Tittle » Dangerous Fantasy
Author » Namitsu Titi
Rate » PG-17
Genre » Friendship, School-life, Romance.
Cast » Park Jiyeon [T-ARA], Xi Luhan [EXO].
Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.
.
© 2014 Namitsu Titi
.
.
.
.
~Happy Reading~
.
"Luhan, cincinmu bagus." Jiyeon meneguk air mineralnya lagi. Kini keduanya tengah berteduh di bawah pohon yang cukup rindang, di disi lapangan olah raga.
"Terimakasih," ucap Luhan, setelah melirik sekilas cincin platinumnya.
"Boleh aku memegangnya?" Luhan mengangguk, kemudian melepaskan cincinnya yang terpasang di jari tengahnya.
Jiyeon memperhatikan teliti cincin yang tengah diputarnya, "Shinmi?" Jiyeon berhenti menggerakkan cincin Luhan, saat ada ukiran nama di bagian dalam cincin Luhan.
"Luhan, itu nama mantanmu, ya …?" Luhan menatap ukiran itu sejenak, lalu mengangguk.
"Apakah dia juga memiliki cincin seperti ini?"
"Tidak. Hanya aku yang memilikinya. Aku memesan cincin itu saat aku masih bersamanya."
Dan aku ingin, nama itu menghilang, tergantikan dengan namaku.
"Kau masih mencintainya?" Jiyeon mengetuk-ngetukkan ujung bawah botol minumannya yang telah kosong pada rerumputan hijau yang didudukinya. Pandangan matanya terarah pada segerombolan teman-teman sekelasnya yang masih bermain bola kasti di lapangan sana.
Luhan melirik Jiyeon sejenak, kemudian merebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang ditindihnya, tangan kanan yang tengah memegang cincinnya, terangkat ke atas. Luhan menggerakkan cincin itu, memperhatikan ukiran nama yang ada di dalamnya. Luhan menghela napasnya, lalu, "Mmm …,"
Jiyeon berhenti mengetukkan botol minumannya saat mendengar suara Luhan,
"… dia hanya masa laluku." Luhan menatap dalam ukiran itu, kemudian dipakaikan lagi cincin miliknya.
Jiyeon menoleh ke arah Luhan ketika Luhan sudah menyelesaikan ucapannya. Dilihatnya Luhan tengah menerawang jauh ke langit sana. Lantas, Jiyeon membuang asal botol yang dipegangnya, kemudian berdiri dari duduknya.
"Luhan, ayo kembali ke kelas. Sepuluh menit lagi, pelajaran kelima akan dimulai."-terkesan mengalihkan pembicaraan dan nada suaranya terdengar …ketus?
Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Jiyeon yang sudah berdiri di samping tubuhnya. Bukannya menjawab, Luhan malah menatap diam Jiyeon. Kemudian, tangan kanannya ia arahkan pada Jiyeon, meminta gadis itu untuk membantunya berdiri.
"Luhan, kau manja sekali!" gerutu Jiyeon, namun tangannya terulur untuk meraih telapak tangan Luhan. Sebuah senyuman tersungging di bibir Luhan ketika mendengar gerutuan gadis cantik berambut hitam kelam itu.
Luhan meraih telapak tangan Jiyeon, kemudian digenggamnya, dan memahami sejenak, apa yang dirasakannya saat bersentuhan dengan tangan Jiyeon.
Hangat, menyenangkan, dan begitu nyaman. Itu, yang tengah dirasakan Luhan. Membuatnya selalu ingin menggenggam jemari ramping itu.
Luhan bangkit dari berbaringnya, kemudian melepaskan genggamannya dari tangan halus Jiyeon dengan berat hati. Jika gadis itu tidak akan memandangnya dengan tatapan bertanya, mungkin ia akan terus menggenggam tangan itu hingga sampai di kelasnya. Itulah yang ada dipikiran Luhan sekarang.
Persentuhan telapak tangan tadi, membuat Jiyeon memikirkan banyak pertanyaan mengenai perasaannya. Dan ia lebih merutuki, kenapa tidak ada debaran menyenangkan di sana? Serius, ia sangat tertarik pada Luhan, ia sangat menginginkan Luhan, tapi kenapa … kenapa saat bersentuhan bahkan digenggam, tidak ada rasa yang biasanya orang jatuh cinta rasakan?
Apakah ia hanya benar-benar terobsesi pada Luhan?
Tidak! Jiyeon bertekad, ia harus memiliki cinta untuk Luhan. Tapi kapan? Berdebar saja tidak. Apakah belum?
.
Jiyeon melongokan kepalanya ke dalam kelasnya. Kedua tangannya memeluk baju seragam sekolahnya. Karena bosan menunggu, Jiyeon memutuskan untuk memanggil Luhan.
"Luhan~" seru Jiyeon pada Luhan yang sedang mengambil baju seragamnya.
Luhan melangkahkan kakinya menuju Jiyeon yang tengah menunggunya, dengan ayunan langkah yang cepat.
"Maaf Jiyeon, tadi aku harus mengembalikan buku Jongin dulu." Jiyeon mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu, menuju ruang ganti.
.
"Jiyeon Nunna~!" panggil seorang pemuda tampan yang tengah nongkrong di depan kelasnya bersama temannya. Mungkin kelas pemuda itu sedang tidak ada gurunya. Jadi tak heran jika mereka berada di luar kelas.
Jiyeon yang awalnya tengah berusil ria pada Luhan, dengan menyenggol-nyenggol pundak pemuda itu, menghentikan usilan dan langkah kaki jenjangnya. Jiyeon menolehkan kepalanya ke samping kanannya, dimana pemuda yang menyerukan namanya berada.
"Ah, Sehun~!" Jiyeon berujar dengan semangat. Sehun mengangguk seraya menyengir lebar. "Hei Sehun, kenapa berada di luar? Gurumu tidak ada?" kini Jiyeon sudah berdiri di depan Sehun, adik kelasnya yang dua tingkat dibawahnya.
"Iya. Kelasku sedang kosong. Berasa di surga, hoho …" Pemuda yang dipanggil Sehun itu menyampaikan perkataannya dengan mata berbinar.
Luhan yang merasa dirinya dianggap sebagai makhluk astral, mendengus sebal. Haish …, bukankah dirinya dan Jiyeon harus segera berganti? Bahkan waktu sudah mendemo keduanya untuk segera kembali ke kelas.
'Dasar, makhluk tak tahu diri! Sudah tahu kami akan berganti, pemuda aneh itu malah mengajak Jiyeon mengobrol. Kulempar kau ke lantai pertama, baru tahu rasa, kau!' Luhan menatap iritasi adik kelasnya itu. Apalagi dengan dandannya yang … owh, tebar pesona sekali!
Tiba-tiba, Sehun menggeser tubuhnya ke samping Jiyeon. Tangan kanannya merangkul bahu Jiyeon, mendekatkan mulutnya pada telinga gadis itu, kemudian berbisik. Jiyeon dengan seksama mendengarkan suara bisikan Sehun.
Sementara Luhan, pemuda itu tengah menatap tajam pada tangan Sehun yang dengan seenaknya merangkul bahu teman sekelasnya itu.
"Haha …, Hun, kau tak boleh berbicara seperti itu. Hmm …, benarkah?" Jiyeon memandang Sehun dengan perasaan sedikit membuncah senang. Sehun menganggukkan kepalanya semangat. Kemudian, Sehun memasuki kelasnya saat Jiyeon mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda yang berdiri sedikit di belakangnya.
Jiyeon menyengir pada Luhan, dengan perasaan tak enak hati. "Maaf Luhan, aku sedikit mengabaikanmu, hehe …" Luhan hanya mengangguk … malas.
'Nunna …, sepertinya hyung cantik yang bersamamu itu, tengah kesal padaku. Sedari tadi, dia tak henti-hentinya menatapku tajam.'
Dan Jiyeon diam-diam menyeringai senang.
.
Jiyeon menghidupkan komputer yang ada di hadapannya, kemudian menyamankan posisi duduknya di kursi. Kini Jiyeon tengah berada di Lab. Komputer bersama Eunjung.
Diruangan ini, baru Jiyeon dan Eunjung yang ada di sana. Sedangkan yang lainnya belum ke ruang Lab. Guru Jang, selaku guru komputer, sedang izin karena sedang sibuk mengurus yang lebih penting daripada mengajar muridnya saat ini.
Tadi Jiyeon mengajak Eunjung untuk ke ruang Lab lebih dulu. Jiyeon pergi ke sana bukan bermaksud ingin belajar sendiri, tapi untuk internetan. Ckck.
Tak lama, beberapa teman sekelasnya memasuki ruangan ini. Yang pertama kali masuk yaitu, Luhan, Kyungsoo, Chanyeol, kemudian disusul oleh Krystal.
Jiyeon melemparkan pandangannya ke arah Luhan sekilas, kemudian melanjutkan lagi acara browsing-nya.
.
"Chanyeol!" Luhan memanggil Chanyeol yang sedang mengeluarkan Laptopnya dari tas berwarna hitamnya. Kaki panjangnya ia ayunkan untuk mendekati Chanyeol. "Kau mau ke Lab. Komputer, sekarang?" Chanyeol mengangguk mengiyakan. Kemudian, Chanyeol menyerahkan charger laptopnya pada Luhan, untuk dibawa ke ruang Lab.
Keduanya berjalan menuju Lab. Komputer bersama Kyungsoo dan Krystal di belakang mereka.
Chanyeol dan Luhan. Keduanya mulai berteman akrab semenjak berada di kelas yang sama, kelas tiga SMA. Pas masih awal-awal, keduanya selalu pergi kemana-mana bersama, tapi itu tidak lagi, semenjak Luhan dan Jiyeon dekat dari beberapa minggu yang lalu. Mungkin Chanyeol dan Luhan hanya terlihat pergi bersama, jika Luhan dan Jiyeon tidak sedang bersama.
.
Luhan memasuki ruang Lab. Komputer, dan matanya langsung tertuju pada Jiyeon yang terlihat asyik dengan komputernya. Luhan mengambil tempat yang cukup dekat dengan Jiyeon. Dinyalakannya Laptop Chanyeol. Setelahnya, jari panjangnya mengklik video musik Midnight-Beast.
Luhan membuka mulutnya, ikut menyanyikan lagu itu.
Midnight adalah lagu favoritnya, dan ia tak pernah bosan untuk memutarnya. Hampir mendekati Reff, Luhan mendengar gumaman Jiyeon yang juga ikut menirukan lagu itu.
Apakah Jiyeon juga menyukai lagu itu? Pikirnya.
Suara Jiyeon mulai terdengar jelas-bukan gumaman lagi-saat dibagian Reff. Luhan semakin bersemangat menyanyikan lagu Midnight. Well, anggap saja duet dadakan. Ah, senangnya … menyanyikan lagu yang disuka dengan orang yang membuat kita terpesona karenanya.
Dalam hati, Jiyeon terkagum-kagum akan suara Luhan yang begitu merdu di telinganya. Luhan terdengar lihai saat menyanyikan lagu itu. Jiyeon jadi berpikir, apakah lagu itu kesukaan Luhan? Jika benar, kebetulan sekali, ia juga menyukainya.
Lagu itu, awal dari semuanya. Luhan pernah menyanyikan lagu itu-dibagian Reff- di kelas. Sejak saat itu, Jiyeon mulai memperhatikan Luhan.
Jika ada yang bertanya, siapa yang memulai pendekatan, itu Luhan sendiri.
Kala itu, pada jam pulang sekolah, Jiyeon tengah bersender di tembok pembatas, di depan kelasnya. Meski Luhan terkadang terlihat pendiam, Luhan itu pemuda yang jahil. Buktinya, saat itu Luhan berjalan menghampiri Jiyeon yang tengah bersender, kemudian ia berhenti tiga langkah di depan Jiyeon.
Sedetik kemudian, Luhan mulai melangkah mendekati Jiyeon dengan amat perlahan. Sebenarnya Jiyeon sudah mengetahui jika Luhan akan menjahilinya–menginjak kakinya, tapi ia tetap diam saja, menanti apa yang akan dilakukan Luhan. Matanya terus mentap bola mata Luhan. Entah mengapa Jiyeon mulai menyukai kedekatannya dengan Luhan. Ia selalu ingin berdekatan dengan Luhan.
Apakah karena hatinya sudah memerintahkannya untuk memperhatikan pemuda tampan di hadapannya yang begitu dekat ini? Bahkan bagian depan sepatu Luhan sudah menyentuh ujung depan sepatu Jiyeon. Dan inilah saatnya, Luhan memulai aksinya. Luhan menginjak pelan sekali, jari kaki kiri Jiyeon.
"Yah! Luhan~! Dasar, evilboy!" gerutu Jiyeon pada Luhan yang sudah memasuki kelasnya lagi-kelas 3-B-entah untuk apa. Namun tetap saja, ada rasa senang yang menjalari hatinya.
.
.
Jiyeon merilekskan otot-otot tangannya yang terasa pegal. Dua jam, ia terus dududk di depan komputernya, dengan tangannya yang terus bergerak menekan tombol-tombol keyboard. Jiyeon melirik jam yang menempel di dinding. 12:16 PM. Waktunya istirahat. Jiyeon melirikkan matanya ke arah Luhan berada tadi. Tidak ada. Kemudian menelisik ke segala arah. Hanya ada dirinya, Kyungsoo, dan Eunjung yang ada di ruangan ini. Ternyata Luhan sudah kembali ke kelasnya.
"Kyungsoo, Eunjung, ayo ke kelas!" Jiyeon mematikan komputernya, kemudian menghampiri Eunjung untuk kembali ke kelas bersama.
.
.
.
.
Jiyeon mendekati teman kelompok senam aerobiknya, yang duduk di meja kedua dari belakang, deret ketiga dari pojok kanan. Dan Jiyeon bersenang ria, karena ada Luhan dan Jongin yang tengah memakan bekalnya di samping meja teman kelompoknya. Jiyeon mengambil tempat di meja paling belakang, setelah meja yang tengah ditempati teman sekelompoknya. Ia mulai memperhatikan senam aerobik yang tengah diedit oleh kedua temannya itu. Dan jangan lupakan ujung mata Jiyeon yang terus-terusan melirik Luhan yang sedang makan menggunakan jarinya, dengan lahapnya.
'Untung kau namja, Jongin. Yah meski aku iri sih padamu. Aku'kan juga ingin makan dengan Luhan.'
.
.
.
.
"Luhan~" Jiyeon memperlihatka senyum lebarnya, saat Luhan menoleh padanya. Jiyeon segera mendudukkan bokongnya di kursi di samping Luhan. Pemuda itu memperhatikan Jiyeon sejenak, kemudian melihat ke depan lagi, ke sebuah layar proyektor yang sedang memutar film luar negeri, Battleship.
Selang beberapa menit kemudian, Luhan menoleh ke arah Jiyeon lagi. Dilihatnya, Jiyeon sedang dalam posisi mangap. Mungkin itu kebiasaan Jiyeon saat menonton. Dan Luhan cekikikan dalam hati, saat teringat sikap-sikap unik Jiyeon saat menonton.
Berisik dan cerewet, mangap, dan memonton dengan cara serius-Jiyeon tidak mengubah posisinya selama menonton, dan mata yang terlihat fokus melihat film tersebut.
Ya Tuhan, sekarang Luhan menyesal, karena memperhatikan sikap mangap Luhan ketika menonton.
Lihatlah, betapa merahnya bibir Jiyeon yang alami. Dan lagi, mulut Jiyeon yang sedikit terbuka itu membuat Luhan agak tergoda.
Bagaimana jika bibir yang tengah terbuka itu ditutup dengan bibir sexy-nya? Ah~ sempurna! Pikirnya gila.
'Aishh … kenapa acara menonton ku malah berujung begini~' gumamnya dalam hati, gelisah.
Dan kini Luhan semakin menyesali ketidaksadarannya. Berkat terus-terusan memikirkan tentang 'sesuatu' yang dianggapnya sempurna itu, sekelabat 'kejadian saat itu' muncul lagi di otaknya yang tengah error. Waktu itu, Luhan sedang menonton film bersama teman-temannya di Laptop Chanyeol. Dikarenakan Jiyeon hobby menonton film, tiba-tiba saja Jiyeon ikut menimbrung, lalu duduk di samping Luhan. Sialnya, saat itu rambut Jiyeon tengah dikuncir kuda. Otomatis, leher putih Jiyeon dengan teganya menggoda Luhan.
Luhan juga tidak terlalu fokus menonton film itu, karena terus terpikirkan dengan 'sesuatu' di sampingnya. Untuk pertama kalinya, Luhan menelan ludahnya dengan kasar dikarenakan pikiran-pikiran nistanya terhadap seorang gadis, dan Jiyeon penyebab pertamanya. Luhan belum pernah seperti ini dengan mantan-mantan kekasihnya.
Luhan menyarankan, jangan membaca hal-hal yang berbau sex, karena ia sudah mengalami efeknya-berpikiran nista. Dulu ia pernah beberapa kali membaca novel khusus orang dewasa, dan kini, saat memperhatikan orang yang diincarnya-misalnya pada kasus saat ini, hanya gara-gara leher gadis itu-ia langsung teringat rentetan tulisan nista-menurutnya-di novel yang dibacanya.
Disana, diceritakan bagaimana seorang pria yang melihat leher mulus kekasihnya, kemudian pria tersebut menelan air liurnya dengan susah payah, karena keinginannya mulai muncul.
Dan kini, Luhan bisa merasakan apa yang tengah dirasakan pria itu.
'Sial!' Luhan mengumpat dalam hati, kemudian mengusap wajahnya. Disaat sedang asyiknya menonton film, otaknya malah mulai terkontaminasi dengan hal-hal negatif. Luhan menebak, pasti matanya mulai terlihat sayu, karena keinginannya semakin meningkat. Bisa gawat jika ada yang menyadari dirinya yang sedang berkeinginan seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu.
Langkah yang sedikit terburu-buru, dengan kepala menunduk, Luhan meninggalkan kelasnya. Membuat Jiyeon bertanya-tanya dengan tingkah Luhan yang tiba-tiba saja seperti itu. Sementara, di barisan paling belakang, seorang pemuda yang tengah duduk di sana, menyeringai. Sebenarnya, Jongin-pemuda itu- sudah mengetahui kenapa Luhan tiba-tiba keluar dari kelas, karena tanpa sengaja, mata ajaib-menurutnya-nya menangkap gerak-gerik Luhan yang sesekali menatap Jiyeon.
'Dasar, kenapa hormonmu tinggi sekali, hyung?'
.
.
.
.
Meskipun tubuhnya sudah terasa lelah, Luhan terus bermain dengan bola basketnya. Peluh mengucur deras di dahinya. Bahkan baju seragamnya sudah basah oleh keringat. Sudah empat puluh menit, Luhan menyibukkan diri dengan bola basketnya, di lapangan basket indoor ini.
Luhan bersyukur, karena keinginannya sudah mulai reda. Ternyata saran Guru Lee memang manjur, dan Luhan berterimakasih atas itu. Ketika Guru Lee mengajar di kelasnya, beliau sempat menjelaskan tentang pernikahan. Guru Lee mengatakan, "Jika seorang lelaki belum mampu untuk menikah, maka berpuasalah (menahannya). Jika belum mampu juga, berolahragalah untuk meredam nafsumu." Dan Luhan memilih olahraga basket, karena berada di ruangan tertutup daripada ia berlari di halaman yang akan menimbulkan kecurigaan dari siswa-siswa lain.
Luhan melempar asal bola basket itu, kemudian terduduk lemas di lantai. Tangannya mengusap peluh di dahinya, dan tangan yang satunya mengibas-ngibas bajunya. Mungkin ia akan mandi lebih dulu sebelum kembali ke kelas.
.
.
.
.
Jiyeon melemparkan pandangannya ke penjuru kelas, dan ia tidak menemukan pemuda bernama Luhan itu. Jiyeon membereskan peralatan sekolahnya, kemudian memasukannya ke dalam tas miliknya. Setelahnya, ia mendekati meja Luhan, dan memasukan perlengkapan tulis Luhan ke dalam tas pemuda yang entah ada dimana itu.
Jiyeon berjalan keluar dari kelasnya dengan tangan kananya menenteng tas Luhan. Sepuluh menit lagi jam pulang sekolah berdentang, jadi sekalian saja ia membawakan tas Luhan dan mencari keberadaannya.
Kantin, ruang musik, atap sekolah. Ia sudah mencari ke sana, tapi tetap tidak menemukannya. Lapangan basket indoor. Mungkin Jiyeon harus ke sana juga.
.
.
.
.
Kini Jiyeon sudah berada di tempat pencarian terakhirnya, basket indoor. Dengan perlahan, Jiyeon mendorong gagang pintu itu. Jiyeon segera memasukinya saat sudah terbuka cukup lebar.
Belum satu langkah ia ayunkan, Jiyeon cukup terkejut saat menemukan Luhan dan Shinmi di sana. Luhan yang nampak kelelahan tengah menyerahkan botol air mineralnya yang tinggal setengah pada Shinmi, yang berjongkok di samping Luhan.
"Gomawo, Shinmi-ya" Terdengar sayup suara Luhan yang mengucapkan terimakasih pada Shinmi.
"Ne, Oppa. Ehm, aku kembali ke kelas duluan ya Oppa…"
Jiyeon melangkah lagi, saat ia melihat Shinmi berdiri dan berpamitan pada Luhan. Jiyeon menoleh ke arah Shinmi-mantan terakhir Luhan-dengan senyum di bibirnya, saat keduanya berpapasan. Namun, Shinmi terlihat acuh pada Jiyeon, karena Shinmi menoleh ke arah Jiyeon pun tidak.
"Luhan, kenapa kau ada di sini? Kenapa kau menghilang lama sekali?" tanya Jiyeon yang sudah berada di samping tubuh Luhan yang tengah berbaring.
Luhan tersentak saat mendengar suara Jiyeon. Luhan menoleh ke sampingnya, dan Luhan langsung bangun dari berbaringnya. Luhan menggaruk tengkuknya, "E-eum … tiba-tiba saja aku ingin bermain basket, hehe …," bohongnya, Luhan menyengir pada Jiyeon.
"Huffth … aku mencarimu, tahu!" Jiyeon mengerucutkan bibirnya sebal. Ia sudah capek mencari Luhan kemana-mana, ternyata Luhan menghilang karena ingin bermain basket.
"M-maaf, sudah mengkhawatirkanmu," Luhan berkata sambil memalingkan wajahnya.
"Huh? Siapa bilang aku mengkhawatirkanmu!"
Luhan langsung menatap Jiyeon malu, "A-aa …" ternyata Luhan terlalu percaya diri.
"Ayo, pulang …" Jiyeon menarik tangan Luhan, membantu pemuda itu berdiri.
"Hm … kau pulang duluan saja, ya? Aku ingin mandi dulu." Luhan sedikit mengibaskan kerah bajunya."
"Oh, aku akan menunggumu. Aku tunggu kau di depan kelas kita, oke?"
Luhan nampak berpikir sejenak, "Baiklah."
.
Luhan kini sudah segar kembali, dan pastinya tidak bau keringat, karena ia mengganti bajunya. Luhan terseyum saat matanya menangkap sosok Jiyeon yang tengah berdiri di dekat tembok pembatas, dengan pandangan terarah ke halaman sekolah. Luhan segera mendekati Jiyeon.
Senyumannya lansung berubah dingin, saat Luhan melihat Sehun di halaman, tengah melempar senyum tidak jelasnya pada Jiyeon. Apa-apaan itu?! Sehun melambai-lambaikan tangannya pada Jiyeon! Ah~ kenapa kau membalas lambaiannya, Jiyeon? Keluh Luhan tak rela. Ugh, rasanya Luhan ingin sekali menendang Sehun ke planet pluto!
Haishh … kenapa ia tak suka jika Sehun dekat-dekat dengan Jiyeon? Apa ia … cemburu?
.
.
.
.
TBC
