Hati yang Baik dan Tubuh Terbang
Genre : Romance/Supernatural
Chapter 2 : Levi Ackerman.
.
.
.
Kenny terbahak, "Kau benar-benar terdengar seperti Pak Tua itu, Nak."
Levi yang masih berusia tujuh tahun hanya berkedip.
Awalnya Kenny tercengang mendapati keponakannya terpental dengan sendirinya dan meninju angin kosong hingga akhirnya lebam begini. Namun setelah mendengar penjelasan Levi sebelumnya – bahwa dia tengah berkelahi dengan om-om yang seperti zombie – dan mengingat cerita fenomenal dari buyut mereka yang ia dengar sejak kecil itu, membuat Kenny takjub. Heh, jadi cerita itu sungguhan?
"Coba kau beritahu aku, hal aneh apa lagi yang bisa kaulakukan?"
"Aku bisa mendengar suaramu walaupun tidak sedang berbicara, melihat tubuhku yang tertidur dan terbang kemanapun," Levi mengambil jeda "juga tahu kalau ibuku dulu tidur dengan laki-laki pendek dengan melihat fotonya di meja. Apa itu ayahku?"
Kenny tersenyum.
Tidak diketahui klien mana yang berhasil menanam benih di rahim adiknya, Kuchel, tapi Levi tumbuh menjadi anak yang belajar dengan cepat dan kini ketahuan memiliki kelebihan istimewa. Kenny pun hari itu juga bercerita soal masa lalu Kuchel kepada Levi secara detail, sekaligus menjawab pertanyaan Levi sebelumnya. Tentu saja anak umur lima tahun tidak langsung mengerti. Soal apa itu tekanan ekonomi, PSK, atau HIV/AIDS.
Tapi, esoknya Levi jadi mogok makan dan tidak mau keluar kamar selama tiga hari.
Usia Levi masih tujuh tahun, terlalu dini untuk menerima cerita kelam keluarga mereka. Bisnis perbankan buyut mereka bangkrut, memaksa Kuchel berkerja sebagai penjaja keperawanan selama satu atau dua jam demi memenuhi urusan perut. Kuchel terkenal sebagai 'The Olympia'. Harganya mahal, sesuai dengan spesifikasi layaknya trofi. Hingga di usianya ke tiga puluh Kuchel ingin seorang anak. Bekerja lah dia tanpa pengaman, dan tidak perlu menunggu lama akhirnya dia hamil. Yah, walaupun entah dari benih laki-laki yang mana saking banyaknya.
Kenny menentangnya untuk hamil habis-habisan, pundi-pundi modal bisa berkurang selama sembilan bulan lebih. Usaha mereka untuk membuka studio musik pun akan terhambat. Tapi, sesuai janji Kuchel, ia lalu bekerja dua kali lipat lebih keras setelah Levi lahir. Studio musik yang kecil kemudian menyusul berdiri hingga menjamah di beberapa tempat. Levi dibiarkan hidup dekat ibunya hingga umur tiga tahun, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya menderita digerogoti penyakit berbahaya dan meninggal di usianya kelima tahun. Kenny yang merasa iba akhirnya mengajak Levi pulang ke rumahnya. Dibesarkan hingga berumur dua puluh tahun.
Sementara pamannya bekerja sebagai pemilik studio, Levi memilih untuk menjadi anggota mafia di Underground. Kenny tidak bisa mencegah karena itu adalah profesinya yang dulu. Biarkan saja sampai bocah itu tahu buruknya Underground. Levi pun dibekali teknik bertarung untuk bertahan di luar sana, walaupun sesekali diselingi dengan bermain musik yang menjadi hobi Kenny.
Benar saja, bagaimana pun orang-orang menyebutkan darah tetap saja itu darah. Levi berhenti menjadi mafia dua tahun kemudian, padahal namanya sudah sangat kondang di Underground. Pena dan gitar menggantikan posisi pisau lipat dan pistol dari tangan Levi. Takdirnya yang sial ini tidak bisa dilupakan dengan menghajar orang lain, katanya. Tapi, Kenny juga tahu kalau ada sosok lain di balik itu. Seorang gadis kesayangan yang tinggal di rumah keponakannya itu tewas di tengah misi, membuat Levi berhenti menjadi mafia. Selain itu muncul Erwin Smith, laki-laki pirang dari sebuah agensi entertaiment besar pasti memberikan pengaruh pada Levi untuk terjun di industri musik.
Siapa sangka pula keponakan Kenny itu ternyata bisa bernyanyi dan membuat lirik yang bagus?
Levi kemudian sering berlatih di studio musik milik Kenny, prosesnya bisa dibilang cepat hingga dia bergabung dalam sebuah band dan terkenal sebagai NO NAME yang lagunya 'sakit'. R nama panggung Levi, posisi sebagai vokalis. Tanpa ragu Kenny menjadikan usaha studio miliknya sebagai sponsor untuk NO NAME. Yah – setelah ibunya, sekarang anaknya yang Kenny andalkan.
"Kalau kau merasa bersalah karena telah memperalat Mama demi mendapat uang, memang seharusnya begitu." Ujar Levi tiba-tiba di suatu hari. Yah, kelebihannya istimewanya itu semakin tajam setiap waktunya. Kenny mulai risih, tapi Levi mengaku tidak acuh pada suara-suara tersebut jika tidak penting baginya. "Kau tidak perlu merasa bersalah padaku, Kenny. Anggap saja bayaran untuk merawatku dulu, toh aku juga mendapat uang lebih banyak." Tambah Levi kemudan.
"Dasar bocah tengik!"
Levi mengangkat bahunya sekilas.
.
.
.
Sebenarnya menjadi mafia Underground lebih mudah dibanding menjadi artis bagi Levi – bahkan dengan penutup wajah. Eh, tidak, penutup wajah bisa jadi pemicu kenapa wartawan gemas mencari identitas asli. Jujur saja, Levi sudah tidak habis pikir kenapa wartawan terlalu 'kepo' dengan dirinya. Seperti tentang orientasi seksual misalnya, apa tidak ada topik lain yang lebih penting untuk dibahas? Bukankah praktek money laundry di Underground itu lebih membahayakan dibandingkan seorang vokalis yang ternyata orientasi seksualnya menyimpang?
"Ini masalah fotonya, Levi." ucap Flagon – manajer NO NAME – tiba-tiba yang membuat Levi menoleh padanya, "Kau terlihat sedang asik bermain pangku-pangkuan dengan remaja belasan tahun, lengkap dengan penampilanmu sebagai vokalis NO NAME."
"Dia sudah duduk di bangku kuliah, bukan remaja. Kau kira aku berminat menggauli bocah yang bahkan belum pernah ereksi? Tidak terdengar menarik juga."
Flagon berdeham. "Intinya, hal tersebut telah menggugah wartawan untuk mengupas identitasmu lebih dalam dan akhirnya akan merusak karirmu. Apa kau tidak masalah dengan itu?"
"Persetan dengan karir." Levi lalu mengisap rokoknya yang tinggal setengah batang. "Kau seharusnya menyeret Hange dan Mike dari acara belanja mereka sekarang dibanding menceramahiku. Penerbangan ke Maria tiga jam lagi, bukan?"
"Aku sedang melakukannya, jika kau ingin tahu, ini sudah kesepuluh kalinya aku menelpon dan tidak dijawab. Jadi, sekarang akan kucoba dengan telepon hotel."
Levi baru saja ingin memaki Flagon karena justru smartphonenya yang berdering, mungkin saja dia salah memutar nomor yang dituju karena timingnya yang sangat pas. Namun urung begitu di detik berikutnya Flagon mengomel layaknya ibu-ibu dan nama yang tertera di layar handphonenya adalah –
Erwin Smith.
"Ya, Erwin?" jawab Levi cepat begitu ia memilih opsi berwarna hijau.
"Datanglah ke kantorku segera, Levi. Ada yang harus kita bicarakan."
"Di tengah-tengah jadwal konser NO NAME? Ada apa sebenarnya?" Tanya Levi dengan dahi berkerut samar karena mendengar suara pimpinan agensinya yang sangat serius.
"Kau tahu masalahnya, Levi. Fotonya – "
Seketika itu juga Levi berdecak kesal, "Kau tahu betul ceritanya, Erwin. Kenapa kau juga ikut memburuku seperti wartawan kepo itu, hah?"
"Dan kau seharusnya tahu betul kalau ini juga merambat pada masalah bisnis, Levi." dengus Erwin di sebrang sana, "Investor dan pihak studio tidak ingin mengalami kerugian atas gosip tersebut. Flagon sedang sibuk untuk meredam isu selain mengurus jadwal konser NO NAME, jadi kau datanglah ke kantorku sekarang. Ah, Kenny juga akan hadir nanti."
"Baiklah, jika itu katamu." Levi akhirnya mengalah.
"Satu lagi, Levi. Jangan gunakan tubuh terbangmu ke sini. Aku telah mengatur supaya Flagon memesankan tiket yang berbeda untukmu, akan berbahaya jika yang satu itu terkuak juga. Bukan begitu?"
"Eh, itu pasti Erwin-dancho bukan? Dia pasti sudah menjelaskan semuanya, " Flagon tiba-tiba bicara kepada Levi walau telepon yang terhubung dengan Erwin belum terputus. Ia lalu menyodorkan sebuah tiket menuju Stohess atas nama Levi Ackerman. "Ini untukmu. Berhati-hatilah, kau hanya sendiri. Hehe."
Levi menyambar kasar tiket tersebut, "Aku berangkat sekarang." katanya sebelum beranjak dari kursi dan memutus sambungan telepon.
.
.
.
Diskusi baru saja selesai dua menit yang lalu, tapi Levi masih berdiam diri di balkon lantai lima kantor agensinya untuk menunggu pamannya yang meminta waktu berbincang. Soal hasil diskusi sebelumnya, kontrak dengan NO NAME akan diperbaharui pada beberapa point tentang attitude – yang malah membuat Levi tak sabar ingin melanggarnya. Dia yakin kalau penggemar NO NAME tidak akan kabur dengan berita esek-esek macam ini, lagipula setelah lagu-lagunya yang kontrofersial itu justru jumlah mereka semakin banyak. Artinya, banyak yang sepemahaman dengan Levi diluar masalah seksual. Apa yang perlu dipermasalahkan?
"Uang-mu lebih banyak dariku, katamu?" Levi menoleh begitu Kenny tiba di sampingnya sambil tertawa kencang, "Omong kosong, Nak! Kau bahkan tidak bisa mengatur bagaimana caranya uang itu terus mengalir padamu. Pisahkan uang dan percintaanmu, Bodoh! Semudah itu tidak bisa kau lakukan, heh?"
"Kabarku baik,jika begitu caramu menyapaku." Sahut Levi datar.
Kenny menepuk keras bokong keponakannya tanpa ingat umur. "Kau membuatku gemas, Levi. Beruntung sekali ada orang yang rela direpotkan olehmu seperti Erwin Smith. Jadi foto itu bisa dihanguskan dari publik dengan cepat. Pelaku dipenggal, slash! Semua kini hanya menjadi gosip yang kurang bukti. Hey, jangan-jangan pria pirang itu menyukaimu?"
"Jangan bodoh, Pak Tua. Katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku, ada konser yang harus kudatangi lima belas menit lagi."
"Oh, tidak, tidak! hanya itu saja. Sisanya, aku sangat terkejut ternyata kau lebih tertarik dengan penis dikala kau juga memilikinya." Kenny terkekeh, "Silakan, jika kau ingin bekerja kembali. Carilah uang yang banyak dariku, Nak!"
"Oui." Balas Levi pendek.
Levi berdecak mendengar denting smartphone yang tak kunjung berhenti sepanjang jalan. Hange dan Mike benar-benar tidak bosan untuk menyepam di grupchat pribadi mereka, terus mendesak untuk datang secepatnya. Yah, memang sudah terlambat lima menit dari jadwal. Tapi, kalau dipikir secara logis pun mustahil untuk tepat waktu di saat seperti ini. Sesampainya di hotel, Levi lalu mengunci kamarnya rapat-rapat dan mengetik balasan dengan cepat kemudian sebelum akhirnya melesat dengan wujud ruh menuju Field Maria.
'Aku langsung muncul di depan panggung, nyalakan kembang apinya.'
.
.
.
Hari ini tanggal 6 September. Setiap tahun Levi selalu memperingatinya sebagai hari berkabung karena tujuh tahun yang lalu Isabel Magnolia berpulang padaNya. Namun, dua tahun setelah kepergian Isabel, Eren seolah datang padanya sebagai pengganti. Sosok pemuda yang sepuluh lebih muda dibanding Levi itu mampu melepas rindunya terhadap Isabel. Warna mata yang hijau bagai zambrud khatulistiwa dan dengan segala kepolosan yang super menggemaskan itu membuat Levi luluh – lagi – pada akhirnya.
Tentu saja, Eren adalah laki-laki. Tapi, bagi Levi perasaan hati tidak pernah salah untuk ditujukan pada siapapun. Melupakan fakta lain bahwa tanpa sadar ia telah menjadikan Eren sebagai pelarian.
Hubungan mereka berjalan selama tiga tahun – Eren dan Levi – dan menjadi pengalaman pertama untuk Eren. Pengalaman pertama langsung menjadi submisif, agak lucu sebenarnya. Sampai akhirnya perlahan Eren mengetahui semuanya dan semakin yakin kalau hubungan yang ia jalani memang sudah salah dari awal. Dia hanya menjadi pihak yang tertipu.
"Ini semua karena warna mata kami dan sifat kami yang persis, bukan, Levi?"
"Kurasa kau benar kali ini." akhirnya Levi menemukan jawabannya atau tersadar lebih tepatnya. Kemudian, malam itu Levi meminta maaf dan berterima kasih kepada Eren. Tidak, pemuda brunette itu tidak lantas benar-benar membenci Levi hingga dendam kesumat karena memang banyak hal yang ia pelajari bersama Levi sebelumnya. Mereka pun berpisah sebaik mungkin.
Hingga tanggal 4 September kemarin, setahun setelah mereka berpisah, Eren mengumumkan pernikahannya dengan Mikasa. Coba pikir, mana ada mantan kekasih yang tidak merasakan apa-apa akan berita semacam itu? Terlebih lagi kalau masih sendiri setelah mereka berpisah. Hanya saja, Levi saat ini benar-benar bingung.
Kalau begitu sebenarnya apa yang telah dilakukannya selama ini? Benarkah ia masih berduka?
Isabel Magnolia, gadis dengan surai marun mengkilat dan mata hijau gelap yang magnetis. Mereka bertemu di hari pertama Levi menginjakkan kaki di Underground. Waktu itu Isabel masih berusia dua belas dan dalam kondisi sekarat efek kelaparan juga tubuh penuh kotoran, mana tahan Levi yang berjiwa clean-freak melihat kondisi seperti itu? Setidaknya orang sekarat harus terlihat wujudnya seperti manusia, bukan seperti sampah. Walaupun, alasan yang lebih kuat Levi membawa Isabel adalah karena tatapan mata si bocah kumuh itu. Yah, tatapan mata yang magnetis bagi Levi karena walaupun warnanya yang gelap, tapi itu mampu berkilat terang. Sangat terang.
Pertama Levi membawa Isabel ke tempat pemandian dengan meminta pekerja wanita di sana untuk memandikan Si Bocah Kumuh sebersih mungkin demi mencegah berbagai penyakit kulit menular. Kemudian ke restoran kecil untuk memberi Si Bocah Kumuh itu makan. Lalu jenis sindiran kedua-pun meluncur dari mulut Levi setelah kotor dan bau kepada Isabel, yaitu –
"Sepertinya aku telah menyelamatkan seekor babi."
Tapi sayang sindiran manusia selalu menjadi angin lalu bagi seekor babi. Dia tetap makan dengan sangat lahap. Malah tersenyum senang mengatakan, "Terima kasih, Aniki!"
Levi mengangguk, ia anggap itu sebagai balasan yang setimpal. Si Bocah Kumuh itu kemudian pergi dari hadapannya dengan kilatan mata yang begitu cerah. Semangat untuk menghadapi hidup, mungkin? Namun dalam sekali rotasi bumi, Levi kembali berurusan dengan Si Bocah Kumuh.
Bocah itu mencuri isi rumahnya. Mulai dari makanan hingga pakaian.
"Maafkan aku! Jika saja aku tahu ini rumah Aniki, sungguh maafkan aku! Aku hanya ingin bertahan hidup!"
Akhirnya Levi memaafkannya, ia terlanjur suka kilatan mata hijau itu. Disamping Levi juga pernah di posisi yang sama. Dia pikir sudah saatnya juga ia melakukan hal yang sama dengan Kenny. Seperti orang dewasa mungkin? Kemudian Levi mengetahui kalau nama si bocah kumuh itu Isabel Magnolia – seorang yatim piatu. Ayah dan Ibu Isabel adalah pedagang biasa di Underground. Hingga akhirnya kedua orangtunya dibunuh oleh seseorang dan ia kabur sendirian. Gadis itu tidak takut dibunuh, tetapi ia takut dijadikan pelacur seperti anak perempuan tak beruntung lainnya di Underground. Sehingga Isabel sampai menangis ketika Levi mengatakan bersedia untuk membiarkannya tinggal. Membuat Levi tanpa sadar menaruh separuh kepeduliannya tentang hidup kepada gadis itu.
"Terima kasih!" Isabel menyeka ingus di hidungnya dengan lengan baju, "Terima kasih, Aniki!"
"Tapi, sebelum kau tinggal disini ada hal yang harus kau ketahui – aku tidak suka kotor. Jadi, bersihkan dirimu sekarang! Ganti baju!"
"Siap!"
Waktu terus berputar, Si Bocah Kumuh menjadi bocah yang taat akan kebersihan karena takut diusir oleh Sang Tuan Rumah. Dia pun tumbuh dengan baik dengan sifat menyenangkan. Meramaikan rumah Levi. Sampai akhirnya Isabel meminta diajari untuk bertahan hidup, katanya tidak mungkin ia terus bergantung dan meminta pada Levi. Tanpa pikir panjang, Levi mulai melatihnya untuk bertahan hidup dengan caranya – menjadi mafia. Namun baru saja gadis itu menjalankan dua misi, sebuah peluru musuh sukses merenggut nyawanya. Di tengah pelarian dan di depan mata Levi sendiri, gadis itu menghembuskan napas terakhir.
"A – niki.."
Sudah dapat ditebak akhirnya, Levi melupakan misi demi memenggal orang yang menembakkan peluru kepada Isabel kesayangannya. Dan itu menjadi misi terakhirnya sebagai mafia kondang di Underground.
.
.
.
'Kenapa disaat seperti ini?' batin Levi mendengus gusar.
Di saat dia harus menghadapi permasalahannya sebagai public figure karena orientasinya, pikiran Levi terbang jauh melampaui waktu ke masa lalu. Dia juga ingat kelopak mata Isabel tidak tertutup hingga napasnya terhenti. Sangat jelas seperti kepingan film yang diputar lambat. Atau saat ibunya menghembuskan napas terakhir di atas kasur lapuk.
"Ingat kata-kata ibu, Nak. Teruslah hidup, Levi. Ibu mencintaimu."
Levi kemudian melepas balutan kepalanya, melihat refleksi diri pada aliran sungai. Menyedihkan. Jika saja terjun bebas seperti namanya. Terjun dari ketinggian – anggap saja ketinggian adalah masalahnya – kemudian bebas – maka masalah akan terlupakan dan merasa bebas kemudian. Ia kemudian tergerak untuk memanjat pembatas jembatan, berdiri di atasnya dan mencoba terjun bebas. Ia akan terjatuh, terserah instingnya kemudian akan bermanuver seperti menukik menghindari batu besar di dasar sungai lalu terbang tinggi dan meliuk diantara cahaya sore. Terserah.
Inilah satu-satunya hal yang Levi suka dari kelebihannya, bahkan Erwin menyebutnya – tubuh terbang. Levi tak perlu memiliki sayap tetapi bisa menyentuh bintang. Jika saja tubuh ini juga bisa membawaku menemui mereka.
Mata Levi terpejam menikmati sapuan angin pada tubuh terbangnya yang terjatuh. Hingga sebuah teriakan keras membuatnya menoleh dan terlihat sesosok perempuan cokelat madu terbang ke arahnya dengan tangan terjulur dan raut wajah khawatir.
"LEVI!"
'Tunggu dia –?!'
Dan tubuh Levi kemudian seperti terlempar ke tempat yang sangat jauh.
.
.
.
-BERSAMBUNG-
A/N : Halo! Bertemu lagi dengankuu~ Terima kasih sudah berkenan membaca ya! ^^ Err.. buat yg baca dari awal publish, maaf kalau ada pergantian nama. Aku baru inget nama bandnya Levi, Hanji, sama Mike di versi SnK chuugakko itu No Name. Jadi, aku ikutin itu aja yang lebih cocok dibanding MILEZ mwehehehehe.. (ketauanasalpilih) Terus, ada sedikit perubahan juga tapi kurasa gak menggangu di chapter ini. Maaf ya, khilaf aku m(_ _)m
Yap! Jadi, begitulah. Kalo ada kritik, komentar, dan saran bisa disampaikan lewat kotak review yah! EHEHE
So, will you meet me in next chapter? ;)
