Aduhduhduhduh lama banget ya lanjutannya? Ckck ini siapa authornya? Gak becus banget udah hampir 8 bulan gak diapdet -_- hehe maaf ya minna, akibat prokrastinasi nih nunda nunda mulu jadinya kelupaan.

Makasih ya buat semua yang sempet-sempetin kirim komentar/masukan, juga yang jadi silent reader. Makasih banyaaaaak.

Special thanks to:

Hanya Orang Tidak Jelas, YOuNii D3ViLL, DNK agen7, Chiyo churippu, hanaka of nadeshiko, D'Akou'Chan, Mitama134666, Miharu Koyama, YaraiYarai-chan, Iin cka you-nii, Naara Akira, nobOdeh, undine-yaha, icha22madhen, Ichaa Hatake Youichi, Matsura Akimoto, Uchiha Sakura97, Quizzie D'merlin audiest, Cielheart Ie'chan, Youri Hiruma, Satsuhiru Anicofer, one-of-a-lot-hiruma's-fans.


"Life Goes on"

Written by: Rowena N.

Disclaimer: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Pairing: Hiruma Y. x Mamori A.

Warning: OOC dan GEJE

Chapter 2

H-5 pernikahan Mamori.

Yamato terlihat sangat gugup dengan setelan tuxedo hitam bergaris yang dikenakannya. Matanya tak henti menjelajahi bayangannya sendiri di kaca ukuran jumbo milik butik khusus wedding outfits di Ginza shopping district. Ia terdengar mengoceh hal-hal random tentang 'gerah', 'calon suami', 'harus lebih banyak olah raga'. Sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran Mamori tepat di belakangnya tersenyum geli melihat kelakuan pria grogi yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

"Hey… hey... sudah tampan kok, sudah tampan..." tegur Mamori cekikikan dan berhasil membuat Yamato sedikit terlonjak.

"Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan tuxedo ini!" balasnya gelisah, masih berputar-putar menghadap depan, lalu samping kanan, depan lagi, lalu samping kiri, dengan mata yang tetap terpaku memperhatikan dengan seksama kondisi setelan tuxedonya yang sebenarnya tidak ada masalah, malah terlihat sempurna membungkus tubuh atletisnya.

"Ehm, ehm," Mamori berdeham gemas merasa tidak diacuhkan.

Yamato menghentikan aktivitasnya berputar seperti gasing. Siluet Mamori yang berdiri di belakangnya kini terlihat jelas terpantul di cermin.

"Ma-Mamori chan?" Yamato sudah berputar 180 derajat menghadap Mamori, pandangannya jatuh pada gaun putih satin megah tanpa lengan, dengan sulaman renda ber-aksen metalik yang digunakan gadis itu. Pipi Mamori kontan berubah merah padam, Yamato memandanginya seperti telah memenangkan jackpot lotere.

"Er, aneh ya?"

Pertanyaannya itu membuat Yamato berpaling pada mata safirMamori. Menatapnya lekat-lekat, seolah apa yang akan dikatakannya ini, merupakan hal ter-absolut yang pernah ia ucapkan, "Kau gadis terindah yang pernah kulihat. Aku tidak akan menyesal memilihmu."

-XXX-

"Kita kerjain habis-habisan!"

Seorang pria dengan aksen seperti diulur-ulur tampak sedang memberi instruksi kepada tiga rekannya. Kedua lengannya disilangkan ke depan dada, ia berbicara layaknya ketua dalam kelompok kecil tersebut, dilihat dari cara mereka berpakaian diperkirakan umur mereka sekitar 20tahun-an.

"Yeah!" seru salah satu dari mereka antusias, mengacungkan tangannya tinggi-tinggi seraya memamerkan deretan spidol warna kebanggaannya di sela-sela jarinya yang pucat.

Mata-mata berkilau menyiratkan kehausan mendalam akan balas dendam dihujamkan penuh kepada seorang pemuda yang sedang mereka kerubungisaat ini, Hiruma sangat kacau. Satu tangan memegang salah 1 botol bir di antara 3 botol lain yang seluruhnya kosong, tangan lainnya dijadikan alas untuk kepalanya yang terkulai tak sadarkan diri di atas meja. Gelas kaca yang dipakai sebagai wadah birnya jatuh terkena sikut, menumpahkan balok es yang belum sepenuhnya mencair. Ini menandakan Hiruma belum lama menghentikan aktifitasnya. Tentu saja siapapun yang melihat pemandangan ini pasti berkesimpulan, pemuda ini sedang mabuk berat.

"Tch," gumam pria lainnya yang berpostur tubuh sedikit gempal di tengah usahanya menggeledah tiap inci tubuh Hiruma, mencari sesuatu, "Aku tidak bisa menemukan buku ancaman sialan itu!"

"Cari yang benar, baka!" melihat pria gempal itu tampak kesulitan dalam usahanya menggeledah, pria ke-4 jadi habis kesabaran, lalu memutuskan ikut membantu.

"Kalian pelan-pelan. Nanti dia bangun, jadi gawat!" kata pria yang sedari tadi tengah dilanda kesenangan mendapat 'kanvas' baru untuk melukis, terkikik tertahan, takut-takut suaranya dapat membangunkan Hiruma. Hal yang tidak perlu, mengingat dentuman musik pub ini saja tidak dapat mengusik tidur pulasnya.

5 menit berlalu.

"Sial!" desis pria gempal menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Hiruma. Menyeka peluh di keningnya dengan frustasi, "Di mana setan ini menyimpannya?"

Karena terlalu sibuk, bandit-bandit muda yang sedang memperjuangkan kebebasan mereka dari perbudakan Hiruma, tidak menyadari kehadiran seorang pria berbadan kekar yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka.

"Apa yang kalian lakukan pada pelangganku, bocah-bocah tengik?"

Sumber suara di belakang mereka yang tiba-tiba, kontan membuat mereka serempak membeku. Ketua kelompok tersebut yang kelihatan paling putus asa sampai-sampai mengira buku ancaman itu terselip di antara helaian rambut Hiruma, membuka mulut hendak adu mulut dengan… siapapun itu yang mengganggunya, karena sudah terlanjur membangun mindset 'tidak-boleh-beranjak-sampai-menemukan-buku-ancaman'. Tetapi sejurus kemudian saat ia berbalik berhadapan langsung dengan pemilik pub, yang ia temukan bukan hanya nyalinya yang menciut, badannya juga terlihat ikut mengecil.

"Ha-halo," katanya kaku berusaha terdengar lebih berani daripada yang dirasakannya. Ketiga anak buahnya juga sudah mengikutinya. Sirine di dalam kepala mereka serempak bergaung nyaring, 'bahaya baru! Bahaya baru!', "Ap-ap-apa kabar?"

"…."

"Ka-kami, baru ma-" elakannya tersangkut di kerongkongan saat menyadari ketiga anak buahnya sudah kabur duluan sebelum sempat berkata apa-apa. Keringat dingin mengalir dari sela-sela rambut merah gelapnya.

"Kenap-"

"HUAAAAAAA…" belum genap satu kata diucapkan pemilik pub berbadan kekar itu, ia sudah berlari terbirit-birit. Teriakan histerisnya yang seperti anak perempuan menghilang di balik pintu keluar pub. Meninggalkan pemilik pub melongo keheranan.

"Dasar anak muda jaman sekarang! Penampilan sok jagoan, hati perempuan!" kekehnya heboh selang beberapa saat, "Apa anak ini teman mereka?"

Dia hanya memerlukan dua langkah besar untuk sampai ke meja Hiruma. Diperhatikannya separuh wajah Hiruma yang sudah penuh karya seni salah satu anak buah pria tadi. Sebuah mata besar dan berbinar-binar khas mata gadis-gadis di komik perempuan berhasil dilukis di pelupuk mata Hiruma, gambar kotoran di pipinya, dan sebuah kumis melingkar di bawah hidungnya.

"Wah, parah sekali!" gumam pemilik pub, menahan tawanya.

-XXX-

Mamori dan Yamato dalam perjalanan pulang setelah seharian berkutat dengan kesibukan mengurus ini dan itu guna memaksimalkan persiapan pernikahan mereka. Dari fitting pakaian, mengurus catering, dekorasi, dan segala macam hal melelahkan lainnya. Seharian ini juga inner Mamori berdecak jengkel, mengapa pernikahan harus semerepotkan ini? Tapi saat ingin mengutarakan keluhannya itu, ia kembali menelannya mentah-mentah tiap kali senyum bahagia Yamato mengembang. Mamori jadi merasa tidak tega mengganggu keceriaan pria dewasa yang terlihat seperti bocah yang kelewat kegirangan meniup lilin di hari ulang tahunnya.

Pidip pidip

Di tengah kesibukannya melamun yang terlihat seperti sedang memperhatikan hiruk pikuk jalanan Tokyo, Mamori mengalihkan perhatiannya ke sumber suara itu. Sebenarnya suara jam digital di dashboard mobil Yamato yang memperlihatkan angka tepat 11:00 PM, sangatlah pelan. Tetapi di tengah kebisuan mereka yang bahkan untuk membuka obrolan pun terasa sangat berat, karena kelelahan. Bunyi alarm tersebut jadi terdengar cukup mampu membuyarkan sebuah lamunan.

"Aku kira kau tertidur, Mamori chan."

"Aku kira kau juga tertidur sambil menyetir."

Yamato tersenyum samar, "Maaf ya, kau pasti sangat kelelahan."

"Eh?" Mamori kembali bersandar ke punggung jok mobil dengan wajah masih menghadap tunangannya yang sibuk menyetir, "Ini kan untuk kita berdua Yamato kun, jangan minta maaf."

Yamato membalas tatapan Mamori, tetapi kali ini pandangan Mamori telah teralihkan ke ponselnya yang bergetar.

"Mosi-mosi," sapa Mamori ragu-ragu setelah melihat sebaris nama yang tertera dilayar 'Hiruma Kun'.

"Sumimasen, apakah ini manager sialan?"

Mamori membisu sejenak, ia hafal betul suara Hiruma yang tidak bisa sesopan ini. ia kembali memeriksa layar ponselnya alih-alih menjawab pertanyaan di seberang telepon.

"Mosi-mosi," Samar-samar suara yang tadi kembali terdengar, membuat Yamato melirik sekilas ke arah ponsel yang sudah tertempel kembali di telinga Mamori.

"Iya, maaf ini dengan siapa ya?"

"Oh ini pemilik Lee Poynter Pub, seseorang yang terlihat seperti setan kuyu sedang mabuk berat di sini sampai tak sadarkan diri. Saya periksa kontak ponselnya, semua nama memakai kata-kata kasar. Cuman satu nama yang terlihat sedikit masuk akal. Ini benar nomor manajernya?"

Hanya butuh beberapa detik untuk otak cemerlang Mamori menyusun puzzle gambaran situasi yang diceritakan panjang lebar oleh seseorang yang katanya pemilik pub itu, sebelum ia berteriak panik lebih kepada dirinya sendiri, "Aku mau turun di sini saja!"

Yamato sedikit terlonjak, "Maaf? Kau-kau kenapa Mamori chan?"

"Yamato kun, tolong hentikan mobilnya! Ada hal yang sangat penting yang harus aku lakukan!"

"Tidak mungkin aku menurunkanmu di sini, ini sudah jam berapa Mamori chan. Kalau memang semendesak itu, aku bisa mengantarmu."

"Tidak perlu, tolong hentikan mobilnya sekarang, Yamato kun. Tolong," suara Mamori yang terdengar seperti ingin menangis membuat detak jantung Yamato terasa berhenti sejenak. Ia tidak tahu apa yang merasukinya, karena sedetik kemudian ia membanting setir dan berhenti di sisi kiri jalan. Mamori memang satu-satunya orang yang bisa dengan mudah membuat pendirian keras Yamato terlihat seperti kacang yang melempem.

Lalu tanpa aba-aba bahkan sebelum mobil Yamato benar-benar berhenti, Mamori menghambur keluar tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan tunangannya yang shock, tunangan yang sebentar lagi naik pangkat menjadi suaminya.

Yamato terdiam lama selang beberapa waktu setelah Mamori menghentikan taksi dan langsung meluncur meninggalkan Yamato seorang diri. Ia bertanya-tanya dalam hati siapa yang telah membuat Mamori kalang kabut seperti itu. Satu nama melintas di kepalanya, tapi langsung ia buang jauh-jauh karena terlalu jengah. 'Hiruma Youichi'.

to be continued


WAAAAAA OOC! Maaf T_T

WAAAAAA masih pendek juga! Maaf T_T

Susah juga ternyata buat romance/hurt/comfort yang gak OOC -_-

Anyway, terima kasih sudah membaca ;D jangan lupa kolom reviewnya diisi!

Semoga tidak ada prokrastinasi berlebihan selanjutnya. ;D