Naruto belong to Masashi Kishimoto
I own this story but not the chara
Welcome to my imagination and enjoy
.
.
.
.
.
Summary: "Apa? Menikah?"/ "19 tahun dan Ayah pikir tidak ada yang salah dengan itu."/ "Dan apa itu menjadikan Ayah memiliki alasan untuk menikahkanku dengan pria yang berusia 33 tahun?"/ "Ibu menyuruhku menikahi bocah?"/ "Jangan sarkastik. Itu akan membuatmu terlihat lebih menyedihkan."/ "Kalau kau tidak mau menikah juga, Ibu akan membuatmu mengucapkan ikrar perikahan dengan paksa. Mengerti?"/ "Ladies and Gentleman, please welcome our new Mr. and Mrs. Namikaze."/
.
.
.
.
.
.
.
.
.
2. So I Marry A Little Girl
.
Naruto benar-benar menggerutu. Dia tidak suka ini. Sangat tidak suka. Menikah dengan banyak sekali aturan, dan bahkan dengan calon yang sangat tidak menarik minatnya. Dia hanya diberi tahu kalau dia menikahi gadis berusia 19 tahun. Tapi apa yang dilihatnya saat ini sangat berbanding terbalik dengan fakta yang ia terima. Gadis itu bahkan terlihat baru saja tumbuh dari masa kanak-kanaknya. Tidak memiliki garis pinggang seksi seperti pada wanita dewasa secara umum. Dada yang terlihat seperti baru saja tumbuh. Wajah yang sangat imut dan bahkan jika gadis itu mengaku dia masih SMP semua orang akan percaya. Dan... pendek.
Oke, dia keterlaluan. Tapi bisakah ini menjadi salah satu pertimbangan? Begini saja. Naruto pria sehat yang cukup matang dengan tinggi 184 cm. Jika melihat dari bagaimana gadis itu secara fisik, pria itu cukup yakin tinggi istrinya tidak sampai angka 160 cm. Paling tidak gadis itu harus memakai heels setinggi 15 cm jika ingin terlihat serasi dengannya. Tak cukup sampai disitu. Selera makan gadis ini juga aneh. Dan dia terlihat ceroboh.
Jadi, bisakah dia mengatakan 'no' dan kembali kepada masa lajangnya yang indah? Baginya, masa lajang adalah suatu anugrah dimana dia bisa menutup perasaan dari makhluk berjenis kelamin wanita dan menghentikan segala kemungkinan untuk sakit hati. Dia akan melakukan segala sesuatu dengan lebih baik tanpa resiko ditinggalkan dalam kondisi apapun.
Masih sangat jelas di ingatannya tentang betapa terpuruknya ia ketika mendapati kabar gadis yang tengah diperjuangkan olehnya menikah dengan sahabatnya sendiri. Ini bukan lelucon. Ini fakta. Alasan klise para orang tua menyebalkan itu membuatnya bersumpah bahwa menikah hanya akan membuat siapapun sakit hati. Jika tidak memiliki hubungan dengan siapapun, seseorang tidak akan tersakiti.
Buntut dari segala kegilaan yang sempat dirasakannya ialah dia tidak lagi percaya pada siapapun. Tidak sahabat, tidak juga seorang wanita. Apalagi makhluk cilik yang benar-benar sangat bocah yang saat ini tengah memakan permen bundar cukup besar dan menonton anime secara khusyuk dalam balutan gaun pengantin. Ya Tuhan! Dia benar-benar bocah!
.
000
.
Kurangnya pemahaman akan karakter laki-laki adalah kekurangan terbesar yang dimiliki Sakura. Dia banyak menimbun diri dalam buku dan diktat kuliah sampai lupa bagaimana rasanya menyukai seseorang. Sakura memiliki kakak laki-laki yang jarak usianya cukup jauh dengannya. Dan ketika berusia 15 tahun, kakaknya itu bersekolah di asrama pria di Inggris dan pulang setelah mendapat gelar Doktoralnya. Jadi, dia benar-benar tidak tau lagi bagaimana caranya berinteraksi secara sehat dan normal dengan laki-laki. Sekalipun memiliki teman bermain laki-laki yang cukup banyak, Sakura sudah tidak pernah benar-benar berinteraksi dengan mereka. Alasannya sederhana. Sang ibu melarangnya memakai celana memainkan bola basket dan bola sepak lagi karena dia harus belajar menjadi wanita. Lagipula dia masuk di jurusan Kedokteran yang jelas menyita sebagian besar waktunya untuk belajar.
Bosan? Tentu saja. Kebiasaan lama yang membuatnya banyak menikmati masa kanak-kanak terhenti. Dia hanya bisa menikmati sisa masa kecilnya dengan memakan coklat, permen, dan anime. Dia tidak tau lagi bagaimana membuatnya lupa akan hilangnya kesenangan saat bermain di lapangan luas.
Dan sekarang dia menemukan hal yang lebih mengerikan. Dia sudah menikah. Dia memiliki tanggung jawab lain berupa makhluk laki-laki dan dia sudah tua. Bayangkan saja. Di antara banyak pilihan, orang tuanya justru menunjuk pria yang lebih pantas menjadi pamannya itu untuk menjadi pendamping hidup Sakura. Seperti tidak ada pria lain saja.
Tapi... Apa berdosa jika saat ini Sakura merasa ingin tenggelam sekali lagi dalam mata biru yang membuatnya menggigil karena hipnotis kuat di dalamnya? Hm... Dia yakin rasa ini sama dengan apa yang dirasakan Jacob pada Renesmee Cullen ketika mereka mengalami imprint. Atau mungkin ini juga sama dengan hal yang dirasakan Harry Potter ketika menyadari dia mencintai Ginny Weasley bukannya Cho Chang seperti yang dia pikir sebelumnya. Atau seperti ketika Katniss Everdeen menyadari bahwa yang dibutuhkannya bukanlah cinta yang berapi-api dari Gale melainkan cinta yang tenang dan seperti bunga daisy milik Peeta Melark.
Sedikit berlebihan memang. Dia tidak bisa menilai apa yang dirasakan saat ini dengan padanan tokoh fiksi milik para penulis terkenal itu. Dia bisa mencatat sendiri faktor apa saja yang membuatnya ingin tenggelam di dalam pernikahan ini dan membuatnya memutuskan bahwa keputusan menikah dengan pria tua pilihan kedua orang tuanya adalah hal yang benar. Banyak alasan yang bisa dituangkan olehnya. Kulit eksotis, tinggi tubuh yang membuatnya merasa terlindungi, tubuh yang tegap, rambut pirang yang mengingatkannya akan musim panas, dan mata biru yang indah dan nyaris membuatnya merasa bahwa pria itu adalah siren yang kebetulan hidup dan tinggal di darat setelah lelah mengarungi samudra.
Lamunan akan semua itu membuat Sakura terkekeh. Ya Tuhan... Dia benar-benar menjadi nerd pecinta paman-paman. Jika dalam kasus ini paman yang dikenalnya sejenis Naruto, mungkin Sakura tidak akan keberatan.
"Hei bocah!"
Sentakan penuh protes itu membuyarkan lamunan Sakura dan membuatnya menghentikan upaya mengunyah permen yang tengah dinikmatinya itu. Tapi dia tidak jadi memekik galak ketika menyadari siapa yang saat ini tengah menegurnya.
"Kau itu... apa benar usiamu 19 tahun?"
"Benar."
"Kau tidak memalsukan umurmu?"
"Maksud Paman?"
"Lupakan. Berapa tinggimu?"
"Etto... Kalau untuk itu... Seingatku tinggi badanku 155 cm. Itu pendek sih. Tapi aku juga bukan manusia paling pendek di dunia, kan? Paman saja yang terlalu tinggi. Seperti raksasa."
Naruto melotot tidak terima. Apa gadis ini baru saja mengatainya? Ya ampun... benar-benar petaka untuk kesehatan mentalnya.
"Kau tau? Kau masih pantas menjadi anak SMP."
He?
Sakura tidak tau harus merasa tersanjung atau marah. Dikatai seperti bocah terkadang membuat orang senang karena dia terlihat lebih muda dari umur yang sesungguhnya. Tapi... kenapa nada yang dilayangkan pria itu terdengar menuduh?
"Ini KTP-ku kalau Paman masih menanyakan berapa umurku. Aku memang kecil dan pendek, tapi aku cukup umur, Paman."
Naruto mengerutkan dahinya dan menatap sanksi pada tanggal yang tertera di kartu tersebut. Tanggal yang sama yang dia ingat telah mereka tulis di form pendaftaran pernikahan.
"Secara hukum Paman tidak akan dituduh sebagai pedofil. Kecuali Paman memang sengaja meneriakkan umurku. Dan lagi..." Sakura berdiri dari duduknya dan menghampiri suaminya. Tangannya mengacak rambut pirang yang ditata rapi itu dengan senyum jahil. Tangannya sibuk menata rambut suaminya sesuai dengan model rambut terbaru.
"Tampan."
"Nani?"tanya Naruto tidak suka. Gadis itu tegah mengalihkan pembicaraan mereka. Awas saja kalau pembahasannya kali ini tidak penting.
"Kalau Paman mengubah penampilan menjadi seperti ini, Paman terlihat 10 tahun lebih muda. Jadi tidak akan ada yang menuduh Paman pedofil."terang Sakura dengan tawa.
Naruto mengerutkan dahi sebal melihat penampilannya yang sudah jauh berubah. Dengan rambut yang acak-acakan, dan tertata layaknya pemuda urakan yang baru saja mengenal cinta. Hell! Dimana semua wibawanya dengan hal-hal konyol ini?
"Paman jangan mudah marah. Nanti keriputnya tambah banyak."celetuk sakura dengan senyum terkembang dan itu menjengkelkan.
Naruto merutuk. Tak hanya itu, pria pirang itu bahkan merapalkan sumpah serapah atas segala hal baru menjengkelkan yang telah istrinya lakukan pada dirinya. Istri? Yah... Dia tidak bisa memungkiri bocah yang baru saja merasakan dunia remaja akhir itu istrinya. Kecil, mungil, cerewet, dan rata. kombinasi menyebalkan nomor satu yang membuatnya panas dingin dan ingin melumat gadis itu hingga habis.
Tunggu...
Apa tadi? Melumat sampai habis?
Kami-sama... Dia berubah menjadi pedofil mesum gila abad ini. Dasar gadis penyihir! Ubur-ubur pink yang menjengkelkan! rutuknya tanpa henti sembari menata lagi rambutnya. Dan Kami-sama... Di antara semua hal, gadis itu bahkan hanya terkikik seolah dia adalah tontonan terbaik abad ini.
"Kau..."
"Jangan marah Paman..."bisik sang gadis dengan mata mengerjap layaknya bambi. "Paman bisa kan tidak marah dan membantuku tidur? Tapi sebelum itu, bisakah Paman membukakan resleting gaunku?"
Bunuh saja dia sekarang karena gadis cilik yang cerewet layaknya petasan itu tengah menggodanya. Semoga saja dia masih selamat dan utuh hingga pagi menjelang!
.
000
.
Sakura terkikik dengan puas melihat Naruto yang kelimpungan hanya karena terbangun dengan dada telanjang dan Sakura yang dengan santainya malah merebahkan kepala di atas dada nyaman itu. Aroma, feromon, dan segala hal pada pria bernama Namikaze Naruto itu membuatnya merasa bahwa Naruto telah mewujudkan khalayannya tentang pangeran impian. Bukan sejenis pangeran berkuda putih dalam seri disney princess (maafkan Author ne Walt Disney-san... bukan karena pangeran di negeri dongeng buatanmu tidak tampan tapi Naruto memang lebih menggoda) melainkan sosok pangeran yang tumbuh dan berkarakter seperti para tokoh hero Marvel.
Bagaimana bisa dia menyimpulkan hal aneh itu? Pertama, tubuh yang berwarna coklat tan milik sang suami (yang selalu mengingatkan Sakura akan warna karamel yang sudah diolah dengan susu sehingga sangat legit, manis, dan creamy). Jangan salahkan Sakura jika gadis itu ingin menggigit kulit dengan warna tan karena melihatnya saja Sakura sudah teringat setumpuk pancake beserta karamel dan mentega yang meleleh di atasnya dengan toping blueberry. Kedua, suara berat nan seksi milik pria jangkung yang memiliki postur seperti Prince Beast dalam seri Beauty and the Beast. kalau Sakura tidak salah, itu adalah suara bariton seksi yang membuat para gadis pingsan karena pesonanya. Ketiga, senyum misterius dan mimik wajah yang serius. Hal itu jelas mengingatkan Sakura akan fantasi pria Italia yang sering dibicarakan teman sebayanya saat tengah membahas tokoh utama dalam seri novel dewasa (yang diam-diam dibacanya sebelum dibakar habis oleh Sasori. Dasar Kakak tidak berperikemanusiaan! Lagipula, Sakura cukup pintar untuk mencari PDF gratis yang disediakan oleh internet setelah dibantai habis-habisan oleh sang kakak soal 'belum cukup umur'). Keempat dan yang paling utama, aroma lemon+mint+cinnamon yang menguar dari seluruh tubuh pria itu dan membuat Sakura bertanya-tanya. Apa setiap hari pria itu menggosok kulitnya dengan lemon yang ditumbuk bersama daun mint dan cinnamon ke seluruh tubuhnya? Jika iya, kenapa pria itu tidak putih? Bukankah lemon mengandung bahan aktif yang bisa digunakan untuk memutihkan benda?
"Kenapa melihatku seperti itu? Kenapa dadaku basah dengan..." Naruto merutuk melihat lelehan air yang membentuk peta di dadanya. Iyuhhh... Apa ini air liur? "Kau... Tidur dengan meneteskan air liur semalaman?"
"Jangan marah, Paman. Aku lapar. Dan aroma tubuh Paman seperti gulali dengan rasa lemon, mint, dan cinnamon. Aku jadi ingin makan pancake, Paman..."rengek Sakura tanpa dosa.
"Kau tidak merasa berdosa membasahi dadaku dengan air liurmu?"
"Apa itu buruk? Aku tidak memiliki penyakit seperti anjing gila dan flu burung kok. Aku juga sudah melakukan lab dan aku bebas dari penyakit hepatitis. Jadi Paman tidak akan tertular penyakit yang aneh-aneh."
"Bukan itu intinya, Bocah!"
"Aduh... Kenapa Paman masih marah? Kita mandi saja berdua biar cepat. Setelah itu kita makan. Aku benar-benar kelaparan."
"Mesum!"
"Paman yang mesum!"
"Kau yang minta mandi berdua kan? Kau yang mesum!"
Sakura mendengus jengkel dan menarik telinga pria itu. Menggiringnya agar masuk ke dalam kamar mandi. Dengan sebal dan tanpa memperhatikan ringis kesakitan pria yang jauh lebih tinggi darinya itu, Sakura memojokkan pria itu di dinding kamar mandi.
"Paman yang mesum dan otak Paman yang perlu disucikan! Aku mengajak Paman mandi bukan karena ingin mandi bersama-sama. Aku memakai shower dan Paman bisa gosok gigi, cuci muka, atau bercukur di wastafel. Dan kalau aku memakai wastafel, Paman bisa memakai shower nya. Jadi ketika keluar kita sudah sama-sama bersih dan bisa segera makan. Paman mengerti?"
Naruto mengangguk sehingga gadis itu melepas telinganya. Benar-benar gadis yang di luar dugaan. Manja, ganas, mesum, pendek, rata, bocah, cerewet, pemarah, dan... Apalagi?
"Jangan mengataiku di hati Paman!"pekik Sakura nyaring yang nyaris sama dengan teriakan petasan. Ya Tuhan... Sampai dimana ini semua berakhir?
.
000
.
Naruto harus menahan rasa takjub atas ketidakbiasaan sifat Sakura. Selain seperti petasan dan sangat agresif, Sakura benar-benar tercipta dengan seperangkat kegilaan lain bernama 'rakus'. Buruknya, gadis itu memakan segala sesuatu yang manis. Bukannya Naruto pelit sehingga enggan mengeluarkan uang untuk Satu piring pancake dengan segala macam topping, es krim ukuran jumbo berbagai macam rasa, anmitsu sebanyak 2 mangkuk, dan susu coklat hangat di akhir santapan mereka. Jangan lupakan betapa antusiasnya gadis itu ketika membeli sekantong penuh permen, coklat, dan gummy yang bahkan membuat gigi Naruto langsung linu karena rasa manisnya. Melihat cara gadis itu makan saja sudah membuat Naruto diabetes.
"Paman serius hanya memesan pancake dan secangkir kopi? Bagaimana kalau aku merekomendasikan semangkuk smoothies dengan toping buah berry dan salad sayur?"tanya Sakura dengan cukup prihatin dengan betapa sedikitnya kalori yang masuk di tubuh raksasa itu.
"Kau belum kenyang?"
"Aku masih bisa menghabiskan muffin 2 buah dan ubi bakar."
Kami-sama!
"Kau harus mengurangi semua makanan manis agar tubuhmu yang rata itu tidak membengkak seperti balon."
"Aku berpanutan bahwa body goals yang baik adalah tubuh yang sama seperti Bymax dalam kartun Heroes 6. Dia putih, bisa menyembuhkan dan mengenali tanda vital seseorang, dan empuk."
Oke, bolehkah Naruto menggedorkan kepalanya dengan pintu Benteng Takeshi sekarang? Gadis ini membuat kepalanya pening hanya dengan interaksi selama 24 jam yang mereka miliki. Dia benar-benar telah menikah dengan bocah berwujud gadis berusia 19 tahun.
"Paman, aku akan pesan smoothies. Kalau aku tidak habis nanti Paman habiskan ya?"tanya Sakura dengan raut yang seperti bambi.
Kami-sama...
.
000
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Olla, Minna... Chiyo desu. Arigatou atas respon baiknya pada cerita baru ini. Jadi... bagaimana? Apa kalian suka? Chiyo juga tidak tau ini cerita harus dibawa ke genre yang mana. hehehehe... Karena lelah dengan semua cerita bergenre hurt-comfort mungkin cerita dengan gaya ini bisa menjadi variasi. Otte, Naruto-kun? Apa kau baik-baik saja dengan sikap absurd Sakura?
Untuk yang komen di cerita Love and Trust, pembenahan nama sudah Chiyo betulkan. Jadi bisa cek ke lapak situ ya? Sasori itu saudara kembar Sakura. Saudara kembarnya Karin itu Pein. Hm... Jangan marah ya? Kesalahan itu tidak akan mengubah alur cerita kok. Intinya kan tetap di Sakura dan Naruto.
Untuk cerita ini konfliknya ringan-ringan saja. Semoga suka. Jangan lupa untuk klik fav dan follow bila kalian suka. Tinggalkan jejak dengan review sebanyak yang kalian bisa. Jika banyak, prospek untuk melanjutkannya dengan cepat bisa Chiyo pertimbangkan. wkwkwkwk... Jaa matta ne, Minna. :)
