Adronitis – Frustation of how long it takes to get to know someone.

Baju seragam.

Hanya itu yang ada di pikiran Taehyung. Bagaimana bisa kakaknya membiarkan anak kecil dengan seragam SMA memasuki bar yang menjual berbagai macam jenis alkohol? Atau anak itu cukup kaya untuk menyogok penjaga depan?

Mata polosnya bertatapan dengannya selama beberapa detik, dan Taehyung menghentikan permainannya. Bibirnya terlepas dari ujung peniup alat musiknya dan sedikit terbuka, berusaha mengintimidasinya agar pergi dari sana. Bar bukan tempat anak sekolah baik-baik untuk bermain. Setidaknya dia tahu itu.

Seseorang menepuk pundak anak itu, menilingkan kepala, membuatnya berputar mengikutinya. Namun kepalanya terus menengok ke arah Taehyung, seolah dia benar-benar tak ingin pergi dan hanya ingin selalu melihatnya.

Yang lebih tua juga terus memperhatikannya dari atas panggung, terlepas dari setelan yang dia kenakan, anak itu manis. Terlalu manis untuk menjadi anak yang tentunya masih di bawah umur. Rambut hitamnya yang lebat sedikit menutupi matanya, yang justru membuatnya semakin menarik.

Tanpa sadar, Taehyung mendorong dirinya turun dari panggung, mencoba mengejarnya ketika semuanya terlambat. Mobil yang membawanya telah melaju kencang, membelah Seoul di malam hari. Pemain saksofon itu mengacak-acak rambutnya, kesal.

Jimin ikut berlari di belakangnya. "Kemana mobil Yoongi tadi?"

Dia menoleh, melirik sahabatnya, bingung. "Min Yoongi Sunbaenim kita dulu?"

"Siapa lagi?" Taehyung tak melihatnya dari tadi. Sepertinya dia terlalu terhipnotis dengan bocah SMA itu. "Dan juga, dasar Kim bersaudara jahat, bagaimana bisa kalian tak pernah mengatakan padaku kalau Yoongi Hyung itu pelanggan kalian?"

"Mana kutahu." Jimin meraung mendengar jawabannya. "Sudah, mungkin saja dia akan datang kemari lagi lain kali, rajin-rajin saja datang dan beli minuman yang banyak."

"Apa aku ini bank uangmu?" Taehyung menampakkan senyumannya, yang sangat jarang terlihat, sebelum menariknya masuk ke bar lagi. Dimana Seokjin tengah menahan jeritannya di balik meja. "Ada apa denganmu, Hyung?"

"Ada apa? Ada apa?" tanyanya, setengah menjerit. "Itu Kim fucking Namjoon, Park Jimin, apa harus kuulangi sekali lagi?"

"Lalu apa?" tanya adiknya.

"Lalu apa? Anak SMA itu adalah lalu apa. Dia bisa membawanya masuk ke barku untuk menjemput senior kalian itu. Kenapa JK sangat beruntung?"

Sebelum sang kakak bisa menangis, Taehyung membulatkan matanya, sekarang dia tertarik. "JK katamu? Siapa? Kau kenal?"

"Ingat lukisan yang kau gantung tadi sore?" dia mengangguk. "Itu lukisannya."

Holy shit. Bocah itu punya talenta. Taehyung hanya merengut kesal ketika tadi sore Seokjin memaksanya untuk menggantung lukisan abstrak berjudul aneh. Siapa yang membuat judul lagu dan penyanyinya sebagai judul lukisan? Namun tetap saja, karya itu terlampau bagus, dan setelah mengenal pembuatnya, lukisan itu justru semakin indah.

"Kau punya kontaknya?"

Jimin mendengus, "Dia masih SMA, Taehyung Bodoh."

"Siapa yang mau kujadikan callboy?"

"Kau tak serius."

"Berikan saja aku kontaknya."

Seokjin melontarkan ponselnya, "Cari saja Jeon Jungkook dan kirim kontak Line." Jeon Jungkook, itu namanya. Sudut bibir Taehyung sedikit naik. "Jika sudah, tanyakan padanya apa dia punya kontak RM."

"Siapa yang peduli soal mereka? Aku baru sadar Yoongi Hyung mengoceh tentang dia berkelahi dengan Jennie sedari tadi." Jimin mengomel dan Taehyung memutar matanya. "Bagaimana bisa mereka selanggeng ini."

Pemain saksofon itu menepuk pundaknya, "Kau mau kencan buta?"

"Kau gila?!"

.

"Kau gila?!"

Namjoon memutar bola matanya. Semua yang dia lakukan hanyalah mengatakan pada Yoongi bahwa hubungannya sudah di ambang, tak ada alkohol yang cukup untuk membuatnya melupakan hal itu. Mereka bertiga tahu, hubungan Yoongi dengan Jennie semakin mengerikan setelah pekerjaan mereka membuat masing-masing sibuk.

"Yang kukatakan hanyalah, Hyung," ujarnya lagi, "Pikirkan baik-baik. Aku tak memintamu putus, aku hanya ingin kau bahagia, kita semua seperti itu. Benar, kan, Jungkook?"

Yang paling muda hanya menghela nafas, memikirkan pandangan tajam pemain saksofon itu, yang terus memperhatikannya sementara dia keluar dari pintu. Dan warna-warni permainannya, yang tak bisa dia enyahkan dari kepala.

Dia membutuhkan perangkatnya. Sekarang.

"Hyung," pengemudinya berdeham, "Bisa kita mampir ke toko? Aku harus membeli cat." Yang lebih tua bermanuver ke toko yang disebut Jungkook, sebelum akhirnya mengantar Yoongi pulang dengan selamat sentosa. "Maaf sudah merepotkan, Hyung."

Namjoon hanya berdecak. "Kurasa dia dan Jennie perlu bicara serius, bukankah kau pikir begitu? Aku tak ingin sesuatu terjadi di masa depan dan berdampak buruk baginya." Jungkook mengangguk. "Juga, besok hari sekolah dan sudah terlalu malam bagimu untuk belajar."

Dia hanya menggaruk tengkuknya, "Aku akan mandi dan langsung tidur, menginap disini, belajar bisa menunggu besok di sekolah." Yang lebih tua tertawa, mengusak rambutnya sebelum membuka pintu dan pergi ke mobilnya. "Hati-hati di jalan, Hyung!"

Selepas mandi, Jungkook memainkan ponselnya sebentar, mencoba mengadu pada Lisa tentang apa yang dia alami – yang sayangnya sahabatnya itu sudah terlelap – hingga ponselnya berkedip tanda pesan masuk.


V:

Hai yang disana.


"V?" ejanya, bingung. Apa ini orang aneh yang mencoba mengganggunya? Apalagi dia menggunakan Line dan orang ini jelas-jelas tak masuk daftar temannya. Ini tengah malam, seharusnya dia tidur saja. Tapi rasa ingin tahu Jungkook terlalu besar untuk dibiarkan tidur saja malam ini.


Jeon JK:

Siapa ini?

V:

Seragam yang bagus, kau SMA mana?

Jeon JK:

Kau penguntit?

V:

Tak usah berlagak polos seolah kau tak pernah pergi ke bar.

Jeon JK:

Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.

V:

Benarkah?

Bagaimana dengan Rose Bud pukul setengah sembilan?

Jeon JK:

Kau benar-benar penguntit.

V:

Kau yang memperhatikanku duluan.


Jungkook mengernyitkan dahinya, dia tak memperhatikan siapapun di bar tadi. Pandangannya hanya tertuju pada– Remaja itu nyaris melemparkan ponselnya, pikirannya mengeluarkan berbagai sumpah serapah yang pernah dia dengar dari kedua kakaknya.


V:

Kenapa kau tak membalasku?


"Fuck." Gumamnya, mematikan data selulernya sebelum memeluk bantal, mencoba untuk tidur. Kata kuncinya adalah, mencoba, hingga matanya masih tak tertutup ketika jam berdentang dua kali di tengah malam itu.

.

Jungkook berlari-lari di lorong ruang loker, mencoba mencari Lisa yang sayangnya tertidur cepat malam itu sebelum dia sempat menceritakan apapun, mereka juga tak bicara tadi di kelas, jadi dia harus mencarinya, hanya untuk bertabrakan dengan sahabatnya itu yang tengah mengikat rambutnya.

"Pelan-pelan, Bocah." Tegurnya dan Jungkook merengut, seriusan, mereka ada di kelas yang sama, tidak adil jika dia memanggilnya bocah. "Kau memberiku spam hingga ponselku nyaris tak berfungsi, apa yang terjadi kali ini?"

Dia baru berpikir bahwa dia tak bisa menceritakannya secara langsung. "Nanti." Ujarnya, namun Lisa dengan cepat menarik ujung belakang bajunya.

"Itu takkan terjadi, Jeon. Aku sudah terlanjur penasaran dan menjadi tanggung jawabmu tentang itu." Remaja itu mencebikkan bibir, menatap sahabatnya yang telah menaikkan alis, menunggu. Jadi Jungkook menyerah, dia hanya akan menceritakannya, semoga saja reaksinya tidak–

Lisa menyemprotkan air minumnya.

Dan Jungkook bersyukur itu bukan ke arahnya.

Gadis itu terbatuk sebentar dan remaja di sampingnya dengan baik hati menepuk-nepuk punggungnya agar dia berhenti tersedak. Sepertinya dia telah melupakan detail mungil dari sahabatnya itu. "Kau… Biseksual?" Jungkook menggangguk, mengkonfirmasinya. "Seharusnya kau menceritakan itu sejak dulu, jadi aku bisa tahu apa yang terjadi."

Jungkook memerah.

"Seriusan, kukira kau bertemu cewek cantik semalam."

"Kau ini," sergahnya, mengibaskan tangan. "Yang kukenal hanya ibuku, kau, galeri noona-ku, dan pacar Yoongi Hyung yang bitchy itu." Sebenarnya Jennie tidak menyebalkan, tapi siapapun yang menyebabkan kakaknya mabuk di bar sangat menyebalkan bagi Jungkook.

Lisa mendengus, "Apa kabarnya si international playboy?"

"Oh, ayolah, kau tahu itu hanya gurauan." Sesaat, hening, hingga Jungkook menggigit bibirnya dan menatap sahabatnya. "Kau tak masalah dengan, kau tahu, orientasi seksualku?"

Lisa mengendikkan bahu, "Kau pikir aku ini kentang?" dia tertawa, menumbukkan tangannya tanpa beban ke bahu Jungkook. "Aku tak terlalu peduli kau menyukai siapapun, itu kebahagiaanmu dan tak ada seorang pun yang berhak mengambil itu."

Jungkook menyeringai imut, merentangkan tangannya. "Biarkan aku memelukmu."

"Menyingkir dariku, Jeon Jungkook." Jeritnya, mencoba menghindari sahabatnya yang mengejarnya lebih cepat dari lompatan kelinci. Hingga keduanya lelah, Lisa membiarkan Jungkook membaringkan kepalanya di pahanya. "Jadi, saksofonis, ya?"

"Apa yang kau katakan?" dia mencubit lengannya, menghela nafas. "Aku hanya suka warnanya saja, bukan berarti aku menyukainya."

"Katakan itu tanpa menarik ujung bajumu, Jeon." Tawanya, menarik jemari Jungkook yang bermain di ujung kemejanya. "Kau tak melukis? Tumben sekali, biasanya kau akan sibuk di jam-jam ini."

Remaja itu menggelengkan kepala, "Aku tak bisa mengeluarkan warna itu dari kepalaku."

"Lukis!"

"Aku tak tahu namanya."

Lisa memutar bola mata, "Kukira namanya V?"

"V itu abjad," jawabnya, "Aku butuh lebih dari satu abjad, aku butuh namanya. Apa gunanya Line? Aku bahkan tak bisa menanyakannya karena kepalang malu." Dia merengut, menutup wajahnya, frustasi.

"Mau tahu sebuah fakta, Jungkook?" ujar Lisa, memainkan ujung rambut remaja yang bersandar itu, dan dia mendongak sedikit. Sahabatnya itu menyeringai, "Aku punya id palsu."

"What the fu–" umpatannya dibungkam oleh tangan Lisa yang jatuh ke mulutnya. Dia melepasnya, "Kau tak serius, Lissie." Namun mata berbinarnya menunjukkan sebaliknya. "Kau tak serius."

"Demi apapun, aku serius." Jawabnya, "Sebenarnya aku ingin mengajakmu membuat satu, tapi mengingat Yoongi dan Namjoon Oppa yang super duper protektif, aku tak mau mencari masalah dengan membawamu ke klub malam."

"Kau menggunakan id palsu untuk pergi ke klub malam?"

Lisa menaikkan alisnya, menyeringai. "Guess who've lost her V card?"

"Damn it, Lissie, kau sudah melakukan itu?" serunya, terkejut. "Dan kau tak pernah menceritakan itu padaku? Kau menganggapku apa? Remah kerupuk?"

"Karena aku tahu kau akan seperti ini." Dia memutar bola matanya. "Jungkook, kita ini delapan belas tahun, anak-anak di belahan dunia lain telah meneguk bir dan anggur sementara kita masih harus terjebak dengan susu coklat."

Jungkook menyentil jidatnya. "Kau hanya perlu menunggu dua tahun lagi."

"Kau mau bertemu V itu lagi atau tidak?" tegasnya, menunggu jawaban.

Jungkook tak akan pernah menyangkal bahwa pemain saksofon itu telah menangkap pikirannya, dengan wajah dan permainannya. Sepertinya Lisa juga bisa melihat itu. Dia mengeluarkan sebuah kartu dan menggoyang-goyangkannya tepat di mata Jungkook, membuatnya membulatkan mata. Tubuhnya langsung duduk tegak dan menatap kartu itu dengan seksama, terlalu kaget untuk mencernanya.

"Ingat ketika ulang tahunmu aku lupa membawa kadoku? Sebenarnya aku membawanya, tapi aku sedikit ragu kau akan menerimanya."

Id palsu.

Lisa hendak memberinya id palsu di ulang tahunnya yang ke delapan belas lalu.

"Jadi," dia menatap sahabatnya yang masih berlidah kelu, menyeringai. "Ready to see your crush?"

.

Taehyung menatap ponselnya dengan hampa. Tak ada satupun pesan masuk dari bocah SMA itu. Dia menatap profilnya, dengan foto dimana dia dan satu orang gadis tengah tersenyum. Jika dia straight, sepertinya Taehyung harus segera menerima kenyataan dan berharap dia tak terpuruk seperti Jimin.

Oh, ya, Jimin.

Dia baru teringat sahabatnya tengah menggalau karena bertemu lagi dengan cinta monyetnya. Atau lebih tepatnya, Jimin yang menemui Yoongi. Alkohol tengah berkuasa ketika senior universitasnya itu meneguk botolnya, dan Jimin yang susah payah mencegahnya.

Jika Jimin menangis lagi, Taehyung menghela nafas, dia harus mengiriminya pesan dulu.


V:

Kau dimana?

Jim?

Aku akan mengirimimu terus hingga ponselmu hancur

Jimin

Park Jimin

Sialan, kau benar-benar

Kalau kau sedang menulis pesan bunuh diri karena Yoongi Hyung masih bersama Jennie istfg aku sendiri yang akan mencekikmu

Park sialan

Balas pesanku, setidaknya baca, ffs


Taehyung menggaruk tengkuknya, kesal. Jika sahabatnya tengah meraung di kamar sekarang ini– Dia menghela nafas, mengambil kembali ponselnya dan menghubungi nomor Jimin. Satu dering. Dua dering. Tiga dering.

Hai, Taehyung."

"Kau dimana?" dia mengerutkan dahi, suara Jimin terdengar tersengal.

"Di... Di-iiih, aku di rumaaah, nanti, aku sibuk."

"Apa yang kau lakukan sebenarnya, Park Jimin?" Dia menyadari ponsel itu terlempar jauh karena dia mendengar suara kelontang aneh. Pria itu mengerutkan dahi. "Jimin?"

"Hyuuuuuung, ah, ah, AH, HYUNG!"

"Sialan, bocah itu!" Taehyung mematikan panggilan dengan cepat. Jimin benar-benar menjawab panggilan di sela seksnya dengan Hoseok. Pria itu mengacak-acak rambutnya, kesal. Pertama dia harus melihat mereka, sekarang dia mendengar mereka. Ini hidupnya, bukan video porno!

"Kau kenapa?" tanya Seokjin, yang tangannya tengah mengangkat panci berisi sup pasta kacang, mengerutkan dahi pada adiknya. "Jungkook tak membalas pesanmu?"

Untuk sekali-kali, itu adalah ide yang bagus. Tentu saja dia memilih Jungkook yang tak membalas pesannya daripada harus tahu suara desahan sahabatnya sendiri. Taehyung mengerutkan hidungnya, beranjak pergi.

"Ada apa dengannya?" gumam sang kakak, melepaskan apronnya sebelum duduk di atas meja, mencoba menyantap makanannya sebelum adiknya datang dan mengganggunya. "Apa?" tentu saja Taehyung memutuskan untuk mengganggunya sebelum pergi.

"Kau tahu rumah Jungkook?"

"Aku ini pembeli lukisannya bukan pengasuhnya."

"Jadi kau tahu atau tidak, Hyungku sayang?"

"Tidak." Jin memutar matanya, "Tapi aku tahu dimana galerinya."

"Itu tak memastikan dia ada disana."

"Kau 'kan bisa menanyakan alamatnya disana, bodoh." Taehyung mengulurkan tangan, meminta alamatnya dari sang kakak sebelum berlari keluar. "Kau tak makan dulu?" pintu berdebum tertutup. "Dasar bocah itu." Dia menghela nafas.

.

Taehyung menghela nafas, di depannya ada pintu yang dia masuki saat itu untuk memberikan dompet Seokjin yang tertinggal. Dia juga baru teringat ketika dia keluar, ada anak kecil yang membuka pintu mobil di depannya.

Pria itu menahan tawanya, "Kenapa aku tak menyadarinya?"

"Kau siapa?" tegur seorang wanita, rambut oranye-nya terjuntai dengan gaun merah semi-formal yang dia kenakan. Matanya menatap lurus pada Taehyung yang balik melihatnya. "Oh, kau adik Kim Seokjin, benar?" Taehyung mengangguk, mengenalinya sebagai wanita yang saat itu bersama kakaknya ketika membeli lukisan itu.

"Park Chaeyoung?"

Dia mengangguk, "Ada perlu apa kemari?"

Dia mengikutinya sementara pemilik galeri itu mengeluarkan kuncinya. Keduanya masuk ke dalam galeri gelap itu. Lampu berdenyar menyala dan Taehyung dapat melihat sekeliling. Lukisan-lukisan abstrak di ujung ruangan tampak sama keanggunannya dengan yang kakaknya miliki di bar.

"Aku lihat kau mengagumi karya Jungkook." Ucapnya, menyerahkan cangkir teh dengan tatakan. Taehyung melihat lukisan-lukisan itu lagi, benarkah anak SMA itu yang membuatnya? Chaeyoung mengetuk atas lukisan dan dia melihat inisialnya, JK, tertera disana.

"Aku kemari memang karena Jungkook." Dia mengakui dan Chaeyoung menaikkan alisnya, menunggu alasan. "Maksudku," Taehyung berdeham, "Aku hanya ingin," melihatnya lagi, "Memuji lukisannya."

Dan nominasi pria terpayah jatuh pada...

"Kau punya alamat rumahnya?"

Chaeyoung kembali menaikkan alisnya. Menghela nafas sebelum duduk di atas kursi, meletakkan cangkirnya sendiri di atas meja. Taehyung mengikutinya. "Keluarganya terlalu rumit," dia menatapnya dan pria itu menyadari dia belum memberitahunya siapa namanya.

"Kim Taehyung."

"Kim Taehyung." Ulangnya dan dia mengangguk. "Jika kau berada di rumahnya beberapa jam, kau mungkin akan segera memanggil polisi." Sekarang dia tertarik. "Aku juga tak bisa menyerahkan alamatnya begitu saja pada orang asing, dia masih anak SMA."

"Aku bukan pedofil."

Mari kita pakai alat pendeteksi kebohongan, Kim Taehyung.

"Aku tidak menuduhmu yang tidak-tidak." jawab Chaeyoung. "Tapi dengan kehidupannya yang rumit, kau tak bisa langsung muncul di depan pintunya. Lagipula, Jungkook tak pernah menceritakan bahwa dia seorang pelukis pada ibunya. Kau hanya akan membongkar rahasia."

"Kenapa dia tak pernah menceritakannya?"

"Kau menanyakan apa yang seharusnya tak kau tanyakan, Taehyung-ssi." Jawabnya. "Itu adalah privasi Jungkook dan hanya dia yang bisa menceritakannya. Butuh waktu dua tahun bagiku untuk tahu keadaannya, aku ragu dia akan segera memberitahumu."

"Lalu dimana lagi aku bisa menemuinya?"

"Kurasa alasanmu bukan sekadar memuji lukisannya, kan?"

Nah, loh, ketahuan.

Taehyung menghela nafas, "Itu juga bukan sesuatu yang bisa kuberitahu. Aku hanya bisa berjanji, aku tak akan menyakitinya atau apapun, aku hanya ingin bertemu dengannya."

Chaeyoung berusaha mencari kebohongan di matanya, namun tak ada, mata tajam itu benar-benar memohon padanya. Wanita itu menghela nafas, "SMA Prime, kelas dua ruang empat. Jam pulang mereka tiga sore, tapi dia akan berada di ruang seni hingga pukul enam. Hanya itu yang bisa kuberitahukan padamu."

Taehyung tersenyum, penuh terima kasih. "Itu lebih dari cukup."

.

Jungkook melepaskan jaket meraih bergaris yang diberikan Lisa padanya, menatapnya kaget. "Aku takkan mengenakan itu." Ujarnya, menatap tajam sahabatnya. "Lissie, ini bar, bukan klub malam."

"Sama artiannya jika ada alkohol di tempat." Remaja laki-laki itu menatap sedih pada jaket rombeng yang dipinjamkan sahabatnya. "Jungkookie, yang kau suka itu bukan anak kelas sebelas seumuran kita, dia pria mapan peniup saksofon dan itu takkan berhasil jika kau berdandan polos."

"Lissie, aku merasa terekspos, aku tak bisa mengenakan ini."

"Goda dia sedikit, Jeon. Badanmu kuat, kau bisa menghajar seseorang jika ada orang lain yang menyentuhmu tanpa izin, aku janji, it'll be worth it."

Jungkook menghela nafas, menyerah pada gadis berambut pirang tersebut. "Jika tidak, aku benar-benar takkan membantumu belajar, Lalisa." Ancamnya dan sahabatnya itu tertawa. "Aku serius." Tegurnya.

"Iya, baiklah. Sekarang ayo beri kau sedikit tatanan wajah."

Jungkook berakhir dengan celana ketat robek di lutut dengan kaus hitam, lengkap dengan jaket merah bergaris tebal robek di beberapa sisinya, benangnya nampak kehilangan beberapa rajutan. Matanya diberi eyeliner sedikit oleh sahabatnya dan bibirnya dengan polesan merah tak kentara. Lisa bersorak setelah berhasil mendandaninya.

"Kau tahu, aku mempertaruhkan harga diriku untuk ini." Gumamnya. "Lissie, aku benar-benar pasrah padamu, jika ini tak berhasil–"

"Diamlah, Jeon. Aku selalu punya rencana."

"Dan itu adalah?"

"Kau akan lihat nanti." Dia berkedip. "Sekarang ayo, aku yang akan menyetir."

"Kau bisa menyetir?"

"Menurutmu kita akan naik bus seperti ini?"

Dia menatap penampilan sahabatnya, dengan rok warna-warni pendek dia tas lutut dan baju longgar biru muda yang bertahan dengan spaghetti strap-nya, hanya itu, dan sedikit polesan rias di wajah. Rambutnya adalah yang biasa, terurai pirang.

Jungkook mengikutinya ke mobil, dia merasa aneh. Ada berapa banyak rahasia yang disembunyikan, sebenarnya? Hyundai-nya berderu di tengah Seoul, menuju Rose Bud, dimana Taehyung memainkan saksofonnya.

Namun beberapa detik, Jungkook merasa ragu untuk turun. Mungkin dia hanya dipermainkan untuk Line ketika bosan oleh pria itu, dan tak ada alasan dia berada disini. Mungkin dia akan pulang sambil menangis karena tertipu, hanya karena pesan-pesan yang membuatnya gugup.

Sekarang masih pukul delapan, Jungkook, kau masih bisa menghentikan mobilnya dan keluar dari situ.

Namun terlambat, Lisa telah memarkir mobilnya tepat di depan bar. "Ayo, lover boy, kita cari priamu."

"Dia bukan priaku."

"Belum saja."

Jungkook mengikutinya turun, menunjukkan id-nya pada penjaga luar, dia hanya bisa berdoa bahwa penjaga itu tak mengingatnya sama sekali pada kejadian malam sebelumnya, dimana dia menyelusup masuk bersama Namjoon. Namun pria bertubuh bongsor itu hanya menatapnya sekilas dan menyerahkan lagi kartunya, membiarkannya masuk.

"Lihat," ujar Lisa, "Kau terlalu khawatir." Jungkook memutar matanya dengan itu, inderanya mencoba mencari warna-warni khas yang dia kenali, namun hening, hanya warna-warni kerumunan orang yang berkumpul. Panggung kosong. "Mana pangeran tampanmu?"

Untuk sekali-kali, dia tak merengut, dia tak bisa melihat V dimana-mana.

Seseorang mengetuk meja bartender, dimana dia dan Lisa duduk. Rak-rak berisi minuman tersandar di belakangnya. Seokjin tersenyum, menatap Jungkook. "JK, senang bertemu denganmu."

Lisa menatapnya, kaget, "Dia mengenalmu?"

"Dia pernah membeli lukisanku." Jawabnya dan bartender itu mengangguk.

"Lukisan itu menjadi primadona, jadi aku memindahkannya ke samping panggung, jadi orang-orang dengan mudah melihatnya." Jawabnya, sebelum merengut, teringat sesuatu. "Bagaimana bisa kau ada disini? Bukankah kau di bawah umur? Kau menyogok penjaga-penjagaku?"

"Aku tidak melakukan apapun." Jawab Jungkook cepat-cepat. "Aku hanya... Sebenarnya temanku disini membuatkanku id palsu."

"Karena dia begitu putus asa untuk menemui seseorang." Jungkook menyikutnya di pinggang.

"Seseorang di bar?" Seokjin menaikkan alisnya. "Kau memacari pria tua, JK?"

"Seorang pemain saksofon," jawab sahabatnya lagi, mewakilinya, dan untuk kedua kalinya, Jungkook menyikutnya sedikit keras. "Kau pasti mengenalinya, dia bekerja disini lagipula."

"Pemain saksofon?" tawa Seokjin bergema, menepuk pelan pahanya. "Ceritakan aku tentangnya." Dia berpura-pura tertarik, takkan menceritakan apapun soal adiknya sebelum dia mendengar dari anak SMA itu.

Lisa mencubit lengan Jungkook, memintanya untuk bercerita sebanyak yang dia ceritakan tadi siang di lapangan rumput sekolah. "Jadi," dia menggaruk tengkuknya, "Kau mungkin menyadarinya dari lukisanku,"

"Ya."

"Aku melukis lagu." Dia mengangguk lagi. "Kau juga ingat ketika aku pergi kemari malam itu, menjemput kakakku."

"Dia kakakmu?!" Jungkook mengangguk canggung. "AgustD?! Dia kakakmu?!"

"Kakak sepupu." Jawabnya, "Tapi kumohon, jangan katakan itu pada siapapun, tak ada yang tahu dia adalah kakak sepupuku."

Seokjin mengibaskan tangannya, "Itu aman denganku."

"Jadi, ketika Namjoon Hyung membujuk Yoongi Hyung pulang," Seokjin berusaha untuk tidak menjerit ketika Jungkook menyebut RM dengan begitu dekatnya. "Aku mendengarnya bermain, aku menyukai permainannya, aku ingin melukisnya, tapi aku tak tahu judul ataupun namanya."

"Kau ingin menemuinya karena itu?" yang lebih muda mengangguk. "Sayangnya, dia tak bisa datang. Dia bilang dia ada urusan yang tak bisa dia tinggalkan." Raut Jungkook menjadi mendung. "Oh, ya, kau pergi ke galerimu hari ini?"

Dia mendongak, "Memang kenapa?"

"Dia mencari alamatmu dan menanyakannya padaku, lalu aku memberikannya alamat galeri itu, kukira kalian telah bertemu disana. Apa dia masih mencarimu?"

.

Lisa memarkir mobilnya di depan Angelique, galeri milik Chaeyoung. Jungkook membuka sabuk pengamannya, menatap sahabatnya. "Lissie, aku sangat menghargai usahamu membantuku, tapi pulanglah duluan, aku tak tahu aku harus kemana lagi nanti dan itu mungkin akan merepotkanmu."

"Jungkook," ujarnya, "Apa kau yakin? Kau bahkan takut ketika akan memakai baju ini."

Dia menggelengkan kepala. "Aku laki-laki, aku bisa menjaga diriku. Dan kau perempuan, dan aku yakin kau punya jam malam." Jawabnya. "Sekarang kau harus pulang, aku akan segera pulang setelah bertemu V, siapapun namanya, Seokjin-ssi tak memberitahuku."

Lisa akhirnya mengangguk, walau dirinya tak yakin apakah sahabatnya masih selamat saat matahari terbit besok. "Jaga dirimu, Jeon, jika kau terluka, aku akan menghantammu juga. Tinjuku cukup sakit, kau tahu."

Remaja itu tertawa, berterima kasih padanya sekali lagi, dan keluar dari mobil. Melambaikan tangan. Tapi secepat Hyundai itu berbalik membelah jalanan, kakinya dengan cepat terbirit masuk ke dalam galeri.

"Noona!" panggilnya, nyaris membuat Chaeyoung menjatuhkan miniatur yang dia genggam. Wanita itu menatapnya, terkejut. "Ada laki-laki yang menemuimu tadi?" tanyanya tepat sasaran.

"Ya," dia membenarkan. "Dia menanyakanmu."

Jungkook menjadi semakin bersemangat. "Kau tahu siapa namanya?" namun sebelum dia dapat menjawab, remaja itu menggelengkan kepala. "Tidak, aku harus tahu itu ketika dia mengatakannya, aku takkan mendengarnya darimu."

"Jeon Jungkook," tegurnya, "Kau kemasukan apa? Ini sudah terlalu malam bagimu untuk berada di luar sendirian, dan apa yang kau kenakan, Jeon Jungkook?"

"Aku... Noona, aku," jika dia ingin bercerita, rahasia terdalam hidupnya harus terkuak. Orientasi seksualnya. Dan dia tahu ada beberapa orang di belahan dunia ini yang tak menyukai orang-orang sepertinya. "Aku tak bisa mengatakannya."

"Kalau begitu aku takkan mengatakan apapun." Dia merengut dan Chaeyoung menghela nafas, "Jungkook-ah, kau anak SMA. Pria yang mencarimu sudah nyaris dua puluh tiga tahun. Kau berada di naungan galeriku, sama dengan aku menjadi pelindungmu, sama seperti Yoongi Hyung-mu serta ibumu. Jadi aku harus tahu apa yang terjadi di antara kalian."

"Noona," matanya berkaca-kaca, "Kau takkan menganggapku hina, kan?"

"Ada apa, Jeon Jungkook?"

"Aku biseksual, Noona."

"Dan pria itu pacarmu?"

"Tidak." dia menggelengkan kepala. "Tapi aku menyukainya, sepertinya."

"Sepertinya?"

"Aku menyukai warnanya." Ujarnya lebih tegas. "Dia pemain saksofon, aku melihatnya bermain dan itu begitu mempesona. Aku janji, Noona, aku takkan macam-macam, aku hanya ingin menemuinya. Itu saja."

"Kau tak lain sedang kasmaran." Ujar pemilik galeri itu, menghela nafas. Dia merasa telah membesarkan Jungkook ketika bocah itu muncul dengan lukisannya di umur yang belia. Tentu saja, dia ingin anak itu bahagia. "Sekolah."

"Apa?"

"Aku memberinya alamat sekolahmu." Jawabnya, meraih kunci mobilnya. "Aku tak tahu jika dia juga sama kasmarannya denganmu untuk menunggu, tapi ayo coba kita cari dia."

.

Jungkook berakhir lari dari mobil Chaeyoung, sementara wanita itu membiarkannya menuju lorong-lorong yang membawanya ke SMA. Sekolah telah ditutup karena malam, Jungkook tahu, mungkin saja usahanya sia-sia dan dia harus pulang dengan mata sembab.

Mungkin Chaeyoung salah, V tak sama dengannya. Dia adalah anak delapan belas tahun dan V adalah pria dewasa dua puluh tiga tahun. Itu takkan terjadi di antara mereka. Sinar lampu menjadi penerang satu-satunya ketika sekolah tutup dan remaja itu menundukkan kepala.

Tepat ketika ada sosok bertudung yang menunggunya, hoodie hitamnya terbuka, menampakkan wajahnya. Namun Jungkook takkan melihatnya, kecuali dia menoleh ke belakang, yang dia lakukan sekarang ini.

Mata mereka bertatapan, dan Chaeyoung tahu – ketika dia mengawasi dari mobil – bahwa bocah itu telah menemukan pria yang dia cari. Wanita itu tersenyum dan melajukan mobilnya, meninggalkan Jungkook sendirian.

Sementara remaja itu masih menatapnya, "Kau masih disini?" Taehyung mengangguk. "Apa kau... V?" dia mengangguk lagi. "Siapa namamu?"

"Kim Taehyung." Jawabnya, suaranya serak. "Kau pergi dari sekolah sebelum aku bisa menemuimu. Kau juga tak mengecek Line-mu."

Gemetar, Jungkook membuka ponsel yang selama ini dia abaikan.


V:

Kau dimana?

Aku di depan sekolahmu, cepat keluar

JK, ini sudah satu jam, ffs

Kau tak ada di ruang seni, kau ada dimana?

Jawab aku, bocah

JK

JK

JK

JK

JK

JK, ffs

Setidaknya angkat panggilanku

JK

Ini sudah hampir malam, tapi aku disini

Seandainya kau berubah pikiran

Hanya agar kau tahu


Jungkook melihat waktu pesan dikirim, 18:21. Benar-benar sudah hampir malam. Bagaimana bisa Taehyung bertahan selama itu disini. Waktu sekarang sudah hampir pukul sembilan. Remaja itu menatap pria di depannya.

"Selama itu?"

"Selama itu."

"Bagaimana bisa kau tahan menunggu?" ujarnya. "Kau bahkan tak mengenalku. Bagaimana jika aku tak datang? Bagaimana jika aku tak akan pernah datang walau pesan ini kubaca? Bagaimana jika, walau kau berdiri hingga pagi, aku akan mengabaikanmu dan pergi ke sekolah seperti biasa tanpa mempedulikan apapun?"

"Kau takkan begitu." Jawabnya. "Aku bisa melihatnya dari wajahmu, kau begitu polos. Walau aku pembunuh berantai pun, mungkin saja kau masih tetap akan datang." Dia merengsek maju, berpura-pura menyimpan sesuatu di punggungnya dan mengulurkan tangan ke belakang. "Jadi, JK, kau akan mati hari ini."

Jungkook bergetar. Tentu saja, wajah Taehyung, jika dilihat, sedikit menakutkan ketika berada di malam sekarang ini. Tubuhnya mundur ke belakang, ketakutan, hingga menabrak dinding membuat Taehyung dengan leluasa menambatkan satu tangan ke samping kepalanya.

Dia menunggu, menunggu apapun yang tersimpan di punggung pria itu menghantamnya. Tapi dia bisa merasakan sesuatu yang lembut di pucuk kepalanya. "Lihat?" bisiknya, "Kau terlalu polos."

Jungkook dapat merasakan deru nafas di rambutnya. Tak ada seorang pun yang pernah sedekat ini dengannya, dan itu membuatnya takut. Remaja itu semakin mengkerut di dalam kungkungan Taehyung. Matanya tiba-tiba terpaku pada lubang-lubang tak sempurna di dinding gang tersebut.

Taehyung mencari celah untuk melihat matanya, namun dia terus bersembunyi. "Aku hanya ingin bertanya." Ujarnya, nafas sedikit tertahan. "Apa yang kau mainkan malam itu?"

"Singularity." Jawabnya, dan Jungkook kembali diam. "Kau memakai riasan."

"Kau menyadarinya."

"Aku menyukainya." Balasnya, sekali lagi, anak SMA itu merasakan senyum lewat rambut lebatnya. "Terlihat nakal, tapi kau terlalu manis dan itu membuatku kebingungan." Jungkook semakin menundukkan kepalanya. "Itu tak bijak untuk bersamaku dengan pakaian seperti ini."

Dia memperhatikan bajunya, mengerutkan dahi, "Apa ini jelek?"

"Terlihat bagus padamu." Jawabnya, "Tapi aku ini pria dewasa, Jeon Jungkook, dan kau tahu pikiranku tak sebersih anak sekolahan."

Jantungnya berdegup mendengarnya, ternyata Lisa benar. Namun dia lebih penasaran dengan hal lain. "Bagaimana kau tahu namaku? Aku tak pernah memberitahumu?"

"Aku pergi ke Angelique tadi siang, ingat?" Jungkook mengangguk. "Ini sudah malam, bagaimana caramu menyelinap keluar?"

"Aku," dia tergagap, "Sebenarnya, aku tadi ke Rose Bud, mencarimu, hanya saja kau tak ada. Lalu Seokjin-ssi memberitahuku kau pergi ke galeri tempatku meletakkan lukisan, jadi aku pergi kesana dan menanyakannya. Lalu pergi kemari."

"Dasar bodoh." Gumamnya, tangannya masih memerangkapnya di ujung tembok. "Bagaimana jika aku tak ada? bagaimana jika ada orang lain berada disini dan kau terkena masalah?"

"Kau takkan melakukan itu." Ujarnya. "Kau sendiri yang mengatakannya, tak langsung, tadi." dia tersenyum. "Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana bisa kau menunggu selama itu?"

Taehyung menghela nafasnya, "Aku hanya ingin saja. Aku juga harus tahu apa benar anak SMA sepertimu memiliki bakat melukis yang luar biasa. Kukira kau akan ada di ruang seni, tapi justru gadis-gadis pengikut ekskul yang ada disana."

Yang lebih muda terkikik geli. "Hari ini adalah jadwal mereka, jadi aku memang tak datang."

"Kau tak ikut ekskul?"

"Jika aku ikut ekskul, orang-orang akan tahu betapa anehnya aku." Sebelum Taehyung dapat menjawab, dia berujar lagi. "Aku tak pernah melukis objek kasat mata, sekalipun."

"Jadi apa yang kau lukis?"

"Lagu." Jawabnya, suaranya lirih hingga Jungkook sendiri nyaris tak bisa melihat warnanya. Ini adalah kali pertama dia jujur pada orang yang baru dia temui beberapa jam yang lalu. "Aku seorang synesthetes, aku bisa melihat suara. Dan aku melukis lagu-lagu yang kudengarkan."

"Bagaimana dengan permainanku?"

Jungkook menundukkan kepala, memerah. "Biru tua yang tergelap. Itu kesan pertamaku pada permainanmu saat itu. Sesuatu yang makin redup hingga hitam, dengan beberapa bercak putih. menurutku sedikit melankolis, tapi indah."

"Aku senang kau menyukainya." Ujar Taehyung, menyangga kepalanya di atas kepala yang lebih muda. "Apa kau ingin melukisnya?"

"Aku harus tahu judulnya, dan nama penyanyinya." Pemain saksofon itu menelan ludah, dia tak bisa menyebutkan bahwa Singularity adalah nada yang dia buat-buat sendiri. "Jadi apa aku bisa menuliskan namamu di judul lukisanku?"

Langsung saja, dia sedikit terhenyak. "Kukira kau akan menanyakan penyanyi aslinya."

"Aku akan membuatnya berdasarkan permainanmu," Jungkook tertawa kecil. "Jika nanti lagu pada penyanyi aslinya tak sesuai, itu akan menjadi sangat aneh. Tapi siapa penyanyi aslinya?"

Taehyung tersenyum, mengecup kepalanya lagi. "Tak ada. Dia tak pernah tertulis dimanapun." Dia tahu bahwa anak SMA itu mengerutkan keningnya, rasa ingin tahu yang besar. Namun Taehyung dengan cepat mengalihkan perhatiannya. "Kau mau kuantar pulang? Dimana rumahmu?"

"Oh," Jungkook memerah, "Aku takkan pulang malam ini."

"Jungkook, kita baru saja bertemu."

"Maksudku aku akan pulang ke rumah kakak sepupuku, apa yang kau pikirkan?" dia memerah, tak menatap yang lebih tua sedari tadi. "Aku takkan bisa pulang jika sudah selarut ini, menginap di rumah kakakku akan lebih aman."

"Apa yang terjadi di rumahmu?" Chaeyoung juga menyebutkannya, bagaimana rumitnya kehidupan Jungkook, dan hanya remaja itulah yang berhak menceritakannya pada yang lain. "Tapi jika kau belum mau memberitahuku, itu tak apa."

Yang lebih muda menggelengkan kepala, "Ibuku mendapatkan orang yang salah, aku pun ikut tertipu." Ujarnya. "Hanya itu yang bisa aku katakan padamu."

Taehyung mengangguk, mungkin nanti, dia akan bercerita lebih banyak. Pria itu tak lain adalah orang asing baginya, tak mungkin dia mau menceritakannya secara langsung. "Dimana rumah kakakmu?"

"Cheongdam-dong." Jawabnya, "Aku akan memberitahuku alamatnya nanti."

.

Pintu pagar Yoongi tak terkunci, seolah tahu bahwa remaja itu akan datang walaupun selarut apa dia pulang. Sementara Jungkook masih berada di mobil bersama pria yang baru saja dia kenali malam itu.

"Terima kasih." Dia menundukkan kepala, menanggalkan sabuk pengaman. Sebelum dia keluar, Taehyung menariknya mendekat, terlalu dekat, hingga hidung mereka bersentuhan. Jungkook tahu, dia ragu untuk melakukan gerakan lain karena umurnya, dan itu membuatnya semakin berdegup.

"Kau bisa melakukannya." Bisiknya, membuat dirinya sedikit murahan dengan menutup matanya, menunggu.

Namun Taehyung menggelengkan kepala, "Tidak sekarang." Dia mengelus belakang kepala Jungkook, membuatnya sedikit bergetar, namun yang membuatnya lebih bergetar adalah warna Taehyung yang semakin gelap, abu-abu yang tergelap di antara shades-nya. Itu membuatnya merasa... Aneh.

"Aku benar-benar harus pulang." Ujarnya, mencoba melepaskan diri namun yang lebih tua masih tetap mendekatkannya. "Kim Taehyung." Tegurnya, namun hidungnya justru merapat ke pipi Jungkook, turun ke lehernya.

Akhirnya cengkraman itu terlepas. "Pergilah." Ujarnya, "Sebelum aku hilang kendali."

Jungkook membuka pintu mobil, beranjak pergi ke pagar dan masuk setelah memberinya satu tatapan terakhir malam itu. Taehyung mengacak-acak rambutnya, sepertinya dia perlu pasokan air suci setelah berteman lama dengan Jimin.

Dia masih bocah SMA, Kim Taehyung. Tapi lihatlah dia, sama sekali tak bisa disebut sebagai anak delapan belas tahun dengan perawakannya itu. Sangat melegakan ketika Taehyung ingat kakaknya akan bekerja sampai malam dan dia punya seluruh rumah untuk dirinya sendiri, terutama kamar mandi.

Hingga ponselnya berdering, menandakan pesan Line yang masuk.


Jungkook:

Terima kasih sudah mengantarku

V:

Kau sudah mengatakannya tadi

Jungkook:

Yoongi Hyung sebenarnya marah

Dia mengira aku kelayapan tengah malam

Dia bilang aku bisa terkena masalah

V:

Dia benar sebenarnya

Kau tak bisa berkeliaran seperti ini

Jungkook:

Aku mencarimu

V:

Itu bukan alasan

Kau tinggal menghubungiku lewat sini

Dan kita bisa bertemu di satu tempat

Alih-alih saling mencari seperti tadi

Jungkook:

Tapi yang tadi itu menyenangkan

Aku seperti ada di drama-drama

V:

Jungkook

Ffs

Bagaimana jika bukan aku tadi yang muncul

Jungkook:

Kau takkan melakukannya

*stiker Cony dan Brown*

V:

Kau mengirimiku stiker itu

Kau ingin aku mendobrak langsung ke kamarmu?

Jungkook:

Ampun

Aku masih SMA

Jangan lakukan ini padaku

V:

Jungkook

Kau yang memulai

Jungkook:

Ampun

Daddy

Ups


Change friend's name

Baby Bunny

Save


Woo~ I don't know, I don't know, I don't know why Jungkook being naughty at the end, LOL.

Jadi, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan author note di awal. Why? Bet it's annoying isn't it. Jadi aku memindahkannya ke bagian bawah, in here, yeah, you're reading it so...

Aku tak tahu apa yang harus kutulis malam ini, astaga, aku menyedihkan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kalian pasti tahu, dari update kedua ini, bahwa jadwalku untuk ff ini adalah satu minggu satu chapter. Jika lebih cepat artinya kita beruntung dan jika lambat artinya kehidupan rl-ku sedang menuntut perhatian.

Dan aku baru menambahkan horizontal line disini karena saat aku progress chapter sebelumnya fitur itu menghilang, I don't know what's going on, really.

Dan aku ingin curhat sedikit, kenapa aku terlambat menonton Epiphany oh my god why... why~ Jintro is lit everybody, I repeat, it's so lit. Like, I can't figure out why there are three version of him and the rain was rising not falling. Like, dude, I was literally dazed off in my first period this morning dan teman-teman sekelasku be like, "Ji, you okay?" LOL

And... this section, tarra!

For You:

JSBTS: OMG, makasih, dekku, aku akan melanjutkan ini karena dukunganmu XD, terima kasih sudah memberiku semangat! (PS: aku sebenarnya ragu untuk memanggilmu dongsaeng, jadi umurmu berapa? LOL)

Guest (mpikk): Huehehehe, makasih udah memuji cerita remahan kerupuk ini, dan konsepnya... hmm, iyasih, entah kenapa kepikiran jadi kayak gini, LOL. Oh, cinta pada pandangan pertama XD, iya sama aku juga suka. So undeniably cute, right?

itsathenazi: Thank you for complimenting my story, oh my God, you lighten my mood with your review *add big smile* and OOOOOOOH, you will know lots of things about their complicated life as you read this by and by. Once again, thank you!

Chae Yungi cheonsanim: Makasih udah bilang keren *swag* dan ini sudah dilanjut XD

hantusawah: Makasi~h, aku akan lebih semangat nulis juga dengan ini XD

SwaggxrBang: Oh My God! Anak fakultas seni rupa! Annyeonghaseyo, Eonnie, aku akan segera menyusul ke universitas tahun depan /\ Wow, multitalenta agaknya, Eonnie XD, musik dan seni rupa. Iya lumayan suka seni, sih, dan kebetulan dapat ide kayak gini, so... Iya, art of writing masuk seni – art – tapi udah sastra sekarang. Iya gapapa curhat aja~ LOL. Makasih udah bilang ff ini keren dan fresh, *gyaaa* haha, jatuh cinta gitu ya, unyu~ hehe

.annyeonghaseyo: Anjir makasih banget XD ini udah di next yhaaa~

.

Uwuah, aku selalu tersenyum ketika mendapat email review, bagiku, aku tahu karyaku mendapat apresiasi dan itu membawaku untuk terus menulis hingga selesai dan kisah-kisah ini berakhir *add melancholis song*

Dan aku ingin meminta maaf jika ada grammatical error dan typo berlebih. Hari ini benar-benar melelahkan, aku tak bisa langsung pulang karena ada latihan dance dan justru melarikan diri saat pertandingan handball antar kelas. Aku harus minta maaf pada teman-temanku besok.

Jadi mataku mungkin sedikit linglung dan akan terjadi beberapa kesalahan, ketika itu terjadi aku minta maaf.

Until next update,

Yoon Soo Ji, out!