Title : Indifference

Genre : Drama, hurt/comfort, romance

Rate : T-M

Cast : EXO

Couple : HunHan, ChanBaek, (slight) Kaisoo

.

Bisakah aku jadi pengecualian atas keacuhanmu?

.

Start!

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

Satu jam kemudian setelah kelas selesai…

Kelas sepi karena ditinggalkan penghuninya. Hanya tersisa Sehun dan Luhan di salah satu meja sedang memperbaiki laporan mereka yang kurang lengkapnya penulisan sumber. Bisa diperbaiki nanti-nanti padahal, tapi Luhan bersikeras ingin memperbaikinya sekarang. Karena… jujur ia enggan untuk bertahan lebih lama dengan Sehun.

"Sumbermu mana?"

Luhan sedikit tersentak karena Sehun menoleh padanya. Ia lebih dulu menelan ludah sebelum menyerahkan flashdisk, "Ada di sini."

Tanpa berucap, Sehun memasukkan flashdisk pada lubang USB notebooknya. Hal yang aneh adalah bagaimana ia begitu gampang menemukan jurnal yang dimaksud dalam sekali 'klik' padahal tersimpan di dalam folder & sub folder. Luhan tercenung dibuatnya.

Keadaan berubah. Saat sedang membuka jurnal, kursor mengarah ke sebuah file. Seperti sebelumnya, Sehun diam beberapa saat.

Luhan tidak berani menegur kali ini. Ia lebih sibuk memperhatikan lekuk wajah Sehun dari samping. Membaca raut wajah datarnya, namun tidak membantu sama sekali. Tidak bisa Luhan menebak apapun

"Kau tidak sedang merencanakan hal bodoh kan?" Sehun menoleh, menatap Luhan tajam.

Luhan mengerut kening bingung "Maksudmu?"

"Menyelinap ke dalam laporan keuangan kampus, mengobrak-abrik isinya, kupikir kau cukup pintar untuk tidak melakukannya."

Luhan terkesiap, "Bagaimana—"

"Jangan lakukan, jika tidak ingin dapat masalah." Lagi, penegasan dari bibir Sehun.

"Semua akan baik-baik saja. Aku punya backing dosen yang—"

"Wu Yifan?" tebak Sehun untuk kedua kalinya memotong ucapan Luhan.

Kembali Luhan terkesiap. Benar-benar tidak mengerti dengan orang macam apa ia bicara. Semua yang ada di kepala terasa transparant bagi rekan setimnya ini.

"Sebaiknya kau harus berhenti mencampuri masalah orang lain." Sehun mengalihkan pandang pada layar notebook.

"Aku mencampuri urusan orang lain?" Luhan tertawa sinis, "Oh Sehun, yang kulihat ini adalah urusan seluruh fakultas." Nada suaranya meninggi.

"Jika begitu, tutup mata. Pura-pura tidak tahu, itu lebih gampang." Sehun acuh.

"Aku bukan kau, yang kuyakin tahu lebih banyak tapi hanya diam." Luhan memberesi buku dan bawaan lain ke dalam tas, "Kita sudah selesai kan? Sebaiknya aku pulang." Ia tidak peduli lagi. Tidak tahan terus berhadapan dengan orang macam Sehun.

Sehun menangkap lengan Luhan yang bangkit dari bangku, "Hentikan yang kau lakukan. Apapun itu." Nada suaranya seolah mengintimidasi.

Luhan menyentak lengan hingga terlepas dari cekalan Sehun, "Aku bahkan tidak minta bantuanmu, tapi kenapa kau SEOLAH peduli?" ucapnya keras kemudian melangkah menuju pintu.

"Karena aku pernah mengalami hal ini!" teriak Sehun. Entah didengar atau tidak.

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

.

Eldorado Café, Rabu 19.50

Café sedang sepi saat itu karena gerimis masih terlihat setelah hujan deras tadi. Baekhyun menaruh gelas berisi mochacino pada meja tepat di depan pantry. Chanyeol duduk di hadapannya sedang baru saja membuka notebook. Sejak Baekhyun kerja di sini, ia resmi jadi pelanggan tetap.

Si Jangkung bertelinga lebar itu tersenyum mengucap, "Thanks."

"Kutunggu tip nya, Tuan." Jawab Baekhyun santai.

Chanyeol tertawa, tidak keberatan sepertinya. Ia kembali berfokus pada layar notebook, sekedar membuka beberapa situs music hingga kemudian sebuah pesan berisi link muncul di chat room. Ia tidak mengira link itu membawanya ke website Universitas. Hal yang mengejutkan adalah di beranda website tertera berita tentang 'Pemeriksaan Keuangan Fakultas Ekonomi'. Dilihat dari tanggal, berita ini baru saja diposting sejam yang lalu.

"Baek, kau tahu ini?" Chanyeol memutar mengarahkan notebook menghadap Baekhyun.

Baekhyun yang sedang menakar biji kopi menatap layar laptop dengan kening mengkerut, "Wow." Ia tercengang, "Bukankah ini baru kita bicarakan beberapa hari lalu?"

Chanyeol mengangguk, memposisikan notebook seperti semula, "Ini bukan ulah Luhan yang lapor universitas, kan?"

Sehun yang baru kembali dari dapur, mendengar percakapan ini. Menatap layar notebook Chanyeol, ia… tidak tenang. Firasatnya buruk tiba-tiba.

"Byun Baekhyun, coba hubungi Luhan."

Tidak lagi memikirkan bahwa 'tumben Sehun menegurnya' Baekhyun merogoh saku mengambil ponsel untuk menghubungi Luhan. Sengaja ia mengaktifkan loudspeaker, namun tidak ada variasi kecuali bunyi 'Tuuut' berkali-kali.

Setelah beberapa kali menelepon, Baekhyun menggeleng, "Tidak diangkat."

"Oh. Bukannya ia tadi bilang ada urusan dengan Prof. Wu?" ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Prof. Wu?" Sehun memastikan tanpa bisa mengontrol nada suaranya. Ia terdengar khawatir.

"Luhan ditawari jadi asistennya." Jawab Baekhyun.

Sehun tercekat. Sekelebat bayang muncul di benaknya. Bayang saat ia dan Luhan bertemu di gedung sastra namun diselingi bayang kejadian yang tidak pernah dialaminya. Tidak jelas. Terlalu kabur.

Apa ini? Sebelumnya Sehun tidak pernah bisa melihat masa depan. Namun, apa yang ia lihat sekarang tidak seperti masa lalu. Ia terdiam, memfokuskan pikiran, memberi efek luar biasa. Kepalanya berdenyut menyakitkan.

BRUK

"Yah, Oh Sehun." Tegur Chanyeol melihat Sehun tiba-tiba terhuyung ke meja. Ia buru-buru menopang tubuh itu.

Sehun tidak menjawab. Ia terus meringis memegang kepalanya yang seperti terus-terusan dihantamkan ke tembok. Harusnya ia berhenti berusaha melihat bayang yang tidak pernah terjadi itu, bukan malah terus memaksakan semua neuron otak memuai sesak di kepala.

"Sehun ah, kau kenapa?" Baekhyun panic. Ia ikut menghampiri, membawakan segelas air putih.

Sehun menggeleng, menolak pemberian Baekhyun. Jemarinya mencengkeram meja kuat-kuat seolah berniat meremukkannya. Meja itu… meja yang pernah ditempati Luhan saat datang pertama kali. Bayangan semakin jelas di kepala Sehun.

Luhan berada di suatu ruangan, berusaha berontak dari cekalan seseorang. Ia memohon, berteriak, menangis, tapi…

Napas Sehun memburu, kemudian bangkit tiba-tiba "Park Chanyeol, kau bawa motor kan?"

Chanyeol yang bingung hanya mengangguk merogoh saku jaket, memberikan kunci motor. Sehun meraihnya tanpa mengucap apapun sebelum berlari ke parkiran. Bahkan tidak mengindahkan pertanyaan Minseok yang berpapasan dengannya.

Sehun melajukan motor hitam itu dengan kecepatan tinggi tidak peduli sembur genangan air yang dihasilkan. Tanpa tujuan jelas, ia hanya mengikuti insting yang dikirim dari entah bagian mana tubuhnya. Ia tidak mau terlambat barang sedetik pun.

.

.

Motor berhenti di depan sebuah apartemen sederhana. Sehun tidak mempedulikan helm di kepala, langsung menerjang tangga menuju pintu bertuliskan 23.

Ini taruhan, pikirnya memencet bel masih dengan napas putus-putus.

"Siapa?" terdengar suara dari intercom.

"Eum… layanan paket." Jawab Sehun jelas bohong.

"Letakkan saja di depan pintu." Tanggapan dari penghuni rumah.

"Ada yang harus ditandatangani."

Tidak ada lagi jawaban. Kemudian pintu terbuka menampilkan sosok pria hanya dengan celana jeans. Sehun membuka kaca helm, terlihat jelas bahwa pria itu adalah Wu Yifan. Dosen Bahasa Inggris itu terlihat berantakan dengan beberapa bekas cakar di dada.

Sehun tidak pernah bisa melihat masa depan. Namun ini… tempat asing ini baru saja ia lihat di kepala.

"Mana yang harus ditandatangani?" tegur Yifan karena pengantar paket di depannya malah tercenung menatapnya.

Melirik ke dalam, Sehun melihat sepatu sneakers denim tergeletak di dekat pintu. Sepatu yang sangat familiar baginya.

"Mana paketku?" tegur Yifan lagi.

Baru saja Sehun mulai berpikir, terdengar erangan dari dalam. Suaranya… terlalu familiar. Tidak ada lagi yang Sehun pikirkan, tangan kosongnya lebih dulu mendarat keras di rahang tuan rumah. Ia merangsek masuk, melangkahi Yifan yang terjatuh di pintu. Menyusuri semua ruang, hal yang kemudian menyambutnya adalah…

Xi Luhan terlentang di atas ranjang. Kedua tangannya terikat pada tiang ranjang dan mulut disumpal kain. Tubuhnya hanya dilapisi celana jeans retsleting terbuka. Keadaanya diperparah dengan bercak merah di dada dan wajahnya yang basah air mata.

'Tolong aku'

Sehun tercenung nelangsa. Ia bisa jelas membaca tatap mata Luhan yang basah, menerjunkan air mata tak terbendung. Hati terasa baru dirajam karenanya.

Sehun menghampiri ranjang, melepaskan sumpalan di mulut dan ikatan di tangan Luhan, "It's okay Lu. Aku ada di sini." ucapnya meraih jaket yang tergeletak di bawah ranjang, memakaikannya pada tubuh Luhan yang gemetar.

"Apa-apaan kau?" suara lain mendekat.

Sehun menoleh, mendapati Yifan bangkit dengan memegangi rahang.

Dejavu…

Bertahun lalu, Sehun pernah mengalami ini.

Tubuh Sehun bergerak menghampiri pria brengsek itu. Tangannya berayun dengan begitu ringan menghantam sekujur tubuh pria Kanada itu. Berkali-kali sekuat tenaga, tanpa belas kasihan, tanpa jeda, tidak mengindahkan jeritan, "Hentikan Oh Sehun, dia sekarat." dari bibir Luhan.

Gerakan Sehun terhenti ketika Luhan meraih tangan memarnya.

"Sudah, Sehun ah. Kumohon hentikan." Luhan terisak mengusap darah dari tangan Sehun. Ia pikir itu darah Yifan, nyatanya punggung tangan Sehun sobek.

Sehun bangkit, menatap pias, "Kita pulang." Menarik tangan Luhan menuju pintu.

Luhan menurut mengikuti langkah Sehun, namun kakinya terasa ringkih. Ia tidak yakin sanggup turun ke parkiran.

Sehun sadar hal ini. Ia berjongkok di hadapan Luhan, "Naik."

Luhan naik ke punggung Sehun tanpa suara. Ia hanya menenggelamkan wajah pada punggung tegap itu, tidak peduli jadi basah karena air matanya.

.

.

Mata Sehun sama sekali tidak berniat memperhatikan isi apartemen asing ini, lebih memilih untuk tidak lepas dari tubuh Luhan yang baru diturunkan ke ranjang. Perasaanya campur aduk melihat mata rusa yang biasanya begitu berseri, kini sembab belum berhenti menangis. Belum lagi jika mengingat wujud di balik jaket abu-abu itu.

Tangan Sehun tergerak menurunkan retsleting jaket namun dicegah Luhan yang sesenggukan.

"Lu…" lirih Sehun, membuat Luhan tergugu, "Kubantu membersihkan tubuh."

Luhan menelan ludah keras. Bukan hanya nada bicara yang lembut, namun sosok di hadapannya ini begitu berbeda. Hampir gila, ia merasa tiba-tiba jantungnya berdesir tidak karuan.

"Atau kau ingin melakukannya sendiri?" Sehun bangkit, mengusap kepala Luhan, "Aku akan pul—"

"Jangan!" cegah Luhan menarik tangan Sehun, membuatnya menoleh, "Jangan tinggalkan aku. Kumohon." Air mata jatuh lagi. Kali ini bentuk permohonan putus asa.

"Baiklah. Aku akan tetap di sini. Tapi kau harus membersihkan diri." Sehun kembali berlutut di hadapan Luhan, membantu melepas jaket, "Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku janji."

Luhan tidak mendebat. Ia mengangguk tipis, membiarkan tubuhnya yang kini polos dibopong Sehun ke kamar mandi lalu diletakkan di atas bath tub. Air hangat perlahan menenggelamkan sebagian tubuhnya.

"Sebenarnya kau siapa, Oh Sehun?" lirih Luhan memegang tangan Sehun yang menggosok punggungnya.

"Hanya seorang Oh Sehun."

Malam itu, Sehun menginap di tempat Luhan. Meminjamkan dada bidangnya untuk menjadi bantal.

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

.

Jumat pagi. Fakultas ekonomi ruang 207

Hampir semuanya berubah setelah kejadian itu. Kerlip mata bening Luhan, khususnya. Mata rusa itu tidak lagi berbinar seperti dulu. Luhan yang biasanya selalu menanggapi semua sapaan yang ditujukan padanya, kini hanya bisa berjalan menunduk dengan jaket membungkus tubuh erat.

Selesai kelas, Baekhyun menghampiri Luhan yang duduk di pojok kelas, "Lu, katakan padaku. Ada apa sebenarnya?" ia khawatir, tentu saja. Berbeda dengannya yang tinggal serumah dengan keluarga, Luhan tinggal sendiri di Seoul.

Luhan melirik pintu, Oh Sehun baru saja meninggalkan kelas. Ia menatap Baekhyun, tersenyum tipis lalu menggeleng.

Chanyeol yang tadi duduk di baris depan, ikut menghampiri, "Sebenarnya ada apa waktu? Sehun seperti orang kesurupan, meminjam motorku entah ke mana, kemudian setelah kemarin bolos, kau muncul pias begini."

"Prof. Wu… aku melihatnya datang dengan mobil tadi. Wajahnya babak belur." Ucap Baekhyun pelan, "Tidak ada hubungannya denganmu kan?" tebaknya hati-hati.

Luhan tertunduk, menggenggam ballpoint di tangan kencang. Berusaha menahan air mata namun tidak mampu, ia terisak. Air mata berjatuhan di atas buku catatannya.

"Lu…" tegur Baekhyun terkejut. Ia merangkul bahu Luhan yang gemetaran.

Luhan memeluk Baekhyun kencang. Dengan suara serak, ia menceritakan semua yang terjadi kemarin lusa. Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa tercengang.

Sungguh, andai perilaku Sehun tidak berlaku malam itu saja.

Luhan pikir, ada yang akan berubah dari Sehun setelah kejadian lampau. Nyatanya, tatapan mata si Pucat itu masih tetap dingin dengan miskinnya kosa kata. Luhan merasa kehilangan. Dibandingkan cengkeram tangan dan bibir Wu Yifan di sekujur tubuhnya, Luhan malah terus terbayang sentuhan Sehun di punggungnya. Gila? Bisa digolongkan begitu.

Luhan rapuh, butuh sandaran. Tapi mungkin apa yang malam itu terjadi hanya ilusi.

Sebuah berita mengejutkan seketika mengaburkan segalanya. Sepulang kampus, ia menerima sepucuk surat dari kampus. Surat itu sederhana, selayaknya surat dinas biasa, hanya saja berisi 'Anda dikeluarkan dari Universitas atas tuduhan pembajakan system keuangan'.

Luhan tertawa menangis sejadi-jadinya.

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

Xi Luhan…

Berbagai bayang tentang orang itu mengganggu tidur Sehun. Ia terbangun, duduk di atas ranjang dengan kepala berdenyut nyeri.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sehun meyakinkan diri sendiri. Ia sudah memutuskan untuk memberi jarak dari orang itu. Atau… menghilang jika perlu.

Kaki telanjangnya turun, menyusur lantai dingin kamar mandi. Sekedar mencuci wajah, ia meraih gelas setelahnya, menuang air ke dalamnya sambil memandang ruang flat nya yang lengang. Ia sudah harus berkemas, mencari hidup baru.

Ada perasaan berat. Ia sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan ini sebenarnya.

Gelas diraih, Sehun meneguk isinya cepat. Sebelum…

Luhan…

Terminal…

Air mata…

PRANG

Gelas terjatuh di atas lantai dapur. Beling pecah berserakan.

Apa ini? Kembali, kepala Sehun berdenyut kencang. Nyeri, menyakitkan. Tangan gemetarnya meremas rambut, sakit.

Xi Luhan…

Sehun meraih jaket yang menggantung. Ia berlari meninggalkan flat tanpa mempedulikan pintunya masih terbuka.

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

.

Terminal bus Seoul.

"Jangan merengut Lu…" Baekhyun mengelus pipi sahabatnya.

Luhan mendongak, tersenyum paksa, "Memang harus bagaimana sebelum mengatakan pada orangtua bahwa anaknya kena DO?"

Baekhyun menoleh, bertukar pandangan prihatin pada Chanyeol yang berdiri di sebelahnya.

"Kami akan berusaha membuktikan kejahatan si Brengsek itu." Tegas Chanyeol.

"Sudahlah." Luhan bahkan tidak bisa lagi tersenyum. Ia lelah, ingin segera pulang.

Melihat kedatangan bus pada jalur tujuan Incheon, Luhan meraih pegangan tasnya yang besar. Ia memeluk kedua temannya, berucap, "Sampai jumpa."

Baekhyun dan Chanyeol mengeratkan lengan pada bahu sempit Luhan. Tidak rela ditinggalkan oleh seorang yang sekarang bahkan tidak sanggup melempar canda.

"Aku pergi dulu." Luhan melepas peluk, menarik tas naik ke bus. Ia menoleh, melambaikan tangan pada Chanyeol dan Baekhyun sekaligus memastikan sesuatu.

Memastikan bahwa tidak ada yang datang untuk mengucap selamat tinggal.

Tidak ada…

Luhan menghela napas. Ikhlas, merelakan yang tidak pernah menjadi miliknya. Ia menyeret tas, menyusur bus yang masih kosong, mencari nomor kursi. Tempatnya di baris tengah, samping jendela. Mengangkat tas, ia berusaha menaruhnya di bagasi atas kursi. Namun…

Lengan lain terulur mencegahnya. Luhan menoleh, sosok itu sama sekali tidak asing baginya.

"Oh Sehun?" tegur Luhan. Tasnya hampir saja terjun bebas ke lantai bus.

"Jangan pergi Lu…"

Nada itu

Ekspresi itu.

Luhan tidak bisa bereaksi, ia masih tercengang menatap sosok di sampingnya.

Tas Luhan diturunkan oleh Sehun. Ia membawanya menuju pintu bus.

Luhan buru-buru mencegah langkah Sehun, "Tidak bisa. Aku harus pergi." Diraihnya pegangan tas, berusaha merebut "Kembalikan tasku."

Sehun tidak bergeming "Jangan pergi."

"Kenapa memangnya?" tanya Luhan, tidak mendapat jawaban. Ia tersenyum miris, "Oh Sehun, kau pasti tahu bahwa aku sudah kena DO kan? Aku harus pergi." Sungguh ia ingin tinggal, tapi dengan alasan jelas. Bukan hanya terus menebak sendiri.

Tangan Luhan digenggam, "Lu, dengarkan aku."

Luhan berontak, menarik sekuat tenaga tangannya dari genggaman Sehun, "Tidak. Sebelum kau menjelaskan alasan—"

A kiss

Segalanya terjadi tak terduga. Saat Sehun meraih tengkuk Luhan seketika lalu menempelkan bibir di atas bibirnya, membuatnya terdiam. Luhan tercengang dalam jangka waktu 5 detik itu.

"—yang kuat" Luhan gemetar, menyentuh bibirnya. Masih terasa jejak bibir tipis Sehun di sana.

Sehun mundur, memberi jarak sebatas bisa saling merasakan napas yang saling memburu. Matanya menatap Luhan tanpa indikasi dingin, Itu tatapan paling hangat yang pernah ia beri. Ia sendiri bingung kenapa bisa berlaku seperti ini.

"Sehun ah…" tegur Luhan tertahan. Masih berusaha membenahi ritme jantungnya yang berantakan.

Sehun menghela napas, menempel kening pada kening Luhan, "Jika aku hanya bisa melihat masa lalu, apa tidak masalah?"

"Maksudmu apa?"

Tidak ada reaksi.

Sehun terdiam, memejamkan mata beberapa saat. Bayang kejadian melesat bergantian di otaknya. Ia tidak tahu, apa yang sedang dilihatnya yang jelas, semua terlihat menakutkan. Diraihnya tangan Luhan, menariknya turun dari bus.

"Oh Sehun?" tegur Luhan lagi, tidak mendapat tanggapan, "Yah, Oh Sehun. Aku harus pergi. Lepaskan!" ia berontak, menarik tangannya namun tidak berefek apapun, "OH SEHUN!" teriaknya seketika langkah berhenti.

Sehun berbalik menatap Luhan, kalut "Aku... aku tidak bisa melihat masa depan Lu."

Luhan tergugu. Baru kali ini melihat ekspresi Sehun seperti itu, "Memangnya kenapa? Apa—"

"Aku hanya bisa melihat masa lalu." potong Sehun, menaruh begitu saja tas Luhan di atas lantai terminal, "Aku bisa melihat masa lalu dari apa yang kusentuh, tapi hal yang berbeda berlaku padamu. Aku bisa melihat apa yang akan terjadi padamu nantinya."

Tercenung, Luhan menatap Sehun tidak percaya.

"Kejadian di tempat Kris, kejadian pagi ini aku bisa begitu saja tahu." Ucap Sehun terburu-buru kemudian menarik napas dalam, "Dan kali ini… aku melihat bus yang—" ia tidak melanjutkan ucapan, justru menghindari tatap Luhan, "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu. Semua yang terjadi, apa yang kurasakan padamu, kenapa aku mencium—"

Hening

Luhan memperhatikan benar wajah Sehun. Kalut, panic, khawatir, takut, bergumul jadi satu. Lucunya, ia justru senang luar biasa melihat ini. Luhan merasa menjadi satu-satunya orang yang melihat topeng es Sehun.

Ah, begini wajah Sehun sebenarnya…

"Aku tahu." Ucap Luhan. seketika mengabutkan kekalutan Sehun, "Aku percaya padamu."

Sehun menengadah, "Benar?"

Luhan mengangguk, "Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu."

Lengan Sehun menarik Luhan dalam pelukan. Erat. Luhan sampai bisa merasa hembus napas di lehernya, "Kita buktikan bahwa kita benar."

Luhan mengangguk, membalas peluk Sehun. Tidak perlu penegasan ucapan, yang Sehun lakukan sudah menegaskan segalanya.

Hal yang lebih mengejutkan adalah headline news di tv satu jam kemudian. Kecelakaan bus jurusan Korea-Incheon terjadi saat hujan deras mengguyur perbatasan kota. Tidak ada korban tewas, hanya semua penumpang mengalami luka.

Inilah alasan ketakutan Sehun waktu itu.

.

.

Oh Sehun, 20 tahun. Berasal dari Daegu. Ia dikenal begitu dingin, cuek, dan apatis… setidaknya tidak sebelum usianya menginjak 17 tahun. Dulu, Sehun anak laki-laki biasa, suka bergaul hampir gila sama seperti bocah seumurannya. Dulu, sebelum kejadian yang menimpa dirinya saat berusia 16 tahun.

Sebenarnya, istilah 'biasa' tidak pernah menempel pada diri Sehun. Ia 'special' karena dianugerahi kelebihan sejak lahir yaitu bisa melihat masa lalu dari benda yang disentuh. Orang umumnya menyebut indigo. Tidak ada yang tahu kemampuanya ini kecuali kedua orang tuanya karena mereka tidak ingin Sehun dimanfaatkan orang lain seenaknya. Sehun hanya dikenal sebagai tukang tebak yang selalu benar.

Semua berubah saat SMA dan ia tertarik pada seorang lelaki manis bernama Do Kyungsoo. Lelaki bermata besar itu yang pertama kali membuat Sehun tidak bisa mengalihkan pandang. Ditambah perhatian dan perilaku manis Kyungsoo, Sehun merasakan apa yang dimaksud dengan 'jatuh cinta'.

"Sehun ah, bisa bantu aku?" Kyungsoo mendongak menatap Sehun yang berjalan di sebelahnya sepulang sekolah.

"Bantu apa?"

"Tahu Kai? Eum…Kim Jongin maksudku, rekan setim basketmu."

"Ada apa memangnya?" Sehun memandang Kyungsoo curiga. Ada perasaan tidak enak melesak di dada.

"Bisa kenalkan aku dengannya?"

Sehun terkesiap, tidak perlu kemampuan apapun untuk memahami maksud Kyungsoo. Ia menghela napas lalu menjawab, "Bisa." Tidak menyangka bahwa perasaannya harus diakhiri secepat itu.

Esok paginya, Sehun mengenalkan Kyungsoo pada Jongin, sekaligus mundur perlahan karena merasa bahwa mereka berdua sangat cocok. Setidaknya, aku tahu rasanya jatuh cinta, pikir Sehun saat itu.

Namun di suatu malam bersalju, Sehun berpapasan Kyungsoo melangkah gontai di persimpangan jalan. Tubuh kecil Kyungsoo terlihat begitu lemas dan terus tertunduk dengan air menetes-netes memberi jejak pada gunduk putih di sepanjang jalan. Keadaanya kacau.

"Kyungsoo ya, ada apa?" Sehun buru-buru menghampirinya. Sekedar membantu memapah jalan.

Kyungsoo menggeleng, melepaskan diri dari rangkulan lengan Sehun yang tidak dibiarkan begitu saja. Sehun merangkulnya lebih erat dan…

Berbagai bayang bermunculan di otaknya. Ia melihat bagaimana Kyungsoo bertemu dengan Jongin kemudian dicekoki soju. Ia melihat bagaimana Kyungsoo mabuk lalu dibawa ke sebuah apartemen. Ia melihat bagaimana Jongin melucuti sekujur baju Kyungsoo kemudian…

"Aku tidak menyangka Jongin akan melakukan ini padamu." Ucap Sehun menahan marah. Tangannya mengepal keras.

Kyungsoo mendongak, menatap Sehun terkejut, "Apa yang kau katakan?" ia sama sekali tidak tahu apa yang Sehun bicarakan. Tidak mungkin Sehun tahu…

Sehun tidak menjawab. Sebaliknya, ia malah meninggalkan Kyungsoo lalu berlari cepat ke arah apartemen Jongin yang berjarak 2 km dari situ.

Sampai di depan apartemen Jongin, Sehun tidak segan untuk mendobrak pintunya, masuk menemui Jongin yang tidak terlalu terkejut menyambutnya. Tidak ada yang sempat Jongin ucapkan, Sehun lebih dulu kesetanan menghajarnya hingga babak belur. Tetangga apartemen Jongin yang memergoki perkelahian ini buru-buru melerai. Jongin yang hampir sekarat digotong ke atas ambulans, sedangkan Sehun digiring ke kantor polisi.

Kasus berlanjut. Sehun dituntut atas pasal penganiayaan. Karena masih di bawah umur, ia hanya diskors selama sebulan. Bagi Sehun itu tidak masalah, jika ia harus dikeluarkan dari sekolah pun tidak akan masalah. Andai saja…

Andai saja Kyungsoo mau bersaksi bahwa ia telah mengalami pelecehan seksual dari Jongin. Bukan malah nyaman digandeng Jongin dan terus memalingkan wajah darinya.

Sehun berubah. Ia pindah ke Seoul, meninggalkan hidup nyamannya untuk hidup mandiri di sebuah flat sederhana hingga masuk kuliah. Ia tidak lagi tersenyum, lebih memilih membatasi diri dari siapapun. Hingga suatu saat takdir mempermainkannya.

Sehun dihadapkan dengan Xi Luhan, seorang yang terlihat seperti dirinya di masa lalu. Senyum Luhan mengingatkannya pada masa lalu. Ia sendiri tidak mengerti alasannya, tapi ia tidak ingin Luhan mengalami hal yang sama sepertinya.

Gila? Iya.

Si Apatis itu tidak mengerti kenapa terkesan protektif pada orang yang hanya lewat dalam hidupnya. Ia tidak paham bagaimana bisa melihat masa depan yang berkaitan dengan rekan setimnya. Satu-satunya hal yang jelas adalah bagaimana Sehun hampir gila melihat Luhan terisak seperti baru dikoyak. Sehun hampir gila tanpa tahu sebabnya.

Dan setelah melihat Luhan menangis menerima surat DO siang itu, Sehun mendapat pemberitahuan bahwa dirinya dipecat sebagai mahasiswa. Ia menghela napas pasrah sadar bahwa kejadian lalu terulang, mengharuskannya mencari hidup baru lagi.

Namun, ternyata Tuhan tidak segampang itu memberikan peran. Sehun harus merasakan sakit bukan main lebih dulu, sebelum benar-benar yakin pada perasaanya

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

.

Walaupun Sehun sudah memberitahu kemampuannya, namun agak sulit bagi Luhan untuk percaya ketika terjadi di depan mata. Cara Sehun menggenggam tangannya, merunut segala kejadian yang terjadi padanya, membuat Luhan berkedip antara tidak percaya tapi harus percaya.

Itu belum semua, Sehun menariknya untuk mendatangi Huang Zitao dan Zhang Yixing, meyakinkan mereka untuk melaporkan Wu Yifan. Kedua mahasiswa asli China itu juga hanya bisa tercengang, tidak percaya bagaimana Sehun tahu apa yang terjadi pada mereka. Wu Yifan dilaporkan ke polisi, membebaskan Sehun dari tuduhan penganiayaan.

Dengan bantuan Sehun, Luhan melakukan pembuktian tentang keuangan kampus ekonomi, melaporkan bobroknya manajemen pada universitas. Tidak mudah awalnya, tapi seorang anggota BEM fakultas IT bernama Kim Joonmyeon membantu mengacak-acak intranet system keuangan kampus yang paling rumit sekalipun. Tidak hanya bebas dari tuduhan pembajakan, Luhan juga diapresiasi sebagai penyelamat universitas. Ia mendapat beasiswa sebagai ganti keputusan DO.

.

냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담냉담

.

Dua minggu kemudian…

"Ada yang bisa dibantu?" ucap Baekhyun pada pelanggan yang sekarang di depannya. Ia tersenyum lebar saat tahu pelanggan itu adalah sahabatnya, Luhan.

Luhan mendongak, memandangi menu tergantung di atas pantry, "Cappuchino ice dengan ekstra cream dan cheese waffle." Kemudian menoleh kanan-kiri mencari seseorang namun tidak juga muncul.

"Totalnya 8000 won." Baekhyun setelah mesin kasir berderit-derit, "Akan kuminta Jin mengurangi cream waffle mu, kau bisa enek makan itu dengan minumanmu."

Berdecak, Luhan protes, "Sudahlah. I have to celebrate my life with something sweet."

Baekhyun menyerahkan kartu dan struk, "Kalau begitu naiklah ke beranda. You will find something sweet up there."

Luhan tertawa karena mendengar logat Bahasa Inggris Baekhyun, "Okay, okay. Aku ke atas. Jangan lupa antarkan pesananku." Ucapnya menuju tangga café.

Awalnya, Luhan pikir akan menemukan Sehun di atas sini. Nyatanya, yang Baekhyun maksud dengan 'manis' adalah pemandangan indah sore hari. Ia tidak pernah ke tempat itu kecuali saat malam, pun untuk mengerjakan tugas dengan seorang tunaekspresi.

Santai, Luhan melangkah ke bangku, memandangi awan diarak angin dengan latar langit kemerahan. Mengedarkan pandang, ia juga baru sadar bahwa di sekitar beranda ditanami bermacam tanaman. Tomat yang sedang berbuah paling mencolok mata.

KRIEET

Pintu beranda terbuka, Oh Sehun muncul dengan nampan di tangan. Pesanan Luhan.

"Aku tidak tahu bahwa sore di sini begitu indah." Luhan membenahi duduk, menghadap Sehun.

Sehun menaruh nampan di atas meja, "Sebelumnya tidak begini, tapi Minseok hyung berencana menaruh beberapa untuk menambah kapasitas. Di bawah sudah tidak bisa menampung."

Luhan mengangguk-angguk. Meraih gelas cappuccino, ia menyeruput isinya sambil melirik matahari turun.

"Lu…" tegur Sehun pelan.

"Hm?" Luhan menatap Sehun, tidak melepas gelas di tangan.

"Thank you for everything."

Luhan terkesiap, ia menaruh gelas ke tempat semula, "Aku yang seharusnya berterima kasih, kau yang melakukan banyak hal untukku."

Sehun menghela napas, menerawang awan berarak di atas kepala, "Entahlah. Mungkin jika bukan kau, tidak akan ada Oh Sehun yang sekarang."

"Yang ada Oh Sehun yang sinikal, berwajah datar, tidak mau tahu apa yang terjadi di sekitar. Begitu?"

Sehun tertawa lepas. Ini pertama kali Luhan melihat tawa Sehun.

"Wah, sepertinya aku membuatmu gila." Luhan menggeleng, berujar hiperbola.

Sehun bangkit dari duduk, ia berjalan menghampiri Luhan lalu memeluk lehernya dari belakang, "Aku mencintaimu Lu, mungkin karena itu aku bisa berubah."

Luhan tercekat. Ia menunduk dalam dengan wajah semerah potongan cherry di atas waffle pesanannya. Tanganya terangkat meraih dada, ingin memastikan keberadaan jantungnya namun sayang, terhalang lengan Sehun. Luhan tidak tahu di mana posisi jantungnya sekarang.

"Aku tidak mendapat jawaban?" tegur Sehun.

"Kau tidak bertanya apapun." Luhan protes.

Beralih ke samping, Sehun meraih dagu Luhan. Ia tersenyum sebelum mencium bibir Luhan. Tidak hanya berlangsung lebih lama, ciuman itu juga lebih lekat dengan saling tarik-ulur di antara keduanya.

"Be mine Lu. Please." Sehun menatap dalam, sebelum bibirnya beralih ke kening Luhan.

Luhan mengangguk, "Aku mau." Jawabnya menarik Sehun dalam peluk.

Sehun membalas peluk Luhan lebih erat. Tanganya mengelus-elus rambut coklat terang Luhan. Matahari tenggelam sepenuhnya saat itu.

Melirik pintu beranda yang tidak ditutup Luhan bergumam, "Haruskah kuminta managermu untuk tidak menjadikan tempat ini bagian café?" ia melepaskan pelukan Sehun, buru-buru memberi jarak karena sadar sudah jadi tontonan. Chanyeol, Baekhyun, dan Minseok berdiri puas di sana.

Sehun justru terlihat tidak risih sama sekali, ia malah merangkul bahu kekasihnya, "Kau tidak bisa pergi dariku Lu, tak akan kubiarkan."

"Aku tahu, asal kau melepaskanku." Luhan mengelak malu.

Minseok terbatuk, sengaja menginterupsi, "Eum, maksudku menghampirimu ke sini karena ada pelanggan yang kehilangan kartu kreditnya di bawah. Bisa tolong carikan?"

"Sure." Sehun bangkit, meninggalkan Luhan, "Aku pergi bertugas dulu, Sayang."

Chanyeol, Baekhyun dan Minseok mengaga mendengar ucapan Sehun. Sementara Luhan hanya bisa menunduk malu bukan main. Siapa sangka si Dingin itu bisa berubah cheesy?

.

.

.

END

Ide ff ini berasal dari kasus Presiden BEM di UNJ yang DO karena mengkritisi kebijakan kampus, ditambah curhat temen yang akhirnya ngaku bahwa dia indigo, kemampuannya kayak Sehun di atas. Belum bisa digolongkan supernatural kan ya?

Terima kasih untuk semua yang baca & pencet favorit. Teruntuk Seravin509, rebaem, misslah, HHS, Nakemi Ido, luosh794, kaika0788, sehunluhan0494, 520, Boytanakamara & gyupal. Buat tyasearu aku emang sengaja bikin Yifan pinter banget, sekolahnya aksel, tp bejad. Dan untuk pudding rendah lemak u are right babe, ff ini pernah ikut event KC.