maaf sebelumnya,

Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik masashi Kishimoto Sensei
Pair : NaruHina
Rated : T semi M
Ganre : -
Warning : Typo, EYD, AU, dll.

Chapter 2

"Aku harus pulang Naruto." ujar Hinata cemberut dan duduk didepan pemuda yang sedang makan malam yang telah dibuatkan Hinata. 'Aku tidak bisa disini' pikir Hinata sambil melirik pemuda itu yang tengeh menghentikan acara makannya dan mendongak untuk melihat Gadis didepannya yang sedang memohon untuk pulang, tapi bukan Naruto namannya kalau tidak bisa menghentikan gadisnya untuk pergi.

"Kau tak ingin kuajari?" pernyataan sekaligus ancaman dilakukan Naruto untuk menghentikan gadisnya pergi dari apartemennya.

"Ta-Tapi, Aku harus pulang Naruto." ujar Hinata mulai mau menangis.

"Hanya malam ini saja!" ujar Naruto berusaha lembut dihadapan Hinata.

"Ti-Tidak boleh." ujar Hinata bergetar dan berusaha menghapus air mata yang mulai keluar dari mata indahnya.

"Hentikanlah, aku tak suka dengan penolakan." ujar Naruto dan bangkit meninggalkan meja makan, membuat Hinata bungkam.

"Gomen." ujar Hinata menatap punggu pemuda pirang yang membanting pintu kamarnya dengan keras. "Baiklah aku tak akan pulang." gumam Hinata dan beranjak dari tempat duduknya menuju kamar sang pemuda pirang yang sedang marah. "Naruto-kun..." ujar Hinata saat membuka pintu kamar sang pemuda.

"Kau sudah tidurkah?" tanya lagi Hinata saat melihat sang pemuda berbaring membelakanginnya. "Gomen... Aku tidak bermaksud, aku hanya tidak ingin membuat Ayah Khawatir." ujar Hinata lagi sambil mendekati Naruto yang berbaring.
Saat Hinata akan duduk ditepi ranjang Naruto berbalik dan langsung menatap tajam mata Hinata, sorotannya marah bercampur kecewa.

"Kau tak tau aku sangat rindu, tapi kau malahan seperti ini." ujar Naruto sedikit meninggikan suaranya dan sedikit menahan amarah yang dari tadi belum reda karena gadisnya masih bersikukuh untuk pulang kerumah orang tuannya, walaupun mereka sudah menikah, mereka tidak pernah diizinkan untuk tidur satu atap, kecuali kalau ada acara diantara dua keluarga.

Mereka menikah karena dijodohkan dari kecil, dan Hinata tidak tau kenapa Naruto menyetujui permintaan orang tua mereka, walaupun mereka sering bertengkar dan walaupun Naruto tidak terlalu suka bermain bersama Hinata waktu kecil, seolah takdir sudah membuat benang merah untuk keduannya, mereka terikat dengan takdir pernikahan dini.

"Gomen, ya sudah kalau begitu aku telphone ayah dulu yah." ujar Hinata sambil mengambil handphonenya dan mencari Nomer ayahnya yang sudah dia save dengan nama 'Tou-Chan'.

"Mosi-mosi." ujar Hinata

/Iya, ada apa Hinata, kenapa jam segini kau belum pulang/ ucap suara disebrang sedikit khawatir akan keadaan putrinya.

"Gomen Ayah, Hinata hari ini menginap di Apartemen Naruto-kun yah?" ujar Hinata sekaligus bertanya kepada ayahnya sekalian meminta izin untuk menginap.

/Kau harusnya tau, kalian ini tidak boleh satu atap, sebelum lulus sekolah/ ujar suara disebrang menasehati, tapi dia juga tau percumah kalau berhadapan dengan menantunya. Sebenarnya yang tidak tau alasan kenapa Naruto menyetujui pernikahan dini ini hanyalah gadis itu, Ayah 3 anak ini tahu karena pemuda disamping putrinya lah yang mengakibatkan putrinya harus terus terikat dengan pemuda pirang yang menyebalkan, karena telah berani mengambil hati putri tersayangnya.

"Gomen, tapi hanya malam ini ayah." ujar Hinata lagi, memohon berharap ayahnya melihat tatapan memohonnya.
Saat Hinata melirik pemuda disampingnya, dia tidak sengaja melihat pemuda itu menyeringai, entah apa yang akan dilakukan pemuda itu kepadanya bila ayahnya mengizinkannya.

/Baiklah, bilang pada 'Suami' tercinta mu itu, jangan macam-macam, karena bila dia menyentuhmu... Ayah pastikan dia akan ayah kirim ke suna untuk bisnis/ ujar ayahnya Hinata mengancam tapi membuat Hinata swedroop gara-gara ancaman yang pasti diinginkan ayahnya, karena alasan yang Hinata tau Naruto itu jenius, dan sangat handal dalam bisnis, jadi wajar bagi Hinata ayahnya ingin 'Memanfaatkan menantunya' tapi sialnya menantu yang ganius tapi tidak punya keinginan untuk menerima warisi dari orang tuannya apa lagi ayahnya, dan Hinata selalu dibuat marah gara-gara ulah Naruto yang seenaknya saja melakukan hal yang dia inginkan, tapi Hinata tidak pernah mengerti, kenapa orang yang suka seenaknya sendiri ini mau menikahinya, padahal Hinata tau bahwa Naruto tidak mungkin mau diperintah, dan sudah tiga tahun mereka menikah, Hinata saat itu baru lulus Sekolah Dasar dan Naruto yang notabennya Lebih tua dari Hinata dan lebih ganius dari Hinata bisa meloncat-loncat kelas sesuka hatinya. Dan disinilah Hinata yang niatnya mau minta bantuan untuk masuk ke Sekolah High yang memohon pada pemuda pirang yang saat ini menyeringai karena ayah Hinata menyetujui untuk menginap malam ini.

"Nar... Kyaaa..." ujar Hinata kaget karena Naruto menarik tangannya dan memposisikan tubuh mungil Hinata kedalam dekapannya.

"Diamlah." ujar Naruto sambil menutup mata dan menyamankan tidurnya.
"Uhh, Naruto." ujar Hinata gelisah dalam pelukan Naruto.

Deg Deg Deg

Lima belas menit Hinata menahan agar tidak bergerak namun nihil, seperti jantungnya yang sedang maraton wajahnya pun memerah menahan nafas. Karena melihat lebih dekat pemuda yang menjadi pujaan hatinya beberapa tahun lalu, dan orang pertama yang mencuri ciuman pertamanya.

'Apa yang harus ku lakukan' jerit Hinata dalam hati frustasi menahan sesak karena terlalu dekat dengan pemuda a.k.a Suami tercinta.

"Naruto." ujar lirih Hinata menatap suaminya yang sudah menuju alam mimpi lebih dahulu menurut Hinata. "Naru..." ucapan Hinata terhenti saat bibirnya dan bibir pemuda yang sudah dinikahinya selama tiga tahun itu saling menempel, bukan Hinata yang mencium pemuda lebih dahulu, namun pemuda itulah yang telah membungkam bibir Hinata secara mendadak dan lembut semakin dalam meminta lebih, bukan hanya sebuah lumatan dan hisapan yang diberikan Naruto pada Hinata tapi sesuatu sensasi yang memabukan dan sesuatu yang indah melebihi surga-surga yang ada didunia. Karena mereka membutuhkan pasokan udara terpaksa Naruto melepaskan bibinya dari bibir manis Hinata.

Tidak sampai disana, Naruto mulai melirik leher jenjang Hinata namun segera dicegah oleh Hinata.

"Bila ayah tau, kau akan habis!" seru Hinata cepat-cepat saat Naruto tidak mau menggubrisnya sama sekali.

"Tenanglah, hanya kecupan." ujar Naruto santai sambil mengecup, menjilat dan melumat leher jenjang Hinata, seperti makanan yang ingin dimakan namun hanya bisa dihisap.

"Ta-tapi... Kalau begini kau akan meninggalkan bekas." ujar Hinata lagi melihat kelakuan suaminya yang entah sejak kapan menjadi mesum seperti ini.

"Benarkah!" Naruto menatap wajah sayu Hinata sambil menyeringai.

"Jangan, aku mohon." seru Hinata, namun lagi-lagi Naruto tidak menggubrisnya, dan melanjutkan aktipitasnya menandai sang gadis dengan nafsu yang sudah menumpuk, bagai kerasukan setan Naruto benar-benar kehilangan kendari untuk malam ini.
Pagi menjelang, burung-burung berkicau dengan merdu tanpa mengusik dua sejoli yang tengah terbuai dengan bantal empuk yang menempel dikepala masing-masin, ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar menjadi suami-istri yang melengkapi satu sama lain, pemuda yang terbuai dengan lembutnya tubuh sang gadis akhirnya merenggut keperawanan sang gadis dimalam yang panas dan memabukan tanpa alkohol tanpa perangsang.

"Ohayo," sapa Naruto saat melihat Hinata masih terpejam. Sesuatu terlintas diotaknya untuk menjahili istri tercintanya, yang semalam sudah benar-benar miliknya.
"Kalau kau tidak bangun..." ujar Naruto sambil mendekati kearah telinga Hinata dan membisikan sesuatu kata mesra. 'Kita lanjutkan yang semalam' bisik Naruto yang membuat gadis yang dibawahnya merasa geli dan tersadar dari alam mimpinya.

"Kyaaaa..." jerit Hinata sambil mendorong dada bidang Naruto.
"Dasar mesum." jerit Hinata sambil menunjuk batang hidung Naruto dan mengangkat kain yang dikenakan sampai leher.

"Hai, kalau lelaki tidak mesum itu, kau mungkin tidak akan pernah ada Hinata-chan." ujar Naruto menyeringai kearah Hinata, dan Hinata kesal karena Naruto tidak megindahkan peringatannya.

"Kalau ayah tahu bagaimana?" ujar Hinata kesal dan membuat Naruto tersenyum tepatnya menyeringai.
"Ada apa?" tanya Hinata heran sambil mengusap-usap kulitnya, merasa perasaan tidak enak.

"Tentu saja aku berhak menyentuhmu sayang." ujar Naruto sambil mengecup bibir Hinata sekilas, bahkan Hinata tidak diberikan kesempatan untuk protes.

T.b.c