Anti-System

By : Mikazuki Hikari

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi©

All Chara belong to Fujimaki Sensei

This Fiction belongs to Mikazuki Hikari

No Profit Gained by writing this Fiction

Rate : T

Genre : Romance

Pairing : Akashi.S x Kuroko.T

Warning : Shonen-Ai, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC)

Don't Like Don't Read

I have warned you

.

.

.

Entah kenapa hari ini terasa berbeda. Mungkin karena pemuda barusan itu. Aku belum sempat menanyakan namanya. Tapi apa mungkin aku bertemu dengannya lagi? Aku juga tidak tahu.

Aku sendiri merasakan ada hal yang lain dari diriku. Tidak seperti biasanya, aku menjadi sedikit lebih bersemangat. Apakah ini yang orang namakan dengan motivasi? Kalau memang iya, aku tidak pernah merasa termotivasi seperti ini.

Setelah dosen mata kuliah jam ketiga meninggalkan kelas, aku memutuskan untuk pergi istirahat karena tadi ketua kelasku bilang, dosen yang mengajar setelah ini berhalangan hadir karena harus menyelesaikan disertasinya, jadi setelah ini aku sudah bisa pulang, namun pulang ke rumah tetap menjadi momok yang mengerikan bagiku. Belum pamanku sedang berada di rumah. Jadi aku memutuskan untuk mengulur waktu lebih lama, toh mereka juga pasti mengerti jika seorang mahasiswa Teknik sepertiku pulang sedikit lebih lama. Lain halnya dengan nenekku tapi aku yakin, karena paman ada di rumah jadi pasti wanita tua itu mengabaikannya.

Aku beranjak dari tempatku duduk di kursi paling belakang. Aku melewati Sugizaki-san yang sedang asik berbicara dengan kekasihnya. Tak sengaja aku sedikit mendorong pundaknya dan pemuda dengan tindik pada telinganya itu mendorong balik tubuhku.

"Kau! Berani sekali kau mendorongku seperti tadi. Apa nyalimu sudah besar sekarang?" Pemuda itu nampak sangat geram. Aku sendiri bingung, pundaknya hanya sedikit terdorong olehku tapi, apa kah harus sampai semarah ini? Aku tidak membalas perbuatannya dan memutuskan untuk pergi melaluinya begitu saja. Namun nampaknya pemuda itu masih tidak terima. Tinjunya menghantam wajahku hingga lebam yang sangat kentara bisa dilihat disana.

Aku menolehkan wajahku dan menyeka darah yang keluar dengan saputanganku. Aku memang tidak mengerti bagaimana cara orang ini berpikir, apa mungkin aku melakukan kesalahan yang fatal?

"M-maafkan aku…" Wajahku tertunduk. Manik berkilat itu masih nampak tidak puas. Aku bisa melihat kekasihnya tertawa dan nampak kagum pada perjaka bertindik satu itu. Setelah melihat pemandangan tadi, aku kini mengerti.

Orang ini ingin terlihat hebat di hadapan orang yang ia sayangi.

Tapi apa memang harus sampai mengorbankan orang lain seperti ini? Aku juga tidak mengerti mengapa ada manusia yang tega melakukan hal yang demikian hanya untuk sebuah pujian.

Memang yang aku tahu kalau kita menginginkan sesuatu, ada harga yang harus kita bayar. Tapi apakah cara seperti ini dibenarkan? Apakah aku egois jikalau seandainya aku membalas perbuatannya padaku? Memang aku siapa? Aku tidak ada hak untuk membalasnya. Tenaga saja aku tidak punya.

"Su-tan, aku lihat dari pagi anak ini nampak sedang senang dan aku benci itu." Ucap perempuan, yang menurutku nampak seperti wanita tuna susila, itu pada kekasihnya. Aku yakin benar tinju lainnya akan menyusul sebentar lagi.

"Sugizaki, kumohon hentikan. Yang tadi itu sakit sekali." Aku memohon padanya. Memohon seperti anak kucing yang sedang ketakutan saat anjing besar datang menghampirinya.

Aku tahu, pria ini pasti tidak mengindahkannya.

"Kau pikir kau ibuku? Jadi bisa dengan mudahnya kau meminta hal seperti itu padaku?"

Benar saja….

Tinju lainnya terarah tepat kearah wajahku. Aku tidak tahu apa jadinya wajahku sekarang. Tapi wanita jalang itu kini tertawa. Mungkin wanita itu merasa bahwa ia telah berhasil menghapus senyum diwajahku.

Aku menggigit bagian bawah bibirku dan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Saat kurasa tenagaku sudah kembali aku beranjak dari posisiku, dan meninggalkan mereka yang entah mengapa, kini sedang asik bercumbu.

Memang, banyak hal yang tidak kuketahui dan tidak kumengerti tentang dunia ini.

Anda saja aku bisa bertemu dengannya lagi…

.

Kebetulan aku juga berkuliah di tempat ini jadi, ayo turun

.

Ah…

Sekarang kau ada dimana? Mungkin kedengarannya aneh. Tapi, andai saja ia ada disana tadi, mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini.

Aku berjalan menyusuri lobi tengah kampus sambil menutupi bagian wajahku yang lebam. Dari sudut mataku aku mendapati tiap orang yang kulalui tengah berbisik dan menatap tajam kearahku. Mereka saja, yang notabene tidak ku kenal tega melakukan hal yang seperti itu, apa kata orang rumahku nanti? Pasti mereka tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan.

Aku memutuskan untuk duduk dan bersandar pada pilar besar penyangga yang ada dekat lift. Aku mengambil telefon genggamku dan melihat refleksi diriku pada layar yang tidak menyala sebagai ganti cermin. Nampaknya tidak terlalu buruk.

Jelas aku pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Saat pamanku menghajarku dulu. Terdengar lucu ya?

Aku tidak mengerti, aku selalu merasa bagaikan seorang diri. Orang-orang yang ada di sekitarku tidak pernah sedetik pun menghiraukanku. Ingin rasanya aku menangis…

"Tetsuya? Itu kau?"

Suara ini…..

"Ada apa dengan wajahmu Tetsuya? K-kau—"

"Tadi habis digigit serangga…." Orang bodoh mana, dan serangga mana yang bisa menyebabkan bekas memar sebesar ini. Aku terus saja tidak ingin membuat orang khawatir padaku

"Kalau bohong yang bagus sedikit Tetsuya. Ah! Iya maaf aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Akashi Seijuuro. Aku dari jurusan Manajemen jadi kita jarang sekali bertemu. Hari ini jadwalku di lantai 5."

Akashi-kun….

Jadi itu namanya.

Tangan pemuda itu membelai halus lebam yang ada di wajahku. Entah mengapa, tiap ia menjamah bagian tubuhku, tubuhku menjadi panas karenanya. Sesaat, rasa sakit itu tidaklah terasa. Hanya dengan melihat manik merah itu menatap teduh ke arahku, semua rasa takutku tadi seakan sirna.

Apa aku menyukainya?

Tidak…

Kali ini rasanya berbeda dari seperti apa yang kurasakan dengan Aomine-kun dulu. Aku belum pernah merasakan yang seperti satu ini. Dulu, saat bersama dengan Aomine-kun aku merasa sangat nyaman, maka dari itu aku menyukainya.

Namun pemuda ini…..

Lebih dari sekedar nyaman yang kurasa. Aku merasa jauh lebih tentram dan—

Aman…..

Ya aman. Rasanya seperti tidak perlu ada yang harus dikhawatirkan saat pemuda ini ada di sebelahku. Baru kali ini aku merasakan sebuah sosok yang rasanya, menginginkan keberadaanku.

Aku bisa melihat kini obsidian kemerahan itu menjadi sedikit redup. Aku bisa melihat amarah timbul dari gertakan giginya yang terdengar bersama kepalannya yang sudah dengan erat ia genggam. Nampak persis seperti ingin membalaskan apa yang terjadi padaku.

"Sudah Akashi-kun aku baik-baik saja." Aku menggenggam tangannya dan dengan wajahku yang masih dipenuhi memar, aku mencoba tersenyum padanya.

Aku tahu, bahwa jawabanku tadi tidak mungkin bisa merubah pikirannya, air mukanya saja tidak dapat kuubah. Tapi jauh dilubuk hatiku, selain dengan Aomine-kun aku senang ada orang yang bisa berpikir demikian.

Kini tangan Akashi-kun menggenggam erat tanganku dan meletakkannya di pipinya. Ia menarik tubuhku dan memeluknya dengan tangannya yang lain. Tangannya meremat paksa bagian belakang kemejaku dan aku dapat mendengar ia berbisik.

'Andai aku bisa memelukmu terus seperti ini Tetsuya. Andai aku bisa mengerti apa yang menjadi beban bagimu, mungkin kau tidak akan menjadi seperti ini.' Nada bicaranya sedikit gemetar.

Pemuda yang baru saja kutemui. Pemuda yang hanya sekilas mengenalku. Dapat dengan mudahnya mengucapkan apa yang ingin selama ini kudengar, dan apa yang selama ini hilang dari Aomine-kun. Tak kuasa ku menahan airmataku, aku pun terisak dan membenamkan wajahku sekali lagi di pundaknya. Dalam ratapku aku yakin, bahwa selama ada orang ini, semuanya akan baik-baik saja.

"Tetsuya, sehabis ini apa kau masih ada mata kuliah lainnya?"

"Tidak, memang Akashi-kun sudah selesai juga setelah ini?" Aku balik bertanya kepadanya mengingat kami beda jurusan.

"Aku sudah kosong setelah ini. Kau mau pulang denganku? Siapa tahu kita bisa memakan sesuatu yang enak bersama saat pulang."

"Sekarang?" tanyaku.

"Pfftt- segitu tidak sabarnya kah?" Akashi-kun membelai kepalaku lembut. Aku tidak mengerti mengapa aku sangat suka melihat wajahnya saat ia tertawa seperti itu. Terlihat manis dimataku. Mungkin karena bulu matanya yang agak sedikit panjang membuatnya nampak sedikit manis, walau memang parasnya sangatlah maskulin.

"Ayo—?" tanganku meremat jumbai lengan bajunya untuk memberi isyarat. Wajahku sangat panas jadi aku tidak berani menatap wajahnya.

"Kalau kau memaksa." Tangan besar itu kembali mengacak-acak rambutku.

.

.

.

"Tetsuya." Panggilnya.

"Hnn?"

"Aku tahu kedai crepe yang enak dekat sini, kita makan kesana yuk?" tawarnya.

Ah aku tahu kedai crepe yang Akashi-kun maksudkan, ayah sering membawaku kesana dulu. Apa benar kami akan kesana? Berdua dengannya?

Aku menjawabnya dengan sebuah anggukkan. Sungguh mati aku sudah berusaha melirik ke arahnya. Aku terlalu gugup saat ini. Bukan karena aku tidak pernah berjalan berduaan dengan orang lain. Tentu aku sering melakukannya dulu dengan Aomine-kun tapi, sekarang ini terasa lain.

Jika harus kuungkapkan dengan kata-kata, Akashi-kun nampak seperti seorang pahlawan bagiku dan…

Terlihat keren….

Ah, wajahku menjadi semakin panas, bisa mati aku jika dia melihatku seperti ini.

Entah mengapa, aku merasa jalan pemuda itu sedikit lebih cepat belum lagi, sedari tadi aku larut dalam lamunanku dan benar saja, sesaat kemudian aku sudah tidak bisa melihatnya lagi.

Bisa terpisah di saat seperti ini, dan harus mencarinya di tengah kerumunan orang seperti ini aku ini, bodoh sekali ya.

Aku mati-matian berusaha mencari Akashi-kun namun, rasa panikku mengalahkan akal sehatku jadi aku benar-benar tidak bisa menemukannya hingga sebuah tangan besar menggenggam tanganku.

"Akashi-kun-?"

"Akhirnya aku menemukanmu Tetsuya." Ia memeluk tubuhku erat.

"H-hentikan, aku malu ditengah kerumunan orang seperti ini….." Aku memelankan suaraku.

Ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman di wajahnya. Tangan besar itu kembali menggenggam tanganku.

"Kalau terus bergandengan tangan denganmu seperti ini rasanya, walau di ujung dunia pun, aku bisa dengan mudah menemukanmu kalau memang seperti ini caranya."

Wajahku sontak merona. Apa-apaan ucapannya barusan itu, aku menjadi semakin gusar karenanya, dan terus saja wajah pemuda ini semakin memenuhi kepalaku, hingga aku tidak bisa memikirkan yang lain kecuali dirinya.

"Ayo kita pergi, kedainya sudah dekat." Akashi-kun kembali tersenyum seraya menarik tanganku dan mengajakku berlari menerobos kerumunan. Andai saja aku bisa menghentikan sang waktu, ingin rasanya aku terus berlari dengan pemuda ini, lari ke suatu tempat dimana orang tidak bisa menjamah kami lagi, dan sebuah tempat yang hanya ada aku dan dirinya berdua.

.

.

.

"Kau mau pesan apa Tetsuya?" tanyanya setibanya kami di kedai crepe yang tidak jauh dari halte tempat biasa aku menunggu bus. Paman tua penjaga kedai itu pun masih mengenaliku. Tak jarang ia bercerita soal ayah saat pertama kali tadi kami datang dan duduk di dalam kedai.

Memang tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Suasananya yang nyaman dengan dinding kayunya serta lampu bulat yang senada. Juga pintu kayu dengan kaca bening bergambarkan logo dari kedai, juga aroma manis dari adonan crepe yang sedang dibuat adalah lebih dari cukup menjadi daya tarik yang dapat menghipnotis siapa saja yang masuk dalam kedai ini.

Belum lagi rasa crepe yang tidak dapat kau jumpai di tempat lain, itu menurutku.

"Tetsuya, lagi-lagi kau melamun, kau mau pesan apa?"

"Ah! Maafkan aku, tadi aku bernostalgia sebentar."

"Jadi kau mau pesan apa?"

.

Kau makan yang ini saja, pilihanmu selalu hal yang tidak masuk akal

.

"A-aku pesan yang Akashi-kun pesan saja….." Aku menundukkan wajahku.

"Aku ingin Tetsuya yang pesan nanti kau yang bayar."

.

Ayo Tetsuya, pesan apa yang kau suka, nanti Ayah yang bayar

.

Sontak air mataku kembali menetes. Aku tidak mengerti. Mengapa pemuda ini selalu dengan mudah mengatakan hal-hal yang sangat aku rindukan. Rasanya, seperti mendapatkan kembali sesuatu yang sudah lama hilang. Aku—

"Aku m-mau pesan rasa strawberry…" ucapku pelan. Aku bisa melihat paman pemilik kedai itu tersenyum ke arahku juga ke arah Akashi-kun.

"Aku sudah lama tidak mendengar itu darimu Tetsuya, Paman akan buatkan kesukaanmu yang sering kau pesan dulu dengan ayahmu."

Satu kata.

Bahagia.

Aku melihat ke arah Akashi-kun dan tersenyum dan sekali lagi aku merasa nyaman dan aman bersama pemuda ini.

.

.

.

"Ini dua crepe strawberry untuk kalian, hari ini spesial, gratis, karena aku sudah lama tidak membuat satu yang seperti ini." Ucap paman dengan tertawaan khasnya. Paman ini selalu baik dari dulu. Ia kenal ayah saat ayah masih kerja di perminyakan dulu. Seusai kerja, ayah sering mengajakku kesini dan kebetulan istri dari paman ini adalah teman kerja ayah jadi hubungannya dengan ayah sangat dekat.

"A-akashi-kun apa yang kau lakukan?!" Aku terkejut saat Akashi-kun menjilat sudut bibirku. Aku pun masih bisa merasakan friksi yang ditimbulkan lidahnya saat bersentuhan dengan bibirku wajahku pun menjadi lebih merah dari strawberry yang bertengger di puncak crepeku.

"Tadi ada krim disana Tetsuya." Nampaknya ia menganggap biasa tindakan yang ia lakukan tadi. Buktinya, ia kembali asik dengan makanannya.

"Aaaah, senangnya menjadi anak muda." Paman itu tersenyum, dan hanya membuat keadaan menjadi semakin buruk.

"Akashi, kau harus menjaga Tetsuya ya anak ini adalah anak yang baik, sulit untuk menemukan satu yang seperti dia ini." Tangan gempal itu merangkul pundak Akashi-kun dan dibalas dengan sebuah senyuman pertanda setuju dari sang pemilik surai merah terang itu.

"Aku tidak bisa melepaskannya paman, ia sangat berharga bagiku."

"Kalian sudah kenal lama ya?" tanya sang paman.

"Tidak, baru tadi pagi." Jawab Akashi-kun. Aku tidak berani berkata sepatah kata pun. Satu kata saja keluar dari mulutku aku yakin, pasti suasananya akan menjadi semakin aneh.

"Baru kenal tadi pagi? Tapi sudah sedekat ini?" Paman itu menaikkan alisnya. Pipinya yang bulat besar juga terangkat seraya alis itu berkedut.

"Mungkin takdir paman."

"Ah kau bisa saja." Paman itu menyiku lengan Akashi-kun sambil tertawa.

"Kau sangat beruntung Tetsuya." Ucap paman sambil masih dengan tertawanya yang menurutku sedikit lucu.

Beruntung ya—?

Semoga saja…..

.

.

.

Langit diatas kami sudah berubah menjadi gelap. Tidak terasa kami menghabiskan waktu yang sangat lama disini. Paman banyak bercerita tentang masa kecilku pada Akashi-kun dan aku hampir mati karenanya. Aku berpisah dengan Akashi-kun di halte bus karena ternyata rumahnya sedikit lebih jauh dariku.

Tapi keceriaan yang baru saja ku alami, menghilang saat aku teringat wajah mengerikan orang rumahku saat aku pulang.

Dan benar saja….

"Pulang selarut ini?! Jadi benar apa yang nenek ucapkan tentangmu." Ayah sudah berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang tidak ingin sekali kau lihat. Nenekku pun sudah berdiri di belakangnya seperti siap menerkamku saat itu juga

.

.

.

-=To Be Continued=-

-=Author's Note=-

Mind to Review my Fic?