dengan warna kuning itu terhenti. Dua orang penumpang mobil itu segera keluar dari sana. Mereka terdiam dulu ditempat untuk melihat-lihat sekitar. Mobil kuning itu sudah pergi untuk mencari penumpang lain.

Chanyeol menghela nafas. "Besar sekali rumah sakit ini" ucap Chanyeol sumringah. Baekhyun hanya membuang muka kearah lain. Chanyeol menoleh ke Baekhyun yang berada dibelakangnya. Mereka mulai menyeberangi jalan. Ketika Chanyeol sudah mencapai trotoar diseberang, ia menoleh kembali ke Baekhyun. Baekhyun menyeberang tanpa melihat-lihat. Ia melamun.

Dari arah kanan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Chanyeol berbalik dan menarik lengan Baekhyun dalam sekali hentakan. Baekhyun tersentak kaget ketika tubuhnya menabrak tubuh Chanyeol.

"Kau harus tetap hidup," Ucap Chanyeol dengan nada khawatir. "Bersamaku." Chanyeol tetap dalam posisi memeluk Baekhyun. Baekhyun hanya mematung. Degup jantungnya menjadi lebih cepat. Chanyeol pun begitu. Ia takut kejadian tadi terus berlanjut.

Dan merenggut nyawa 'teman lama'nya.


To be continued


Hi, CBHS! I am new author in FFN, Park Jiah ibnida ^-^

This is my first fanfic about ChanBaek that I publish in FFN. And I hope you enjoy when reading this fanfic.

Gimana chapter 2-nya? Maaf kalo kurang greget. Yang chapter 1 itu aku re-post hasil yang udah aku edit. Meskipun udah diedit, tapi mungkin masih ada typo kayak chapter satu sebelumnya. Jadi, kenapa aku re-post? Karena aku belum tahu cara edit cerita yang udah dipublish diffn. Jadi ya aku hapus cerita sebelumnya terus aku remake lagi tuh cerita. Tapi setelah kejadian itu aku jadi tahu cara edit cerita yang udah dipublish.

Maaf ya yang udah me-review dichapter satu yang lama. Jadi ke-hapus review-annya. Ayo baca dan review lagi chap 1 yang baru dan chap 2 ini. Like dan berikan tanggapan serta saran untuk membuat Jiah semangat melanjutkan cerita ini dengan penuh kehati-hatian. Don't forget, guys!

Salam peluk,

Park Jiah