Sejak dua hari yang lalu Akashi memiliki rutinitas baru. Setiap pagi setelah terbangun dari tidur, dia akan segera ke dapur mengambil secangkir teh, lalu berdiri didepan jendela yang mengarah langsung menuju gerbang masuk kompleks apartemennya. Dari apartemennya yang berada di lantai paling atas, Akashi bisa melihat semua orang yang berlalu lalang disekitar gedung apartemennya.
Hal yang paling ditunggu-tunggunya dari rutinitas baru itu adalah kemunculan si surai biru yang telah diklaim sebagai miliknya secara sepihak. Setiap pagi, si surai biru, Kuroko, selalu mengajak anjingnya, Nigou, untuk berjalan-jalan sebentar. Dan karena Akashi adalah orang yang sibuk, dia tidak bisa berpura-pura kebetulan bertemu dengan Kuroko dan berujung jalan pagi bersama-sama. Jadi dia hanya bisa memandang dari kejauhan. Sesekali, Akashi berniat untuk izin kerja sehari dan menghabiskan waktunya untuk mendekati Kuroko. Tapi niat itu diurungkan karena dia bukanlah orang yang suka mengabaikan pekerjaan.
Jam menunjukkan pukul enam, Akashi masih terus menatap keluar. Biasanya jam segini Kuroko keluar dari gedung apartemen. Dan benar saja, beberapa detik kemudian, Akashi melihat Kuroko berjalan menuju pintu gerbang dengan Nigou yang berjalan santai disampingnya. Akashi terus memperhatikan Kuroko. Saat hampir keluar pagar, Akashi melihat Kuroko tiba-tiba duduk jongkok. Nigou yang sudah berjarak beberapa meter didepan Kuroko juga berbalik lalu berlari pelan kearah Kuroko. Akashi sempat khawatir kalau-kalau Kuroko tiba-tiba merasa kesakitan.
Kekhawatiran Akashi menghilang setelah Kuroko berdiri tak lama setelah Nigou sampai didepannya. Ternyata ikatan tali sepatu Kuroko terlepas, dia berjongkok untuk mengikatnya kembali. Kuroko melanjutkan perjalanannya. Setelah melewati gerbang, Kuroko melakukan perenggangan sedikit sambil menimbang-nimbang rute mana yag akan dilewatinya. Setelah lewat beberapa menit, dia lalu mengambil jalan disebelah kirinya dan mulai berlari. Disampingnya Niigou mengikuti.
Akashi terus memperhatikan Kuroko sampai tubuh Kuroko lenyap dari pandangannya. Setelah menggumamkan sesuatu, Akashi menyeringai lebar.
SURAT LAMARAN
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi-sensei
Story and OCs belongs to Miho Haruka
Rated: T
Pairing: AkaKuro, etc.
Warning: BL, OOC, typo(s), gaje, OC, abal-abal, etc.
Genre : Romance, Friendship, little bit Humor
Summary: Akashi, pemilik perusahaan besar tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang misterius/Badsummary/BL/
Akashi mengetuk-ngetukkan pulpennya diatas meja. Ekspresinya tak bisa dibaca oleh Midorima yang duduk tak jauh dari tempat Akashi. Satu hal yang bisa dipastikan Midorima, mood Akashi sedang buruk. Terbukti dari aura gelap yang selama seminggu ini tak pernah dirasakannya lagi dari tubuh Akashi justru tiba-tiba menguar lebih gelap lagi hari ini.
Midorima ingin bertanya, tapi dia urungkan karena entah kenapa hal ini pasti ada sangkut pautnya dengan makhluk manis yang baru ditemuinya secara langsung seminggu yang lalu. Karena tak ingin kecipratan dampak negatif dari mood buruk Akashi, Midorima memilih keluar ruangan dan pergi ke rumah sakit disamping kantor Akashi.
Akashi yang masih berkelut dengan pikiran-pikiran buruk dikepalanya tidak menyadari kepergian Midorima. Otaknya masih terfokus untuk mencerna kejadian pagi tadi yang dilihatnya saat dalam perjalanan menuju kantornya.
Pagi tadi, seperti biasa Akashi memperhatikan Kuroko pergi jalan pagi bersama Nigou. Lalu sambil menunggu kepulangan Kuroko, Akashi bersiap-siap menuju kantor. Biasanya Kuroko akan pulang pukul enam lewat tiga puluh menit, jadi Akashi memiliki waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap ke kantor sebelum kepulangan Kuroko.
Waktu menunjukkan tepat pukul enam lewat tiga puluh, Akashi kembali berdiri didepan jendela, tetapi setelah hampir berdiri selama lima menit, Akashi tidak melihat tanda-tanda kedatangan Kuroko. Dia juga sudah mengecek ujung jalan yang bisa dilihatnya, tetapi sosok Kuroko tidak ditemukan oleh manik dwiwarnanya. Akashi masih menunggu, dia bahkan rela sarapan sambil terus memandang keluar jendela.
Jam tujuh kurang lima menit, mobil Akashi yang dibawa Tanaka-san terlihat memasuki halaman kompleks apartemen. Ini artinya Akashi sudah harus berangkat kerja. Akashi mulai cemas, kenapa Kuroko belum juga pulang. Otaknya dengan seenaknya memunculkan spekulasi-spekulasi yang membuat Akashi makin khawatir. 'jangan-jangan dia diculik' atau 'mungkin dia dibawa paksa oleh om-om pedo' bahkan pemikiran paling absurb pun tak terlupakan oleh otak Akashi. Sampai akhirnya pemikiran 'jangan-jangan dia jadi korban pembunuhan' pun muncul dan membuat Akashi makin tidak tenang. Seharusnya dia mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk terus mengawasi Kuroko. Dia jadi sedikit kesal karena tidak biasanya dia jadi orang yang tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya.
Meskipun pikirannya sedang kalut, Akashi tetap berjalan keluar apartemennya, turun ke lantai satu, lalu berjalan kearah mobilnya. "Kita lewat jalan didepan TK" perintah Akashi pada Tanaka-san. Dia memilih jalur itu karena tadi pagi Kuroko mengambil jalur itu untuk berjalan-jalan, mungkin saja dia bisa menemukan Kuroko jika lewat di jalur yang sama.
Dugaan Akashi benar. Setelah beberapa saat berbelok dari tikungan, maniknya menatap sosok manis idamannya tengah berjalan santai dengan segelas vanila milkshake ditangannya. Kuroko masih terlihat sehat, bahkan lebih sehat lagi karena sudah meneguk vanilla milkshake pagi-pagi. "Pelankan mobilnya" peritah Akashi, Tanaka-san segera memperlambat laju mobilnya.
Akashi makin memfokuskan matanya pada Kuroko. Alis Akashi mengerut sedikit saat melihat Kuroko tiba-tiba dicegat seseorang yang memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi dari Kuroko dan memiliki surai ungu dengan ekspresi malas. Kuroko menghentikan langkahnya sambil mendongak menatap pemuda tinggi didepannya. Akashi sedikit lega kerena wajah Kuroko tak memancarkan ekspresi ketakutan atau waspada, berarti pemuda didepan Kuroko ini adalah kenalan Kuroko.
Satu alis Akashi berkedut saat pemuda bersurai ungu itu mengelus pelan surai biru muda Kuroko meski dengan ekspresi malas. Kuroko juga diam saja, tapi beberapa detik kemudian, Kuroko segera menepis tangan pemuda itu sambil mengatakan sesuatu. Pemuda yang berkespresi malas itu pun hanya bergumam sesuatu lalu tangannya mengambil keripik kentang dari bungkusan yang dipegang di tangan yang satunya.
Akashi melihat mereka berbincang-bincang, sementara mobil Akashi mulai menjauhi tempat Kuroko dan pemuda itu berdiri. Akahsi tetap memperhatikan, dari jauh dia melihat pemuda itu mengajak Kuroko masuk ke sebuah toko.
Akhirnya, saat sampai di kantor, mood Akashi jadi buruk. Bahkan bawahannya tak ada yang berani menegur walaupun hanya sapaan pagi. Mereka semua takut karena Akashi sudah memasang mode yang jika disentuh sedikit akan meledak.
"Siapa orang itu?! Berani-beraninya mengganggu milikku" gumam Akashi. Dikepalanya terbesit niat untuk menginterogasi pemuda itu sambil melayangkan beberapa gunting kesayangannya ke tubuh pemuda itu.
_ Surat Lamaran _
Hari Minggu, waktunya bersantai bagi semua orang yang bekerja. Begitu pula dengan Akashi. Meskipun biasanya dia tidak perduli dengan hari minggu dan terus melakukan pekerjaannya, tapi mulai beberapa minggu yang lalu dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak bekerja di hari Minggu. Tentu saja itu ada alasannya. Alasannya juga mungkin simple bagi beberapa orang. Akashi hanya ingin menghabiskan waktu liburnya bersama sang pujaan hati, Kuroko Tetsuya.
Waktu menunjukkan pukul lima leat tigapuluh pagi, tidak biasanya pada jam segitu Akashi sudah berpakaian rapi. Akashi memakai baju kaos warna merahnya serta celana kain selutut warna biru muda. Sepertinya dia bersiap untuk lari pagi, buktinya tangannya sedang memegang sepasang sepatu kets sekarang. Setelah meletakkan sepatu itu didepan pintu, Akashi menuju dapur, memanggang beberapa roti lalu menyeduh secangkir teh. Setelah roti dan tehnya siap, dia membawanya ke atas meja yang sejak dua minggu lalu berpindah posisi kedepan jendela besar yang mengarah ke pintu gerbang. Akashi memakan rotinya sambil memandangi pemandangan dibawahnya.
Tidak biasanya dia bangun sepagi ini. Mungkin karena semalam dia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan rencananya akan bertemu dan lari pagi bersama Kuroko hari ini. Akashi sangat menantikan hari ini. Seringai kembali menghiasi wajahnya.
Akashi mengalihkan pandangannya dari luar jendela. Maniknya tiba-tiba terfokus pada foto dirinya yang terpampang di ruang tengah diatas televisi layar datar miliknya. Akashi tiba-tiba teringat dengan dirinya sebelum bertemu Kuroko. Dia jadi bingung sendiri menyadari perubahan anehnya selama beberapa minggu ini.
Akashi menghela nafas sambil mengacak pelan surai merahnya. Tunggu, sejak kapan Akashi jadi sering menghela nafas dan bersikap seperti orang depresi seperti ini? Biasanya dialah yang membuat orang depresi, tapi kenapa sekarang jadi berbalik. Akashi kembali tersadar kalau sikap anehnya ini mulai muncul setelah dia bertemu Kuroko di perempatan waktu itu. Kuroko benar-benar mengacaukan hidupnya. Akashi kembali menghela nafas. Dia sudah tidak perduli. Yang penting saat ini adalah secepat mungkin dekat dengan Kuroko dan menjadikannya milik seorang Akashi Seijuurou sepenuhnya.
Akashi mendengar suara langkah kaki seseorang berjalan dilorong tempat apartemennya berada. Langkah itu semakin mendekati pintu apartemennya. Karena ini masih pagi dan belum banyak orang yang beraktivitas, Akashi jadi bisa mendengar suara sekecil apapun. Jantungnya jadi berdebar, dia memiliki firasat. Dan karena firasat Akashi tak pernah salah, dia memilih meninggalkan beberapa roti dan secangkir tehnya yang berada diatas meja lalu berjalan menuju pintu masuk.
Akashi melihat dibalik lubang kecil di pintu. Maniknya menangkap sesuatu berwarna biru muda samar-samar. Dia lalu membuka pintu dengan cepat. Dan berjalan melangkah keluar lalu menoleh ke kanan. Tuh, betulkan. Firasat Akashi memang tak pernah salah. Sekarang didepan matanya berdiri si makhluk manis bersurai biru dengan pakaian yang tak jauh beda dengan yang Akashi kenakan, baju kaos warna putih dan celana kain selutut warna biru muda. Si surai biru sedang berjalan pelan menuju lift sambil memperhatikan pintu ruangan yang dilewatinya. Bibir ranumnya menggumamkan sesuatu.
Akashi membalikkan badannya, mengarah penuh kearah Kuroko yang sedang memunggunginya. "Hei kau!" tegur Akashi. Kuroko terkesiap lalu berbalik pelan kearah asal suara yang menegurnya. "Kenapa kau ada disini?" bukan! Bukan itu yang ingin dia tanyakan! Akashi sedikit menyesal bertanya seperti itu, tapi dia tak mungkin menunjukkannya didepan Kuroko.
Kuroko memandang Akashi dengan ekspresi terkesiap. Tolong! Siapapun! Ingatkan Akashi untuk tidak terhisap kedalam manik biru yang memancarkan ketenangan itu! Meskipun dilihat dari jauh, kilau manik biru itu tidak berkurang sedikitpun di mata Akashi, belum lagi surai biru mudanya yang halus, membuat Akashi ingin mengacak-ngacaknya dan membuat si empunya memanyunkan bibir ranumnya karena kesal. Kulit putih pucat seperti porselen itu juga membuat Akashi ingin membubuhkan beberapa bercak merah diatasnya. Sepertinya otak Akashi mulai sedikit terkontaminasi oleh pikiran mesum milik teman berkulit tan-nya, Aomine Daiki.
"Sumimasen. Aku baru pindah ke sini beberapa minggu yang lalu dan kebetulan ingin berkeliling di gedung ini pagi ini. Apa aku mengganggu istirahatmu?" balas Kuroko. Tentu saja itu tidak mungkin, selain karena Kuroko berjalan pelan, dia juga tidak berbicara apapun saat lewat. Jadi tidak mungkin orang akan terganggu, apalagi dengan hawa keberadaanya yang tipis. Tapi tunggu dulu, kenapa Akashi bisa mengetahui dirinya baru saja lewat? Biasanya orang yang berjalan disamping Kuroko saja hanya mengabaikan kebaradaan Kuroko seakan-akan ia tidak ada.
"Tidak" jawab Akashi. Dan detik itu juga Akashi ingin melempar gunting ke kepala Kise. Kenapa dia berbicara jujur lagi. Harusnya dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Kuroko. Lagi pula hari ini hari libur, mungkin saja dia jadi bisa bersama Kuroko seharian.
"Kalau begitu, aku permisi" Kuroko lalu membungkuk sejenak dan berbalik. Kepalanya sedang sibuk memikirkan sesuatu, dia seperti pernah bertemu dengan pemuda yang berbica dengannya tadi disuatu tempat, tapi dia lupa dimana. Selain itu kenapa jantungnya tidak berhenti berdebar-debar sejak melewati pintu apartemen pemuda itu. Tanpa Kuroko sadari, pemuda bersurai merah itu berlari pelan mendekati Kuroko dan meraih pergelangan tangannya.
Déjà vu? Entah kenapa Kuroko pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dia lalu teringat hari dimana dia bertemu dengan Momoi di Majiba dan seseorang yang tidak dikenalnya memaksa Kuroko menanggilnya dengan nama kecilnya bukan marganya. Kuroko lalu berbalik, pemuda itu berdiri tepat didepannya.
"Kau lupa padaku?" tanya Akashi dengan nada absolutnya. Membuat Kuroko mau tak mau sedikit merasa takut dengan pemuda didepannya.
"Tentu saja tidak" Kuroko berbohong, tapi dengan wajah datarnya itu tak mungkin ada yang tau. Tentu saja kecuali Akashi yang entah kenapa bisa dengan mudah membaca ekspresi Kuroko. Kuroko memang baru mengingatnya setelah merasakan déjà vu tadi. "Akashi-kun bukan?"
Akashi mengangguk meskipun dirinya sedikit merasa kecewa karena Kuroko tetap bersikeras memanggilnya dengan marganya. "Kau. Namamu siapa?" balas Akashi sambil melipat kedua lengannya didepan dada.
"Kuroko Tetsuya" jawab Kuroko sambil menunduk sejenak. Lalu kembali menatap Akashi tepat di manik dwiwarnanya.
Akashi diam, menatap Kuroko dari bawah sampai atas. Tak menyadari arah pandangan Kuroko. Saat Akashi menayakan nama Kuroko, itu hanya sekedar basa basi. Dirinya sudah mengetahui banyak hal tentang Kuroko sampai hal yang paling pribadi sekalipun. Akashi lalu mengalihkan fokusnya ke wajah Kuroko. Tunggu, kenapa warna pipi pujaan hatinya ini memerah? Apa mungkin dia demam? Sepertinya otak Akashi kembali lambat mengolah informasi.
"Apa kau sakit? Wajahmu merah" Akashi tiba-tiba memegang dahi Kuroko mengecek suhu tubuhnya. Kuroko seketika terkesiap. Dia lalu mundur selangkah dengan cepat lalu menunduk memandang lantai. Akashi melihat wajah Kuroko semakin memerah.
"Aku permisi dulu" pamit Kuroko cepat lalu berlari menuju lift, meninggalkan Akashi yang tiba-tiba mematung. Sepertinya otaknya sudah kembali berfungsi dengan normal. Apa-apaan tadi itu? Apa dia malu? Tunggu! Jangan-jangan… Dia juga mulai suka padaku? Akashi berteriak girang, tentu saja dalam hati karena dia tidak ingin mengancurkan wibawanya. Tanpa Akashi sadari, bibirnya menyeringai lebar.
_ Surat Lamaran _
Suara anak-naka terdengar dari segala arah. Ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang sibuk bercerita dengan orang tuanya, bahkan ada yang bicara tidak jelas. Akashi mulai merasa kepalanya pusing. Dia paling tidak suka dengan suara bising seperti ini. Jika bukan karena undangan salah satu teman – budak – nya, dia tidak mungkin berada di tempat penuh anak-anak seperti ini.
Hari ini acara pembukaan Tk milik Momoi. Semua murid termasuk orang tuanya diundang, begitu juga para sponsor. Bahkan ada beberapa wartawan dari stasiun tv terkenal. Teman-teman Momoi juga diundang. Kise yang masih dalam masa libur datang lebih cepat dan segera berbaur dengan anak-anak kecil yang terlihat imut, Aomine sibuk mengatur anak buahnya untuk mencegah kemacetan jalan, sedangkan Akashi dan Midorima memilih berdiri diam di bawah salah satu pohon rindang di halaman TK. Momoi sendiri sebagai pemilik TK sibuk mengurus segala keperluan sebelum acara dimulai. Staf pengajar belum ada yang hadir, jadi Momoi sedikit kewalahan.
Akashi sudah lelah menunggu. Dia lalu berjalan kearah gedung TK. "Kau mau kemana, Akashi? Acaranya belum dimulai nanodayo" tegur Midorima.
"Aku mau ke ruangan Satsuki. Berada disini terus membuat kepalaku pusing" balas Akashi lalu menghilang dibalik tembok. Midorima hanya memperbaiki posisi kacamatanya sambil salah satu tangannya mengelus boneka kodok, lucky itemnya hari ini. Midorima lalu memandang sekitar, manik hijau lumutnya tiba-tiba menangkap sesosok pemuda bersurai biru yang menghampiri Momoi dengan wajah datar meskipun keringat terlihat membasahi wajahnya.
"Sumimasen, Momoi-san. Aku terlambat datang," Kuroko berkata sambil mengatur nafasnya, Momoi hanya tersenyum. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" Kuroko mengedarkan pandangannya.
Momoi berpikir sejenak sambil terus melakukan kegiatannya menyambut para tamu yang hadir. "Untuk sekarang, Tetsu-kun bantu Ki-chan mengarahkan para murid masuk ke dalam aula, ya" pinta Momoi. Kuroko mengangguk lalu menghampiri pemuda bersurai kuning yang diduganya bernama Ki-chan.
Belum sampai di tempat Kise, Kuroko dicegat oleh salah seorang muridnya. "Sensei?" tanya murid yang memiliki surai hitam sepundak sambil menarik pelan celana Kuroko. Kuroko berjongkok sambil tersenyum tipis.
"Iya" jawab Kuroko singkat. Anak bersurai hitam itu kemudian berbalik kearah teman-temannya yang sedang asyik berkumpul disekitar Kise.
"Minna! Disini ada Sensei yang imut lho!" sahut anak itu. Wajah Kuroko sedikit memerah saat disebut imut. Semua anak-anak disekeliling Kise lalu menoleh menatap Kuroko. Beberapa detik kemudian, mereka sudah berkumpul disekitar Kuroko dan meninggalkan Kise sendirian. Kise yang heran lalu berdiri dari jongkoknya dan memandang kearah anak-anak kecil itu pergi. Dia terbelalak saat melihat Kuroko, pemuda manis dengan surai biru dan wajah datar sedang dikerumuni oleh anak-anak seperti semut yang mengerumuni gula. Kise juga segera berlari kearah Kuroko berlomba adu cepat dengan beberapa anak yang telat sadar kehadiran Kuroko.
"Halo-ssu" sapa Kise sambil berdiri disamping Kuroko yang sedang berjongkok. Kuroko terlihat kewalahan mengurus anak-anak kecil disekelilingnya.
"Domo. Anda Ki-chan?" tanya Kuroko. Mendengar namanya di sebutkan oleh Kuroko terlebih lagi nama yang seperti panggilan kesayangan itu membuat Kise serasa melayang ke angkasa. Dia hampir saja menerjang Kuroko seperti saat dia Majiba dulu jika saja tidak ada anak kecil yang merebut posisinya, memeluk Kuroko.
Kise mengangguk lemah. "Aku Kise Ryouta. Kau Kuroko Tetsuya-cchi, kan?" Kuroko berdiri sambil mengangguk lalu memiringkan kepalanya, sepertinya dia bingung bagaimana Kise mengetahui namanya. Kise yang entah kenapa mengerti Kuroko bingung tertawa pelan, "Momoi-cchi yang memeritahukan namamu padaku," jawab Kise. Sebenarnya dia mengetahui nama Kuroko saat di Majiba waktu itu.
Wajah Kuroko tiba-tiba menunduk menatap tanah dibawahnya. "Kau kenapa-ssu?" Kise mulai khawatir.
Kuroko menggeleng pelan lalu membungkuk, "Sumimasen, aku memanggilmu dengan panggilan yang tidak sopan. Sekali lagi sumimasen, Kise-kun"
Kise tertawa lemah mendengar Kuroko mengubah caranya memanggil namanya. Kise lalu mengangguk mengerti. "Jadi apa yang harus kita lakukan-ssu?" tanya Kise sambil menatap anak-anak yang berdiri disekeliling mereka.
"Kata Momoi-san, kita harus menuntun mereka menuju aula," jawab Kuroko ikut memandang anak-anak dibawahnya.
Kise mengalihkan pandangannya. Dia menatap Kuroko yang lebih pendek darinya. Wajah Kuroko yang tanpa ekspresi, kulit putih pucatnya, serta surai biru mudanya yang terlihat sangat halus. Kise mengarahkan tangannya ke atas kepala Kuroko. Tetapi kemudian dia langsung mengarahakannya ke leher Kuroko dan memeluknya erat. Kuroko sedikit kesulitan menghirup oksigen. Untung saja muridnya yang bersurai hitam tadi menegur Kise dan Kise mau tak mau harus melepaskan pelukannya. Mereka lalu menuntun anak-anak umur lima tahun itu menuju aula. Untung saja karena pribadi Kuroko yang dari luar pun terlihat ramah dan baik, membuat anak-anak itu mudah nempel dengan Kuroko dan memudahkan tugasnya bersama Kise.
Midorima yang dari tadi terus menatap kearah Kise dan Kuroko hanya bisa berharap Kise baik-baik saja setelah acara ini selesai karena sejak kemunculan Kuroko, seseorang yang bersurai merah terus menatap kearah Kuroko dan Kise dengan aura gelap yang perlahan-lahan keluar dari tubuhnya.
_ Surat Lamaran _
Akashi sedang menempati sebuah meja disalah satu toko kue dekat apartemennya. Matanya fokus menatap ke satu titik, yaitu di meja sudut belakang dari ruangan toko kue ini. Dimana seorang pemuda bersurai biru muda sedang duduk diam sambil menulis sesuatu diatas kertas. Dia terlihat serius sekali dimata Akashi, meskipun wajah pemuda itu tetap datar seperti tembok.
Akashi merasa penasaran. Sudah dua jam lebih pemuda itu duduk dikursinya sambil terus menulis sesuatu tanpa henti, meskipun sesekali dia berhenti sejenak untuk mengistirahatkan jemarinya sambil menikmati vanilla cake dan vanilla milkshake pesanannya. Akashi ingin menghampiri pemuda itu, tapi diurungkannya karena sepertinya pemuda itu sedang tidak ingin diganggu.
Seorang pelayan tiba-tiba mendekati Akashi sambil membawa pulpen dan catatan kecil ditanganya serta memakai seragam maid. "Permisi, apa anda ingin memesan lagi, tuan?" tanya pemuda itu sambil berdiri menghalangi pandangan Akashi ke pemuda bersurai biru.
Akashi merasa kesal. Dia menutup matanya lalu menghela nafas pelan sekali. "Minggir. Kau mengganggu." Perintah Akashi dengan suara baritonnya yang penuh dengan hawa intimidasi.
Si pelayan tiba-tiba merinding. Tanpa banyak bicara lagi, dia segera menggeser posisinya. "Maaf, tuan" sahut si pelayan dengan suara pelan sekali. "Apa tuan ingin memesan sesuatu lagi?" tanya pelayan itu lagi dengan segenap keberaniannya.
Akashi masih menutup matanya. Dia tidak sedang berpikir, hanya merasa perlu mengistirahatkan matanya saja. Karena sejak tadi matanya tak lelah memandangi makhluk manis dipojokan sana. "Aku pesan earl green tea," jawab Akashi.
Setelah pelayan itu pergi, dia kembali memfokuskan penglihatannya pada Kuroko. Tak lama kemudian, Kuroko dihampiri seorang pemuda berperawakan tinggi. Mungkin hampir 2 meter. Pemuda itu pernah Akashi lihat beberapa hari yang lalu, sebelum upacara pembukaan TK milik Momoi. Dia kembali melakukan hal yang sama saat Akashi pertama kali melihatnya, yaitu mengusap-usap kepala Kuroko. Respon yang diberikan Kuroko pun sama seperti waktu itu.
Akashi mulai muak, dia hampir saja melempar gunting yang ada didalam saku celananya ke kepala pemuda itu. Untung saja fokus Kuroko tiba-tiba teralih pada Akashi membuat Akashi kembali memasang wajah tenangnya dan duduk diam. Posisi duduk Akashi adalah dibelakang pemuda tinggi tadi, jadi saat Kuroko berbicara kepada pemuda itu, matanya tak sengaja melihat seseorang yang sepertinya dikenalnya.
Akashi melihat Kuroko tiba-tiba berdiri, berbicara sejenak dengan pemuda bersurai ungu itu, lalu berjalan kearahnya. Dibelakangnya pemuda tinggi itu mengekor.
"Domo, Akashi-kun" sahut Kuroko sambil menunduk sejenak. Sementara pemuda bersurai ungu disampingnya hanya terdiam.
Akashi menatap kearah Kuroko. Dia tidak menyangka malaikat birunya ini akan menyapanya duluan. "Halo, Tetsuya" balas Akashi kalem.
Alis Kuroko mengerut. Dia binigung kenapa Akashi memanggilnya dengan nama kecilnya ditambah lagi tidak pakai embel-embel apapun. "Ano…. Akashi-kun –" omongan Kuroko terpotong.
"Kenap –" Akashi segera berdehem, hampir saja dia mengulang kesalahan yang sama lagi. "Kebetulan sekali kita bertemu disini ya, Tetsuya"
"Ha'i, Akashi-kun" sahut Kuroko mengiyakan. Kuroko lalu merogoh kantung jaket abu-abu mudanya, mengambil sesuatu yang kemudian di sodorkan kearah Akashi. "Ini aku kembalikan, Akashi-kun. Maaf baru mengembalikannya sekarang. Sebenarnya aku mau mengembalikannya langsung di apartemen Akashi-kun. " rupanya Kuroko mau menghampiri Akashi untuk mengembalikan pulpen Akashi yang dipinjamnya tempo hari.
Akashi mengambil pulpennya dari tangan Kuroko. Tak sengaja jarinya bersentuhan dengan jari Kuroko. Sensasi aneh tiba-tiba terasa di tubuh Akashi. Dia terdiam sejenak. Tangannya tetap terangkat di udara sambil memegang pulpen padahal tangan Kuroko sudah kembali disisi tubuh Kuroko. Kuroko memandang heran kearah Akashi.
Sementara itu, pemuda dibelakang tubuh Kuroko yang tingginya abnormal kembali meletakkan tangan besarnya diatas kepala Kuroko. Kuroko kembali memanyunkan bibirnya, matanya sedikit menyiratkan perasaan kesal. Akashi tersadar, dia merasakan déjà vu. Akashi kembali merasakan keberadaannya diabaikan. Seorang Akashi Seijuurou yang terkenal absolut kembali diabaikan keberadaannya oleh seorang Kuroko Tetsuya, pemuda manis yang berhasil merebut paksa hati Akashi Seijuurou, hanya karena keberadaan makhluk yang di anggap Akashi tidak berharga. Tapi Akashi seharusnya merasa bersyukur, setidaknya kali ini dia kalah oleh sesuatu yang disebut manusia, bukan hewan seperti waktu di Majiba dulu.
"Hentikan itu, Murasakibara-kun" pinta Kuroko, nada kesal juga tersirat dalam suaranya.
"Tapi rambut Kuro-chin terlihat sangat halus. Aku jadi ingin mengusap-usapnya terus" sahut pemuda bermanik sama dengan warna surainya, ungu. Tangannya kembali mengarah ke kepala Kuroko.
"Tapi itu mengganggu, Murasakibara-kun" tolak Kuroko sambil menepis tangan pemuda bersurai ungu itu sebelum berhasil mencapai puncak kepalanya.
Alis Akashi berkedut. Susah payah dia tahan keinginanny untuk melenyapkan pemuda bersurai ungu yang dari tadi merebut perhatian pujaan hatinya. Akashi berdehem pelan. Diabaikan. Dia berdehem lagi agak keras. Tapi tetap diabaikan. Aura gelap mulai keluar dari tubuh Akashi dan menguar memenuhi ruangan. Beberapa tamu di toko kue itu tiba-tiba ada yang merasa sesak nafas dan ada juga yang merasa ketakutan. Para pelayan yang berseragam maid memperhatikan tingkah bosnya bersama teman dekatnya yang terus saja berbicara dan tidak menyadari bahaya yang mengancam. Mereka berusaha mengambil perhatian bosnya, pria bersurai ungu, dari jauh dengan gerakan tubuh. Semua fokus teralihkan pada pemuda bersurai merah yang sepertinya sebentar lagi akan mengamuk karena diabaikan terus.
Kuroko tiba-tiba menghela nafas agak kesal, sepertinya dia benar-benar merasa kesal. Aura hitam yang keluar dari tubuh Akashi juga tiba-tiba menghilang. Semua orang kembali bernafas lega, apapun penyebabnya yang penting bahaya sudah lewat.
Akashi terbelalak sejenak sebelum kembali memasang wajah tenangnya. Baru kali ini dia melihat wajah kesal Kuroko yang ternyata jauh berbeda dengan wajahnya yang biasa, lebih menakutkan, meskipun itu tidak berlaku bagi Akashi.
"Gomen, Kuro-chin" sahutan bernada malas terdengar. Kuroko menghela nafas lagi, kali ini lebih pelan. Kesalnya sudah sedikit berkurang sepertinya.
"Murasakibara-kun, saat ini aku sedang berbicara dengan seseorang. Jadi jangan menggangguku dulu. Mengerti?" Kuroko berbicara seperti kepada anak didikannya di TK. Memang, setelah memperhatikan pemuda kelewati tinggi ini dari tadi, Akashi sudah mengetahui kalo pemuda ini bersikap seperti anak-anak. Belum lagi cemilan yang sejak tadi dipegang pemuda itu ditangannya.
Pemuda yang dipanggil Murasakibara itu mengangguk mengerti lalu mundur selangkah sambil mengambil cemilannya dari tangannya kirinya lalu memakannya.
"Tetsuya, siapa dia?" tanya Akashi yang merasa sangat terganggu dengan keberadaan pemuda dibelakang Kuroko.
Kuroko menoleh kearah Akashi lalu kembali ke Murasakibara. Hal itu kembali membuat Alis Akashi berkedut kesal. "Dia Murasakibara Atsushi-kun. Pemilik toko kue ini" Kuroko memperkenalkan Murasakibara pada Akashi. Setelah melihat Akashi mengangguk mengerti, Kuroko membungkuk sejenak, pamit , lalu kembali menuju mejanya dibelakangnya Murasakibara tetap mengekor.
Akashi duduk kembali dikursinya, berusaha untuk tetap tenang meski tangannya sudah gatal ingin melempar gunting ke kepala Murasakibara yang tetap saja berdiri menemani Kuroko di mejanya. Setelah beberapa menit, Akashi melihat Murasakibara pamit pada Kuroko. Akashi lalu mengambil inisiatif untuk menghampiri Kuroko. Rupanya dia masih penasaran dengan apa yang ditulis Kuroko.
Akashi berjalan pelan menuju meja Kuroko. Saat dia berdiri didepan meja Kuroko, Akashi sengaja tidak menegur Kuroko karena Kuroko kembali sibuk dengan tulisannya. Akashi membaca tulisan-tulisan yang tertera pada tumpukkan kertas didepan Kuroko.
"Kau ingin melamar pekerjaan?" taya Akashi tiba-tiba membuat Kuroko terkesiap lalu menengadahkan kepalanya, menatap Akashi. Jawaban yang diberikan Kuroko hanya anggukan kecil. Lalu dengan seenaknya Akashi duduk disamping Kuroko, menutup akses Kuroko untuk keluar dari kurungan tiba-tiba Akashi. Akashi berpura-pura memfokuskan pandangannya pada tulisan Kuroko yang dinilainya sangat rapi untuk tulisan seorang pemuda dan mengabaikan tingkah Kuroko yang jelas-jelas sangat risih Akashi tiba-tiba duduk disampingnya. "Kau harus mengubah bagian ini. Kata-katanya tidak boleh seperti ini" Akashi memberitahukan letak kesalahan Kuroko sambil menunjuk letak kesalahan itu.
Kuroko yang dari tadi sibuk menatap lantai segera mengalihkan pandangannya ke bagian yang tunjuk Akashi. Perasaan risihnya tiba-tiba hilang. Pantas saja dari tadi dia merasa ada yang salah dengan format surat lamaran pekerjaannya. "Arigatoo, Akashi-kun. Aku juga merasakan ada yang salah dengan surat lamaranku ini. Terima kasih sudah memberitahukannya padaku" Kuroko segera mengambil pulpennya lalu mengambil satu kertas kosong lagi.
Kuroko kembali memasang mode seriusnya. Akashi kembali ragu-ragu membuka percakapan. Tapi jika dia tidak melakukannya sekarang, dia mungkin tidak bisa memperoleh kesempatan yang sangat pas seperti ini.
"Tetsuya," panggil Akashi. Akashi terkesiap, meskipun sedetik, saat Kuroko langsung mengalihkan pandangannya kearah Akashi. Biasanya Kuroko mengabaikan Akashi. Tapi kali ini beda, Kuroko segera menoleh sesaat setelah Akashi memanggilnya. Kalau Akashi adalah Kise, mungkin dia sudah menangis terharu sambil memeluk Kuroko . Apalagi posisi Kuroko yang saat ini snagat menguntungkan bagi siapa pun yang duduk ditempat Akashi yang ingin dekat dengan Kuroko.
"Ada apa, Akashi-kun?" tanya Kuroko heran.
"Bukannya kau sudah menjadi guru di TK milik Satsuki? Jadi, kenapa kau mau melamar pekerjaan lagi?" baru kali ini Akashi bertanya langsung pada yang bersangkutan, biasanya dia akan dengan seenak jidatnya menyuruh anak buahnya untuk mencari tau apa yang menjadi pertanyaan didalam otaknya.
"Pekerjaanku di tempat Momoi-san hanya sebagai guru pembantu saja, Akashi-kun. Pekerjaan sampingan. Aku ingin mencari pekerjaan yang tetap" jawab Kuroko apa adanya.
"Kalau begitu, aku akan mengajarimu format penulisan surat lamaran pekerjaan yang benar, pastikan kau memperhatikannya" entah Akashi kesambet apa tiba-tiba berbicara seperti itu. Saat Momoi meminta bantuannya saja, dia menyuruh Midorima. Tapi saat Kuroko, pujaan hatinya sedang dalam kesulitan sedikit saja, tanpa diminta Akashi mau menawarkan diri. Sepertinya sebentar lagi akan terjadi bencana.
Kuroko langsung memandang kearah Akashi. Matanya berkilau kagum. Dia lalu mengangguk antusias. Sudah lama dia mencari orang yang mau mengajarinya, tapi tak pernah ditemukan. Bahkan Nijimura, saudara jauhnya, pun tidak sempat mengajarinya karena sibuk. "Arigatoo, Akashi-kun" Kuroko tersenyum tipis.
Diam-diam Akashi mengambil gambar Kuroko yang sedang tersenyum tipis. Dia berencana mencetak foto itu besar-besar lalu dipajang dilangit-langit kamarnya. Membayangkannya saja membuat Akashi merasa sangat antusias. Dia ingin cepat-cepat pulang, tapi dia juga tidak ingin waktunya dengan Kuroko disini belalu dengan cepat.
Jam menunjukkan pukul lima, Kuroko dan Akashi berada di toko ini sejak jam makan siang. Mereka belum kembali ke rumah masing-masing. Surat lamaran pekerjaan Kuroko akhirnya selesai. Karena merasa Nijimura dan Nigou pasti sedang cemas memikirkannya sekarang, Kuroko segera pamit meninggalkan Akashi. Akashi memasang senyum yang jarang ditampakkannya pada orang lain sambil memandnagi Kuroko yang berjalan menjauh dengan tangan melambai kearah Akashi.
Ide gila terbesit di otak jenius Akashi. Sepertinya dia punya pekerjaan baru yang cocok untuk Midorima sekarang.
_ Surat Lamaran _
Domo, ini chapter dua desu...
Smoga memuaskan bagi Minna-san to Senpai tachi... /bow/
Ngomong-ngomong, hari ini saya ulang tahun... /tepok nyamuk/
Otanjoobi Omedeto untukku... ^.^
Chap kedua ini sengaja di publish hari ini, sekedar perayaan saja.. /maafkan saya/
Otanoshimi ni... ^.^
TBC
