~White Lie, Black Love~…

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story


Chapter 2: Don't Wanna Know That

.

.

.

.

.

~(…*…)~

3 Months Later…

Surat Kabar Harian Tokyo,

Berita menggemparkan Kota Tokyo yang memakan proses hampir tiga bulan lebih penyelidikan—mengenai penyelundupan obat terlarang oleh perusahaan besar Sosuke Corp.—berakhir sudah. Sosuke Aizen, selaku CEO perusahaan yang bergerak di bidang eksport sake beras Jepang juga anggur berkualitas tinggi, telah terbukti bersalah sebagai pelaku pemasok obat terlarang ke dalam Jepang. Kuchiki Byakuya—sang penerus keluarga bangsawan ternama di Jepang telah dinyatakan tidak bersalah dan dilepaskan dari tahanan polisi. Namun, hukum tidak tutup mata kepada beberapa petinggi perusahaan lainnya, bagi Ichimaru Gin juga Tousen Kaname, yang terbukti turut andil dalam aksi penyelundupan besar-besaran tersebut.

Barang terlarang berupa pil obat juga kokain didapatkan Sosuke Aizen dari beberapa negara asing, seperti Cuba juga Hong Kong. Sumber penyelidikan kepolisian berpusat pada barang bukti yang ditemukan di gudang penyimpanan, sesuai dengan petunjuk misterius dari Kelompok Tengkorak—begitu yang disebutkan oleh kepala kepolisian Ukitake Juushiro. Sebuah surat yang melampirkan jumlah rekening, serta lokasi penyimpanan telah didapatkan oleh seorang anggota polisi Tokyo tepat tiga bulan yang lalu. Dengan memberikan simbol tengkorak tanpa nama pada lembaran surat, menyatakan Kelompok Tengkorak ini masih berkeliaran di Tokyo sejak kasus penggelapan dana pemerintahan yang dilakukan oleh Kariya Jin lima bulan yang lalu.

Pihak kepolisian masih mencari Kelompok Tengkorak ini, yang terbukti sebagai buronan karena mengambil uang 'kotor' dari perusahaan terkait. Selain menyisakan bukti-bukti akurat, jumlah uang haram yang diambil kelompok tersebut tidak menyisakan jejak. Masyarakat Tokyo menjuluki kelompok ini sebagai superhero atau penyelamat, walaupun perbuatan mereka melanggar hukum negara. Beberapa sumber mengatakan, bahwa uang kotor tersebut didonasikan kepada yayasan sosial juga rumah sakit untuk pengobatan bagi yang membutuhkan. Namun, kebenaran berita tersebut masih belum terbuktikan secara akurat, selain gossip yang beredar luas di media sosial. Rasa terima kasih diberikan kepada Kelompok Tengkorak di depan Perusahaan Sosuke yang sudah disegel oleh garis polisi—pemberian karangan bunga dari kelompok masyarakat yang mengatasnamakan kelompok buronan ini sebagai 'hakim jalanan' penyelamat negara. Dimanakah Kelompok Tengkorak berpihak? Apakah sebenarnya maksud dibalik aksi mereka yang melanggar hukum, juga menegakkan keadilan di tengah-tengah Kota Tokyo?

.

.

.

.

.

.

.

Rukia bergerak gelisah dalam duduknya, sesekali merapikan roknya yang sama sekali tidak berkerut. Hanya gugup, menunggu panggilan yang terlalu lama hingga sudah berlalu sepuluh menit lebih. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, memerhatikan orang yang sesekali lewat dengan kesibukan masing-masing. Wanita itu—yang sekarang hilang entah kemana, meninggalkannya sendirian duduk di samping pintu besar. Masih tertutup rapat, pintu itu seakan menolak kedatangan dirinya.

"Kuchiki Rukia?" Seseorang memanggilnya, dari arah pintu itu. Kepalanya keluar, menelisik lorong dan menemukan gadis mungil itu masih duduk di tempat yang sama. "Kau boleh masuk sekarang."

"Ah—baik." Rukia buru-buru berdiri, sekali lagi merapikan rok hitam ketatnya. Kemeja putih, rok hitam, juga heels pendek. Sempurna bagi calon pegawai suatu perusahaan ternama.

Wanita itu—sekretaris direktur perusahaan Kurosaki—membukakan pintu untuknya. Dia lebih tinggi dari Rukia, dengan rambut hitam yang dicepol rapi. Kacamatanya sesekali dinaikkan lebih tinggi karena melorot. Tipe ideal untuk seorang sekretaris, tidak seperti dirinya.

"Kurosaki-san menunggumu di dalam," ucap wanita itu, berhenti di depan pintu di pojok ruangan. "Aku akan meninggalkanmu mulai dari sini dan—semoga berhasil." Dia tersenyum sebelum membukakan pintunya, hanya menyisakan sedikit ruang. "Masuklah."

"Terima kasih, Nanao-san." Rukia mengangguk gugup dan membuka pintu lebih lebar. Sebuah ruangan sederhana dengan perabot yang didominasi hitam juga putih. Dan jingga menyala, tepat di tengah-tengah ruangan. Gadis itu mengerjap bingung, menyadari itu adalah rambut seorang pria yang terduduk sambil mengerjakan sesuatu di layar komputer besarnya.

"Per…permisi," ucap Rukia, berusaha menarik perhatian pria itu, yang akan menjadi bosnya. Sang pemimpin perusahaan—Kurosaki muda.

Kurosaki Ichigo, salah satu yang langka di bumi sebelah timur. Pria muda berwawasan luas, berpikir kritis namun sedikit angkuh, dan pemilik nama Kurosaki yang bukanlah sekedar nama keluarga besar di Tokyo. Ichigo memimpin Perusahaan Zangetsu—anak dari Kurosaki corp.—yang bergerak di bidang desain grafis dan percetakan. Terlibat kerjasama dalam beberapa proyek besar, salah satunya adalah majalah ternama 'Fashion Mode: S and Q'dan 'Tokyo Post'.

Kini, Rukia berdiri di depannya, salah satu dari daftar lima puluh besar pria berpengaruh di Jepang. Semakin gugup mendengar detak jantungnya berdebar di atas rata-rata, melihat wajah sedikit tirus dan hidung mancungnya. Pria itu, tidak hanya diberkahi bakat dalam dunia bisnis dan desain, namun ketampanan fisik yang mampu membuat wanita bertekuk lutut. Minus—kerutan di tengah dahinya.

"Duduklah." Ichigo berbicara singkat tanpa mengangkat wajahnya dari layar komputer, terlalu serius.

Rukia hanya bisa mematuhinya, duduk di depan meja kerjanya. Dia hampir mendengus, saat pria itu sama sekali tidak memandangnya.

Keheningan terasa seperti mencekik leher gadis itu, selain bunyi 'klik' berulang-ulang dari mouse di tangan Ichigo. Dia begitu sibuk memberikan koreksi akhir di salah satu layer Illustrator—mengisi detail kosong pada lembaran desain sampul majalah. Hasil perfeksionis selalu menjadi moto yang dipegangnya selama bekerja.

Rukia hampir berdeham, namun segera diurungkannya, ketika mata pria di depannya menatap dirinya. Di balik rambut jingga yang hampir menutupi mata saat menunduk—setajam predator menatap mangsanya. Hanya saja, dia tersenyum seakan mempermainkan suasana tegangnya. Rukia sedikit tersedak napasnya.

"Kuchiki Rukia—adik dari penerus muda keluarga bangsawan Kuchiki? Salah satu lulusan terbaik dari Institut Seni Tokyo," gumam Ichigo, mengetukkan jarinya di atas lembaran kertas yang merupakan CV milik Rukia. Dia tidak membacanya, lebih tepatnya menghapal di luar kepala. "Hampir mendapatkan nilai sempurna, dengan CAI 3,85. Pernah menjadi pegawai magang di Perusahaan Shiba—oh, Shiba Desain Produk yang itu? Juga mengerjakan beberapa proyek freelance web desain. Memuaskan, tapi tidak untukku."

Rukia mengerjap tiga kali, menandakan gadis itu tidak menyetujui kata-kata pria itu. "Maaf?"

"Yang kubutuhkan bukanlah robot untuk bekerja, tapi seorang desainer," lanjut Ichigo sambil bersandar di punggung kursi nyamannya. Rukia bisa melihat sedikit sosoknya, yang tidak terhalang dari layar komputer. Dia hanya memakai kemeja hitam tanpa dasi. "Di samping pengalaman kerjamu yang sebagai nilai tambah, aku tidak butuh nilai sempurna untuk seseorang yang siap masuk ke dalam timku. Perusahaan ini bukanlah perusahaan besar yang memiliki gedung sepuluh lantai. Bisa dibilang ini perusahaan kecil yang berfokus pada seni suatu pekerjaan, bukan menanti hasil materinya. Kita tidak akan bisa bertahan hidup bila hanya memikirkan pendapatan dan pengeluaran, bukan?"

Rukia bingung antara ingin mengangguk atau tidak. Akhirnya gadis itu hanya bisa menatap bisu dengan kepala seperti batu remuk.

"Jadi, aku menunggu hasil yang sebenarnya darimu, bukan yang terlampir pada selembar kertas HVS. Jam kerja produktif dimulai dari jam sembilan pagi hingga lima sore. Tidak datang terlambat dan selalu membawa kartu pengenalmu. Selalu melapor padaku di setiap proses proyek yang kau kerjakan. Dan—aku tidak mementingkan baju apa yang kau pakai."

Lagi, Rukia mengerjap bingung. "Apa…maksud anda?"

Ichigo mendesah, sambil menunjuk calon pekerja barunya. "Kau terlalu kaku—sangat kaku, juga tidak berselera? Kemeja dan rok hitam selutut, juga stocking dan heels. Kau akan bekerja untukku, bukan gadis yang menyiapkan rapat besar perusahaan ataupun yang merutuki nasib sambil meminum sake setelah lembur bekerja dan digoda pria hidung belang untuk memuaskan nafsu di dalam motel murahan."

Rukia menganga dengan mata terbelalak. Pria di depannya bukanlah sosok yang pernah dibayangkannya sebelum memasuki gedung dua lantai berlapis kaca—lebih mirip seperti pesawat alien. "Kau…serius?"

Ichigo tertawa, melihat reaksi gadis itu yang berubah drastis. "Hanya memastikan kau masih memiliki nilai seni yang tinggi. Di samping Keluarga Kuchiki yang terhormat, aku tidak ingin melihat caramu berbicara layaknya putri bangsawan di zaman Edo. Ini abad 21, demi malaikat kematian!"

"Pertama, saya hanya mematuhi standar peraturan pegawai perusahaan, bukan untuk memuaskan penilaianmu pada setiap calon pegawai yang memakai pakaian terlalu rapi, Kurosaki-san. Ini masalah tata krama di dalam masyarakat. Aku yakin anda pernah mempelajarinya sebelum ini. Dan—kau tahu, aku sama sekali tidak meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Seni adalah segalanya untukku dan kau tidak bisa menilainya hanya dari cara bagaimana orang itu berpakaian!" Rukia membalas, perlahan kesopanannya berubah menjadi keeogisan dirinya untuk memaki. Dia menggertakkan giginya untuk menahan amarah, tidak peduli lagi apakah akan diterima di perusahaan ternama ini atau tidak. Mungkin, kakak perempuannya akan kecewa dan kakak iparnya kembali mengguruinya soal sopan santun dan cara berbicara 'ala Kuchiki' yang berwibawa. Yang sangat dia inginkan sekarang adalah berteriak dan keluar dari gedung ini secepat kakinya berlari.

"Baiklah, kau bekerja mulai hari ini, Rukia." Ichigo tersenyum puas, menyodorkan map coklat ke arahnya. "Dan ini proyek untukmu. Selesaikan sebelum jam lima, karena aku tidak ingin lembur hari ini."

Pertama kalinya untuk gadis itu, merasakan sesuatu seakan menghantam kepalanya terlalu keras. Rasanya seperti berdiri terbalik karena medan magnet berputar arah, juga merasakan sinar matahari yang membekukan kulitnya. Semuanya terasa tidak normal. Ini—hari terburuk yang pernah ada.

"Satu hal," tambah Ichigo, menahan mapnya saat Rukia akan menariknya. "Kupikir kau tidak akan memakai stocking-nya lagi, Rukia?"

.

.

.

.

.

Delapan hari berlalu, delapan kali merasakan apa yang namanya penderitaan. Bukan merasakan bahwa kiamat akan segera datang dan hujan meteor terjadi. Ini lebih seperti dikejar sepasukan kuda liar yang berlari tak tentu arah, juga dihantui oleh bayangan di balik dinding kaca. Rukia bersumpah untuk tidak keluar dari perusahaan itu, di samping kakaknya sangat mendukung posisinya sebagai salah satu tim utama Perusahaan Desain Zangetsu. Menemukan pekerjaan yang tepat bukanlah hal mudah, bila tidak diikuti oleh faktor keberuntungan. Dalam kasusnya adalah faktor pembawa sial.

Mengerjakan tugasnya tidak sesulit yang dibayangkan, namun tantangannya terjadi setelah itu. Saat kakinya menapaki karpet di ruangan kepala perusahaan. Ketika mata pria itu mulai memicing tajam dan seringaiannya melebar seperti hampir merobek wajahnya. Pekerjaannya ditolak mentah-mentah, ditambah melakukan perbaikan dari awal yang hanya disisakan waktu kurang dari tiga jam. Kepalanya seakan mau meledak.

Dari sekian banyak keluhan yang bersarang di otaknya, Rukia menyadari ada sesuatu yang lain di balik keseriusan Ichigo. Pria itu menyembunyikan sesuatu, sesekali menghantui dirinya. Selama gadis itu bekerja, Ichigo sama sekali tidak mengeluh akan keterlambatan pemeriksaan proyek yang dikerjakannya, juga dari cara Rukia bersikap. Sedikit kasar dalam arti menggeram dan memelototi bosnya, namun itu tidak ditanggapi dingin oleh Ichigo. Sebaliknya, sesekali pria itu tertawa mengejek dan memberikan sebutan khusus untuknya. Kucing manis ataupun cream cheese. Entah apa maksudnya, membuat Rukia mengernyit tidak suka.

Di samping semua itu, pekerjaan tetaplah bagian yang sangat diutamakan oleh Ichigo. Pria itu serius dalam menilai, bahkan sesekali memaki orang setimnya. Itu terjadi pada salah satu rekan Rukia—Abarai Renji—si pria sangar berambut merah seterang cherry, seringkali lupa untuk menyimpan file cadangan berupa pdf. (1) Sungguh berbeda bagi Rukia, yang tidak pernah mendapat teriakan di depan wajahnya. Hanya mengkerut masam bila pekerjaannya tidak sesuai dengan standar penilaian si bos.

Dan sekarang tangannya bergerak layaknya bayangan percepatan empat kali lipat, memegang mouse-pen yang menggambar secara tak langsung di atas layar tablet hitam—terhubung langsung di depan layar komputer kerjanya. Ini ketiga kalinya Rukia mengulang proyek khusus untuk sebuah iklan makanan ternama. Sedikit ragu saat akan menerima pekerjaan besar dari tangan bosnya sebelum ini. Namun dia mendapatkan sebuah senyuman menusuk tulang iganya—terarah langsung ke jantung yang berdetak tidak karuan—ketika Ichigo mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya, ini terlalu berakhir buruk.

Rukia mendesah lega, saat tombol save telah ditekannya. Tinggal menunggu gambar perencanaannya masuk ke dalam folder utama untuk segera diperiksa Ichigo. Berharap kali ini dia tidak akan menolak idenya, untuk kesekian kalinya.

Matanya menyipit, ketika melihat jam di ujung bawah kanan layar komputer. Pukul enam sore lebih lima menit. Rukia terkesiap dan bangun dari kursinya seperti terkena serangan listrik. Ruang kerja yang dihuni oleh enam orang pekerja itu sudah kosong, menyisakan dirinya juga layar yang masih menyala. Dia memaki dalam hati, sebelum segera berlari ke arah ruangan Ichigo. Rukia bersumpah akan mencekik leher Renji, karena tidak menegurnya saat jam pulang kantor sudah melewati waktunya.

Rukia berlari menelusuri lorong, terengah saat berhenti di ruangan yang paling sering dikunjunginya. Pintunya tertutup rapat dan tidak terdengar suara apapun dari dalam. Kemungkinan besar Nanao sang sekretaris sudah pulang sejam yang lalu, begitu pula dengan bosnya. Ichigo tidak mungkin ada di sana untuk menunggu, pikir Rukia.

Perlahan dia membuka pintu, sekedar untuk memeriksa. Ruangan kecil milik Nanao terlihat hening dan kosong. Tidak ada suara dengungan komputer ataupun bunyi telepon yang terdengar nyaring memekikkan tiap menitnya.

Matanya jatuh ke arah pintu di pojok ruangan, mengarah langsung pada ruang kerja Ichigo. Menggigit bibirnya menahan ketakutan dalam hati, Rukia menarik pegangan pintunya. Dia yakin akan mendapat ceramah panjang mengenai pengumpulan tepat waktu dan jam kerja produktif dari si bos kepala jingga.

Kepalanya masuk, menemukan matahari sore di balik dinding kacanya. Sinarnya menerangi ruangan gelap tanpa lampu, mengisi warna lain selain hitam dan putih. Juga layar komputer besarnya yang masih menyala, ditambah sosok pria itu yang menyerupai patung karya Michelangelo. Ichigo duduk di kursinya, bertopang dagu sambil menggerakkan mouse-nya tanpa beban. Matanya tertuju pada layar komputer, diisi kerutan di atas alisnya yang menukik tajam.

"Kau terlambat," ucap Ichigo, membuat Rukia semakin gugup dan punggungnya menubruk pintu yang sudah tertutup di belakangnya.

Dia masih menunggu, dalam kesabaran yang tidak bisa ditebak. Rukia ragu kalau pria itu tidak marah padanya.

"Kupikir…kau sudah pulang, Kurosaki-san."

Ichigo mengalihkan pandangannya, kali ini menatap Rukia tanpa menggeser wajahnya. "Dan di sinilah aku sekarang."

"Ini sudah lewat dari jam pulang kerja, kupikir—"

"Kau pikir aku akan meninggalkanmu sendirian dan melupakan proyek yang harus diserahkan dua hari lagi? Kau salah satu orang yang mengisi jabatan di tim kepercayaanku, Rukia. Kita bekerja dalam kelompok, bukan secara individualis."

"Dan kau tidak…marah?" Kata terakhir dibisikkan Rukia, hampir menyamai kesunyian angin berhembus.

Ichigo menaikkan sebelah alisnya terlalu tinggi. "Kau ingin aku memarahimu?"

Sekarang gadis itu tidak bisa membedakan, mana kebiasaan yang bersatu dalam moral masyarakat dan mana ketidakwajaran dalam bertindak rasional. Ichigo tidak berpihak pada salah satunya. Kepribadiannya sangat sulit untuk ditebak dengan sebelah mata.

"Dengan pekerjaan yang terlambat diserahkan untuk kau periksa—mungkin?"

"Juga mengesampingkan bahwa pekerjaanmu cukup memuaskanku, Rukia?"

Gadis itu terbelalak lebar, terkejut karena mendapatkan pujian terbaik yang pernah diterimanya. Dari satu makhluk yang lebih menyerupai hyena daripada singa bersurai lebat. "Be…benarkah?"

"Masih harus diperbaiki dalam pemilihan jenis font juga warna detailnya. Kupikir kau tidak perlu memakai hitam sebagai penegasnya." Sebelah tangan Ichigo mengusap dagunya, menandakan dirinya yang penuh perhitungan. "Lanjutkan dalam setting siap percetakan, sebelum melapor padaku besok siang. Nanao-san akan mengirimkan ke bagian percetakan segera."

"Baiklah," jawab Rukia singkat.

"Dan aku ingin bertanya padamu," lanjut Ichigo menahan Rukia yang hampir beranjak pergi. "Sebelum kau pulang, ada waktu sebentar?"

"Tentu—mengenai apa?"

Ichigo bersandar dan mengerang saat meregangkan tangannya di atas kepalanya. Tubuhnya terlalu kaku karena seharian duduk dalam posisi yang sama. "Bukan hal penting, hanya ingin meminta pendapatmu pribadi." Sekarang dia melipat tangannya di atas meja, tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Rukia. "Apa yang akan kau pilih—harga diri atau keadilan?"

Kini Rukia bingung, berusaha mengartikan pertanyaannya yang seperti kode rahasia. "Ini tentang apa? Aku tidak mengerti, Kurosaki-san."

"Ini sudah termasuk di luar jam kerja, jadi panggil aku dengan sebutan yang bukanlah formalitas, Rukia. Kau boleh memanggilku Ichigo."

Walaupun pemimpin perusahaan ini masih terbilang muda dan hanya terpaut empat tahun dari Rukia, tapi tidak menutup kemungkinan seorang Kuchiki tetap mempertahankan etiket sopan santunnya. Rukia mengerutkan dahinya tidak suka, saat pria itu mulai melanggar batas di antara mereka. "Tapi, ini masih di dalam kantor. Dan kau masih menjadi atasanku selama aku masih membawa tanda pengenalku, Kurosaki-san." Tangannya melambaikan name-tag yang dikalungkan di lehernya—identitas pegawai.

"Kau sungguh keras kepala," cibir Ichigo, menyipitkan matanya tidak suka. "Baiklah, terserah padamu, Kuchiki. Jadi, apa jawabanmu?"

"Haruskah aku menjawab?"

"Ini masih di kantor dan ruang kerjaku, jadi kau masih memiliki tanggung jawab untuk menjawab pertanyaanku," balas Ichigo bersikeras.

Rukia mendesah lelah, memutar bola matanya. "Harga diri masih berhubungan dengan keegoisan dan kesombongan, namun juga mempertahankan nama baik di hadapan orang banyak. Keadilan bisa dimiliki siapapun dengan pemikiran subjektif, kecuali bila ada hukum yang turut campur. Sesuatu yang buruk bisa dikatakan sebagai keadilan bila orang tertentu memandangnya demikian. Semuanya bergantung kepada pemikiran rasional, jadi aku tidak bisa memutuskan di antara dua pilihan."

"Kuchiki yang kukenal lebih berpihak pada harga diri, tapi tidak dengan dirimu. Kuchiki—keturunan bangsawan yang selalu berada di atas, pernahkah memikirkan keadilan untuk bertahan hidup?"

"Aku tidak tahu darimana kau berpikir seorang Kuchiki terlalu sombong untuk merendah, Kurosaki-san. Nii-sama sama sekali tidak pernah menutup matanya pada keburukan di sekitarnya. Walaupun, aku hanya memakai nama Kuchiki sebagai keturunan yang tidak murni, tapi tak ada keraguan aku tetap menghargai kewibawaan mereka." Rukia mengangkat dagunya sedikit tinggi, menunjukkan dirinya sedikit serius memaparkan kebersihan nama Kuchiki.

"Aku berasumsi bahwa Byakuya belum pernah menunjukkan keburukan di balik kesempurnaan, Rukia. Tidak ada yang tidak cacat dalam dunia ini. Dimanapun kau bernapas, selalu ada kotoran yang meninggalkan jejak di atas kulitmu." Ichigo menjelaskan, tanpa ada nada canda di sela-sela napasnya. Matanya memicing serius. "Aku sarankan kau untuk berpikir lebih jauh."

Rukia terdiam, menghadapi Ichigo yang sekarang hampir menyatu dalam kegelapan malam. Matahari sudah tenggelam di garis cakrawala, menyisakan sinarnya yang terpatri pada awan abu-abu di atas langit gelap. Cahaya komputer menyisakan sedikit bercak bayangan, di garis tinggi tulang pipinya. Rukia menahan napas, saat Ichigo bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya.

Pria itu berjalan santai ke arah pintu keluar, melewati Rukia yang masih tertegun diam. Jemarinya tak sengaja menyentuh lengan atasnya yang telanjang, memberikan sensasi gelitik di perut gadis itu. Bulu kuduknya berdiri, membuat kedua kakinya hampir bergetar.

"Sudah malam, perlu kuantar pulang?" tanya Ichigo kemudian, membukakan pintu untuknya.

"Tidak—aku bisa menunggu bis di halte depan kantor." Rukia buru-buru menjawab, sebelum berbalik dan berniat berlari ke ruang kerjanya—mengambil tas tanpa menoleh ke belakang. "Permisi, Kurosaki-san."

Dan Ichigo masih tertegun di sana, menatap punggung gadis itu yang mengilang di balik pintu. Matanya tidak pernah lepas, bahkan untuk beberapa menit ke depan yang diikuti suara dering ponselnya. Dia mengangkat teleponnya, tanpa bergerak banyak—hanya tangan kanan yang merogoh saku celana jeans-nya dengan sudut mulut naik di satu sisi.

.

.

.

.

.

Rukia menapaki jalan berbatu yang mengarah pada pintu depan rumahnya. Bangunan putih berlantai dua di kawasan perumahan elite, dengan lampu menyala di setiap ruangannya. Dia memerhatikan sebuah mobil asing di halaman rumahnya—Honda Accord hitam. Itu bukan milik kakak iparnya, maupun anggota Kuchiki lainnya. Sepertinya seorang tamu tak dikenal.

Rukia masuk tanpa mengetuk, hanya mengatakan 'tadaima' dan akan disambut oleh kakak perempuannya. Tapi, tidak untuk kali ini. Rumahnya hening, seakan tidak ada tanda kehidupan di ruang tengah. Dan hingga telinganya menangkap suara tawa dari ruang tamu, di bawah tangga ganda yang melingkar ke lantai dua.

Memilih pilihan antara menyambut tamu yang sedang berbincang dengan kakaknya, atau segera masuk ke kamarnya untuk menyalakan air panas di kamar mandinya. Tubuhnya butuh sesuatu untuk melemaskan otot kakunya. Juga mengusir kepenatan di dalam kepalanya—terutama yang berhubungan dengan warna jingga dan senyum congkak.

Rukia mengerang, dan disambut oleh sosok kakak perempuannya dari arah dapur. Hisana tersenyum lebar ketika melihat adik perempuannya. Rukia terlihat seperti kucing liar yang baru saja jatuh ke dalam saluran air.

"Rukia, cepat kemari!" panggil Hisana, menggerakkan sebelah tangannya dalam gerakan memanggil.

"Ada apa?" Rukia hanya menurutinya setelah tertangkap basah. Tubuhnya memprotes lebih keras di setiap langkah yang dia ambil.

"Kami sudah menunggu kedatanganmu! Kau darimana saja? Pulang lembur?"

Wajahnya kembali memanas, ketika hanya mengingat tatapan tajam Ichigo juga sentuhan tak sengaja yang di dapatnya. "Ya—mengerjakan pekerjaan yang belum selesai."

"Kau hampir menyerupai Byakuya," goda Hisana, merangkul lengan adiknya. "Ayo masuk, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan!"

"Mengenai apa?"

Pintu ruang tamu dibuka, dan di sana Byakuya duduk di sofa tengah ruangan. Di hadapannya, duduk seorang tamu yang Rukia tebak sebagai si pemilik mobil asing. Pria dengan rambut merah bata, memakai pakaian terlalu formal. Kemeja biru dongker, jas hitam, celana hitam, dan dasi putih.

"Rukia," panggil Byakuya. "Kau pulang terlambat."

"Nii-sama, ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan—"

"Baiklah, karena sekarang Rukia sudah ada di sini," potong Hisana, mendorong lembut Rukia agar duduk di sebelah Byakuya. "Tidak baik kau tidak memperkenalkannya pada Rukia, Byakuya?"

Rukia terlihat bingung, sesekali mencuri perhatian kakak perempuannya dan berganti ke arah kakak iparnya. Mereka berdua menyembunyikan sesuatu yang membuatnya penasaran sekaligus meremukkan hatinya.

"Rukia, ini Ashido Kanou." Byakuya memperkenalkan, sosok tamu asing yang kini tersenyum lembut pada gadis itu. "Dia salah satu partner bisnis Kuchiki—dan juga calon tunanganmu."

"Senang bertemu denganmu, Kuchiki Rukia," tambah Ashido, mengulurkan tangannya ke arah Rukia yang tertegun.

Semuanya mengkhianati dirinya, bahkan oksigen pun keluar serempak dari paru-parunya. Gerakannya seperti diperlambat, melihat jarum jam berdetak dan suara kakaknya yang berdengung di telinga kirinya. Juga pria itu—Ashido yang masih memasang senyum sempurna. Tidak ada cacat di wajahnya, tidak ada kekurangan di postur idealnya. Hanya saja, matanya berkata lain. Tidak sejujur dan semisterius milik Ichigo yang menyala layaknya api, namun lebih gelap dan dingin. Ibarat api yang membakar, cahaya matanya memutus harapan di dalam diri gadis itu juga membekukannya permanen. Bukan tanda bahaya yang muncul, tapi dia adalah teror.

*…...(to be continued…)…..*

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

CAI: Cumulative Achievement Index (IPK)

(1) pdf: Jenis file yang bisa ditemukan pilihannya dan dibuat dalam program tertentu di komputer. Salah satunya adalah Adobe Illustrator juga Adobe Photoshop.

Ups! Untuk pdf ini sendiri, diambil dari pengalaman pribadi. Saat pengerjaan tugas kuliah, aku diharuskan menyimpan file ai (Adobe Illustrator) juga file pdf sebagai cadangan. Ini bisa dibuka menggunakan program Adobe Reader dan AI versi apapun, bila program tersebut belum di-upgrade. :p

Wow! Chapter 2! Jujur aku sendiri ga mengerti apa yang kuketik XD. Antusias bercampur kalut karena deadline untuk event Ichiruki tinggal sebentar lagi! Jadi, kemungkinan besar aku bisa meng-update kilat (super kilat) untuk fic ini. Dan fic lainnya sementara waktu ditunda ya, gomennasai~ Jadi, harapan bagi yang berharap update kilat, permohonan kalian terkabul XD tehehehe…

Yup! Bisa ditebak siapa si raja singa yang aku maksud? Dia—Ashido Kanou! *jengjeng* Dia tokoh antagonisnya! Belum pernah aku buat Ashido di ficku dan berharap dia jadi antagonis untuk kali ini :p

Kantor Ichigo kubuat tanpa aturan ketat, berharap bisa kerja di tempat yang seperti ini TTATT.. Setelah melihat film The Internship yang super duper cool! Kantor Google yang seperti tempat impian para pegawai magang~ Dan beruntungnya Rukia bisa bekerja di tempat yang mirip seperti Google (walaupun bosnya super duper aneh) XD

Dan terima kasih banyak untuk para readers yang menyempatkan waktunya untuk membaca! Fic ini untuk kalian guys! Aku berharap ini tidak mengecewakan kalian (?) Juga terima kasih bagi reviewers yang review-reviewnya membantuku untuk penulisan fic~ Baik kritik, saran, pendapat, atau apapun itu, aku sangat menantikannya sebagai penyemangatku untuk menyelesaikan fic. Love you all~ *muach*

.

.

Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:

Guest: Terima kasih sudah mereview! Hihi…bisa ditebak disini siapa yang mencium Rukia? Sebenarnya masih misterius, tapi karena ini fic khusus untuk Ichiruki, jadi bisa ketebak kalau itu Ichigo XD Ichigo tahu Rukia karena keluarga Kuchiki adalah keluarga terpandang di Jepang, jadi hampir semua masyarakat tahu berita besar keluarga bangsawan itu. Identitas si raja singa ada di sini…fufufu.. Untuk Ichigo masih ditunda dulu ya. Ini aku update cepat, semoga tidak mengecewakan. :D

darries: Terima kasih sudah mereview~ juga untuk sukanya~ :D Yup, ada romance-nya di awal cerita, dan di sini sedikit berkurang dulu. Hahahhaa *ngakak bener* si tukang nunggak listrik XD tapi bukan dia kok musuhnya (dia udah ditangkep di chapter ini). Musuh aslinya adalah Ashido. Sudah kuupdate cepat, semoga kamu suka ya~

Guest (2): Terima kasih sudah mereview! Hehe..benarkah? Wah terima kasih banyak sudah mau membaca :3 Gapapa kok ga mereview, asal km baca aku sudah bahagia~ tehe…jadi malu #plak Terima kasih juga untuk semangatnya dan sudah kuupdate chapter ke-2~ Semoga kamu sukau :D

Ayra el Irista: Terima kasih sudah mereview juga untuk sukanya! Suka pada pandangan pertama? Hmm…bisa dibilang begitu mungkin ya XD Sebenarnya masih belum jelas perasaan Ichigo ke Rukia itu apa. Karena cerita Robin Hood aslinya pun sedikit (banget) romance yang mengarah ke perasaan, lebih seperti menggoda kali ya. Identitas Ichigo ada di sini, tapi dia bukan perampok kok :p sebagian lagi identitasnya masih dirahasiakan, nanti ada kejutan di chapter terdepan *spoiler* yang pasti bukan agen kaya Black Rosette XD Ini sudah kuupdate chapter 2 nya, semoga kamu suka ya~

Playlist (as always):

Ed Sheeran: Give Me Love

Chris Brown feat Rihanna: Turn Up The Music (remix)

Ellie Goulding: Bittersweet, Love Me Like You Do

Luke Bryan: Play It Again

Lea Michelle: On My Way

These songs don't belong to me…