Prince of The Dream
Cast :
Kim Jong In
Oh Se Hun
Genre : School-Life, Romance, Lil Bit Fantasy, FriendShip
PG : 15+
Rated : T+
Lenght : [Prolog] [Book 1 A] [Book 2]
, Warn! Sexual Contents, Not Recommend for Childs...
Lets Read it!
Enjoy...
'Kau dihadapanku. Rasa takut entah kenapa terasa selalu mengalah dengan sebuah keberanian. Keberanian untuk kian dekat dan ingin dilindungi olehmu. Bukankah aku sungguh brengsek dan pengecut? Ah, kura-kura dalam mimpiku juga menjadi alasannya aku ingin mendekat padamu. Entah kau memang 'dia' ataukah sosok sama namun berbeda. Namun untuk saat ini, terima kasih atas janji dan pertolonganmu. Entah hingga kapan seperti ini. Dan yang pasti, pada akhirnya aku siap, jika kau lah 'dia'. Yang membunuhku secara perlahan, dengan caramu yang sangat spesial...'
.
.
.
.
.
"Hai, namaku Eiden atau kau bisa memanggilku Oh Se Hun. Salam kenal, Jong In..."
Dengan gaya ogah-ogahan khasnya, Jong In menoleh perlahan ke araha Se Hun. Menatap intens murid pindahan baru itu.
"Se-sebentar! Sepertinya aku pernah melihatmu. Dimana, ya?" Jong In bergumam pelan sembari mengamati lekat-lekat paras rupawan Se Hun. Sehingga dahi sang pemilik sedikit berkerut karena merasa kebingungan dengan tingkah Jong In.
Iris Biru tua, kulit seputih susu, dan tubuh tinggi. Dan jangan lupakan dua taring kecil di sisi giginya. Alisnya yang sedikit menukik tajam bak mata elang, ...
"Bukankah kau..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Seorang laki-laki yang ada dalam mimpiku?"
"Pardon? Laki-laki apa tadi?" mata Jong In membulat. Ia benar-benar keceplosan.
"Ah, tidak! Lupakan saja!"
"Kenapa kau sangat aneh? Apa aku berbuat salah padamu?"
"Ti-"
"Jong In, Se Hun, Saya beri pilihan. Mendengarkan atau keluar dari kelas!"
"Maaf Saem," / "Ya, Saem,"
.
.
.
"Jong In? Apa kau ingin ke tempat biasanya?" Kyung Soo dengan kotak bekal makanan yang berada di tangannya mulai menuju ke bangku Jong In dan Se Hun.
"Oh, hai! Oh Se Hun, kenalkan aku Kyung Soo. Do Kyung Soo," tangannya terulur. Mencoba berkenalan dengan Se Hun yang entah kenapa tiba-tiba membuat Jong In muak melihatnya.
Brak!
"Ayo, Kyung!" bahkan Se Hun pun belum membalas jabat tangan Kyung Soo, tetapi Jong In yang dengan seenak jidatnya langsung menarik tangan Kyung Soo. Mengajaknya berjalan cepat menuju atap sekolah. Mau tidak mau, Se Hun penasaran akan tindakan Jong In yang membuatnya terkejut.
"Apa sebaiknya aku mengikuti mereka saja? Tapi apa-apaan dia? Aku tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan aku hanya diam sejak tadi," dengan cepat ia berdiri. Mulai berlari keluar kelas dan mengikuti Kyung Soo dan Jong In.
Brak!
"Kyung, aku ingin bicara padamu,"
"Apa itu tentang Oh Se Hun? Kurasa aku pernah melihatnya. Tapi dimana, ya?" Kyung Soo diam sebentar.
"Ia sama dengan sosok yang ada di mimpimu. Ya, aku mengingatnya!" ujar Kyung Soo sekali lagi. Dan itu membuat kepala Jong In tiba-tiba pusing. Ia benar-benar tidak menyangka jika ajal akan segera menjemputnya tak lama lagi.
"Apa aku akan benar-benar akan mati setelah ini, Kyung?"
"Entahlah. Kuharap tidak,"
Kriet!
"Mimpi apa? Kenapa harus ada aku?"
Suara yang sejak tadi membuat Jong In ketakutan pun seakan menjadi sebuah kenyataan. Dan arah suara itu terasa kuat dibalik tubuhnya yang kebetulan memang membelakangi pintu masuk atap sekolah.
"Oh, hai Oh Se Hun. Duduklah~"
'Entah kenapa kau memang harus menghadapinya, bukan menghindari dia. Belum tentu, kan?' Jong In mulai membaca pikiran Kyung Soo dan tentu itu membuat matanya kian membelalak.
'Bukalah matamu. Kurasa dia adalah penyelamatmu bukan pembunuh,'
"Ky-Kyung Soo, ak-aku harus pergi se-sekarang," Jong In berdiri. Meninggalkan Kyung Soo dan mulai melewati Se Hun yang berdiri dengan raut heran.
Grep!
"Jawab aku, Kim! Meskipun kau teman baruku, aku tak segan-segan untuk memukulmu saat ini juga. Aku juga bisa marah, oke?" ucapan Se Hun kian membuat Jong In ketakutan. Ucapan Se Hun seakan-akan memperkuat dugaan Jong In jika lelaki itu yang akan membunuhnya nanti.
"Aku tidak akan menjawabmu, jadi lepaskan aku!" dengan sekali hentakan, tangan Jong In pun langsung terlepas dari cengkraman Se Hun.
Brak!
"Sebenarnya ada apa? Kenapa ia nampak selalu ketakutan jika melihatku?" tanya Se Hun pada Kyung Soo yang hanya menatapnya geli.
"Haha, kau ingin tahu? Jong In sangat ketakutan padamu karena kau seperti sosok laki-laki yang akan membunuhnya dalam mimpi. Tapi ngomong-ngomong, aku juga merasa seperti itu," ujar Kyung Soo.
"Membunuhnya? Aku saja baru mengenalnya pagi ini. Dan untuk apa aku membunuhnya?"
"Entahlah. Yang pasti, kau harus meyakinkan Jong In jika kau bukanlah 'sosok' itu. Ya, aku hanya takut jika Jong In akan benar-benar gila tiap bertemu denganmu,"
"Baiklah. Aku akan mencobanya. Dan ya, kurasa Jong In menarik juga," Kyung Soo menggelengkan kepalanya.
"Terserah padamu Oh Se Hun. Yang jelas, Jong In mempunyai insting yang baik. Dia bahkan dapat membaca pikiranmu dengan tepat," oke, untuk itu Se Hun belum tahu.
"Terima kasih informasimu,"
Prince o' t' Dream
Pukul 2 siang, seluruh siswa telah bersiap untuk pulang. Begitu pun juga dengan Se Hun dan Jong In. Sejak kejadian di atap, Jong In masih terdiam. Bahkan ia tidak sedikit pun menatap mata Se Hun.
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan, anak-anak. Sampai jumpa~"
"Jadi, sekali lagi. Kenapa kau menjauhiku? Apa karena aku yang akan membunuhmu?" ujar Se Hun pelan.
"Shut up your mouth, bastard!" setelahnya, lagi-lagi Jong In langsung berlari keluar kelas dengan cepat. Bahkan Se Hun baru saja memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Sebenarnya apa yang salah denganku? Aish!" Se Hun sedikit tersinggung mendengar umpatan Jong In kepadanya. Tapi, rasa penasarannya mengalahkan semua. Langkah kakinya berjalan ke sembarang arah. Ia belum mau pulang.
Dan Se Hun terus berjalan hingga langkah kakinya terhenti tepat di sebuah rumah. Otomatis ia juga berhenti menggerutu ketika pandangannya bertubrukkan dengan seseorang yang membuatnya kesal.
"Kenapa kau ada disini? Ayolah, apa kau ingin menjadi stalkerku? Bahkan kau melakukannya secara terang-terangan," ujar lelaki di hadapan Se Hun dengan raut datar.
"Heh? Stalkermu? Aku juga tidak tahu, kenapa kakiku berjalan ke arah rumahmu yang sebenarnya aku tidak tahu juga jika itu rumahmu!" jawab Se Hun. Oke, kali ini berusaha untuk bersabar dengan tidak memukul kepala Jong In hingga ia pingsan.
"Lalu, kau ingin aku menyalahkan kakimu yang bodoh? Atau aku harus mengambil otakmu terlebih dahulu agar aku tahu siapa yang bersalah? Sudahlah!" Jong In mulai beranjak. Jemarinya membuka pagar dengan santai namun sebenarnya terburu-buru. Ia mulai gemetaran karena takut.
'Aku masih belum ingin mati muda!' batinnya ketika mengingat jika Se Hun adalah bahaya baginya.
"Hey, Jong In! Sebutkan apa kesalahanku dan aku akan pergi,"
"Tidurlah terlebih dahulu dan bermimpilah jika kau ingin tahu apa yang kumaksud!" ujar Jong In gamblang. Bahkan, Jong In juga tidak tahu menahu maksud ucapannya sendiri.
Setelahnya, Se Hun langsung berputar arah. Langkahnya benar kali ini. Ia ingin pulang cepat sebelum amarahnya benar-benar meledak dan ia memukul orang-orang di jalan. Ia benar-benar kesal dengan Jong In. Setidaknya itu hanya untuk sementara.
"Apa aku harus mengikuti saran Kyung Soo? Jika iya, apa yang harus kulakukan?" Se Hun bergumam pelan. Ia telah sampai di rumahnya. Sembari tangannya menggenggam gelas, tatapannya terus berputar hingga berhenti tepat pada lukisan rumah di tengah hutan.
"Heum, bukankah setelah ini akan ada liburan musim panas? Dan, Uncle Wood memiliki rumah di tengah hutan di sekitar Seoul? Bagus, Oh Se Hun! Kau memang cerdas!"
10. 01 A. M. Summer, 1 May.
"Ah, aku adalah teman baru Jong In. Sedang apa, Ayah?" ucap Se Hun pada Ayah angkat Jong In. Sedangkan beliau hanya tersenyum mendengar panggilan yang diberikan Se Hun.
Ya, Se Hun memutuskan akan mengajak Jong In berlibur berdua dengannya. Dan saat pertama kali ia berkunjung ke rumah Jong In –yang beruntung kata Ayahnya Jong In masih tertidur-, ia tahu jika sosok itu adalah ayahnya.
"Kau memanggilku Ayah? Haha, sudah sejak lama aku tidak mendengar panggilan itu lagi," ucap lelaki yang berumur sekitar 40-an itu.
"Memangnya, Jong In tidak memanggil Ayah pada Anda?" tanya Se Hun penasaran.
"Heum, apa anak itu tidak bercerita apapun padamu? Aku, adalah Ayah angkatnya. Dia memanggilku ayah tapi tidak selalu. Aku, Mr. Chris. Kedua orang tua Jong In sudah tiada sejak Jong In berumur 10 tahun akibat penembakan oleh orang asing. Mungkin Ayah Jong In telah merasakan sebuah firasat buruk yang akan terjadi padanya dan istrinya. Beruntung, ia telah membuat wasiat dan menyuruhku untuk mengadopsi Jong In. Aku dan istriku yang memang belum memiliki anak pun menerimanya dengan senang hati. Ngomong-ngomong, aku sahabat Ayahnya," ujarnya panjang lebar dan membuat Se Hun menganga. Jadi, kedua orang tua Jong In telah tiada? Dan sosok didepannya ini adalah Ayah angkatnya?
"Ah, mungkin karena Saya adalah teman barunya jadi Jong In belum terbuka," jawab Se Hun sekenanya.
"Kau bisa duduk terlebih dahulu atau segera menyusul Jong In di kamarnya. Ah, kuharap juga kau tidak terkejut karena Jong In tertidur seperti seekor beruang, haha," Se Hun pun ikut tertawa. Setelah menganggukkan kepalanya, ia segera naik. Kaki jenjangnya mulai melangkah pelan sembari menelusuri anak tangga yang melingkar.
Tok!
.
Tok!
Tak ada sahutan apapun dari dalam dan itu membuat Se Hun memaksakan dirinya untuk segera masuk ke kamar Jong In langsung. Oh, bukankah Ayah angkat Jong In berkata jika Jong In masih terlelap?
Cklek!
"Jong In?"
Dan benar saja. Disana! Di atas kasur berseprai putih terdapat gundukan besar dengan kepala yang mencuat dibalik salimut tebal. Terlihat nyaman, apalagi dalam pandangan Se Hun itu istimewa.
"Aish! Ini sudah jam 10 pagi sedangkan dia masih belum terbangun?" dengan cepat, Se Hun segera menuju ke arah Jong In yang masih tertidur pulas. Nafasnya terdengar teratur, seiring deguban keras jantung Se Hun ketika jarak tubuhnya dengan Jong In semakin dekat.
'Kenapa terlihat sangat cantik? Bibirnya yang tebal dan kulitnya yang kecoklatan, kenapa sangat menggoda?' batin Se Hun. Matanya yang beriris biru kian terang ketika menatap lekuk wajah Jong In dari dekat.
Saat itu, Jong In tengah berjalan di sekitar danau yang snagat luas. Bahkan di hari yang cukup terik itu, ia dapat melihat hewan-hewan laut dalam danau.
'Sangat indah,'
Pandangannya terus menatap kagum pada hewan-hewan itu yang ternyata adalah belasan kura-kura kecil. Ia sangat suka kura-kura sejak saat itu.
'Bagaimana, Bear? Apa kau suka dengan mereka? Asal kau tahu, mereka adalah bahaya bagimu dan bagiku,' tiba-tiba sebuah suara mengalun indah di telinganya. Bahkan ia tidak tahu perihal sebuah tangan yang meraih pinggangnya pelan. Merengkuh tubuh Jong In dari belakang dan dengan aura gelapnya.
'Si-siapa kau? Lepaskan aku!' Jong In berontak. Ia ketakutan.
'Aku? Aku masa depanmu, Jong In. Tinggallah disini bersamaku dan aku akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya padamu,' Jong In tak percaya itu.
'Jika kau ingin memberiku kebahagiaan yang sesungguhnya, lepaskan aku dan lupakan semuanya!' sosok itu terdiam sedetik berubah mengerikan seperti monster yang siap menerkam siapapun.
'Kau ingin aku melupakanmu? Shit! Untuk apa aku harus melupakanmu, Bear?' sosok itu nampak geram akan ucapan Jong In. Kemudian tangannya langsung mencengkram pingganggnya. Membuat rasa sakit keluar dari mulut Jong In.
Bibir sosok itu mulai bermain di leher jenjang Jong In. Menyesap pelan seakan leher itu menjadi candu baginya hingga terdapat bekas keunguan. Jong In mendesah pelan, tentu saja. Kenikmatan itu, siapapun juga akan mendesah jika merasakannya.
'Hent-sssikan!'
Setelah puas dengan lehernya, perlahan tubuh Jong In digiring menuju tepi danau. Jong In tak ingat, sejak kapan dirinya telah mengambang di atas danau dengan darah kebiruan keluar dari tubuhnya. Ia mati. Ya, dalam keadaan yang mengerikan.
"T-tolong aku! Astaga!" Jong In langsung terbangun tanpa menyadari Se Hun berada di sampingnya. Sedangkan matanya masih terpejam. Dadanya bergemuruh akibat mimpi buruk yang menghampirinya kembali.
Merasa ada sesuatu yang menghalangi pandangan kelamnya, mata itu langsung terbuka. Menatap lebar dan saling bertubrukkan dengan iris Se Hun.
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, HAH!" Se Hun langsung berdiri tegap ketika mendengar teriakan Jong In.
"Kenapa kau disini, Penguntit? Mr. Chris! Ada penguntit di kamarku!"
"Yak! Aku Oh Se Hun, temanmu, Jong In,"
"Teman? Memangnya kita berteman? Ingat, kita hanya duduk sebangku," ujarnya datar.
Tetapi sebenarnya, Jong In sangat ketakutan. Tentu saja ia merasa seperti itu. Oh Se Hun sama seperti dengan sosok yang berada di mimpinya, yang menjadi pembunuh Jong In. Dan mimpi itu datang lagi.
"Ya, ya, ya. Dan sebaiknya, sekarang kau cepat berkemas karena aku akan mengajakmu berlibur selama sepekan. Tidak ada bantahan apapun, Jong In. Anggap saja ini adalah ajakan pertemanan dariku,"
"APA?!"
"Lagipula, aku sudah meminta izin Ayah angkatmu,"
Dan pada akhirnya, Jong In pun terpaksa harus mengikuti ajakan Se Hun setelah meyakinkan diri sendiri. Lagipula, Ayah dan Ibu angkatnya akan ada dinas di luar kota sedangkan ia tidak ingin menjadi obat nyamuk bagi Chan Yeol dan Baek Hyun. Bukannya Jong In takut sendiri di rumah. Ya, memberi Se Hun kesempatan, tidak buruk. Siapa tahu, itu memang hanya mimpi yang rutin menghampiri Jong In.
Di dalam mobil, Jong In tak henti-hentinya menggerutu pelan. Bahkan umpatan-umpatan pun terdengar cukup jelas di telinga Se Hun.
"Sudahlah Jong. Lagipula saat ini sudah memasuki liburan musim panas. Aku tidak ada acara apapun, jadi aku mengajakmu sebagai teman baruku,"
"F**k you, Oh Jerk Se Hun!"
" Thank you, Kkam!"
3 jam telah berlalu. Hingga keduanya telah sampai di tempat tujuan.
"Nah, kita sudah sampai. Kuharap kau senang berada disini, oke?" ujar Se Hun pada Jong In.
"J-Jong? Apa kau baik-baik saja?" raut Se Hun terlihat khawatir ketika melihat Jong In yang meringkuk ketakutan di sampingnya. Matanya terus menatap ke bawah, seakan ada ribuan pasang mata yang siap menerkamnya.
"A-akku t-tidak apa-apa," dengan memberanikan diri, Jong In segera membuka pintu mobil. Mengeluarkan kopernya dan segera menuju ke teras sebuah rumah tempat berlibur –terpaksa- sementara.
"Sebenarnya kenapa kau terlihat sangat ketakutan? Bibirmu pucat!" Jong In hanya diam.
"Kau akan tahu sendiri, Se Hun! Aku ngeri ketika melihat banyak air. Lalu, kenapa kau membawaku kesini tiba-tiba? Jika tahu seperti ini, aku akan mengajak Mr. Chris agar dapat berjaga-jaga jika aku mati mendadak disini,"
"Berbicara baik denganmu itu tidak akan mengubah apapun. Kau tetap dingin padaku. So, thats the reason why-"
"Ya, aku tahu itu Oh Se Hun! Tetapi, bisakah kau tidak membuatku merasa tersiksa? Kau tiba-tiba datang ke rumahku. Mencoba sok akrab pada ayah angkatku seakan-akan kau mengenalnya sejak lama. Kemudian, kau menculikku dengan kedok untuk berlibur ke tempat terpencil seperti ini. Benar-benar kawan baru yang sangat baik, rupanya ya?" omelan Jong In tak digubris oleh Se Hun. Malahan, lelaki itu terus berjalan mengikuti Jong In menuju sebuah rumah minimalis yang akan ia dan Se Hun tempati selama 1 minggu ini.
"Yak! Dengarkan aku, Oh Se Hun! Kau-"
"Aku berjanji akan membantumu jika kau benar-benar takut dengan air, Kim Jong In. Mungkin danau besar itu akan menjadi tempat terapimu nanti. Jadi, masuk dan diamlah. Ah, karena aku tidak memungut biaya apapun, jika kau berkenan, membantuku menyiapkan makanan juga tidak buruk," setelah Se Hun membuka kunci rumah, ia langsung masuk.
Dan sukses membuat Jong In terdiam dibalik ketakutannya. Hanya kedua kakinya yang mau mengikuti langkah Se Hun untuk masuk. Ngomong-ngomong, sudah hampir senja. Jadi, mau tak mau, Jong In juga harus masuk, kan? Tempat ini seperti hutan. Dan hanya ia dan Se Hun disini. Lagipula ada danau yang membuat Jong In ketakutan.
"Ya, terserah kau Oh Se Hun. Yang pasti, jika kau melakukan sesuatu yang sangat buruk padaku, aku akan segera pergi dari sini tanpa memberitahumu!" dan, kalimat itu dihadiahi tawa kencang Se Hun.
"Coba saja jika kau berani. Atau jika kau benar-benar nekat melakukannya, serigala-serigala kelaparan akan segera mencabik-cabik tubuhmu hingga jasadmu tak dikenali,"
"Atau, danau itu akan melahapmu hingga habis, haha!"
"SEHUN!"
"Hahaha,"
.
.
.
.
.
.
.
.
'Semoga pilihanku tidak salah dan bantuan sementara ini dapat membantuku. Ayah, Ibu, kurasa dia adalah pembunuh sekaligus penyelamatku,' –Jong In's feel
-TBC-
[ To Be Continued ]
Akame's Small note's :
Annyeong! How? Maaf banget kalau jelek. Ini terpaksa di-cut. Takutnya terlalu panjang dan ngebosenin. Dan intinya, Jong In udah mulai membuka dirinya pada Se Hun. Ngebiarin Se Hun supaya phobianya disembuhkan sama Se Hun. Siapa tahu emang Se Hun itu bukan yang ada di mimpinya.
Reviewnya memuaskan^^ Jadi lebih semangat nulisnya deh! Apalagi mumpung ide mengalir lancar banget^^ Diharap StayTun terus. Saya mau nyoba nepatin janji nggak ngaret^^ Muehehe...
Oh ya, saya juga ganti PenName : dari SeKai94Line menjadi Akame0104
And the last, Wanna Follow, Like, and Reviews?
[ Akame0104 ]
