WARNING : AU, gaje, OOC SANGAT!, rated T, Don't like don't read, maybe contain some typos

Halooo! Aku muncul lagi dengan melanjutkan fic lama. Ini waktu bikin lumayan banyak gangguannya, tapi aku bela-belain update buat yang nunggu. Soalnya internet lagi buruk sinyalnya, juga lagi UAS. Otaknya udah panas gara-gara sin cos tan jadinya, maaf kalo idenya buruk banget.

Siap siap berkomentar ya! Dan maaf kalo khusus chapter satu pendek banget. Yup! Selamat membaca...

Summary : Bagaimana jika Hinata berpacaran dengan Naruto tetapi hatinya sudah didapatkan oleh si bungsu Uchiha? Siapa yang akhirnya dipilih Hinata? Pilihan hatinya, atau statusnya? Check it out..

Disclaimer : Masashi kishimoto-sensei

Last, happy reading!

*Mrs. Funny*

Hari ini, seperi rutinitas biasanya—dimana setelah hari libur pasti akan ada masuk lagi. Aku pun sama. Setelah kemarin libur, sekarang masuk lagi. Seolah belum mau membiarkan moodku naik, hari pertama masuk setelah hari minggu, jadwal pelajaranku adalah olahraga di jam pertama. Menyebalkan bukan? Oh, apa aku lupa menceritakan bahwa aku sangat-sangat membenci olahraga, kecuali renang.

So, here i am. Berada didepan gerbang sekolah, yang bertuliskan 'Suna International High School'. Jangan bilang aku juga lupa menceritakan kepada kalian jika aku bersekolah di Suna Interntional High School. Oh tidak, jangan terlalu menganggapku mengagumkan, kalian pun bisa bersekolah disini juga. Dan, oh tidak, jangan bayangkan ini sekolah yang menyenangkan seperti sekolah-sekolah internasional yang ada di sinetron-sinetron ataupun novel-novel karya penulis terkenal. Mungkin Suna International High School terkenal dan terpandang karena prestasi akademis dan non-akademis yang seimbang menjadi salah satu sekolah favorit di kota Suna. Menurutku, tidak ada yang terlalu mencolok dari sekolah ini, maksudku jika kamu tahu maksudku—mempunyai gedung utama, memiliki banyak murid, memiliki kantin sekolah, memiliki toilet. Jadi, apa bedanya dengan sekolah lain? Ah sudahlah, jangan membahas sekolah. Sejujurnya, aku sendiri pun tidak tahu kenapa aku mau bersekolah disini, mungkin karena aku anak yang cukup menurut dengan perintah orangtua. Aku berada disini, bukan karena sekolah ini menerima uang sogokan dari orangtuaku (yang kata orang, orangtuaku pebisnis terpandang). Aku berada disini melalui jalur yang sama seperti murid disini umumnya, mengikuti tes. Oh, tunggu dulu, prestasiku juga tidak muluk-muluk ataupun parah-parah banget, aku termasuk biasa-biasa saja. Tidak ada yang mencolok dari diriku, pada umumnya. Seperti murid lain, aku pun bisa tidak memahami pelajaran eksakta jika aku tidak fokus memperhatikan. Maka, khusus untuk pelajaran eksakta, seberapa pun besarnya godaan untuk tidak memperhatikan pelajaran eksakta, aku selalu berusaha fokus memperhatikan guru-guru mata pelajaran eksakta yang sedang berceramah didepan muridnya. Dan ya, aku memang tidak terlalu memperhatikan guru-guru non eksakta, dan contoh simpelnya adalah guru sejarah. Aku sudah menjadi langganan Mrs. Kurenai karena jarangnya memperhatikan dia ketika mengajar. 'Bitch, dia terlalu mengharapkan perhatianku, rupanya.' Begitulah pikirku jika Mrs. Kurenai sudah menyebutkan namaku disela-sela materi mengajarnya. Aku cukup heran, kenapa masih ada guru sejarah. Aku pikir, semua yang sudah lalu tidak perlu diungkit atau dijadikan bahan pembicaraan lagi, bukan? Apa dengan kita membicarakan, atau pun mengomentari suatu peristiwa sejarah, sejarah akan berubah? Tidak ada pengaruh, tidak ada perubahan. Untuk apa pula kita mengetahui riwayat seseorang? Tapi, meskipun begitu, aku selalu membaca ulang dirumah karena meskipun aku tidak memperhatikan Mrs. Kurenai ketika mengajar, aku masih bisa memahaminya dirumah. Ah sudahlah, pembicaraan tentang sejarah dihentikan sekarang.

Kulirik jam yang ada ditanganku sebentar.

'masih kurang tiga puluh menit, rupanya.'

"tou-san, aku masuk ke kelas dulu." Aku mencium pipi tou-san dan menarik napas dalam-dalam sebelum aku melangkahkan masuk kedalam gedung.

"ya sayang, hari ini ada ekstrakurikuler?"

"tidak, tou-san. Tou-san tidak perlu menjemputku, nanti aku akan pulang dengan sakura-chan atau dengan ino-chan."

"baiklah, selamat belajar sayang."

Ketika mobil yang dikendarai tou-san sudah mulai mengecil karena menjauh dari pandanganku, aku menarik napas dalam-dalam (lagi), menegakkan kepalaku, dan melangkahkan masuk. Dengan sedikit senyum mengembang dibibir tipisku. Terselip sebuah pengharapan kecil.

'semoga hari ini menyenangkan! Ganbatte!'

*Mrs. Funny*

Aku melangkah kan kaki menuju ke dalam gedung sekolah, meskipun belum jam delapan, sekolah sudah dipadati siswa yang rajin dan niat ke sekolah, juga untuk siswa yang belum mengerjakan peer, dan mencontek pekerjaan milik temannya. Ya begitulah kelasku, biasanya.

"Hina-chan!" aku menengokkan kepalaku mencari arah dari sumber suara tersebut. Ino rupanya. Ya, aku memang dipanggil dengan sebutan 'hina-chan' oleh ino dan sakura. Aku langsung tersenyum kepada ino.

"hai ino-chan.." aku menjawab sambil berlari kecil menuju kearahnya. Dan...

BRAK!

"hina-chan! Kok bisa jatuh sih? Lagi liatin apa kamu? Ayo aku bantu berdiri."

Aku hanya meringis. Aku keseleo sewaktu berlari kearah ino, yah mungkin memang takdirku untuk jatuh. Tapi percayalah, aku beranggapan ini adalah sebuah awal yang buruk di hari senin, semoga ini hanya bayangan buruk ku.

"ayo berdiri, bisa tidak?"

Aku mendongak perlahan, beralih memandangi sepasang sepatu yang berada disamping sepatu ino dan sepatuku. Dan.. tunggu dulu, orang ini tidak memakai rok! Tetapi memakai celana.. dan.. orang ini adalah..

"Gaara-san. Ie, aku bisa kok."

Aku menerima uluran tangannya, mereka berdua memapahku perlahan hingga aku duduk dibangku ku. Aku memang sekelas dengan Ino-chan dan Gaara-san. Oh, jangan lupakan jika gaara-san adalah ketua kelasku. Jadi, wajar saja jika mereka membantu teman sekelas yang kesusahan.

"kenapa kamu bisa jatuh? Kamu lagi liatin apa sih?"

"aku kan tadi lagi liatin kamu, ino-chaan. Eh tau-tau malah keseleo. Sakit sekali ino-chaan.."

"ceroboh! Tunggu dulu, aku ambilkan air hangat untuk mengompres kakimu agar tidak terkilir." Aku hanya bisa cemberut dibilang ceroboh. Tapi bukan aku jika tidak ceroboh.

"aaa, terima kasih, panda-san." Jawabku sambil mencibir.

*Mrs. Funny*

"pakai ini, mumpung masih lima belas menit lagi sebelum olah raga dimulai."

Aku yang sedang duduk dikelas, tiba-tiba dikejutkan oleh ketua kelas yang tadi bilang akan mengambilkan air hangat untuk mengompres kakiku.

"makasih, gaara-san. Ngomong-ngomong nanti olah raganya apa gaara-san?"

Aku menerima air hangat yang diberi oleh gaara-san dan membalutkannya dikaki kananku yang tadi keseleo. Ya Tuhan, ini benar-benar sakit!

"hn. Nanti olah raganya lari jarak menengah. Kalau kakimu memang masih terasa sakitnya, lebih baik kamu tidak perlu ikut. Dimana ino? Kenapa tidak menemanimu?"

"dan aku ikut susulan sendiri? Tidak terima kasih. Entah, mungkin sedang mengadu ke naruto-kun." Jawabku sedikit mencibir.

"terserah kau saja. Jangan dipaksakan. Merepotkan." Ia pergi begitu saja setelah mengatakan itu. Aku pun tidak terlalu memikirkannya, aku hanya memikirkan kakiku yang sedang maksimal-maksimalnya sakit.

*Mrs. Funny*

Jam pelajaran pertama sebentar lagi dimulai, yaitu pelajaran olah raga. Semua siswa kelasku sedang menuju loker untuk mengambil pakaian olahraga dan berganti pakaian. Aku pun demikian. Aku meletakkan dompet, ponsel, dan alat pribadi lainnya didalam loker. Aku memutuskan untuk ikut berlari. Meskipun hasilnya tidak maksimal. Setidaknya aku bisa mencoba, toh kalau aku sudah tidak kuat aku bisa meminta guy-sensei ataupun gaara-san untuk menjemputku.

"permisi sensei, saya mau ijin, kaki saya tadi keseleo, tetapi saya tetap akan berlari, mohon pengertiannya, terimakasih sensei, saya permisi."

"ya, kalau memang tidak kuat, tidak usah dipaksakan, yah aku juga mengerti meskipun yang namanya masa muda selalu bersemangat untuk melakukan apa saja. Semangat Hinata-chan!" guy-sensei menjawab dengan mengerahkan seluruh passionate yang dimilikinya, yah you know what i mean, right?

"terima kasih sensei.."

Siswa kelas 2-3 sudah berkumpul dilapangan semuanya, termasuk aku sendiri. Kami semua sedang berkumpul untuk mendengarkan arahan rute juga ceramah singkat dari guy sensei tentang rute yang akan kami lalui, berhubung yuna-chan tidak boleh diikutkan berlari karena memang baru sembuh dari sakit, dialah yang menjadi timer menggantikan guy-sensei.

"satu.. dua.. tiga.. priiiiittttt!" peluit sudah ditiup, ini saatnya berlari. Oh maksudku berjalan cepat karena kondisi kakiku.

Ditengah rute, aku sudah merasakan sakit yang luar biasa, percayalah, this is the worst thing ever did! Untung saja ino-chan mau menemaniku dengan tidak berlari tetapi berjalan cepat beriringan denganku. Aku berhenti sejenak, memikirkan kemungkinan untuk meminta dijemput oleh guy-sensei. Tapi tidak, aku harus berusaha.

"yaa, apa kau masih kuat, hina-chan?"

"iiee, aku masih kuat ino-chan.."

Aku terus belari kecil dengan ino-chan disampingku, hingga akhirnya aku melihat yuna-chan sedang meneriakiku agar cepat.

'aku bisa melakukan lebih dari apa yang aku kira! Ganbatte!'

Aku berlari, hingga akhirnya yuna-chan berteriak..

"ya, ino-chan dan hinata-chan waktu kalian bersamaan, dua puluh menit lebih tiga detik."

Akhirnya, aku bisa melakukan apa yang aku kira aku tidak bisa lakukan. Aku tahu sekarang, aku mampu melakukan lebih dari hal yang aku pikirkan sebelumnya. Sekarang aku tahu, kalau untuk melawan dirimu sendiri saja kau bisa, maka kau akan lebih mudah melawan musuhmu lainnya. Karena musuh terberat adalah dirimu sendiri. Dan aku, mengalahkannya..

*Mrs. Funny*

Sebagian besar murid kelasku sedang tiduran dibelakang kelas, dengan kaki berjajar ditembok. Mencoba meluruskan kaki dengan menempatkan kaki lebih tinggi dari jantung. Aku yang memang baru sampai, langsung bergabung dengan mereka yang sudah sampai jauh lebih dulu, sedangkan ino sedang duduk sambil meluruskan kakinya.

Ino mengambil sesuatu dari tasnya dan memberikan padaku.

"pakailah, tadi pagi waktu aku pergi, aku mencarikan balsem ini untukmu di uks, hinata."

"wah-wah aku tersanjung ino-pig. Apa kau sudah mulai menyukaiku, ino-chan?"

"baka! Aku hanya malu jika berjalan disamping orang yang pincang.." ino menjawab sambil menjulurkan lidahnya. Benar-benar menyebalkan!

"hn. Terimakasih,"

Masih sambil tiduran, aku sudah mengoleskan balsem itu ke separuh kakiku yang terkilir. Dan tiba-tiba saja ada seseorang yang merebut balsem tersebut. Aku sudah akan marah, sebelum aku melihat siapa orang yang akan kumarahi.

"ketika badanmu sedang berkeringat, tentu pori-pori kulitmu membuka, dan jika pori-porimu yang sedang membuka malah disumpal oleh balsem, maka balsem akan menutup keringat yang akan keluar lewat pori-porimu hina-chan.." pria itu menjelaskan dengan panjang lebar.

"yaa! Kenapa kau ada disini senpai? Bukankah kelas senpai sedang pelajaran? Atau jangan-jangan kau membolos pelajaran ya, senpai?"

"yaa! Kenapa kau selalu mengagetkanku naruto-kun?"

Suaraku dan suara ino terdengar berbarengan. Aku sedikit kesal karena tiba-tiba saja naruto-kun sudah ada disampingku tanpa memberi aba-aba jika dia akan mengunjungi kelasku. Memang benar, dia sering mengunjungi kelasku, tetapi biasanya pada waktu jam istirahat agar bisa membeli jajan bersama.

"hina-chan, kau yang terlalu serius dengan balsem-mu itu, sehingga tidak menyadari kehadiranku. Dan kau ino, aku tidak membolos karena asuma-sensei sedang ada workshop di Kiri International University. Jadi, dia tidak bisa mengajar kelasku. Toh aku juga sudah mengerjakan semua tugas pengganti Asuma-sensei."

"tidak hanya aku yang terkejut, naruto-kun. Tetapi ino-pig juga, iyakan?"

"tidak juga sih, soalnya aku sudah tau karena murid sudah mulai berbisik-bisik."

"haah, sudahlah, memangnya kenapa dengan kakimu, hina-chan? Kalau hanya lari, mukamu tidak akan terlihat begitu kesakitan."

Naruto-kun memang selalu bisa menengahi segala perselisihan. Dia sekarang sedang menginjak kelas akhir di sekolah ini, jadi tidak heran jika intensitasnya menemuiku menjadi berkurang. Karena memang kelas akhir difokuskan untuk mengikuti tambahan pelajaran untuk Ujian Akhir.

"itu, tadi aku keseleo."

"bagaimana bisa?"

"ceritanya panjang naruto-kun, lain kali saja aku ceritakan. Dan sekarang lebih baik kau kembalikan balsem itu kepadaku. Sakit sekali rasanya tahuu."

"bukankah aku sudah bilang jika setelah habis olahraga jangan menggunakan balsem? Dan.."

"hinata-chan berhubung sudah ada naruto-senpa, aku akan membeli minum dulu dikantin dengan yuna-chan. Bye-bye.."

Kami berdua sama-sama mengabaikan perkataan ino, karena memang ino tidak membutuhkan jawaban. Dan dijawab ataupun tidak, ia tetap akan pergi.

"dan.." aku menirukan suaranya.

"dan kalau sehabis lari, kau tidak boleh langsung tiduran, karena kondisi badanmu belum stabil sehabis berlari."

Aku tidak terlalu heran jika dia tau banyak tentang olahraga, karena ia memang rutin pergi ke gym jika ada waktu luang dihari liburnya.

Dia mencoba menarikku agar aku merubah posisiku menjadi duduk. Aku mengira, ia akan kembali ke kelasnya setelah ia berhasil mengusikku, ternyata ia malah melepas sepatu olah raga yang aku kenakan beserta kaos kakinya.

"na-naruu-kun mau apa kau?"

"tidak usah bawel."

Aku menurut. Aku hanya diam membiarkan ia melepas sepatuku. Dan aku sedikit terkejut ketika ia malah melemaskan otot-otot disekitar tungkaiku yang terkilir. Aku sedikit merona dibuatnya, karena diperhatikan berlebihan seperti ini. Hey, seharusnya, aku memang menjadi gadis paling beruntung karena mendapatkan pacar yang perhatian juga penyayang seperti naru-kun. Tapi, apa yang malah aku lakukan? Aku malah mencintai orang yang belum pasti masih mencintaiku.

"maaf aku hanya bisa membantumu melemaskan otot-ototnya dan bukan memijitnya. Aku hanya takut malah membuat kakimu yang terkilir semakin parah."

"arigatou, arigatou gozaimasu naru-kun," aku menjawab seraya memeluknya. Aku tersenyum miris dalam dekapannya. Benar-benar gadis jahat aku ini. Semoga, semoga aku bisa menyayangi naruto selayaknya aku menyayangi sasuke.

Dan, pada saat aku melepaskan diri dari pelukannya, tepat pada saat itu aku melihatnya. Ia sedang memandang kami berdua dengan tatapan seolah-olah mencibir. Dan dari gerakan bibirnya yang seperti sedang berbicara sesuatu, aku bisa membaca gerak bibirnya, ia berbicara sambil berlalu menuju keluar kelas,

"drama tv semalam muncul lagi.."

Dan orang itu adalah.. Gaara.. ya, sang ketua kelas yang aku duga, ia menatap kami dengan pandangan yang kulihat seperti sedang.. sedih?

*Mrs. Funny*

To be continue.. or no?

Huah. Ini cerintanya gajeness banget ya?

Masih kependekan apa udah pas nih?

Terima kasih buat yang udah review, dan buat yang belum review, ayoo Funny tunggu reviewnyaaa

Cukup santaikah ceritanya?

Chapter depan ada yang punya ide mau gimanaa?

Oke..

Now its time for..

Review...