What Is The Meaning Of Love?

Disclaimer Tadatoshi Fujimaki

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Friendship

.

.

.

ENJOY!


"Hei, bukankah itu cewek yang mengaku sebagai pacar Akashi-sama ya?"

"Iya, itu kan cewek yang kemarin!"

"Ah, dia seenaknya saja mengaku menjadi pacar Akashi-kun!"

Bisikan-bisikan menyebalkan keluar dari mulut para penggemar Akashi seiring kau berjalan di koridor deretan kelas satu. Kau sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Dan pastinya kau sudah memprediksi akan secepat ini.

"Dep!" Hentakan telapak tangan terdengar jelas. Tubuhmu didorong ke tembok.

Seorang yang sepertinya pemimpin kelompok tak tahu diri itu menempelkan tangan kanannya ke tembok–di sebelah kuping kirimu. Tangan kirinya ia gunakan untuk berkacak pinggang. Sementara 4 pengikut mengelilingimu dengan melingkarkan kedua tangannya di depan perut masing-masing.

"Hei kau! Cewek kampungan! Memang benar kau pacar Akashi-sama? Akashi-sama tidak mungkin menyukaimu! Dan dasar tidak tahu diri. Asal tunjuk orang saja!" Pemimpin mereka mengangkat dagumu. Dan dengan segera kau menepisnya.

"Kau jangan asal bicara ya! Bilang saja kau iri kan?" Mereka terbelalak.

"Hah?" Mereka terlihat ketahuan basah kuyup.

"I-iri? Buat apa kita–"

"Ehem." Dehaman terdengar jelas dari pemuda yang berada di belakang mereka.

"Bisa kau menyingkir darinya? Oh, dan satu lagi. Bisakah kau menyingkirkan tangan kotormu darinya?" Ucap pemuda itu santai.

"A-a-akashi-sama?" Mereka tampak panik. Akashi menghampirimu lalu menggandeng telapak tanganmu.

"Kau lihat? Kami benar-benar pacaran. Jadi tidak ada yang perlu dibingungkan." Akashi melanjutkan jalannya. Sementara kau hanya menurut.


Kau dan Akashi berjalan santai untuk makan siang di kantin.

"[Name]! Makan yuk!" Ajak Ogiwara yang menghampiri kalian.

"Ah, gomen, Shige. Aku sudah bersama Akashi-san." Tolakmu halus. Ogiwara melirik Akashi.

"Oh, baiklah. Semangat bersenang-senang ya!" Dan Ogiwara berlalu. Kau dan Akashi melanjutkan perjalanan kalian.

"Kau yakin?" Akashi menggantungkan kalimatnya.

"Eh? Kenapa?" Akashi menghela napas.

"Tetap memanggilku seperti itu?"

"Memang kenapa?" Akashi menghela napas lagi.

"Kalau kau tetap memanggilku seperti itu mereka tidak akan percaya kalau kita pacaran." Kau menepuk dahimu. Baru peka.

"Habisnya…"

"Tidak apa kok kalau kau memanggil nama kecilku." Kau membulatkan mata.

"He? Serius?" Akashi terkekeh.

"Terserah kau." Dan dia berjalan mendahuluimu ke kantin.


Sudah sebulan kau menjalin hubungan palsumu dengan Akashi. Orang yang sebulan lalu mengutarakan dan mengajakmu berpacaran masih mengawasimu. Ogiwara? Menurutmu bagaimana keadaannya?

"Pulang bareng yuk, [Name]!" Ajak Ogiwara yang sudah di ambang pintu kelasmu.

Kau yang sudah selesai mengemas barang menjawab, "Gomen Shige. Aku akan pulang bersama Sei-kun." Ogiwara yang tadinya ceria menampakkan wajah kesal. "Oh. Ya udah. Aku duluan. Pulangnya yang malam ya! Semoga ketemu psikopat." Celetuknya yang nancap.

Kau mengernyitkan dahi. Ogiwara memang suka begitu kalau ajakannya ditolak berkali-kali oleh orang yang sama. Eh? Atau hanya dengan kau?

Apaan banget sih, Shige. Sahabatnya sendiri juga.

Hari ini Akashi tidak sekolah karena ia ada lomba shogi. Dan semenjak tadi kau sudah bersemangat untuk mengajak Ogiwara makan siang dan pulang bersama. Tetapi saat kau menuju kelas Ogiwara ia sedang berjalan berlawanan arah bersama Kuroko. Kau menghentikan langkahmu. Kuroko berhenti melangkah dan diikuti oleh Ogiwara.

"Kenapa berhenti?" Ogiwara melihat tatapan Kuroko yang mengarah padamu.

"Oh. [Name]." Ogiwara yang tadinya melihatmu langsung memalingkan wajahnya.

"Ada apa [Last Name]-san?" Tanya Kuroko ramah.

"Ah, tidak. Tadinya aku mau mengajak Shige makan siang… tapi kupikir Shige sudah bareng Kuroko-kun…" Kau menundukkan kepalamu.

"Ayo, Kuroko. Nanti keburu habis makanannya." Tanpa menunggu apapun Ogiwara langsung menarik Kuroko. Kau meremas rokmu. Tangan kirimu yang bebas kau letakkan di depan dada.

Sakit tahu, Shige.

Kalau sedang marahan atau kesal denganku ia memang begitu. Tapi… tapi kenapa sekarang rasanya sakit…

Sepulang sekolah kau ke kelas Shige lagi. Tetapi kejadian tadi terulang lagi.

Keesokan harinya Akashi masih lomba dan Kuroko tidak masuk karena sakit. Saat istirahat kau mengajak Shige dan ia terus mendiamimu. Tidak mengatakan sepatah katapun. Saat pulang kau sengaja membututinya secara terang-terangan. Dan akhirnya kau berhasil menggapai lalu menarik kerah belakang Shige.

"Oi!" Dari suaranya Ogiwara terlihat marah.

Sebelum Ogiwara melanjutkan perjalanannya kau menarik Ogiwara lagi.

"SHIGE!" Bentakmu.

"Aku ingin bicara!" Ogiwara terlihat menurut.

"Hari ini Akashi-san dan Kuroko-kun tidak ada kan?" Ogiwara tetap diam.

"Terus kenapa kau menjauhiku?"

"Aku tidak menjauhimu."

"Hah? Jelas-jelas kau menjauhiku!"

"Aku tidak menjauhimu." Jawabnya sama.

"Kurasa malah kau yang menjauhiku." Lanjut Ogiwara.

"Bukannya kau yang jelas-jelas menjauhiku!" Balasmu.

"Kau." Balas Ogiwara dingin. Lalu Ogiwara diam dengan memalingkan wajahnya.

Kau terus menatap Ogiwara tanpa kedip. Tanpa berpikir lagi kau mengeluarkan semua yang sudah lama kau pikirkan dengan halus.
Kau meraih kedua pipi Ogiwara dengan kedua tanganmu. Memaksa Ogiwara untuk bertatapan denganmu walaupun ia lebih tinggi.

"Kau kenapa? Kau cemburu dengan Akashi-san? Kau cemburu karena aku dekat dengannya? Kau kesal karena aku makan siang dan pulang bersamanya? Iya, kau cemburu Shige?" Tanyamu halus.

"A-aku ti-tidak cemburu!" Jawabnya. Terdengar jelas kebohongan.

"Aku kayak gitu supaya mereka percaya."

Ogiwara membulatkan matanya lalu menghela napas.

"Kalau begitu…"

Ia menghela napas lagi.

"Lebih baik kau terus bersamanya saja."

Kau terkejut.

"Persahabatan kita cukup di sini saja."

Ogiwara melepaskan kedua tanganmu yang menempel di pipinya. Lalu pergi meninggalkanmu sendiri.

Benar-benar sakit, Shige.

"Satu lagi."

Sebelum jauh dahimu Ogiwara menghentikan langkahnya tapi tidak membalikkan tubuhnya ataupun menoleh kepadamu.

"Jangan memedulikanku lagi dan anggap kau tak mengenalku."

Ogiwara melanjutkan perjalanannya lagi.

Sakit. Sakit. Sakit. Benar-benar sakit, Shige. Apa kau tidak sadar?

Kau mengepalkan kedua tanganmu dan kau letakkan di depan dada. Menahan air mata yang sebenarnya sudah jatuh.


To be continued...