Hai~ Saya kembali lagi~ Dengan chapter terbaru dari Genderbend Potion!
Sebelumnya, mari kita balas review dulu!
tsunakyo1827
salam kenal juga!
Ini kurang lebih mirip harem, tapi nanti endingnya cmn 1 pair (spoiler nih, wkwkwk)
Dhyanim3
Salam kenal juga!
Aku juga suka kok Gokkyun jadi hero(ine)nya, hehehe.
btw, trims semangatnya!
Nah, sekarang, mari kita lanjutkan, nee?
"Hari ini, saya baru menerima info mengenai kepindahan Gokudera Hayato ke Italia untuk sementara dikarenakan urusan keluarga," kelas mendadak ricuh, terutama karena desas desus oleh fans Hayato. Walaupun galak, Hayato tetap banyak fansnya.
Kericuhan itu dihentikan oleh sang wali kelas, Elena-sensei yang begitu cantik dan awet muda (aslinya sih sudah berusia kepala 4, alias memasuki usia 40-an). Kemudian, sang wali kelas pun melanjutkan. "Dan kabar baiknya, ada murid baru yang merupakan saudari dari Gokudera Hayato. Masuklah, Gokudera Hayako."
Dan Gokudera Hayato memasuki kelasnya dengan penampilan barunya.
.
.
.
Genderbend Potion! © Tsukihime Rivera
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Warning :
OOC, Typo bertebaran, adegan ambigu, slight Allx59
(Main Pair belum ditentukan loh! Kufufufu~)
.
.
.
~Happy Reading~
.
.
.
Gadis bersurai silver memasuki ruangan kelas. Dialah sang tokoh utama kita, Gokudera Hayato, atau sekarang dikenal oleh teman-teman sekelasnya sebagai Gokudera Hayako. Apa yang telah hingga Hayato menjadi perempuan dan harus mengganti namanya dapat dibaca dan disimak di chapter sebelumnya.
Mari kembali ke tokoh utama kita.
Semua siswa di kelas itu terpana melihat kecantikan Hayato. Rambutnya yang dikepang, dan diberikan aksesoris yang tidak mencolok, tapi tetap membuatnya manis. Dibalik kemanisan itu, ia sedang mengutuk kakak perempuannya yang mendadaninya seperti ini.
"Ayolah Hayako.. Kau ini perempuan. Bersikaplah manis dan layaknya perempuan," ujar sang kakak sambil mengepang rambut Hayato.
"Kenapa kau memperlakukan aku seperti perempuan?!"
"Karena saat ini kau menjadi perempuan. Toh aku dari dulu memang ingin punya adik perempuan, jadi sesekali ini melakukan ini," Bianchi tersenyum, ketika melihat adik laki-lakinya (untuk sementara, perempuan) begitu manis. Ia jamin calon adik iparnya akan meleleh melihat ini.
'Sorella tidak tahu diri—akan kubajak akun VongolaBook miliknya dengan foto mantannya nanti—'
Elena-sensei berdeham, membawa Hayato kembali dari pikirannya ke dunia nyata, "Silahkan perkenalkan dirimu, Gokudera-san."
"A-ah, iya sensei. Nama saya Gokudera Hayako, saudarinya Gokudera Hayato. Mohon bimbingannya mulai sekarang ya," ujarnya seraya menundukkan kepalanya. Ah, suaranya juga jadi feminim kok. Benar-benar hebat kau, Verde.
"Yang ingin mengajukan pertanyaan, silahkan. Saya beri kesempatan selama 5 menit."
Salah satu seorang siswi berdiri, dan Hayato yakin kalau itu adalah salah satu fansnya. "Gokudera-san, Hayato-kun mengapa pindah mendadak?"
"Bukan karena urusanmu, pastinya," senyuman Hayato yang kelewat manis, dan kalimatnya yang menusuk, membuat aura hangat menjadi dingin secara drastis.
'Gadis ini menyeramkan!' batin mereka bersama-sama.
"N-Nah.. Karena telah lewat 5 menit.. Mari kita lanjutkan ke pelajaran. Gokudera-san, silahkan duduk di antara Sawada-san dan Asari-san. Kalian berdua, tolong angkat tangannya." Yang dimaksud mengangkat tangannya. Hayato menuju tempat duduknya, dan mengeluarkan buku serta kotak pensilnya.
Ah, kotak pensilnya terdapat pola bunga-bunga. Siapa lagi kalau bukan ulah Bianchi? Kali ini dia abaikan, sudah lelah menghitung 'dosa-dosa' Bianchi.
Pelajaran Elena-sensei, yaitu biologi, tidak seperti pelajaran biologi sekolah lainnya, yang umumnya cukup menghebohkan, terutama mengenai reproduksi. Elena-sensei akan memberikan 'tanda cintanya' bila ada yang heboh di pelajarannya, sekalipun yang heboh itu kelas yang diwalikan olehnya.
Hayato menguap bosan. Sebagai anak jenius yang sekolah hanya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai anak, pelajaran di Namimori Junior High School terlalu mudah. Siswa lainnya juga tampak tidak tertarik dengan materi yang diajarkan, tentang pencernaan.
Mereka hanya bersemangat kalau tentang perkembangbiakan dan sistem reproduksi. Maksud saya yang siswa putra. Justru siswi-siswi tidak menyukai materi itu. Vulgar, kata mereka.
Bel berbunyi. Artinya pergantian pelajaran.
Menurut informan terpecaya kelas mereka, hari ini Hibari Alaude-sensei, guru fisika mereka, tidak masuk. Artinya pelajaran berikutnya adalah jam pelajaran kosong.
Jam pelajaran yang kosong adalah kemerdekaan dari penjajahan pelajaran.
Setelah sang guru biologi keluar kelas, masuklah Alaude-sensei. Pria berusia 26 tahun dengan warna rambut serupa dengan warna mayonnaise, keren namun sadis. Bahkan seme-nya sendiri sering disiksa— dan sang seme maunya aja disiksa.
Fisika oh fisika, siapa yang suka dengan fisika. Pelajaran yang dianggap tidak penting karena mempelajari gravitasi, kecepatan, gelombang, pemuaian, dan sebagainya, yang pastinya bakal membuat siswa-siswi tidur ditengah pelajaran. Seandainya kalau gurunya bukan Alaude, tentunya.
Pelajaran dilanjutkan dengan ketegangan tingkat tinggi, dan ingatkan seluruh siswa untuk menyiksa sang informan kelas mereka nanti.
Skip time, dengan iklan dari Uri (nya!)
Jam istirahat. Sesuai dugaan Hayato, tidak ada yang mendekatinya untuk mengajaknya makan siang bersama karena hal di pagi hari tadi.
Tapi tidak untuk sang jyuudaime tercinta. Ia berdiri di hadapan Hayato sambil membawa bentonya.
"Asari-kun sedang dipanggil kakaknya," ucapnya, "Apa aku boleh duduk di sini?"
"Tentu saja"
Tsuna duduk di hadapan Hayato, membuka bentonya. Mengucapkan 'selamat makan' sebelum memakannya. Benar-benar tipekal seorang bos.
Hayato juga mulai memakan bentonya. Di dalam lubuk hatinya, ada kelegaan kalau Tsuna tidak mengetahui hal yang terjadi.
"Jadi, Hayato-kun, nanti bisa ajari aku PR dari Alaude-sensei?"
"Tentu saja—" Eh? Tadi Tsuna panggil dia Hayato? Hayato belum gejala-gejala tuli kan?
"K-Kau tadi memanggilku Hayato...?"
"Iya, benar. Kau memang Hayato-kun kan?" senyum Tsuna. Hayato mendadak gugup. Sialan, pasti ramuan Verde membuat hormon testosteronnya menurun, sementara hormon estrogennya meningkat.
"B-Bagaimana kau tahu...?" bisik pemuda—ralat, gadis—silvernette berdarah Italia itu. Pemuda brunette hanya tersenyum-senyum. Ketularan keluarga Asari rupanya.
"Tadi aku dengar perbincangan Giotto-nii dan G-nii di kantor kepala sekolah."
'SIALAN KAU FRATELLO' batin Hayato. Akan dia santet kakak lelaki tercintanya nanti.
"Tapi aku sudah menduganya kalau kau adalah Hayato," lanjut sang ketua geng Vongola yang kesepuluh itu.
Hayato tertawa kecil, "Tak diragukan lagi, intuisimu sepertinya selalu benar," ujar sang gadis.
"Jadi, apa perlu kuberitahu yang lainnya?" ujar Tsuna, sambil menyuapkan sepotong omelet kedalam mulutnya, "Mengenai yang baru kau alami."
"Tidak usah, jyuudaime. Tak perlu repot-repot. Verde juga sedang mencari obat penawarnya."
Tsuna tersenyum jahil. Hayato mengerti maksud senyuman itu, mendadak berkeringat dingin.
"Yakin...?"
"I-Iya! Apalagi ke yakyuu-baka Asari! Dimana harga diriku nanti!"
"Tapi aku tidak bicara tentang Asari-san loh," Tsuna tertawa geli, sementara Hayato hanya tersipu malu.
"Yo! Gokudera-chan, Tsuna, apa kabar! Apa yang kulewatkan? Haha," panjang umurlah kedua insan yang sedari tadi duduk di sana. Pemuda yang baru mereka bicarakan, Asari Takeshi, baru saja muncul.
"Halo Asari-kun, ayo gabung kita makan disini," ujar sang adik dari kepala sekolah muda. Asari Takeshi mengangguk dan mengambil bento sushi miliknya. Hayato mulai sumpah serapah sendiri, sementara sang atlet sekolah senyum-senyum agak tidak jelas. Tsuna? Tersenyum garing melihat kedua orang tersebut.
"Jadi, Hayako-chan, kau tinggal dimana?"
"Di rumahku lah! Ya masa di tengah jalan," Takeshi tertawa, Hayato malah blushing, Tsuna hanya bisa tertawa garing, apalagi ketika melihat sang prefek kedisiplinan di depannya, dengan kedua tonfa miliknya di tangan sang pemilik.
"Siswa yang belum melapor kepindahan secara lengkap, kamikorosu," Hayato menelan salivanya, mempersiapkan kuda-kuda untuk melarikan diri. Ia tidak membawa dinamitnya, kembali terima kasih kepada sang sorella tercinta.
Dan ketika sang prefek melayangkan tonfanya ke arah Hayato, sang silvernette langsung kabur. Ia masih mau sayang nyawa, dan tidak mungkin ia melawan kembali, kecuali mau 'hukuman'nya bertambah.
... Sepertinya Hayato lupa kalau lari di koridor kelas bisa menambah hukumannya.
"Lari di koridor kelas, kamikorosu," Yang dikejar malah semakin cepat, sementara yang mengejar juga ikutan lari. Terkadang siswa-siswi Namimori Junior High School jadi bingung, lari di koridor membuat mereka dihukum, tapi kenapa yang mengejar sambil lari (maksudnya Hibari Kyouya) nggak ikutan dihukum?!
Hayato masih berlari menghindari Hibari, dan Hibari masih mengejar Hayato. Siswa- siswi lainnya tidak mau dekat-dekat dengan mereka berdua, takut jadi korban salah sasaran kalau dekat-dekat.
Sampai akhirnya...
BRUK
Dewi fortuna yang sedang tidak berpihak kepada Hayato, atau sedang hobi menjahilinya, membuat Hayato terjatuh karena terpeleset kulit pisang. Sialan, batinnya, akan kubunuh nanti pelaku yang melempar kulit pisang ini.
Hibari Kyouya semakin mendekat, Dan sepertinya Hayato harus kembali mengutuk dewi fortuna yang membuatnya harus terkilir di saat yang sangat tidak tepat.
Yah.. Tanpa Kyouya sadari, kulit pisang lainnya kembali muncul di depannya, membuatnya terpeleset juga—
BRUK
—Dan terjatuh tepat diatas Hayato.
Sekarang, posisi Hayato berada dibawah Kyouya, yang bertumpu pada kedua tangan dan kakinya. Untuk lebih mudahnya, posisi kabedon, tapi di lantai. Posisi yang begitu ambigu, apalagi bagi yang suka menyaksikan blue film, bila kau mengerti maksudku.
Jantung Hayato berdebar lebih cepat, membuat wajahnya tersemu merah. Sang kanivora Namimori Junior High School juga merasa jantungnya berdebar lebih cepat, namun wajahnya tidak tersipu malu.
Ah~ Seperti adegan klise di kebanyakan shoujo manga, dimana waktu serasa berhenti dan dunia serasa milik berdua saja.
Tapi, semua berlalu dengan cepat, kawan, termasuk waktu yang kau kira begitu lamban.
"Yang mesra-mesraan di lingkungan sekolah, kamikorosu," datanglah sang guru fisika Namimori Junior High School, Hibari Alaude, membawa borgol tercintanya, di belakang mereka. Ah, jangan tanya apa yang terjadi setelah itu.
Sementara itu... Di halaman sekolah...
"Lichi, jangan buang sampah sembarangan dong..." ucap seseorang dengan pakaian tradisional ala China, dan surai ravennya yang dikepang membuatnya seperti seorang pemuda Chinese seperti Jet Li, di atas pohon, menyaksikan adegan dimana kedua adiknya bertarung dan seorang gadis silvernette yang terdiam menatap kedua kakak beradik tersebut, sambil mengelus monyetnya yang sedang menikmati pisang kesukaanya.
Hibari Fon, kakak tertua keluarga Hibari, tertawa kecil mengingat adegan beberapa menit yang lalu, yang terjadi akibat sampah kulit pisang monyet peliharaannya. "Tapi, kau hebat, bisa menjadi mak comblang seperti itu."
Sementara Lichi, kera putih peliharaan Fon sekaligus partnernya, juga pelaku pembuang sampah kulit pisang sembarangan, kembali memakan pisang-pisangnya dengan senang. Ah, mereka bangga atas perbuatan mereka. Kira-kira, batin Fon, rumor apa ya yang akan beredar besok? Dirinya sungguh tidak sabar apa yang akan terjadi besok.
Bagaimana? Ngomong-ngomong, jangan jadi seperti Fon, contoh kakak yang tidak baik /dihajar
Ah, updatenya lagi lumayan cepat, mumpung ide numpuk di otak tapi nggak tau gimana cara menjabarkannya. Derita seorang author sekaligus artist (yang tidak terkenal)
Ngomong-ngomong, para reader yang tercinta, apakah kalian suka cerita ini?
Kalau ya, terus nantikan cerita saya ^^
kalau tidak, beri saya kritik yang membangun ya ^^
tapi, tetap beri saya review ya, biar saya tahu. Dan jangan lupa fav dan follow, kalau anda sekalian mau.
Sekian dari saya, ciaossu~!
