Hello, minna-san !

zeroplus kembali. :D sekali lagi hanya untuk mengingatkan saya masih baru dan payah. Seperti fic yang dulu, alur saya tetap 'crack' but i wish you guys enjoy this and keep reading :)

nb: dichapter 2 ini ada beberapa bahasa yg ga indah (alias kasar) mohon diampuni ya.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Shikamaru Nara/Ino Yamanaka

Warning : Too much failure inside, watch out dear!


Previously

"Pergilah dariku, mendokusai onna—"

"Apa..?"

"Pergilah dariku.."

"Kau cukup katakan padaku, dimana Yamanaka Ino ?"

"Dia sudah pergi—

Pergi?—Yamanaka Ino pergi?—kemana?

.o0O0o.


Misty-Eyed : Cosmos and The Sake

A songfic inspiration "Breathe by Taylor Swift"

.

.

.

Never wanted this, never wanna see you hurt.
Every little bump in the road I tried to swerve.
But people are people,
And sometimes it doesn't work out,
Nothing we say is gonna save us from the fall out.

.

.

Nara Shikamaru kacau. Langkahnya kacau. Mimik wajahnya kacau.

Pria itu terlihat hancur.

Setelah mereguk sake berkali-kali—tapi sialnya, dia belum mabuk secara sempurna. Ia sangat ingin mabuk sempurna. Melupakan semua rasa sakit dan penyesalan dihatinya. Tapi yang ada malah hatinya semakin remuk. Belum usai masalah amanat dari orang-orang yang sudah mendahuluinya. Dan kini? beban itu bertambah—sesak—hanya sesak.

"Kau sialan, Yamanaka Ino," racaunya.

Air matanya menetes lagi. Cengeng. Tertawalah, karena pria berharga diri tinggi ini kini telah menangis. Tak bisa lagi dia tutupi. Dia menangis. Menangisi kesalahannya. Penyesalan memang diciptakan tuhan diakhir. Dan penyesalan selalu datang disaat semuanya sudah terlambat. Dan persetan dengan harga diri.

Cobalah untuk tertawa dengan gaya sarkatis mu itu !

Hahahaahaha..

Tidak bisa. Padahal biasanya bisa, karena tawa sarkatisnya itu selalu membentuk tembok tebal penutup mentalnya yang payah—Topeng penyamaran terbaiknya. Tapi kini—tertawa hanya akan semakin menyayat batinnya. Kenapa? kenapa tuhan selalu membuat orang-orang yang disayanginya menjauh darinya. Dan kali ini, gadis bodoh itu..

"SIALAN ! KAU SIALAN INO!" Teriak Shikamaru kasar. Menendang apapun yang dihadapannya. Sampah, botol, kayu-kayu bekas perang yang berserakan dijalanan. Ditendangnya semua yang menghalangi langkahnya. Meluapkan kesalnya.

Kiba berjalan perlahan dibelakang Shikamaru.

Tenggelam dalam keheningan mencekat.

Kiba memang sudah mengawasi pria itu sejak dia mulai mabuk. Setelah dia menceritakan kenyataan yang terjadi. Setelah itu menemani Shikamaru minum sake. Jangan ditanya, wajah Kiba pun juga ikut menyedihkan. Berjalan perlahan—dengan beberapa bulir air mata yang keluar dari matannya. Dan bolak-balik membenarkan langkah edan sang sahabat. Seperti orang bodoh saja. Bodoh memang, melihat salah satu sahabatnya tak berdaya seperti itu tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Bodoh memang, karena Ia tak bisa menghentikan gadis itu untuk pergi. Gadis itu….gadis yang selalu membuatnya berbunga-bunga. Dan kini…?

Ironis !

.o0O0o.


And we know it's never simple,
Never easy.
Never a clean break, no one here to save me.
You're the only thing I know like the back of my hand,
And I can't,
Breathe,
Without you,
But I have to,
Breathe,
Without you,
But I have to.


.o0O0o.

Bagi Ino, inilah surga !

Berhektar-hektar permadani warna-warni membalut pemandangannya. Diatasnya tumbuh bunga Kosmos yang tak terhitung jumlahnya. Warna-warni. Kumpulan bunga-bunga kosmos itu terlihat seperti surga. Yep! Surga..bunga kosmos itu dengan cantik mengitarinya. Menyegarkan. Gadis berambut pirang itu dengan riangnya berlari-lari dipadang bunga itu. Haha…kau seperti tuan Puteri didongeng-dongeng ya? Ino tersenyum. Berlari lagi.. tanpa beban.

Bunga Kosmos itu memiliki makna yang sederhana 'Beautiful Cosmic'. Karena mereka dapat tumbuh serentak dengan besar kelopak dan warna yang berbeda. Indah. Walaupun itu-pula yang membuat para florist kurang menyukai keberagaman kelewatan bunga ini. Bunga Kosmos tidak se-spesial bunga mawar ataupun bunga sakura dan bunga-bunga cantik lainnya. Tidak terlalu spesial memang. Tapi Ino sangat menyukai bunga ini. Bunga kosmos juga bukan bunga yang kuat—dan bukan juga bunga yang lemah. Seperti seorang Yamanaka Ino, kan—? Bunga Yamanaka Ino..

"Hahaha…aku ini bukan bunga !"

Tiba-tiba gadis cantik bernama Ino itu bersuara, tawanya renyah sekali. Kemudian tersenyum dengan cantiknya. Terduduk dengan manis dihamparan padang bunga itu. Tangannya menjulur mengelus bunga Kosmos berwarna ungu disampingnya. Halus dan menentramkan—ugh… Sesak ini datang lagi. Kenapa dadanya selalu sesak belakangan ini. Sesak sekali, hatinya terasa tercekik. Anehnya itu bukanlah penyakit. Lalu apa?—Mungkinkah Shikamaru. Dan mungkinkah semua orang-orang yang sudah meninggalkanya. Ayah, guru, ibu dan teman-temannya?Alasan mengapa Ia tidak bisa tenang.

Gadis itu terdiam cukup lama—satu per satu air matanya keluar. Berkilauan terbias sang surya.

Diusapnya kelopak Kosmos itu—menenangkan diri. Ia teringat ikatan bunga Kosmos yang kemarin Ia bawa untuk ke pemakaman ayah mereka—Inoichi dan Shikaku. Tapi malah dia buang seenaknya—karena kesal dengan tingkah bodoh Shikamaru. Semakin dipikir, Ino semakin merasa tidak enak pada bunga-bunga disekelilingnya. Terlebih pada para almarhum yang telah pergi meninggalkan Konoha. Ayahnya—Ayah Shikamaru—Neji—Naruto—Chouji—Ah! tidak terhitung.

Ditatapi bunga Kosmos ungu itu. Tak tega untuk memetiknya.

"Kau tahu—

"Aku harap aku adalah bunga !" Gumamnya sangat pelan.

"Aku harap aku adalah bunga, yang tidak perlu memikirkan apapun. Yang tidak perlu merasakan apapun. Yang bisa bersama teman-teman dalam hidup dan matinya. Aku harap aku adalah bunga—

"Yang tidak perlu merasakan sesak seperti ini,"

Lagi. Perlahan air mata itu kembali jatuh. Membasahi kelopak bunga Kosmos ungu itu. Seandainya, ini adalah Negara dongeng. Dengan melihat ketulusannya, pasti tuhan akan mengabulkan permintaannya itu. Merubahnya menjadi sebuah bunga cantik dan tidak memiliki hati. Tapi bisakah tuhan merubahnya sekarang—Karena Ino tidak tahan lagi. Bisakah—

Gadis itu kembali menangis. Menutupi wajahnya dengan tangannya. Cengeng. Malu pada ribuan bunga Kosmos yang kini sedang menontonnya. Malu pada angin yang terus-menerus membelai rambutnya. Malu pada komitmen yang telah ia buat untuk menjadi kuat. Malu pada Shikamaru juga…

Andai, aku bisa jadi bunga..

Andai kita bisa jadi bunga, Shikamaru..

.o0O0o.


It's two a.m.
Feelin' like I just lost a friend.
Hope you know it's not easy, easy for me.
It's two a.m.
Feelin' like I just lost a friend.
Hope you know this ain't easy, easy for me.


.o0O0o.

Terlambat kah..

Terlambat? Entahlah, hanya tuhan yang tahu. Semua keterlambatan akan sesal itu normal. Tapi bagi yang merasakan, rasanya pasti tidaklah normal. Bagaikan manusia gagal, hati yang ngilu—air mata yang belum mengering—dan senyuman yang membeku. Semua terasa pahit. Tapi hidup itu juga terdiri dari kepahitan kan? Dan percayalah jika ada sisi-pahit maka aka nada pula sisi yang manis. Bukankah itu terdengar Bullshit ? entahlah—

"Kau benar-benar bodoh, Yamanaka Ino," Glek! Direngguknya sake itu. Mengalir perlahan membakar kerongkongannya. Berulang-kali pria itu mengumpat kasar. Memaki seorang gadis yang kini tidak ada dihadapannya lagi. Kemana sebenarnya gadis itu—hanya tuhan yang tahu.

"Bodoh ! Bodoh !" PRANG! Berserakan, beling-beling dari botol sake yang baru saja ia minum. Matanya panas. Hatinya pun tak mau kalah—Merutuki kebodohannya.

Ino itu pura-pura kuat, kenapa tidak ia layani saja kepalsuannya ?

Ino itu pura-pura ceria, kenapa tidak ia layani saja kebodohannya ?

Mata Shikamaru terpejam. Baru kali ini, dia menyadari betapa sesaknya hidupnya tanpa kehadiran nona Yamanaka itu. Gadis yang biasanya cerewet berkomentar-ini-itu, biasanya tersenyum padanya, biasanya membawakan ia makanan, biasanya peduli padanya. Satu-satunya gadis yang selalu menemaninya dikala masa tersulitnya kini sudah tidak ada dihadapannya. Dulu, Ia selalu merutuki ke-munafikan Ino. Dan sekarang dialah yang haus akan itu. Ironis sekali. Munafik !

"Maaf, Ino. Maafkan aku. Kembalilah padaku…hiks !" Tangis Shikamaru pecah.

Pria itu berlutut. Serpihan beling dari botol sake itu pun dengan tega menambah lukanya. Menusuki lututnya. Perih? Itu biasa. Rasa sakit dihatinya lebih besar. Kecewanya lebih besar. Daripada luka fisik. Hatinya jauh lebih sakit. Lagipula, minta-maaf seperti apapun akankah itu ada gunanya? Setelah apa yang Ia lakukan. Mengabaikan gadis itu untuk ke-egoisannya.

"Kembalilah kepadaku, Ino…"

Diremasnya dadanya yang sakit. Mempertanyakan peluang yang muncul. Dua peluang. Hanya ada dua: Jika diibaratkan bagaikan antara Surga dan Neraka. Satu peluang itu akan membuahkan hasil yang bahagia—Surga. Dan peluang lainnya akan memberimu hasil akan rasa sakit—Neraka.

Jadi Surga-kah yang akan menghampiri pria itu—Atau mungkin Neraka?

Tidak ada yang tahu.

I can't, Breathe,
Without you, But I have to,
Breathe, Without you—But I have to.

To be continue..

.o0O0o.


Celotehan zero:

Terima kasih banyak untuk Shikaino Family yang selalu ada meramaikan mention zero dengan keanehan dan keunyuan mereka :* i love you guys so freakin' much. Maaf kalo zero tidak mention username kalian satu-satu disini. Pokoknya zero mencintai kalian semua, kalian luar biasa dan awesomeh!

Dan ayo difollow akun ini - /SHIKAINO_FC

Supaya fans-fans shikaino seantero indonesia bisa bersatu teguh gitu. :D /khayal/

Satu lagi, tak lupa zero berterima kasih untuk reader, untuk silent reader ataupun sudah mau meluangkan waktunya untuk baca fic crack ini. nyahahaha (jangan malu2 untuk hajar zero di review box) XD zero juga ga begitu bakat untuk menulis. jadi tolong reviewnya supaya zero bisa berbenah diri ya (yang pedas jg gpp kok)! :)

i love you all, Shikaino family :))

zeroplus

XOXO